12 July 2021
Mewujudkan Dimensi Sosial Iman Kita
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Dalam situasi yang serba terbatas, semoga kita masih berani memilih sehat dan bahagia serta mampu bersyukur atas semua kebaikan yang telah kita terima dari Allah selama sepekan yang lalu (termasuk menerima vaksinasi virus corona bagi sebagian dari kita).
Hari ini kita merayakan hari Minggu Paskah III Tahun B. Injil yang kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi diambil dari bagian terakhir Injil Lukas (Luk 24:35-48). Yang diwartakan lewat bacaan ini adalah Yesus yang telah bangkit dari kematian masih terus menemani para murid-Nya sehingga mereka tidak lagi merasa bingung dan ketakutan, melainkan justru menemukan kehidupan baru. Selanjutnya, Yesus memberi tugas kepada mereka untuk “mempersaksikan” pengalaman itu kepada semua orang, kepada semua bangsa. Apa maknanya bagi kita di zaman ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, murid-murid Yesus mengalami kebangkitan Yesus secara berbeda-beda namun intinya sama; yakni, Yesus telah bangkit dan tetap berada bersama mereka. Mereka saling berbagi pengalaman itu (ay. 34-35). Pada awalnya mereka sempat saling meragukan (ay. 11 dan 24).
Kedua, para murid Yesus membutuhkan waktu untuk mengolah dan memahami pengalaman mereka mengenai Yesus yang wafat di salib dan telah bangkit dari kematian. Akhirnya mereka dapat saling menerima karena mau saling menghargai pengalaman mereka yang beragam dan jalan yang dipakai oleh Tuhan untuk menjumpai mereka (bdk. ay. 36). Dengan cara inilah iman akan kebangkitan Yesus dapat bertumbuh.
Ketiga, kedatangan Yesus secara tiba-tiba di tengah mereka membuat mereka terkejut, bahkan mengira bahwa Yesus adalah hantu (ay. 36b-37). Yesus memahami kesulitan para murid-Nya dan menyelami kesulitan tersebut. Ia membantu mereka guna mengatasi kesulitan tersebut dengan menggunakan “hasil kerja para murid” (ikan) sebagai batu uji untuk mengetahui apakah Dia itu benar-benar nyata atau sekedar bayang-bayang belaka (ay. 31b-33). Iman selalu berpijak pada kenyataan hidup: situasi hidup para murid, jerih payah mereka, suka duka mereka, dan kesederhanaan mereka.
Keempat, Yesus yang sudah bangkit tidak hanya meyertai para murid-Nya tetapi juga masih mengajar mereka agar mereka dapat menyadari dan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri-Nya; yakni “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (ay. 46).
Kelima, Yesus yang telah bangkit juga membaca kembali hidup-Nya sebagai penggenapan Kitab Suci (Kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan Mazmur—ay. 44). Selain itu, Sabda Ilahi yang terdapat dalam Kitab Suci juga digunakan untuk menerangi makna penderitaan dan kebangkitan-Nya (ay. 46).
Keenam, dalam terang kitab Mazmur (18:5-6) ketika Yesus wafat Ia turun ke dunia orang mati, terlilit oleh hutang kemanusiaan pada kekuatan-kekuatan kejahatan, Ia terseret sampai ke jurang yang paling dalam dan tidak berdaya. Dalam situasi seperti itu, yang dapat dilakukan-Nya adalah berteriak minta tolong kepada Allah (Mzm 18:7a; Mzm. 130:1-2; bdk. Mat 27:46); dan Allah mendengarkan teriakan-Nya (Mzm 18:7b). Mendengar teriakan Yesus, hamba utusan-Nya, Allah tidak tinggal diam. Allah turun dari sorga dan membebaskan-Nya. Inilah yang terjadi dalam kebangkitan.
Ketujuh, para murid diminta oleh Yesus untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa atas nama-Nya (Luk 24:47-48). “Dosa” adalah keadaan ketika orang diikat oleh kekuatan-kekuatan kejahatan sehingga mejadi tidak berdaya, merasa sesak, dan hidupnya menjadi gelap (lih. Mzm 18:5-6). “Pertobatan” adalah kepercayaan bahwa masih ada yang dapat menolong meskipun lilitan maut makin menyesakkan dan jurang makin dalam, dan keberanian berteriak minta tolong (lih. Mzm 130). “Pengampunan” adalah pelepasan dari lilitan kematian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.
