Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

10 May 2026

MEMBANTU “DUNIA” KELUAR DARI KEGELAPAN

MEMBANTU “DUNIA” KELUAR DARI KEGELAPAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Paskah ke-6 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 14:15-21), yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi, merupakan bagian kedua dari wejangan-wejangan Yesus. Gagasan pokok dari wejangan tersebut berkisar pada “mengasihi”.

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, Injil Yohanes bab 14 memuat “pesan-pesan terakhir” Yesus kepada para murid-Nya, yang terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama (Yoh 14:1-14), yang dibacakan pada hari Minggu yang lalu, berbicara tentang Yesus yang membesarkan hati para murid-Nya. Mereka diajak tetap berteguh pada jalan yang benar, yang memberi hidup. Keteguhan inilah yang menumbuhkan iman.

Kedua, bagian kedua (Yoh 14:15-21), yang akan kita renungkan bersama, memberi pendalaman tentang “kasih” dalam hubungan dengan keteguhan mempercayai Yesus tadi. Keteguhan iman memang baru utuh bila ada kasih. Bagian ketiga (Yoh 14:22-29), akan dibacakan pada hari Minggu Paskah VI tahun C (dua tahun lagi).

Ketiga, “pesan-pesan terakhir” merupakan jenis tulisan yang pada zaman itu sudah umum dikenal. Tulisan seperti itu memuat ajaran serta wejangan seorang tokoh spiritual bagi para murid yang sedang menghadapi saat-saat sulit. Injil Yohanes bab 14 termasuk teks yang dibuat dengan tujuan itu.


Keempat, dalam ayat 15 disebutkan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” Hal senada diungkapkan kembali dalam ayat 21a. Kalimat itu tidak dimaksudkan bahwa mencintai Yesus perlu dibuktikan dengan melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh-Nya.


Kelima, kalimat itu justru menggarisbawahi kebalikannya; mengasihi Yesus akan membuat orang dapat mengenal (=memahami) perintah-perintah-Nya dan menurutinya. Dengan kata lain, mengasihi Yesus menjadi jaminan agar para murid (kita) dapat memperhatikan perintah-perintah-Nya dan melaksanakannya.

 

Keenam, karenanya (lihat catatan kelima), dalam ayat 21 terungkap bahwa siapa saja yang memegang dan menuruti perintah-perintah-Nya, dia itulah yang juga nyata-nyata mengasihi-Nya. Oleh karena itu, ia akan dikasihi Bapa dan Yesus sendiri.

 

Ketujuh, dari catatan-catatan (nomor empat sampai dengan nomor 6) di atas, “mengasihi” Yesus dipakai dalam arti mengakui kebesaran-Nya dan meluangkan tempat bagi Dia dalam kehidupan ini, setia kepada-Nya. Pemahaman seperti ini dilihat dari sisi murid. Dari sisi sang Guru (Yesus), dikasihi oleh Guru berarti menerima perlindungan dari-Nya.

 

Kedelapan, latar belakang ungkapan “mengasihi” dalam petikan Injil ini adalah kehidupan umat Perjanjian Lama. Mereka dipilih, dikasihi, dilindungi, dan dipedulikan Allah, tetapi sekaligus mereka diharapkan tetap setia dan memberi tempat kepada-Nya. “Mengasihi” dalam pengertian itulah menjadi dasar bagi “menuruti perintah-perintah” (ay. 15 dan 21).

 

Kesembilan, yang dimaksud dengan “perintah-perintah” adalah kekuatan-kekuatan yang menggerakkan dari dalam dan disadari datang dari hubungan batin dengan Sang Guru sendiri.  Dengan demikian, tindakan para murid tidak bersumber dari diri dan kemauan mereka sendiri. Tindakan mereka dijiwai oleh kehadiran Yesus, Sang Guru mereka, dalam diri mereka.

 

Kesepuluh, perilaku dan tindakan-tindakan para murid Yesus menghadirkan kembali Yesus sendiri. Hidup mereka menyuratkan perintah dari atas yang dapat dibaca orang banyak. Dalam hal ini, hidup mereka menjadi kesaksian akan kehadiran Yesus.

 

Kesebelas, disebutkan bahwa Yesus akan minta kepada Bapa agar memberi Penolong yang lain yang menyertai murid-murid selamanya (ay. 16). Dalam bahasa Yunani yang digunakan dalam Injil Yohanes, Penolong itu disebut “parakleetos”, yakni dia yang selalu siap dipanggil datang untuk membantu, memberi uluran tangan di saat-saat gelap, menuntun di jalan yang licin.

 

Kedua belas, Penolong itulah yang akan dikirim dari atas untuk menyertai murid-murid Yesus. Ia akan menunjukkan jalan ke pegangan yang sesungguhnya, yang bisa dipercaya, yang bukan tipuan dan tidak mencelakakan; sehingga para murid merasa aman. Karenanya, Penolong itu  

disebut Roh Kebenaran (ay. 17a).

