15 February 2026
MENEMUKAN ALLAH DALAM PENGAJARAN DAN PERATURAN HIDUP BERAGAMA
MENEMUKAN ALLAH DALAM PENGAJARAN DAN PERATURAN
HIDUP BERAGAMA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan dan merayakan Valentine’s Day, serta menikmati kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-6 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Ijil yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok (Mat 5:17-37) mengungkapkan beberapa pokok pengajaran Yesus yang keras nadanya. Juga terasa adanya kecaman bagi pendengar yang paham ajaran Taurat.
Apa maknanya bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, bagi orang Yahudi, Taurat adalah pengajaran, hukum-hukum, dan aturan yang terdapat dalam kelima kitab pertama dalam Alkitab (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Jumlahnya, ada 613 hukum: 365 bersifat larangan, sedangkan 248 sisanya berujud keharusan. Bagaimana menghayati semua itu dengan sebaik-baiknya?
Kedua, ada dua arah/cara penghayatan Taurat. Arah pertama, berusaha memenuhi yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang dengan seteliti-telitinya. Ini hidup saleh yang dijalankan oleh banyak orang beragama di zaman Yesus. Kehidupan beragama dalam arah ini diukur dengan ketaatan menjalankan hukum. Arah kedua, menerima Taurat dan mempercayainya sebagai cara mendengarkan Allah yang bersabda kepada manusia dan mendalami jiwa Taurat. Kedua arah ini tidak saling bertentangan, melainkan dua kutub menjalani Taurat.
Ketiga, Yesus mengatakan bahwa diri-Nya datang bukan untuk meniadakan Taurat (ay. 17a), melainkan untuk menggenapinya (ay. 17b). Ia menerima kedua kutub itu. “Bukan meniadakan” (ay. 17a) berarti bukan mengurungkan cara menghayati Taurat dalam pengertian “arah pertama” di atas. Yesus samasekali tidak menyangkal kesahihan sikap orang yang menerima dan menghayati Taurat dalam cara itu.
Keempat, sekaligus ditegaskan-Nya bahwa Ia datang untuk memenuhi/menggenapi Taurat (ay. 17b). Inilah arah kedua tadi. Taurat dihayati sebagai yang membuat diri-Nya menjadi dekat pada Allah yang bersabda dengan Taurat. Orang seperti ini menggenapkan Taurat, membuat Taurat tampil utuh, bukan hanya sebagai himpunan aturan, perintah, dan larangan belaka.
Kelima, “kedua arah” menghayati Taurat sama-sama membawa orang masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 19). Namun arah yang kedualah yang membuat orang menjadi besar (=”diberi tempat yang tinggi” – ay. 19b) di dalam Kerajaan Allah. “Besar” berarti leluasa, tidak ada kesesakan. “Kecil” (=”diberi tempat yang paling rendah – ay. 19b)” berarti mudah merasa sesak, kurang merdeka, tidak leluasa.
Keenam, “meniadakan salah satu perintah hukum Taurat” (ay. 19a) berarti menjalankan Taurat sebagai rangkaian hukum, aturan, dan pengajaran yang dicoba diikuti satu persatu, seperti memenuhi daftar agenda.
Ketujuh, yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya adalah menempuh “arah kedua”, tanpa mengecam “arah pertama” walaupun mengenali keterbatasan “arah pertama” tadi. Untuk tujuan itu Yesus memberi enam contoh mengenai bagaimana memandang Taurat dalam “arah kedua.”
Kedelapan, empat contoh terdapat dalam Injil yang kita renungkan ini; sementara contoh kelima (5:38-39) berkisar pada pembalasan (Kel 21:24, Im 24:20, dan Ul 19:21) dan contoh keenam (5:43-44) membicarakan perintah mengasihi sesama dan membenci musuh (Im 19:18). Contoh kelima dan keenam tidak akan dibahas.
Kesembilan, contoh pertama (ay. 21-26) menyangkut larangan membunuh yang tertera dalam Kel 20:13 dan Ul 5:17. Larangan ini memang penting dan dimaksudkan untuk melindungi kehidupan. Namun Yesus mengatakan bahwa siapa yang marah, mesti dihukum, yang mencaci-maki mesti diadili, dan siapa yang mengumpat “Bodoh/Jahil!” harus diserahkan ke dalam api neraka (ay. 22). Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kita perlu berusaha untuk hidup baik dengan sesama, dan menghormati perbedaan yang sering tidak menyenangkan.
Kesepuluh, dalam contoh kedua (ay. 27-30), Yesus hendak menekankan bahwa inti larangan berzinah dalam Kel 20:14 dan Ul 5:18 bukanlah semata-mata agar orang menghindari tindakan fisik, melainkan terutama menghindari hasrat yang membuat orang lain menjadi tujuan pemuasan nafsu. Yang dikemukakan oleh Yesus bukan hanya larangannya (untuk berzinah – ay. 27) melainkan terutama apa yang mendasari larangan berzinah tadi (menjadikan orang sebagai pemuas nafsu – “memandang perempuan dan menginginkannya” = “berzinah dalam hati” – ay. 28). Hal ini dipertajam dengan contoh ketiga.
Kesebelas, contoh ketiga (ay. 31-32) mengulas bagaimana memahami dengan benar prosedur menceraikan istri yang terdapat dalam Ul 24:1-4. Dari sisi hukum Taurat, seorang istri dapat diceraikan dengan dibuatkan surat cerai (ay. 31). Surat itu mesti diterima secara resmi oleh pihak istri. Dengan demikian maka ada perlindungan hukum bagi bekas istri. Namun tidak jarang prosedur semacam ini disalahgunakan; misalnya, tanpa alasan yang kuat untuk menalak istri, atau alasan sebenarnya yang tidak lurus, misalnya menginginkan menikahi perempuan lain.
