Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

1 March 2025

ARAHAN DALAM BERELASI DENGAN ORANG BANYAK

ARAHAN DALAM BERELASI DENGAN ORANG BANYAK

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-8 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 6:39-45) berisi perumpamaan yang memuat “arahan” bagi para murid Yesus dalam berelasi dengan orang banyak.

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut. [Ketika Anda membaca catatan-catatan ini, Anda perlu membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat yang diberi catatan]. 

Pertama, dalam komunitas mana saja—apalagi komunitas agama—biasanya ada orang atau tokoh yang memiliki kewibawaan dan menjadi panutan, tempat bertanya, serta pemimpin. Mereka ini bertugas membimbing dan menunjukkan jalan hidup yang melegakan, yang memberi kekuatan, dan membahagiakan. Inilah latar pepatah-pepatah yang teredapat dalam Injil yang kita renungkan kali ini. 

Kedua, serangkaian pepatah yang terdapat dalam Injil ini merupakan rekaman warisan batin orang-orang yang masih mengenal Yesus, yang disampaikan kepada para pengikut mereka. Waktu Injil ini ditulis, kelompok komunitas pengikut Yesus sudah meluas dan banyak yang tidak pernah bertemu dengan Yesus sendiri. Ajaran serta kebajikan Yesus dituruntemurunkan ke generasi-generasi berikutnya oleh mereka yang masih mengenal-Nya secara langsung. 

Ketiga, pepatah dalam ay. 39 merupakan ajakan agar orang berpikir dan mawas diri: Apakah “aku” betul-betul jeli melihat arah yang benar dan mewaspadai bahaya? Pepatah ini juga mengandung ajaran untuk tidak merasa tahu segala. Bahkan tersirat sindiran, jangan-jangan “aku” ini buta, tidak melihat dengan jelas. Maka, orang diundang untuk berupaya agar memiliki wawasan yang sehat terlebih dahulu sebelum mulai menuntun dan menasihati orang lain. 

Keempat, pepatah dalam ay. 39 terkait erat dengan ay. 40, yang mengatakan bahwa mereka yang merasa bertugas mengajarkan jalan yang benar kepada orang banyak mesti pernah belajar dari awal sampai akhir, sampai tuntas, sehingga memiliki kebajikan seperti gurunya. Ada ajakan untuk bekerja keras untuk dapat maju dan mendapatkan pengetahuan serta kemahiran yang bisa benar-benar memberi tuntunan bagi orang lain. 

Kelima, ay. 41 dan 42 mengajak para pembaca bersikap toleran dalam hidup di tengah masyarakat. Biasanya orang lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada kelemahan sendiri. Kedua pepatah ini mengajak orang berkaca: Apakah penglihatanku terhalangi oleh “balok” pikiran serta keyakinanku sendiri, sehingga membuat aku tidak mampu melihat yang baik dalam diri orang lain? 

Keenam, dua pepatah dalam ay. 43 dan ay. 44 memberi hiburan dan kekuatan. Kedua pepatah tersebut mengundang orang agar pandai-pandai memeriksa diri apa betul-betul mampu menghasilkan buah yang baik, menghasilkan hal-hal yang dapat dinikmati orang lain dan membantu hidup orang lain menjadi lebih bermartabat. Bila orang memang menghidupi kebaikan, maka perbuatannya akan membuahkan hal yang baik. 

Ketujuh, ungkapan dalam ay. 45 menjelaskan semua yang telah disampaikan di atas. Orang baik bukannya orang yang berusaha mati-matian berbuat kebaikan. Perbuatan baik dimungkinkan oleh adanya kekayaan batin yang melimpah keluar; bukan kebaikan yang disodor-sodorkan apalagi dipaksa-paksakan. 

Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk menyadari kembali bahwa “arahan” yang diberikan kepada para murid Yesus dalam berelasi dengan orang banyak, juga ditujukan kepada kita sebagai murid-murid-Nya zaman ini. Semoga kita dimampukan untuk memahami dan menghidupinya, agar kehadiran kita di tengah masyarakat dapat menyumbangkan pembaruan demi kemajuan hidup bersama.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

22 February 2025

MENGAPA PERLU MENGASIHI MUSUH?

MENGAPA PERLU MENGASIHI MUSUH?

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Salamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-7 tahun C dalam kalender liturgi. Inti pesan Injil (Luk 6:27-38) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok adalah “mengasihi musuh.” 

Bagaimana pesan Injil ini dapat kita pahami dan kita hidupi pada zaman ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini. 