 

Ketiga belas, bagaimana kehadiran Roh Kebenaran dapat dirasakan? Bagaimana Penolong itu bertindak? Roh Kebenaran (=Penolong) itu hadir dan bertindak dalam diri murid-murid sendiri, dalam ketajaman batin mereka masing-masing untuk membedakan yang benar dari yang salah, dalam kepekaan hati nurani mereka dalam bertindak menurut kebenaran.

 

Keempat belas, dikatakan bahwa “dunia” tidak dapat menerima Roh Kebenaran karena tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia (ay. 17b). Bagi penginjil Yohanes, “dunia” sebagai tempat manusia hidup, telah dikuasai kegelapan. Akibatnya, “dunia” tidak mengenal Sang Sabda yang telah menciptakannya pada hari pertama penciptaan (bdk. Kej 1:1-3). “Dunia” seperti itu tidak memiliki kepekaan akan kehadiran-Nya. Lebih buruk lagi, “dunia” tidak mengenal asal usulnya sendiri; tidak tahu asal serta tujuannya, yakni Roh Kebenaran. Itulah musibah yang paling besar.

 

Kelima belas, semua ini disodorkan kepada para murid bukan untuk mengecam “dunia” dan menghukumnya, melainkan agar mengasihaninya dan mencarikan jalan bagi yang ada dalam kegelapan. Sebab, Allah sendiri begitu mencintai “dunia” agar “dunia” dapat diselamatkan (bdk. Yoh 3:16-17). Dalam upaya inilah murid-murid akan dikuatkan oleh dampingan Roh Kebenaran dan bimbingan sang Penolong sendiri (Yoh 15:16-17a).

 

Keenam belas, dalam cara berpikir penginjil Yohanes, para murid Yesus itu bahkan menjadi tempat tinggal Roh Kebenaran (ay. 17c), seperti kemah tempat berlindung di padang gurun yang penuh bahaya. Gambaran ini membuat murid-murid Yesus menyediakan diri bagi orang-orang yang terancam kekuatan-kekuatan gelap “dunia”, yang menolak kehadiran ilahi tadi.

 

“Pesan-pesan terakhir” Yesus yang disampaikan dalam Injil Yohanes, yang kita renungkan ini, berisikan pengutusan dan perutusan sebesar itu (catatan kelima belas dan keenam belas).

Pengutusan dan perutusan para murid Yesus (kita semua), bukan sebagai panggilan agar menjauhi “dunia”, seburuk apa pun, melainkan untuk mencarinya dan mengajaknya berbicara serta mengajaknya berjalan kepada “terang” (=Yesus sendiri – Yoh 1:4-5). Dengan cara ini, lambat laun “dunia” akan mulai samar-samar mendengar suara Penolong yang tinggal dalam diri murid-murid Yesus dan juga mengalami keselamatan.


Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 

 

 

 

 

   

Lihat selengkapnya

2 May 2026

MELAKUKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR

MELAKUKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-5 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 14:1-12) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi hiburan yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, yang sedang mengalami kegelisahan.

Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, dalam kesadaran orang pada zaman itu, pengalaman paling menyeramkan dan menakutkan adalah merasa “tertinggal di luar”, tidak ada yang mengurus. Dalam keadaan seperti itu orang merasa seperti berada di luar pintu kota pada malam hari; sewaktu-waktu dapat dimangsa oleh penyamun dan serigala.

Kedua, dengan latar inilah Injil Yohanes berbicara mengenai tempat yang paling memberi rasa aman. Tempat itu adalah kediaman (rumah) Bapa sendiri (ay. 2a). Di situ Yang Maha Tinggi berkuasa. Tidak ada yang dapat mengganggu gugat mereka yang berdiam di dekat-Nya.

Ketiga, dikatakan oleh Yesus bahwa di rumah Bapa ada banyak “tempat tinggal” (ay. 2a). Ungkapan ini adalah cara untuk mengatakan bahwa siapa saja boleh dan bisa menemukan ketenteraman serta perlindungan di dekat Yang Mahakuasa. Tidak lagi akan ada yang bakal merasa ditinggalkan.

Keempat, orang tidak usah berebut dan waswas tidak bakal mendapat tempat, sebab Yesus sendiri yang menyiapkan tempat itu bagi para murid-Nya (ay. 2b), dan bila semua sudah siap Ia akan datang untuk menjemput para murid-Nya supaya dapat tinggal bersama-Nya di tempat yang aman tadi (ay. 3). Di tempat yang aman itu, mereka tidak akan berpisah lagi dari-Nya.

Kelima, dengan sabda-Nya itu (ay. 2-3) para murid dikuatkan agar mantap hatinya. Itulah arti ajakan Yesus kepada para murid-Nya untuk mempercayai Bapa dan mempercayai Diri-Nya (ay. 1).

Keenam, Yesus sungguh memperhatikan keadaan murid-murid-Nya. Ia dapat digambarkan sebagai “gembala yang baik”. Ia juga berlaku sebagai “pintu”. Itulah yang dibicarakan dalam Injil pada hari Minggu lalu (Yoh 10:1-10).

