25 May 2025
BERJALAN DENGAN PANDUAN FIRMANNYA
BERJALAN DENGAN PANDUAN FIRMANNYA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
beristirahat sejanak serta merasakan kembali semua rahmat Allah yang telah kita
terima selama sepekan.
Besok Minggu kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-6 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 14:23-29) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang akhir dari pesan-pesan Yesus kepada para murid pada penutupan perjamuan malam terakhir.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa cataran berikut [sambil
menyimak ayat-ayat dalam Alkitab yang dikomentari].
Pertama, kata-kata Yesus yang mengawali petikan Injil ini (ay. 23) menjawab pertanyaan seorang murid yang hadir dalam perjamuan terakhir, yaitu Yudas yang lain (bukan Yudas Iskariot yang baru saja meninggalkan kelompok itu). Ia bertanya mengapa Yesus akan menyatakan diri kepada mereka, yakni murid-murid itu, dan bukan kepada “dunia” (ayat 22). Maksudnya, mengapa ada perbedaan antara murid-murid dan “dunia”.
Kedua, dalam Injil Yohanes kata “dunia” menunjuk pada “tempat” kekuatan-kekuatan yang mau melawan Yang Ilahi dan tidak mau menerima kehadiran Yesus sebagai utusan dari Yang Ilahi (Allah). “Tempat” bisa berupa orang/manusia.
Ketiga, Yudas dan teman-temannya akan menjadi “murid-murid” Yesus bila mereka “mengasihi Yesus” dengan “menuruti firman-Nya” (ay. 23a dan 24a). Yang dimaksudkan dengan “firman-Ku” adalah “perintah baru untuk saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). “Perintah baru” ini tidak berasal dari Yesus, melainkan dari Allah Bapa yang mengutus Yesus (ay. 24b).
Keempat, bila mereka “saling mangasihi” (memupuk semangat sepenanggungan dan solidaritas – lihat ulasan minggu yang lalu) mereka akan dikasihi oleh Allah Bapa, dan Yesus serta Allah Bapa akan mendatangi mereka serta tinggal bersama mereka (ay. 23b). Dengan kata lain, dengan “saling mengasihi” mereka akan menghadirkan Yesus dan Allah Bapa di tengah-tengah kehidupan mereka.
Kelima, karenanya (dengan alasan catatan keempat), perpisahan antara Yesus dengan murid-murid-Nya tidak perlu menjadi hal yang menggelisahkan; bahkan seharusnyalah menjadi alasan untuk bersuka cita (ay. 28b). Sebab Yesus akan pergi kepada Bapa-Nya dan berada dengan Bapa-Nya yang Ia katakan “lebih besar daripada-Nya” (ayat 28b). Setelah itu Yesus dan Bapa-Nya akan kembali untuk berada bersama manusia.
Keenam, bagaimana “gagasan-gagasan suci” seperti itu (catatan ketiga s/d kelima) dapat diwujudkan? Jawabannya adalah Roh Kudus, Sang Penolong, yang akan diutus oleh Allah Bapa atas nama Yesus. Roh Kudus akan “mengajarkan” dan “mengingatkan” segala sesuatu yang telah dikatakan oleh Yesus kepada para murid-Nya dan kepada kita semua (ay. 26).
Ketujuh, Penolong (bahasa Yunani: Parakleetos – “para”, artinya dekat; “kleetos”, artinya yang dimintai bantuan dalam keadaan mendesak). Penolong yaitu Roh Kudus, akan menolong kita. Ia selalu bisa dimintai tolong dalam keadaan kepepet. Yang meminta Dia untuk menolong kita adalah Yesus sendiri.
Kedelapan, Roh Kudus, Sang Penolong itu selalu memperhatikan gerak gerik kita tanpa selalu kita sadari. Bila Ia mendapati kita sedang butuh bantuan, Ia akan datang sebelum kita sempat memanggil-Nya, sebab Ia sudah “diminta” oleh Yesus yang firman-Nya kita turuti.
Kesembilan, kehadiran Roh Kudus, Sang Penolong, itu ada bersama dengan murid-murid Yesus, di tengah-tengah kita. Kehadiran-Nya terjadi di tengah umat beriman, bukan dalam diri kita masing-masing. Dengan ini ingin dikatakan bahwa kehadiran Roh Kudus bukan monopoli dari orang yang hidupnya sudah beres, yang lebih berbuat banyak kebaikan, atau yang lebih saleh. Roh Kudus hadir untuk semua orang apapun keadaan mereka.
Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk menyadari bahwa untuk menjadi murid Yesus, kita perlu “saling mengasihi”, menumbuhkan dan menghidupi semangat sepenanggungan dan solidaritas. Kendati hal ini tidak mudah, namun dapat dilaksanakan karena Roh Kudus, yang telah diminta oleh Yesus, akan membantu kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
17 May 2025
WARISAN TERINDAH
WARISAN TERINDAH
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk menyegarkan diri, sekaligus mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah kelima tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 13:31-33a.34-35) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memuat pesan-pesan terpenting Yesus kepada murid-murid-Nya.
