18 June 2023
KUASA UNTUK MELAYANI
Para Ibu dan Bapak serta Saudari
dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga,
sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati
akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah bekerja keras selama sepekan. Semoga
Anda juga masih dapat menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua
kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan ini.
Hari ini kita akan merayakan hari
Minggu XI tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 9:36-10:8) yang
akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memiliki tiga unsur pewartaan.
Pertama, dalam Mat 9:36-38 disebutkan bagaimana Yesus tergerak hatinya melihat
orang banyak mengharapkan pertolongan dan dampingan. Ia menganjurkan para
murid-Nya memohon kepada Yang Mahakuasa agar mengirim pekerja-pekerja untuk
menuai hasil yang sudah tersedia. Kedua, dalam Mat 10:1-4 diberitakan peresmian
keduabelas rasul, lengkap dengan daftar nama serta pemberian kuasa untuk
mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang dari segala penyakit dan kelemahan.
Ketiga, dalam Mat 10:5-8 diceritakan bagaimana para rasul diutus untuk melayani
mereka yang membutuhkan pertolongan.
Apa makna ini semua bagi kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut ini.
Pertama, dalam Injil Matius,
sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umat-Nya, yakni
Israel. Dia itu adalah Imanuel (= Tuhan menyertai umat-Nya) yang jauh-jauh hari
sebelumnya telah dinubuatkan nabi Yesaya (Yes 7:14). Dia diperkenalkan sebagai
raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tetapi didatangi dengan penuh hormat oleh
orang-orang bijak dari Timur. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius
(Mat 2:1-18).
Kedua, Yesus diutus kepada
orang-orang yang tidak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Dia
mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Mereka seperti domba
yang kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini (Mat 9:36).
Ketiga, para rasul diberi kuasa
oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul
dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau
diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu (Mat 10:1).
Keempat, ketika Yesus masih hidup
di dunia, seperti disebutkan dalam petikan Injil hari ini, Ia mengutus para
rasul hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel (Mat 10:5-6). Baru
setelah kebangkitan-Nya pengajaran Yesus terbuka bagi semua orang; dan
murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia (Mat 28:19).
Kelima, menurut Matius para rasul
diikutsertakan dalam tugas Yesus memberitakan bahwa “Kerajaan Surga sudah
dekat” dan membawakan kesembuhan (Mat 10:7-8a). Masih ada satu kegiatan lain
yang dilakukan oleh Yesus, yakni mengajar tentang siapa itu diri-Nya dan siapa
Allah yang diperkenalkan-Nya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit,
murid-murid akan betul-betul diikutsertakan di dalam kegiatan mengajar ini (Mat
28: 19).
Keenam, dalam Mat 10:8b para
rasul diminta memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima
dengan cuma-cuma pula. Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan
iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya mereka yang
berjiwa merdeka seperti ini dapat mewartakan dan menyembuhkan orang lain dalam
macam-macam arti dan wujud; tidak terbatas pada hal-hal yang lazim dikenal.
Iman yang hidup mengambil wujud yang tak terduga-duga. Inilah kekuatan iman dan
inti kegiatan rasuli.
Ketujuh, daftar keduabelas rasul dalam Mat 10:2-4 mengikuti Mrk
3:16-19, namun Matius melakukan beberapa perubahan. Satu perubahan yang sangat
penting adalah ditambahkannya kata “Pertama” di depan nama Simon (ay. 2),
sehingga Simon adalah rasul yang pertama. Dalam Injil Matius Simon memang lebih
ditonjolkan sebagai yang pertama dari antara para rasul. Simon itu juga yang
nanti digambarkan
mendapat kedudukan khusus sebagai
dasar umat dan juru kunci Kerajaan Surga (Mat 16:17-19).
Kedelapan, dalam Injil Matius
kata “rasul” hanya muncul satu kali, yakni dalam Mat 10:2. Istilah “rasul”
artinya utusan. Mereka diberi kuasa menyampaikan berita dan mengerjakan urusan
atas nama yang mengutus. Utusan hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang
tepercaya, baik di mata yang mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.
Kesembilan, keduabelas rasul itu
melambangkan gagasan duabelas suku Israel. Gagasan duabelas suku ini berkembang
sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh
karena itu, hal itu juga dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau
membangun diri sebagai umat baru (= para pengikut Kristus; Gereja) yang
dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri.
