Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

12 September 2026

PENGAMPUNAN DAN BELAS KASIH MEMBUAT KEHADIRAN KERAJAAN SURGA SEMAKIN NYATA

PENGAMPUNAN DAN BELAS KASIH MEMBUAT KEHADIRAN KERAJAAN SURGA SEMAKIN NYATA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah, yang telah kita terima selama sepekan di tengah-tengah berbagai macam bencana yang mengancam kehidupan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-24 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 18:21-35) berkisah tentang berapa kali seorang murid Yesus harus mengampuni sesama yang bersalah kepadanya. Injil juga berbicara tentang hubungan antara  pengampunan dan belaskasih dengan Kerajaan Surga.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, ungkapan “7 kali” dan “70 kali 7 kali” dalam pembicaraan antara Petrus dan Yesus merupakan cara bertutur orang Yahudi dahulu untuk mengungkapkan cara pandang dan cara hidup mereka. Hal ini dilatari oleh Kitab Kejadian (Kej 4: 24) yang mengatakan bahwa membunuh nyawa Kain akan mendatangkan balasan “tujuh kali lipat”, tetapi kejahatan terhadap nyawa Lamekh, keturunan Kain, bakal dibalas bahkan sampai “tujuh puluh tujuh kali lipat.”

Kedua, “tujuh kali lipat” berarti “sampai penuh” dan “tujuh puluh tujuh kali lipat” berarti “tanpa batas.” Dengan ungkapan ini orang Perjanjian Lama menyadari bahwa kebiasaan balas dendam tidak boleh dilanjut-lanjutkan. Bila kebiasaan balas dendam dilakukan malah akan memperburuk keadaan.

Ketiga, pertanyaan Petrus kepada Yesus menggemakan upaya membatasi sikap balas dendam tadi. Petrus berpikir bahwa kalau seorang saudara melakukan kesalahan sampai “tujuh kali” (ay. 21b) masih bisa dimaafkan dan diampuni, tetapi lebih dari tujuh kali dianggap kelewat batas dan tidak perlu diampuni lagi!

Keempat, melalui jawaban yang diberikan kepada Petrus, Yesus mengajarkan bahwa semua itu tidak cukup. Orang mesti berani mengampuni sampai “tujuh puluh kali tujuh kali” (ay. 22); artinya, tidak berbatas. Malah tak usah memikirkan sampai mana. Sikap pengampun menjadi sikap hidup. Inilah yang mesti dimiliki oleh para murid Yesus.

Kelima, namun pusat perhatian Injil yang kita renungkan ini lebih dalam daripada mengampuni tanpa batas. Yang ingin diajarkan oleh Yesus adalah sikap pengampun dan belas kasih memungkinkan Kerajaan Surga menjadi nyata di muka bumi ini. Hal ini sebenarnya sudah jelas Ketika Yesus mengajarkan “Doa Bapa Kami” (Mat 6:9-13) kepada para murid-Nya.

Keenam, “Doa Bapa Kami” berawal dengan seruan pujian bagi nama Allah Yang Mahakuasa sebagai Bapa (Mat 6:9b) dan diteruskan dengan permohonan agar Kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya terlaksana (Mat 6:10), dan permintaan agar diberi kekuatan cukup untuk hidup dari hari ke hari (Mat 6:11). Dan baru setelah itu, dalam Mat 6:12, disampaikan permohonan agar “kesalahan kami diampuni”,  “seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Tampak jelas bahwa ukuran bagi dikabulkan tidaknya permintaan ampun tadi adalah kesediaan mengampuni saudara yang kita rasa bersalah terhadap kita.

Ketujuh, Injil yang kita renungkan ini juga memuat sebuah perumpamaan (ay. 23-35). Pada bagian pertama (ay. 23-27) digambarkan kebesaran seorang raja yang pengampun terhadap hambanya yang tidak dapat membayar hutangnya yang amat besar, yakni 10.000 talenta (ay. 24-25a). Satu talenta nilainya antara 6.000 hingga 10.000 dinar. Dan satu dinar adalah upah buruh harian sehari. Maka sepuluh ribu talenta itu jumlah yang amat besar, karena merupakan upah kerja buruh harian selama antara 60.000.000 sampai 100.000.000 hari; atau antara 164.383 sampai 273.972 tahun.

Kedelapan, dalam keadaan biasa hamba itu mesti dijual untuk menebus hutangnya, begitu juga anak dan istrinya serta seluruh harta miliknya (ay. 25b). Tetapi ia meminta kelonggaran dan mohon agar raja bersabar (ay. 26). Dan sang raja tergerak hatinya dan malah menghapus hutang yang besar itu (ay. 27). Raja itu sanggup merugi karena mau sungguh-sungguh menunjukkan belas kasih terhadap hamba yang berada dalam kesempitan itu.

Kesembilan, siapakah raja itu? Pada awal perumpamaan itu, disebutkan “Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja” (ay. 23). Dalam teks Injil Matius dipakai ungkapan “anthropos basileus” (Yunani: harfiahnya, “manusia yang berkedudukan sebagai raja” dan juga “raja yang tetap manusiawi”). Ungkapan itu mencerminkan gaya bahasa Semit, dan “manusia” di situ berarti “seorang”, tidak penting siapa. Bagaimanapun juga, hendak ditonjolkan bahwa tokoh yang bersangkutan itu adalah orang, manusia, seperti kita-kita ini, sesama yang bersedia menjadi saudara bagi orang lain, walau beda kedudukannya.

Kesepuluh, gagasan “raja” di atas (catatan ketujuh s/d kesembilan) bisa diterapkan kepada siapa saja yang mempunyai kuasa atas orang lain. Yang hendak ditampilkan adalah kebesaran orang yang berkedudukan. Makin tinggi kedudukannya makin patutlah ia menunjukkan kemurahan hati terhadap yang dibawahinya, karena pada dasarnya sama-sama manusia. Makin beruntung seseorang makin diharapkan dapat menyelami keadaan orang lain yang sedang bernasib malang. Makin seseorang beruntung makin boleh diharapkan sanggup merugi, sanggup kehilangan sebagian miliknya, sebesar apa pun, agar membuat orang lain (yang kurang beruntung) bisa ikut merasakan keberuntungannya. Itulah kebesarannya.