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
melihat dalam Alkitab ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pesan-pesan Yesus yang termuat dalam Injil yang kita renungkan ini diucapkan pada waktu Ia sedang makan malam yang terakhir kalinya bersama murid-murid-Nya. Perjamuan terakhir adalah semacam perpisahan sebelum Yesus pergi kepada Bapa-Nya untuk menyiapkan tempat di atas sana (Yoh 14:2). Apa yang bakal diperbuat seorang guru dalam saat-saat terakhir? Ia akan memberikan “warisan terindah” kepada para murid-Nya.
Kedua, pada kesempatan itu Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkan-Nya (Yoh 13:21). Hubungan guru-murid yang hingga saat itu baik kini mulai diganggu oleh kekuatan gelap.
Ketiga, ketika Yohanes (“murid yang dikasihi" – Yoh 13:23) bertanya kepada Yesus, siapa yang dimaksud (Yoh 13:25), Yesus menjawab bahwa dia yang akan diberinya roti sesudah dicelupkannya, itulah orangnya (Yoh 13:26a). Kemudian Ia memberikan roti itu kepada Yudas Iskariot (Yoh 13:26b). Dikatakan dalam Injil Yohanes bahwa sesudah itu Yudas Iskariot kerasukan Iblis (Yoh 13:27).
Keempat, Yudas kerasukan Iblis justru pada saat Yesus memberinya roti yang sudah dicelup; artinya makanan yang siap untuk disantap yang diberikan oleh tuan rumah kepada orang yang diundangnya. Sampai saat itu Yesus masih menganggap Yudas sebagai orangnya sendiri, termasuk keluarga, yang diajak makan bersama.
Kelima, namun justru pada saat itulah kekuatan gelap yang melawan Yesus membadan dalam diri seorang manusia. Dan bukan sembarang orang, melainkan orang yang amat dekat dengan-Nya. Yudas adalah salah seorang murid yang diberi kepercayaan besar oleh Yesus untuk “memegang kas” komunitas para murid-Nya (Yoh 13:29a).
Keenam, Yohanes menyampaikan peristiwa ini untuk menyadarkan kita bahwa kekuatan-kekuatan gelap itu bisa juga memakai cara-cara yang dipakai Allah sendiri. Allah memakai ujud manusia (Yesus) untuk menjalankan karya penebusan. Sementara itu, kekuatan-kekuatan yang melawan karya ilahi (Iblis) itu kini juga memakai ujud manusia juga (Yudas). Ironisnya, keduanya saling mengenal dan amat dekat satu sama lain.
Ketujuh, Injil yang kita renungkan ini mulai dengan menyebut “setelah Yudas pergi” (Yoh 13:31). Dengan perginya Yudas dari kumpulan itu hendak dikatakan bahwa dalam saat-saat itu Iblis tidak hadir mengancam kelompok para murid. Kata-kata Yesus mulai saat itu boleh diterima para murid tanpa khawatir dikelirukan oleh kekuatan-kekuatan yang bisa mengalihkan maksudnya. Mereka kini mengalami suasana yang bersih dari kekuatan jahat.
Kedelapan, dalam saat-saat yang khusus inilah Yesus menyampaikan “wasiat terindah-Nya” kepada para murid-Nya; yakni mengenai Anak Manusia yang dimuliakan dan mengenai Allah yang dimuliakan di dalam Dia (Yoh 13:31b-32). Juga tentang perintah baru yang diberikan Yesus kepada murid-murid untuk saling mengasihi “sama seperti” Dia sendiri mengasihi mereka (Yoh 13:34).
Kesembilan, perintah baru untuk saling mengasihi, yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, berisi kekuatan yang maha hebat yang dapat menyingkirkan daya-daya gelap yang mengurung kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesepuluh, daya-daya gelap yang paling hebat dan yang paling menakutkan serta paling sulit ditangkal adalah kekuatan-kekuatan yang sudah lama merasuk di dalam diri manusia dalam ujud kecenderungan yang mau meniadakan kemanusiaan itu sendiri; yakni yang mau menjauhkan manusia dari Allah yang diperkenalkan oleh Yesus sebagai Bapa.
Kesebelas, Allah sebagai Bapa adalah Allah yang sangat dekat dengan manusia, yang mau berjalan bersama manusia untuk meringankan beban hidupnya serta memberikan yang terbaik bagi dirinya; Allah yang sangat peduli terhadap penderitaan manusia; Allah yang dapat dipercaya dan diandalkan; Allah yang maharahim, yang selalu memberi peluang baru kepada manusia; Allah yang memberikan hidup secara berkelimpahan.