Ketujuh, dalam petikan Injil yang kita renungkan ini, ada kiasan lain untuk memperkenalkan siapa Yesus itu. Dipakai gagasan “jalan” (ay. 6a). Jalan adalah arah yang perlu dilalui dan ditempuh agar sampai ke tujuan. Ada tumpang-tindih dengan kiasan “pintu”. Kedua-duanya perlu dilalui agar sampai ke tujuan. Pintu adalah titik awal (perjalanan) dan di luar pintu itu ada jalan yang perlu ditempuh. Di luar pintu banyak bahaya. Pada jalan yang benar (yakni Yesus) ada jaminan akan sampai ke tujuan (yaitu rumah Bapa). Di rumah Bapa itulah ditemukan kehidupan.

Kedelapan, selain sebagai “jalan” (catatan ketujuh), Yesus juga disebut sebagai “kebenaran”; artinya, Ia berasal dari Allah (Bapa) dan melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah (Yoh. 8:31-47). Selain itu, Yesus juga menamakan diri-Nya sebagai “hidup”; artinya, Ia merupakan perwujud-an kasih Allah yang begitu besar kepada manusia agar mereka memperoleh kehidupan kekal (Yoh 3:15-21).

Kesembilan, tiga kiasan, yakni “jalan”, “kebenaran”, “hidup” (ay. 6a), diterapkan pada diri Yesus yang telah berjanji untuk menyiapkan tempat di rumah Bapa, dan akan datang kembali untuk membawa murid-murid ke tempat mereka nanti dapat sungguh-sungguh berbagi kehidupan dengan Yang Mahakuasa sendiri.

Kesepuluh, ketiga kiasan itu ditampilkan oleh penginjil untuk menjawab Tomas yang mengeluh bahwa murid-murid tidak tahu ke mana Yesus pergi (ay. 5). Murid-murid memang belum melihat dengan jelas arah yang sedang dijalani Yesus. Bagaimana murid-murid bisa terus mengikuti-Nya bila arah yang ditempuh Yesus tidak jelas bagi mereka?

Kesebelas, dalam ayat 9-14 penginjil memberikan penjelasan bagi Filipus yang mohon agar Yesus “menunjukkan Bapa” (ay. 8a). Seperti kebanyakan murid lain dan para pengikut Yesus sepanjang zaman, Filipus berharap bisa melihat dengan mata kepala sendiri tujuan yang mau dicapai tadi, yakni Bapa. Orang ingin mendapat pengalaman yang membuat dirinya tunduk dan mantap percaya. Inilah yang dimaksud Filipus ketika berkata, “itu sudah cukup bagi kami” (ay. 8b).

Kedua belas, agar dapat percaya memang dibutuhkan kemantapan dan “kepastian”. Namun “percaya” itu tidak dapat diperoleh semata-mata dengan mendapatkan “kepastian” berdasarkan “melihat dengan mata kepala sendiri”. “Percaya” itu hidup dengan sisi-sisi yang tidak pasti bagi yang bersangkutan. Menerima ketidakpastian itu dengan ikhlas, membuat orang menjadi “percaya”.

Ketiga belas, uraian kepada Filipus (ay. 9-14) itu bukan semata-mata ajaran di seputar kesatuan antara Yesus dan Bapa-Nya, melainkan jawaban bagi masalah kepercayaan yang paling dalam dan paling sulit. Bila mau percaya, hendaklah mulai dengan menjauhi kepercayaan yang dibuat sendiri, seperti halnya keinginan untuk melihat Tuhan dan menggapai-Nya! Mulailah dengan yang sudah ada di dekat tetapi yang bukan hasil buatan dan idam-idaman sendiri.

Keempat belas, “yang sudah ada di dekat tetapi yang bukan hasil buatan dan idam-idaman sendiri” adalah kehadiran Yesus dalam hidup murid-murid-Nya, dalam hidup kita. Kehadiran Yesus itu membukakan macam-macam dimensi dalam hidup ini. Dia itulah yang membuat tujuan yang rasanya mengawang tadi menjadi dekat, menjadi bagian dalam hidup sehari-hari.

Kelima belas, dalam ay. 12 disebutkan bahwa siapa yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya, bahkan yang lebih besar daripada itu. Yang dimaksud bukanlah mengerjakan mukjizat, penyembuhan, dan membuat tanda-tanda yang membuat orang takluk, melainkan hidup pribadi yang dapat mempersaksikan kepercayaan kepada Bapa yang hadir di dalam Yesus itu.

Keenam belas, secara konkret, hal itu (catatan kelima belas) dilakukan dengan hidup meng-Gereja, hidup sebagai kumpulan orang yang percaya, yang merasa terpanggil untuk meluangkan tempat bagi kenyataan ilahi di dalam hidup ini dan mengakuinya di hadapan orang banyak. Itulah Gereja sebagai komunitas orang-orang yang percaya.