Kesebelas, cara berpikir demikian (catatan kesepuluh) ditonjolkan untuk menunjukkan adanya kesadaran bahwa setinggi apa pun, sekaya apa pun, orang tetap sesama bagi orang lain. Tetapi juga semalang apa pun, seterpuruk apa pun keadaan sosialnya, orang tetap bisa mengharapkan bantuan dari mereka yang lebih beruntung. Inilah yang bakal membuat Kerajaan Surga menjadi kenyataan di dunia ini juga.

Kedua belas, secara singkat, bagian pertama perumpamaan itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Surga dibangun atas dasar kesediaan mereka yang berkelebihan dalam berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Dimensi horisontal Kerajaan Surga digarisbawahi dengan jelas.

Ketiga belas, pada bagian kedua perumpamaan itu (ay. 28-30) muncul gambaran yang berkontras. Hamba yang dihapus hutangnya itu tidak mau meneruskan berbelaskasihan yang dialaminya kepada rekannya yang berhutang kepadanya hanya seratus dinar saja (ay. 28). Permintaan rekannya tidak digubris (ay. 29-30). Menarik bahwa tindakan bersujud dan permintaan kelonggaran rekannya ini (ay. 29) sama dengan yang dilakukannya sendiri di hadapan raja, majikannya tadi (ay. 26). Tetapi hal itu tidak menggerakkan hatinya. Ia tetap tidak mau berbagi keberuntungan (ay. 29). Rekannya malah dijebloskan ke dalam penjara sampai hutangnya dilunasi (ay. 30).

Keempat belas, dalam ay. 31 ada hal yang menarik. Rekan-rekan sekerja lain yang menyaksikan perlakuan kejam tadi menjadi sedih dan melaporkan kejadian itu kepada raja sang majikan hamba yang hutangnya dihapus tadi. Mereka berperan sebagai suara hati yang peka akan ke(tidak)adilan, peka akan kewajiban moral. Dan kepekaan ini menjadi keberanian bersuara mengungkapkan ketidakberesan.

Kelima belas, perumpaan berakhir dengan derita yang dialami oleh hamba yang kejam tadi. Ia tersiksa sampai melunasi hutangnya yang amat besar itu (ay. 34). Hal ini terjadi karena ia tidak mau bertindak seperti tuannya (ay. 33). Ia menolak menjadi saudara bagi rekan sekerjanya. Dan lebih dari itu, ia juga menolak menjadi saudara bagi tuannya sendiri.

Keenam belas, perumpamaan itu berakhir dengan perkataan: “Demikianlah juga yang akan diperbuat oleh Bapaku yang ada di surga terhadap kamu bila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (ay. 35). Terasa gema permintaan ampun dalam Doa Bapa Kami. Keikhlasan mengampuni kiranya menjadi tolok ukur integritas murid-murid Yesus. Ini menjadi cara hidup para pengikut-Nya.

Merenungkan Injil ini mengajak kita untuk berani membuka hati agar kita dapat mengalami pengalaman pengampunan dan belas kasih Alllah, agar pengalaman ini juga menjadi pola hidup kita. Sikap pengampun dan berbelas kasih memungkinkan kehadiran Kerajaan Surga dapat semakin dirasakan di muka bumi ini. Kerajaan Surga memang sudah datang, tetapi baru bertumbuh dan betul-betul bisa disebut membahagiakan bila yang mempercayainya juga ikut mengusahakannya, yakni dengan bersedia mengampuni dan berbagi keuntungan dengan mereka yang hidupnya kurang beruntung.

Selain itu, kita juga diundang untuk “menjadi suara hati” yang peka terhadap ke(tidak)adilan dan berani menyuarakan ketidakberesan.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

5 September 2026

SALING MEMBERIKAN PERHATIAN AGAR BERTUMBUH DALAM IMAN

SALING MEMBERIKAN PERHATIAN AGAR BERTUMBUH DALAM IMAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sekaligus merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-23 tahun A dalam kalender liturgi, yang sekaligus merupakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Bacaan Injil (Mat 18:15-20) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekatisti bertutur tentang salah satu cara untuk membangun hidup bersama dalam komunitas beriman, yakni mengampuni saudara yang melakukan kesalahan.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, Injil yang kita renungkan ini termasuk salah satu imbauan membangun umat yang didapati dalam Mat 18:1-35. Pertama-tama ditonjolkan pentingnya sikap tidak mementingkan diri sendiri (= bersikap sebagai “anak kecil” – Mat 18:1-5). Kedua, hukuman besar akan dialami orang yang kurang menghargai sikap ini (Mat 18:6-11). Ketiga, yang kehilangan arah hendaknya sungguh ditolong agar bisa berada bersama kembali bersama umat ( “domba yang hilang” perlu dicari sampai ditemukan – Mat 18:12-14). Keempat, oleh karena itu, perlu diusahakan agar yang salah ditegur dengan penuh perhatian (petikan hari ini – Mat 18:15-20). Akhirnya, kelima, juga perlu dipupuk sikap pengampun yang seikhlas-ikhlasnya (Mat 18:21-35).

Kedua, bahan petikan Injil yang kita renungkan ini diambil oleh penginjil Matius dari himpunan kata-kata Yesus yang beredar waktu itu dan diperluas dengan kenyataan yang ada di kalangan para murid yang berasal dari kalangan Yahudi tradisional. Tiga tahap memperingatkan kesalahan serta menegur saudara itu kiranya khas terjadi dalam umat Matius yang memang berlatarkan tradisi Yahudi.