Kedua belas, Yesus sang Guru itu mengantar manusia untuk mengenal Allah yang disebut-Nya sebagai Bapa, dan mengajarkan bagaimana hidup terus di tengah-tengah daya-daya gelap itu, yakni dengan saling mengasihi (Yoh 13:34a; 35b; lihat juga Yoh 15:17).
Ketiga belas, para murid diminta untuk saling mengasihi “sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 13:34). Kata “seperti” (Yunani: “kathoos”—harfiahnya “seperti halnya”) maknanya lebih dekat dengan “karena. Dengan kata lain, para murid diminta oleh Yesus untuk saling mengasihi, “karena” Yesus telah mengasihi mereka. Perintah saling mengasihi diberikan justru karena Yesus telah mengasihi mereka. Para murid TIDAk diminta untuk saling mengasihi dengan “cara yang persis sama” seperti yang dilakukan Yesus.
Keempat belas, barangkali “saling mengasihi” dapat dibahasakan bagi orang sekarang dengan kata “sepenanggungan”, “solidaritas”. Maksudnya, orang mau saling menanggung kesulitan, mau saling menanggung beban kehidupan. Bila ada solidaritas, orang mulai mudah saling percaya. Dan bila orang mulai makin saling percaya, hubungan-hubungan selanjutnya dapat terbangun. Kesulitan pun tidak lagi membuat orang menjadi putus asa.
Perintah Yesus untuk “saling mengasihi” mengundang kita untuk menemukan jalan-jalan baru yang belum terpikirkan sebelumnya guna mewujudkannya. Setiap dari kita dapat menghidupkan secara kreatif dan orisinil apa itu kasih kepada sesama dengan pelbagai cara. Bila hal ini kita lakukan, kreativitas “saling mengasihi” akan membuka wilayah-wilayah kehidupan baru.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
17 May 2025
MEMBANTU MERAWAT DOMBA-DOMBA YANG DIGEMBALAKAN YESUS
MEMBANTU MERAWAT DOMBA-DOMBA YANG DIGEMBALAKAN YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara sekalian yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat, sekaligus mensyukuri anugerah Tuhan dengan terpilihnya Robert Francis Kardinal Prevost, OSA, dari Peru, menjadi Paus baru dengan nama Leo XIV.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paska ke-4 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 10:27-30) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang kedekatan relasi antara Yesus dan pengikut-pengikut-Nya dengan memakai kiasan domba dan gembala.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, Injil Yohanes bab 10 berbicara mengenai gembala yang baik dan menerapkannya kepada Yesus. Gagasan mengenai gembala yang baik diperoleh oleh penginjil Yohanes dari Kitab Perjanjian Lama, yakni kitab Mazmur 23 dan Kitab Nabi Yehezkiel bab 34.
Kedua, dalam Mazmur 23 dikatakan bahwa orang yang berada dekat dengan Tuhan (sebagai Gembala) tidak perlu merasa takut atau merasa kekurangan apa pun.
Ketiga, nabi Yehezkiel melangkah lebih jauh. Ia berbicara mengenai Tuhan sebagai gembala yang membela umat dari para gembala yang menyalah-gunakan kekuasaan mereka, yakni para pemimpin yang hanya memperkaya diri, tidak peduli akan penderitaan rakyat dan bahkan menghisap, berlaku kejam, dan membiarkan mereka kehilangan rasa aman (Yes 34:1-10).
Keempat, Tuhan sendiri (sebagai Gembala) akan mengumpulkan umat-Nya yang tercerai berai, mencari yang hilang dan tersesat, membebat yang terluka, dan memberi rasa aman (Yeh 34:11-22).
Kelima, pemahaman Yehezkiel ini dipengaruhi oleh kehidupan sosial politik di Israel pada zaman pembuangan. Ia mengecam para pemimpin yang tidak banyak berbuat bagi umat yang sedang kehilangan pegangan.
Keenam, Yohanes penginjil menerapkan gagasan Yehezkiel tersebut sekaligus memberi arah baru. Yohanes penginjil tidak menampilkan dua tipe gembala seperti Yehezkiel; Allah sebagai Gembala yang baik (Yeh 34:10-16) melawan para pemimpin sebagai gembala yang jahat (Yeh 34:3-8).
Ketujuh, Yohanes penginjil tidak memperlawankan Yesus dengan
gembala yang jahat, melainkan dengan “pencuri dan perampok” (Yoh 10:1), dengan
“orang asing” (Yoh 10:5) dan dengan “orang upahan” (Yoh 10:12-13). Bagi Yohanes
penginjil hanya ada satu gembala, yakni Yesus.
