Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

29 March 2026

SETIA PADA JALAN YANG TELAH DIPILIH

SETIA PADA JALAN YANG TELAH DIPILIH

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan guna beristirahat sejenak dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan, sekaligus menyiapkan diri untuk memasuki hari pertama Pekan Suci.

Besok kita akan merayakan hari raya Minggu Palma, hari pertama Pekan Suci. Ada dua bacaan Injil yang akan kita dengarkan dalam perayaan tersebut. Yang pertama, Mat 21:1-11, mengingatkan peristiwa sambutan meriah bagi Yesus yang datang di Yerusalem sebagai seorang raja yang lemah lembut.  

Yang kedua, Mat 26:14-27:66, tentang kisah sengsara Yesus. Kisah ini diawali dengan pengkhianatan Yudas pada hari Rabu (Mat 26:14-16) dan berlanjut hingga Kamis petang (26:17-75: perjamuan malam, penangkapan Yesus dan persidangan di Sanhedrin, serta penyangkalan Petrus), diikuti dengan kejadian pada hari Jumat (27:1-61: penetapan hukuman bagi Yesus, penyaliban dan wafat-Nya, serta penguburan-Nya), dan Sabtu (27:62-66: penjagaan kubur).

Apa makna kedua kisah ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, menurut Mat 21:5, kedatangan Yesus di Yerusalem itu merupakan peristiwa yang telah dinubuatkan nabi Zakharia (Za 9:9): “Katakanlah kepada putri Sion (= Yerusalem beserta penghuninya): Lihat Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda.”

Kedua, diceritakan dalam ay. 5b dan 7 bahwa Yesus mengendarai dua ekor keledai sekaligus. Ungkapan ini digunakan oleh penginjil Matius untuk menjelaskan pandangan orang-orang zaman itu tentang Mesias yang mendatangi mereka. Ia adalah pribadi yang memiliki dua sifat sekaligus. Yang pertama, wibawa seorang raja. Dalam teks Zakharia (Za 9:9) digunakan istilah “adil dan jaya”. Ungkapan ini tidak dicantumkan oleh Matius dalam Injilnya, karena semua pendengarnya sudah memahaminya. Sifat yang kedua adalah “lemah lembut”; artinya, yang dapat memahami kerapuhan manusia.

Ketiga, lebih sukar mengendarai keledai daripada tunggangan lain—apalagi dua ekor keledai sekaligus yang belum pernah ditunggangi orang!—karena keledai biasanya bukan hewan penurut dan tidak berjalan cepat. Hanya orang yang “pintar” sajalah yang bisa mengendarainya tanpa ada yang menggiringnya di muka.

Keempat, kini Yesus memasuki Yerusalem mengendarai dua ekor keledai, sebagai orang yang tahu mengarahkan tunggangan yang sukar ini. Yang hendak dikatakan oleh penginjil Matius adalah Yesus itu orang yang penuh kearifan. Ia dapat menyatukan kejayaan dan kelemahlembutan.

Kelima, orang-orang menghamparkan pakaian di jalan ketika Yesus lewat (ay. 8a). Tindakan ini memiliki dua makna. Pertama, Yesus yang lewat itu pasti tidak akan menjejak tanah, yang kerap dipakai untuk menggambarkan kerapuhan serta kelemahan manusiawi. Yang mendatangi Yerusalem ini adalah raja yang mengatasi kelemahan dengan kebijaksanaan yang lembut tetapi berwibawa. Kedua, tindakan menghamparkan pakaian itu juga menggambarkan kesediaan orang-orang itu untuk tunduk kepada Dia yang sedang mendatangi mereka dengan kebijaksanaan-Nya itu.

Keenam, dengan menghamparkan pakaian di jalan, orang-orang itu menyatakan diri untuk tunduk kepada Yesus. Hal itu terjadi karena saat itu kekuatan kegelapan yang mengancam Yesus belum bertindak. Ketika kekuatan-kekuatan ini tampil, orang-orang yang menyambut kedatangan Yesus dan menyatakan diri tunduk kepada-Nya itu nanti juga akan ikut meneriakkan kematian bagi-Nya (Mat 27:22b & 23b).

Ketujuh, kekuatan kegelapan yang melawan Yesus ini terlihat begitu besar dan mengerikan. Sedemikian kuatnya sehingga dapat menembus sampai ke lingkungan yang paling dekat dengan Yesus sendiri, yakni Yudas (Mat 26:14-16; 47-49).

Kedelapan, kisah sengsara menurut Matius terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah Mat 26:14-27:10. Bagian ini berawal dan berakhir dengan episode Yudas, yakni Mat 26:14-16 (Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala) dan 27:3-10 (Yudas mengembalikan 30 perak yang diterimanya dari mereka, lalu menggantung diri).

Kesembilan, bagian kedua Kisah Sengsara berawal dengan peran Pilatus (menahan Yesus dan melepaskan Barabas atas desakan imam-imam kepala, Mat 27:11-26) dan berakhir dengan tindakan Pilatus (juga atas permintaan imam-imam kepala) yang mengirim penjaga ke kubur agar jenazah Yesus tidak diambil murid-murid-Nya pada hari ketiga (Mat 27:65-66).

Kesepuluh, pada akhir hidup-Nya, kehidupan Yesus memang dijungkir-balikkan oleh Yudas dan Pilatus. Namun pemeran utama dalam peristiwa itu sebenarnya bukan mereka berdua, melainkan “para imam kepala, orang Farisi, dan tetua-tetua Yahudi.” Mereka ini membadankan (merupakan wujud dari) kekuatan-kekuatan kegelapan yang hendak membatasi gerak Yesus sebagai utusan Allah yang datang ke Yerusalem itu. Yudas dan Pilatus hanyalah sekadar menjadi tangan kotor para pemimpin bangsa Yahudi tersebut.