Kesepuluh, dalam Injil, musim
menuai kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang
telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya (Mat 9:37). Orang-orang pada
zaman itu hidup dalam harapan akan datangnya seorang pemimpin yang akan membawa
mereka ke jalan yang aman. Kegiatan Yesus di tengah-tengah banyak orang pada
zaman-Nya menjadi tanda bahwa kini Allah mendatangi umat-Nya dalam diri tokoh
ini. Banyak orang berhasrat mendekat dan memperoleh sesuatu dari-Nya. Musim
menuai sudah tiba.
Kesebelas, ajakan meminta agar
yang empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja
(Mat 9:38) dimaksud agar tuaian makin utuh dan melimpah. Bila tidak ada cukup
penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tidak berguna lagi.
Begitulah jalan pikirannya. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim
tuaian. Minat dan harapan yang besar di kalangan umat akan sia-sia bila tidak
ada cukup orang yang melayaninya.
Keduabelas, mengapa yang empunya
tuaian-lah yang diminta mengirim pekerja-pekerja (Mat 9:38)? Diajarkan sikap
melepaskan klaim bahwa kerasulan yang begini atau yang begitu adalah urusan si
rasul sendiri. Kerajaan Surga memakai ukuran-ukuran lain. Berhasil tidaknya
penuai boleh jadi hanya Dia (yang empunya tuaian) saja yang tahu. Karena itu,
kegiatan rasuli yang sejati adalah kegiatan yang membawa orang makin mendekat
kepada Dia yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dari-Nya sendiri.
Injil hari ini mengajarkan kepada
kita bahwa “kuasa rasuli” adalah kuasa melayani yang asalnya memang dari Yesus sang utusan Allah
sendiri. Kuasa itu merupakan kuasa yang diabdikan pada umat-Nya, demi
kesejahteraan umat-Nya (apa pun agama mereka). Kuasa ini sakral, baik bagi
pengemban maupun bagi umat; tidak bisa diklaim oleh perorangan. Yang
mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya.
Sebagai murid Yesus, kita pun menerima kuasa tersebut. Bagaimana kita
memanfaatkannya?
Teriring salam dan doa, Rm.
Madya, S.J.
11 June 2023
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari
dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga,
sanak-saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati malam
Minggu untuk sejenak beristirahat setelah Anda bekerja keras selama sepekan.
Semoga Anda juga masih dapat menyisihkan sedikit waktu untuk merasakan kembali
semua anugerah yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.
Minggu, 11 Juni 2023, kita akan
merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Injil (Yoh 6:51-58) yang akan
dibacakan dalam perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus sebagai roti
kehidupan, yakni makanan yang memberi hidup. Apa maknanya bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut.
Pertama, konteks dari Injil yang
dibacakan hari ini adalah Yoh 6:25-58. Dalam bagian pertama pengajaran-Nya (Yoh
6:25-50) Yesus membuat para pendengar-Nya
menengok kepada pengalaman mereka sendiri sambil mendorong mereka agar
maju lebih jauh dan mengerti siapa Dia yang sudah datang di tengah-tengah
mereka. Tetapi mereka tidak memahami ajakan Yesus itu dan malah berputar-putar
pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu. Dalam bagian kedua
pengajaran-Nya (Yoh 6:51-58), Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali
Dia, melainkan bagaimana menerima Dia.
Kedua, dalam Injil Yohanes, kata
“daging” dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki
keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Matius, Markus,
Lukas dan Paulus memakai kata “tubuh” dengan arti yang sama.
Ketiga, berkaitan dengan catatan
kedua di atas, dalam pembukaan Injil Yohanes (Yoh 1:14), dikatakan bahwa Sang
Sabda menjadi “daging”; artinya, Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud
manusia biasa, bahkan rapuh. Hanya dengan demikian Ia dapat sungguh merasakan
kuatnya kuasa yang jahat walaupun Ia sendiri tidak kalah dan tidak menjadi
bagian dari kuasa itu. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat
dikuasai oleh yang jahat.
Keempat, kata “darah” biasa
dipakai untuk menyebut tempat tinggalnya nyawa. Di situlah letak kehidupan.
Dengan menyerahkan nyawa-Nya – darah-Nya – bagi orang banyak, Yesus berbagi
kehidupan dengan orang banyak pula. Hidup Yesus berakhir pada kayu salib.