Bagaimana iman akan kebangkitan ini dapat menjadi kenyataan dalam hidup kita di tengah masyarakat kita? Kiranya kita dapat mulai berpikir untuk melakukan tindakan-tindakan pelepasan dari “jerat-jerat sosial” yang membuat kemanusiaan dan keadaban masyarakat kita menjadi kerdil. Apa yang akan kita lakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusiawi di negeri kita, yang 44% hanya lulusan SD dan SMP? Apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi jumlah perdagangan manusia yang justru terjadi di kantong-kantong masyarakat yang sangat agamis? Apa yang perlu kita lakukan agar para single mothers, yang merupakan pelindung dan pejuang kehidupan, tidak kita buang dari keluarga dan komunitas agama kita? Apa yang perlu kita lakukan agar kaum perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai warga kelas dua baik dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam Gereja? Apa yang perlu kita lakukan untuk membendung menjamurnya “budaya membuang” (membuang sampah secara sembarangan, membuang orang-orang yang tidak produktif, membuang tenaga kerja rendahan, membuang orang-orang miskin) dalam masyarakat kita? Apa yang perlu kita lakukan agar orang-orang muda mau tinggal di desa mereka dan mengolah tanah yang mereka miliki, dan tidak berbondong-bondong ke kota menjadi buruh rendahan? Dengan kata lain, kita diundang untuk mewujudkan dimensi sosial dari iman kita akan kebangkitan Yesus.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
11 April 2021
Kebangkitan-Nya Melahirkan Kemanusiaan Baru
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua berserta dengan keluarga, sanak saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikamati hari Minggu Kerahiman Ilahi untuk beristirahat dan mencecap kembali kerahiman Allah yang boleh kita terima selama pekan yang lalu. Semoga dalam keadaan yang penuh dengan keterbatasan Anda juga masih berani memilih untuk sehat dan bahagia.
Injil yang kita dengarkan pada hari Minggu Paskah II Tahun B (Yoh 20:19-31), yang juga disebut sebagai hari Minggu Kerahiman Ilahi, berkisah tentang pengalaman para murid ditemui oleh Yesus yang telah bangkit. Pengalaman perjumpaan ini mengubah kehidupan mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi penuh kedamaian dan sukacita. Apa makna semuanya ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.
Pertama, cerita tentang bekas luka di tangan dan lambung-Nya (ay. 20 dan 27) ingin menegaskan bahwa Yesus yang kini hadir di tengah-tengah mereka sama dengan Yesus yang telah meninggal di salib. Ia bukan sekedar ingatan belaka. Orang-orang yang tidak hadir dalam peristiwa itu hanya dapat mendengar kesaksian dari mereka yang hadir dalam peristiwa terebut (ay. 25a). Untuk mempercayai kesaksian mereka memang tidak mudah. Kesulitan ini juga dialami oleh Tomas (ay. 25b). Kesulitan ini diolah dalam cerita mengenai penampakan Yesus kepada Tomas (ay. 24-29).
Kedua, Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan memintanya untuk meraba bekas luka di tangan dan di lambung-Nya (ay.26-27). Dengan tindakan-Nya itu, Yesus meminta Tomas untuk memutuskan sendiri apakah Dia yang sekarang berbicara dengannya itu sama dengan Dia yang dulu diikutinya.
Ketiga, kepercayaan yang begitu besar dari Yesus yang telah bangkit kepada Tomas, membuat Tomas segera mengenali-Nya. Mata batin Tomas terbuka. Dengan melihat Yesus, Tomas melihat Allah yang maha tinggi, yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah makna seruan yang diucapkan Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku” (ay. 28).
Keempat, seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus yang telah bangkit kepada Tomas, Ia juga mempercayakan diri-Nya kepada semua manusia agar dikenali dalam hidup mereka (ay. Ay. 29).
Kelima, ada hubungan antara kata “melihat” dan “percaya.” Hal ini diolah secara panjang lebar dalam Injil Yohanes bab 9, yang berkisah tentang penyembuhan orang buta sejak lahir. Semula ia hanya mengenal Yesus sebagai orang yang telah menyembuhkannya (ay. 11), kemudian ia menegaskan-Nya sebagai nabi (ay. 17), dan akhirnya bersujud dan percaya kepada-Nya (ay. 38); artinya mengakui bahwa Allah hadir dalam diri Yesus.