Kesebelas, di balik kisah tragis Yudas terdapat misteri tindakan Allah bila dilihat bagaimana Yesus menanggapinya. Ketika Yesus mengumumkan dalam perjamuan malam bahwa di antara yang hadir ada yang bakal menyerahkan-Nya, Yesus tidak menuduh siapapun. Bahkan ketika Yudas ikut bertanya apakah dia itu orangnya, jawab Yesus hanyalah “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:25). Kata-kata ini maksudnya sama dengan “Coba pikirkan apa sebenarnya yang sedang kaulakukan ini!” Yudas diajak untuk menyadari apakah yang sedang dilakukannya itu memang benar.

Kedua belas, Yudas sebenarnya orang yang terlalu naif. Ia ingin menda-patkan relasi dengan kaum berkuasa, bukan untuk mencelakakan Yesus, melainkan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Dalam hati kecil ia berangan-angan bahwa Yesus itu orang yang luar biasa sehingga akan dapat menghindari penangkapan dan konsekuensi lebih jauh.

Ketiga belas, Yudas mempunyai persepsi sendiri mengenai siapa Yesus itu. Inilah yang membuat Yudas celaka. Ia adalah salah satu orang yang terdekat dengan Yesus tetapi tidak mau melihat siapa Dia sesungguhnya, dan makin menutup hati dan pikiran sendiri.

Keempat belas, Yesus telah tiga kali mewartakan bahwa Ia akan mengalami sengsara dan mati serta bangkit. Itu jalannya. Murid-murid tidak memahami hal itu. Juga Yudas. Tetapi Yudas bukan hanya tidak memahami, melainkan bertindak gegabah menolak untuk memahami Dia. Ia mau mendapatkan keuntungan dengan perhitungan sendiri. Dengan demikian ia menyepelekan kebijaksanaan ilahi.

Kelima belas, Yesus berkata bahwa yang terjadi pada Anak Manusia (=Yesus),  sesuai dengan yang dituliskan tentang Dia, tetapi celakalah orang (= Yudas) yang olehnya Dia diserahkan. Lebih baik baginya sekiranya ia tidak dilahirkan (Mat 26:24). Artinya, tindakan Yudas itu sebetulnya tidak bakal mengubah jalan yang sedang ditempuh Yesus.

Keenam belas, Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sedang ditindakkan (=dilaksanakan) oleh Yang Mahakuasa! Tragisnya, Yudas tidak menyadari hal ini. Ia baru terbangun ketika sudah terlambat. Dan sekali lagi ia masih mengira bahwa ia dapat mengurungkan yang terjadi dengan mengembalikan 30 perak yang diperolehnya (Mat 27:3-5a). Ia makin terkurung dalam dirinya sendiri dan mengakhiri hidupnya secara tragis (Mat 27:5b).

Ketujuh belas, orang bisa memungkiri Yesus seperti yang dilakukan Petrus (Mat 26:69-75) atau meninggalkannya seperti murid-murid lain (Mat 26:56b), tetapi mereka tidak mendahului tindakan Allah. Mereka itu bisa ditolong dan kembali. Tetapi Yudas [atau siapapun] yang mendahului tindakan Allah atau mau mengurungkannya tidak bakal tertolong.

Kedelapan belas, disebutkan dalam bagian kedua Kisah Sengsara bahwa istri Pilatus semalaman gelisah bermimpi dan keesokan harinya mengirim pesan kepada suaminya agar jangan mencampuri perkara “orang yang benar” itu (27:19). Ini isyarat dari penginjil Matius bagi pembaca Injilnya agar menengok kembali ke belakang, ke nasib tragis Yudas. Dengan menyerahkan Yesus sebetulnya Yudas “mencampuri perkara orang yang benar” dan mendapat celaka.

Kesembilan belas, sekaligus pembaca diajak memeriksa dari dekat apakah Pilatus betul-betul “mencampuri perkara orang benar” ini dan sejauh mana. Sekalipun ia ikut campur, namun semua yang terjadi pada Yesus sebetulnya terjadi bukan karena Pilatus. Malah dalam seluruh bagian kedua kisah sengsara itu (Mat 27:12-26 & 62-65) Matius memperlihatkan betapa konyolnya sang penguasa itu. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh pemuka-pemuka bangsa Yahudi.

Merenungkan dua buah kutipan Injil yang diwartakan dalam perayaan Minggu Palma ini, kita semakin memahami bahwa Yesus tetap setia pada jalan-Nya. Baginya tetap berlaku gambaran yang bertumpang-tindih antara “raja yang jaya” dan “kelembutan hati” yang membuat-Nya rapuh di hadapan kekuatan-kekuatan kegelapan yang sedang berusaha menjungkirbalikkan hidup-Nya dengan mempergunakan baik Yudas maupun Pilatus. Tetapi Yesus tetap berada di dalam garis kebijaksanaan Allah hingga akhir. Inilah kebesaran Yesus sebagai utusan Allah yang dirayakan selama Pekan Suci ini.

Semoga kita dianugerahi kesetiaan seperti Yesus.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


 

Lihat selengkapnya

23 March 2026

MENEMUKAN UNGKAPAN IMAN YANG TEPAT

MENEMUKAN UNGKAPAN IMAN YANG TEPAT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat serta mensyukuri segala rahmat Allah bersama dengan saudari dan saudara Muslim dan Muslimat, yang hari ini merayakan Hari Raya Id’ul Fitri.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-5 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 11:1-45) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi besok bercerita tentang Lazarus, saudara Marta dan Maria, yang telah empat hari berada di liang kubur dan dihidupkan kembali oleh Yesus.