Wafat-Nya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. “Daging” (=kerapuhan
manusia) dan “darah” (=kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu
menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengan-Nya berarti menempuh jalan itu.
Inilah yang kemudian dibahasakan oleh penginjil Yohanes dengan ungkapan
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal”
(ay. 54; bdk. ay. 51).
Kelima, tetapi orang-orang tidak
menangkap maksudnya dan saling mempertengkarkan bagaimana Dia bisa memberikan
daging-Nya untuk dimakan (ay. 52). Orang-orang itu sulit menerima pemberian
Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti
atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14).
Keenam, Yesus sendiri berkata
bahwa mereka mencari Dia karena telah makan roti dan kenyang, dan bukan karena
mereka melihat dan mengerti tanda-tanda, termasuk tanda roti tadi (Yoh 6:26).
Orang-orang itu tidak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu
adalah tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni
pengorbanan Diri bagi mereka.
Ketujuh, yang ingin disampaikan
oleh Yesus bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang
melihat Diri-Nya sebagai “nabi” (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi
pemimpin, bahkan menjadi raja (Yoh 6:15). Yesus malah menghindari harapan
seperti itu. Yesus mengajak orang agar mereka melihat bahwa yang memberi
makanan dari langit itu ialah Bapa-Nya. Lebih lanjut Yesus ingin mengatakan
bahwa sekarang ini Dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima Dia,
mempercayai-Nya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh
6:32-40).
Kedelapan, penginjil Yohanes
memakai istilah “daging” (dan bukan “tubuh” seperti Injil Sinoptik dan Paulus)
untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara
itu dengan yang diwartakan pada awal Injil: “Dan Sang Sabda itu telah menjadi
manusia, [harfiahnya: menjadi “daging”], dan tinggal di antara kita...” (Yoh
1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu masih ada
di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk Ekaristi. Dengan
merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus kita diundang oleh Yesus untuk
bersedia “makan daging” Yesus dan “minum darah”-Nya. Artinya, mempercayai bahwa
Yesus adalah pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Pemberian ini
lebih luas dari pada kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, dan lapar
lagi. Pemberian ini membawa ke kehidupan yang tidak lagi dibawahkan pada
perputaran itu. Bagaimana konkretnya? Hal ini merupakan tanggungjawab dari
orang-orang yang mengikuti Yesus. Orang-orang yang mengikuti Yesus, kita semua,
dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan
surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, dan menemukan roti kehidupan yang
sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ini adalah iman yang mengangkat
realitas keseharian menjadi yang makin mendekat ke kehadiran ilahi. Ada ajakan
untuk mengusahakan agar kenyataan rohani juga berdampak pada kenyataan
sehari-hari.
Teriring salam dan doa, Rm.
Madya, S.J.
5 June 2023
IMAN AKAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari
dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga,
sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati
akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah bekerja keras selama sepekan. Semoga
Anda juga masih dapat menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua
kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan yang lalu.
Minggu, 4 Juni kita akan merayakan pesta Allah Tritunggal
Mahakudus, pusat iman kita. Bacaan Injil (Yoh 3:16-18) yang akan kita dengarkan
dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang kasih Allah yang begitu besar kepada
dunia sehingga Ia mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk
menyelamatkannya.
Apakah makna beriman kepada Allah
Tritunggal yang Mahakudus untuk kita zaman ini? Marilah kita renungkan bersama
dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.
Pertama, petikan Injil hari ini
merupakan kelanjutan dari pembicaraan Yesus dengan Nikodemus, seorang ahli
Taurat dan pengajar umat Israel (Yoh 3:1-15). Nikodemus percaya bahwa Yesus
adalah utusan Allah sendiri dan ingin mengenal-Nya lebih dalam.
Kedua, Yesus membantu Nikodemus
dengan mengarahkannya pada warta yang selama ini telah Ia berikan kepada orang
banyak, yakni bahwa Kerajaan Allah sudah datang di dunia dan orang diajak
bersiap ikut serta di dalamnya. Kepada Nikodemus diterangkan bahwa syarat untuk
ikut serta di dalam Kerajaan Allah adalah “dilahirkan kembali dalam air dan
Roh” (ay. 5). Maksudnya, dibaptis menjadi pengikut Yesus dan membiarkan diri
dibawa oleh kekuatan-kekuatan ilahi sendiri, yakni Roh.