Keenam, melihat dapat membantu orang untuk berkembang menjadi percaya. Namun dalam pertumbuhan iman hal itu masih perlu bantuan dari orang yang dipercaya (Yoh 9: 35 dan 37) atau dari orang yang dapat membantu mempersaksikan kebenaran iman (Yoh 20:30-31). Hal ini nampak sangat jelas dalam kisah penampakan Yesus kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:11-18). Dikatakan bahwa perempuan itu melihat Yesus namun tidak segera mengenalinya (ay. 14-15). Baru setelah mendengar sapaan “Maria!”, ia segera mengenali bahwa orang yang dilihatnya itu adalah Yesus yang telah bangkit (ay. 16).
Ketujuh, seperti dalam kisah penciptaan manusia menerima nafas kehidupan dari Allah (Kej. 2:7), kini para murid juga menerima nafas kehidupan itu melalui Yesus yang telah bangkit (Yoh 20:22). Dalam pembukaan Injil Yohanes dikatakan bahwa Sang Sabda datang kepada milik kepunyaan-Nya (Yoh 1:11) supaya semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12), yakni orang-orang yang diperanakkan dari Allah (Yoh 1:13). Kuasa itu adalah nafas kehidupan yang diberikan oleh Yesus yang bangkit kepada para murid-Nya (Yoh 20:22). Dalam peristiwa penampakan, lahirlah kemanusiaan baru.
Kedelapan, setelah menerima nafas kehidupan, kekuatan Roh-Nya, para murid diajak ikut serta menjalankan perutusan dari Bapa-Nya. Dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang zaman itu “perutusan dari Bapa” adalah “mengampuni dosa orang” (Yoh 20:23). Yang dimaksud dengan dosa adalah sikap menjauhi atau menolak kehadiran Yesus yang membawakan kehidupan dari Allah, Sang Sumber kehidupan.
Para murid Yesus, dulu dan sekarang, diberi tugas untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Iman akan kebangkitan membuka ruang seluas-luasnya bagi manusia (kita semua) agar semakin menjadi makhluk yang mengalami kehadiran Allah Mahakuasa sebagai Allah yang penuh kerahiman, dan berbagi pengalaman ini dengan sesama. “Bahasa” apa yang perlu kita gunakan agar kesaksian kita ini efektif untuk zaman sekarang? Menunjukkan kepedulian terhadap mereka yang hidupnya masih jauh dari sejahtera? Membangun solidaritas dengan mereka yang berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup mereka? Menemani kaum muda agar mereka dapat membangun masa depan yang penuh harapan? Memberikan penyadaran dan pelatihan kepada calon pekerja migran, agar mereka tidak pulang dalam peti mayat? Membantu diciptakannya UU agar para petani dapat hidup layak, sehingga sektor pertanian di negeri kita tidak mengalami kebangkrutan? Bergabung dengan mereka yang berupaya merawat bumi sebagai tempat tinggal Allah dan rumah kita bersama? Dan lain sebagainya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
28 March 2021
Menemukan Terang dalam Kegelapan Hidup
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik,
selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat
dalam keadaan baik. Dalam segala keterbatasan yang ada, semoga Anda masih terus
memilih sehat dan bahagia. Selamat memasuki hari pertama Minggu Suci. Semoga
kita berani menyisihkan waktu untuk merenungkan puncak dan akhir perjalanan
hidup dan pelayanan Tuhan Yesus yang mencapai kepenuhannya dalam peristiwa
kesengsaran, wafat, dan kebangkitan-Nya, agar kita semakin menjadi murid-murid-Nya
yang mampu mewartakan karya keselamatan Allah lewat cara hidup kita.
Hari ini kita merayakan hari Minggu Palma untuk memperingati
perjalanan Yesus memasuki Yesusalem (Mrk. 11:1-10). Kedatangan-Nya disambut
meriah oleh orang banyak karena mereka telah mendengar berbagai mukjizat yang
telah diakukan oleh Yesus dan juga pengajaran-Nya tentang Kerajaaan Allah. Kini
mereka berharap bahwa, sebagai Mesias, Yesus akan menunjukkan kebesaran-Nya di
kota suci Yerusalem. Memang itulah yang akan terjadi. Namun kebesaran Mesias
yang dihidupi oleh Yesus berbeda dengan yang diharapkan oleh rakyat banyak.