Apa makna dari cerita ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, waktu itu Yesus sedang berada di seberang sungai Yordan, di luar wilayah Yudea, karena menyingkiri orang-orang yang mau merajam-Nya di wilayah Bait Allah (lihat Yoh 10:31. 39 dan 40).

Kedua, dari Betania dekat Yerusalem datanglah kabar mengenai Lazarus yang sedang sakit (ay. 1a & 3). Orang ini adalah saudara Maria dan Marta, kenalan baik dan murid Yesus dari kalangan yang lebih luas (ay. 1b & 2).

Ketiga, ketika mendengar berita mengenai sakitnya Lazarus, Yesus masih tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada (ay. 6). Maksudnya, Ia menanti “saat yang tepat” untuk mengajak murid-murid ke Yudea (ay. 7). Yesus bertindak sesuai dengan saat Allah sendiri bertindak dan dengan demikian dapat menjadi tanda kehadiran-Nya di dunia ini (ay. 4 & 42).

Keempat, perlu kita ingat bahwa tujuan utama perjalanan Yesus ialah “ke Yudea” (ay. 7), yakni menyongsong hari-hari Ia ditolak, ditangkap, dan disalibkan, tetapi juga dibangkitkan oleh Bapa-Nya (Yoh 18:1 s/d 20:10). Dalam rangka itulah Yesus pergi mendapati Lazatus, sahabatnya, yang telah meninggal.

Kelima, Yesus pergi “ke Yudea” sebagai “terang dunia” yang dibutuhkan agar orang tetap lurus berjalan; tanpa Dia orang akan tersandung jatuh dalam kegelapan (ay. 9-10). Mengenai Yesus sebagai “terang”, silakan melihat kembali renungan minggu yang lalu (catatan kelima dan keenam).

Keenam, baik Marta maupun Maria berkata bahwa seandainya Yesus ada di situ pastilah saudara mereka tidak mati (ay. 21 dan 32). Ini adalah ungkapan kepercayaan yang tebal tanpa meremehkan perasaan menyesalkan kenapa Dia tidak ada di situ pada saat-saat mereka membutuhkannya.

Ketujuh, Lazarus adalah orang “yang dikasihi” Yesus (ay. 5 & 36). Artinya, yang rela menerima janji Yesus dan dengan demikian Yesus bertanggung jawab mengenai dia di hadapan Yang Mahakuasa, yakni Bapa-Nya. Karenanya, Yesus mengatakan kepada Marta bahwa Lazarus akan bangkit (ay. 23). Yesus sendiri akan membawa hal ini ke hadapan Bapa-Nya seperti dilakukan-Nya nanti (ay. 41-42).

Kedelapan, Marta tidak segera menangkap yang dikatakan oleh Yesus (ay. 24). Yesus kembali menegaskan bahwa Dia sendirilah kebangkitan (ay. 25-26). Setelah mendengar pernyataan Yesus itu, Marta berani memper-cayainya. Ia menegaskan bahwa Yesus itu “Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia” (ay. 27). Maksudnya, Dia itu adalah orang yang diberi kuasa Ilahi dan amat dekat dengan Allah sendiri, dan akan selalu hadir di antara manusia dengan segala suka dukanya.

Kesembilan, tiga gelar (“Mesias”, “Anak Allah”, dan “datang ke dalam dunia”) yang dimiliki oleh Yesus—dan yang diungkapkan oleh Marta—itu mengungkapkan kesadaran akan siapa Yesus yang masih ada dalam ingatan orang beriman pada awal Kristianitas.

Kesepuluh, arti nyata dari kata-kata Marta itu ditunjukkan kepada kita oleh Maria, yang ketika bertemu Yesus langsung bersujud di depan kaki-Nya (ay. 32a). Tindakan ini membadankan pernyataan Marta. Tindakan Maria “bersujud” itu merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah orang  yang diberi kuasa Ilahi untuk datang di tengah-tengah manusia di dunia ini dan menyertainya guna mendekat kepada Bapa-Nya seperti Yesus sendiri dekat kepada-Nya.

Kesebelas, ketika mendapati Maria menangis dan ratapan orang-orang yang ada di situ, Yesus jadi sedih hatinya dan sangat terharu (ay. 33), bahkan menangis (ay. 35) dan kesal (ay. 38a). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan betapa amat manusiawi Yesus itu; juga menunjukkan rasa frustrasi, marah, karena merasa tidak bisa langsung berbuat sesuatu untuk orang yang dicintainya.

Kedua belas, di depan kubur Lazarus, orang yang telah menaruh kepercayaan kepada-Nya itu, Ia berseru kepada Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Ia memandang ke atas (ay. 41a) dan mengucap doa syukur kepada Bapa-Nya bahwa ada orang masih mau percaya bahwa Ia sungguh utusan-Nya (ay. 41b-42). Kemudian Ia berseru keras-keras memanggil keluar Lazarus (ay. 43). Yesus memanggil “Allah menolong” (arti harfiah nama Lazarus).

Ketiga belas, seruan itu memiliki dua arah. Pertama, seruan kepada Lazarus agar keluar dari tempat orang mati. Kedua, seruan kepada Allah sendiri yang menolong itu. Diseru oleh orang yang diberi-Nya sendiri kuasa, maka Allah tidak tinggal diam. Ia memberikan nafas kehidupan-Nya kepada Lazarus yang sudah empat hari berbaring di liang kubur.

Keempat belas, sudah empat hari Lazarus mati. Marta mengatakan bahwa ia sudah membusuk (ay. 39). Terlambat untuk kembali hidup! Tetapi Yesus membuat Marta dan kita ini ingat, bila kita percaya maka kita akan melihat kemuliaan Allah (ay. 40). Maksudnya, bila Marta atau siapa saja mau memasrahkan urusan yang toh tidak dapat kita tangani sendiri kepada Dia yang diberi kuasa Ilahi, kebesaran Ilahi akan bisa dialami, entah apa bentuknya.