Ketiga, karena Nikodemus tidak
segera menangkap penjelasan yang diberikan oleh Yesus, Yesus menjelaskannya
dengan cara yang lebih mudah dipahami, yakni dengan merujuk pada keinginan
mencapai “hidup kekal.” Siapa saja yang memandangi yang datang dari atas sana,
yakni Anak Manusia, dan percaya kepada-Nya akan mendapat hidup kekal (ay.
14-15).
Keempat, Nikodemus memang sudah
tahu dan percaya bahwa Anak Manusia adalah Yesus sendiri yang merupakan utusan
yang datang dari Allah sendiri (ay. 2). Namun Yesus mengajaknya untuk melangkah
lebih jauh lagi, yaitu memulai hidup baru di dalam Kerajaan Allah (ay. 5).
Inilah yang mendahului pembicaraan dalam ayat 16-18.
Kelima, apakah “Kerajaan Allah”
yang diutarakan pada awal pembicaraan dengan Nikodemus (ay. 3 dan 5), sama
dengan “kehidupan kekal” yang disebut dalam ay. 15 dan 16? Bagi banyak orang
“kehidupan kekal” merupakan gagasan yang langsung memberi isi pada paham
tentang “keselamatan.” Setiap orang mendambakan keselamatan (=kehidupan kekal).
Hidup kekal dapat dititi dengan hidup beragama dan menjalankan ajaran agama
dengan baik.
Kenam, “Kerajaan Allah” hanya dikenal di antara para pengikut Yesus
dan di kalangan para murid Yohanes Pembaptis. Bagi para pengikut Yesus,
keinginan yang terdalam tidak berhenti pada gagasan tentang “keselamatan”
sebagai “kehidupan kekal,” melainkan lebih jauh dan terarah pada “keselamatan”
sebagai “keikutsertaan dalam Kerajaan Allah” bersama dengan Dia yang
mengajarkan mengenai Kerajaan Allah tersebut. Dalam “Kerajaan Allah” orang
belajar mengenali Allah Pencipta sebagai “Bapa,” sebagai yang dekat, sebagai
yang menghendaki yang terbaik bagi seluruh ciptaan-Nya. Yang mengajarkan hal
ini adalah Putranya sendiri, Yesus Kristus.
Untuk dapat memasuki Kerajaan Allah perlu penyerahan diri dan
bimbingan Roh. Dengan kata lain, bacaan Injil dalam Perayaan Ekaristi pada hari
ini sebenarnya berbicara tentang keterbukaan pada kehidupan kekal sebagai jalan
masuk untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah.
Apa kaitannya dengan Allah Tritunggal Mahakudus?
Ketujuh, kesaksian iman yang
terhimpun dalam ayat 16-18 dapat membantu kaum beriman menyelami iman akan
Allah Tritunggal Maha Kudus. Dahulu, pada zaman Yesus dan zaman sebelumnya,
orang memandang dunia ini sebagai drama yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Di
dalam drama ini ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai “pengasal”
tindakan penyelamatan, Allah Putra sebagai “pelaksana” tindakan penyelamatan,
dan Allah Roh Kudus “melanjutkan” tindakan penyelamatan tersebut.
Kedelapan, ketiga pelaku
“tindakan penyelamatan” tersebut menjalankan peran yang berbeda-beda tetapi
dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya.
Pelaku dalam lakon disebut “prosoopon” (Bahasa Yunani) atau “persona” (Bahasa
Latin) yang diindonesiakan sebagai “pribadi.” Arti harfiah kata Yunani dan
Latin tersebut adalah “gambar wajah” atau “topeng yang dikenakan pelaku” dalam
sebuah drama sehingga para hadirin langsung menangkap peran mana yang sedang
dijalankan.
Kesembilan, cara berungkap dengan
bahasa lakon seperti ini pada zaman Yesus mudah menghimbau perhatian orang
banyak dan oleh karenanya dipakai untuk menjelaskan karya penyelamatan. Jalan
pemikirannya demikian: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan terlaksana
dalam diri Putra yang diutus ke dunia; dan keberlangsungannya dijaga oleh Roh
Kudus. Demikianlah, disadari iman akan Allah Tritunggal dalam hubungan dengan
karya penyelamatan. Di situ juga dijelaskan tentang inti keilahian.
Kesepuluh, kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam
sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga
pemeran karya penyelamatan Allah yang dapat dialami manusia dari Allah yang
satu.