Untuk memahami hal ini, marilah kita renungkan bersama Kisah Sengsara yang
dibacakan pada hari Minggu Palma tahun B ini (Mrk. 14:1-15:47) dan memetik
hikmatnya dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, kedatangan Yesus di Yerusalem menjelang perayaan
Paskah Yahudi merupakan ancaman bagi para imam kepala dan ahli Taurat. Hal itu
terjadi karena dua hal. Pertama, Yesus ingin mengubah Bait Allah sebagai pusat
ke-Yahudi-an, sebagai lambang indentitas orang Yahudi, menjadi rumah doa bagi
semua orang (Mrk. 11:17a = Yes. 56:7). Kedua, Yesus mengajarkan bahwa Allah
adalah “Bapa”; yakni Allah yang sangat dekat dengan manusia, peduli terhadap
semua penderitaan manusia, dan sangat memperhatikan kaum pendosa. Ajaran
seperti ini persis berkebalikan dengan ajaran para imam kepala dan ahli Taurat.
Ajaran Yesus dianggap sebagai hujatan kepada Allah. Karenanya, Ia harus
disingkirkan dan dibunuh (Mrk. 14:1b). Lewat penguasa Romawi mereka berhasil
membutuh Yesus di kayu salib (Mrk. 15:15b).
Kedua, mengapa Yesus disalibkan? Dari sudut pandang Mahkamah
Agama Yahudi, karena Yesus dianggap menghujat Allah (Mrk. 14:61b-62). Dari
sudut pandang penjajah Romawi, Yesus dianggap sebagai ancaman politik (Mrk.
15:1-3). Dari pihak Yesus, kematian-Nya di salib merupakan konsekuensi dari
seluruh pilihan hidup-Nya, yang dimulainya sejak pertama kalinya Ia tampil di
muka umum, yakni untuk mewartakan datangnya Kerajaan Allah (lih. Mrk. 1:14-15).
Ketiga, proses penyaliban Yesus merupakan saat yang paling gelap dalam hidup-Nya. Demi ambisi para pemimpin Umat Yahudi dan Kekaisaran Romawi akan kekuasaan, Ia dijatuhi hukuman mati, kendati selama proses pengadilan tidak ditemukan satu kesalahan pun yang dapat dijadikan alasan untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap-Nya (Mrk. 15:14). Ada beberapa peristiwa yang sungguh menginjak-injak rasa keadilan dan kemanusiaan. Pertama, orang-orang Yahudi atas hasutan para imam kepala dan ahli Taurat justru meminta Pilatus membebaskan Barabas (seorang pemberontak dan pembunuh) daripada Yesus (Mr. 15:6-11). Kedua, Pilatus menuruti permintaan mereka, memutuskan Yesus untuk disalib, dan membiarkan para serdadu menderanya terlebih dahulu. Para serdadu juga memasangkan mahkota duri di kepala-Nya dan mempermainkan Yesus sebagai raja (Mrk. 15:12-15).
Keempat, dalam perjalanan-Nya memanggul salib ke bukit
Golgota, di tengah jalan Yesus kehabisan tenaga. Simon dari Kirene, yang
kebetulan lewat di situ, dipaksa untuk memikul salib Yesus sampai di puncak
Golgota. Seandainya tidak ada Simon dari Kirene, kemungkinan Yesus tidak akan
sampai di puncak Golgota, dan sejarah umat manusia akan amat berbeda. Kejadian
ini mengingatkan kita bahwa perjumpaan dengan orang yang tidak dikenal juga
dapat menjadi jalan penebusan umat manusia. Hal yang serupa juga terjadi ketika
kepala pasukan, orang kafir, yang menyaksikan kematian Yesus menyerukan bahwa
Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 15:37-39).
Kelima, bersamaan dengan kematian Yesus dan penguburan jenasah-Nya, ikut terkubur pula berbagai macam harapan, idaman, dan impian yang dikenakan pada Yesus oleh banyak orang. Lalu apa yang tersisa? Dari orang-orang yang paling dekat dengan Dia, ada kesaksian bahwa pada hari ketiga sejak kematian-Nya mereka mendapati makam Yesus kosong tanpa ada orang yang memindahkan jenazahnya. Yesus sudah bangkit dari kematian-Nya! (Mrk. 16:4-6). Allah tidak membiarkan Yesus tetap berada di antara orang-orang mati. Allah memberikan hidup baru kepada Yesus. Hidup baru ini dapat dibagikannya kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Inilah kenyataan Kerajaan Allah yang diajarkan oleh Yesus dan dipersaksikannya dengan kesengsaraan, kematian-Nya di salib, dan kebangkitan-Nya.
Secara singkat, kisah sengsara Yesus memperlihatkan betapa merosotnya kemanusiaan yang menolak kehadiran Allah dalam hidup mereka. Kisah tragis yang dialami oleh Yesus, manusia yang tidak berdosa ini, diperlihatkan kepada kita bukan untuk memicu rasa terharu, melainkan untuk membuat kita semakin menyadari sampai sejauh mana kekuatan-kekuatan kejahatan dapat memerosotkan kemanusiaan kita. Sekaligus ingin diperlihatkan bahwa Allah tidak pernah dapat dikalahkan oleh kekuatan kejahatan. Allah juga tidak pernah meninggalkan manusia sendirian. Inilah kabar baik bagi kita pada hari pertama Minggu Suci ini.
Semoga pengalaman orang-orang yang paling dekat dengan Yesus, yang dengan setia menemani perjalanan hidup Yesus yang mencapai puncak dan kepenuhannya di Yesuralem, juga menjadi pengalaman kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
28 March 2021
Ingin Menemui Yesus
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara sekalian yang baik, selemat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat sambil mencecap kembali semua anugerah Allah yang telah kita terima selama sepekan yang lalu.
Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Masa Prapaskan ke-5 tahun B (Yoh. 12:20-33), berkisah tentang orang-orang Yunani yang datang ke Yerusalem untuk mengikuti ibadat Paskah Yahudi di Bait Allah. Dari antara mereka ada yang ingin bertemu dengan Yesus. Apa makna dari peristiwa ini bagi kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.
Pertama, yang dimaksud dengan orang-orang Yunani adalah orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bukan-Yahudi. Mereka memiliki latar Pendidikan Yunani, yakni kebudayaan transnasional zaman itu. Dari antara mereka ada yang mengikuti kepercayaan dalam agama Yahudi, dan ada juga yang menjadi pengikut Yesus.
Kedua, orang-orang Yunani yang tertarik ikut hidup dalam
komunitas Kristiani awal memiliki persoalan mengenai siapa sebenarnya Yesus
itu, mengapa Ia harus disalib, dan bagimana peristiwa penyaliban itu menjadi
penyelamatan bagi semua orang. Inilah yang melatari peristiwa yang disampaikan
dalam Injil hari ini.
Ketiga, peristiwa penyaliban Yesus memang merupakan “batu sandungan” bagi orang-orang Yahudi, dan “kebodohan” bagi orang-orang bukan Yahudi (Yunani) (1Kor. 1:23-24). Dalam Injil Yohanes, persoalan yang dihadapi oleh orang Yahudi tercermin dalam percakapan Yesus dengan Nicodemus (Yoh. 3:1-21) yang sebagiannya kita dengarkan hari Minggu yang lalu, sedangkan yang dihadapi oleh orang-orang Yunani muncul dalam bacaan hari ini.
Keempat, persoalan yang dimiliki oleh orang-orang Yunani mendapatkan jawaban panjang dari Yesus sendiri (ay. 23-33). Dari pernyataan Yesus itu tampak bahwa sudah tiba saatnya bagi Yesus untuk mengalami penderitaan dan mati disalib (ay. 23). Penyerahan diri Yesus dalam peristiwa penyaliban itu memungkinkan terjadinya kehidupan baru, kehidupan kekal bagi banyak orang. Inilah yang dijelaskan dengan biji gandum yang harus jatuh ke dalam tanah dan mati supaya menghasilkan banyak buah (ay. 24).
Kelima, apakah kita harus meniru Yesus, mati seperti Dia
(ay. 25-26)? Yesus tidak mengajarkan agar orang meniru Yesus. Tidak diajarkan
bahwa orang harus menjalani penderitaan seperti Dia. Yang diminta oleh Yesus
adalah mengikuti-Nya. Artinya, ikut mengusahakan agar Dia dapat menjalankan
perutusan-Nya sampai tuntas, mengawani-Nya, juga dalam sat-saat yang begitu
gelap, dan tidak membiarkan-Nya sendirian, sampai saat ini.
Keenam, setelah Yesus memohon: “Bapa muliakanlah nama-Mu” (ay. 28a), maka terdengarlah (oleh Yesus) “suara dari sorga” (ay. 28b). Artinya, Yesus (yang sangat dekat dengan Bapa-Nya) langsung menangkap apa yang dimaksudkan oleh Bapa-Nya dan dapat menjelaskannya kepada siapa saja.
Sementara itu, orang banyak mendengarnya sebagai “suara guntur” (ay. 29a), dan yang lain mendengarnya sebagai “suara malaikat” (ay. 29b). Maksudnya, mereka memang mengalami sesuatu yang hebat, yang mencengkam, yang “berasal dari atas” namun isinya tidak langsung mereka pahami. Masih dibutuhkan penjelasan yang datang dari “yang di atas” yaitu “malaikat” untuk dapat memahaminya.
Yang dimaksudkan dengan “suara dari sorga”: “Aku telah memuliakannya, dan akan memuliakannya lagi!” (ay. 28b), dijelaskan oleh Yesus dalam ay. 31-32; yakni “penguasa dunia” (= kuasa kegelapan dan kematian yang sangat menakutkan) akan dicampakkan keluar ketika Yesus “ditinggikan dari bumi (= disalibkan, wafat, dan dibangkitkan oleh Allah). Kuasa kegelapan (dan kematian) dikalahkan oleh “terang” (=Sang Sabda yang diperdengarkan kepada orang banyak dalam diri Yesus – Yoh. 1:1-5). Ini semua disampaikan “demi kamu” (ay. 30), demi semua orang yang mau mendengarnya.
Ketujuh, orang Yunani dalam Injil hari ini mewakili umat manusia yang bukan-Yahudi, semua bangsa yang tidak menerima wahyu Allah secara turun-temurun. Keingin tahuan mereka tentang Yesus, membawa mereka mendekat kepada Dia, dan memungkinkan mereka mendengar tentang Yesus jauh lebih banyak daripada yang mereka pikirkan. Itu semua juga dapat terjadi pada kita. Syaratnya hanya satu, yakni memiliki keinginan untuk menemui Yesus (ay. 21).
Sebagai orang yang telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, kita juga memiliki tugas dan tanggungjawab seperti yang dimiliki oleh Filipus dan Andreas. Sebelum “mengantar” orang-orang Yunani bertemu dengan Yesus, mereka telah diminta oleh Yesus untuk membagikan makanan kepada orang-orang yang berbondong-bondong mengikuti-Nya (Yoh. 6:1-15). Pengenalan diri akan Yesus juga akan semakin berlimpah buahnya bila semakin dibagikan kepada orang banyak (bdk. Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium 8 dan 10).
Bila ada orang-orang yang datang kepada kita dan ingin bertemu dengan Yesus, apa yang akan kita lakukan?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
14 March 2021
Memasuki Kerajaan Allah
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia justru dalam situasi yang penuh keterbatasan. Selamat menikmati hari Minggu Prapaskah ke-4 dengan keluarga, teman dan sahabat, dan bahkan dalam kesendirian, untuk merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.
Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi pada hari ini (Yoh. 3:14-21) berbicara tentang bagaimana orang dapat memasuki Kerajaan Allah, dapat sampai pada hidup yang kekal. Untuk dapat memahaminya marilah kita perhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, ay. 14 merujuk
pada pengalaman umat Israel di padang gurun mendekati Tanah Terjanji. Mereka
mengalami berbagai macam bahaya. Salah satu bahaya yang paling mengerikan
adalah ular tedung yang mematikan (Bil. 21:4-9). Malapetaka tersebut digambarkan
sebagai akibat dari kekurangpercayaan mereka kepada Allah. Diceritakan bahwa orang-orang
yang telah dipagut oleh ular tedung dan memandangi ular tembaga yang
dipancangkan pada sebuah tiang oleh Musa, menjadi selamat. “Memandangi ular
tembaga” merupakan ungkapan iman kepercayaan kepada Sabda Allah yang menjadi
harapan satu-satunya untuk dapat terus hidup dan melanjutkan perjalanan di
padang gurun sampai ke Tanah Terjanji.
Kedua, bagi pembaca
Injil Yohanes, Tanah Terjanji adalah Kerajaan Allah (Yoh.3: 3 dan 5), atau
hidup kekal (ay. 15), yang dibawakan oleh Yesus kepada semua orang. Jalan satu-satunya
untuk sampai ke sana adalah mengarahkan pandangan kepada “Anak Manusia yang
ditinggikan” (= Yesus yang disalibkan – ay. 14b-15). Mengapa demikian?