Kedua belas, dalam Taurat, ikatan nikah hanya bisa diputus bila istri berbuat zinah (ay. 32a). Dalam hal ini, ikatan dengan suami sudah lepas, dan suami pun wajib menalak dengan prosedur surat talak tadi. Bila penalakan dibuat dengan cara/alasan lain, sang istri memang bebas dan bisa menikah lagi, tetapi tindakan penalakan ini menyatakan bahwa istrinya pernah berzinah (ay. 32b). Penalakan seperti itu sangat merendahkan martabat sang istri. Lebih lagi, orang yang menikahinya kemudian akan ikut berzinah karena mengambil perempuan yang sebetulnya tidak dilepas dari ikatan nikah dengan alasan yang benar (ay. 32c).
Ketiga belas, contoh keempat (ay. 33-36) mengenai larangan bersumpah (ay. 34-36), terlebih bersumpah palsu (Im 19.12 dan Ul 23:21) [ay. 33], hendak menekankan agar orang tidak gampang mengucapkan sumpah karena berat bebannya. Lebih sederhana dan lebih baik bila orang memegang perkataannya dan tampil berintegritas (ay. 37a). Hal ini sangat penting karena dalam praktik, sumpah kerap dijalankan untuk menipu tetapi membuat pihak lain mau tak mau menerimanya karena sumpah itu mengatasnamakan perkara-perkara keramat [Allah].
Merenungkan Injil yang memuat kata-kata keras dari Yesus ini mengajak kita untuk berpikir mengenai inti pengajaran agama yang kita miliki. [Bagi orang Yahudi waktu itu pengajaran agama adalah kewajiban menjalankan hukum Taurat]. Kita diajak untuk melihat lebih dalam yang dimaksudkan oleh pengajaran agama itu sendiri, dan tidak hanya tinggal pada permukaan.
Kita diajak untuk
menemukan Allah yang bersabda di dalam pengajaran agama yang kita miliki.
Jangan sampai kita menjalankan semua pengajaran dan peraturan agama, namun
tidak menemukan Allah di dalamnya.
Bila kita mampu
menemukan Allah dalam melakukan ajaran dan peraturan agama, kita akan mampu
tampil sebagai pribadi yang penuh integritas, sehingga kata dan tindakan kita
dapat memancarkan kehadiran Allah.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
8 February 2026
MENGGARAMI DAN MENERANGI DUNIA
MENGGARAMI DAN MENERANGI DUNIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara,
serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua rahmat yang telah dianugerahkan
kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-5 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 5:13-16) berbicara tentang para murid sebagai garam dan terang dunia.
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, Injil yang kita renungkan ini merupakan bagian dari kumpulan ajaran Yesus yang pertama dalam Injil Matius, yaitu Matius bab 5-7 (lihat catatan kedua renungan pekan yang lalu).
Kedua, dalam Mat 5:1-12 (bacaan pekan yang lalu), Yesus mengucapkan Sabda Bahagia; ay. 3-10 berkaitan dengan kehidupan orang pada umumnya (ay. 1a). Dalam ay. 10 dikatakan bahwa orang yang mengalami perlakuan buruk dan dianiaya karena melakukan kehendak Allah, perlu merasa bahagia.
Ketiga, ayat 11 isinya sama dengan ay. 10, tetapi ditujukan kepada para murid Yesus yang mengikuti Yesus ke bukit, tempat Sabda Bahagia diucapkan (ay. 1b). Sejak saat itu, Yesus berbicara mengenai kehidupan pada murid-Nya.
Keempat, pembicaran tentang garam dan terang dunia menyangkut diri para para murid Yesus sendiri. Konteksnya adalah pengalaman orang yang dimusuhi karena melakukan kehendak Allah (ay. 10), serta dicela dan diperlakukan buruk karena Yesus (ay. 11). Walaupun mengalami perlakuan seperti itu, mereka tetap diharapkan untuk bersukacita dan bergembira (ay. 12); dalam bahasa sekarang: tidak kehilangan harga diri.
Kelima, dalam konteks inilah (catatan keempat), pengajaran tentang garam dan terang dunia tampil sebagai pengajaran mengenai hidup para murid Yesus. Mereka diminta oleh Yesus untuk berlaku sebagai garam dan terang, meskipun dimusuhi. Mereka diminta untuk tetap berteguh dalam kesulitan. Sikap seperti itulah yang akan membuat mereka ikut disebut “berbahagia.”
Keenam, peran utama garam adalah membuat dunia (=masyarakat manusia) tidak mudah membusuk. Peran terang adalah membuat dunia menjadi semarak dan indah dipandang; juga agar tidak tersesat dalam kegelapan.
Ketujuh, Yesus menyebut para murid “Kamu adalah garam dunia” (ay. 13a). Mereka tidak diminta untuk “menjadi” garam, tetapi “tetap [berfungsi] sebagai” garam. Persoalannya adalah bila garam itu kehilangan dayanya dan menjadi tawar atau hambar (ay. 13b). Garam seperti ini tidak ada gunanya lagi; hanya akan dibuang dan diinjak-injak (ay. 13c). Hal ini terjadi bila para murid kehilangan identitasnya sebagai murid Yesus. Dengan kata lain, bila para murid Yesus tidak ikut membuat dunia tidak membusuk dan enak untuk ditinggali, mereka tidak memberi sumbangan apa-apa (=tawar).
Kedelapan, para murid Yesus juga diibaratkan sebagai terang dunia. Seperti halnya kota yang terletak di atas gunung (ay. 14b), para murid Yesus tidak dapat menyembunyikan diri; cara hidup mereka akan dilihat oleh semua orang dan tidak akan didiamkannya.
Kesembilan, seperti halnya pelita (lampu) yang menerangi seluruh ruangan (ay. 15), hidup para murid Yesus bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk menerangi lingkungan di se kitarnya. Lebih jauh, hendaknya cara hidup mereka “bersinar” di hadapan semua orang, sehingga perbuatan baik mereka dilihat oleh banyak orang dan orang-orang itu akan “memuliakan Bapamu yang ada di surga” (ay. 16). Maksudnya, agar perbuatan dan tingkah laku kehidupan para murid Yesus menjadi bentuk kehadiran Allah Bapa di dunia ini.