Iman akan Allah Tritunggal masih
tetap relevan bagi kita. Dulu, orang-orang yang sezaman dengan Yesus dan para
murid-Nya berusaha semakin mengenali karya penyelamatan Allah di dalam berbagai
macam keadaan dan mencoba memahami peran Allah di dalamnya. Hal itu juga
berlaku bagi kita. Beriman bahwa ada karya penyelamatan dan pelakunya adalah
Allah Tritunggal Mahakudus tidak cukup hanya diungkapkan dalam doa “aku
percaya.” Iman kepercayaan seperti itu juga perlu kita wujudkan dalam upaya
ikut “masuk ke dalam Kerajaan Allah” dengan terlibat membangun sebuah dunia
atau masyarakat yang semakin “diselamat”-kan; yaitu sebuah masyarakat yang
terbebas dari ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, perkosaan hak-hak azasi,
kekerasan, diskriminasi, dan pengkotak-kotakan berdasarkan status sosial.
Teriring salam dan doa, Rm.
Madya, S.J.
28 May 2023
Pantekosta - Kekuatan Baru bagi Kemanusiaan Kita
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik,
salam sejahtera. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan
sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak
beristirahat setelah selama sepekan bekerja keras. Semoga Anda juga masih bisa
menyisihkan waktu sejenak untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang
telah dilimpahkannya selama sepekan.
Minggu ini, 28 Mei kita akan merayakan Pentakosta.
Bacaan-bacaan (Kis 2:1-11 dan Yoh 20:19-23) yang akan kita dengarkan dalam
Perayaan Ekaristi menjelaskan hubungan antara Kebangkitan Yesus, Kenaikan-Nya
ke surga, dan Pentakosta. Apakah maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, dalam Injil Yohanes (Yoh 20:19-23), kebangkitan
Yesus, kenaikan-Nya ke surga, dan Pentakosta dipadatkan menjadi satu di dalam
peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang
berkumpul. Yang dilihat oleh para murid dalam penampakan itu sama dengan Dia
yang telah wafat di kayu salib dan dimakamkan. Dalam hidup setelah
kebangkitan-Nya, Yesus berbagi Roh kehidupan dengan para murid. Roh itulah yang
menghidupkan semangat baru di antara mereka.
Kedua, pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes tadi ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan, Kenaikan ke surga, dan Pentakosta. Dari Kebangkitan hingga Kenaikan ke surga ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga mereka sungguh percaya bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman para murid dengan Yesus yang telah bangkit. Murid-murid kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Mat 28:18, telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan ke surga. Pada saat yang sama, para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja (Yoh 20:21). Dalam kata-kata Lukas, penugasan ini disebut sebagai “menjadi saksi-saksi-Nya” (Kis 1:8); atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa murid-Nya dan menerima mereka sepenuhnya ke dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19). Meskipun sudah memiliki kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas itu dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentakosta. Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat/kekuatan untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak (Kis 2:1-4).
Ketiga, di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, “hari ke-50” ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada “hari ke-50” ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, “hari ke-50” itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Dengan demikian, perayaan 7 minggu setelah panen gandum dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah (bertobatnya banyak orang menjadi pengikut Yesus).
Keempat, dalam bacaan pertama (Kis 2:1-11), yang berisi
kisah mengenai hari Pentakosta, diceritakan bahwa para murid mampu berbicara
dalam banyak Bahasa (sesuai dengan Bahasa para pendengarnya). Ada dua hal yang
ingin diungkapkan oleh Lukas dengan kisah ini.
- Pertama, Lukas ingin mengatakan bahwa apa yang pernah
dialami oleh dua orang murid yang berjalan ke Emaus, yakni “hati kita
berkobar-kobar” (Luk 24:32), sekarang hal itu dialami oleh semua murid secara
bersama-sama. Hati mereka tidak memudar, melainkan menyala-nyala.
- Kedua, Roh Kudus membuat apa yang dikatakan (diwartakan dan
dipersaksikan) oleh para murid dapat dimengerti oleh siapa saja, baik yang sama
agamanya, maupun yang beda agamanya. Dalam bahasa kita sekarang, mereka mampu
menerangkan iman kepercayaan mereka dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang
yang bukan dari kalangan sendiri. Caranya tidak hanya dengan perkataan,
melainkan juga dengan sikap hidup dan tindakan nyata.