Pertama, pembicaraan dalam ketiga ayat pertama Injil hari ini (ay. 27-30), yakni mengasihi dan berbuat baik kepada musuh (ay. 27), memberkati yang mengutuk dan mendoakan yang menjahati kita (ay. 28), memberikan pipi lain agar juga ditampar, dan memberikan juga baju kepada yang meminta mantol (ay. 29), dan tidak mengharapkan kembali apa yang diambil oleh orang lain (ay. 30), ditampilkan sebagai kasus-kasus contoh agar orang berpikir mengenai apa itu mengasihi. Dengan cara ini orang akan memperoleh ketajaman batin dan hati.

Kedua, berbagai perilaku yang disebutkan dalam ayat 27-30 tersebut (catatan pertama) dimaksudkan oleh Yesus dan penginjil untuk memperlihatkan bahwa pola tingkah laku yang ditentukan oleh ukuran-ukuran “kawan-lawan”, “balas-membalas”, “memberi dengan perhitungan mendapat kembali” bukanlah pilihan satu-satunya dalam menjalani hidup kita.

Ketiga, dalam ayat 31-35a dijelaskan bahwa sikap mengasihi (ay. 32), menginginkan kebaikan orang lain tanpa terpengaruh oleh kebusukannya (ay.33), dan kesediaan memberi lebih sekalipun sulit dan menyakitkan (ay. 35) disodorkan sebagai alternatif bagi pola berpikir dan bertindak yang biasanya dilakukan oleh orang yang tidak merdeka, pola berpikir dan bertindak orang berdosa. Dalam hubungan dengan inilah petunjuk “yang kauinginkan agar terjadi padamu, perbuatlah itu kepada orang lain” (ay. 31) bisa menjadi dasar tingkah laku yang keluar dari akal sehat.

Keempat, alasan terdalam untuk memilih sikap mengasihi dan seterusnya itu terungkap dalam ayat 35b-36, yakni agar orang makin dapat memahami apa itu “menjadi anak-anak yang Allah yang Maha Tinggi” (ay. 35b); dan lebih lagi, siapa sebenarnya Allah yang dipercaya semua orang, yaitu Allah yang “baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang berbuat jahat” (ay. 35b) dan Allah yang “murah hati” (ay. 36). Dengan kata lain, para pengikut Yesus diminta untuk memiliki sikap dan bertindak seperti Allah yang diperkenalkan oleh Yesus sendiri.

Kelima, lebih lanjut, sikap hidup yang bisa menghadirkan Bapa yang murah hati itu dirumuskan oleh penginjil dalam bentuk petuah dalam ayat 37-38: jangan menghakimi, jangan menghukum, ampuni, berilah lebih, dan ukuran yang kamu pakai (untuk orang lain) akan diukurkan kepadamu juga.

Keenam, orang yang menjalankan kekerasan seringkali bukan orang yang merdeka. Mereka melakukannya untuk mempertahankan kekuasaan, kedudukan, perasaan lebih atas, ideologi, atau juga kebalikannya, perasaan ditindas. Orang-orang yang menjalankan kekerasan umumnya terbelit kekerasan yang melembaga. Inilah kenyataan dosa yang mengurung manusia.

Ketujuh, sebaliknya orang dapat memilih untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Dengan demikian, ia belajar untuk tidak melanggengkan kekerasan tersebut atau membiarkan diri terlilit oleh kekerasan. 

Barangkali pesan Yesus untuk “mengasihi dan berbuat baik kepada musuh” dalam Injil yang kita renungkan ini dapat dibahasakan dengan istilah “solidaritas dalam menghadapi kesusahan.” Kita diundang untuk berbuat baik kepada orang lain, juga kalau mereka itu memusuhi kita, ketika mereka sedang mengalami kesulitan dalam hidup mereka. Tindakan seperti ini akan membuahkan rekonsiliasi dan menghilangkan permusuhan. 

Lebih daripada itu, dengan berbuat seperti itu kita akan semakin mengenal Allah yang kita imani (=Allah yang berbuat baik kepada semua orang—entah yang baik maupun yang jahat) dan belajar menjadi “anak-anak Allah.” [Kita sendiri juga tidak lepas dari kesalahan dan dosa; demikian pula “musuh” juga tidak seutuhnya jahat].

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

15 February 2025

MENJUMPAI TUHAN DI TEMPAT YANG DATAR

MENJUMPAI TUHAN DI TANAH YANG DATAR


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati kasih Tuhan yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan dan menikmati akhir pekan untuk beristirahat. 

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-6 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 6: 6:17;20-26) berisi Sabda Bahagia beserta beberapa peringatan yang menyertainya.