Merenungkan petikan Injil ini menyadarkan kita bahwa sebagai komunitas orang-orang percaya, kita dapat melakukan hal-hal yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan sebelumnya; yakni, membawakan keilahian ke dunia ini. Keprihatinan utama bukan lagi untuk menggapai dan mencapai Yang Ilahi yang di “sana”, melainkan membawa-Nya ke “sini”.

Hal ini dapat diwujudkan—seperti dikisahkan dalam bacaan I (Kis 6:1-7)—dengan “mewartakan dan menghadirkan Sang Sada” (ay. 4) sekaligus “melakukan komitmen sosial (Kis 6:2b-3) guna meningkatkan martabat hidup orang-orang yang hidupnya jauh dari sejahtera” (Kis 6:1b). Itulah yang dimaksud dengan melakukan “pekerjaaan-pekerjaan yang lebih besar” (Yoh 14:12b). Dan hingga hari ini, sebagai murid-murid Yesus, kita tetap dipanggil untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan lebih besar ini.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

2 May 2026

MENDENGARKAN SUARA DAN MENGIKUTI SANG GEMBALA YANG BAIK

MENDENGARKAN SUARA DAN MENGIKUTI SANG GEMBALA YANG BAIK

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta kelurga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah ke-4 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 10:1-10) berbicara tentang Yesus yang mengumpamakan Diri sebagai pintu sekaligus sebagai gembala bagi kawanan domba.

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk memperhatikan ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, dalam teks Injil Yohanes dipakai kata Yunani “thura” untuk mengungkapkan pintu sebagai jalan masuk dan keluar kebun, rumah, dan kandang. Ada juga kata Yunani lain, yakni “pulee” untuk menjelaskan gerbang kota tempat orang berkumpul guna membicarakan urusan penting (Ul 21:19 25:7; Ams 31:23), untuk membawa perkara kepada penguasa setempat guna memperoleh keadilan (Mzm 69:13 127:5; Ayub 31:21; Amos 5:10). Dalam petikan Injil ini kedua gagasan itu sengaja ditumpang-tindihkan agar tampil gambaran mengenai gembala yang memperlakukan kawanan dengan baik.

Kedua, pintu dipakai untuk menutup jalan atau membiarkan orang melewatinya. Yang ditutup adalah jalan masuk bagi orang yang tidak berwenang (=pencuri; perampok), yang ingin mengambil begitu saja hak milik orang lain (ay. 1b). Hanya gembala yang bakal dibukakan pintu karena kawanan itu adalah miliknya (ay. 2-3).

Ketiga, pintu juga dipakai untuk membuka jalan. Yang dibuka adalah jalan keluar, ke padang rumput tempat kawanan ternak dipimpin oleh sang empunya (=gembala), bukan oleh orang sewaan.  Gembala ini membawa kawanan ternak itu ke tempat mereka bisa menikmati kesejahteraan (ay. 3b).

Keempat, Yesus menggambarkan Diri-Nya sebagai pintu yang tadinya belum ada (ay. 7b dan 9). Dengan cara itu, Yesus hendak mengajarkan bahwa kini telah mulai zaman baru. Zaman ancaman yang tidak dapat ditanggulangi sudah selesai. Kini ada pembatas jelas, yakni diri-Nya, sang pintu itu, sehingga pencuri tidak dapat masuk dan binatang buas tidak dapat memangsa domba-domba itu. Ia juga bakal membawa domba-domba ke padang rumput hijau, ke tempat sejahtera.

Kelima, memang masih akan ada ancaman dari mereka yang datang tanpa lewat pintu itu (ay. 1). Tetapi kawanan sudah tahu bahwa mereka itu tidak bermaksud baik (ay. 8). Mereka itu tidak mengenal kawanan satu persatu. Mereka hanya akan merampas dan membawa mereka ke pembantaian (ay. 10a), bukan ke padang rumput, sehingga kawanan akan melarikan diri dari orang itu (ay. 5).

Keenam, dikatakan bahwa gembala memanggil kawanan satu persatu menurut namanya (ay. 3b). Maksudnya, masing-masing domba dikenal oleh gembala yang empunya kawanan itu. Kawanan itu tidak diperlakukan secara anonim. Mereka tidak dianggap sebagai barang, melainkan sebagai pribadi. Hubungan antara pemilik/gembala dan kawanan adalah hubungan pribadi; hubungan saling mengenal yang memberi rasa aman, dan rasa percaya.

Ketujuh, juga dikatakan bahwa domba-domba itu mengikuti sang gembala (ay. 4b). Mengikuti bukan berarti meniru, melainkan meniti jalan yang dibuka oleh gembala, yang berjalan di muka mereka menuju ke padang rumput, ke kehidupan yang penuh kesejahteraan (ay. 10b).

Kedelapan, bagi orang zaman dulu, tiap pemimpin, entah itu raja atau Tuhan sendiri, digambarkan sebagai gembala yang baik. Dalam kitab nabi Yehezkiel Tuhan digambarkan sebagai gembala yang baik (Yeh 34:10-16), yang melawan gembala-gembala jahat, yakni pemimpin yang bertindak tidak adil dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri (Yeh 34:2b-8).