Ketiga, upaya dalam umat untuk menyadarkan saudara yang melakukan kesalahan dilandasi oleh sikap peduli terhadap saudara seumat itu. Dengan demikian terbangun sikap saling percaya dan saling menopang secara moral. Inilah keutamaan yang dianggap lebih butuh dikembangkan di kalangan umat Matius.

Keempat, dalam bacaan Injil yang kita renungkan ini dipakai kata “saudara” (ay. 15) dan bukan “sesama”. Ungkapan “saudara” lebih berbicara mengenai lingkungan sendiri. Selain itu, juga lebih diutamakan sikap saling bertanggung jawab, saling mengurus kebaikan, saling memperhatikan kebutuhan seperti layaknya di antara anggota keluarga.

Kelima, sementara itu, ungkapan “sesama” berhubungan dengan kehidupan masyarakat yang mengutamakan solidaritas, kepentingan bersama, dan perlakuan terhadap orang lain sebagaimana diinginkan terjadi pada diri sendiri (bdk. Mat 22:39). Tetapi gagasan ini lebih diterapkan pada orang yang berada di luar kalangan sendiri.

Keenam, cara-cara menegur yang diikuti umat di sekitar Matius menunjukkan adanya keterbukaan satu sama lain. Karena itu, langkah pertama adalah mengajak bicara di bawah empat mata (ay. 15). Bila urusan selesai di situ, maka sudah cukup. Rasa saling percaya sudah terbangun. Tidak perlu melibatkan pihak-pihak lain sejak awal.

Ketujuh, tetapi bila yang bersalah tidak menggubris, perlu diambil langkah kedua, yakni  perlu didatangkan seorang atau dua orang saksi atau lebih (ay. 16). Maksudnya agar yang bersalah menyadari bahwa perbuatannya memang tidak bisa dibenarkan bukan hanya berdasarkan pendapat satu orang saja. Ada kesempatan melihat kedudukan diri sendiri dengan lebih kritis.

Kedelapan, tetapi bila ia tetap tidak bersedia mendengarkan, maka persoalannya patut dibawa ke kalangan yang dapat memutuskan apakah cara hidupnya sebetulnya sudah tidak lagi cocok dengan cara hidup umat (ay. 17a). Ia boleh memeriksa diri apakah sepadan bila tetap bersikeras mempertahankan sikapnya sendiri dengan akibat malah memisahkan diri dari umat.

Kesembilan, orang yang tidak mau memperbaiki diri akhirnya dikatakan berlaku sebagai orang yang “tidak mengenal Allah” (ay. 17b). Dalam umat yang berlatar tradisi Yahudi, orang yang dianggap demikian sebenarnya sudah tidak termasuk umat lagi. Juga disebut “pemungut cukai” (ay. 17b), gambaran mengenai orang yang tega bekerja bagi kepentingan penindas umat. Itulah gambaran paling buruk yang dapat dibayangkan.

Kesepuluh, dalam langkah-langkah tadi (catatan keenam s/d kesembilan) jelas bahwa orang yang bersangkutan tetap diperlakukan sebagai orang dewasa. Meskipun demikian, ia juga diharapkan berani bertanggung jawab atas kelakuannya sendiri. Dengan cara ini bisa terbangun rasa saling percaya. Para anggota umat juga dapat saling menunjang. Itulah dinamika dalam umat yang dilayani Matius. Terlihat betapa Matius sedemikian mementingkan terbangunnya umat yang saling menunjang.

Kesebelas, dalam Mat 18:18 Yesus berkata: “Apa pun (jamak) yang kamu ikat di dunia akan terikat di surga dan apa pun yang kamu lepaskan di dunia akan terlepas di surga.” Kata “kamu” dalam ayat ini merujuk kepada mereka yang hidupnya sesuai dengan tujuan umat, yakni mengikuti Yesus dan oleh karenanya dapat memberi tuntunan kepada orang lain. Mereka juga diminta memperhatikan keadaan umat.

Kedua belas, kata “apa pun” (jamak) menunjukkan bahwa yang diikat atau dilepaskan bukanlah orang, melainkan perkara, tindakan atau sikapnya. Mengenai orang, nanti akan diajarkan bahwa pengampunan baginya tidak terbatas (Mat 18:21-22; lihat juga Luk 17:4).

Ketiga belas, pada akhir kutipan Injil yang kita renungkan ini masih ditambahkan, bila dua orang atau lebih memohon kepada Bapa, maka permintaan itu pasti akan dikabulkan (ay. 19-20). Gagasan yang mendasarinya adalah bila pendapat satu orang mengenai apa yang baik bagi kehidupan umat diterima oleh orang lain sebagai pendapat yang jujur dan bisa dipertanggungjawabkan, maka pendapat tadi dijamin sejalan dengan yang dikehendaki oleh Yesus sendiri. Dan permohonan yang diungkapkan dengan dasar ini pasti dikabulkan Bapa.

Keempat belas, permohonan bersama yang dikatakan pasti dikabulkan seperti di atas (catatan ketiga belas) tidak dapat dipisahkan dari sikap saling percaya. Digarisbawahi dimensi horizontal iman kepercayaan. Digarisbawahi betapa besar artinya hubungan antara “umat dan diriku”. Dimensi vertikal dari iman, hubungan antara “Tuhan dan diriku”, saja belum mencukupi.

Petikan Injil yang kita renungkan ini lebih luas dari pada sekadar mengajarkan cara-cara kongkret menegur kesalahan atau berprihatin tentang orang lain. Tujuan utama dari petikan ini adalah membangun komunitas pengikut Yesus yang saling menopang. Diketengahkan bagaimana umat dapat semakin dewasa berkat adanya perhatian terhadap satu sama lain, juga dalam menunjukkan kekurangan saudara.

Pelajaran lain yang dapat kita petik dari merenungkan Injil ini adalah bahwa iman bukanlah kesediaan meng-“iya”-kan begitu saja pernyataan-pernyataan doktrin/ajaran, bukan pula sekadar melaksanakan aturan-aturan secara ketat. Iman Kristiani itu memang sepenuhnya pemberian dari atas, seutuhnya anugerah ilahi, tetapi pertumbuhan yang utuh bergantung pada kesediaan manusia mengembangkannya bersama-sama dalam komunitas, dalam umat. Inilah kreativitas iman yang hidup.


Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.





Lihat selengkapnya

29 August 2026

BERJALAN MENGIKUTI YESUS AGAR IMAN TIDAK MEMBEKU

BERJALAN MENGIKUTI YESUS AGAR IMAN TIDAK MEMBEKU

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan tetap berharap bahwa keadaan negara kita akan membaik.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-22 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 16:21-27) terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berbicara mengenai pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus (ay. 21). Bagian kedua menampilkan reaksi Petrus dan tanggapan Yesus terhadapnya (ay. 22-23). Bagian ketiga menyampaikan syarat-syarat untuk mengikuti Dia (ay. 24-27).

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan]. Renungan ini cukup panjang, maka hendaknya Anda bersabar dalam melakukannya.

Pertama, dalam Injil yang kita renungkan pekan yang lalu (Mat 16:13-20) Petrus, yang mewakili para murid, menyatakan bahwa Yesus adalah “Mesias, anak Allah yang hidup” (ay. 16). Namun dalam perikopa yang sama juga disebutkan bahwa “bukanlah manusia melainkan Bapa-Ku yang di surga” yang menyatakan kepada Petrus bahwa Yesus itu adalah “Mesias, anak Allah yang hidup.” Dengan “catatan” ini, penginjil Matius ingin mengatakan bahwa Kemesiasan Yesus tidak pertama-tama berasal dari kesan hebat yang ada di mata orang, tetapi karena Allah sendiri berkenan kepada-Nya. 

Kedua, perkenan Allah terhadap Yesus ini terungkap pada peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22), dan ditegaskan kembali dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mat 17:1-8; Mrk 9:2-8; Luk 9:28-36). Dalam kedua peristiwa itu juga terdengar suara dari langit yang menghimbau orang agar “mendengarkan Dia” (Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 3:22 dan Mat 17:5; Mrk 9:7; Luk 9:35).

Ketiga, “mendengarkan Dia” berarti mulai mengenal siapa Allah Yang Mahakuasa yang mengutus Yesus; yakni Dia yang bisa dipanggil sebagai Bapa. Lebih lanjut, barangsiapa yang mau mendengarkan-Nya dengan sungguh akan memahami peristiwa yang nanti terjadi pada diri sang Mesias ini, yakni ditolak para pemimpin agama, dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Semuanya itu terjadi sebagai akibat keteguhan-Nya pada perutusan-Nya tadi.

Keempat, pemberitahuan mengenai penolakan, kematian dan kebangkitan tadi disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya hingga tiga kali (pertama: Mrk 8:31-9:1 // Mat 16:21-27 // Luk 9:22-26; kedua: Mrk 9:30 // Mat 17:22-23 // Luk 9:33-45; ketiga: Mrk 10:32-34 // Mat 20:17-19 // Luk 18:31-34.). Dan tiap kali para murid mendengarnya, mereka tidak memahami pernyataan tadi. 

Kelima, setelah pemberitaan yang pertama tentang kesengsaraan-Nya, ketiga Injil langsung memberitakan penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mat 17:1-8; Mrk 9:2-8; Luk 9:28-36). Lebih menarik lagi, kedua peristiwa yang berurutan ini (pemberitaan pertama tentang kesengsaraan-Nya dan penampakan kemuliaan-Nya di gunung) disampaikan langsung setelah pengakuan Petrus mengenai kemesiasan Yesus. 

Keenam, urutan ketiga peristiwa tadi (pengakuan Petrus – pemberitahuan pertama kesengsaraan-Nya – penampakan kemuliaan) termasuk warta Injil juga. Ringkasnya, kemesiasan Yesus itu tidak menyangkal penderitaan. Yesus justru menghayati penderitaan itu sebagai jalan ke arah kebesaran-Nya.

Ketujuh, inilah pokok yang paling dalam dan sekaligus paling sulit diterima para murid Yesus. Satu-satunya cara untuk mengerti hal itu adalah “mendengarkan”-nya dan menerima kenyataan tadi. Artinya, hal itu hanya bisa dipahami oleh orang yang mau mempercayainya dengan tulus. Dengan demikian orang akan belajar mengakui ketergantungannya pada Yang Mahakuasa.

Kedelapan, dengan penuh spontanitas Petrus bermaksud mencegah agar Yesus tidak berjalan ke arah penolakan dan kematian tadi. Ia menegur Yesus dengan keras (ay. 22). Reaksi Yesus juga keras, amat keras. Petrus malah didampratnya sebagai “Iblis” (ay. 23).

Kesembilan, peristiwa ini (catatan kedelapan) mengingatkan kita pada peristiwa Yesus menghadapi godaan di padang gurun (Mat. 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13). Satu saat penggoda memperlihatkan seluruh kerajaan dunia dengan seluruh kemegahannya dan menawarkannya kepada Yesus asal Ia mau bersujud kepadanya. Reaksi Yesus ketika itu sama dengan yang kini diarahkan kepada Petrus: menghardik penggoda yang disebutnya “Iblis” dan mengusirnya pergi. Ditambahkannya kutipan ayat suci yang tegas-tegas mewajibkan orang menyembah hanya pada Tuhan Allah dan kepada-Nya sajalah berbakti (Mat 4:10). Inilah yang dipegang Yesus di padang gurun.

Kesepuluh, selain menghardiknya Yesus juga mengatakan kepada Petrus bahwa ia menjadi “batu sandungan bagi-Nya” (ay. 23b). Maksud baiknya malah akan menjauhkan Yesus dari jalan kemesiasan-Nya. Hal yang tidak berhasil dilakukan penggoda di padang gurun, kini hendak diusahakan oleh Petrus.

Kesebelas, teks asli bentakan Yesus dalam Mat 16:23 maupun dalam 4:10 harfiahnya sebenarnya berbunyi: “Pergi sana ke belakang-Ku Iblis!” Dalam konteks pengusiran, ungkapan “ke belakangku” jelas berarti “mundur pergi dariku”; maksudnya, menjauh, tidak lagi menghalang-halangi.

Kedua belas, tetapi bila ungkapan “kebelakangku” tadi dibaca seolah-olah didahului dan diikuti “tanda koma”, akan tampil juga perintah agar pindah ke belakang. Jadi dalam hardikan menyuruh enyah tadi tersirat juga perintah agar Petrus tahu tempatnya yang sebenarnya, yakni di belakang Yesus, sebagai pengikut-Nya, dan bukan sebagai yang mau mengarah-arahkan Dia yang baru saja diakuinya sebagai Mesias, anak Allah yang hidup tadi.

Ketiga belas, uraian di atas dapat membantu menjelaskan mengapa setelah mendamprat Petrus dengan cara tadi Yesus menambahkan serangkaian tuntutan keras. Siapa yang mau mengikuti-Nya, yakni yang mau berjalan di belakang dan tidak menaruh diri di muka atau menghalangi derap langkah-Nya itu, harus berani juga “menyangkal diri” (ay. 24).

Keempat belas, yang dimaksud dengan “menyangkal diri” di sini adalah menanggalkan praanggapan-praanggapan yang dimiliki mengenai Yesus. Orang diminta oleh Yesus agar tidak lagi memegang pendapat dan keyakinan yang tidak cocok mengenai siapa Yesus itu. Dengan cara ini ia dapat dengan tulus mengakui Dia sebagaimana adanya.

Kelima belas, penyangkalan diri seperti ini (catatan keempat belas) adalah cara untuk “memikul salibnya” (ay. 24b); yakni, jalan berbagi salib dengan-Nya dan mengimani-Nya. “Menyangkal diri” dan “memikul salib” akan sangat sulit bagi orang yang sikap keagamaan dan imannya sudah membeku dan tidak berkembang, serta hanya bisa mempercayai pikiran-pikirannya sendiri.

Keenam belas, dalam konteks “sikap keagamaan dan iman yang sudah membeku” itulah dibicarakan tentang “kehilangan nyawa karena Aku akan memperolehnya” (ay. 25b). Artinya, orang berani menanggalkan pikirannya sendiri dan meluangkan diri bagi Dia yang hidup dalam iman kita. 

Ketujuh belas, pertanyaan retorik “Apa gunanya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya!” (ay. 26a) perlu dihubungkan dengan peristiwa godaan di padang gurun ketika Iblis menunjukkan dan menawarkan kebesaran dunia kepada Yesus asalkan Yesus mau menyembahnya (Mat 4:9), dan Yesus menolaknya dengan berpegang pada ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah (Mat 4:10b).

Kedelapan belas, berdasarkan pengalaman pribadi-Nya itu, Yesus kini menjelaskan kepada murid-murid-Nya mengapa seluruh dunia tidak sepadan dengan kehidupan sejati yang perlu dijaga sampai akhir zaman (ay. 26b & 27). Mereka yang menjalani pilihan (= kehidupan sejati) tadi akan mendapati diri berjalan bersama Yesus sendiri.

Injil yang kita renungkan ini mengajak kita untuk meninggalkan pikiran-pikiran pribadi mengenai Yesus, dan menerima Dia sebagai Mesias yang perlu menerima penderitaan-Nya untuk dapat sampai pada kemulian-Nya. Dengan kata lain, kita diundang untuk tidak menjadi beku dalam memegang keyakinan iman dan keagamaan kita; melainkan terus berkembang dengan memberikan ruang dalam hidup kita bagi karya Allah.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

22 August 2026

MENGIKUTI YESUS SIAP MENJADI BATU KARANG

MENGIKUTI YESUS SIAP MENJADI BATU KARANG

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dari kepenatan menghadapi situasi negara kita yang semakin tidak baik-baik saja, dan mensyukuri rahmat Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-21 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 16:13-20) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Petrus yang menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus adalah Mesias, anak Allah yang hidup.

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil menyimak Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, hingga kini [sebelum perikopa yang kita renungkan ini] ketiga Injil Sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas) memperkenalkan Yesus terutama lewat ajaran-Nya, lewat penyembuhan yang dilakukan-Nya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya Dia itu dan bagaimana Ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa Dia ini lain dari pribadi-pribadi luar biasa lainnya. Siapakah Dia sesungguhnya?

Kedua, kala itu sudah mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini adalah Dia yang resmi ditugasi Allah mendatangi umat-Nya. Kedatangan-Nya dinanti-nantikan banyak orang. Dia-lah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dia-lah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri.

Ketiga, dalam waktu bersamaan juga ada pelbagai perkiraan di dalam masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Di Kaisarea Filipi para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada di dalam masyarakat mengenai diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (ay. 13).

Keempat, dengan memakai ungkapan “Anak Manusia”, Yesus hendak memperkenalkan diri-Nya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajaran-Nya, atau mengenai tindakan-Nya, atau mengenai kelakuan-Nya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa “Anak Manusia” tadi.

Kelima, ungkapan “Anak Manusia” dipakai Yesus untuk merujuk pada diri-Nya sendiri ketika orang memandang-Nya sebagai Mesias. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam kitab Daniel (Dan 7:13) yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.

Kenam, ternyata pandangan orang-orang dalam masyarakat tentang Yesus sangat beragam (ay. 14). Ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang. Ia juga dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan. Bahkan ada yang menganggap-Nya sebagi nabi Yeremia, yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia kepada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktik luar-luar saja.

Ketujuh, pendapat-pendapat orang banyak itu tidak bisa dikatakan meleset. Sekarang Yesus ingin mengetahui bagaimana para murid, yang sudah cukup lama mengikuti Dia, mendengarkan ajaran-Nya, dan menyaksikan cara hidup serta semua yang dilakukan-Nya, memahami siapa Diri-Nya itu. Karenanya, Ia tidak lagi menggunakan “Anak Manusia” melainkan “Aku” dalam pertanyaan yang ditujukan kepada mereka: “Menurut kamu, siapa Aku ini” (ay. 15).