Apa wartanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, Sabda Bahagia juga terdapat dalam Injil Matius (Mat 5:1-12), yang dibacakan pada hari Minggu Biasa IV tahun A – dua tahun yang lalu. Ada beberapa kekhasan dalam teks Injil Lukas, yang tidak terdapat dalam Injil Matius: (1) “tempat yang datar” (ay. 17); (2) “kamu yang miskin” (ay. 20); dan (3) beberapa peringatan (“celakalah” – ay. 24-26).

Kedua, “tempat yang datar” (ay. 17). Sebutan “tempat yang datar” ini dicantumkan oleh penginjil Lukas untuk mengingatkan orang pada bagian Injil-nya (Luk 3:4-6) yang mengutip Yes 40:3-5 tentang “tanah tinggi rendah yang akan diratakan dan jalan berkelok-kelok yang akan diluruskan”, sehingga dari kejauhan orang dapat melihat Tuhan datang. “Tempat yang datar” adalah tempat Tuhan dapat ditemui dan dipandangi oleh orang. 

Ketiga, ke “tempat datar” itulah orang banyak berdatangan dari dari “Yudea dan Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon” untuk menemui Yesus (ay. 17). “Tirus dan Sidon” adalah daerah yang tidak termasuk “tanah suci.” Hal ini menyatakan bahwa di “tempat yang datar” itu Tuhan dapat ditemui oleh semua orang, termasuk mereka yang bukan dari bangsa Yahudi.

Keempat, “orang miskin” dalam Injil Lukas adalah orang yang kekurangan secara material, orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup, paling-paling pas-pasan saja; dan karenanya, tidak jarang mereka juga mengalami kemiskinan rohani.

Kelima, seruan Yes 40:3-5 yang dikutip dalam Luk 3:4-6 menjelaskan pewartaan “tobat untuk pengampunan dosa” oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:3). Bertobat berarti upaya menanggalkan pikiran-pikiran yang mengekang batin (= “tanah tinggi rendah dan jalan berkelok-kelok”) dan membiarkan diri dipimpin menuju Tuhan sendiri di jalan batin yang lurus. 

Keenam, dalam Luk 6:20-26 ditampilkan gambaran mengenai kenyataan hidup dalam umat yang baru (yang sudah bertobat) itu (catatan kelima) dengan memakai empat Sabda Bahagia (ay. 20-23) dan empat peringatan untuk mewaspadai diri (ay. 24-26).

Ketujuh, Sabda Bahagia adalah ungkapan yang bersifat deskriptif, artinya menggambarkan sesuatu “sebagaimana adanya”. Dengan kata lain, Sabda Bahagia menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan orang-orang yang mengikuti Yesus. Sabda Bahagia bukan mengajarkan hal-hal yang “mesti” dilakukan.

Kedelapan, kepada yang miskin (lihat catatan keempat) dikatakan bahwa mereka tidak dilupakan oleh Kerajaan Allah; mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah (“Berbahagialah kamu yang miskin…” – ay. 20). Sedangkan kepada orang kaya, orang yang berkelebihan, yang tidak merasa kekurangan, dikatakan bahwa kehidupan mereka itu tidak akan ada artinya (= “celakalah....” – ay. 24) bila mereka sudah puas dan merasa aman dengan kelimpahan mereka. Dengan kata lain, Yesus tidak menjajakan kemiskinan sebagai keutamaan dan tidak mencerca kekayaan sebagai sumber laknat.

Kesembilan, ayat 21 perlu perlu dibaca bersama dengan ayat 25. Melalui kedua ayat ini Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk melihat bahwa kehidupan itu tidak hanya mempunyai satu sisi: lapar dan menangis terus, atau kenyang dan tertawa terus, melainkan silih berganti. Situasi kehidupan yang silih berganti inilah “tanah darat” di mana Allah menemui kita dan dapat kita temui.

Kesepuluh, ay. 22-23 bila dibaca bersama dengan ay. 26 akan menyadarkan orang untuk tidak perlu mudah berbangga bila mengalami kesulitan akibat kesetiaan terhadap imannya, atau merasa benar dalam hidup beragama bila mendapatkan pujian. 

Warta Sabda Bahagia dan “pengingat”-nya dalam Injil yang kita renungkan ini, membuat orang bisa berharap akan dapat hidup merdeka sekalipun masih terbelit kemiskinan atau terjerat ikatan-ikatan kekayaan. Kemiskinan yang membuat orang makin melarat atau kekayaan yang membuat orang lupa daratan menjadi gambaran martabat manusia yang merosot. Tuhan yang Maha Rahim tidak tahan melihat manusia ciptaan-Nya merosot. Maka Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus, utusan-Nya, dimaksudkan untuk membangun wahana di mana manusia bisa menata kembali martabatnya menjadi utuh, sehingga tidak lusuh karena kemelaratan atau busuk tertimbun kekayaan. 