Kesembilan, dalam petikan dari Yoh 10:1-10 ini juga dimunculkan gambaran seorang pemimpin baik yang datang membawakan yang adil kepada umat yang berkumpul menantikan dan mengharap-harapkannya. Ini semua dimungkinkan dengan ibarat “pintu” dan “gembala” yang datang lewat pintu itu, yakni Yesus sendiri.

Merenungkan petikan Injil ini kita diundang untuk menjadi pemimpin yang baik; bukan dengan mengambil alih kedudukan Tuhan sebagai pemilik kawanan, melainkan dengan mengikuti Dia yang menyapa kawanan satu persatu dengan namanya (= membangun relasi yang menimbulkan rasa aman dan kepercayaan).

Sebagai seorang pemimpin dalam jemaat Kristiani, kita memiliki tanggungjawab untuk membantu agar jemaat dapat lebih melihat dan mengenal siapa yang berjalan di muka mereka dan mengikuti-Nya (ay. 4); yakni Yesus yang datang untuk memberi kehidupan yang berlimpah-limpah (ay. 10b).

 

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

11 April 2026

MEMPERCAYAI KEBANGKITAN YESUS DAN MEWARTAKANNYA

MEMPERCAYAI KEBANGKITAN YESUS DAN MEWARTAKANNYA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Paska II tahun A dalam kalender liturgi sekaligus Hari Minggu Kerahiman Illahi. Bacaan Injil (Yoh 20:19-31) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi berkisah tentang Tomas yang mengalami kehadiran Allah dalam diri Yesus yang sudah dibangkitkan dari kematian oleh Allah.

Apa makna kisah ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, dalam Injil Yohanes, kebangkitan Yesus diwartakan untuk menjelaskan mengapa Yesus yang baru saja dimakamkan itu tidak lagi ditemukan di makam dan juga untuk menggambarkan bagaimana para murid tidak lagi merasa kehilangan Dia. Bahkan, kini kehadiran Yesus lebih mereka rasakan.

Kedua, para murid kini semakin merasa menjadi bagian dari Yesus yang sudah bangkit. Pengalaman ini mengubah hidup mereka dari yang dirundung ketakutan menjadi yang disertai kedamaian, dan dari keterkung-kungan menjadi penuh daya hidup.

Ketiga, penampakan Yesus belum dialami banyak orang lain. Barulah kelompok kecil itulah yang mengalaminya serta melihat bekas luka paku dan tusukan tombak (ay. 20).

Keempat, pembicaraan mengenai bekas luka ini dimaksud untuk mene-gaskan bahwa yang kini menampakkan diri itu sama dengan Dia yang telah meninggal di salib. Yang kini datang di tengah-tengah mereka itu bukan sekedar ingatan belaka. Orang-orang lain yang tidak hadir dalam peristiwa itu hanya dapat mendengar kesaksian mereka. Dan hal ini memang bukan perkara yang mudah.

Kelima, cerita tentang penampakan Yesus kepada Tomas (ay. 24-29) mengolah kesulitan ini (catatan keempat) dengan cara yang khas. Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan memintanya untuk meraba bekas luka-lukanya bila hal itu bakal membuatnya percaya (ay. 27).

Keenam, Tomas diminta oleh Yesus untuk membuat penilaian sendiri apa Dia yang kini datang itu sama dengan yang dulu diikutinya. Kepercayaan yang sedemikian besar dari pihak Yesus yang bangkit itu membuat Tomas mengenali-Nya. Saat itulah mata batin Tomas terbuka. Dengan melihat Yesus itu, [berarti] Tomas melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya Tomas berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ay. 28). Tomas ingat akan Yesus sendiri yang dulu pernah mengatakan bahwa barangsiapa mengenal-Nya akan mengenali Bapa-Nya pula (Yoh 8:19; 14:7.9-11). Dan Bapanya itu adalah Allah.

Ketujuh, pada akhir peristiwa itu, Yesus berkata kepada Tomas: “Karena engkau melihat Aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (ay. 29). Walaupun kata-kata itu ditujukan kepada Tomas, tetapi isinya diperdengarkan kepada siapa saja, baik yang ada di situ waktu itu maupun kepada pembaca kisah tadi sepanjang masa.

Kedelapan, kata “melihat” memang memiliki makna khusus. Ada hubungan erat antara “melihat” dan “percaya” (ay. 29). Penginjil Yohanes menggarap hubungan antara “melihat” dan “percaya” dalam kisah pengalaman orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus (Yoh 9: 1-41) dengan cara yang khas.

Kesembilan, pada awalnya orang itu hanya mengenali Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya (Yoh 9:11), kemudian menegaskannya sebagai nabi (Yoh 9:17b), dan akhirnya ia bersujud dan percaya kepada-Nya (Yoh 9:38) sebagai “Anak Manusia” (Yoh 9:35b). Kisah penampakan Yesus kepada para murid dan kepada Tomas menunjukkan proses yang amat mirip. “Melihat” bisa berkembang menjadi persepsi batin dan membuat orang mengenali kebenaran lalu “percaya.”