Jawabannya terdapat dalam ay. 16.
Ketiga, ay. 16 berbunyi: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kalimat ini merupakan ringkasan dari seluruh Injil, Kabar Gembira mengenai keselamatan Allah.
Keempat, ay. 16-21 berisi kesaksian Yohanes Penginjil akan siapa Allah dan siapa Yesus. Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia menyelamatkannya. Istilah “mengasihi” dan “menyelamatkan” menunjuk pada peristiwa yang SUDAH terjadi. Tindakan Allah mengasihi dan menyelamatkan dunia sudah terlaksana dalam peristiwa penyaliban Yesus di Golgotha. Penyaliban Yesus yang merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah membuka jalan kehidupan kekal bagi semua orang yang percaya.
Kelima, melihat
kenyataan dalam dunia yang tidak semakin membaik (pendemi covid-19 yang
berkepanjangan, peperangan, pembunuhan, kekerasan, perdagangan manusia, ketidakadilan,
pengrusakan lingkungan, dst.), bagaimana menjelaskan bahwa Allah begitu mencintai
dunia? Bagaimana menjelaskan bahwa Kerajaan Allah sudah datang? Injil Yohanes
yang kita dengarkan hari ini menjawabnya dengan memberikan kesaksian bahwa
Allah tidak menghendaki kebinasaan melainkan kehidupan kekal bagi semua orang (ay.
16b). Yang perlu kita lakukan adalah berani menerima kebaikan-Nya, berani
percaya kepada-Nya (ay. 18a). Dengan kata lain, kita diundang untuk berani
menerima Yesus, Sang Terang (ay. 21), sehingga kita tidak lagi hidup dalam
kegelapan, tidak lagi melakukan kejahatan (ay. 19-20).
Dalam istilah Paus Fransiskus kita diundang untuk meninggalkan dan melenyapkan sikap ketidakpedulian (indifferences), sikap yang hanya perpusat pada dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri (self-centeredness), serta sikap abai terhadap penderitaan orang lain (forgetfulness). Kita dipanggil untuk mengembangkan hospitalitas (hospitality) yakni kesediaan membuka ruang dalam hati kita agar semakin banyak orang—khususnya yang lemah—mendapatkan perhatian; persaudaraan (fraternity) yakni sikap memperlakukan orang lain seperti saudara kandung sendiri karena sebagai orang beriman kita semua dilahirkan dari “Rahim” yang sama, yakni Allah yang penuh dengan kerahiman; dan solidaritas, yakni sikap mau ikut meringankan beban hidup sesama.
Semoga seruan Bapa Suci mendapatkan gemanya dalam hidup kita sebagai jalan memasuki Kerajaan Allah.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
10 March 2021
Membangun Kenisah Baru
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan tetap memilih sehat dan bahagia agar dapat melalui masa pandemi ini dengan selamat. Selamat menikmati hari Minggu bersama keluarga, sanak saudara, dan teman serta sahabat untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.
Hari ini kita merayakan hari Minggu Prapaskah yang ke-3. Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini diambil dari Injil Yohanes (2:13-22), yang berkisah tentang tindakan Yesus membersihkan Bait Allah dari kegiatan penukaran uang dan perdagangan hewan kurban. Apa makna dari kisah ini bagi kehidupan kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan melihat beberapa catatan berikut ini.
Pertama, peristiwa di Bait Allah tersebut terjadi menjelang hari raya terbesar orang Yahudi, yakni Paskah. Menjelang hari raya tersebut orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru tanah Israel berdatangan ke Yerusalem untuk melakukan kewajiban mempersembahkan korban di Bait Allah. Demi alasan praktis, banyak orang tidak membawa hewan korban sendiri, karena syarat bagi hewan yang pantas untuk dipersembahkan memang sangat rumit. Karenanya, ada layanan penjualan hewan yang layak untuk dipersembahkan. Uang yang sah untuk berjual beli adalah uang Romawi. Namun karena mata uang itu memuat gambar Kaisar, maka mata uang itu dinyatakan haram untuk membeli hewan yang akan dipersembahkan. Oleh sebab itu, ada layanan penukaran mata uang Romawi dengan mata uang Yahudi. Semuanya itu dilakukan di serambi Bait Allah, yang juga boleh dikunjungi oleh orang bukan Yahudi.
Kedua, apa yang sebenarnya dibuat oleh Yesus? Apakah Dia kalap? Menurut seorang ahli tafsir, Prof. Dr. A. Gianto, S.J., yang dilakukan oleh Yesus kala itu adalah sebuah “tindakan simbolik” seperti pernah dilakukan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama (mis. Yer.13:1-11; Yeh. 4:1-5:17, dst.), untuk membuka mata orang-orang yang melihatnya. Dengan disaksikan oleh banyak orang, Yesus bersama murid-murid-Nya datang ke Bait Allah dengan membawa hewan persembahan dan meja penukar uang. Menyaksikan itu semua, tentu semua orang yang melihatnya merasa ingin tahu. Tiba-tiba Yesus mencambuki hewan yang dibawanya sendiri dan menghardik para murid yang berperan sebagai para pedagang hewan persembahan dan penukar uang dengan berteriak: “Enyahlah, jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi pasar!” (ay. 16). Dan para murid pun berteriak: “Kalap sungguh aku oleh kobaran cintaku pada Bait-Mu!” (ay. 17). Drama selesai, tetapi serambi yang berantakan masih terlihat oleh orang banyak.
Ketiga, melihat tindakan simbolik Yesus itu, orang-orang Yahudi menantang Yesus untuk menunjukkan apa yang menjadi hak-Nya untuk melakukan tindakan (seperti yang dilakukan oleh para nabi Perjanjian Lama) itu (ay. 18).
Keempat, dengan tindakan-Nya itu Yesus mengajak semua orang untuk menyadari betapa fungsi Bait Allah sudah terjungkir balik. Bait Allah bukan lagi merupakan tempat untuk berjumpa dengan Allah dan beribadat kepada-Nya. Orang lebih disibukkan dengan “hal-hal lahiriah”: mana hewan yang pantas sebagi korban, mana mata uang yang cocok untuk membeli hewan korban.
Kelima, penginjil Yohanes menempatkan peristiwa ini pada awal karya Yesus, sementara Injil sinotik (Markus, Matius, dan Lukas) menempatkannya pada hari-hari terakhir kehidupan Yesus. Yang ingin disampaikan oleh Yohanes dengan pilihannya itu adalah menekankan bahwa sejak awal Yesus mengajak semua orang untuk mengarahkan diri ke Bait yang didirikan oleh Allah sendiri, yakni dirinya yang dibangkitkan-Nya dari kematian.
Apa makna itu semua bagi kita? Dengan itikad baik kita semua telah mendirikan “bangunan hidup rohani,” ruang suci dalam hidup kita bagi Tuhan. Dengan susah payah kita berusaha tekun melakukan berbagai macam olah rohani (bedoa, berziarah, melakuakan adorasi, melakukan berbagai macam perayan liturgi, melakukan pantang dan puasa) dan melakukan berbagai tindakan amal kasih, serta keterlibatan sosial untuk membangun masyarakat menjadi lebih manusiawi. Ini semua baik. Namun “tindakan simbolik” yang dilakukan oleh Yesus, yang dikisahkan dalam Injil hari ini, mengundang kita agar itu semua tidak menggeser dan menggantikan Yesus sendiri bagi kehidupan kita.
Refleksi kita bersamaan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Irak, yang dimulai sejak Jumat dan akan berakhir besok. Kunjungan Bapa Suci ini merupakan tindakan untuk mewujudkan ajarannya sendiri, yakni melawan virus yang lebih berbahaya daripada virus corona, yakni virus ketidakpedulian. Paus Fransiskus juga ingin keluar dari bahaya yang mengancam seluruh umat manusia saat ini, yakni “terpenjara dalam realitas virtual.” Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak ingin menunjukkan bahwa persaudaraan dan perdamaian sejati hanya dapat diwujudkan bila kita bersedia keluar dari “penjara realitas virtual” dan menjumpai “realitas [kehidupan yang] real,” meskipun harus menghadapi berbagai macam bahaya yang mengancam.
Tindakan konkret apa yang akan kita lakukan untuk mengembangkan kepedulian kita terhadap sesama yang membutuhkan uluran tangan kita, serta mewujudkan hidup bersama yang dilandasi oleh persaudaraan sejati?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.