Kelima belas, Lazarus, orang yang dikasihi Yesus itu (ay. 5 & 36), dipanggil keluar (ay. 43). Dan iapun melakukannya (ay. 44a). Bahkan orang yang sudah mati empat hari dan membusuk itu masih taat kepada Dia yang mendapat kuasa ilahi (Mesias) untuk membawanya ke dekat kehadiran Ilahi, yakni diri-Nya sendiri (Anak Allah), yang mendatangi dunia yang gelap di dalam kubur tadi.

Keenam belas, hal ini (catatan kelima belas) bisa terjadi karena Lazarus adalah orang “yang dikasihi” Yesus; artinya, orang yang telah berjanji mau pasrah kepada-Nya dan menerima janji akan dilindungi oleh-Nya. Orang seperti itu selalu dan tetap mendengarkan Dia yang bersabda. Ia tidak akan terhalang apapun, juga tidak oleh kematian.

Injil yang kita renungkan ini berbicara tentang besarnya iman orang-orang yang mempercayai Yesus dengan cara mereka sendiri. Marta mengungkapkan imannya kepada Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dunia (ay. 27). Maria, menyatakannya dengan bersujud di depan kaki Yesus (ay. 32b). Lazarus pun mengungkapkan kepercayaan kepada Yesus dengan caranya sendiri. Ia berjalan keluar dari kubur, menembus tabir maut, mendekat kepada Dia yang memanggilnya, dan kembali berada di tengah-tengah orang hidup (ay. 44).

Semoga kita, sebagai orang yang dikasihi oleh Yesus, juga dimampukan untuk dapat menemukan cara yang paling cocok untuk mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada-Nya, agar kita tetap berada di tengah-tengah orang hidup.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

14 March 2026

MELIHAT SANG TERANG

MELIHAT SANG TERANG

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore`. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Salamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-4 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 9:1-41) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok berbicara tentang penyembuhan orang buta pada hari Sabat.

Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, pada zaman itu masih ada anggapan bahwa dosa dan cacat badaniah erat berhubungan. Anggapan seperti ini merupakan “warisan” dari “tradisi” sebelum kedatangan Yesus; yakni dalam Kel 9:1-7 (penyakit sampar sebagai hukuman bagi orang Mesir); Mzm 38:2-6 (sakit akibat kebodohan pendosa); dan Yeh 18:20 (anggapan umum bahwa anak menderita akibat dosa orang tuanya).

Kedua, bahkan murid-murid Yesus pun masih percaya bahwa penderitaan atau cacat pasti merupakan akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau orang yang mengandungnya (ay. 2).

Ketiga, Yesus dengan tegas menolak anggapan seperti itu. Ia mengatakan bukan orang itu atau orang tuanya berdosa (ay. 3 bagian pertama). Selanjutnya, Yesus mengalihkan pemikiran murid-murid-Nya dari keinginan melacak asal mula cacat bawaan itu menjadi kesadaran bahwa karya Allah bisa menjadi nyata dalam diri orang buta itu (ay. 3 bagian kedua).


Keempat, selanjutnya ditambahkan bahwa selama masih ada kesempatan, perlulah mengusahakan agar terlaksana yang hendak dikerjakan oleh Dia yang mengutus-Nya (ay. 4); maksudnya, karya penciptaan sendiri. Lalu ditandaskan-Nya: “Selama aku ada di dunia, Akulah terang bagi dunia” (ay. 5).

 

Kelima, dalam Injil Yohanes kata “terang” dimaksudkan untuk mengingatkan orang akan terang yang diciptakan pada awal karya penciptaan (Kej 1:3-5). Terang ini menjadi dasar bagi hari-hari penciptaan selanjutnya. Pada hari keenam manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:27-31); artinya sempurna (Kej 1:31). Karenanya, pada hari ketujuh Allah, Sang Pencipta beristirahat (Kej 2:2).

 

Keenam, dengan menyebutkan kata-kata Yesus tentang diri-Nya sebagai “terang”, penginjil Yohanes bermaksud menampilkan Yesus sebagai awal karya penciptaan yang melandasi kejadian selanjutnya sampai ke penciptaan manusia yang utuh. Latar ini memperjelas makna ay. 3, “supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia”; maksudnya, agar karya penciptaan juga menjadi nyata dalam diri orang buta sejak lahir itu.

 

Ketujuh, setelah disembuhkan oleh Yesus, orang itu memperoleh penglihatannya dan menjadi manusia yang layak, bukan lagi si buta peminta-minta. Dalam diri orang itu terjadi karya penciptaan juga: kegelapan, kebutaan sejak awal, digantikan dengan terang penglihatan dalam perjumpaan dengan Sabda Ilahi sendiri. Orang itu juga menjadi pribadi yang berpikir mandiri. Hal ini jelas dalam tanya jawab dengan orang-orang yang menanyainya (ay. 10-12) dan khususnya dengan orang-orang Farisi nanti (ay. 15-17; 24-33).

 

Kedelapan, ketika ditanyai bagaimana ia bisa melihat orang tadi menyebut “Orang yang bernama Yesus itu” mengobati matanya dengan lumpur dan menyuruhnya mandi di kolam Siloam (ay. 11). Ketika beberapa orang Farisi ikut menanyainya, jawabannya makin tegas, “Ia itu nabi!” (ay. 17b). Tetapi orang-orang Farisi itu berusaha mengintimidasi dengan mempersoalkan penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat! (ay. 16).

 

Kesembilan, orang itu kemudian bertemu Yesus lagi, tetapi kali ini ia dapat melihat-Nya. Ketika Yesus menanyainya apa ia percaya kepada “Anak Manusia” (ay. 35b), orang itu balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya (ay. 36). Yesus mengatakan bukan saja ia melihat tetapi sedang berbicara dengan-Nya (ay. 37). Ini penjelasan dari Yesus sendiri bahwa yang dimaksud dengan “Anak Manusia” adalah diri-Nya sendiri. Saat itu juga orang tadi bersujud dan berseru: “Aku percaya, Tuhan!” (ay. 38).

 

Kesepuluh, peristiwa penyembuhan ini terjadi di dekat Bait Allah. Baru saja Yesus meninggalkan Bait Allah menghindar dari ancaman dirajam di situ (Yoh 8:59). Dalam berjalan menjauhi tempat itu Ia melihat orang buta tadi (Yoh 9:1). Saat yang tepat. Terang yang sesungguhnya dilempar keluar oleh mereka yang semestinya menyediakan tempat bagi-Nya. Maka kini Ia datang ke tempat yang tak terduga-duga, ke orang yang sudah tidak berpengharapan lagi.

 

Kesebelas, Yohanes menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan orang itu. Ia melakukan serangkaian tindakan seperti yang lazim dilakukan seorang penyembuh tradisional: meramu lumpur dengan ludah dan memoleskan ke mata orang buta itu (ay. 6).  Setelah mengoles mata orang tadi, Yesus menyuruhnya berendam di sebuah kolam yang bernama Siloam (ay. 7a).

 

Kedua belas, berjalan kaki dari wilayah Bait Allah ke kolam Siloam di ujung selatan Yerusalem, yang jaraknya hampir 1 km, dalam perhitungan orang Farisi sudah melebihi batas yang diperbolehkan dilakukan pada hari Sabat. Jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat hanyalah 500 meter (lihat Kis 1:12). Jadi di mata kaum Farisi, Yesus bukan saja melanggar hukum Sabat dengan meramu pengobatan, tetapi malah menyuruh orang melanggar hukum Sabat pula dengan menyuruhnya berjalan ke kolam Siloam.

 

Ketiga belas, dengan kisah ini Injil Yohanes tidak menampilkan Yesus sebagai penyangkal lembaga Sabat atau lembaga kesalehan manapun. Penginjil Yohanes ingin mengatakan bahwa yang dilakukan Yesus sebetulnya memungkinkan Sabat bisa betul-betul terjadi. Sabat itu adalah keadaan di mana Pencipta bisa memandangi ciptaan-Nya utuh tak kurang apapun, tidak cacat, lebih-lebih manusia yang diciptakan-Nya sebagai karya puncaknya. Itulah hari Sabat yang sesungguhnya.

 

Kempat belas, Yesus mengatakan: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya siapa saja yang tidak melihat dapat melihat, dan supaya siapa saja yang dapat melihat, menjadi buta" (Yoh 9:39). Kedatangan Yesus, sebagai “Sang Terang”, justru untuk menyingkirkan kegelapan yang merundung kemanusiaan.  Persis seperti dalam penciptaan. Itulah makna pemakaian kata “menghakimi.”  Di situ orang yang matanya terhalang akan mampu melihat terang yang sungguh, tetapi mereka yang merasa mengukuhi terang malah bisa menjadi buta!

 

Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa karya penciptaan masih berlangsung sekarang ini juga; dalam hidup manusia dan dalam semua ciptaan lainnya! Dan yang kita lakukan juga dapat menjadi “sarana” terjadinya “penciptaan” itu.

Semoga semakin mendekatnya perayaan Paskah, kita berani mendekat kepada Yesus agar hidup kita pun dapat mewujudkan hari Sabat yang sesungguhnya.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

14 March 2026

MENERIMA AIR HIDUP

MENERIMA AIR HIDUP

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Salamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan yang telah dilimpahkan oleh Allah selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Prapaskah ke-3 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Yoh 4:5-42) berkisah tentang perjumpaan seorang perempuan Samaria dengan Yesus, yang mengubah seluruh hidupnya.

Apa makna cerita ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [dengan membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, wilayah Israel dulu terbagi menjadi tiga daerah, yakni Yudea (Yerusalem) di selatan, Galilea (Nazaret) di utara, dan di antara kedua wilayah ini terletak Samaria.

Kedua, orang Yudea dan orang Galilea merasa diri orang Yahudi tulen walau sikap keagamaan masing-masing agak berbeda. Orang Yudea, khususnya yang di Yerusalem, beranggapan bahwa diri mereka lebih patuh beragama daripada orang Galilea yang biasanya lebih bebas sikapnya.

Ketiga, baik orang Yudea maupun orang Galilea umumnya menganggap orang Samaria sesat karena mereka hanya mengakui Kelima Kitab Musa (Pentateukh) sebagai Kitab Suci mereka. Orang Samaria juga dianggap bukan Yahudi tulen karena tercampur dengan orang-orang dari wilayah jajahan Asiria dulu. Ada sikap saling tidak menyukai antara orang Yahudi (baik Yudea maupun Galilea) dan orang Samaria (ay. 9b). 

Keempat, perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria itu ditampilkan Injil Yohanes dalam bagian yang menunjukkan bagaimana kehadiran Yesus membawakan kegembiraan (bdk. Yoh 2:1-11 tentang pesta di Kana yang diselamatkan). Kehadiran-Nya juga membuat orang berpikir mengenai ibadat yang kelihatannya beres, tetapi morat-marit di dalamnya (lihat Yoh 2:13-25 tentang pembersihan Bait Allah). Setelah itu ada percakapan dengan Nikodemus (Yoh 3:1-10) mengenai perlunya “lahir kembali” untuk memperoleh hidup abadi.

Kelima, percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini (Yoh 4:4-42) merangkum dua gagasan yang ditampilkan tadi, yakni bagaimana mencapai hidup abadi dan menyembah Allah dengan setulus-tulusnya.

Keenam, perempuan Samaria tadi datang ke sumur “kira-kira pada pukul dua belas” (ay. 6). Ini tak lazim. Biasanya orang tidak menimba air pada tengah hari. Boleh jadi perempuan tadi merasa kurang enak bertemu dengan para perempuan lain. Memang kehidupan pribadinya tidak dapat  dibanggakan: kawin cerai lima kali dan sekarang hidup dengan orang yang bukan suaminya (ay. 18).

Ketujuh, percakapan mengenai kehidupan pribadi perempuan itu (ay. 16-18) merangkaikan pokok pembicaraan mengenai “air hidup” (ay. 7-15) dan “menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran” (ay. 20-26).

Kedelapan, dalam bagian pertama percakapan tadi (ay. 7-15) Yesus menyebut-nyebut “air yang hidup” yang bisa diberikannya kepada perempuan Samaria tadi. Dalam bahasa sehari-hari di Israel zaman itu, “air hidup” adalah air yang mengalir, seperti air sungai atau air yang keluar dari sumber air, bukan air yang mandek seperti air yang tertampung dalam sumur.

Kesembilan, bagian kedua percakapan itu (ay. 19-26) berkisar pada tempat untuk menyembah Allah. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sesat karena ada anggapan tempat ibadat yang benar ialah Yerusalem (ay. 20b), sementara orang Samaria menyembah Allah di “gunung ini” (gunung Gerizim – ay. 20a).

Kesepuluh, Yesus menegaskan bahwa saatnya sudah tiba orang menyembah Bapa dalam “roh dan kebenaran” (ay. 23-24). Maksudnya, tidak terikat pada tempat yang membuat kehadiran-Nya terkurung, dan membiarkan diri dituntun oleh daya yang datang dari atas sana, yang betul-betul dapat memberi kelegaan, yang dapat menuntun ke hidup abadi.

Kesebelas, perjumpaan dan percakapan dengan Yesus yang menyentuh kehidupan pribadinya, membuat perempuan tadi mengenal Yesus secara bertahap, mulai dari “orang asing” (“Engkau” – ay. 9a, dan “Tuan” – ay. 11a & 15a) ke “seorang nabi” (ay. 19), dan akhirnya “Mesias” (ay. 25).

Kedua belas, pengenalan akan Yesus sebagai Mesias inilah yang membuat perempuan tadi memahami bahwa “air hidup” yang dimaksudkan oleh Yesus bukanlah air yang ingin ia timba, melainkan Yesus sendiri sebagai Mesias.

Ketiga belas, dari pengenalan itu (catatan kesebelas dan kedua belas) ia “meninggalkan tempayannya” (ay. 28a); artinya, meninggalkan masa lampau hidupnya yang kelam, dan pergi kepada orang-orang di kotanya untuk mewartakan siapa Yesus yang telah ditemuinya (ay. 28b-29).

Keempat belas, perjumpaan dengan Yesus dapat mengubah sikap hati seseorang. Perempuan Samaria itu berubah dari curiga menjadi beperhatian dan melihat Yesus sebagai nabi (ay. 19) dan bahkan Mesias (ay. 25-26). Ia kemudian juga mengajak orang-orang sekota menemui-Nya (ay. 29). Setelah berjumpa dengan Yesus (ay. 30) orang-orang Samaria yang lain itupun berubah sikap dari hanya sekedar ingin tahu menjadi tulus dan ramah serta meminta Yesus—tentunya bersama murid-murid-Nya—tinggal di kota mereka (ay. 39-40). Akibatnya, mereka juga percaya kepada Yesus sebagai Mesias (ay. 41-42).

Dengan merenungkan Injil ini kita diundang untuk menyadari bahwa keadaan hidup pribadi yang tidak ideal (gelap) bukan halangan untuk bertemu dengan Yesus sebagai sumber air hidup yang menjadi bekal perjalanan ke hidup abadi. Juga tidak menjadi halangan untuk mengajak orang-orang lain berbagi kekayaan rohani yang baru saja kita terima dari-Nya. Yesus bukan tokoh yang mengadili. Ia datang untuk memperkaya kehidupan batin sehingga orang mengenal Allah sebagai Bapa.

Semoga dengan semakin mendekatnya perayaan Paskah, kita dimampukan oleh Roh Allah untuk mendekatkan diri kepada Yesus agar hidup kita diubah menjadi saluran “air hidup”.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.







 

Lihat selengkapnya

28 February 2026

MEMANTULKAN WAJAH KRISTUS AGAR TIDAK MENYILAUKAN

MEMANTULKAN WAJAH KRISTUS AGAR TIDAK MENYILAUKAN

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Prapaskah ke-2 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 17:1-9) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus yang berubah rupa di atas gunung yang tinggi, disaksikan oleh Petrus, dan Yakobus, dan Yohanes.

Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, kisah yang disampaikan oleh penginjil Matius ini mempunyai tujuan yang berbeda dengan yang disampaikan oleh penginjil Lukas (Luk 9:28-36). Melalui kisahnya, penginjil Lukas bermaksud menonjolkan siapakah Yesus yang sudah menjadi buah bibir orang banyak itu. Sedangkan penginjil Matius ingin menyoroti keadaan para murid Yesus.

Kedua, “enam hari kemudian” (ay. 1). Ungkapan ini menghubungkan peristiwa di gunung itu dengan yang dikisahkan sebelumnya, yakni pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikuti-Nya (Mat 16:21-28). Sekaligus, “enam hari” merupakan waktu yang cukup bagi para murid untuk memikirkan dua hal berikut, yaitu (1) pemberitahuan tentang sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus (Mat 16:21), dan (2) kata-kata Yesus mengenai pengorbanan di dalam mengikuti-Nya, yakni menyangkal diri, memikul salib, berani berkorban demi Dia, dst. (Mat 16:24-28).

Ketiga, tentu para murid selama “enam hari” itu juga bertanya-tanya dalam hati, sepadankah pengorbanan dalam mengikuti Guru yang toh sudah tahu bakal menderita dan meninggal seperti diungkapkan sendiri itu? Lagi pula, apa untungnya lebih besar daripada ruginya?

Keempat, dengan cara itu (catatan kedua dan ketiga) penginjil Matius ingin mengatakan bahwa iman itu bukanlah tindakan “melompat ke dalam kegelapan.” Iman tumbuh dari kesadaran serta pengertian mengenai siapa Dia yang diikuti dan patut menerima komitmen yang makin besar, dan demi maksud apa. Peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung itu bisa menolong para murid-Nya untuk memiliki iman seperti itu; iman yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima, wajah Yesus berubah menjadi “bercahaya seperti matahari” (ay. 2b). Artinya, wajah Yesus tidak bisa ditatap begitu saja, menyilaukan. Hal ini mengingatkan peristiwa di kaki gunung Sinai dulu ketika umat Perjanjian Lama melihat kulit wajah Musa bercahaya. Waktu itu Musa baru saja berbicara dengan Tuhan, turun membawa loh perintah Tuhan (Kel 34:29 dst.). Perjumpaan dengan sabda Tuhan membuat wajah Musa bercahaya.

Keenam, kali ini Yesus tampil sebagai Musa yang baru, yang membawakan sabda Tuhan bukan dalam loh batu melainkan di dalam diri-Nya, di dalam kehidupan-Nya. Yesus adalah pribadi yang amat dekat dengan Allah sendiri sehingga menjadi berpendar-pendar menyilaukan.

Ketujuh, namun demikian “peristiwa di gunung” itu tidak terjadi setiap hari. Yesus tidak setiap saat memantulkan cahaya Allah. Kalau hal itu dilakukan-Nya setiap saat, para murid—kita semua—tidak akan tahan. Yesus menghadirkan Allah (memantulkan keilahian) dengan cara yang bisa dimengerti dan tidak menakutkan; yakni, dengan melayani kebutuhan orang-orang yang datang kepada-Nya, mencerahkan budi mereka, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, bersimpati dengan orang lemah yang menanggung beban hidup, dll.

Kedelapan, ungkapan “kepadanya Aku berkenan” (ay. 5) tidak terdapat dalam Injil Markus dan Lukas. Ungkapan itu ditambahkan oleh Matius untuk mengingatkan pembaca tentang adanya kesamaan dengan peristiwa pembaptisan Yesus dan turunnya Roh ke atas diri Yesus, yang dimuat dalam ketiga Injil (Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 3:22). Rohlah yang membuat Yesus dapat bertindak atas nama Yang Ilahi; memantulkan wajah Allah lewat tindakan-tindakan-Nya.

Kesembilan, ketika berjalan turun, ketiga murid itu dipesan oleh Yesus agar tidak bercerita kepada siapa saja sebelum kebangkitan terjadi (ay. 9). Pesan ini dimaksudkan agar para murid sempat memperoleh pengalaman batin mengenai kebangkitan, mengenai keilahian Yesus yang mengatasi kematian. Bila pengalaman batin ini belum mereka miliki, maka cerita mereka yang hebat-hebat tentang Yesus nanti mudah gembos tanpa arti.

Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa jatidiri para murid Kristus—kita semua—adalah “menerangi” (Mat 5:14-16); tetapi tidak perlu bikin silau. Yesus yang kita ikuti memang “menyilaukan”, tetapi jangan kita “pantulkan” begitu saja. Justru tugas yang luhur bagi para murid Yesus adalah membawakan Yang Ilahi dalam ujud yang amat manusiawi dan sehari-hari, seperti dulu dilakukan oleh Yesus semasa hidup-Nya (lihat catatan ketujuh) sehingga kehadiran Allah tidak menakutkan melainkan membawa “kelegaan”.

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.      


Lihat selengkapnya

20 February 2026

MEMBIARKAN DIRI DITUNTUN OLEH ROH ALLAH

MEMBIARKAN DIRI DITUNTUN OLEH ROH ALLAH

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat serta mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah kita terima selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Minggu Prapaskah pertama tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 4:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus yang dicobai di padang gurun selama 40 hari.

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, Yesus dibawa oleh Roh [Allah] ke padang gurun untuk dicobai Iblis selama 40 hari. Maksudnya, Yesus dibawa oleh Roh sampai ke tempat itu dan tetap disertai oleh-Nya selama Ia berada di padang gurun dan dicobai oleh Iblis. Roh Allah tidak pernah meninggalkan Yesus. Roh itu adalah Roh yang turun ke atas-Nya pada waktu Yesus menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis (Mrk 1:10; Mat 3:16; Luk 3:22).

Kedua, penginjil Matius menyampaikan kisah ini bukan untuk menampilkan Yesus sebagai manusia sakti atau petapa digdaya, melainkan sebagai manusia yang disertai Roh, bukan agar dikagumi dan dicontoh, melainkan agar diikuti.

Ketiga, ada tiga macam godaan. Yang pertama, Yesus lapar (ay. 2a) dan digoda agar mengubah batu menjadi makanan (ay. 3). Yesus digoda untuk mau mengurus semuanya sendiri sehingga tidak ada kesempatan mendengarkan isyarat-isyarat ilahi. Akhirnya, Yang Ilahi [Allah] tidak masuk dalam pola bertingkahlaku.

Keempat, godaan pertama ini mengingatkan kita akan kisah umat pilihan (Umat Israel), yang kelaparan dan kehausan di padang gurun dulu dan mulai menyangsikan Tuhan serta mencobai-Nya; mereka datang kepada Musa minta mukjizat (Kel 17:1-7). Mukjizat memang terjadi, tetapi mukjizat yang diminta dengan paksa itu cuma menepis rasa haus, tetapi tidak memuaskan batin.

Kelima, Yesus tidak memaksa batu menjadi makanan, seperti dulu Musa yang terpaksa membuat padas kersang memancarkan air segar (Kel 17:6). Memang Yesus lapar, tetapi Ia tidak menukar penyertaan Roh dengan makanan. Ia tetap bertindak sebagai Anak Allah, yang bersedia hidup dari sabda ilahi (ay. 4b) yang menyebut-Nya “anak-Ku yang terkasih” yang diperdengarkan pada saat Ia dibaptis (Mat 3:17b).

Keenam, godaan kedua lebih berat. Yesus diminta oleh Iblis untuk menjatuhkan Diri dari puncak Bait Allah agar Allah sendiri mau tak mau menyelamatkan-Nya (ay. 6). Yesus digoda untuk memaksa Allah agar membuat mukjizat!

Ketujuh, Iblis juga mahir memakai Kitab Suci (ay. 6b) dan menafsirkannya bagi tujuannya sendiri. Tetapi Roh Allah menjernihkan budi Yesus sehingga Ia tetap melihat kedudukan diri-Nya sebagai Anak Allah sejati. Ia tidak mau mencobai Allah. Roh Allah juga mengarahkan ingatan pada ayat suci Ulangan (Ul 6:16) yang melarang orang membiarkan diri dikuasai perasaan ragu akan Yang Mahakuasa.

Kedelapan, godaan ketiga makin gencar dan mengerikan. Yesus ditawari kekuasaan atas seluruh dunia beserta kemegahannya (ay. 8-9a). Syaratnya, Ia bersedia sujud menyembah Iblis (ay. 9b). Iblis bisa menawarkan dunia dan kemegahannya. Berarti, semuanya bisa dialihmilikkan begitu saja oleh Iblis! Syukurlah Roh tetap menyertai-Nya sehingga Yesus tetap berpegang teguh pada pilihan-Nya. Karena itu, penggoda kehabisan akal dan tersingkir oleh daya Roh (ay. 11a).

Kesembilan, siapa “penggoda” itu? Pertama, ia tampil sebagai “peirazoon” (bahasa Yunani; artinya pembujuk, pencoba, ay. 3). “Pembujuk/pencoba” berusaha meyakin-yakinkan dengan niat menipu dan menjatuhkan. Orang dulu paling takut pada cobaan seperti ini. Pasti kalah. Godaan semacam itu adalah alam yang jahat, yang amat mengerikan. Manusia tidak dapat melawannya. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah minta Bapa melepaskan dirinya dari kuasa jahat itu. Itulah yang diajarkan oleh Yesus dalam Doa “Bapa Kami”: “bebaskanlah kami dari yang jahat” (Mat 6:13). 

Kesepuluh, “penggoda” juga tampil sebagai “Iblis” (Yunani: “diabolos” – ay. 1, 5, 8, 11). Menurut arti kata itu, pekerjaan Iblis adalah memecah belah pikiran dan membuat hati bercabang. Iblis tidak meminta Yesus meninggalkan Allah, Bapa-Nya. Iblis cuma ingin agar dirinya juga ikut diakui oleh Yesus. Itu cukup. Inti godaannya adalah menyisihkan sedikit tempat bagi Iblis (ay. 9b) dengan imbalan seluruh isi dunia dan kebesarannya (ay. 9a).

Kesebelas, akhirnya “penggoda” tampil sebagai setan (Yunani: satana -- ay. 10a). Yang ketiga ini bahkan diucapkan oleh Yesus sendiri. Sayang dalam terjemahan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), kata “setan” dalam ay. 10a diganti dengan “Iblis”. Setan pintar menabur benih perseteruan di dalam batin manusia sendiri. Ia menuduh-nuduh apa cara hidup kita ini benar, apa yang ini yang terbaik, mengapa tidak begini saja, dst. Ia membuat orang bimbang. Ia membuat orang menjadi ragu-ragu. Ia itu bisa terasa amat dekat, bahkan seperti [bisa menyusup ke dalam] orang kepercayaan (bdk. Petrus yang membujuk Yesus agar tidak menjalani penderitaan di Yerusalem – Mat 16:22). Ia punya wajah kalem tetapi diam-diam menjerumuskan ke jalan buntu. Dengan kekuatan sendiri kita tidak mampu menghadapinya. Hanya dengan bantuan Roh Allah kita akan mengenalinya dan mendapati jalan kebenaran.

Di padang gurun Yesus berjumpa dengan “diabolos”, Iblis pemecah belah. Ia bertemu dengan “peirazoon”, pembujuk yang menyebar benih permusuhan. Ia juga bertatap muka dengan “satana”, setan yang mau menyeret-Nya ke jalan sesat. Yesus berhasil keluar dari padang gurun dan selamat dari semua “penggoda” itu, karena Ia tetap disertai oleh Roh Allah.

Hidup kita merupakan medan pertempuran antara para “penggoda” (Iblis, pembujuk, dan setan) dengan Roh Allah. Semoga kita tetap berpaling kepada Roh Allah dan membiarkan diri dituntun oleh-Nya, supaya hidup kita tidak pernah terpisah dari Allah, sehingga dapat menghasilkan buah-buah kebaikan; yang antara lain kita wujudkan dalam “berpuasa yang benar”; yakni, berhenti berbuat kelaliman, meringankan beban kehidupan orang lain, berbagi dengan mereka yang berkekurangan, membina relasi yang personal dan mendalam, serta tetap kritis terhadap program-program  pemerintah yang populis tetapi tidak pro-rakyat (bdk. Yes 58:1-9).

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


 

Lihat selengkapnya