Kesepuluh, tetapi bila “melihat” tidak berkembang, bisa jadi orang malah tidak dapat mempercayai apapun. Orang Farisi dalam kisah penyembuhan orang buta itu melihat tetapi tidak percaya. Hal ini juga terjadi ketika Kaum Farisi, para Imam Kepala, para ahli Kitab, dan Penatua bangsa Yahudi  “melihat” mukjijat yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes atas nama Yesus yang telah bangkit (Kis 3:1-10; 4:10), mereka tidak mau percaya (Kis 4:13-18; 21-22) Mengapa? Karena mereka tidak terbuka untuk mengakuinya, apalagi mempercayainya.

Kesebelas, dikisahkan dalam penampakan Yesus itu, Ia mengembusi para murid dengan Roh Kudus (ay. 22). Seperti dalam penciptaan manusia dulu (Kej 2:7), kini para murid menerima nafas kehidupan dari Yesus yang telah bangkit. Roh yang dihembuskan kepada para murid itu menggambarkan bagaimana Yesus kini berbagi kehidupan dengan para murid; artinya, kini mereka sungguh dapat menjadi anak-anak Allah.

Kedua belas, apa artinya “menjadi anak-anak Allah”? Penginjil Yohanes sendiri memberi penjelasan dalam Yoh 1:13; “anak-anak Allah” adalah orang-orang “yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani ... melainkan dari Allah.” “Hembusan nafas” yang diberikan oleh Yesus pada saat penampakan-Nya berpadanan dengan hembusan nafas kehidupan yang dilakukan oleh Allah kepada manusia yang baru saja dibentuknya dari debu dalam Kitab Kejadian (Kej 2:7). Dengan kata lain, dalam peristiwa penampakan Yesus kepada para murid itulah lahirlah kemanusiaan baru.

Ketiga belas, setelah mendapat kekuatan Roh-Nya, murid-murid diutus untuk mengujudkan kepercayaan mereka kepada Bapa-Nya (ay. 21). Mereka diutus untuk menjadi makhluk yang bisa mengalami Yang Mahakuasa sebagai yang penuh kerahiman seorang Bapa dan berbagi pengalaman ini dengan sesama. Inilah makna dari ungkapan “mengampuni dosa orang” (ay. 23).

Merenungkan petikan Injil ini mengajak kita untuk menyadari bahwa Yesus yang telah bangkit itu sedemikian menghormati kemerdekaan Tomas dan semua orang. Dia yang bangkit itu mempercayakan Diri kepada manusia agar dikenali dalam hidup mereka, dan kemudian diwartakan dalam cara hidup mereka. Caranya, seperti diteladankan oleh cara hidup Jemaat Perdana (Kis 2:42-47). 

Cara hidup Jemaat Perdana menekankan dua pokok yang sama pentingnya. Pertama, kesaksian para rasul yang dituruntemurunkan dalam suasana ibadat (ay. 42. 46. 47a). Kedua, kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama anggota jemaat dan masyarakat di sekitar (ay. 44-45), termasuk di dalamnya kemampuan untuk hidup damai bersama dengan orang-orang yang mempunyai kepercayaan serta cara hidup yang lain (ay. 47a).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

3 April 2026

TUHAN TELAH BANGKIT

TUHAN TELAH BANGKIT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda sudah bisa merayakan Minggu Palma, Kamis Putih, dan Jum’at Agung dengan penuh makna.

Besok malam dan hari Minggu kita akan merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus. Apa makna perayaan ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan besama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, Injil yang dibacakan dalam perayaan Malam Paskah (Mat 28:1-10), dan hari Minggu Paskah (pagi: Yoh 20:1-9; sore: Luk 24: 13-35) memuat warta tentang kebangkitan Yesus. Namun, bagaimana kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan persisnya, serta apa gelagat yang menyertainya, tidak ada yang melihatnya sendiri. Juga tidak ada laporan pandangan mata mengenai peristiwa kebangkitan itu sendiri.

Kedua, kisah-kisah Injil tentang kebangkitan Yesus memuat dua pokok yang mendasari munculnya kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit, yakni (1) makam yang kosong, artinya, Yesus tidak ada di antara orang mati lagi; Ia telah bangkit,  dan (2) keyakinan serta kesaksian orang-orang yang terdekat dengan Yesus bahwa Ia tidak lagi berada di antara orang mati. Kesaksian mereka itu kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan kisah-kisah penampakan Yesus yang telah bangkit itu.

Ketiga, kisah-kisah penampakan Yesus seperti diceritakan dalam Perjanjian Baru memuat tiga unsur utama, yakni:

Pertama, yang mendapat penampakan tidak segera mengenali Tuhan yang sedang menampakkan diri. Kedua murid dalam perjalanan ke Emaus mengira sedang berbicara dengan musafir yang tidak tahu apa yang baru terjadi di Yerusalem (Luk 24:13-35, terutama ay. 18); Maria Magdalena mengira bertemu dengan penunggu taman (Yoh 20:11-18, terutama ay. 15); murid-murid yang menjala ikan di Tiberias tidak tahu siapa sosok yang menunggu mereka di pantai (Yoh 21:1-14, periksa ay. 4); bahkan dalam kesempatan lain murid-murid mengira Yesus itu hantu (Luk 24:36-37, terutama ay. 37). Dalam keadaan itu, Tuhan Yesus membantu mereka agar mengerti apa yang sedang mereka alami dengan melakukan dialog dengan mereka.

Kedua, dialog antara Tuhan dengan orang yang mendapat penampakan bisa terjadi sepanjang hari (dua murid dalam perjalanan ke Emaus), bisa juga hanya sekilas (Saulus dalam Kis 9:3-6), tetapi dapat juga terjadi berulang-ulang dalam masa 40 hari (Kis 1:3b). Bagaimanapun juga, hubungan yang terbangun dalam dialog ini mengarah pada perubahan yang besar dan mantap dalam diri orang yang bersangkutan.

Ketiga, penampakan membuat orang mulai memberikan kesaksian. Namun demikian, kesaksian ini bukan mengenai penampakan itu sendiri, melainkan mengenai sebuah pokok kepercayaan, yakni (1) Yesus bangkit (Mrk 16:9-20, terutama ay. 20; Yoh 20:18, perhatikan secara khusus bagian kedua ayat 18 ini); (2) Yesus yang bangkit itu sungguh ada di tengah-tengah para murid (Luk 24:34-35, terutama ay. 35, juga ay. 48); dan (3) penampakan menjadi titik balik kehidupan orang yang menerima penampakan (Saulus menjadi Paulus sang rasul).

Keempat, penginjil Matius menekankan bahwa Yesus kini sungguh-sungguh hidup dan murid-murid dipesan agar pergi ke Galilea dan di sana mereka akan melihat-Nya. Di sanalah para murid yang kini masih tercerai berai dan bersembunyi itu dapat berkumpul kembali dengan Yesus dan mengawali hidup sebagai murid dengan cara baru.

Kelima, sementara ini hanya murid-murid perempuan sajalah yang masih bisa menjadi penghubung di antara para murid. Lewat para perempuan inilah kelompok-kelompok yang terpisah-pisah tadi dikumpulkan kembali. Gagasan ini juga diungkapkan penginjil Markus (Mrk 16:7).

Keenam, penginjil Lukas agak berbeda walau maksudnya sama. Baginya tempat yang memberi hidup baru itu adalah Yerusalem. Tetapi setelah kebangkitan Yesus, Yerusalem berubah dari kota yang menolak-Nya menjadi kumpulan orang yang menerima kehadiran-Nya.


Ketujuh, penginjil Yohanes tidak jelas-jelas menyebut nama tempat itu. Ia hanya mencatat bahwa para murid berkumpul dalam rasa takut akan dikejar-kejar para penguasa Yahudi (Yoh 20:19). Tetapi pada saat-saat itulah Yesus menampakkan diri kepada mereka dan memberi kekuatan dengan meniupkan Roh (ayat 22-23).

 

Kedelapan, dari kisah yang dipaparkan oleh keempat penginjil kita dapat tahu bahwa tempat kegelisahan—entah itu Galilea atau Yerusalem atau tempat mana pun—dengan kebangkitan Kristus diubah menjadi tempat damai. Yang diwartakan Injil adalah suasana rohani yang memungkinkan orang berkumpul kembali dalam suasana damai dan memperoleh kekuatan dari Guru mereka, yang telah bangkit itu, untuk membangun hidup baru.

 

Merayakan Paskah dan merenungkan kisah kebangkitan Yesus mengundang kita untuk menyadari bahwa “kegagalan hidup” tidak perlu menjadi peristiwa yang menakutkan, karena Yesus yang telah bangkit akan menjumpai dan menemani kita untuk membangunnya kembali menjadi hidup baru, yang dipenuhi dengan rasa damai.

 

Selamat Paskah, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

1 April 2026

MENJADI PRIBADI DAN KOMUNITAS EKARISTIK

MENJADI PRIBADI DAN KOMUNITAS EKARISTIK

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik.

Besok malam kita akan merayakan Hari Raya Kamis Putih. Apa makna perayaan ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, Hari Raya Kamis Putih memperingati saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama para murid-Nya sebelum Ia diserahkan kepada para pemuka bangsa Yahudi untuk diadili dan dihukum mati di kayu salib.

Kedua, pemberian diri Yesus kepada para murid-Nya dan seluruh dunia pada perjamuan tertakhir itu dan yang memuncak pada kematian-Nya di kayu salib demi keselamatan seluruh umat manusia, dikenangkan oleh Gereja Katolik dalam Perayaan Ekaristi.

Ketiga, pada kesempatan ini saya ingin mengupas bagian dari Perayaan Ekaristi yang sering dilupakan, yakni Pengutusan. Aspek “pengutusan” ini semakin terbenam lenyap ketika para imam yang memimpin Perayaan Ekaristi selalu mengakhiri perayaan tersebut dengan memilih “rumusan pertama”: Pergilah Misa Sudah selesai! Padahal dalam TPE 2021 halaman 248-249 ada empat rumusan.

Keempat, lima tahun (pada 2010) setelah “Tata Perayaan Ekaristi (TPE) Baru 2005” diberlakukan, begitu banyak paroki—khususnya di Keuskupan Agung Jakarta pada waktu itu—menghabiskan begitu banyak waktu, energi, dan biaya untuk melalukan “sosialisasi” TPE; sementara itu, makna Perayaan Ekaristi sendiri tidak pernah dibahas.

Kelima, pada 2010 saya sudah 27 tahun titahbiskan menjadi iman. Itu berarti saya sudah memimpin Perayaan Ekaristi paling sedikit 9.855 kali. Tetapi mengapa tidak ada perubahan signifikan, baik dalam hidup saya maupun umat beriman yang merayakan Ekaristi yang saya pimpin. Kenyataan ini sangat menggelisahkan saya.

Keenam, kegelisahan itu mendorong saya untuk mempelajari dokumen-dokumen Gereja yang ada kaitannya dengan Perayaan Ekaristi; yakni (1) Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium (SC –1963); (2) Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja, Lumen Gentium (LG –1964); (3) Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam Prebyterorum Ordinis (PO – 1965); (4) Ensiklik Ecclesia de Eucharistia (EE) dari Paus Yohanes Paulus II (2003); (5) Surat Apostolik Mane Nobiscum Domine (MD) untuk Tahun Ekaristi dari Paus Yohanes Paulus II (2004); (6) Anjuran Apostolik Pasca Sinode, Sacramentum Caritatis, dari Paus Benediktus XVI (2007); (7) Pesan Federasi Para Waligereja Asia dalam Sidang Paripurna ke-9 (2009) tentang Menghayati Ekarisi di Asia, dan (8) Surat Anjuran Apostolik Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (EG – 2013).

Ketujuh, sumber-sumber di atas diperkaya dengan karya tulis beberapa teolog kenamaan, antara lain (1) Kenan B. Osborne, OFM; (2) Raymond Moloney, S.J.; (3) Mgr. I. Suharyo; (4) Gustavo Gutiérrez; dan (5) Dennis C. Smolarski, S.J.

Kedelapan, dari hasil studi tersebut saya temukan bahwa aspek “pengutusan” dari Perayaan Ekaristi sering dilupakan. Banyak orang mengira bahwa Perayaan Ekaristi sudah selesai ketika berkat diberikan oleh imam yang memimpin perayaan tersebut. Namun, dari sumber-sumber studi tersebut Perayaan Ekaristi tidak berhenti ketika berkat diterima, melainkan perlu dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari; yakni—meminjam istilah yang digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II—menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik (EE 20 & 39).

Kesembilan, menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik dapat diwujudkan dengan empat cara secara bersamaan (MD 27 & 28); yaitu di mana pun dan dalam situasi apapun kita perlu (1) menjadi promotor diwujudkannya persaudaraan sejati (komunio); (2) menjadi promotor diwujudkannya perdamaian; (3) mencari jalan keluar untuk mengatasi salah satu bentuk kemiskinan yang ada di sekitar kita; dan (4) mewujudkan solidaritas.

Kesepuluh, solidaritas menurut Paus Fransiskus (EG 192) dapat diwujudkan melalui empat cara, yakni (1) memastikan bahwa setiap orang mendapatkan “makanan yang bermartabat” (penulis: sehat dan bergizi); (2) membantu agar setiap orang muda mendapat pendidikan yang bermutu; (3) mengupayakan agar setiap orang dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai; dan (4) mengusahakan serta membantu agar setiap orang dapat memperoleh pekerjaan dengan upah yang adil.

Kesebelas, yang dimaksudkan dengan upah yang adil adalah upah yang mencukupi untuk membiayai hidupnya sendiri, hidup keluarganya, dan masih ada sisa yang dapat disumbangkan bagi pembangunan masyarakat tempat orang tersebut merupakan bagiannya.

Kedua belas, hanya dengan melaksanan “pengutusan”, menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik dengan sungguh-sungguh, perayaan Ekaristi kita sungguh otentik dan dunia dapat diubah sesuai dengan nilai-nilai Injil (MD 28) sehingga dunia menjadi lebih adil dan bersaudara (Paus Benediktus XVI), dan setiap orang sungguh memiliki hidup yang bermartabat.

Merayakan Kamis Putih mengajak kita untuk mengenang Yesus Kristus yang memberikan hidup-Nya agar seluruh dunia dapat diselamatkan, agar semua orang dapat memiliki hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10b). Pemberian diri Yesus yang demikian ini dapat kita lanjutkan dengan merayakan Ekaristi yang mendorong kita untuk menjadi pribadi dan komunitas Ekaristik. Semoga kita dimampukan oleh Roh Allah untuk melaksakannya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya