10 January 2021
Diutus oleh Tuhan Sendiri
Para Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua beserta keluarga dan sanak saudara dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk merasakan kembali semua rahmat yang telah kita terima selama sepekan yang lalu dan beristirahat setelah selama sepekan bekerja untuk melayani orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Hari ini kita merayakan Hari Raya Pembaptisan Tuhan Yesus, sekaligus menutup masa Natal.
Bacaan pertama (Yes. 55:1-11) perlu kita perhatikan. Perikopa ini mengisahkan bagaimana Allah memperhatikan umat-Nya yang kehausan di tengah jalan. Air, sebagai penyangga kehidupan, diberikan kepada mereka secara cuma-cuma agar umat-Nya dapat pulang dari pembuangan. Anugerah sederhana ini baru permulaan. Anugerah-anugerah lain masih dijanjikan: makanan, tempat tinggal, kebutuhan hidup; dan sesudah itu baru diberikaan hal-hal yang menyangkut hidup rohani: kehidupan agama (“perjanjian”), pertobatan, dan kemampuan mendengarkan sabda ilahi. Allah seperti inilah yang dalam Injil Markus (1:7-11) akan turun dari langit menyertai perjalanan Yesus dan seluruh umat-Nya.
Air sungai Yordan yang dipakai untuk membaptis,
mengingatkan kita akan Allah yang dikisahkan dalam bacaan pertama (Yes.
55:1-11). Allah begitu dekat dengan umat yang mau datang kepada-Nya. Pembaptisan
yang dilakukan oleh Yohanes menjadi ungkapan manusia yang mau datang mendekat
kepada Allah. Sekaligus juga disadari bahwa kehidupan umat mudah mengering seperti
halnya air. Hukum-hukum agama dan beban kehidupan dapat membuat kehidupan umat
menjadi layu. Air tidak mencukupi untuk menghidupkan kembali kehidupan dan
sudah layu mengering. Dibutuhkan kekuatan Roh Allah untuk menghidupkannya. Dan
inilah yang akan dilakukan oleh Yesus: membaptis dengan Roh Kudus (ay. 8b).
Seperti banyak orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis, Yesus juga datang mengikuti Seruan Yohanes Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat: menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi kehadiran Allah dalam hidup-Nya. Ada sesuatu yang khas setelah Yesus dibaptis. Dikatakan bahwa Ia mlihat langit terkoyak, dan Roh Kudus turun seperti burung merpati (ay. 10). Kemudian terdengar suara yang mengatakan bahwa Ia adalah Putra terkasih yang mendapat perkenan dari atas (ay. 11). Artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam wujud yang lembut. Peristiwa pembaptisan Yesus memperlihatkan datangnya kekuatan-kekuatan ilahi bersama Sang Putra terkasih untuk menyertai perjalanan umat Allah yang sudah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan hidup mendekatkan diri kepada-Nya.
Kehadiran yang ilahi ini dimugkinkan karena Yesus mau mendatangi orang banyak untuk berbagi kehidupan dengan mereka, untuk ikut mengalami dan merasakan carut-marutnya kehidupan mereka serta kegelisahan mereka dalam menantikan kedatangan keselamatan yang dijanjikan oleh Allah. Keterbukaan Yesus untuk berbagi keprihatinan dengan orang banyak menjadi jalan bagi Yang Ilahi untuk hadir di tengah-tengah umat manusia, menyertai perjalanan hidup mereka, dan ikut menyembuhkan keremukan hidup mereka.
Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa dengan menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Penguatan kita diutus oleh Tuhan sendiri untuk merasul di tengah masyarakat (LG 33; AA 3). Artinya, kita diundang untuk mengikuti jejak Yesus. Kita diundang untuk memberi ruang gerak kepada Allah sehingga Ia dapat hadir dan bertindak di tengah-tengah kehidupan kita dan masyarakat kita. Kita diundang untuk mengisi hidup kita sehingga langit (surga) tidak tertutup dan jagat tidak menjadi kering. Kita diundang untuk menghayati hidup kita dan melaksanakan tanggung jawab kita sehingga masyarakat tempat kita hidup dapat menyaksikan dan mengalami terbukanya surga mencurahkan kekuatan yang menghidupkan, kekuatan Allah yang lembut tetapi memiliki daya yang begitu besar untuk mewujudkan janji-Nya seperti diungkapkan dalam Yes. 55:1-11. Inilah panggilan kita bersama Yesus yang kita ikuti.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
3 January 2021
Mengenali Penampakan Tuhan
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua beserta keluarga dan teman serta sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Selamat merayakan hari Minggu pertama dalam tahun 2021 sekaligus merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Sebelum saya menyampaikan renungan kepada Anda semua, ijinkan saya minta maaf karena baru hampir di penghujung hari, saya dapat menjumpai Anda semua. Tadi pagi saya memberkati penerimaan Sakramen Perkawinan yang dilakukan oleh anak perempuan teman dekat saya.
Dalam Misa hari ini, kita mendengarkan Injil Mat. 2:1-12. Untuk memahami pesan dari kisah ini, ada baiknya kita mengenal siapa “orang-orang majus dari Timur” ini (ay. 1). Di wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak dan Iran utara, terdapat orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Mereka ini mewakili orang-orang non-Yahudi yang datang dari jauh untuk menemukan dia yang baru saja lahir di Betlehem, yang akan menjadi pemimpin umat manusia (ay. 1b-6).
Apa kaitan mereka dengan “tiga Raja”? Matius menyebut adanya tiga macam persembahan yang dibawa oleh orang-orang majus itu: emas, dupa, dan mur (ay. 11b). Dari situ ditarik kesimpulan bahwa ada tiga orang majus. Bahwasanya mereka dianggap sebagai raja, nampaknya didasarkan pada tradisi umat Yahudi sendiri yang tertera dalam Mazmur 72:10. Nama Gaspar, Baltasar, dan Melkior dikenal di wilayah Kekaisaran Romawi sebelah Barat. Persembahan yang mereka berikan kepada kanak-kanak yang baru lahir itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang dari kalangan non-Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru lahir ini. Iman yang mereka miliki mengatasi/melampaui ikatan-ikatan bangsa dan kedaerahan.
Dengan kisah ini, Matius ingin mengatakan tiga hal kepada para pembacanya, khususnya kaumnya sendiri (orang-orang Yahudi). Pertama, Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya melalui wahyu Alkitab. Kebijaksanaan juga dapat menuntun orang untuk mengenali Tuhan. Kedua, Matius mengatakan bahwa Tuhan justru berbicara kepada umat pilihan-Nya lewat orang-orang lain yang bukan dari kalangan mereka sendiri. Hal ini terjadi karena umat pilihan Allah tidak mendalami tradisi Kitab Suci mereka. Ketiga, Matius juga bermaksud menyadarkan orang-orang Yahudi bahwa mereka bukan satu-satu umat yang diperhatikan Tuhan. Melalui kisah ini Matius ingin mengatakan bahwa orang-orang bukan Yahudi (yang diwakili oleh “orang-orang majus dari Timur”) juga dapat ikut menikmat janji keselamatan Tuhan, yang kini diberikan dalam wujud manusia, yaitu Yesus.
Dengan merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita diundang untuk mensyukuri saat-saat ketika Allah membiarkan diri ditemukan dan dilihat oleh orang-orang yang belum pernah melihat-Nya. Dalam diri bayi yang baru saja dilahirkan itu, Allah berada bersama dengan manusia lain, yang baru saja melahirkan-Nya; dan para majus bersukacita karena dapat menemukan dan melihat Tuhan sungguh hadir dalam kehidupan manusia.
Kita
diundang untuk memiliki sikap seperti yang dimiliki olah orang-orang majus ini.