Pentakosta masih terus terjadi sampai zaman ini. Pentakosta
menjadi kekuatan baru bagi kita untuk tetap memilih hidup beradab dan tidak
membiarkan masyarakat kita hanyut karena kekuatan-kekuatan yang memerosotkan
kemanusiaan. Hidup seperti ini merupakan sebuah pilihan sederhana, tetapi juga
merupakaan pilihan yang membuat kita sebagai Gereja tampil sebagai komunitas
orang-orang yang setia pada kemanusiaan dan sekaligus hormat pada keilahian.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
22 May 2023
Doa Yesus Kepada Bapa
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah mengalami kepenatan karena bekerja keras maupun mendengar berita-berita adanya dugaan mega korupsi yang dilakukan oleh salah seorang anggota Gereja Indonesia.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-7 tahun A. Injil (Yoh 17:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi, berbicara tentang doa Yesus kepada Bapa-Nya pada malam sebelum Ia berpisah dengan para murid-Nya. Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, para murid berada di tempat Yesus mengucapkan doa itu. Mereka ikut mendengar isi doa Yesus. Karenanya, mereka dapat juga merasakan keakraban yang ada di antara Yesus dengan Yang Mahakuasa, yang sudah beberapa lama diperkenalkan oleh Yesus sebagai Bapa. Yesus mengajarkan tentang Bapa-Nya bukan dengan serangkaian penjelasan, melainkan dengan doa dan mengikutsertakan para murid dalam pengalaman-Nya sendiri.
Kedua, ada kemiripan antara doa Yesus dalam Injil Yohanes ini dengan Doa Bapa kami yang terdapat dalam Injil Lukas dan Matius:
1) Yesus mengutarakan permohonan agar Bapa memuliakan diri-Nya supaya nanti Ia juga dapat memuliakan Bapa-Nya (ay 1-2). Permintaan itu mengingatkan kata-kata “Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah (harfiahnya: “dikuduskanlah”) nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu” (Luk 11:2 dan Mat 6:9-10a).
2) Yesus mempersembahkan semua yang dilakukan-Nya sebagai pemenuhan tugas yang diberikan Bapa sendiri kepada-Nya sejak dulu (ay. 4-5). Hal ini mengingatkan kita akan ungkapan “jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga” (Mat 6:10b).
3) Dari ay. 6-11 kita tahu bahwa Yesus membuat kita mengenal Bapa yang berfirman kepada kita semua lewat Yesus sendiri. Yang dibawakan oleh Yesus adalah firman Allah yang merupakan “rezeki hari demi hari yang membuat kita tetap hidup.” Kita hidup dari firman-Nya (Ul 4; Mat 4:4). Hal ini erat kaitannya dengan permohonan “berilah kami rezeki pada hari ini” (Luk 11:3; Mat 6:11).
4) Dalam ay. 15, yang tidak ikut dibacakan pada hari Minggu ini, Yesus berkata, “...supaya Engkau (Bapa) melindungi mereka (para murid) dari yang jahat.” Doa ini amat mirip dengan “Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat” (Mat 6:13; Luk 11:4a) yang mengakhiri doa Bapa Kami.
Ketiga, dengan catatan kedua di atas, kita dapat memahami arti kata “mempermuliakan – dipermuliakan” dalam ay. 1,4,5,dan 10. Yang dirujuk oleh penginjil Yohanes dengan kata itu adalah peristiwa salib dan kebangkitan Yesus sebagai pemenuhan pelaksanaan kehendak Allah untuk menebus dunia. Yesus “mempermuliakan” Bapa-Nya dengan menyelesaikan pekerjaan (untuk menyelamatkan dunia) yang diberikan oleh Allah Bapa kepada-Nya (ay. 4). Hal ini mesti dijalani oleh Yesus dengan diperlakukan dengan sangat buruk, dipersalahkan, dan bahkan dihukum mati. Yesus memohon kepada Allah Bapa agar Ia tidak ditinggalkan sendirian ketika Ia mengalami ini semua. Perhatian dan penyertaan Bapa di dalam penderitaan yang mesti dilalui sampai akhir itulah, yang diminta Yesus ketika Ia berdoa agar Bapa “memuliakan” Putra (ay. 5). Yesus “dipermuliakan” oleh Allah Bapa ketika Ia ditemani saat menderita dan mati di kayu salib, dan dibangkitkan dari kematian-Nya.
Keempat, dalam ay. 3 tertulis kata-kata Yesus: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Perkataan Yesus ini merupakan penjelasan terhadap kata “hidup kekal” yang terdapat dalam ay. 2.
Dalam Injil Markus, Matius, dan Lukas orang bertanya kepada Yesus bagaimana caranya mencapai hidup kekal (Mrk 10:17; Mat 19:16; Luk 18:18). Yesus menjawab bahwa orang akan mencapai hidup kekal bila ia meninggalkan apa yang dipunyainya dan mengamalkannya bagi orang lain, lalu mengikuti Dia (Mrk. 10:21; Mat, 19:21; Luk 18:22). Dalam hubungan dengan pertanyaan orang dalam ketiga Injil itulah, Yoh 17:3 menjelaskan bahwa hidup kekal diperoleh dari kemauan untuk mengenali satu-satunya Allah yang benar dan mengakui Yesus Kristus sebagai utusan-Nya. Jalan menuju hidup kekal adalah mengikuti Yesus dengan batin merdeka, sehingga mengalami kesatuan diri dengan Yang Ilahi tanpa lebur ke dalamnya.
Kelima, pengalaman sampai ke hidup kekal itu tercermin dalam ay. 10. Para murid yang didoakan oleh Yesus telah menemukan jalan sampai kepada Bapa melalui Yesus, sehingga mereka menjadi “milik” Bapa dan “milik” Yesus.
Semoga kita berani meneladan para murid (laki-laki dan perempuan) yang menerima kebangkitan Yesus (seperti dikisahkan dalam bacaan pertama – Kis 1:12-14) dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Dengan demikian, kita pun akan berani hidup dalam lingkungan yang kadang tidak bersahabat dengan kita dengan tetap menghayati nilai-nalai yang dulu diperjuangkan dan dihidupi oleh Yesus sampai akhir hidup-Nya. Dengan cara itu, kita akan mempermuliakan Allah dan mempermuliakan Yesus sendiri, serta mengalami hidup kekal.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
20 Mei 2023
8 May 2023
Yesus Jalan Kebenaran dan Hidup
Para Ibu dan Bapak serta Saudari
dan Saudara yang baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga,
sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati
akhir pekan untuk beristirahat setelah sepekan bekerja keras, sekaligus
mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan selama sepekan.
Besok kita merayakan Minggu
Paskah V tahun A. Injil (Yoh 14:1-12) yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi
berbicara tentang “rumah Bapa” serta Yesus sebagai “jalan, kebenaran, dan
hidup.” Apa makna kisah ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut.
Pertama, orang zaman itu memiliki
rasa ketakutan yang luar biasa bila pada malam hari berada di luar pintu
gerbang kota, karena akan menjadi mangsa penyamun atau binatang buas
(serigala). Dengan latar ini, Yesus memberi penghiburan kepada para murid-Nya.
Mereka diminta untuk tidak perlu gelisah (ay. 1a), karena mereka mendapatkan
tempat yang paling aman, yaitu rumah Allah Bapa sendiri (ay. 2a).
Kedua, dalam ay. 2 dikatakan
bahwa di sana ada banyak “tempat tinggal.” Maksudnya, siapa saja boleh dan bisa
menemukan ketenteraman dan perlindungan di dekat Yang Mahakuasa. Tidak lagi
akan ada yang bakal merasa ditinggalkan.
Ketiga, Yesus sendiri akan
menyiapkan tempat itu, dan bila sudah selesai, Ia akan kembali dan membawa
murid-murid-Nya ke tempat yang aman tadi. Dan mereka tidak akan berpisah lagi
dengan-Nya (ay. 2b-3). Para murid juga dikuatkan agar mantap hatinya. Itulah
arti ajakan untuk mempercayai Bapa dan mempercayai Yesus (ay.1).
Keempat, dalam Injil hari Minggu yang
lalu (Yoh 10:1-10) Yesus diumpamakan sebagai “gembala yang baik” sekaligus
sebagai “pintu.” Penggambaran ini ingin menekankan betapa besar perhatian Yesus
untuk para murid-Nya, supaya mereka memiliki hidup yang sejahtera. Dalam Injil
yang kita dengarkan hari ini, Yesus diperkenalkan sebagai “jalan” (Yoh 14:6);
artinya, arah yang perlu dilalui dan ditempuh agar sampai ke tujuan (yakni
Allah Bapa).