Kedelapan, pemahaman Yohanes penginjil ini dipengaruhi oleh situasi kehidupan yang dihadapi oleh para pengikut Yesus generasi pertama. Mereka merasa kurang aman hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi. Mereka merasa diri terintimidasi. Akibatnya, tidak sedikit yang meninggalkan komunitas pengikut Yesus, tetapi banyak pula yang bertekun dan setia.
Kesembilan, keadaan ini digunakan oleh Yohanes untuk menjelaskan apa artinya “percaya” kepada Yesus dan bagaimana mereka bisa menghayatinya bila mereka memang memilih mau terus menjadi murid-murid-Nya.
Kesepuluh, dengan menggunakan istilah “Yesus sebagai gembala yang baik” (ay. 11; 14) Yohanes ingin menunjukkan bahwa percaya kepada Yesus tidak sia-sia karena Ia sendiri akan melindungi murid-murid-Nya dengan mempertaruhkan hidup-Nya (ay. 15) dan memberikan hidup yang kekal kepada mereka (ay. 28).
Kesebelas, dalam ungkapan “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mengikut Aku” (ay. 27) terkandung nuansa “apa yang akan terjadi” dengan para murid Yesus; mereka akan mampu mendengarkan suara Yesus dan mengikuti-Nya, juga bila menghadapi berbagai macam kesulitan.
Kedua belas, penegasan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merenggut domba-domba dari Yesus (ay. 28b) ingin menggarisbawahi bahwa mengikuti Yesus membuat orang semakin menemukan diri dimiliki oleh Allah. Hal inilah yang dibuat oleh gembala yang baik, dan tidak dapat dilakukan oleh orang upahan.
Ketiga belas, untuk bisa “mendengarkan dan mengikuti Yesus” diperlukan pemahaman tentang Dia. Orang-orang, seperti Petrus, yang diminta oleh Yesus untuk ikut “memelihara atau merawat domba-domba-Nya” (Yoh 21:15-19) [lihat ulasan minggu yang lalu] memiliki tanggungjawab ini: memberikan informasi yang dapat dinalar tentang Yesus, sehingga orang terbantu untuk mengikuti-Nya.
Dalam pidatonya, ketika Kardinal Prevost diperkenalkan sebagai Paus Leo XIV, beliau menandaskan bahwa kita semua adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah dan murid-murid Yesus. Cinta Allah tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan apa pun. Kita semua diajak untuk mewartakan cinta Allah ini dengan “menjadi jembatan”, membangun perdamaian, melakukan dialog, mewujudkan keadilan, serta memperhatikan orang-orang yang terpinggirkan dan rentan. Dengan kata lain, kita diajak untuk ikut merawat domba-domba yang digembalakaan oleh Yesus.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
4 May 2025
IMAN AKAN KEBANGKITAN YESUS DALAM HIDUP SEHARI-HARI
IMAN AKAN KEBANGKITAN YESUS DALAM HIDUP SEHARI-HARI
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat memulai bulan Maria dan menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah ketiga tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 21:1-19) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok berkisah tentang Yesus menampakkan diri kepada tujuh orang murid, yang kembali ke pekerjaan mereka sebelum mereka mengikuti Yesus.
Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita sekarang?
Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, Petrus tidak meragukan lagi bahwa Yesus telah bangkit. Ia juga merasa bahwa imannya disegarkan ketika menerima hembusan Roh Kudus dari Yesus yang sudah bangkit. Namun ia juga merasa bahwa semua pengalaman itu ternyata tidak dapat menjawab segala persoalan dalam hidupnya: keluarga, pekerjaan, sosialisasi dengan orang-orang lain. Karenanya, ia memutuskan untuk kembali ke pekerjaan semula: “menangkap ikan” (ay. 3a).
Kedua, pengalaman serupa juga dirasakan oleh 6 orang teman Petrus. Seperti halnya Petrus, mereka merasa bahwa pengalaman mengikuti Yesus dan menyaksikan hal-hal hebat dulu itu rasa-rasanya sudah menjadi lembaran hidup yang mesti ditutup. Semua itu dapat diceritakan kepada orang banyak, tetapi sudah selesai. Semua kejadian di Yerusalem pun tinggal merupakan kenangan manis yang makin lirih kedengarannya. Karenanya, mereka memutuskan untuk bergabung dengan Petrus (ay. 3b).
Ketiga, penggunaan sebutan “kedua anak Zebedeus” (ay. 2), dan bukan Yakobus dan Yohanes, oleh penginjil dimaksudkan untuk mengingatkan pembaca bahwa kedua murid ini dulu mulai mengikuti Yesus ketika masih bekerja dalam usaha perikanan milik ayah mereka itu (Mat 4:21 dan Mrk 1:19-20).
Keempat, Pak Zebedeus memiliki pekerja-pekerja upahan (Mrk 1:20). Istrinya, Salome, dulu mengurus kebutuhan sehari-hari Yesus (Mrk 15:40-41). Jelas keluarga itu cukup berada. Tidak heran, sebagai ibu dari kalangan terhormat, Bu Zebedeus (Salome) pernah memintakan kedudukan khusus bagi kedua anaknya di kanan kiri Yesus (Mat 20:20-21) dan mereka berdua sendiri memang menyatakan keinginan seperti itu (Mrk 10:37).
Kelima, Petrus dan Andreas adalah mitra usaha keluarga Zebedeus (Mrk 1:16-20; Luk 5:10). Perusahaan perikanan itu kini menjadi sambungan nafkah mereka, dan bertujuh mereka ingin membangun bisnis perikanan lagi (ay. 3), syukur dengan mitra-mitra baru.
Keenam, penampakan Yesus yang dikisahkan dalam Yoh 21 ini lain dari penampakan yang lain justru karena penampakan itu terjadi ketika murid-murid sudah kembali ke kehidupan biasa, mencari nafkah, meniti hari demi hari. Mereka sudah tidak lagi sempat memikirkan lagi apa itu kebangkitan atau mengingat-ingat yang diajarkan guru mereka dulu. Yesus memperlihatkan diri kepada murid-murid dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Ketujuh, Yesus mendatangi murid-murid-Nya dalam kehidupan mereka yang nyata. Ia menemui mereka selagi mereka sedang menjalankan pekerjaan mereka. Murid-murid semalaman bekerja namun “tidak menangkap apa-apa” (ay. 3b).
Kedelapan, ketika hari mulai siang Yesus (yang tidak mereka kenal) hadir menunjukkan tempat yang ada ikannya; tanda-tandanya: burung yang melayang-layang di tempat itu, dan air beriak. Dan Yesus memberi aba-aba supaya jala ditebar di tempat yang ada ikannya. Yesus, yang menampakkan diri kepada para penangkap ikan itu, berlaku sebagai orang dari perusahaan perikanan mereka. Ia memberi tahu mereka agar menebar jala ke arah kanan (ay. 6). Yesus masuk ke dalam urusan dan kehidupan mereka sebelum mereka mengenali-Nya (ay. 4).
Kesembilan, hanya satu dari tujuh murid itu, yang menyebut diri “murid yang dikasihi Yesus” (ay. 7a), melihat siapa sebenarnya orang itu. Memang sejak melihat kafan dan penutup muka di makam yang kosong (Yoh 20:8), pikirannya tak lepas lagi dari gurunya itu. Ia melihat-Nya ada di mana-mana dan ingin mempersaksikan-Nya kepada orang-orang di dekatnya. Kali ini ia memberi tahu Petrus yang juga langsung mengerti (ay. 7b).
Kesepuluh, Petrus pun mengenakan kembali pakaian luar yang tadi dilepaskan dan datang kepada Yesus (ay. 7b). Artinya, Petrus datang kepada Yesus untuk memperkenalkan diri; bukan Petrus yang dulu (selalu mengikuti Yesus), tetapi yang sudah kembali ke hidup sehari-hari itu. Ia mau tahu apa Tuhan mau menerimanya kembali dalam keadaannya yang sekarang ini.
Kesebelas, di pantai Yesus sudah menyiapkan ikan dan roti (ay. 9). Mereka hanya diminta menambah lauk dari tangkapan mereka yang melimpah itu (ay. 10). Pembaca kisah ini akan teringat episode Yesus memberi makan lima ribu orang dengan roti dan lauk ikan (Yoh 6:1-15). Waktu itu murid-murid ini ikut membagikan makanan tadi; sekarang mereka ikut berbagi makanan di tengah-tengah kegiatan mereka sehari-hari.
Kedua belas, Yesus mendatangi tujuh murid itu, memasuki hidup
sehari-hari mereka dan membagi makanan kepada mereka (ay. 12a & 13); dan
murid-murid membawakan tambahan ikan, sebagian hasil jerih payah keringat
mereka, sebagai lauk (ay. 11). Tindakan ini membuat hidup berlanjut terus. Ini
ujud hubungan dengan Yesus dalam dunia sehari-hari.
Ketiga belas, bagian kedua bacaan ini memuat kisah Yesus menugasi Petrus untuk mengurusi domba-domba milik-Nya (ay. 15-19). Dalam ayat 15 dan 17 Petrus diminta Yesus agar terus memberi makan domba-domba-Nya. Dalam ayat 16 Petrus diminta agar memelihara terus domba-domba itu. Petrus tidak diminta menjadi gembala (sabab hanya Yesuslah Sang Gembala -- Yoh 10:11,14), melainkan diminta agar menjamin domba-domba itu tetap terpelihara, tidak terlantar, dan selalu terlindung dari bahaya.
Keempat belas, sebagai orang yang diminta mengurus domba-domba Petrus ditanya “tiga kali” apa betul-betul “mengasihi-Ku lebih dari orang-orang itu” (ay. 15-17). Yang dimaksud dengan “mengasihi” adalah setia, loyal. “Tiga kali”, berarti amat resmi, dan bersinggungan dengan tugas suci (dari Allah sendiri). Menilik konteksnya, yang dimaksud dengan “mereka ini” (ay. 15a) bukan para murid lain, tetapi orang-orang yang tidak memiliki loyalitas seperti halnya orang upahan.
Kita baru saja merayakan Paskah Kebangkitan Kristus dan penebusan umat manusia. Kisah-kisah tentang penampakan Yesus yang kita dengar, khususnya selama seminggu setelah Minggu Paskah, sungguh menyegarkan kehidupan iman kita. Kebangkitan Kristus juga tidak kita ragukan lagi.
Tetapi
sekarang kita kembali ke hidup sehari-hari: mencari nafkah; memikirkan
keluarga, masa depan, karier, dan kondisi kehidupan kita; serta pergaulan
dengan teman-teman sekantor dan tetangga. Lalu muncul berbagai macam kesulitan
konkret yang kita temui, dan ternyata iman akan kebangkitan Yesus tidak begitu
saja dapat menawarkan jawaban.
Kisah Injil yang kita
renungkan ini mengundang kita untuk membuka mata hati agar kita dapat melihat
Yesus yang menjumpai kita dalam situasi seperti itu, dan memberikan “jalan
keluar yang tidak kita duga.” Sekaligus kita juga diundang oleh Yesus untuk
membantu sesama kita agar mereka tidak terlantar, tetap terawat, dan terlindung
dari bahaya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
27 April 2025
PEERCAYA MEMBUAT BAHAGIA
PERCAYA MEMBUAT BAHAGIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang dan selamat Paskah. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan menikmati suasana Paskah.
Jangan lupa menyisihkan waktu untuk ambil bagian
dalam Perayaan Ekaristi online (lewat youtube) untuk mengantar Paus Fransiskus
ke peristirahatannya yang terakhir pada pukul 15:00 WIB.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah kedua tahun C dalam kalender liturgi; yang oleh Gereja juga dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Bacaan Injil (Yoh 20:19-31) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus yang menampakkan diri kepada para murid-Nya, yang mengurung diri di ruangan yang tertutup karena takut kepada para pemuka Yahudi.
Apa makna kisah ini bagi kita sekarang? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.
Pertama, bagian Injil ini ditulis oleh Yohanes penginjil sebagai penjelasan bagi murid-muridnya yang kerap bertanya bagaimana dulu Yohanes dan para murid Yesus yang lain bisa mulai percaya bahwa Yesus yang baru saja dibunuh dan dimakamkan tidak ada di makam itu lagi dan tetap terasa dekat bagi para murid-Nya.
Kedua, Yesus menampakkan diri kepada Yohanes dan para murid lainnya sewaktu mereka sedang mengunci diri karena takut kepada para penguasa Yahudi yang memang bersikap memusuhi para pengikut Yesus (ay. 19). Penampakan itu tidak dialami oleh banyak orang lain. Para murid Yohanes pun tidak ada yang melihat penampakan Yesus itu.
Ketiga, para murid Yohanes ingin melihat Yesus yang bangkit seperti yang dialami oleh Yohanes dulu. Mereka ingin ikut mengalami yang dialaminya; dan keinginan itu tidak bisa dianggap remeh. Tetapi Yesus juga tidak bisa diminta untuk menampakkan diri kepada mereka. Maka dicarilah cara oleh Yohanes untuk menjelaskan pengalaman itu kepada para muridnya.
Keempat, ada perbedaan besar antara kebangkitan Yesus pada hari Paskah dengan penghidupan kembali orang mati yang dilakukan oleh Yesus terhadap Lasarus (Yoh 11:1-44); anak janda di Nain (Luk 7:11-17) dan anak perempuan Yairus (Mrk 5:35-43; Luk 8: 49-56, juga Mat 9:23-26).
Kelima, Lasarus, anak janda di Nain, dan anak perempuan Yairus berbalik ke dunia dan bakal meninggal lagi. Sedangkan kebangkitan Yesus berarti berjalan memasuki hidup baru dengan Yang Maha Kuasa sendiri. Badan Yesus juga bangkit dan tidak lagi mengalami keterbatasan-keterbatasan jasad seperti orang yang lahir atau kembali ke dunia. Itulah sebabnya Yesus yang sudah bangkit dari kematian-Nya tidak dikenali oleh Maria Magdalena (Yoh 20:14) dan dua murid yang berjalan ke Emaus (Luk 24:15-16).
Keenam, Tomas tidak sungguh meraba bekas luka-luka-Nya. Sudah cukup baginya melihat, lalu percaya dan berseru, “Tuhanku dan Allahku!” Melihat Yesus itu membuat orang melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya Tomas menyerukan dua sebutan itu.
Ketujuh, pada akhir peristiwa itu kepada Tomas Yesus berkata: “Karena engkau telah melihat Aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ay. 29). Kata-kata itu ditujukan kepada Tomas, tetapi juga didengar oleh semua yang di ada di situ. Hal ini berulang kali diteruskan oleh Yohanes kepada murid-muridnya yang percaya kepada Yesus meski tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri seperti yang dilihat oleh Tomas, oleh Maria Magdalena, dan oleh Yohanes sendiri.
Kedelapan, namun “melihat” itu memang sangat penting. Ada hubungan erat antara “melihat” dan “percaya”. Hal itu dijelaskan oleh penginjil Yohanes dengan kisah orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus (Yoh 9:1-41). Pertama-tama si buta itu mengenali Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya (Yoh 9:11), kemudian menegaskannya sebagai nabi (Yoh 9:17b), dan akhirnya ia bersujud menyembah dan percaya kepada-Nya sebagai Tuhan (Yoh 9:38).
Kesembilan, proses yang dialami oleh orang
buta tadi berlanjut
juga ketika Yesus bangkit. Hal itu dialami oleh Maria Magdalena, para murid,
dan Tomas. Melihat bisa berkembang menjadi persepsi batin dan membuat orang
mengenali kebenaran yang dilihatnya, dan percaya.
Kesepuluh, tetapi bila “melihat” tidak berkembang menjadi persepsi batin, bisa jadi orang malah tidak dapat mempercayai apapun. Orang Farisi dalam kisah penyembuhan orang buta itu melihat tetapi tidak percaya, karena mereka tidak terbuka untuk mengakuinya, apalagi mempercayainya. Mereka menjadi “buta” dan “berdosa” (menolak Yesus sebagai wujud kehadiran Allah) (Yoh 9:40-41).
Kesebelas, ketika menampakkan diri Yesus juga menghembusi para murid-Nya dengan Roh Kudus (ay. 22). Dengan tindakan-Nya itu para murid Yesus menerima nafas hidup baru. Roh Kudus datang kepada mereka, kepada kita, untuk membuat mereka dan kita hidup dalam Yesus yang bangkit.
Kedua belas, setelah mendapat kekuatan Roh-Nya, para murid diutus untuk mengujudkan kepercayaan mereka kepada Bapa-Nya. Hal ini diungkapkan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami pada situasi waktu itu, yaitu tentang mengampuni dosa atau menyatakan dosa tetap ada (ay. 23). Dosa yang dimaksud adalah penolakan terhadap Dia yang hadir di tengah-tengah manusia itu.
Setelah
mengalami kebangkitan-Nya, para murid diutus oleh Yesus untuk hidup sesuai dengan semangat
kebangkitan, menegakkan nilai-nilai yang sejalan dengan kemerdekaan hidup
sebagai anak-anak Allah. Para murid dulu, dan kita sekarang, ditugasi oleh
Yesus untuk menjaga agar martabat anak-anak Allah tidak memudar.
Di negara kita
martabat anak-anak Allah ini memudar bahkan merosot karena adanya penyakit
menahun dalam wujud kemiskinan dan pemiskinan, kebodohan dan pembodohan,
penghancuran kehidupan dan kebudayaan penduduk asli karena tambang dan
deforestasi yang dilakukan dengan ugal-ugalan, praktik korupsi yang sudah
dianggap biasa dan bahkan digunakan untuk saling menyandera, hutang pemerintah
yang semakin membengkak untuk mewujudkan janji kampanye presiden yang belum
tentu menjadi kebutuhan rakyat, politik yang dijalankan bukan untuk mewujudkan
kesejahteraan umum, berbagai macam bentuk diskriminasi serta ketidak pedulian,
dll.
Semoga iman kepercayaan kita akan kebangkitan Yesus memampukan kita untuk mengatasi salah satu bentuk penyebab kehancuran martabat anak-anak Allah tersebut, supaya kebahagiaan menjadi pengalaman bersama.
Teriring salam
dan doa, Rm. Madya, S.J.
12 April 2025
BERSAMA YESUS MENATAP DAN MENYEMBUHKAN KEREMUKAN KEMANUSIAAN
BERSAMA YESUS
MENATAP DAN MENYEMBUHKAN KEREMUKAN KEMANUSIAAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan dan mengakhiri Masa Prapaskah. Selamat menikmati kerahiman dan kasih-setia Allah, yang tidak pernah lelah memperbarui hidup kita.
Selamat memasuki Minggu Suci dengan merayakan Minggu Palma. Ada dua bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi pada Minggu Palma ini: sebelum perarakan daun palma (Luk 19:28-40) dan Kisah Sengsara (Luk 23:1-49). Makna apa yang dapat kita petik dari kedua Injil ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini.
Pertama, kepergian Yesus ke Yerusalem, yang berakhir dengan penolakan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa Yahudi (para Imam Kepala dan kaum Farisi) serta kematian-Nya di kayu salib, telah Ia beritahukan kepada para murid-Nya tiga kali (Luk 9:22; Luk 9:44; Luk 18:32-33). Kendati para murid-Nya menganggap bahwa hal itu tidak masuk akal (Luk 9:45; Luk 18:34), Ia tetap menjalaninya (Luk 19:28).
Kedua, sebutan kota Yerusalem yang dipakai dalam Luk 19:28b ini (Yunani: Hierosolyma) digunakan oleh Lukas untuk menggambarkan sikap kota itu yang bersedia menerima-Nya, seperti diungkapkan oleh para murid dan rakyat yang bernyanyi gembira mengenang karya agung Allah (Luk 19:37b).
Ketiga, hal ini (catatan kedua) berbeda dengan sebutan kota Yerusalem dalam Luk 9:51 (Ibrani: Ierousaleem) yang digunakan oleh penginjil Lukas untuk menunjukkan sikap penolakan kota itu terhadap kedatangan Yesus, yang diungkapkan oleh para pemimpin bangsa Yahudi (para Imam Kepala dan kaum Farisi) yang menolak Yesus (Luk 19:39; Luk 23:18; 21; 23).
Keempat, makna dari ugkapan “batu-batu ini akan berteriak” (Luk 19:40) adalah kepergian Yesus ke Yerusalem tidak hanya disertai oleh para murid-Nya tetapi juga oleh alam semesta. Alam semesta itu nanti akan bersuara ketika Yesus mati di salib, dan manusia hanya diam: kegalapan meliputi seluruh daerah itu, matahari tidak bersinar, dan tabir bait suci terbelah dua (Luk 23:44-45). Bahkan dalam Injil Matius 27:51-53 diungkapkan bahwa ketika Yesus wafat di kayu salib selain tabir Bait Suci terbelah dua, juga terjadi gempa, bukit-bukit batu terbelah, kubur terbuka, arwah orang kudus yang meninggal dibangkitkan. Alam semesta mengajarkan kepada manusia untuk melihat apa yang terjadi pada Yesus.
Kelima, kisah sengsara Yesus dalam Injil Lukas (Luk 23:1-49) tidak pertama-tama dimaksudkan oleh penginjil untuk membuat hati kita merasa sedih, tetapi terutama untuk mempersaksikan penderitaan manusia di hadapan Allah. Penderitaan dan wafat Yesus di salib itu bernilai karena Yesus menunjukkan kepada Allah, Bapa-Nya, betapa manusia tidak lagi dapat dikenali sebagai manusia karena terlalu dikuasai oleh berbagai macam kekerasan dan keremukan. Itulah makna teriakan Yesus: “Allahku, ya Allahku, mengapa Engku meninggalkan daku?” (Mat 27:46).
Keenam, menyaksikan penderitaan Yesus, Putra-Nya, dan teriakan yang disampaikan-Nya, Allah tidak tega meninggalkan Yesus dan seluruh umat manusia dalam keadaan remuk dan hancur. Allah menjawab teriakan itu dengan membangkitkan Yesus (dan seluruh kemanusiaan) dari kematian (Luk 24:6). Dengan membangkitkan Yesus dari kematian-Nya, Allah memberikan kehidupan baru kepada Yesus dan kepada seluruh umat manusia serta seluruh ciptaan-Nya.
Selama Minggu Suci ini, kita semua diundang untuk melihat “keremukan” hidup manusia sehingga tidak dapat dikenali lagi sebagai manusia akibat berbagai macam “kekerasan”, yakni: kemiskinan absolut; rendahnya kualitas pendidikan; kesengajaan tidak menyediakan program-program untuk membangun kesejahteraan rakyat; perdagangan manusia; keserakahan dan korupsi yang tidak kunjung dihentikan oleh pemerintah; politik untuk melanggengkan kekuasaan; penghancuran alam dan lingkungan hidup; diskriminasi terhadap kaum peremupuan dan difabel; kedangkalan relasi dengan anggota keluarga dan/atau anggota komunitas, dengan teman dan sahabat, dengan kolega, dengan tetangga, dan dengan Allah; ketidakpedulian terhadap mereka yang hidupnya serba kekurangan; dll.
Dari antara semuanya ini, “keremukan” mana yang Anda
jumpai? “Teriakan” macam apa yang Anda sampaikan kepada Allah? Tindakan macam
apa yang akan Anda lakukan untuk menyembuhkannya?
Catatan: Selama Pekan Suci saya akan membantu di Stasi kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Kerenanya, saya tidak akan mengirimkan renungan untuk Tri Hari Suci.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.