Jangan sampai kita menjadi seperti Herodes dan orang-orang lain yang berada di
Yerusalem. Mereka hanya “terkejut” (ay. 3), namun tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi. Mereka kehilangan kepekaaan untuk mengenali cara-cara Tuhan berbicara
kepada manusia, karena hidup mereka dipenuhi oleh kegilaan akan kekuasaan. Akibatnya,
kehadiran Allah justru dirasakan sebagai ancaman dan bukan sebagai keselamatan.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
27 December 2020
Mohon Menjadi Keluarga Kudus
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudariku yang baik, selamat siang. Masih dalam suasana Natal hari ini Gereja mengajak kita untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus; sebuah keluarga tempat Yesus dibesarkan sehingga Ia “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk. 2:40). Dalam keluarga di Nazaret itulah Yesus diajari dan belajar menjadi seorang pemuda yang memiliki kedewasaan manusiawi sekaligus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah, sehingga dalam masa hidup-Nya yang tidak panjang Ia mampu melaksanakan secara tuntas rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Hari ini saya tidak akan memberikan renungan. Sebagai gantinya, saya mengajak Anda semua untuk berdoa kepada Yesus, menyerahkan keluarga dan komunitas kita kepada-Nya, agar seluruh nilai yang dulu Ia perjuangkan juga memenuhi hidup kita, hidup keluarga dan komunitas kita. Berdoa merupakan bagian integral dari hidup kita; dan doa yang kita panjatkan dengan sungguh-sungguh akan menjadi pola hidup kita.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
Penyerahan Keluarga kepada Tuhan Yesus (diadaptasi dari MB 19A)
Tuhan Yesus, Egkau menguduskan hidup keluarga dengan hidup dalam keluarga Bersama Bunda Maria dan Santo Yosef di Nazaret.
Kami sekeluarga berkumpul di hadapan-Mu untuk memperbarui penyerahan seluruh keluarga kami kepada-Mu, raja dan pusat hidup kami.
Kami mohon, tinggallah di dalam keluarga dan rumah kami, dan penuhilah hidup kami dengan kehadiran-Mu.
Semoga keluarga dan rumah kami menjadi pusat kehidupan Kristiani, di mana kami mengasihi Allah Bapa dengan segenap hati dalam persatuan dengan Dikau, Putra Allah, dan Gembala kami.
Ya Yesus Kristus, semoga kami hidup menurut pedoman Injil-Mu: rukun, bijaksana, sederhana, sayang-menyayangi, hormat-menghormati, tolong-menolong dengan senang hati, bersedia berkomunikasi secara mendalam, saling mengampuni dengan tulus, rela berbagi, dan mendahulukan orang-orang kecil dan tersingkirkan.
Anugerahilah kami dengan rahmat-Mu agar keramahan dan cinta kasih, semangat pengorbanan, ketekunan, dan penghasilan yang cukup selalu berada dalam keluarga kami.
Semoga keluarga kami terlibat aktif dalam membangun masyarakat menjadi lebih manusiawi, dan menjadi teladan serta terang bagi keluarga-keluarga di sekitar kami.
Berkatilah kami agar tidak seorang pun di antara kami menjauh dari-Mu, satu-satunya sumber kebahagiaan kami. Dikau kami puji bersama Bapa dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
27 December 2020
Merayakan Natal: Melawan Virus Ketidakpedulian
Para Ibu dan Bapa serta saudari dan saudara sekalian yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluara, teman, dan sahabat dalam keadaan baik dan dalam suasana hati yang penuh harapan. Saya haturkan banyak terima kasih kepada Anda semua yang telah menyampaikan ucapan Selamat Natal kepada saya dan doa-doa untuk kesehatan dan pelayanan yang lebih baik bagi saya.
Tadi malam (24 Desember) saya merayakan malam Natal di sebuah desa yang terletak di pinggir sungai Praga, dalam dua kali Misa dalam Bahasa Jawa. Ada sekitar 200 orang yang hadir dalam setiap Misa. Semuanya dilakukan dengan mentaati protokol kesehatan secara ketat. Hiasan dalam gereja dan Misa dibuat secara sederhana, namun semua ini tidak menghilangkan rasa gembira karena kita dapat merayakan Natal secara langsung dalam kebersamaan dengan para anggota Gereja lainnya.
Hal ini mengingatkan saya pada apa yang sebenarnya terjadi
sudah lebih dua ribu tahun yang lalu seperti dituturkan dalam Injil Lukas yang
dibacakan dalama Misa malam Natal (Luk. 2:1-14) maupun Misa Fajar (Luk.
2:15-20). Allah Sang Pencipta yang Mahakuasa lahir dalam wujud bayi lemah di
tempat yang sangat mudah ditemukan oleh banyak orang (ay.7). Dalam diri bayi
kecil itu, Allah yang dulu sangat jauh sekarang menjadi sangat dekat. Dalam
diri si bayi kecil, Sang Juruselamat, yang terurapi (Kristus), Tuhan sendiri
hadir di tengah-tengah kita (ay. 11). Kehadiran-Nya dapat kita temukan di
“Betlehem” (ay. 15), sebuah tempat yang mudah kita kenal dalam kehidupan kita:
dalam diri orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita, dalam diri
orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita, dalam diri orang-orang yang
sedang kebingungan mencari arah hidup, dalam diri orang-orang yang
memperjuangkan peningkatan kualitas hidup orang-orang kecil, dalam diri
orang-orang yang gigih merawat bumi sebagai rumah kita bersama, atau bahkan
dalam diri kita sendiri yang diundang untuk menghadirkan-Nya bagi orang lain.
Bayi kecil itu adalah Yesus (Allah yang Jaya – Luk. 1:31), Imanuel (Allah yang menyertai pergulatan hidup kita; God with us – Mat. 1:23) dan Allah untuk kita (God for us; Luk. 2:7 – “dibaringkannya dalam palungan”). Ini semua dilakukan oleh Allah karena Allah sangat peduli terhadap kesejahteraan hidup kita (Yoh. 10:10b).
Dengan pemahaman seperti ini, merayakan Natal berarti sebuah
undangan untuk menghidupi semangat kepedulian. Hal ini mengingatkan kita pada
ajakan Paus Fransiskus untuk menyadari bahwa di tengah pandemi covid-19 ini ada
jenis virus lain yang jauh lebih berbahaya daripada virus corona itu sendiri.
Virus tersebut oleh Paus Frasiskus diberi nama virus ketidakpedulian;
ketidakpedulian terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap alam
semesta. Virus jenis ini, menurut Paus Fransiskus, hanya dapat dilawan dengan
meningkatkan imunitas lewat tindakan keadilan, kasih, dan solidaritas.
Berindak adil dalam perspektif injili dan iman Katolik berarti mendahulukan dan memberikan perhatian yang lebih kepada anggota Gereja dan masyarakat yang paling lemah, sehingga kualitas hidup mereka dapat ditingkatkan, dan mereka dilibatkan sebagai anggota Gereja dan masyarakat yang penuh dengan segala hak dan kewajiban mereka.
Mengasihi berarti mengatakan dan melakukan hal-hal yang baik dengan cara yang baik. “Hal-hal yang baik” adalah hal-hal yang dapat membawa kelegaan, harapan, serta merawat dan menumbuhkan relasi yang memberikan kehidupan.
Solidaritas dapat diwujudkan dengan empat cara (Evangelii Gaudium 192). Pertama, memastikan bahwa semua orang di sekitar kita memperoleh makanan yang sehat dan bergizi secara teratur. Kedua, mengupayakan agar setiap orang muda di sekitar kita dapat memperoleh pendidikan yang memadai untuk menyiapkan masa depan hidup mereka yang bermartabat. Ketiga, mengupayakan agar semua orang di sekitar kita dapat memperoleh layanan kesehatan yang baik. Keempat, mengupayakan agar setiap orang di sekitar kita dapat memperoleh pekerjaan dengan upah yang adil (yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan masih ada sisa untuk disumbangkan bagi pembangunan masyarakatnya).