Kelima, ada tumpang tindih antara
“pintu” dan “jalan.” Kedua-duanya perlu dilalui agar sampai ke tujuan. “Pintu”
merupakan titik awal sebuah perjalanan, dan di luar pintu yang sudah dibuka ada
“jalan” yang perlu ditempuh. Pada jalan yang benar (yakni Yesus sendiri – Yoh
14:6) ada jaminan akan sampai ke tujuan, yakni “hidup berkelimpahan” (Yoh
10:10b) dan “Bapa” serta “rumah-Nya” [=hidup dalam perlindungan Allah] (Yoh
14:2 dan 6).
Keenam, kiasan "jalan",
"kebenaran" dan "hidup" (ay. 6) diterapkan pada diri Yesus,
yang telah berjanji untuk “menyiapkan tempat” (ay. 2) dan akan datang kembali
untuk membawa para murid ke tempat mereka dapat sungguh-sungguh berbagi
kehidupan dengan Yang Mahakuasa (ay. 3).
Ketujuh, ketiga kiasan itu
(catatan keenam) ditampilkan untuk menjawab Tomas yang mengeluh bahwa
murid-murid tidak tahu ke mana Yesus pergi (ay. 5). Para murid memang belum
melihat dengan jelas arah yang sedang dijalani Yesus. Bagaimana para murid bisa
terus mengikuti-Nya bila arah yang ditempuh Yesus tidak jelas bagi mereka?
Kedelapan, keinginan mencapai
hidup abadi dan bahagia memang menjadi dasar kehidupan setiap orang. Namun
demikian, sering jalan ke sana tidak pasti. Oleh karena itu, banyak macam usaha
dilakukan. “Agama” adalah upaya menjawab kebutuhan akan jalan yang pasti itu.
Dalam menjalani agama, orang yang percaya semakin mendekat kepada yang dituju.
Perlahan-lahan orang terbawa ke sana.
Kesembilan, seperti kebanyakan
murid lain dan para pengikut Yesus sepanjang zaman, Filipus juga berharap dapat
melihat dengan mata kepala sendiri tujuan yang mau dicapai tadi, yaitu Bapa
(ay. 8). Orang ingin mendapat pengalaman yang membuatnya mantap untuk percaya.
Inilah yang dimaksud dengan “Tuhan tunjukanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah
cukup bagi kami” (ay. 8). Namun kita lupa bahwa bila kita sudah melihat Allah,
“percaya” tidak diperlukan lagi.
Kesepuluh, “percaya” berarti
justru berani hidup dengan sisi-sisi yang tidak pasti bagi yang bersangkutan.
Menerima ketidakpastian dengan ikhlas, membuat orang menjadi “percaya.” Bila
mau percaya, hendaklah mulai dengan menjauhi kepercayaan yang dibuat sendiri,
seperti keinginan untuk melihat Tuhan dan menggapai-Nya! Untuk dapat percaya,
perlulah kita mulai dengan kehadiran Yesus dalam hidup kita (ay. 9-11).
Kesebelas, Yesus mengatakan bahwa
siapa yang percaya kepada-Nya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
dilakukan-Nya, bahkan yang lebih besar daripada itu (ay. 12). Yang dimaksudkan
dengan “melakukan pekerjaan-pekerjaan besar” adalah menghayati hidup pribadi
yang dapat mempersaksikan kepercayaan kepada Bapa yang hadir di dalam Yesus
itu.
Komunitas orang-orang yang percaya
kepada Allah dapat melakukan hal-hal yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan
sebelumnya, yakni membawa keilahian ke dunia ini. Keprihatinan utama mereka
bukan lagi untuk menggapai dan mencapai Yang Ilahi yang ada di “sana”,
melainkan membawa Yang Ilahi ke “sini”, ke dalam kehidupan kita sekarang.
Itulah yang dimaksud dengan “melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.”
Hal itu diwujudkan dengan
menempuh dua cara sekaligus seperti terungkap dalam bacaan pertama (Kis 6:1-7).
Cara pertama, melakukan komitmen sosial dengan melayani kebutuhan para anggota
jemaat dan anggota masyarakat yang hidupnya jauh dari sejahtera. Kedua,
memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk mewartakan dan menghadirkan
Sang Sabda. Untuk itu diperlukan pembagian tugas dan kerjasama agar kedua cara
tersebut secara serentak dapat dilaksanakan dengan baik. Semoga hal ini semakin
menjadi pola hidup kita, pola hidup Gereja.
Teriring salam dan doa dari
Telukbetung, Rm. Madya, S.J.