Kesepuluh, bagaimana hal itu (catatan ketujuh s/d kesembilan) dapat diwujudkan? Para murid Yesus tidak boleh mengurung diri dalam persoalan-persoalan peribadatan dan rumus-rumus iman kepercayaan sendiri, melainkan perlu melibatkan diri dalam persoalan-persoalan sosial kemanusiaan, yang merupakan medan pelaksanaan karya keselamatan Allah.
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa sebagai murid-murid Yesus kita adalah garam dan terang dunia. Tanggungjawab dan panggilan ini dapat kita wujudkan bila kita, seperti dikatakan oleh Konsili Vatikan II pada 7 Desember 1965, berani melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat dan menatanya dengan nilai-nilai Kristiani (Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, Presbyterorum Ordinis, art. 6 alinea 2). Kalau menggunakan seruan mendiang Paus Fransiskus, kita mesti “keluar dari sakristi dan pergi ke jalan-jalan” (“get out of the sacristies and into the streets”).
Semoga Roh Allah memampukan kita untuk melakukannya.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
3 February 2026
MENGHIDUPI SABDA BAHAGIA
MENGHIDUPI SABDA BAHAGIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-4 tahun
A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 5:12a) yang akan kita dengarkan dalam
Perayaan Ekaristi berbicara tentang Sabda Bahagia.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka
Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, Sabda Bahagia (Mat 5:1-12a), berperan sebagai pengantar pelbagai pengajaran Yesus yang tercantum dalam Mat 5-7.
Kedua, dalam Injil Matius terdapat lima kumpulan pengajaran; yakni (1) Mat 5-7 (Khotbah di Bukit); (2) Mat 10 (pedoman hidup bagi pewarta Kerajaan Surga); (3) Mat 13 (penjelasan mengenai Kerajaan Surga); (4) Mat 18 (pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama); dan (5) Mat 23-25 (uraian di Bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman).
Ketiga, di antara kumpulan yang satu dengan yang berikutnya ditemukan kisah-kisah mengenai tindakan serta mukjizat Yesus dan pelbagai peristiwa dalam kehidupan para murid.
Keempat, kumpulan pengajaran yang pertama (Mat 5-7), sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan kenyataannya yang penuh nanti pada akhir zaman (Mat 23-25). Dengan demikian, para murid, kita semua, akan siap menghayati pedoman hidup secara orang-perorangan (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).
Kelima, dalam Mat 4:23-25 dikisahkan bahwa: (1) Yesus berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit dan kelemahan (ay. 23); (2) berita itu tersebar ke seluruh Siria, sehingga dibawalah semua orang yang buruk keadaannya (menderita berbagai macam penyakit, sengsara, kerasukan setan, sakit ayan dan lumpuh) kepada Yesus dan disembuhkan oleh-Nya (ay. 24). Akibatnya, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (ay. 25). Mereka inilah yang dimaksudkan dengan “orang banyak” dalam Mat 5:1a.
Keenam, dalam Injil yang kita renungkan (Mat 5:1-12a) terdapat delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3-10), serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11) dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka (=para murid) tetap bersuka cita dalam menanggung segala macam kesulitan (ay. 12a).
Ketujuh, tiga Sabda Bahagia (ay. 3-5) menegaskan bahwa orang dapat disebut berbahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya adalah Tuhan sendiri. Mereka itu adalah (1) orang yang “miskin di hadapan Allah” (ay. 3); maksudnya, memiliki kebersahajaan batin; (2) orang yang “berdukacita” (ay. 4); maksudnya, orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada di dekatnya kendati orang mengalami kesulitan; dan (3) orang yang “lemah lembut” (ay. 5); maksudnya, tidak berpihak pada kekerasan.
Kedelapan, dua Sabda Bahagia (ay. 6 dan 8) menyebutkan bahwa keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan. Hal itu berupa menginginkan dan menjalankan hal-hal yang lurus (“haus dan lapar akan kebenaran” – ay. 6), serta mampu berpikir secara jernih sehingga tidak mudah dipengaruhi keinginan-keinginan yang menjauhkannya dari Tuhan (“suci hatinya” – ay. 8).
Kesembilan, dua Sabda Bahagia yang lain (ay. 7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan (kebaikan) Tuhan kepada sesama merupakan kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan. Hal itu diwujudkan dengan “berbelaskasihan” (ay. 7) dan “membawa damai” (ay. 9).
Kesepuluh, perlu disadari bahwa orang yang menghidupi semangat di atas (catatan ketujuh s/d kesembilan) akan mengalami banyak kesulitan; misalnya, dikucilkan, dibenci, dan bahkan disingkirkan (“dianiaya karena kebenaran” – ay. 10).
Kesebelas, secara khusus kepada murid-murid-Nya Yesus menambahkan Sabda Bahagia yang ke sembilan; yakni, dimusuhi oleh banyak orang karena menjadi murid-Nya (ay. 11). Sekaligus Yesus menguatkan pengharapan mereka (“bersuka cita dan bergembiralah karena upahmu besar di surga” – ay. 12a).
Kedua belas, Sabda Bahagia ini diucapkan oleh Yesus di “atas bukit” (ay. 1b). Injil Matius ditulis bagi orang-orang yang mengenal akrab alam pikiran Perjanjian Lama; yakni diturunkannya Taurat kepada Musa di gunung Sinai. Bagi umat Perjanjian Lama, Taurat berisi ajaran kehidupan dalam bentuk pedoman, petunjuk, tatacara ibadat, dan hukum, yang bila dijalani dengan jujur dan ikhlas akan membuat mereka menjadi dekat pada Tuhan dan menjadi umat yang dilindungi-Nya.
Ketiga belas, dengan latar inilah (catatan kedua belas) Matius mengisyaratkan kepada pembacanya bahwa Yesus kini menjalankan peran Musa. Yesus membawakan petunjuk, ajaran, dan kebijaksanaan, yang bila dihayati akan membuat orang menjadi bagian dari umat baru pewaris Kerajaan Surga.
Keempat belas, memang ada beberapa perbedaan mencolok di antara penampilan Musa dan Yesus. Dulu di gunung Sinai, Musa sedemikian jauh. Awan meliputi pucuk gunung tempat Musa memperoleh Firman ilahi. Tidak ada yang berani mendekat karena kebesaran ilahi sedemikian menggentarkan. Sekarang di “atas bukit” (ay. 1b), Yesus tampil sebagai tokoh yang dekat dengan orang banyak; mudah didekati oleh banyak orang. Matius memang sengaja menampilkan Yesus sebagai kenyataan dari “Tuhan menyertai kita” – Imanuel (Mat 1:23).
Kelima belas, Sabda Bahagia (Mat 5:1-12a) sebaiknya juga dibaca dengan menghubungkannya dengan pengajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31-46. Kedua bahan ini membingkai seluruh pengajaran Yesus. Kedua-duanya diberikan di atas sebuah bukit. Kedua-duanya membicarakan siapa-siapa yang bakal memiliki Kerajaan Surga, siapa-siapa yang dapat memasuki kebahagiaan kekal.
Keenam belas, dalam Mat 25:35-36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama (khususnya yang hidupnya jauh dari sejahtera) berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri. Yesus memanusiakan gambaran Penghakiman Terakhir. Diajarkan bagaimana orang bisa mengerti bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan batu uji masuk surga.
Ketujuh belas, Sabda Bahagia (Mat 5:1-12a) menggambarkan keadaan batin dan sikap hidup mereka yang nanti pada akhir zaman akan dapat mengatakan bahwa telah berbuat banyak bagi sesama. Dan Tuhan akan mengatakan kepada mereka bahwa itu semua dikerjakan bagi-Nya. Mereka yang berbuat demikian akan betul-betul dapat disebut “Berbahagia”!
Sabda Bahagia yang kita renungkan ini menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus. Sabda Bahagia menunjukkan apa yang terjadi bila orang menghidupi yang digambarkan di situ. Pendengar diajak memikirkan lebih lanjut dan mengambil sikap-sikap baru.
Tiap pengalaman yang dilukiskan dalam Sabda
Bahagia dapat dihayati oleh semua orang (tidak peduli apa agama mereka) yang
memberi ruang bagi Allah dalam hidupnya. Hidup yang terarah kepada Allah,
dengan menghayati Sabda Bahagia, itu membawa kebahagiaan. Semoga kita
dimampukan oleh Roh Allah untuk melakukannya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
24 January 2026
DIPANGGIL UNTUK MENJADI “PENJALA MANUSIA”
DIPANGGIL UNTUK MENJADI “PENJALA MANUSIA”
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat
dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama
sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ketiga tahun A dalam kalender liturgi, sekaligus sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Bacaan Injil (Mat 4:12-23) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara mengenai hal-hal yang dilakukan oleh Yesus Yesus sebelum mulai melayani orang-orang sezaman-Nya: (1) pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14); (2) mulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (ay. 15); dan (3) memilih murid-murid pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, dan kemudian juga Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (ay. 18-22).
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, kala itu Yesus sudah mulai dikenal di Yudea, terutama di dekat Yerusalem. Orang-orang di Yerusalem haus akan kerohanian baru dan mendambakan ketenteraman batin. Kita ingat banyak orang pergi ke padang gurun menemui Yohanes Pembaptis dan minta dibaptis olehnya. Arus kebangunan rohani ini membuat Herodes waswas. Bisa-bisa penguasa Roma menganggap ada gerakan religius yang mau mengadakan pemberontakan. Maka Herodes pun memenjarakan Yohanes Pembaptis, yang juga pernah mengkritik kelakuan moral Herodes secara terang-terangan (Lihat Mat 11:2-11 yang pernah diulas bagi Minggu Adven III A).
Kedua, melihat keadaan politik kurang menguntungkan itu, Yesus “menyingkir” ke wilayah Galilea di utara (ay. 12). Tinggal beberapa waktu di kota tempat ia dibesarkan, Nazaret, tetapi kemudian Ia pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14). Bila Ia tetap tinggal di Yerusalem, Ia akan mengalami kesulitann yang sama dengan yang dialami oleh Yohanes Pembaptis.
Ketiga, dalam Injil Matius, kata “menyingkir” memiliki arti menjauhi bahaya dengan bijaksana, seperti diceritakan tentang Yusuf (Mat 2:14 dan 22). Juga nanti Yesus disebut menyingkiri tempat-tempat yang menolak-Nya (Mat 12:15; 14:13; 15:21). Kadang-kadang memang lebih baik menghadapi kekuatan yang memusuhi dengan perhitungan bijaksana dan akal sehat daripada dengan keberanian belaka.
Keempat, wilayah utara (Galilea) sejak zaman dulu berbeda dengan Yudea di selatan, baik alamnya maupun budayanya. Tanah utara lebih subur. Perekonomian lebih maju. Orang-orangnya lebih berani berpikir merdeka. Sering mereka dicurigai sebagai kurang taat beragama oleh kaum elit di Yerusalem, yakni para ahli Taurat, imam-imam, dan kaum Farisi.
Kelima, di wilayah utara juga ada cukup banyak orang yang asalnya dari Yudea. Mereka pindah - bertransmigrasi - ke utara untuk menemukan nafkah yang lebih baik dan mencari peluang lebih luas. Keluarga Yesus kiranya juga dari Yudea. Karena itulah Yusuf dan Maria datang ke Betlehem di Yudea dari Nazaret di Galilea, untuk menepati sensus di tempat asal mereka seperti diceritakan penginjil Lukas (Luk 2:1-5).
Keenam, orang di utara sudah biasa berhubungan dengan budaya lain. Di wilayah yang memiliki tradisi berpikir lebih luas itulah Yesus mulai mewartakan hal baru. Ia didengarkan. Ia tidak dianggap sepi. Mereka membicarakan yang diajarkan-Nya (lih. (Mrk 1:21-22 dan Luk 4:31-32). Tentu tidak semua orang selalu setuju dengan-Nya; bahkan di Nazaret Ia pernah ditolak (Mrk 6:1-6a; Mat 13:53-58; Luk 4:16-30).
Ketujuh, di wilayah utara beberapa puluh tahun sebelum kedatangan Yesus sudah berkembang satu sektor perekonomian dan bisnis baru, yakni pengelolaan ikan dari danau Genesaret (juga disebut danau Tiberias). Pasar-pasar ikan bertumbuhan di tepian danau sampai menjadi wilayah hunian dan kota yang ramai. Kapernaum adalah salah satu dari kota-kota itu. Begitu juga Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepian danau Tiberias. Nanti Yesus mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu nelayan.
Kedelapan, dalam ukuran zaman itu, para nelayan adalah orang-orang yang maju dalam bisnis. Salah satu usahawan seperti itu adalah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Semua –dari menjala, menyortir, sampai membawa ikan ke pasar– dijalankan dengan bantuan sanak saudara dan kenalan. Orang-orang itu mahir berusaha.
Kesembilan, mereka inilah yang dijumpai Yesus dan diundang untuk mengikuti-Nya (ay. 18-19 dan 21). Yesus melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam diri mereka. Ia tidak menunggu mereka datang kepada-Nya. Ia mendatangi para nelayan itu, menyertai mereka. Begitulah Ia makin didengarkan. Mereka ini kemudian juga menjadi pengikut-Nya (ay. 20 dan 22).
Kesepuluh, mengapa Yesus meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (ay. 13)? Hal itu dilakukan-Nya agar terpenuhi firman yang disampaikan melalui nabi Yesaya (Yes 8:23-9:1); yakni bangsa-bangsa yang diam di wilayah kegelapan kini telah melihat “Terang yang besar”. Negeri-negeri dan orang-orang yang dulu biasanya dianggap tidak masuk hitungan kini telah memperoleh Terang (Mat 4:15-16). Dan “Terang” itu adalah kedatangan Yesus di antara mereka.
Kesebelas, bagi orang Yahudi, yang menjadi pendengar utama Injil Matius, “terang” yang terbit dan dapat dialami itu mengingatkan pada perkara-perkara yang lebih dalam. Pertama-tama, tentu saja penciptaan terang yang membatasi ruang gerak kegelapan (Kej 1:3-5).
Kedua belas, ada pula gagasan lain yang amat kaya berkaitan dengan “terang”; yaitu yang tersirat dalam rumus berkat imam Harun seperti didapati dalam Bil 6:24-26. Dimohonkan agar kehidupan ini menjadi teberkati dan dijagai Tuhan (Bil 6:24), agar orang mengalami sinar wajah Tuhan dan merasa disayang oleh-Nya (Bil 6:25), dan merasa dipandangi serta mendapat kedamaian dan kesejahteraan dari-Nya (Bil 6:26).
Ketiga belas, wajah Tuhan yang bersinar itu membuat pengalaman kegelapan tersapu. Tuhan tidak pernah berwajah gelap. Ia memang dapat memalingkan wajah-Nya dari manusia. Bila hal itu terjadi, maka manusia akan menjadi mangsa kekuatan-kekuatan gelap, bahkan akan dirundung maut. Dengan kata lain, dipandangi Tuhan dengan sinar wajah-Nya itulah kedamaian dan keselamatan.
Kempat belas, bagi penginjil Matius sinar wajah Tuhan yang menyayangi manusia, yang memandanginya terus dan memberi kedamaian itu adalah Yesus yang kini mulai bekerja. Ia juga seperti ciptaan pertama yang menerangi jagat mengusir kegelapan.
Kelima belas, menghadapi datangnya Yesus sebagai sang terang, orang diajak untuk bertobat sebab “Kerajaan Surga” sudah dekat (ay. 17). Orang diundang untuk meninjau kembali cara kerja dan pandangan hidup yang nyata-nyata dijalaninya. Kalau sudah “pas” silakan dilanjutkan, bila membuat hidup menjadi sesak silakan diubah.
Keenam belas, dengan kata lain, orang diajak melihat kehidupan ini dalam terang sinar wajah Tuhan yang telah dipalingkan kepada manusia dalam diri Yesus. Termasuk melihat kehidupan yang masih penuh luka. Karya Yesus menyembuhkan orang, mengusir roh jahat, menghibur orang yang kena susah, dan mengajarkan jalan kebenaran akan menunjukkan bahwa manusia tidak dibiarkan sendirian.
Ketujuh belas, Yesus memilih murid-murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan (ay. 18-19). Mereka segera meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus (ay. 20). Juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu serta ayah mereka –pemilik perusahaan ikan yang sukses tadi– setelah dipanggil oleh Yesus (ay. 21-22). Orang-orang ini melihat sinar wajah Tuhan (=Yesus) yang memandangi mereka dan mereka tidak ingin kehilangan sinar itu.
Kedelapan belas, mereka dipanggil untuk dijadikan “penjala manusia” (ay. 19). “Menjadi penjala manusia” bukan mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Penginjil Lukas (Luk 5:10) menjelaskan “penjala manusia” dalam bahasa Yunani sebagai “anthropous (ese) zogron”; artinya, memegang manusia untuk membawanya ke kehidupan. Tanggung jawab utusan Yesus bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, dan menguatkan agar orang bisa hidup terus, dan menemukan jalan mereka.
Kesembilan belas, murid-murid Yesus yang pertama itu berasal dari kalangan yang cukup terpandang dalam masyarakat. Mereka dapat membantu orang-orang yang berkekurangan sehingga hidup mereka menjadi bermartabat. Penginjil Lukas mengembangkan aspek ini dalam Kis 2:44-45 (orang saling berbagi milik mereka sehingga tidak ada seorang pun yang berkekurangan); dan Kis 5:34-35 (seorang pemimpin melindungi orang yang sedang dalam ancaman bahaya yang datang dari orang lain). Tindakan-tindakan itu dilakukan agar sebanyak mungkin orang dapat menikmati kesejahteraan yang memang dicurahkan “dari atas sana”. Inilah makna dari “menjala manusia”.
Merenungkan petikan Injil ini mengundang kita untuk berani menerima kedatangan Yesus sebagai “wajah Allah yang memandangi umat-Nya” untuk menganugerahkan kesejahteraan kepada mereka, agar kita dapat ikut menyalurkan kesejahteraan itu kepada orang lain melalui tindakan-tindakan kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
18 January 2026
YESUS SEBAGAI “ANAK DOMBA ALLAH” DAN “ANAK ALLAH”
YESUS SEBAGAI “ANAK DOMBA ALLAH” DAN “ANAK ALLAH”
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Saya juga berharap bahwa tidak ada di antara
Anda—khususnya yang tinggal di Jakarta—yang terkena banjir. Selamat menikmati
akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan merasakan kembali semua kebaikan
Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa kedua Tahun A dalam kalender liturgi. Sakaligus, Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani. Injil (Yoh 1:29-34) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi menyampaikan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus sebagai “Anak Domba Allah” (ay. 29) dan “anak Allah” (ay. 34).
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, bagian Injil yang kita renungkan ini mulai dengan menyebutkan bahwa “keesokan harinya” (Yoh 1:29) Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya. Ungkapan “keesokan harinya” sangat besar peranannya. Injil Yohanes menyebut hari-hari untuk menggemakan hari-hari penciptaan (bdk. Kej 1:1-37) agar orang memahami kedatangan Yesus sebagai karya penciptaan yang baru (Yoh 1:1-5.9).
Kedua, ungkapan “keesokan harinya” berarti hari kedua dalam kisah Penciptaan. Pada hari kedua itu, langit dijadikan (Kej 1:6-8). Langit berperan sebagai pemisah air-air yang di atas dan yang di bawah (Kej 1:7).
Ketiga, bersama dengan penciptaan terang (Kej 1:3; bdk. Yoh 1:4b-5.9) dan pembedaan siang dengan malam (Kej 1:4-5) pada hari pertama, Allah mulai menyiapkan wahana bagi daratan dan kehidupan yang akan diciptakan pada hari-hari selanjutnya.
Keempat, ada hal yang erat berhubungan dengan catatan kedua, yang patut didalami. Meski langit yang diciptakan pada hari kedua itu menahan air-air tadi, nanti pada awal Kisah Air Bah, disebutkan bahwa tingkap-tingkap langit terbuka lagi dan jagat dilanda banjir dahsyat (Kej 7:11). Dalam Kisah Air Bah, kejadian ini ditampilkan sebagai akibat dari keburukan hidup manusia seperti disebutkan dalam Kej 6:5. Tetapi bila disimak, di situ juga sekaligus ditekankan betapa besarnya kekuatan “langit” pembendung daya-daya tadi.
Kelima, dengan menggunakan ungkapan “keesokan harinya” penginjil Yohanes menjadikan pengalaman iman orang akan karya awal Allah Pencipta itu sebagai latar bagi tampilnya Yesus. Ingin ditekankan bahwa kini karya penciptaan masih berjalan terus, jagat mulai diterangi, ditata sehingga yang gelap dapat diatur dan tidak merajalela. Setelah itu air-air mulai dibendung dengan langit.
Keenam, gagasan yang ingin ditampilkan adalah semua yang ada di muka bumi, yang akan diciptakan nanti, akan memandangi langit sebagai tempat Yang Mahakuasa hadir dan yang membendung kekuatan-kekuatan (ke)gelap(an) dan penghancur, sehingga penciptaan selanjutnya dapat terus berjalan.
Ketujuh, dengan latar itu (catatan kedua s/d keenam) kedatangan Yesus menjadi semakin bermakna. Injil Yohanes membuat orang membayangkan peran Yesus sebagai “langit” yang membendung kekuatan-kekuatan yang tadinya tidak terkendali (“air-air” dalam Kej 1:6-7). Yesus, yang dilihat Yohanes Pembaptis datang pada “keesokan harinya” itu, berperan sebagai “kekuatan” yang membendung daya-daya penghancur yang masih terus mengancam kemanusiaan.
Kedelapan, “langit” yang diciptakan sebagai pembendung air-air dahsyat itu kini dipersaksikan oleh Yohanes Pembaptis sebagai “Anak Domba Allah”. Bukan yang jauh di cakrawala dan di atas sana, melainkan yang dekat, yang berasal dari kehidupan sehari-hari manusia; sebagai domba yang penurut dan menerima dijadikan persembahan kepada Tuhan. Ditekankan dalam pengertian “Anak Domba Allah” itu, persembahan dari pihak manusia yang mendapat perkenan dari Tuhan Yang Mahabesar.
Kesembilan, Injil Yohanes hendak menampikan sebuah paradigma baru dalam memahami penciptaan dan kelanjutannya. Di atas telah disinggung bahwa jauh setelah penciptaan langit selesai, tingkap-tingkap langit terbuka kembali (Kej 7:11) sebagai akibat keburukan manusia pada zaman Nuh dulu (catatan keempat). Kini Yesus dipersaksikan - ditegaskan dari pengalaman iman - sebagai kurban (“anak domba”) dari pihak manusia kepada Allah; dan kurban inilah yang membuat dosa dunia terhapus, dibersihkan. Keburukannya disingkirkan. Inilah kiranya yang dimaksud dengan pernyataan iman atau kesaksian bahwa Yesus itu “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29b).
Kesepuluh, kejahatan memang mendatangkan hukuman. Namun, sisi lain kerap kurang dilihat; yakni sisi Tuhan yang masih mau menyelamatkan (orang-orang) yang bisa diselamatkan – sebagaimana Ia mengasihi Nuh dan menyelamatkannya. Kerapuhan manusia dan kerahiman Allah juga merupakan bagian kenyataan hidup, yang tak terpisahkan.
Kesebelas, Yohanes Pembaptis mengajak orang melihat dan mengakui kedua sisi tadi (catatan kesepuluh). Dalam kesaksian mengenai Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, ia mau menekankan bahwa kemanusiaan yang rapuh tetap disertai kerahiman ilahi. Semua ini dikatakannya dengan bahasa kurban “anak domba” (Yoh 1:29b). Kurban ini bakal membuat wajah buruk manusia, yang dalam Injil Yohanes disebut “dosa dunia” (Yoh 1:29b), terhapus, dibersihkan.
Kedua belas, Yohanes Pembaptis juga menyebut Yesus sebagai “Anak Allah” (Yoh 1:34). Dalam cara berungkap orang Ibrani, “Anak Allah” tidak menunjuk pada gagasan diperanakkan secara harfiah. Ungkapan “Anak Allah” berdasarkan pada pengertian hubungan mendalam antara “anak” dengan “bapak”; yakni kedekatan, keakraban, perhatian besar, serta saling mempedulikan, dan semuanya ini tumbuh dari kecil, dari saat mulai ada.
Ketiga belas, secara singkat, “Anak Allah” berarti manusia yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri. Kedekatan dan keakraban ini tumbuh dari kecil, dari semula. Oleh karena itu, Dia (Yesus) yang disebut “anak Allah” itu nanti mampu menunjukkan Yang Mahakuasa sebagai Tuhan yang juga dekat, Tuhan sebagai “Bapa” (Yoh 5:17, dll.).
Keempat belas, dari mana Yohanes Pembaptis mendapat keberanian mengatakan semua itu? Jawaban yang diberikan oleh penginjil Yohanes adalah karena ia melihat Roh yang turun ke atas Yesus dan tinggal di atasnya (Yoh 1:33). Roh itu “menetap” pada Yesus, tidak pergi. Yesus disertai Roh secara tetap. Inilah yang menjadikan-Nya sedemikian dekat dengan Yang Ilahi. Roh yang datang dari Yang Ilahi itulah yang mengumumkan Yesus sebagai “anak Allah”.
Ketiga
Injil lain (Mat 3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22) mengungkapkan hal yang sama
dengan cara mereka sendiri, seperti telah dibicarakan dalam ulasan bagi Pesta
Pembaptisan Tuhan pekan yang lalu (lihat catatan ketiga belas).
Merenungkan
Injil ini mengingatkan kita akan dua hal. Pertama, Allah masih terus
melaksakanan karya penciptaan-Nya guna menyembuhkan ciptaan yang rusak dan
hancur akibat ulah manusia (kita termasuk di dalamnya) yang tidak
bertanggungjawab.
Kedua,
seperti halnya Yesus, kita dipanggil untuk menjalin relasi yang sangat dekat
dengan Allah agar dapat menjadi “langit” guna “membendung” (melawan)
kekuatan-kekuatan kejahatan dalam berbagai macam bentuknya, supaya semua
ciptaan Allah dapat mengalami keutuhan dan keselamatan.
Semoga
Roh Allah, yang telah memampukan Yesus, juga akan memampukan kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
10 January 2026
PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DAN PEMBAPTISAN KITA
PEMBAPTISAN TUHAN YESUS DAN PEMBAPTISAN KITA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak
beristirahat dan menikmati kembali semua kebaikan Allah yang telah
dianugerahkannya kepada kita selama minggu pertama dalam tahun baru 2026.
Besok kita akan merayakan pesta Pembaptisan Tuhan Yesus. Apa makna peristiwa ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, laporan tentang pembaptisan Yesus yang paling awal kita temukan dalam Injil Markus (Mrk 1:9-11). Di situ terdapat tiga hal: (1) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan (ay. 9), (2) sewaktu keluar dari air Ia melihat langit terbuka (“terbelah”) dan Roh turun kepada-Nya seperti burung merpati (ay. 10); artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam ujud yang lembut, dan (3) saat itu juga terdengar suara dari langit yang kini terbuka berkata, “Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan” (ay. 11). Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu kepada umat manusia; yakni Anak Allah yang terkasih.
Kedua, Injil Matius (Mat 3:13-17), Lukas (Luk 3:21-22), dan secara tak langsung juga Yohanes (Yoh 1:32-34), menyampaikan kembali bahan Markus ini dan menerapkannya bagi pendengar mereka masing-masing. Meskipun masing-masing Injil menyampaikannya dengan penekanan dan kekhususan masing-masing, namun ada unsur yang sama; yakni, seperti orang banyak, Yesus datang mengikuti seruan Yohanes Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat, artinya: menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi kehadiran Yang Ilahi sendiri.
Ketiga, selain mengutarakan kembali ketiga hal yang dilaporkan Markus tadi (catatan pertama), Matius menambahkan percakapan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus (ay. 14-15). Yohanes mengatakan bahwa dirinyalah yang semestinya dibaptis oleh Yesus (ay. 14). Namun Yesus menjawab semua ini terjadi untuk menggenapkan kehendak Allah (ay. 15). Percakapan ini ditampilkan Matius untuk menjernihkan pertanyaan apakah Yohanes lebih besar daripada Yesus.
Keempat, selain hal itu, kata-kata yang terdengar dari langit yang menurut Markus (Mark 1:11) dan Lukas (Luk 3:22b) diucapkan langsung kepada Yesus, dalam Matius tampil sebagai pernyataan tentang Yesus (ay. 17b). Hal ini akan diulas dalam catatan kesembilan sampai ketiga belas di bawah.
Kelima, konteks kisah Yesus dibaptis adalah ajakan Yohanes Pembaptis kepada orang banyak untuk bertobat, untuk berganti haluan hidup, sehingga mendapat penghapusan dosa. Penghapusan dosa di sini berarti memperoleh kembali kemerdekaan batin yang bakal membuat orang bisa berbesar hati dan berani membiarkan diri dituntun oleh Allah sendiri.
Keenam, seperti halnya banyak orang yang mengikuti seruan Yohanes itu, suatu saat datang pula Yesus dan ikut dibaptis. Dalam peristiwa itu langit terbuka, Roh Kudus turun (ay. 16), dan terdengar sabda ilahi mengatakan bahwa Yesus itu putra terkasih, Ia mendapat perkenan dari atas (ay. 17).
Ketujuh, bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan ilahi bersama “anak yang terkasih” ini untuk menyertai perjalanan orang-orang yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi (catatan kelima). Inilah yang dimaksud dengan “agar kehendak Allah digenapkan” (Mat 3:15). Yesus adalah orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran Allah sendiri sehingga, menurut kata-kata Markus, Ia dapat melihat langit terbuka (“terkoyak”), dan Roh Allah turun ke atas-Nya (Mrk 1:10).
Kedelapan, Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air, sedangkan yang akan datang nanti akan membaptis dengan Roh dan api (Mat 3:11; Mrk 1:8; dan Luk 3:16; bdk. Yoh 1:33). Air membersihkan, tetapi hanya bagian luar. Api memurnikan luar dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan. Cara penyampaian seperti itu menolong kita mengerti bahwa baptisan dengan Roh artinya diberi kemungkinan menempuh hidup baru dengan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan sendiri.
Kesembilan, Markus (Mrk 1:11) dan Lukas (Luk 3:22b) menyampaikan kembali kata-kata yang terdengar dari langit sebagai, “Engkaulah anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” Jadi yang disapa dengan kata-kata itu adalah Yesus sendiri. Dengan “rumusan” ini, kedua Injil ini hendak menekankan pengalaman batin Yesus ketika menerima baptisan itu. Pengalaman batin mendapati diri sebagai orang yang disapa sebagai “anak terkasih” oleh Dia yang ada di langit itu dimungkinkan oleh Roh Kudus yang turun ke atas Yesus. Ungkapan “anak terkasih” di situ berarti orang yang amat dekat, yang terpilih untuk menjalankan urusan-urusan Allah. Itulah maksud “kepadamu Aku berkenan”. Pengalaman batin ini kemudian menjadi kekuatan Yesus.
Kesepuluh, dalam Mat 3:17 “kata-kata yang terdengar dari langit” seperti dilaporkan oleh Markus dan Lukas (catatan kesembilan), diubah menjadi: “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Jadi bukan sapaan ilahi kepada Yesus sebagaimana tercatat dalam Markus dan Lukas, melainkan sebuah pernyataan tentang Dia. Matius memberikan pewartaan mengenai siapa Yesus itu kepada orang banyak. Yesus adalah orang yang amat dekat (“anak-Ku yang terkasih”) dengan Yang Ilahi dan mendapat perkenan dari Allah untuk melakukan tindakan-tindakan di antara manusia atas nama Allah.
Kesebelas, dengan melakukan perubahan ini, Matius bermaksud membuat hal yang dialami Yesus secara batin tadi akhirnya juga menjadi pengalaman semua orang yang hadir di situ, termasuk siapa saja yang menjadi pembaca Injilnya.
Kedua belas, dengan melakukan perubahan ini, Matius juga mendekatkan pengalaman batin Yesus kepada semua orang. Orang banyak dapat ikut serta di dalam pengalaman Yesus yang paling batin sekalipun. Bagaimana caranya? Tentu saja bila ikut memperoleh Roh seperti Yesus sendiri.
Ketiga belas, dikatakan dalam Mat 3:17 (juga dalam Mrk 1:10 Luk 3:22), “Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Roh yang bisa tampil sebagai api yang membakar itu kini tampil sebagai yang lemah lembut, tetapi daya-Nya tetap sama. Dan kekuatan yang turun ke atas Yesus dalam ujud yang lembut itu juga akan menjadi kekuatan bagi orang banyak yang menerima baptisan. Yohanes Pembaptis sendiri pernah mengatakan hal ini ketika menegaskan bahwa Dia (=Yesus) yang akan datang itu akan membaptis dengan Roh dan api (lihat Mat 3:11; Mrk 1:8; Luk 3:16; dan Yoh 1:33).
Keempat belas, Yesus datang seperti orang banyak untuk menerima baptisan tobat (ay. 13). Tetapi, dalam kesempatan itu Yesus bukan hanya berbagi kehidupan dengan orang banyak, melainkan juga memberi ruang gerak bagi Roh Allah yang menjadi nyata, bahkan memberi ruang kepada kehadiran kekuatan ilahi sendiri dalam hidup-Nya.
Merenungkan Injil ini, menyadarkan kita bahwa dengan menerima pembaptisan, Yesus menyatakan kesediaan untuk berbagi kehidupan dengan orang banyak dengan ikut merasakan kegelisahan, siap mengambil bagian dalam kerisauan orang banyak dalam menantikan kedatangan yang dijanjikan. Kesediaan semacam itulah yang membuat-Nya dipenuhi Roh, menjadikan-Nya orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri, dan diserahi tugas menghadirkan Allah kepada siapa saja.
Kesediaan
Yesus berbagi keprihatinan dengan orang banyak itu menjadi jalan bagi Allah
untuk hadir di tengah-tengah manusia. Yang Mahakuasa tidak meninggalkan
kemanusiaan yang gelisah, yang menderita, yang mengalami kesusahan.
Sekarang ini juga Allah masih bisa hadir untuk menghibur, menguatkan, dan menolong orang-orang yang menderita lewat kesediaan orang-orang—kita semua—yang dengan menerima pembaptisan bersedia mempedulikan keadaan mereka.
Teriring salam dan doa, Rm.
Madya, S.J.