Berhadapan dengan bumi yang semakin rusak, kita juga
dipanggil untuk merawatnya dengan memilih pola hidup yang tidak mempraktikkan
kebiasaan membuang (barang, sampah, maupun orang-orang kecil dan orang-orang
lanjut usia, yang kita anggap tidak produktif secara ekonomis) dengan
sembarangan.
Dengan cara-cara seperti ini kita belajar menemukan kehadiran Allah di tempat-tempat yang serba biasa dan juga mewartakan-Nya dalam situasi kehidupan yang serba biasa pula. Dengan cara seperti itulah Natal kita rayakan secara bermakna. Selamat Natal.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
20 December 2020
Menjalani Hidup sebagai Adven
Para Ibu, Bapak, serta Saudari dan Saudaraku semua yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua berserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu Adven keempat untuk beristirahat sekaligus merasakan kembali semua nugerah Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.
Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari ini (Luk. 1:26-38) berkisah mengenai pemberitaan tentang kelahiran Yesus. Kita sudah hafal isi cerita dalam Injil ini, bahkan sudah tahu mengenai “ending”-nya tanpa menyimak dengan seksama suasana awal, dan tengah dari cerita ini. Karenanya, pada kesempatan ini marilah kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan oleh Lukas dalam ayat 27. Dalam ayat ini, Lukas memperkenalkan profil Maria sebagai “seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf dari keluarga Daud.” Dengan kata lain, Malaikat Gabriel (artinya Allah yang Perkasa) memang diutus oleh Allah untuk mendatangi orang yang memungkinkan Yesus lahir dalam keturunan Daud. Berkat kedua orang ini (Maria dan Yusuf) Yesus menjadi keturunan Daud dan dengan demikian berhak mendapatkan janji Tuhan bagi nenek moyang seluruh bangsa Israel (bdk. ay. 32b-33).
Malaikat Gabriel menyampaikan “salam” kepada Maria (ay. 28) . “Salam” dari Malaikat Gabriel ternyata merupakan sebuah anugerah yang ditawarkan oleh Alah kepada Maria, yakni “yang menjadi kesayangan-Nya sendiri.” Wujudnya adalah seorang anak laki-laki, yang Namanya sudah ditentukan oleh Allah sendiri, yakni Yesus (artinya: Tuhan itu jaya), sebagai pertanda bahwa anak ini akan menjadi penyelamat. Karena berada “di hadapan Allah” (ay. 30) maka sang anugerah (Yesus) itu akan akan menjadi besar dan dikenal sebagai Anak Allah yang Mahatinggi (ay. 32a), artinya, orang yang amat dekat dengan Allah.
Mendengar “salam” yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel (ay. 28) Maria “terkejut” (ay. 29a). Namun, ia tidak membiarkan rasa terkejut itu menjadi rasa takut yang melumpuhkan hidupnya. Sebaliknya, Maria mengolahnya menjadi pemikiran proaktif untuk mencari makna dari kata-kata sang malaikat (= “bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu”, ay. 29b). Ketakutan muncul ketika Maria masih berpikir dalam ukuran-ukurannya sendiri (“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami”, ay. 34), dan belum berpikir dengan menggunakan ukuran-ukuran yang dipakai oleh Allah yang mengutus Malaikat Gabriel (ay. 35-36). Kekuatan Maria terletak pada keberaniannya untuk bertanya (ay. 34) dan mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Allah terhadap pertanyaannya (ay. 35-37), kemudian menerima penjelasan itu (ay. 38). Kehidupan Maria memang merupakan pergulatan untuk terus-menerus menemukan arti dari salam itu, meskipun tidak selalu mudah dan bahkan mengalami banyak penderitaan.
Jawaban Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan,
jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay. 38) adalah sebuah komitmen
terhadap Allah dan ikut mengusahakan agar yang direncanakan dan dikerjakan oleh
Allah dapat berhasil. Komitmen ini diwujudkan dengan menerima kehadiran Roh
Kudus dan kuasa Allah dalam dirinya; dan kehadiran itu mengambil wujud sebagai
anak laki-laki, Anak Allah (lihat ay. 35). Sejak saat itu, Maria hidup untuk menyongsong kehadiran
Dia (Allah) yang akan datang dalam wujud manusia. Maria adalah “adven” yang
hidup.
Yang terjadi di Nazaret lebih dari dua ribu tahun yang lalu bukanlah perkara biasa. Sejak saat itu kemanusiaan mengambil arah baru sampai saat ini. Demikian juga, Allah masuk ke dalam kehidupan manusia dan belajar merasakan apa yang dialami oleh manusia dan menjadi pergulatan hidupnya: bekerja keras, menderita, bergembira, bingung, putus asa, tersesat, bergaul dengan orang lain, hidup dalam masa lampau, masa kini, dan masa mendatang, dll. Dengan kata lain, Allah dapat menyelami bagaimana hidup sebagai manusia yang semula diciptakan-Nya sebagai gambar dan citra-Nya sendiri. Ketika “gambar” itu ternyata belum sepenuhnya cocok dengan yang dikehendaki-Nya, Ia dapat memperbaiki-Nya sendiri.
Kisah yang disampaikan oleh Lukas dalam injilnya pada hari ini dapat kita pakai untuk membaca kembali pengalaman hidup kita masing-masing. Pengalaman-pengalaman hidup kita yang merupakan tempat kehadiran Allah, dapat mengejutkan dan bahkan menakutkan. Namun tidak perlu melumpuhkan, asalkan kita mau belajar dari Maria yakni mencari tahu dan menyelami artinya. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman itu justru dapat mengantar kita semakin dekat dengan Allah sendiri, yang selalu menawarkan anugerah kehidupan-Nya. Semoga empat hari yang masih tersisa dalam masa Adven ini, sungguh kita gunakan untuk membuka diri guna menyambut kehadiran-Nya yang akan memberikan kehidupan baru kepada kita.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
13 December 2020
Menjadi Saksi Terang
Para Ibu, Bapak, dan Saudari serta Saudara sekalian yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik. Selamat menikmati Hari Minggu Adven ketiga Tahun B dalam Kalender Liturgi, untuk beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan yang lalu.
Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari ini (Yoh. 1:6-8. 19-28) seluruhnya berbicara mengenai Yohanes Pembaptis sebagai saksi akan orang yang akan datang sesudah dirinya (ay. 27), Mesias yang diharapkan oleh begitu banyak orang yang datang kepadanya.
Di kalangan orang-orang Yahudi ketika Yohanes hidup, muncul keyakinan bahwa nabi Elia akan datang kembali. Kedatangannya kembali diyakini sebagai tanda bahwa akhir zaman yang diawali oleh Mesias akan segera tiba. Keyakinan seperti ini juga tumbuh di kalangan umat Kristiani yang dilukiskan dalam Injil sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas), yang menyamakan Yohanes Pembaptis sebagai Elia. Namun umat Kristiani dalam Injil Yohanes berpadangan lain. Hal ini nampak dalam penyangkalan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis terhadap pandangan banyak orang bahwa dirinya adalah Elia (ay. 21a).
Pergeseran pandangan mengenai Yohanes Pembaptis ini juga mencerminkan dinamika perkembangan pemahaman mengenai “akhir zaman.” Pada awal kehidupan umat Kristiani, dipercayai bahwa akhir zaman akan segera datang. Perkembangan selanjutnya, tidak lagi menghitung-hitung kapan akhir zaman itu akan tiba; yang penting adalah menghidupi masa kini. Dalam Injil Yohanes, era baru dengan kehadiran terang ilahi di dunia ini adalah akhir zaman itu sendiri. Terang ilahi (Mesias) itu sudah datang dan sedang mengusir kegelapan (ay. 5). Kita tidak lagi perlu memikirkan kapan, di mana, dan bagaimana hal itu terjadi. Yang penting bagi kita adalah menerimanya.
Dengan latar belakang pandangan di atas perlulah bagi kita untuk memperhatikan pernyataan bahwa “terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:5). Yohanes diutus untuk memberikan kesaksian bagi terang tersebut agar orang-orang yang datang kepadanya mulai percaya kepada “terang” itu sendiri. Kesaksian Yohanes kita termukan dalam ay. 19-28. Ada tiga cara yang digunakan oleh Yohanes untuk memberikan kesaksian mengenai “terang” itu.
Pertama, dengan serangkaian penyangkalan terhadap dirinya. Yohanes menyatakan bahwa (1) ia bukan Mesias (ay. 20), yaitu orang yang secara resmi diutus oleh Tuhan kepada Umat-Nya untuk menuntun mereka kembali kepada-Nya. Ia juga mengatakan bahwa (2) ia bukan Elia (ay. 21a); artinya ia bukan pertanda bahwa akhir zaman sudah di ambang pintu. Akhirnya, ia juga mengatakan bahwa dirinya (3) bukan nabi (ay. 21b) yang bertugas menyadarkan orang banyak bahwa akhir zaman akan segera terjadi. Dengan penyangkalannya ini Yohanes mengundang semua orang yang datang kepadanya untuk bersikap kritis terhadap harapan-harapan saleh mereka tentang Mesias, yang seringkali menjauhkan mereka dari realitas kehidupan tempat Mesias itu hadir dan berkarya.
Kedua, Yohanes bersaksi bahwa dia adalah “suara orang yang berseru-seru di padang gurun” (ay. 23). “Padang gurun” dulu merupakan tempat Tuhan membimbing umat-Nya. Namun relasi umat dengan Tuhan, ketika Yohanes muncul, sudah sangat renggang sehingga kata itu tidak banyak artinya lagi. Akan tetapi justru dalam keadaan seperti itu, terdengar suara Yohanes yang meminta kekuatan-kekuatan surgawi untuk bertindak menyiapkan kedatangan Tuhan (ay. 23). Yang diharapkan dari manusia adalah membiarkan diri dibimbing oleh kuasa Allah guna menyambut kedatangan-Nya; dan bukan membuai diri dengan harapan-harapan saleh akan kedatangan seorang Mesias menurut gambaran mereka sendiri.
Ketiga, Yohanes juga mengatakan bahwa yang mereka harapkan itu sebenarnya sudah datang, namun kehadiran-Nya tidak mereka kenali (ay. 26b). Mereka diundang untuk mengenali-Nya.
Lilin corona Adven yang dinyalakan pada hari ini berwarna merah jambu (rose, pink). Mulai hari ini kita diajak untuk bersukacita karena Sang Penyelamat sudah berada di tengah-tengah kita untuk menciptakan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita secara pribadi maupun bersama-sama (bacaan pertama, Yes. 61:1-2. 10-11). Sekaligus kita juga diajak untuk bersaksi akan iman kita melalui segala upaya untuk memilihi hidup bahagia, terus-menerus membangun relasi yang mendalam dengan Allah, bersyukur atas semua anugerah-Nya, dan melakukan hal-hal yang baik yang mampu merawat dan mengembangkan hidup kita sendiri, hidup orang-orang yang berelasi dengan kita, dan hidup bersama dalam masyarakat (bacaan kedua, 1Tes. 5:16-22, khususnya ay. 16-18 dan 21). Semoga Roh Allah memampukan kita untuk memilih tindakan-tindakan konkret untuk mewujudkannya sesuai dengan situasi hidup kita masing-masing.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.