Hal ini bisa terjadi bila, seperti dikatakan dalam bacaan I (Yer 17:5-8), orang tidak mengandalkan pada kekuatannya sendiri melainkan menyandarkan diri pada kerahiman serta kemurahan hati Allah Allah, serta mau belajar dari para anggota Gereja Perdana yang mau saling berbagi sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan (Kis 2:42-47).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

8 February 2025

MENJALA MANUSIA

MENJALA MANUSIA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita alami selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-V tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 5:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang penangkapan ikan yang luar biasa banyaknya dan panggilan Yesus kepada Simon serta para murid-Nya untuk menjala manusia.

Apa arti kisah ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, pengalaman merasakan kehadiran Yang Ilahi selalu mempesona tetapi sekaligus dirasa menggentarkan. Hal itu dirasakan baik oleh Yesaya dalam bacaan pertama (Yes 6:1-2a.3-8), maupun Simon dalam bacaan Injil. Yesaya terpukau oleh para Serafim yang khidmat memuji kebesaran Tuhan yang Maha Kudus (ay. Yes 6:1-4). Simon kagum menyaksikan keajaiban yang terjadi serta-merta kata-kata Yesus diturutinya (Luk 5:9-10a).

Kedua, saat itu juga Yesaya dan Simon sama-sama mengalami daya sabda ilahi dan merasa tidak pantas. Yesaya merasa segera akan luluh binasa karena mendapati diri “kotor” (Yes 6:5). Simon merasa diri pendosa dan mohon agar Yesus – yang disapanya sebagai Tuhan – menjauhinya (Luk 5:8b).

Ketiga, namun pada saat itu juga mereka dikuatkan. Bibir Yesaya dibersihkan. Yang kotor di-“bakar” habis, kesalahannya dihapus (Yes 6:6-7). Kepada Simon berkatalah Yesus, “Jangan takut!” (Luk 5:10b). Sapaan ini menghibur dan memberi kekuatan. Mereka boleh merasa lega di hadapan Yang Ilahi tanpa dirundung rasa gentar.

Keempat, akibat dari tindakan Tuhan itu membuat baik Yesaya maupun Simon mampu berbuat sesuatu. Yesaya bersedia diutus untuk menghadirkan Tuhan (Yes 6:8b). Simon meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus sepenuhnya (Luk 5:11).

Kelima, secara singkat ada tiga tahap pokok dalam mengalami kehadiran Ilahi. Pertama, orang mendapati diri dipenuhi kehadiran itu dan merasa kagum. Kedua, orang akan langsung merasa tidak pantas. Ketiga, orang tertolong sehingga dapat menerima kehadiran itu dengan ikhlas, tanpa takut-takut, dan terdorong berbuat sesuatu yang cocok.

Kenam, ungkapan “engkau akan menjala manusia” (ay. 10b) memiliki arti “engkau akan bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan.” Kata-kata Yesus itu berisi suruhan kepada Simon agar merenggut umat manusia dari kuasa maut. Penugasan ini berarti pula ajakan ikut serta menjalankan karya Sang Juru Selamat sendiri.

Ketujuh, ada beberapa hal yang dapat dicatat bersangkutan dengan panggilan ini dalam Injil-Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes):

(1) Dalam Injil Markus dan Matius, panggilan Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes (Mrk 1:16-20; Mat 4:18-22) dikisahkan setelah Yesus mengumumkan kedatangan Kerajaan Allah (Mrk 1:15; Mat 4:17; Matius memakai istilah Kerajaan Surga bagi Kerajaan Allah). Dengan cara seperti ini, Markus dan Matius hendak menunjukkan bahwa murid-murid dipanggil agar ikut mewartakan Kerajaan Allah kepada orang banyak.

(2) Dalam Injil Lukas, panggilan para murid diceritakan terjadi baru setelah Yesus mengajar orang banyak, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit (Luk 4:14-44). Lukas ingin menunjukkan bahwa murid-murid pertama itu sebetulnya sudah mendengar tentang Yesus sebelum terpanggil mengikuti-Nya secara penuh. Kemudian Lukas menggarisbawahi arti “menjala manusia” yakni, agar manusia menemukan sumber kehidupan yaitu Tuhan sendiri. 

(3) Lukas menyoroti tokoh Simon Petrus secara khusus dengan memakai kisah penangkapan ikan secara menakjubkan (Luk 5:4-7), yang tidak ada dalam Injil Markus dan Matius, tetapi muncul dalam bagian belakang Injil Yohanes (Yoh 21:4-14).

(4) Dalam Injil Yohanes kisah penangkapan ikan yang berlimpah-limpah itu terjadi setelah kebangkitan-Nya (Yoh 21:1-6), dan dikaitkan langsung dengan penugasan Simon Petrus untuk memelihara domba-domba Yesus serta mengusahakan tempat hidup bagi mereka (Yoh 21:15-17). Simon tidak diangkat menjadi gembala domba-domba Yesus; Yesus sendirilah gembala mereka dari awal sampai akhir!

Kedelapan, yang ditugasi untuk “menjala manusia” (=merenggut umat manusia dari “maut”) bukan orang perorangan melainkan kelompok orang yang mempercayai Yesus dan bersedia mengikuti-Nya. Tugas ini diberikan oleh Yesus kepada kelompok murid-murid yang pertama-tama dipanggil, dan kemudian komunitas kaum beriman sampai zaman kita.

Kesembilan, realitas dan wujud “maut” itu daftarnya panjang: kemelaratan dan pemiskinan, kebodohan dan pembodohan, ketakadilan, penindasan, perpecahan, kehancuran dan penghancuran lingkungan hidup, korupsi berjamaah, penghacuran sistem demokrasi demi melindungi kepentingan pribadi dan kelompoknya, dan banyak lagi.

Kesepuluh, berkaitan dengan catatan kesembilan, “menjala manusia” bukan hanya dilakukan dengan membaptis orang secara ritual, melainkan “mengubah wajah kemanusiaan dari yang dikungkung kuasa-kuasa jahat menjadi yang merdeka untuk mengenal Yang Baik dan mengikuti Dia.” 

Kesebelas, ada berbagai macam cara untuk “merenggut umat manusia dari kuasa maut.” Antara lain, mengajari anak-anak jalanan untuk dapat membaca dan berhitung, merawat anak-anak yang terlantar dan ditelantarkan, mengajari anak-anak (kita) menjadi pribadi yang santun dan beradab, pelbagai inisiatif di beberapa paroki dalam kepedulian sosial yang terarah kepada dan yang melibatkan pelbagai lapisan orang, mengelola Credit Union secara bertanggungjawab, menggaji karyawan dengan pantas, dsb.

Merenungkan Injil ini menyadarkan kita bahwa pengalaman batin berjumpa dengan Tuhan dapat betul-betul menggerakkan orang untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan. Orang tidak berhenti pada rasa terpukau atau gentar yang pasif melulu, melainkan juga bersedia berbuat sesuatu untuk “merenggut orang yang dikuasai oleh maut” dengan cara yang sesuai dengan kemampuan kita. Dengan cara itu, orang-orang yang kita layani akan menjadi pribadi yang merasa tidak dilupakan Tuhan. Bila hal ini tidak kita lakukan sehingga keselamatan tidak dapat dialami secara nyata, maka seperti dikatakan oleh Paulus dalam bacaan kedua, kita ini “sia-sia saja menjadi percaya” (1Kor 15: 2).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

1 February 2025

MENGENALI YESUS SEPERTI DILAKUKAN OLEH MARIA

MENGENALI YESUS SEPERTI DILAKUKAN OLEH MARIA 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua anugerah Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama satu pekan.

Besok kita akan merayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Bacaan Injil (Luk 2:22-40) berkisah tentang Yesus yang masih bayi dibawa kedua orang tuanya ke Yerusalem untuk dipersembahkan di tempat ibadat menurut hukum Musa. Pada kesempatan itu datanglah Simeon yang dikenal sebagai orang saleh, dan seorang nabi perempuan bernama Hanna. Mereka berdua menyadari bahwa bayi yang kini dipersembahkan di tempat ibadat ini adalah Dia yang bakal menghibur umat Tuhan, yang menghidupkan harapan bagi umat-Nya.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, kanak-kanak Yesus dibawa ke tempat ibadat di Yerusalem untuk disucikan dan dipersembahkan kepada Tuhan menurut “hukum Musa” (ay. 22) yang juga disebut sebagai “hukum Tuhan” (ay. 23, 24 dan 39) atau “hukum Taurat” (ay. 27). Dengan cara bercerita seperti ini, penginjil Lukas ingin mengatakan bahwa Yesus datang dari keluarga kaum saleh, yang mentaati kepercayaan yang turun temurun diwarisi dari nenek moyang mereka.

Kedua, praktik seperti di atas (catatan pertama) dilatari oleh tiga macam ajaran kepercayaan leluhur, yakni: 

(1) Pada akhir hari kedelapan setelah lahir, seorang bayi laki-laki wajib disunat dan diberi nama (Im 12:3). Hal ini terungkap dalam Luk 2:21; 

(2) Seorang ibu yang baru bersalin dan melahirkan anak laki-laki wajib tinggal di rumah selama delapan hari dan tidak boleh ikut dalam upacara apa pun. Setelah lewat tenggang waktu ini, sang ibu perlu menjalani masa “penyucian” selama tiga puluh tiga hari (Im 12:1 dan 4); dan 

(3) Bila anak yang lahir itu anak pertama, maka wajib dipersembahkan kepada Tuhan di tempat ibadat (Kel 13:12), dan dapat ditebus kembali oleh orang tuanya dengan “sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” (Im 12:8) seperti disebut dalam Luk 2:24. 

Ketiga, kisah dalam Injil yang sedang kita renungkan ini menyatukan pokok ke-2 dan ke-3 (catatan kedua) di atas. Dengan cara ini, kesalehan ibu dan anak dipaparkan secara bersamaan.

Keempat, kisah ini juga menampilkan dua orang tokoh saleh, yaitu Simeon dan Hana. Simeon hidup dalam kepercayaan orang Yahudi yang menantikan penghiburan bagi umat (ay. 25) dan Hana menantikan ditebusnya Yerusalem dari keadaan terpuruk (ay. 38).

Kelima, untuk memahami kedua tokoh ini perlu kita ingat bahwa dengan direbutnya kota Yerusalem oleh Nebukadnezar raja Babilonia pada tahun 587 sebelum Masehi, kebanyakan umat Israel hidup dalam pembuangan. Mereka tidak lagi merdeka, tidak lagi memiliki raja dan tempat ibadat. Mereka menantikan penghiburan dari Tuhan.

Keenam, setelah mereka kembali dari pembuangan dan kembali ke tanah leluhur mereka, mereka boleh membangun kembali negeri dan rumah ibadat mereka. Namun kenyataan tidak seperti yang diidam-idamkan. Malahan ada percekcokan di antara mereka mengenai siapa yang paling berhak membangun kembali kehidupan mereka dan seperti apa bentuknya. Semua ini terungkap dalam Yes 56-66 dan kitab nabi-nabi setelah pembuangan.

Ketujuh, di tengah-tengah kekacauan ini (catatan keenam) muncullah harapan akan datangnya seorang yang resmi ditugasi (kiasannya “diurapi”) membangun kembali negeri mereka. Tokoh ini disebut Mesias, artinya “yang diurapi”. Tokoh seperti ini akan menjadi penghiburan bagi umat. Dia inilah yang dinanti-nantikan oleh Simeon, yang  mewakili orang-orang Israel yang mengharapkan datangnya sang Mesias.

Kedelapan, Kota Yerusalem tadinya merupakan kota suci bagi umat Tuhan dan dilindungi oleh-Nya. Tetapi kenyataan bahwa ditaklukkan oleh Nebukadnezar menunjukkan bahwa kota ini tidak lagi dilindungi Tuhan karena para penduduknya tidak lagi taat kepada Tuhan dan menyalahi perintah-perintah-Nya. Orang-orang saleh setelah pembuangan hingga zaman Yesus menantikan penebusan kota itu. Dalam kisah Injil yang kita renungkan ini tokoh Hana mewakili orang-orang saleh seperti itu.

Kesembilan, Simeon dan Hana adalah dua tokoh dari dunia Perjanjian Lama yang hidup dalam pengharapan akan perbaikan. Harapan mereka mulai terjawab dalam ujud datangnya seorang kanak-kanak Yesus yang diantar orang tuanya ke tempat ibadat (ay. 29-32, dan ay. 38).

Kesepuluh, disebutkan dalam ayat 33 bahwa orang tua Yesus heran mendengar kidung Simeon yang terdapat dalam ay. 29-32. Mereka kiranya belum begitu menyadari bahwa Yesus ini adalah yang dinanti-nantikan umat Israel. Dan inilah saatnya mereka – dan tentunya para pembaca Injil Lukas, kita semua – mulai menyadari siapa Yesus itu. 

Kesebelas, bagaimana hidup dalam kesadaran ini? Nubuat Simeon yang diutarakan kepada Maria dalam ayat 34-35 dapat menjadi pegangan. Simeon menegaskan dalam nubuatnya bahwa anak yang dibawa orang tuanya ini ditentukan untuk “menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang di Israel” (ay. 34a). Artinya, kehadiran Yesus akan membuat orang makin merasa terpuruk (“menjatuhkan”) bila mereka mengharapkan-Nya sebagai Mesias politik, tetapi bakal betul-betul menghibur (“membangkitkan”) bila Ia diterima sebagai yang membawakan kehadiran Allah yang sesungguhnya. 

Keduabelas, Simeon juga mengatakan bahwa anak itu akan “menimbulkan “perbantahan (ay. 34b) agar “menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (ay. 35). Artinya, perbantahan tentang Yesus sebagai “mesias politik” atau “yang menghadirkan Allah” akan membuat pemahaman orang tentang Mesias semakin dimurnikan. 

Ketigabelas, Simeon menambahkan nubuat bagi Maria, yakni bahwa kelak “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (ay. 35b). Dengan cara ini, penginjil Lukas hendak mengatakan bahwa Maria akan menyadari apa yang terjadi pada Yesus juga dengan kepedihan besar, bagaikan hati yang ditembus pedang. Dengan ini penginjil Lukas juga hendak menyarankan kepada para pembacanya agar bersedia mengikuti cara Maria memahami Yesus tanpa mengesampingkan kesukaran-kesukaran yang dialami.  

Keempat belas, Hana mewakili orang-orang yang mengharapkan kota mereka – Yerusalem – ditebus menjadi kota suci kembali (“dibebaskan”). “Pembebasan” (penebusan) Yerusalem bukan dalam arti terbangunnya kembali kota Yerusalem seperti sebelum direbut dan diperintah kekuasaan asing. Penebusan Yerusalem akan terjadi ketika kota itu menerima kedatangan Yesus sebagai pribadi yang menghadirkan Allah.

Salah satu buah rohani yang dapat kita petik dengan merenungkan Injil hari ini adalah undangan untuk bersedia mengikuti cara Maria memahami Yesus tanpa mengesampingkan kesukaran-kesukaran yang ada. Kita diajak melepaskan gagasan-gagasan sendiri mengenai Yesus dan membiarkan-Nya menunjukkan Diri setapak demi setapak. Dengan cara itulah kita akan menyadari siapa Yesus itu sesungguhnya. Kita kerap tidak menyadari bahwa Yesus sesungguhnya ada di dekat kita karena kita memandangi-Nya dengan pikiran-pikiran kita sendiri. 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

27 January 2025

MENGALAMI KEHADIRAN ALLAH DALAM DIRI YESUS

MENGALAMI KEHADIRAN ALLAH DALAM DIRI YESUS

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ketiga tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 1:1-4; 4:14-2) merupakan gabungan dari pengantar Injil Lukas (Luk 1:1-4) dengan peristiwa Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret (Luk 4:14-21).

Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, masa pembuangan di Babylon (586-538 Seb.M.) membuat umat Israel menyadari bahwa tidak mungkin lagi melakukan ibadat kurban karena Bait Allah—yang terletak di Yerusalem dan merupakan tempat ibadat kurban dipersembahkan—sudah  dihancurkan dan dijarah. Selama masa itu lambat laun berkembanglah ibadat sabda. Unsur utamanya adalah pembacaan Taurat beserta penjelasannya.

Kedua, Taurat terdiri dari lima Kitab pertama dalam Perjanjian Lama; yakni Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan. Kitab-kitab ini mengandung “hukum yang diberikan oleh Allah kepada nabi Musa.” Taurat (dari Torah, bahasa Ibrani), artinya petunjuk atau ajaran yang mengatur seluruh kehidupan bangsa Israel: keluarga, ekonomi, hukum, dan peribadatan.

Ketiga, bagi orang Yahudi Taurat bukanlah sekumpulan hukum dan aturan semata-mata, melainkan ajaran kehidupan. Memang ada kelompok-kelompok yang cenderung menafsirkannya secara ketat sebagai aturan-aturan belaka. Tafsiran seperti itu membuat Taurat menjadi layu dan tidak membuahkan kehidupan batin.

Keempat, dalam Perjanjian Baru, kaum Farisi digambarkan sebagai satu kelompok (yang menafsirkan Taurat secara ketat sebagai kumpulan aturan belaka) seperti itu. Acap kali mereka berhadapan dengan Yesus dan murid-murid-Nya yang mau menghayati Taurat sebagai ajaran kehidupan.

Kelima, ketika bangsa Israel dipulangkan dari pembuangan, dan Bait Allah dibangun kembali serta ibadat kurban dapat dilakukan lagi, ibadat sabda tetap diteruskan dan bahkan menjadi ibadat yang makin penting dalam masyarakat Yahudi. Petikan-petikan dari Taurat dibacakan dan dijelaskan di dalam ibadat.

Keenam, Ibadat seperti ini kemudian dilakukan tiap hari Sabat di sinagoga atau rumah ibadat di mana saja. Setelah bacaan dan penjelasan Taurat menyusul uraian berdasarkan tulisan-tulisan lain, seperti halnya Kitab para Nabi, yang lambat laun juga diterima sebagai bacaan keramat.

Ketujuh, kisah dalam Luk 4:14-21 (yang kita renungkan ini) mencerminkan ibadat Sabat seperti dijelaskan di atas. Lukas menceritakan bagian ibadat sehabis petikan dari Taurat dibacakan dan dijelaskan. Dalam kesempatan itu salah seorang dari umat, yakni Yesus, maju untuk membacakan Kitab Nabi Yesaya (Yes 61:1-2).

Kedelapan, setelah selesai membaca dan ketika perhatian orang-orang terpaku (ay. 20b), mulailah Yesus memberikan pengajaran (ay. 21a). Ia berkata: “Pada hari ini, sewaktu kalian dengarkan, ayat-ayat Kitab Suci ini tergenapi!” (ay. 21b). Dengan perkataan-Nya ini, Yesus memperkenalkan diri sebagai Mesias (yang terurapi – ay. 18a) yang dinubuatkan dalam Kitab Nabi Yesaya, yang baru saja selesai Ia bacakan.

Kesembilan, tugas Mesias adalah “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (ay. 18b). Menurut pandangan Lukas, “orang-orang miskin” adalah mereka yang menderita kekurangan dalam hidup ini, terutama kekurangan material yang juga mengakibatkan kemelaratan batin. Dan seringkali mereka tidak menyadarinya.

Kesepuluh, “menyampaikan kabar baik” (ay. 18b) [catatan ketujuh] diwujudkan dalam tiga tindakan: (1) membebaskan para “tawanan” (ay. 18c) sehingga menjadi orang bebas, artinya membuat orang dapat kembali kepada Tuhan; (2) memberikan “penglihatan kepada orang buta” (ay. 18d), artinya, dengan kembali kepada Tuhan,  mereka dapat memandangi kehadiran-Nya; dan (3) “membebaskan orang-orang yang tertindas” (ay. 18e), artinya, membuat hati dan pikiran orang menjadi lega.

Kesebelas, Yesus adalah Mesias sebagai pembawa berita gembira bahwa “tahun rahmat Tuhan sudah datang” (ay. 19). Dalam “tahun rahmat Tuhan” inilah Yesus hidup di tengah-tengah orang banyak, memberitakan Kerajaan Allah, menghidupkan harapan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir setan, dan memilih murid-murid agar makin banyak orang dapat dilayani.

Kedua belas, kehadiran Yesus di antara orang-orang sezaman-Nya membuat orang melihat bahwa Tuhan bersedia berada di tengah-tengah manusia. Inilah kabar gembira yang disampaikan kepada orang banyak. Hal ini dimungkinkan karena Yesus telah berhasil mengalahkan pengaruh yang jahat (Luk 4:1-12). Kehadiran Yesus adalah kehadiran orang yang direstui Roh Tuhan sendiri (Luk 4:14), sehingga dapat “mengangkat” dan memperkaya hidup setiap orang yang berjumpa dengan-Nya.

Ketiga belas, dari bagian pengantar (Luk 1:1-4) nampak jelas bahwa Lukas menulis injilnya bagi orang yang sudah pernah mendengar mengenai Yesus dan berminat mengenal-Nya lebih jauh walaupun belum amat yakin akan keistimewaan tokoh ini. Orang tersebut adalah “Teofilus”, artinya “yang penuh minat akan hal-hal yang Ilahi”; maksudnya, orang yang ingin mengenali kehadiran Tuhan. “Teofilus” itu adalah kita-kita ini juga.

Merenungkan Injil hari ini membantu kita untuk menyadari kembali bahwa mengikuti Yesus berarti ikut serta di dalam kehidupan-Nya. Melalui perjumpaan dengan Yesus dan mengikuti-Nya, kita dapat mengalami kehadiran Allah sendiri. Dengan mengikuti Yesus kita juga memperoleh karunia Roh, yang beragam wujudnya seperti diungkapkan dalam bacaan kedua (1Kor 12:12-30); namun semuanya dimaksudkan untuk saling membantu dan melengkapi demi diwujudkannya kesejahteraan bersama.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya