Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

4 April 2025

DENGAN KERAHIMAN ALLAH MENYONGSONG MINGGU SUCI

DENGAN KERAHIMAN ALLAH MENYONGSONG MINGGU SUCI

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-5 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 8:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan dibawa kepada Yesus oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Hal itu mereka lakukan untuk menjerat Yesus.

Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut (sambil membaca teks Kitab Suci yang dikomentari).

Pertama, dalam Alkitab yang diterbitkan pada 2023, perikopa ini diletakkan di antara tanda [  ]. Hal ini terjadi karena menurut sebagian besar ahli tafsir Kitab Suci, pada awalnya perikopa ini tidak termasuk Injil Yohanes meskipun mereka setuju asalnya dari tradisi mengenai kehidupan Yesus juga.

Kedua, baru pada abad ke-4 kisah perempuan berzinah itu mulai didapati di dalam naskah-naskah Kitab Suci berbahasa Yunani. Tetapi kisah itu agaknya sudah dikenal sebelumnya di kalangan Gereja Latin di Barat dan termasuk bahan bacaan selama liturgi. Oleh karenanya tidak mengherankan bila menjadi bagian Injil.

Ketiga, biasanya perikopa ini ditempatkan di antara Yoh 7:52 dan 8:12; boleh jadi untuk menyiapkan pembaca agar memahami kata-kata Yesus dalam Yoh 8:15: “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun.”

Keempat, peristiwa yang sedang dibicarakan dalam bagian Injil ini terjadi di dalam minggu terakhir kehidupan Yesus. Selama waktu itu dari pagi hingga sore Ia berada di Yerusalem tetapi malam hari dilewatkannya di Bukit Zaitun (ay. 1), di sebelah timur kota, bersama murid-murid-Nya. Nama kota itu Betania (Mrk 11:11), bukan Betania di seberang sungai Yordan yang disebut dalam Yoh 1:28.

Kelima, latar di atas (catatan keempat) membuat peristiwa yang kita renungkan ini berhubungan erat dengan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Dia yang tidak menjatuhkan hukuman kepada pendosa yang dihadapkan kepada-Nya (ay. 11b dan 15) itu sama dengan Dia yang nanti wafat di kayu salib untuk menanggung dosa-dosa orang lain dan kemudian bangkit dari kematian (= tidak lagi tertindih dosa dan hukuman).

Keenam, peristiwa yang kita renungkan ini terjadi di dalam Bait Allah (ay. 2a), pusat kekayaan spiritual. Ke sanalah orang-orang berkiblat, di situlah orang bertanya, di tempat inilah diberikan jawaban dari Tuhan. Dan jawaban ini berujud manusia (Yesus) yang dapat dikenali, dapat diajak berdialog, dapat dibayang-bayangkan. Tetapi juga bisa dijauhi, dimusuhi, dan dibunuh. Kehadiran Tuhan seperti ini membuat orang perlu berpikir lebih dalam.

Ketujuh, dikatakan dalam ayat 6b bahwa Yesus “menulis”. Terjemahan yang tepat mestinya “mencatat” (Yunani: “kategraphen”), bukan sekedar menulis. Kata “menulis” (Yunani: “egraphen”) terdapat dalam ay. 8. Dalam kedua ayat itu ada keterangan “di tanah”; artinya, bisa dilihat siapa saja, tidak ditutup-tutupi.

Kedelapan, dengan tindakan-Nya “mencatat” (ay. 6b) dan “menulis” (ay. 8) Yesus siap mencatat dan menulis bila memang ada yang patut dituliskan saat itu. Penjelasan ini ada hubungannya dengan perubahan postur tubuh Yesus: dari duduk mengajar (ay. 2b) ke membungkuk mencatat (ay. 6b) dan menulis (ay. 8).

Kesembilan, dengan perubahan postur tubuh itu Yesus hendak menunjukkan bahwa Ia mau mencatat dan menuliskan kebijaksanaan para ahli Kitab dan orang Farisi bila mereka memang memiliki sesuatu yang dapat diajarkan. Tetapi para ahli Taurat dan orang Farisi itu tidak berani menerima peralihan peran itu. Bahkan mereka “terus menerus bertanya kepada-Nya” (ay. 7a).

Kesepuluh, pada saat itulah Yesus bangkit berdiri lalu berkata, “Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini” (ay. 7b). Segera sesudah berkata demikian Ia membungkuk lagi dan siap menulis di tanah (ay. 8), supaya bisa dilihat semua yang hadir. Sekali lagi Yesus meminta mereka mengajarkan apa yang bisa Ia tuliskan; Ia siap untuk melakukan hal itu.

Kesebelas, namun satu per satu mereka justru pergi meninggalkan tempat itu, mulai dari yang paling tua (ay. 9a). Yesus tidak menyaingi para ahli Taurat dan orang Farisi atau mengecilkan peran mereka. Ia justru minta mereka menunjukkan apa mereka dapat mengajarkan sesuatu yang patut dicatat dan ditulis bagi orang banyak. Ternyata tidak ada seorang pun yang tampil. Mengapa?

Kedua belas, di hadapan Yesus, orang yang tulus hati ini, suara hati ahli Taurat dan orang Farisi itu sendiri tidak mengizinkan mereka mengajarkan hukuman atau tindakan keras yang mempersyaratkan kebersihan diri sendiri terlebih dahulu.

Ketiga belas, dalam cerita ini dua kali Yesus berbicara mengenai “dosa”. Yang pertama kepada para ahli Taurat dan orang Farisi (ay. 7b), yang kedua kalinya kepada perempuan yang dihadapkan kepada-Nya (ay. 11). Dua kali pula Yesus “bangkit berdiri” dan mulai menyapa masing-masing pihak (ay. 7a dan 10). Dengan cara ini penginjil menunjukkan bahwa Yesus memberi perlakuan yang sama baik kepada perempuan tadi maupun kepada para ahli Taurat dan orang Farisi.

Keempat belas, Yesus meminta kepada para penuduh agar melihat apakah mereka sendiri tanpa dosa. Mereka perlu memeriksa diri, menengok ke belakang. Kepada perempuan itu Yesus mengatakan “mulai sekarang” jangan lagi berdosa (ay. 11). Yesus mengajak perempuan itu untuk mengarahkan pandangan ke masa depan. Baik para ahli Taurat dan orang Farisi maupun perempuan itu sama-sama diajak melepaskan jalan hidup mereka yang lama, yang menindih diri mereka sendiri, agar dapat menempuh arah baru.

Merenungkan kisah dalam Injil ini mengundang kita untuk menyadari bahwa di hadapan Yesus, utusan Tuhan yang sedang menampilkan kewibawaan-Nya mengajar di Bait Allah ini, semua orang sama, sama berdosanya. Pengadilan dengan pikiran manusia saja tidak mencukupi. Semua orang membutuhkan kerahiman Tuhan.

Selain itu, setelah bertemu dengan Yesus, yang telah menerangi relung-relung gelap kehidupan kita, kita diundang untuk meninggalkan “masa lampau” kehidupan kita dan berlari mendekat ke hadirat Yang Ilahi.

Semoga sikap hati seperti inilah yang kita miliki untuk menyongsong Minggu Suci yang tinggal sepekan lagi.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 

 

 

 

 

 

 




 

 

Lihat selengkapnya

27 March 2025

"BERADA DI DALAM RUMAH"

“BERADA DI DALAM RUMAH”

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah diberikan kepada kita selama sepekan.

Besok Minggu (30 Maret 2025) kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah ke-4 tahun C dalam kelender liturgi. Bacaan Injil (Luk 15:1-3; 11-32) menyampaikan  perumpamaan tentang si anak hilang. Gagasan pokoknya adalah kebaikan Allah tertuju kepada siapa saja, dan khususnya bagi pendosa yang mau mendekat kepada-Nya.

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membaca teks dari Alkitab].

Pertama, perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus guna menanggapi keluhan serta gerundelan kaum Farisi dan Ahli Kitab ketika melihat Yesus, sang guru yang terhormat itu, suka bergaul dengan para pemungut pajak dan pendosa lainnya (ay. 1-3).

Kedua, perasaan tersinggung orang-orang Farisi dan Ahli Kitab ini didasarkan pada keyakinan bahwa “para pendosa mesti dihukum” dan “orang baik mesti diberi pahala.” Perumpamaan ini, antara lain, digunakan untuk menyoroti keyakinan semacam ini.

Ketiga, perumpamaan ini juga diceritakan bukan untuk membuat orang bertobat seperti si anak hilang, atau agar kita tidak bersikap iri seperti si anak sulung, melainkan untuk mengajak berpikir mengenai “hal-hal yang lebih dalam.”

Keempat, kisah tentang saudara tua yang dengki akan kemujuran adiknya bukan hal yang baru bagi pendengar Kitab Suci pada zaman itu. Ada kisah Kain dan Abel (Kej 4:3-5), ada kisah Esau dan Yakub (Kej 25:29-34; 27:30-38; 41-45), ada kisah Yusuf dan saudara-saudara tuanya (Kej 37:1-36). Saudara tua umumnya ditampilkan sebagai tokoh konyol sedangkan yang muda tokoh yang beruntung.

Kelima, perumpamaan si anak hilang ini memang memakai motif kisah yang sudah dikenal itu, tetapi arah kisahnya berbeda dengan yang biasa dikenal. Walaupun akhirnya anak yang bungsu mujur, namun anak yang sulung tidak kehilangan haknya seperti halnya Kain, Esau, atau saudara-saudara tua Yusuf.

Keenam, hal itu (catatan kelima) terjadi karena sang ayah tidak membeda-bedakan kedua anaknya itu kendati perasaan anaknya yang sulung lain. Juga si bungsu yang kembali itu sebenarnya merasa sudah tidak pantas menjadi anak lagi dan malah minta diperlakukan sebagai budak saja. Tetapi persepsi masing-masing mereka ini akan diluruskan oleh si ayah. Inilah yang dimaksud dengan “hal-hal yang lebih dalam” (catatan ketiga).

Ketujuh, orang (dahulu dan sekarang) biasa bernalar, bila ada kesalahan maka layak diberikan hukuman. Begitu pula, kebaikan mestinya mendatangkan pahala. Tanpa kita sadari gagasan ini sering mendasari cara memandang kejadian-kejadian dan melandasi penilaian terhadap orang lain. Perumpamaan ini disampaikan untuk menyoroti cara berpikir dan bertindak seperti ini.

Kedelapan, apa kesalahan atau dosa si anak bungsu di mata abangnya dan di mata si bungsu itu sendiri? Ia dianggap bersalah karena tidak berlaku sebagai anak yang baik yang tinggal di tempat ayahnya untuk membantu mengerjakan ladang dan nanti meneruskan pekerjaaan sang ayah. Si bungsu pergi menuruti keinginannya sendiri. Ia menjadi anak yang tidak berbakti; lain daripada anak yang sulung.

Kesembilan, pendengar atau pembaca perumpaan ini akan tergoda melihat kelakuan si bungsu yang berfoya-foya di luar negeri sebagai penyebab kemelaratannya. Juga kelakuan tidak berbakti kepada ayahnya kiranya telah membuatnya terhukum.

Kesepuluh, namun menurut perumpamaan ini, sebenarnya kemalangan si anak bungsu ditampilkan bukan sebagai hukuman dari Allah, bukan pula konsekuensi keteledoran sendiri, melainkan akibat keadaan yang tidak bisa dikontrol, yakni bencana kelaparan (ay.14).

Kesebelas, bagaimana dengan abangnya, si sanak sulung? Ia tipe anak yang baik, yang bekerja terus, setia tinggal di tempat, dan tidak pernah melanggar aturan (ay. 29a). Orang seperti ini, dalam gagasan orang banyak, tentu mendapat pahala. Sekali lagi orang tergoda menganggap keberuntungannya sebagai pahala dan si anak sulung itu sendiri memang berpikir dalam ukuran-ukuran itu.

Kedua belas, karenanya, anak sulung itu mengeluh bahwa tidak pernah mendapat kesempatan bersenang-senang walaupun bertahun-tahun melayani dan tidak pernah melanggar perintah ayahnya (ay. 29). Dan ketika si bungsu yang kembali itu dipestakan dan diberi sepatu, cincin, serta  jubah kebesaran (ay. 22-23; 30b), ia marah dan tidak mau masuk rumah (ay. 28a).

Ketiga belas, ketika memutuskan untuk pulang (ay. 18a), anak bungsu yang terlunta-lunta itu sebenarnya sudah siap bila nanti diperlakukan sebagai budak. Ia memang sudah kehilangan hak sebagai anak (ay. 19). Tetapi apa yang terjadi? Ketika melihat dari jauh anaknya ini datang kembali, sang ayah segera lari menyongsongnya. Bahkan sebelum anak itu sempat mengucap minta ampun, sang ayah sudah memeluk dan menciumnya (ayat 20b).

Keempat belas, pembaca atau pendengar perumpamaan ini akan terhenyak dan berpikir. Dan di sinilah terletak warta perumpamaan itu. Kita diajak menyadari bahwa Allah yang diperkenalkan Yesus dengan perumpamaan ini bertindak seperti sang ayah yang pengampun dan pemurah itu. Pola berpikir dan bertindak yang berlandaskan pada “pendosa mesti dihukum” dan “orang baik mesti diberi pahala”, sama sekali tidak memadai untuk memperkenalkan Allah.

Kelima belas, ketika si anak sulung itu marah dan tidak bersedia masuk ke dalam rumah ikut berpesta, ayahnya keluar menemuinya dan membujuknya (ay. 28). Ia bersikap sama seperti terhadap anak bungsu yang kembali tadi. Ayah itu pergi menemui yang membutuhkannya dan tidak diam menunggu di dalam rumah.

Keenam belas, menarik bahwa dalam perumpamaan ini si anak sulung ini hanya tampil di luar rumah. Tidak pernah ia disebut ada di dalam rumah. Anak bungsu yang kembali tadilah yang bergerak dari luar ke dalam rumah. Dan ayah mereka keluar masuk rumah untuk membawa mereka berdua masuk ke dalam rumah!

Ketujuh belas, ada satu hal lagi yang ingin ditambahkan. Ayah itu barusan ketambahan “harta baru” yang khusus, yakni “adikmu” yang tadi mati – putus haknya sebagai anak – kini hidup kembali dan mau menjadi anak lagi, yang telah hilang kini kembali (ay. 32). Dengan memakai kata “adikmu” itu sang ayah sebenarnya ingin mengajak anak sulung itu berbagi “harta baru”, yakni kegembiraan menemukan “kekayaan baru” (adiknya yang kembali) ini!

Riwayat anak bungsu dan anak sulung dalam perumpamaan yang kita renungkan ini menggambarkan kebesaran Allah. Ia mencintai si bungsu yang “pendosa” dan mengasihi si sulung yang “kaku hati” itu. Allah yang diperkenalkan oleh Yesus, bukannya duduk mengadili atau menghukum. Ia adalah Allah yang “tergopoh-gopoh” mendatangi orang yang remuk hatinya.

Allah ini juga mengajak kita untuk berbagi kegembiraan ketika ada anak-Nya yang mati (karena berdosa, meninggalkan rumah Allah) dan hidup kembali (dengan kembali kepada-Nya dan tinggal di rumah bersama-Nya).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

22 March 2025

BERTOBAT SECARA BENAR

BERTOBAT SECARA BENAR

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah ke-3 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 13:1-9) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama mengisahkan dua kejadian yang dapat menjadi bahan pelajaran untuk “bertobat” (ay. 1-3 dan 4-5). Bagian kedua (ay. 6-9) berupa sebuah perumpamaan yang melengkapi ajakan tadi.

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [dengan membaca teks yang terdapat dalam Alkitab].

Pertama, kejadian yang dilaporkan kepada Yesus dalam (ay. 1) tentang orang-orang Galilea yang tersangkut dalam gerakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Roma. Mereka ditangkap oleh Pilatus ketika berziarah ke Yerusalem lalu dibunuh seperti korban sembelihan yang mau mereka bawa ke Bait Allah. Gubernur Romawi itu memang terkenal kejam menumpas beberapa upaya pemberontakan.

Kedua, mengapa peristiwa itu diceritakan kepada Yesus? Bila dimaksudkan untuk mengetahui pandangan politik Yesus, yang juga berasal dari Galilea, kiranya tidaklah tepat. Hal ini tercermin dari penuturan penginjil Lukas tentang Yesus yang juga membicarakan nasib delapan belas orang Yerusalem yang mati tertimpa menara di Siloam (ay. 4).

Ketiga, karenanya lebih bermanfaat bila perhatian dipusatkan pada reaksi Yesus terhadap dua peristiwa itu (ay. 2-3 dan ay. 4b-5). Dengan tanggapan-Nya itu, Yesus menolak gagasan dan keyakinan bahwa pengalaman buruk, malapetaka, atau kematian yang tidak wajar adalah hukuman akibat dosa atau kesalahan.

Keempat, Yesus menandaskan bahwa baik orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus maupun orang-orang Yerusalem yang tertimpa menara dekat Siloam itu tidak lebih berdosa daripada orang-orang lain (ay. 2-3a dan ay. 4-5a). Selanjutnya Yesus mengajak semua orang untuk mulai memperbaiki diri sendiri dahulu dan bertobat (ay. 3b dan 5b).

Kelima, bertobat dalam bahasa Kitab Suci berarti semakin mengalihkan kehidupan dan perhatian kepada Tuhan sambil menyadari pelbagai kekeliruan yang telah terjadi. Artinya, orang yang merasa terhukum diajak agar tidak lagi memandang diri selalu berada dalam keadaan seperti itu. Orang yang merasa beres di hadapan Tuhan masih perlu belajar agar tidak dibuai keyakinan bahwa semuanya sungguh beres. Orang yang merasa sudah menjalankan agama dengan baik juga diajak agar berhati-hati supaya tidak memperalat agama demi gengsi atau kepentingan dirinya sendiri.

Keenam, penginjil Lukas menggunakan dua nama tempat (Galilea dan kota Yerusalem) untuk merajut injilnya. Di Israel ada tiga wilayah: paling utara disebut Galilea, paling selatan dikenal dengan nama Yudea (di wilayah ini terletak Yerusalem), antara kedua wilayah tersebut terdapat Samaria. Orang Yudea, terutama yang dari Yerusalem, tidak begitu menyukai orang Samaria maupun orang Galilea. Memang ada persaingan bebuyutan antara orang Galilea dengan orang dari Yerusalem dan sekitarnya.

Ketujuh, daerah Galilea umumnya lebih makmur karena lahan pertanian di sana subur dan penduduknya menikmati perekonomian yang lebih maju. Beberapa waktu sebelum zaman Yesus juga mulai berkembang pesat bisnis perikanan danau. Secara politik, Galilea juga lebih sering bergolak daripada Yerusalem. Orang-orang Galilea lebih berani menghadapi kekuasaan asing, baik itu Yunani maupun Romawi.

Kedelapan, tetapi di Galilea terdapat masalah yang sangat serius, yakni adanya ketimpangan sosial kendati secara umum wilayah itu cukup berkembang. Orang yang memiliki kemungkinan untuk maju sering kurang peduli terhadap kaum yang berkekurangan. Maka seruan Yesus agar mereka menarik pelajaran dari kejadian orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus itu juga merupakan seruan agar orang menumbuhkan kepedulian terhadap orang-orang miskin.

Kesembilan, orang Yerusalem merasa lebih memiliki prestise di bidang agama, karena pusat ibadat berada di kota itu dan para pemimpin agama juga tinggal di sana. Oleh karena itu, orang Yerusalem acapkali agak memandang rendah orang Galilea. Gema sikap ini terdengar dalam Yoh 1:46 ketika Natanael berkomentar mengenai Yesus, orang Galilea itu, dengan mengatakan: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret (sebuah kota di Galilea)?”

Kesepuluh, dalam ayat 4 ada sindiran bahwa orang-orang Yerusalem bukanlah orang suci. Menarik diperhatikan bahwa dalam ayat itu nama kota itu ditulis sebagai “Ierousaleem”; artinya, kota kezaliman: kota sejauh dihuni oleh orang-orang yang menolak kehadiran Yesus (utusan Allah).

Kesebelas, ajakan untuk bertobat (ay. 5b) berarti berusaha menjadi orang-orang yang menerima Yesus. Bertobat dari “Ierousaleem” (kota kezaliman yang menolak Yesus) menjadi “Hierosolyma” (kota kedamaian, kota yang menerima kedatangan Yesus).

Kedua belas, singkatnya, masalah di Galilea ialah perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, adanya ketidak-adilan sosial yang makin memojokkan orang miskin. Masalah orang Yerusalem adalah sikap saleh tetapi sombong, merasa aman, “self-righteous”, mau mengatur Tuhan demi kepentingan diri sendiri.

Ketiga belas, memang tobat lebih gampang digambarkan dengan menampilkan hal-hal yang mengerikan yang bakal terjadi bila orang tidak melakukannya. Namun pembicaraan seperti itu tidak banyak faedahnya bila tidak disertai kepercayaan akan kemurahan Tuhan serta usaha untuk membuat orang sungguh merasakan kemurahan hati-Nya.

Keempat belas, penginjil Lukas menyatukan seruan bertobat yang nadanya keras itu dengan kemurahan hati Tuhan, dengan perumpamaan (ay. 6-9) yang menjelaskan bagaimana kerahiman Tuhan tersebut bisa menjadi kenyataan. Pohon ara yang tidak berbuah selama tiga tahun itu masih mendapat kesempatan setahun lagi untuk berbuah dan menjadi pohon yang baik!

Kelima belas, hal itu terjadi karena peran pengurus kebun. Ia tidak hanya memintakan kelonggaran (ay. 8a) tetapi juga bersedia mengusahakan agar pohon ara yang mandul itu bisa menjadi baik; ia menggemburkan tanah sekeliling, ia memberi pupuk (ay. 8b).

Keenam belas, pengurus kebun itu bukan administrator yang bekerja atas dasar kalkulasi untung rugi melulu. Ia adalah orang yang mencari mereka-mereka yang sulit, yang sudah tanpa harapan lagi. Ia adalah orang yang masih berani mendekati mereka-mereka yang menjengkelkan Tuhan sendiri, sehingga mau berubah.

Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa dua wilayah (Galilea dan Yerusalem) itu melambangkan dua tipe kedosaan yang perlu kita jauhi: (1) kelekatan pada kekayaan sehingga melupakan sesama (“dosa orang Galilea”), dan (3) sikap merasa diri sudah menjadi orang lurus sehingga berlaku munafik dan bahkan memusuhi Yesus, orang suruhan Tuhan sendiri (“dosa orang Yerusalem”). Injil ini juga mengundang kita untuk menjadi “pengurus kebun”, yang berani dan bersedia mengingatkan serta membantu orang-orang yang hidupnya “mandul” agar mendekat kepada Tuhan sehingga hidupnya menghasilkan banyak buah kebaikan.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 




 

Lihat selengkapnya

16 March 2025

MENGENALI SIAPA YESUS ITU SEBENARNYA

MENGENALI SIAPA YESUS ITU SEBENARNYA

 Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan menikmati kembali semua kebaikan Allah yang sudah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah kedua tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 9:28b-36) menceritakan bagaimana Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami penampakan kemuliaan Yesus di atas gunung.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut. [Saya sarankan ketika Anda membaca catatan-catatan ini, Anda juga membaca teksnya dalam Alkitab].

Pertama, dengan penekanan yang di sana sini agak berbeda, peristiwa ini juga diceritakan dalam Mrk 9:2-10 dan Mat 17:1-9, namun Injil Lukas menampilkan beberapa hal khusus (Luk 9:31-33a).

Kedua, penampakan kemuliaan Yesus ini diceritakan untuk menjawab pertanyaan siapa Dia itu sebenarnya: (1) pertanyaan Yohanes Pembaptis (Luk 7:18-23), (2) pertanyaan Herodes (Luk 9:7-9), (3) pertanyaan Yesus kepada para murid-Nya (Luk 9:18-20). Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu menampakkan bahwa Dia itulah Mesias yang dinanti-nantikan banyak orang. Kehadiran-Nya tidak mungkin didiamkan saja, karena memang Dia itu Mesias dari Tuhan, tetapi yang betul-betul manusia.

Ketiga, tetapi Yesus lebih suka menjelaskan diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang harus mengalami penderitaan, wafat dan kebangkitan (Luk 9:22). Inilah sebetulnya ke-Mesias-an yang dijalankan-Nya.

Keempat, dalam peristiwa penampakan kemuliaan, Yesus dinyatakan oleh Allah sebagai “anak-Ku yang Kupilih” (Luk 9:35); suatu ungkapan yang menggarisbawahi penugasan yang khusus. Penugasan apa? Bagaimana penugasan itu dimengerti oleh Yesus? Pembicaraan antara Yesus dengan Musa dan Elia dapat menjelaskannya.

Kelima, gunung serta awan melambangkan tempat hadirnya Yang Ilahi. Dalam Kel 24:12-18 dikisahkan bagaimana Musa disuruh Tuhan naik ke atas gunung itu. Dan ketika Musa sudah di atas, ada awan menutupinya. Musa berada di atas gunung menerima Taurat dari Tuhan sedangkan orang-orang lain berada di bawah. Begitu pula menurut 1Raj 19:8-18 Tuhan menyatakan diri kepada Elia di gunung Horeb.

Keenam, kedua tokoh (Musa dan Elia) yang muncul dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus itu adalah tokoh-tokoh yang pernah menjumpai Tuhan dalam kemuliaan-Nya di gunung-Nya yang keramat. Kedua orang yang akrab dengan Tuhan itu kini datang bercakap-cakap dengan Yesus, juga di atas gunung.

Ketujuh, diutarakan dalam Luk 9:31 bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanan”-Nya yang akan dipenuhinya nanti di Yerusalem. Yang dimaksud adalah penderitaan-Nya: ditolak oleh para pemimpin dan bahkan dibunuh, tetapi Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga. Hal ini sudah disebutkan-Nya sendiri dalam Luk 9:22, beberapa ayat sebelum kisah penampakan kemuliaan di gunung.

Kedelapan, kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “tujuan perjalanan” Yesus adalah “exodos” (keluaran). Kata itu sama dengan nama kitab kedua dalam Taurat (Kitab Keluaran), yang mengisahkan keluaran umat Tuhan dari perbudakan di Mesir untuk menjadi umat Tuhan yang merdeka.

Kesembilan, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus di Yerusalem juga merupakan sebuah “keluaran.” Artinya, keluaran bagi umat manusia dari perbudakan kekuatan dosa, dari kekuatan-kekuatan yang memisahkan manusia dari Tuhan.

Kesepuluh, yang dilakukan Yesus di Yerusalem dengan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya adalah membawa manusia kembali kepada Tuhan. Inilah (“keluaran”) yang dimaksud dengan penugasan kepada Yesus sebagai anak yang dipilih Tuhan sendiri.

Kesebelas, terdengar suara dari dalam awan: “Dengarkanlah Dia!” (Luk 9:35). Kata-kata ini bukan hanya ditujukan kepada ketiga murid yang diajak ke gunung, tetapi juga kepada setiap orang yang mendengarkan Injil. Diajarkan agar ada perubahan dari sikap bertanya-tanya siapa Yesus itu dan usaha mencari jawabannya, menjadi sikap mendengarkan-Nya dengan khidmat.

Keduabelas, hanya dengan “mendengarkan” dalam arti di atas (catatan kesebelas) orang akan sampai pada pengertian yang mendalam mengenai siapa Yesus itu sebenarnya. Sikap mendengarkan seperti ini juga akan membantu orang mampu menerima hal-hal yang terasa sulit diterima: penderitaan dan wafat-Nya nanti.

Ketiga belas, dalam Injil Lukas disebutkan tujuan Yesus naik ke gunung adalah “untuk berdoa” (Luk 9:28b). Injil-Injil lain tidak menyebutkannya. Hal ini dilakukan oleh penginjil Lukas untuk menjelaskan bahwa Yesus naik ke gunung bukan untuk menampakkan kemuliaan-Nya, melainkan untuk berdoa; artinya, membuka diri terhadap kehadiran Allah. Justru ketika Ia sedang berdoa di tempat itu, murid-murid-Nya menyaksikan kemuliaan-Nya. Kemuliaan Yesus adalah kemuliaan orang yang terbuka bagi kehadiran Allah.

Keempat belas, dikatakan bahwa “Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu” (Luk 9:32). Sebenarnya mereka itu dibangunkan oleh penampakan kemuliaan Yesus. Jadi bukan terbangun dan kemudian menyaksikannya.

Kelima belas, reaksi Petrus yang menawarkan tiga tenda itu (Luk 9:33) penuh arti. Dulu (sebelum Raja Salomo membangun Rumah [bagi] Tuhan], Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya di dalam tenda. Petrus kiranya berpikir, kini Tuhan sebaiknya dihadirkan dalam tenda juga.

Keenam belas, namun sesaat kemudian dikatakan bahwa ketika terdengar suara yang mengatakan Yesus itu anak terpilih yang patut didengarkan, “tampaklah Yesus seorang diri” (Luk 9:36. Ia kembali seperti biasa. Dan Dia itulah yang kini patut didengarkan. Bukan usaha untuk mendengar atau mencari kehadiran yang ada di “tenda”. Dengan kata lain, “tenda” kehadiran ilahi yang sesungguhnya kini ada dalam ujud Yesus yang berada di tengah-tengah orang banyak itu.

Ketujuh belas, pada akhir kisah dikatakan bahwa ketiga murid itu “diam dan tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu” (Luk 9:36b). Terjemahan ini kurang tepat. Mestinya, mereka “diam seribu bahasa.” Artinya, mereka memang belum memahaminya. Mereka masih perlu waktu untuk mengolahnya dengan “mendengarkannya” (lihat catatan kesebelas dan kedua belas) agar dapat memahami apa yang baru saja mereka alami.

Masa Prapaskah merupakan masa untuk memahami Yesus lewat jalan yang dilalui-Nya sendiri: jalan yang membangun kembali kemanusiaan di hadapan Tuhan. Dalam perjalanan ini secercah tanda kemuliaan-Nya tampak. Seperti ketiga murid itu, kita perlu “diam dan mendengarkan”:  mengendapkan pengalaman sebelum berbicara mengenai siapa Yesus  kepada banyak orang. Masa Prapaskah juga merupakan masa yang dikhususkan agar kita makin akrab dengan Yesus yang kita dengarkan itu.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 

 

Lihat selengkapnya

8 March 2025

PILIH! DITUNTUN OLEH ROH ALLAH ATAU DIGENDONG OLEH SETAN

PILIH! DITUNTUN OLEH ROH ALLAH ATAU DIGENDONG OLEH SETAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak di tengah kekalutan situasi politik dan ekonomi di negeri kita. Selamat merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan, sehingga kita tetap mampu berharap. Semoga tidak ada di antara Anda yang terkena banjir.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah pertama tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 4:1-13) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok berbicara tentang Yesus yang digodai oleh Setan namun tetap memilih dibimbing oleh Roh Allah.

Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, Yesus “dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (ay. 1). Artinya, Roh Kudus yang menggerakkan Yesus ke padang gurun, juga tetap menemani-Nya selama Ia berada di sana selama 40 hari. Roh Kudus tidak pernah meninggalkan Yesus sendirian.

Kedua, Yesus berada di “padang gurun” (ay. 1), artinya Ia berada di tempat yang sepi dari keramaian dunia agar menjadi makin peka terhadap kehadiran Roh Allah. Namun di padang gurun Yesus juga makin melihat Iblis dalam ujud yang paling kuat. “Padang gurun” adalah tempat senyap dan saat hening untuk mendalami pengalaman batin berjumpa dengan dua kekuatan tersebut.

Ketiga, selama 40 hari Yesus dicobai oleh Iblis (ay. 2). Empat puluh hari adalah masa yang cukup lama yang mematangkan suatu pengalaman batin.

Keempat, hanya penginjil Lukas (4:3-12) dan Matius (4:3-10) yang menyebutkan isi godaan; Injil Markus (1:13) tidak melakukannya. Ada tiga macam godaan, yakni (1) mengenyangkan diri dengan menyuruh batu menjadi makanan (Luk 4:3-4; bdk. Mat 4:3-4), (2) mendapat kuasa duniawi asal mau menyembah Iblis (Luk 4:5-8 4 bdk. Mat 4:8-10), dan (3) menuntut agar Allah melakukan mukjizat untuk menolong-Nya bila Ia menerjunkan diri dari bubungan atap Bait Allah (Luk 4:9-12; bdk. Mat 4:5-7).

Kelima, ketika jelas bahwa Yesus tetap memilih berada dengan Roh Kudus, maka mundurlah Iblis menantikan saat yang tepat (ay. 13). “Saat yang tepat/baik” terjadi ketika Iblis merasuki Yudas (Luk 22:3). Yesus yang sebentar lagi akan sendirian mengalami pergumulan batin di taman Getsemani (Luk 22:39-46) diberatkan dengan pengkhianatan salah satu dari murid-murid yang paling dekat dengan-Nya (Luk 22:4-6; 47). Ini ujian terbesar bagi-Nya. Di situ Yesus mengalami godaan untuk meninggalkan semua yang telah dibuat-Nya hingga saat itu (Luk 22:42a). Tetapi kita tahu bahwa Ia tetap memilih untuk terus melaksanakan kehendak Allah (Luk 22:42b).

Keenam, dalam alam pikiran Kitab Suci, Roh (Kudus) adalah kekuatan yang tidak kelihatan, yang menggerakkan dan mengikutsertakan siapa dan apa saja yang ditemuinya. Dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kerap dijumpai ungkapan Roh Tuhan turun ke seorang tokoh; artinya, tokoh itu mulai digerakkan oleh kekuatan-kekuatan ilahi dan oleh karenanya akan mengerjakan hal-hal luar biasa. Hal ini juga terjadi pada Yesus sendiri (Luk 4:18-19).

Ketujuh, disebutkan dalam godaan kedua (Luk 4:5-6) bahwa semua kekuasaan dan kemuliaan kerajaan dunia telah diserahkan kepada Iblis dan ia dapat memberikannya kepada siapa saja (ay. 6). Dalam kesadaran orang zaman itu, dunia manusia memang ada dalam kuasa yang jahat. “Yang jahat” betul-betul berpengaruh besar di dalam dunia kehidupan manusia. Ia menggoda siapa saja untuk menerima semua “kemuliaan dan kekuasaan tersebut” asalkan mengikuti dia dan menyembahnya.

Kedelapan, godaan Iblis itu begitu besar dan kuat. Oleh karenanya, kebutuhan akan datangnya Penyelamat makin terasa pula. Orang bisa terluput dari godaan itu bila diselamatkan oleh kurban diri Yesus, Sang Penyelamat. Itulah sebabnya, Yesus, Sang Penyelamat, juga digoda oleh Iblis agar tidak jalan terus bersama Roh Allah, melainkan mau mengikuti kehendaknya, sehingga orang tidak dapat diselamatkan.

Kesembilan, Yesus pun diiming-imingi dengan godaan tersebut (ay. 6-7). Godaan menerima kekuasaan dan kemuliaan merupakan godaan yang teramat besar. Kejadian di taman Getsemani menggemakan kembali godaan itu. Yesus memang ingin lepas dari kesengsaraan yang bakal dialami asalkan memang demikian kehendak Bapa-Nya (Luk 22:42). Ia tetap berpegang pada kehendak Allah dan tidak menyerah kepada kekuatan yang jahat.

Pengalaman Yesus di padang gurun (dan di taman Getsemani) dapat juga terjadi pada banyak orang lain, juga pada diri kita. Makin dalam orang menghayati pengalaman batinnya, makin jelas gerakan-gerakan yang ada di situ. Kita semua digoda untuk memilih dituntun oleh Roh Allah atau digendong Iblis. Dalam pilihan pertama, dituntun oleh Roh Allah, kita perlu berusaha berjalan terus kendati menghadapi berbagai macam kesulitan dengan harapan akan berakhir dengan kemenangan. Pilihan yang lain, digendong oleh Setan, bisa membuat orang enak-enak, tetapi tidak lagi bersama Roh Allah dan akan berakhir dengan kehancuran dan kematian. Semoga kita dimampukan untuk membuat pilihan yang tepat.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


 

Lihat selengkapnya

8 March 2025

PESAN PRAPASKAH 2025 PAUS FRANSISKUS

Pesan Prapaskah 2025 Paus Fransiskus

Saudara dan saudari yang terkasih,

Kita memulai masa Prapaskah dalam iman dan harapan dengan ritus penitensi pengurapan abu. Gereja, sebagai ibu dan guru, mengundang kita agar membuka hati kepada rahmat Allah sehingga kita dapat merayakan dengan penuh sukacita kemenangan Paskah Kristus Tuhan atas dosa dan maut, yang membuat Santo Paulus berseru, “Maut telah disingkirkan. Di manakah kemenangan dan sengatmu, hai maut?” (1 Kor 15:54-55). Sesungguhnya, Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit, adalah inti iman dan janji pengharapan akan janji agung Tuhan sebagaimana telah digenapi dalam diri Putra-Nya yang terkasih: hidup yang kekal (bdk. Yoh 10:28; 17:3).1 

Pada masa Prapaskah ini, dalam rahmat Tahun Yubileum, saya ingin berefleksi tentang apa artinya berjalan bersama dalam pengharapan dan tentang panggilan pertobatan yang Allah sampaikan kepada kita, baik sebagai individu maupun komunitas.

Pertama adalah perjalanan. Semboyan Yubileum, “Peziarah Pengharapan,” menggambarkan perjalanan panjang bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian seperti dikisahkan dalam Kitab Keluaran. Jalan yang sulit dari perbudakan menuju kebebasan ini dikehendaki dan dibimbing oleh Tuhan yang mengasihi umat-Nya dan tetap setia kepada mereka. Sulit memikirkan tentang eksodus dalam Alkitab tanpa memikirkan saudara-saudari kita yang pada zaman ini sedang melarikan diri dari situasi kesengsaraan dan kekerasan untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai. Panggilan pertama untuk bertobat datang dari kesadaran bahwa kita semua adalah peziarah dalam hidup ini; masing-masing dari kita diundang untuk sejenak berhenti dan bertanya bagaimana hidup kita mencerminkan kenyataan ini. Apakah kita benar-benar sedang dalam perjalanan ataukah sedang berdiam diri, tidak bergerak, baik karena ketakutan dan keputusasaan maupun keengganan keluar dari zona nyaman kita? Apakah kita mencari cara untuk meninggalkan kesempatan-kesempatan berbuat dosa dan situasi yang merendahkan martabat manusia? Ini akan menjadi laku Prapaskah yang baik untuk membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan kehidupan para migran atau orang asing, untuk belajar bagaimana bersimpati dengan pengalaman mereka sehingga dengan cara ini kita menemukan apa yang dikehendaki Tuhan sehingga kita dapat maju lebih baik dalam perjalanan ke rumah Bapa. Ini akan menjadi “ujian hati nurani” yang baik bagi kita para peziarah.

Kedua, berjalan bersama. Gereja dipanggil untuk berjalan bersama dan menjadi sinodal.2 Umat kristiani dipanggil untuk berjalan bersama orang lain, bukan sendirian. Roh Kudus mendorong kita agar tidak mementingkan diri sendiri melainkan menyangkal diri dan terus berjalan bersama Allah dan semua saudara kita.3 Berjalan bersama berarti mengkonsolidasikan kesatuan yang didasarkan pada martabat sebagai anak-anak Allah (bdk. Gal 3:26-28). Ini berarti berjalan beriringan, tanpa mendorong atau menginjak orang lain, tanpa iri hati atau kemunafikan, tanpa membiarkan siapapun tertinggal atau tersisih. Marilah kita semua berjalan ke arah yang sama, menuju tujuan yang sama, saling memperhatikan satu sama lain dalam kasih dan kesabaran.

Pada masa Prapaskah ini, Tuhan meminta kita untuk memeriksa apakah dalam hidup, keluarga, dan tempat kerja, kita mampu berjalan bersama dengan orang lain, mendengarkan mereka, dan melawan godaan untuk menjadi egoistis. Marilah kita merenung di hadapan Tuhan, entah sebagai uskup, imam, biarawan/biarawati, ataupun awam yang melayani Kerajaan Allah, sudah bekerja sama dengan orang lain. Apakah kita sudah bisa menunjukkan keramahtamahan secara konkret kepada mereka yang dekat maupun jauh? Apakah kita membuat orang lain merasa menjadi bagian dari komunitas atau malahan kita menjaga jarak dengan mereka?4 Oleh karenanya, inilah ajakan pertobatan kedua, yaitu panggilan untuk sinodalitas.

Ketiga, marilah kita berjalan bersama dalam pengharapan sebab kita telah diberi janji. Semoga pengharapan yang tidak mengecewakan (bdk. Rom 5:5), sebagai pesan utama Yubileum5 menjadi fokus peziarahan Prapaskah kita menuju kemenangan Paskah. Seperti yang diajarkan oleh Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Spe Salvi, “Manusia membutuhkan cinta tanpa syarat.  Ia membutuhkan kepastian yang memampukannya berkata, ‘Baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu yang lain dari segala yang ada, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Rom 8:38-39).”6  Kristus, pengharapan kita, telah bangkit!7 Dia hidup dan meraja dalam kemuliaan. Kematian telah diubah menjadi kemenangan, dan iman serta pengharapan besar umat Kristiani terletak pada hal ini, yaitu kebangkitan Kristus!

Maka, inilah panggilan ketiga untuk bertobat, yaitu panggilan untuk berharap dan percaya kepada Allah dan janji agung-Nya atas kehidupan kekal. Marilah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita yakin bahwa Tuhan mengampuni dosa-dosa kita? Atau apakah kita bertindak seolah-olah dapat menyelamatkan diri sendiri? Apakah kita merindukan keselamatan dan meminta pertolongan Tuhan untuk mendapatkannya? Apakah secara konkret kita mengalami pengharapan yang memampukan kita menafsirkan peristiwa-peristiwa sejarah dan mengilhami komitmen dalam diri terhadap keadilan dan persaudaraan, untuk merawat rumah kita bersama sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun merasa dikecualikan?

Saudara-saudara yang terkasih, berkat kasih Allah di dalam Yesus Kristus, kita ditopang dalam pengharapan yang tidak mengecewakan (bdk. Rom 5:5). Pengharapan adalah “jangkar jiwa yang teguh dan pasti.”8  Pengharapan ini menggerakkan Gereja untuk mendaras doa agar “semua orang diselamatkan” (1 Tim 2:4) dan menantikan persatuannya dengan Kristus, sang mempelai laki-laki di dalam kemuliaan surga. Inilah doa Santa Teresa dari Avila, “Berharaplah, hai jiwaku, berharaplah. Engkau tidak tahu hari maupun saatnya. Berjaga-jagalah karena segala sesuatu berlalu dengan cepat meskipun ketidaksabaranmu telah membuat apa yang sudah pasti menjadi keraguan dan mengubah waktu yang sangat singkat menjadi waktu yang sangat panjang” (Seruan Jiwa kepada Tuhan, 15:3).9

Semoga Perawan Maria, Bunda Pengharapan, menjadi perantara bagi kita dan menemani kita dalam perjalanan Prapaskah kita.

Roma, pada pesta Santo Yohanes Lateran, 6 Februari 2025 dan peringatan Santo Paulus Miki dan para sahabat, martir.

Paus Fransiskus

Catatan-catatan: 

1  Bdk. Ensiklik Dilexit Nos (24 Oktober 2024), 220 .

2 Bdk. Homili Misa Kanonisasi Giovanni Battista Scalabrini dan Artemide Zatti, 9 Oktober 2022.

3 sda.

4  sda.

5 Bdk. Bulla Spes Non Confundit , 1.

6 Ensiklik Spe Salvi (30 November 2007), 26.

7 Bdk. Urutan Paskah (Easter Sequence/Victimae paschali laudes).

8 Bdk. Katekismus Gereja Katolik , 1820.

9 sda, 1821.

Artikel ini merupakan terjemahan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo pada tanggal 26 Februari 2025 dari artikel “Message of His Holiness Pope Francis for Lent 2025.” link https://www.vatican.va/content/francesco/en/messages/lent/documents/20250206-messaggio-quaresima2025.html.

Lihat selengkapnya