Kedelapan, mewakili para murid lainnya, Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias [Mrk 8:29], Anak Alah yang hidup!” (ay. 16). Jawaban Petrus ini juga mencerminkan pemahaman para murid lainnya. Penginjil Matius mengulangi rumusan penginjil Markus, “Engkau adalah Mesias”, dan menambahkan ungkapan “Anak Allah yang hidup”. “Tambahan” ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiran-Nya di dunia. Penginjil Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan orang Yahudi waktu itu, harapan akan Mesias politik ini amat kuat.

Kesembilan, setelah penegasan tadi, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga (ay. 17). Kemudian Simon juga disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh alam maut (ay. 18). Ia juga disebut pemegang kunci surga (ay. 19). Tambahan ini tidak ada dalam tiga Injil lainnya.

Kesepuluh, batu karang (Yunani: petra) menjadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tidak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam.

Kesebelas, dikatakan juga bahwa “alam maut” (Yunani: hades; Ibrani: syeol) tidak akan bisa menguasainya; maksudnya, alam maut tidak akan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi. Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tidak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya adalah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tidak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai “batu karang” yang dapat menyumbat lubang ke alam maut tadi. Oleh Yesus ia dijadikan tempat mendirikan umat yang tidak akan terkuasai alam maut.

Kedua belas, gambaran di atas (catatan kesebelas) dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan [alam] maut tidak dapat masuk ke dalamnya! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut, akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tidak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut.

Merenungkan petikan Injil ini menyadarkan kita bahwa mengakui Yesus sebagai “Mesias, Anak Allah yang hidup” dan mengikuti-Nya, ternyata mengandung sebuah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab itu adalah “membendung” agar kekuatan-kekuatan maut tidak menghancurkan sesama kita yang lemah.

Kekuatan-kekuatan maut pada zaman ini berupa kebodohan dan pembodohan, kemiskinan dan pemiskinan, korupsi dalam berbagai macam bentuknya, ketidak pedulian terhadap penderitaan sesama dan teriakan bumi, pengrusakan bumi (ibu pertiwi) secara membabi buta, budaya membuang, ketikdak-adilan, diskriminasi dan kekerasan khususnya terhadap kaum perempuan dan difabel, sistem ekonomi yang tidak memihak kepada rakyat, pilitik sebagai perebutan kekuasaan untuk memperkaya diri, pembungkaman suara-suara kritis masyarakat sipil terhadap pemerintah, teknologi digital yang meremehkan martabat manusia, dan klerikalisme.

Semoga Yesus yang memanggil kita juga menguatkan kita untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

15 August 2026

MERAYAKAN MASA DEPAN KEMANUSIAAN KITA

MERAYAKAN MASA DEPAN KEMANUSIAAN KITA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, dan teman serta sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmakti akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Besok kita akan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga (yang biasanya dirayakan pada 15 Agustus). Bacaan Injil (Luk 1:39-56) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berkisah tentang Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45). Bagian kedua mengumandangkan Kidung Pujian “Magnificat” dari Maria (ay. 46-55). Ay. 56 sebagai penutup kisah.

Apa makna perayaan ini serta Injil yang kita dengarkan dalam perayaan ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan]. Renungan ini cukup panjang, maka Anda saya ajak untuk bersabar dan bertekun dalam membaca dan merenungkannya.

Pertama, pengangkatan Maria ke surga jiwa dan badan baru ditegaskan secara resmi sebagai bagian ajaran kepercayaan iman Gereja (dogma) pada tahun 1950, meskipun “peristiwa ini” sudah dirayakan oleh umat beriman sejak abad ke-4. Mengapa demikian?

Kedua, sekitar awal abad ke-20 di beberapa kalangan para teolog berkembang aliran berpikir yang pada dasarnya menolak hal-hal yang tidak dapat diterangkan dengan akal budi dan pengetahuan pada waktu itu. Pendapat seperti ini meluas pengaruhnya dalam Gereja, juga di kalangan para rohaniwan.

Ketiga, salah satu akibat dari cara berpikir tadi (catatan kedua) adalah penolakan adanya sisi-sisi sakral dalam kehidupan, termasuk hal-hal yang biasa disebut mukjizat, dan tentu saja tradisi mengenai Maria diangkat ke surga langsung sesudah wafatnya.

Keempat, tetapi pengalaman pahit dalam dua Perang Dunia (Perang Duni I pada 1914 s/d 1918, dan Perang Dunia II pada 1939 s/d 1945) mengajarkan betapa orang sesungguhnya tidak berdaya menghadapi sisi-sisi gelap kemanusiaan sendiri. Berangsur-angsur ketergantungan pada kekuatan ilahi semakin disadari kembali. Dalam hubungan inilah penegasan kepercayaan Maria diangkat ke surga jiwa dan badan itu menjadi pernyataan resmi iman Gereja dalam menerima kenyataan mukjizat yang terjadi pada Maria.

Kelima, dalam Kitab Kejadian bab 3 diceritakan bahwa manusia dan istrinya diusir dari Firdaus (Kej 3:23) karena melanggar larangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk (Kej 3:6). Tindakan mereka itu adalah dosa.

Keenam, dosa membuat kemanusiaan merosot. Sebelumnya, mereka akrab dengan dunia ilahi, dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia merasa aman di hadapan-Nya. Tetapi begitu mereka sadar telah melanggar larangan-Nya mereka takut bertemu dengan-Nya dan menyembunyikan diri (Kej 3:8 & 10). Rasa saling percaya rusak dan mereka tidak lagi dapat berdiam di Firdaus. Tuhan mengusir mereka (Kej 3:23) dan bahkan menempatkan malaikat penjaga berpedang api agar mereka tidak dapat mendekat ke pohon kehidupan (Kej 3:24).

Ketujuh, karena dosanya manusia kini harus berjerih payah mencari makan agar dapat hidup terus (Kej 3:17-19). Istrinya harus menderita tiap kali mau menjadi ibu (Kej 3:16). Dan penggoda mereka, ular, dikutuk jalan melata (Kej 3:14). Tetapi juga ditegaskan, seorang keturunan perempuan yang diperdayakannya itu nanti akan meremukkan kepalanya (Kej 3:15b).

Kedelapan, sekarang mari kita bayangkan kelanjutan kisah itu, yang tidak diceritakan dalam Alkitab, tetapi dapat kita rasa-rasakan. Setelah mengusir manusia dari Firdaus, Tuhan pun menghela nafas, dan semua penghuni surga pun tertunduk diam. Seluruh Firdaus seperti berkabung. Suasana ini membuat Tuhan merasa kesepian.  

Kesembilan, suatu hari Tuhan mengambil keputusan untuk turun ke dunia mencari manusia yang telah diusir-Nya. Ia mengubah Diri menjadi suara batin yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian, manusia diam-diam dituntun-Nya melangkah, mungkin dengan jatuh bangun, pada jalan kembali ke Firdaus, lewat jalan lain yang tidak dijaga malaikat berpedang api. Begitulah Tuhan berharap satu ketika nanti manusia akan bisa berada kembali di surga mengusir suasana murung untuk selama-lamanya.

Kesepuluh, dengan merayakan Maria diangkat ke surga, kita merayakan kembalinya satu dari keturunan yang telah terusir dari Firdaus tadi. Bukan itu saja. Dirayakan pula pulihnya suasana gembira di surga. Dirayakan kebesaran Tuhan yang dapat membawa kembali kemanusiaan ke sana. Dirayakan pula kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan. Dirayakan seorang (=Maria) yang hidup tulus mengikuti suara batin, yang membiarkan diri dituntun suara batin.

Kesebelas, lebih dari itu semua (catatan kesepuluh), kandungan suara batin Maria itu menjadi darah daging juga; menjadi manusia Yesus, yang merupakan manusia pertama yang bangkit dari kematian dan naik ke surga (Firdaus). Yesus kini mengisi surga dengan kegembiraan. Dia itulah yang menuntun manusia kembali ke surga. Sebagai Guru. Sebagai Gembala yang baik. Sebagai Penyelamat. Tidak mengherankan bahwa yang pernah membawa-Nya masuk ke dunia ini dengan sendirinya juga ikut terbawa kembali ke surga. Dia itu adalah Maria, ibu Yesus.

Kedua belas, bagian pertama dari Injil (ay. 39-45) mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja, kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis. Dan Yohanes Pembaptis yang masih ada dalam rahim itu melonjak kegirangan mendengar salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung.

Ketiga belas, Maria sendiri harus melewati hari-hari tidak enak memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya yang sudah mengandung kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi (Luk 1:34). Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus (Luk 1:35a). Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Roh Kudus itu adalah Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Dan suara hatinya (yakni Roh Kudus yang tinggal dalam dirinya) itu jugalah yang membuat Maria berkata: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu!” (Luk 1:38a).

Keempat belas, Roh Kudus yang sama itu juga yang membuat Maria mampu mengungkapkan pujian yang terdapat dalam Injil yang kita renungkan ini (ay. 46-55). Kidung itu mulai dengan pujian bagi Tuhan yang turun untuk menyelamatkan (ay. 46-47). Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna.

Kelima belas, dalam ay. 48 terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Ayat ini mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, karena orang kecil itu dapat memberi-Nya naungan dan mengurangi kesepian-Nya! Orang sederhana biasanya mudah ingat akan Tuhan; dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari Firdaus dulu.

Keenam belas, ayat 49-55 berupa pembacaan kembali sejarah terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan hebat Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan pihak-pihak yang mau menindas mereka.

Ketujuh belas, sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, dan aib; semuanya ini dikenakan sebagai hukuman bagi kesalahan yang telah dilakukan oleh seseorang. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan. Dalam Kidung Magnificat pendapat seperti ini tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepada-Nya, yang meminta pertolongan dari-Nya (bdk. ay. 54-55).

Kedelapan belas, bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka? Tidak! Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Mereka dihimbau untuk tidak membiarkan kekayaan, kedudukan, dan kepintaran yang mereka terima dari Tuhan, membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju. Inilah yang hendak disampaikan dalam ay. 52-53.

Dua hal dapat kita petik sebagai “hikmat” dari Perayaan Bunda Maria diangkat ke Surga. Pertama, perayaaan ini merupakan ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Satu ketika nanti kita akan pulih sebagai warga Firdaus dan berada di sana kembali. Dan kita boleh percaya bahwa hal ini dapat terjadi karena salah satu dari umat manusia, yakni Maria, sudah ada di sana dan kini ia melantarkan doa-doa permohonan kita, dari yang biasa hingga yang amat khusus kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Kedua, Kidung Magnificat mengajak orang-orang—yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan berbagai macam kelebihan—guna memungkinkan sesama—yang masih jauh dari sejahtera—ikut beruntung.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

13 August 2026

BERSAMA YESUS TIDAK PERLU TAKUT

BERSAMA YESUS TIDAK PERLU TAKUT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali dalam renungan mingguan. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-19 Tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 14:22-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus berjalan di atas air. Apa makna cerita ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, kisah ini mengolah kembali kisah Yesus berjalan di atas air dalam Injil Markus (Mrk 6:45-50; bdk. Yoh 6:16-20) dan menambahkan cerita mengenai Petrus (ayat 28-31) yang didapatnya dari sumber-sumber mengenai tokoh itu. Khas penginjil Matius, pada akhir kisah, disebutkan bahwa para murid mengakui Yesus sebagai Anak Allah (ayat 33).

Kedua, setelah memberi makan kepada 5000 orang, Yesus segera mendesak para murid agar menyeberangi danau (ay. 22a). Kata “mendesak” memang keras, begitu juga dalam teks aslinya. Ada yang perlu dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Apa itu? Menurut Injil Yohanes, orang banyak yang mengalami peristiwa roti itu kini mau mengangkat Yesus sebagai raja (Yoh 6:15a).

Ketiga, orang banyak itu mau memaksakan ukuran-ukuran serta cita-cita mereka sendiri kepadaYesus. Mereka tidak paham bahwa kebesaran-Nya yang sejati terletak dalam pengorbanan menebus kemanusiaan dengan penderitaan hingga mati di salib (lih. Yoh 19:30). 

Keempat, oleh karenanya Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6:15b) untuk menghindari mereka dan untuk “berdoa” (Mat 14:23a; Mrk 6:46). Dalam doanya itu Yesus mencari pengarahan dari Allah yang mengutus-Nya.

Kelima, bagaimana dengan para murid? Boleh jadi mereka juga sudah mulai berpikir seperti orang banyak. Mereka juga tidak dapat menerima mengapa Yesus yang sedemikian terhormat itu bakal ditolak dan dibunuh oleh orang-orang di Yerusalem. Para murid belum paham akan kemesiasan rohani Yesus. Mereka malah mengira ini saat tepat bagi Yesus untuk menjadi pemimpin masyarakat yang dinanti-nantikan!

Keenam, dalam konteks seperti itu (catatan ketiga dan kelima) tidaklah sulit untuk mengerti mengapa Yesus “mendesak” mereka agar pergi ke seberang danau. Ia bermaksud menjauhkan mereka dari orang-orang yang memiliki anggapan yang kurang cocok mengenai diri-Nya. Para murid disendirikan agar nanti dapat melihat diri-Nya yang sebenarnya.

Ketujuh, para murid memang tidak paham mengapa Yesus menyingkiri massa yang baru saja dipuaskannya dengan makanan, dan menyuruh mereka menjauh dari orang-orang yang pasti bakal menjadi pengikut-Nya. Mereka juga tidak paham mengapa mereka harus menyeberang pada saat yang kurang baik untuk berperahu ke seberang.

Kedelapan, bagaimanapun juga mereka menurut dan berkayuh semalam penuh sampai dini hari. Dan ketika berada di tengah danau, gelombang dan angin semakin mengombang-ambingkan perahu mereka (ay. 24). Para murid merasa terancam.

Kesembilan, dalam suasana seperti itu Yesus mendatangi mereka dengan “berjalan di atas air” (ay. 25). Harfiahnya berarti “berjalan mondar mandir”, seperti sedang berjalan-jalan santai di taman. Juga ada makna “berinteraksi” dengan keadaan dengan tenang dan enak.

Kesepuluh, para murid melihat ada sosok yang menguasai gerakan-gerakan gelombang. Sosok itu leluasa berjalan di atas kekuatan-kekuatan itu. Kenyataan-kenyataan yang bisa mengacaukan tidak menggentarkan-Nya. Malah mereka dijinakkan. Ini semua dilihat para murid. Namun mereka tidak sertamerta mengenali siapa Dia itu yang bertindak demikian. Mereka malah mengira bahwa sosok itu adalah hantu (ay. 26a).

Kesebelas, mengapa Yesus dapat melakukan hal itu? Dalam kitab Ayub (Ayub 9:8) disebut bahwa Allah yang Mahakuasa “membentangkan langit”, dan “berjalan melangkah di atas gelombang-gelombang laut.” Artinya, Allah menguasai kekuatan-kekuatan yang tak terperikan dahsyatnya. Tidak dengan meniadakannya, melainkan dengan mengendalikannya. Ia mengatur alam yang dahsyat itu dengan kebijaksanaa-Nya.

Kedua belas, pembaca yang jeli akan menghubungkan ketenangan Yesus dengan tindakan-Nya sebelum datang kepada murid-murid-Nya: Ia pergi menyendiri dan berdoa (ay. 23). Dalam doa-Nya itu Yesus menyelaraskan diri dengan Yang Mahakuasa yang demikian itu (catatan kesebelas). Ia tetap mengarahkan diri kepada-Nya. Itulah sumber ketenangan dan kebijaksanaan-Nya.

Ketiga belas, mengapa Petrus mulai tenggelam? (ay. 30a). Tokoh ini bertindak dengan spontanitas dan maksud baik belaka. Sebelum bertindak Petrus tidak berdoa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Tetapi dalam keadaaan mulai tenggelam, akhirnya ia berteriak minta tolong, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay. 30b). Seruan ini diarahkan kepada Tuhan. Ini doa. Dan doanya didengarkan.

Keempat belas, siapa yang memegang tangan Petrus dan menahannya agar tidak tenggelam? Yesus! (ay. 31a). Kejadian itu membuat orang-orang yang ada di perahu mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Ketika Yesus dan Petrus sudah naik ke perahu (ay. 32), orang-orang itu menyembah Dia—tentunya menyembah Yang Mahakuasa sendiri—dan mengenali kehadiran-Nya di dalam diri Yesus yang kini mereka akui sebagai Anak Allah (ay. 33).

Merenungkan Injil ini ada beberapa hal yang dapat kita petik sebagai pembelajaran. Pertama, kadang kala kehidupan kita juga terombang-ambing dan berputar-putar tanpa arah. Dalam situasi seperti itu kekacauan menjadi-jadi dan terasa lebih kuat daripada tuntunan Allah. Kedua, Injil juga mengajarkan bahwa dalam keadaan seperti itu Yesus, yang kita kenal dan ikuti, ternyata menjadi jalan bagi Allah untuk menolong ketika kita berada dalam saat-saat kritis. Karenanya, kita tidak perlu merasa takut, asalkan kita berani “berteriak minta tolong”. Ketiga, pentingnya menyisihkan waktu untuk berdoa agar hidup kita senantiasa selaras dengan kehendak Allah.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya