27 June 2026
MENGIKUTI YESUS
MENGIKUTI
YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-13 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 10:37-42), yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi, terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 37-39) merupakan syarat bagi para rasul bila mereka ingin mengikuti Yesus. Syarat ini bernada keras. Bagian kedua (ay. 40-42) menegaskan bahwa barangsiapa menerima utusan Yesus, menerima Dia sendiri.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, beberapa tuntutan keras dalam Injil yang kita renungkan ini, akan dapat kita pahami dengan lebih mudah bila kita melihat Mat 10:34, yang mengatakan bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk membawa damai melainkan untuk “membawa pedang”. Pernyataan Yesus ini memiliki dua latar.
Pertama, dalam masyarakat Yahudi waktu
itu ada harapan akan datangnya seorang Mesias yang membawakan damai,
kemakmuran, kejayaan, dan kebesaran. Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa
diri-Nya bukan Mesias seperti yang mereka pikirkan dan harapkan.
Kedua, pada zaman para nabi menjelang
keruntuhan Yerusalem, ada sekelompok orang yang menyebut diri nabi dan
menenteramkan orang banyak dengan mengatakan bahwa akan datang damai yang bakal
membuat keadaan politik yang kalang kabut masa itu akan berubah. Para nabi
“damai” ini meninabobokan hati nurani orang dengan gagasan-gagasan mereka
sendiri. Mereka ini nabi palsu.
Dalam
suasana seperti itu, nabi Yeremia menelanjangi para nabi palsu tersebut (Yer
23:9-40; lihat khususnya ay. 17). Akibatnya, Yeremia dimusuhi, justru karena
berusaha membuat pikiran orang melihat kenyataan bobrok dalam masyarakat
mereka. Yesus juga berlaku seperti nabi Yeremia. Karena itu, Yesus juga
dimusuhi, bahkan juga oleh orang-orang yang dekat dengan-Nya.
Kedua, “pedang” bisa memilah-milah; dan kehadiran Yesus memang memotong yang busuk dari yang masih bisa diselamatkan. Para murid diajak melihat kenyataan yang memang tidak mengenakkan ini. Keberanian melihat yang busuk dan berusaha melepaskan, termasuk sikap iman yang diminta dari para pengikut Yesus.
Ketiga, kehadiran Yesus [“yang membawa pedang”] juga bisa memisahkan orang dengan sanak keluarga terdekat (Mat 10:35-36). Itulah konteks petikan Injil yang kita renungkan ini.
Keempat, tiga ayat pertama dalam petikan Injil hari ini (ay. 37-39), jelas ditujukan kepada para rasul, yakni mereka yang dipilih Yesus untuk menjalankan perutusan-Nya. Tetapi, semangat serta isinya diperuntukkan bagi siapa saja yang hendak menjadi murid-Nya.
Kelima, nanti perihal memikul salib dan membiarkan diri kehilangan nyawa demi Yesus dalam Mat 16:24-26, diajarkan kepada para murid pada umumnya, bukan hanya kepada para rasul yang duabelas itu saja.
Keenam, begitu pula pembicaraan mengenai pertentangan dengan sanak keluarga, memikul salib, dan merelakan nyawa sendiri (Mrk 8:34-36; Luk 12:51-53 dan 14:26-27) juga jelas ditujukan kepada para murid pada umumnya.
Ketujuh, bukan tanpa maksud bila pembicaraan dalam Mat 16:24-26 (catatan kelima) dan Mrk 8:34-36 (catatan keenam) tadi disampaikan setelah pemberitahuan yang pertama tentang penderitaan Yesus; yakni bahwa Yesus akan ditentang para pemimpin Yahudi dan tokoh masyarakat, sampai dibunuh, tetapi Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga (lihat Mat 16:21; Mrk 8:31).
Kedelapan, pemberitahuan tentang penderitaan Yesus ini (catatan ketujuh) diberikan sesudah pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias (Mat 16:13-16; Mrk 8:27-29). Ini semua dilakukan oleh penginjil untuk menekankan bahwa semakin dekat para murid mengenal siapa Yesus itu, semakin mereka diharapkan bersedia mengutamakan Dia (dengan segala risikonya) [ay. 37 dan 39].
Kesembilan, hidup Yesus adalah hidup yang dibaktikan kepada kehendak Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Yesus dapat menghadirkan keilahian (=Allah Bapa) karena Ia meluangkan diri untuk itu dengan menjalankan “kenosis” [=pengosongan diri; lih. surat kepada orang Filipi (Fil 2:6-8)].
Kesepuluh, pengosongan diri yang dilakukan oleh Yesus bukan asal membuat diri kosong, melainkan meluangkan diri agar dipenuhi keilahian. Oleh karena itulah Yesus Kristus dapat menunjukkan gambar dari Allah yang tidak terlihat.
Kesebelas, pengosongan diri seperti itu hanya dapat dilakukan oleh Yesus, karena hanya Dia sajalah yang dipilih oleh Allah untuk itu. Hanya Dialah satu-satunya yang ditunjuk oleh Yang Mahakuasa seperti terungkap pada saat Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mrk 1:9-11; Mat 3:13-17; Luk 3:21-22).
Kedua belas, pada saat Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, terdengar suara dari langit yang menegaskan bahwa Dia itu anak-Nya yang terkasih, kepada-Nyalah Allah berkenan (Mrk 1:11; Mat 3:17; Luk 3:22). Artinya, hidup Yesus menjadi kenampakan [dari] Allah sendiri.
Ketiga belas, penegasan yang sama bahwa Yesus adalah Anak-Nya juga dijumpai dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Mrk 9:7; Mat 17:5; Luk 9:35). Dalam peristiwa ini suara dari langit menambahkan seruan agar orang “mendengarkan Dia” (Mrk 9:7; Mat 17:5; Luk 9:35). Maksudnya, yang diminta dari orang banyak adalah kesadaran mengenai apa yang terjadi pada Yesus dan apa yang dilakukan-Nya.
Keempat belas, dalam Mat 10:38 (lihat juga Mrk 8:34; 10:21; Mat 16:24; Luk 9:23; 14:27) Yesus mengatakan: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku (=mengikut Aku).” Dalam semua ayat itu, “memikul salib” tidak dapat dipisahkan dari “mengikut Aku”. Bila kedua hal itu dipisahkan, beban yang dipikul orang bisa-bisa bukan lagi salib yang membawa ke “keselamatan”, tetapi berhenti pada penderitaan yang tanpa ujung pangkal.
Kelima belas, ditandaskan pula bahwa mereka yang berusaha menyelamatkan diri (= “nyawanya”) malah tidak akan menemukan diri (= “kehilangan nyawanya”), tetapi sebaliknya mereka yang menemukan diri dalam Yesus (=“kehilangan nyawanya karena Aku”) akan menemukan keselamatan (= “menyelamatkan nyawanya”) [ay. 39]. Di sini terungkap salah satu pokok spiritualitas (=cara berpikir dan bertindak) Kristiani. Hidup sebagai orang kristen baru ada artinya bila membuat dirinya menjadi kenampakan Yesus, yang dengan salib-Nya telah menampakkan keilahian-Nya.
Keenam belas, dalam ay. 40-42 ditegaskan bahwa barangsiapa menerima utusan Yesus, menerima Dia sendiri. Sama halnya dengan orang yang menerima nabi akan mendapat imbalan seperti yang didapat sang nabi sendiri. Begitu juga, menerima orang benar membuat yang bersangkutan ikut menjadi orang benar. Kebaikan sekecil apapun kepada para murid Yesus, ibarat memberi air sejuk secangkir saja, akan mendatangkan imbalan.
Merenungkan petikan Injil ini menyadarkan kita bahwa menjadi murid Yesus berarti mendekati kehadiran Allah dalam diri Yesus dan membiarkan diri menjadi tempat bagi-Nya. Dengan demikian, kita akan dapat memperkenalkan Allah dengan cara yang amat transparan tanpa menghapus kepribadian kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
Catatan:
Mulai
tanggal 4 Juli s/d 6 Agustus 2026, saya akan berada di luar Seminari untuk
memberi lokakarya, melakukan retret tahunan, mengikuti acara Yesuit Provinsi
Indonesia, dan melakukan pemeriksaan kesehatan (medical checkup).
Karenanya, selama kepergian saya, saya tidak akan dapat menulis renungan
mingguan. Banyak terima kasih atas pengertiannya.
20 June 2026
JANGAN TAKUT
JANGAN TAKUT
Para Ibu dan Bapak, serta Saudari dan Saudara
yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta
teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
sejenak beristirahat dari kepenatan hidup, dan merasakan kembali semua kebaikan
Allah yang telah kita terima selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-12 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 10:26-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 26-31) memuat ungkapan “Jangan takut!” sampai empat kali (ay. 26, 28a, 28b, 31). Bagian kedua (ay. 32-33) berbicara mengenai keberanian bersaksi.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, petikan Injil yang kita renungkan ini merupakan bagian dari Injil Matius bab 10, yang memuat perkataan-perkataan Yesus yang kemudian menjadi bekal bagi para utusan-Nya. Bukan bekal fisik, melainkan bekal kebijaksanaan, yakni kepandaian menilai keadaan. Kebijaksanaan ini membuat mereka sanggup bertahan dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
Kedua, para
rasul dipilih Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya (ay. 5-14) dan, dalam
pandangan generasi selanjutnya, mereka menjadi para pemimpin dalam komunitas
para pengikut Yesus. Apa konsekuensi penugasan ini bagi kehidupan mereka?
Ketiga, dengan menerima perutusan mereka, para rasul menjadi senasib dengan Guru mereka (ay. 17-18; 21-22a; 24-25): ditolak, dimusuhi, diadili, dan menghadapi risiko dibunuh. Senasib dengan Guru mereka itu adalah pahala dan konsekuensi menjadi utusan-Nya. Tetapi mereka tidak ditinggalkan sendirian (ay. 19-20).
Keempat,
dalam ay. 16-25 disebutkan bahwa mereka diutus seperti domba ke tengah-tengah
serigala dan hendaknya mereka cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Murid-murid
Yesus akan dimusuhi, bahkan oleh orang-orang yang dekat, dengan alasan mereka
itu menjadi murid Yesus (ay. 17-18; 21-22a). Dalam situasi seperti itu, para
rasul diminta berani memakai sumber kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas
luhur mereka. Mereka diharapkan dapat menilai keadaan secara bijaksana (=
cerdik seperti ular), dan tetap tulus -
menjaga integritas diri mereka (= tulus seperti merpati).
Kelima, dengan kata lain, mereka diharapkan agar tidak gegabah asal mau bertahan. Bila dianiaya di satu kota hendaklah pergi ke kota lain; urusan yang tidak bisa mereka jalankan sendiri sebaiknya diserahkan saja kepada Anak Manusia yang sudah datang (ay. 23). Mereka juga perlu menyadari bahwa Roh Bapa akan menyertai dan membela mereka (ay. 20).
Keenam,
penginjil Matius menonjolkan unsur “jangan takut” (ay. 26, 28a, 28b, 31) agar
jelas bahwa tugas yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya terbingkai
oleh gagasan itu.
Ketujuh, tugas yang dimaksud adalah menjelaskan kepada orang banyak siapa Yesus itu. Tugas ini bisa menakutkan dan bikin waswas pada orang yang ditugasi. Jangan-jangan pengalaman amat pribadi percaya dan berguru pada Yesus itu diketahui orang banyak dan mereka dimintai pertanggungjawaban.
Kedelapan, “waswas” berasal dari kata Arab “waswasa” (bisikan). Artinya, bisikan dari setan yang menimbulkan keraguan, kebingungan, kecemasan, dan ketakutan tidak berdasar sehingga membuat orang kehilangan kepercayaan. Karenanya, “jangan takut” berarti jangan membiarkan diri dihanyutkan rasa seperti itu, yang hanya bikin waswas terus, yang mengendurkan semangat.
Kesembilan, para murid diminta untuk tidak takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak dapat membunuh jiwa (ay. 28a). Artinya, mereka diminta untuk tidak usah waswas akan mereka yang bisa mempersukar yang di luar, tetapi tidak bisa mengubah keyakinan.
Kesepuluh, para murid juga diminta “takwa” (Bahasa Arab: taqwa) kepada Tuhan (ay. 28b). Artinya, takut kepada kekuatan ilahi dengan sikap menghormat, dan mengharapkan kekuatan darinya.
Kesebelas, nasihat untuk “tidak takut” ini didasarkan pada keyakinan bahwa mereka itu jauh lebih bernilai daripada burung pipit yang walaupun harganya cuma sepeser toh tidak dibiarkan jatuh ke bumi tanpa kemauan Bapa di surga (ay. 29 dan 31). Mereka akan selalu dilingdungi oleh Bapa.
Kedua belas, dengan memahami nasihat “jangan takut”, kita juga akan memahami penegasan bahwa barangsiapa mengakui Yesus di depan manusia, maka Yesus pun akan mengakuinya di depan Bapa-Nya (ay. 32). “Mengakui Yesus” berarti menerima warta Yesus tanpa membiarkan diri diusik rasa waswas dan terpengaruh bisikan-bisikan jahat mengenai diri-Nya, melainkan menjalankan perutusan dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus sendiri, yakni Bapa-Nya.
Ketiga belas, ditegaskan juga bahwa siapa yang menyangkal Yesus di depan manusia, juga akan disangkal Yesus di depan Bapa-Nya (ay. 33). “Menyangkal Yesus” berarti membiarkan diri terus-menerus hidup dalam perasaan tidak menentu, waswas akan kebenaran warta Yesus, dan dengan demikian menyangkal juga yang mengutus-Nya, yaitu Bapa-Nya. Orang seperti ini sudah berkubu kepada pembisik rasa waswas tadi (yakni setan) dan tidak takwa kepada Bapa.
Dalam nasihat-nasihat agar “jangan takut” para murid Yesus (dan kita semua) diajar mengamati rasa takut: mana yang melemahkan (yakni waswas), mana yang menguatkan (yakni takwa kepada Bapa). Sekaligus kita juga diundang untuk bijaksana dan tulus (penuh integritas) dalam menjalani kehidupan.
Teriring
salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
13 June 2026
KITA DIUTUS OLEH TUHAN SENDIRI UNTUK MERASUL
KITA
DIUTUS OLEH TUHAN SENDIRI UNTUK MERASUL
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, komunitas, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dari semakin beratnya beban kehidupan, dan merasakan kembali rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-11 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 9:36-10:8) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi mengandung tiga lapis pewartaan; yakni (1) berlimpahnya tuaian namun jumlah penuai sangat sedikit (Mat 9:36-38), (2) pemilihan para rasul lengkap dengan nama mereka (Mat 10:1-4), dan (3) pengutusan para rasul untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan (Mat 10:5-8).
Apa
maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan
memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk mencermati
ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, dalam Injil, musim menuai (Mat 5:37) kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya. Bila tidak ada cukup penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tidak berguna lagi. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim tuaian.
Kedua, ajakan Yesus agar para murid meminta supaya yang empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja (Mat 9:38) memiliki dua makna. Pertama, dengan jumlah penuai yang cukup, tuaian makin utuh dan melimpah. Kedua, Yesus ingin mengajarkan kepada para murid agar mereka dapat melepaskan klaim bahwa keberhasilan kerasulan mereka bergantung pada kemampuan dan ketrampilan mereka sendiri. Yesus ingin mengajarkan bahwa kegiatan rasuli yang sejati adalah kegiatan yang membawa orang makin mendekat kepada Allah, yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dari-Nya sendiri. Keberhasilannya sangat bergantung pada Allah.
Ketiga,
dalam Injil Matius kata “rasul” hanyalah muncul satu kali, yakni dalam Mat
10:2. Kata “rasul” artinya utusan. “Rasul” adalah orang yang diberi kuasa
menyampaikan berita dan mengerjakan urusan atas nama yang mengutus. Utusan
hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang tepercaya, baik di mata yang
mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.
Keempat, “duabelas rasul” melambangkan gagasan “duabelas suku Israel”. Gagasan “duabelas suku” ini berkembang sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh karena itu, gagasan ini dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau membangun diri sebagai “umat baru” (=para pengikut Kristus; Gereja) yang dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri.
Kelima, “umat baru” ini amat berbeda dengan umat dalam Perjanjian Lama, yang terpancang pada pegangan yang sudah-sudah dan yang makin membatu, pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah tanpa arti lagi, pada hukum yang menyesakkan, dan pada rasa takut melulu. Sebaliknya, “umat baru” berpegang pada ajaran dan cara hidup Yesus, yang menyegarkan, melegakan, dan yang memampukan kita untuk benar-benar mencitai Allah dengan mencintai sesama (Mat 22:37-40; Mrk 12:29-30; Luk 10:27-28); dan merawat bumi sebagi “rumah kita bersama” (Ensiklik Laudato Si’ 1, 53) dan tempat Allah hadir untuk menjumpai umat-Nya (Ensiklik Laudato Si’ 88).
Keenam, dalam Injil Matius, sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umat-Nya, yakni Israel. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius. Dia itu Imanuel yang jauh-jauh hari sebelumnya telah dinubuatkan Yesaya (Yes 7:14). Dia diperkenalkan sebagai raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tetapi didatangi dengan penuh hormat oleh orang-orang bijak dari Timur (Mat 2:1-12).
Ketujuh, Yesus diutus oleh Allah kepada orang-orang yang tidak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Mereka seperti “domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36b): kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini. Yesus mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Para rasul diberi kuasa oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu.
Kedelapan, menurut penginjil Matius para rasul diikutsertakan dalam tugas yang sudah dijalankan oleh Yesus sendiri, yakni memberitakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” dan membawakan kesembuhan (Mat 10:7-8a). Dalam melakukan hal itu mereka diminta untuk memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima dengan cuma-cuma pula (Mat 10:8b). Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya orang yang berjiwa merdeka seperti ini akan dapat mewartakan datangnya Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang lain dalam macam-macam arti dan wujudnya.
Kesembilan, selain mewartakan datangnya Kerajaan Allah dan menyembuhkan banyak orang, masih ada satu hal lagi yang dilakukan oleh Yesus yakni mengajar tentang siapa diri-Nya dan siapa Allah yang diperkenalkan-Nya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit, murid-murid akan betul-betul diikutsertakan dalam kegiatan mengajarkan dua hal ini, tidak hanya kepada umat Israel, melainkan kepada seluruh bangsa (Mat 28:19-20a). Dengan kata lain, baru setelah kebenaran yang diajarkan ditegaskan oleh kuasa ilahi sendiri, yakni melalui kebangkitan-Nya dari kematian.
Kesepuluh, dengan kata lain, untuk sementara kini para murid masih belajar memahami kebenaran yang dibawakan Yesus dalam pewartaan tentang datangnya Kerajaan Allah serta penyembuhan terhadap semua orang sakit, dan “menyampaikan” pemahaman mereka tentang dua hal itu hanya kepada umat Israel (Mat 10:5b-6). Baru setelah kebangkitan-Nya, pengajaran Yesus tentang diri-Nya dan Allah yang diwartakan-Nya, terbuka bagi semua orang. Dan murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia (Mat 28:19-20). Mereka akan menemukan cara-cara menyampaikannya kepada orang-orang yang tadinya tidak diperhitungkan.
Injil yang kita renungkan hari ini mengajarkan bahwa “kuasa rasuli” adalah kuasa untuk melayani. Kuasa ini memang berasal dari Yesus sang utusan Allah sendiri dan diabdikan bagi umat-Nya. Kuasa ini sakral, baik bagi pengemban maupun bagi umat. Yang mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya.
Konsili
Vatikan II mengajarkan bahwa setiap orang yang menerima sakramen baptis dan
krisma (penguatan) menerima “kuasa rasuli” ini dan oleh Tuhan sendiri diutus
untuk mewujudkannya (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium,
art. 33, dan Dekrit tentang Kerasulan Kaum Awam, Apostolicam Actuositatem,
art. 3).
Semoga
Roh Allah memampukan kita untuk menyadari tanggung jawab luhur ini dan
melaksakannya dengan penuh rasa syukur.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
13 June 2026
MERAYAKAN TUBUH DAN DARAH KRISTUS: MEMPERSATUKAN DIRI DENGAN KORBAN KRISTUS YANG MENYELAMATKAN DUNIA
MERAYAKAN
TUBUH DAN DARAH KRISTUS: MEMPERSATUKAN DIRI DENGAN KORBAN KRISTUS YANG
MENYELAMATKAN DUNIA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sabahat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua berkat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (tahun A dalam kalender liturgi). Bacaan Injil (Yoh 6:51-58) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang Yesus sebagai “makanan” dan “minuman” yang memberikan kehidupan kekal.
Apa
maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, petikan Injil yang kita renungkan hari ini perlu dilihat dalam seluruh konteksnya, yakni Yoh 6:25-58, yang merupakan pengajaran Yesus kepada orang banyak yang mencari Dia setelah mereka mendapatkan makanan dari mukjijat yang diadakan oleh Yesus (Yoh 6:1-14). Dalam pengajaran-Nya Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai “roti kehidupan”, yakni makanan yang memberi hidup.
Kedua, dalam bagian pertama pengajaran-Nya (Yoh 6:25-50), Yesus membuat orang-orang itu menengok kepada pengalaman mereka sendiri, yakni mukjijat penggandaan roti (Yoh 6:1-13) dan nenek moyang mereka yang mendapatkan manna (Yoh 6:31). Sekaligus, Yesus mendorong mereka agar maju lebih jauh dan mengerti siapa Dia yang sudah datang di tengah-tengah mereka (Yoh 6:27; 32-33; 35-40; 44-50). Tetapi mereka tidak memahami dan malah berputar-putar pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu (Yoh 6:41-42).
Ketiga, dalam bagian kedua pengajaran-Nya (Yoh 6:51-58),
Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali Dia, melainkan bagaimana
menerima Dia.
Keempat, dalam Injil Yohanes, kata “daging” dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Sementara dalam tulisan-tulisan Paulus, kata “daging” memiliki konotasi buruk, yakni manusia rapuh sejauh dikuasai dosa; untuk gagasan ini penginjil Yohanes memakai kata “dunia”.
Kelima, kata “daging” dalam petikan Injil yang sedang kita renungkan ini, perlu kita kaitkan dengan Pembukaan Injil Yohanes, yang mengatakan bahwa Sang Sabda telah menjadi “daging” (= manusia; Yoh 1:14); artinya Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa. Hanya dengan demikian Ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun Ia sendiri tidak kalah. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai oleh yang jahat. Dengan demikian Ia dapat menjadi tumpuan harapan orang banyak. Siapa saja yang kemudian mengikuti-Nya dan bersatu dengan Dia akan selamat dan mencapai hidup kekal.
Keenam, kata “darah” dipakai oleh penginjil Yohanes dalam
cara bicara orang waktu itu, yang memahami “darah” sebagai tempat nyawa
(=kehidupan). Di dalam “darah” terletak kehidupan. Dengan menyerahkan nyawa-Nya
(“darah”-Nya) bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak
(bdk. Yoh 15:13).
Ketujuh, hidup Yesus berakhir pada kayu salib. Wafatnya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. “Daging” (sebagai manusia) dan “darah” (=kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu kini menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengan-Nya berarti menempuh jalan itu. Inilah yang oleh penginjil Yohanes dibahasakan dengan siapa saja yang “makan daging-Nya” dan “minum darah-Nya” akan mengambil bagian dalam hidup kekal (Yoh 6:50-51; 53-58).
Kedelapan, tetapi orang-orang tidak menangkap dan saling mempertengkarkan bagaimana Yesus bisa memberikan daging-Nya untuk dimakan (ay. 52). Orang-orang itu sulit menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14) dan manna yang diberikan oleh Musa kepada leluhur mereka (Yoh 6:31). Orang-orang itu tidak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu adalah tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan diri bagi mereka (di kayu salib).
Kesembilan, yang hendak disampaikan Yesus bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang melihat Yesus sebagai “nabi” (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan raja (6:15). Yesus mengajak orang agar melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu adalah Bapa-Nya sendiri (Yoh 6:32b-33). Lebih lanjut lagi, sekarang ini Dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima Dia, mempercayai-Nya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:35-40;48;50-51).
Kesepuluh, orang-orang malah semakin tidak bisa melihat siapa Yesus itu. Mereka hanya bisa melihat Dia sebagai anak Yusuf yang mereka kenal dari dulu (Yoh 6:42). Kepekaan batin mereka tidak berkembang. Mereka hanya mau memandangi-Nya dengan ukuran-ukuran yang membuat mereka merasa aman: sebagai nabi, pemimpin tipe Musa, zaman kebesaran dulu. Dan ketika Yesus mengajak mereka menengok ke arah yang lebih dalam, mereka malah berkata: “Lho, ini kan anak Pak Yusuf itu, mana bisa menjadi pimpinan seperti yang kita gambarkan tadi?”
Kesebelas, penginjil Yohanes memakai pengertian “daging” untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara dengan orang-orasng Yahudi itu dengan yang diwartakan pada awal Injilnya: “Dan sang Sabda itu telah menjadi manusia, harfiahnya “daging”, dan tinggal di antara kita...” (Yoh 1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk Ekaristi.
Merenungkan petikan Injil ini mengajak kita untuk menyadari kembali bahwa Yesus adalah pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Dan pemberian ini lebih luas daripada kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, dan lapar lagi, melainkan yang membawa ke kehidupan yang tidak lagi dibawahkan pada perputaran itu. Hal ini hanya dapat dipahami dengan menghayatinya.
Mereka yang mengikuti Yesus dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, apa itu menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ada ajakan untuk mengusahakan agar kenyataan rohani itu berdampak pada kenyataan sehari-hari juga. Dengan menyadari sisi-sisi yang manusiawi keseharian itu orang beriman semakin dapat berharap dapat bersatu dengan kurban persembahan Yesus sendiri (di kayu salib). Itulah makna pernyataan “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia” (Yoh 6:56). Persatuan kita dengan kurban persembahan Kristus inilah yang menyelematkan dunia.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
4 June 2026
MENGIMANI ALLAH TRITUNGGAL: MEMBANGUN DUNIA BARU
MENGIMANI
ALLAH TRITUNGGAL: MEMBANGUN DUNIA BARU
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus. Bacaan Injil (Yoh 3:16-18) yang akan kita dengarkana dalam Perayaan Ekaristi bersaksi tentang Allah yang sedemikian mengasihi dunia sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkannya.
Apa
maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama [sambil membuka
Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, kesaksian yang terhimpun dalam petikan Injil yang kita renungkan ini, dapat membantu kaum beriman menyelami iman akan Tritunggal Maha Kudus. Pada zaman Yesus orang memandang dunia ini sebagai drama yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Di dalam drama ini ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai “pengasal” tindakan penyelamatan, Allah Putra sebagai “pelaksana” tindakan penyelamatan tesebut, dan Allah Roh Kudus “melanjutkan”-nya.
Kedua, ketiga pelaku “tindakan penyelamatan” ini menjalankan peran yang berbeda-beda tetapi dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya.
Ketiga, pelaku dalam lakon disebut “prosoopon” (Yunani) atau “persona” (Latin), yang diindonesiakan sebagai “pribadi”. Arti harfiah kata Yunani dan Latin ialah gambar wajah atau topeng yang dikenakan oleh pelaku sehingga para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan.
Keempat, cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah mengimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dipakai untuk menjelaskan karya penyelamatan. Jalan pemikirannya demikian: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan terlaksana dalam diri Putra yang diutus ke dunia, dan keberlangsungannya dijaga oleh Roh Kudus. Dengan demikian, iman mengenai Allah Tritunggal disadari dalam hubungan dengan karya penyelamatan.
Kelima, ketiga ayat yang yang kita renungkan ini adalah kelanjutan dari pembicaraan Nikodemus, seorang ulama Yahudi, dengan Yesus (Yoh 3:1-15). Nikodemus percaya bahwa Yesus itu utusan Allah sendiri (ay. 2b) dan ia ingin mengenal-Nya lebih dalam. Yesus membantunya. Perhatian Nikodemus diarahkan oleh Yesus pada warta yang sejak awal disampaikan-Nya kepada orang banyak, yakni Kerajaan Allah sudah datang di dunia dan orang diajak bersiap ikut serta di dalamnya (ay. 3 dan 5).
Keenam, kepada Nikodemus diterangkan bahwa syarat untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah adalah dilahirkan kembali dalam air dan Roh (ay. 5). Maksudnya, dibaptis menjadi pengikut Yesus dan membiarkan diri dibawa oleh kekuatan-kekuatan ilahi sendiri, yakni Roh. Roh itulah yang bakal menuntunnya ke Kerajaan Allah.
Ketujuh, karena Nikodemus tidak segera menangkap, Yesus menjelaskan hal ini dengan cara yang lebih mudah dipahami, dengan merujuk pada keinginan mencapai hidup kekal. Siapa saja yang memandangi yang datang dari atas sana, yakni Anak Manusia, dan percaya kepada-Nya akan mendapat hidup kekal (ay. 15).
Kedelapan, tentu saja Nikodemus mengerti bahwa Anak Manusia ini adalah Yesus sendiri yang sudah dipercayainya sebagai utusan yang datang dari Allah sendiri (ay. 2). Namun masih satu langkah penting lagi, yang perlu dijalani: memulai hidup baru di dalam Kerajaan Allah. Itulah pokok pembicaraan dengan Nikodemus yang mendahului petikan yang kita renungkan ini, yakni ay. 16-18.
Kesembilan, apakah “Kerajaan Allah” yang diutarakan pada awal pembicaraan dengan Nikodemus tadi (ay. 3 dan 5), sama dengan “kehidupan kekal” yang disebut dalam ay. 15 dan 16? Penginjil Yohanes memang bermaksud mengajak pembaca memikirkan pertanyaan itu. Bagi banyak orang “kehidupan kekal” itu adalah gagasan yang langsung memberi isi pada paham tentang keselamatan. Setiap orang mendambakannya. Tetapi “Kerajaan Allah” hanya dikenal di antara para pengikut Yesus! Di luar itu boleh jadi hanya kalangan murid Yohanes Pembaptis sajalah yang pernah mendengarnya.
Kesepuluh, Yesus mengajak orang bersiap-siap menyongsong Kerajaan Allah yang telah datang. Bagi pengikut-pengikut-Nya, keinginan yang terdalam tidak berhenti pada gagasan “keselamatan = hidup kekal”, melainkan lebih jauh dan terarah pada “keselamatan = ikutserta dalam Kerajaan Allah” bersama dengan Dia (Yesus) yang mengajarkan mengenai Kerajaan Allah ini.
Kesebelas, “hidup kekal” dapat diperoleh dengan hidup beragama dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Tetapi untuk mencapai “kesempurnaan” dalam arti “masuk kedalam Kerajaan Allah”, perlu ada bimbingan Roh. Untuk mendapatkan hidup kekal, Nikodemus sendiri sudah tahu jalannya seperti yang sudah diajarkan Musa. Namun, untuk memasuki Kerajaan Allah, dibutuhkan penyerahan diri dan bimbingan Roh.
Kedua belas, agama menunjukkan jalan mencapai “keselamatan” (=hidup kekal) sehingga orang menemukan arti hidup dalam macam-macam keadaan, baik yang menyenangkan atau menyedihkan. Agama dan iman membuat orang menemukan diri sebagai makhluk di hadapan Yang Ilahi.
Ketiga belas, dalam pewartaan Yesus, masih ada kelanjutannya, yakni “memasuki Kerajaan Allah”. Di situ orang belajar mengenali Allah Pencipta sebagai “Bapa”, sebagai yang dekat, sebagai yang menghendaki yang terbaik. Yesus menawarkan citra yang baru dari Allah, seperti yang sudah diwartakan dalam kitab Perjanjian Lama (mis. Kel 34:6). Yang Mahakuasa bisa didekati. Berada di dekat-Nya berarti ikutserta dalam Kerajaan-Nya.
Keempat belas, bagi orang Yahudi pada waktu itu, ajaran ini mengejutkan. Mana bisa manusia membayangkan diri diperanakkan Allah! Karenanya, Ia disingkirkan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi karena mengajarkan Allah itu Bapa, dan mengakui diri-Nya sebagai yang mengenali-Nya dari dekat. Bagi orang-orang Yahudi saleh waktu itu semua ini terdengar sebagai hujatan dan pelecehan.; padahal Allah sebagai Bapa sudah diimani oleh para leluhur mereka seperti terungkap dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (Ul 32:6; Mzm 68:6; 89:27; Yes 63:16; 64:8).
Kelima belas, Yesus berani mengorbankan diri demi warta ini. Dalam arti inilah Yesus memperkenalkan kerahiman Allah dengan cara yang paling meyakinkan. Bapa-Nya, dengan membangkitkan Yesus dari kematian, menerima pengorbanan Yesus dan menunjukkan Diri kepada orang banyak bahwa Ia memang seperti yang diajarkan dan diwartakan oleh Yesus; Allah yang penuh belas kasih, kerahiman, perhatian dan kasih-setia (Yoh 3:16-18; Kel 34:6).
Kenam belas, perhatian dan kerahiman Allah memberi wajah baru kepada dunia; dunia tidak dihukum melainkan diselamatkan (ay. 17). Yang bersedia menerima kerahiman ini akan berjalan menuju ke terang, ke ciptaan baru.
Ketujuh belas, para pengikut Yesus dipanggil ke arah hidup kekal dan lebih jauh lagi, untuk menjadi orang-orang merdeka dari kekuatan yang mengekang, dari rasa waswas dan terancam. Kekuatan yang mengekang itu bukan saja dari alam gaib, melainkan hadir amat nyata dalam masyarakat kita: ketakadilan, kebodohan, kemiskinan, perkosaan hak-hak azasi, kekerasan, dan pengrusakan lingkungan hidup secara membabibuta.
Mengimani Allah Tritunggal bukan hanya mengucapkan “aku percaya akan satu Allah….”, tetapi juga ikut serta dalam karya Allah yang masih terus berlangsung, yakni membangun dunia yang baru, dunia yang makin layak dihuni, dunia yang bisa dikatakan “semakin diselamatkan” Allah, dunia yang bebas dari segala kekangan (catatan ketujuh belas), serta menjaganya agar tidak merosot. Semoga Roh Allah memampukan kita untuk melakukan ini semua.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
25 May 2026
MEMPERSAKSIKAN IMAN DENGAN BIMBINGAN ROH KUDUS
MEMPERSAKSIKAN IMAN DENGAN BIMBINGAN ROH
KUDUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sabahat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menyadari kembali semua kebaikan yang telah kita terima dari Allah selama sepekan di tengah situasi bangsa dan negara yang sedang tidak baik-baik saja.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Pentakosta. Bacaan Injil (Yoh 20:19-23) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memadatkan tiga peristiwa, yakni Kebangkitan Yesus, Kenaikan-Nya ke surga, dan Pentakosta di dalam peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang berkumpul di suatu tempat yang tertutup.
Apa maknanya bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes dalam injilnya (Yoh 20:19-23) tadi oleh Lukas ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan Yesus dari kematian, Kenaikan-Nya ke surga, dan Pentakosta.
Kedua, dari Kebangkitan hingga Kenaikan-Nya ke surga disebutkan ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga mereka percaya benar bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman dengan Yesus yang telah bangkit.
Ketiga, murid-murid Yesus kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Injil Matius (Mat 28:18), telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan ke surga.
Keempat, pada saat yang sama para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja. Dalam kata-kata Lukas, hal ini disebut sebagai tugas menjadi saksi-saksi-Nya (Kis 1:8b), atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa murid-Nya dan menerima mereka sepenuhnya dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19).
Kelima, meskipun sudah ada kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas itu dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentakosta ketika mereka menerima Roh Kudus (Kis 1:8a). Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak.
Keenam, di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, “hari ke-50” ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada “hari ke-50” ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa.
Ketujuh, di kalangan para pengikut Kristus, “hari ke-50” itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Jadi, perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh dunia Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah.
Kedelapan, bacaan pertama (Kis 2:1-11) berisi kisah mengenai hari Pentakosta. Suatu saat terdengar suara dari langit, menderu seperti taufan, memasuki ruangan tempat para murid berkumpul, dan muncullah lidah-lidah api menghinggapi mereka (Kis 2:1-3).
Kesembilan, dengan ungkapan itu Lukas sebenarnya ingin menggambarkan pengalaman batin para murid Yesus. Saat itu mereka secara bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka bernyala berkobar-kobar, seperti yang pernah dialami oleh dua orang murid Yesus yang berjalan ke Emaus (Luk 24:32). Sejak saat itu hati mereka selalu menyala-nyala, tidak pernah memudar.
Kesepuluh, juga dikatakan bahwa para murid mulai berbicara dalam pelbagai bahasa dan para pendengar merasa mendengar dalam bahasa mereka sendiri (Kis 2:4-12). Yang dimaksudkan oleh Lukas dengan kisah ini adalah Roh Kudus itu adalah kekuatan untuk mempersaksikan yang diimani degan cara yang dapat dimengerti oleh orang lain. Roh Kudus membuat apa yang dikatakan oleh para murid dapat dimengerti oleh siapa saja, baik yang sama latar belakang kepercayaannya, maupun yang berbeda.
Kesebelas, orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam nama-Nya hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah kehadiran Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi jernih, dan menuntun orang di jalan yang benar. Orang tidak lagi perlu merasa terancam daya-daya gelap yang pergi datang begitu saja. Ada arah baru dan alam baru dalam hidup yang tak terpikirkan sebelumnya. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus, yang telah naik ke surga, datang kembali.
Kedua belas, para murid generasi pertama itu kemudian menjadi makin peduli akan keadaan orang-orang di sekitar mereka; semakin mengerti penderitaan orang lain dari kalangan sederhana. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka itu orang-orang yang peduli akan keadaan di dalam masyarakat luas (Kis 2:42-47; 4:32-37). Inilah buah pertama dari hadirnya Roh Kudus.
Ketiga belas, dalam Injil Yohanes juga dikatakan bahwa setelah berkata “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22), Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23). Yang dimaksud dengan “mengampuni dosa” adalah mengampuni penolakan mendasar terhadap kehadiran Yang Ilahi; tidak menggubris Yang Ilahi dan menganggap-Nya sepi.
Keempat belas, mendapat kuasa untuk “mengampuni dosa” atau “menyatakannya tetap ada” berarti memikul tanggung jawab untuk menentukan apakah penolakan terhadap Tuhan masih bertahan atau sudah mulai lepas. Tanggung jawab ini besar dan berat. Besar karena kini para murid Yesus ikut dalam penyelenggaraan ilahi untuk mengubah jagat ini menjadi terang, menjadi ciptaan yang baru. Berat karena murid-murid Yesus diserahi urusan yang sebetulnya hanya dapat dilakukan Tuhan sendiri, yakni mengampuni dosa.
Merenungkan Injil dan Kisah para Rasul yang dibacakan dalam perayaan Pentakosta, mengingatkan kita bahwa menjadi murid-murid Yesus, kita perlu mempersaksikan iman kepercayaan kita kepada orang zaman sekarang dengan cara yang dapat mereka mengerti. Hal itu kita lakukan tidak hanya dengan perkataan, melainkan juga, dan terutama, dengan sikap hidup dan tindakan, yang dapat mengubah situasi kehidupan yang “sedang tidak baik-baik saja” menjadi baru, sehingga mereka yang dirundung putus asa dapat hidup dengan harapan baru. Hal itu dapat terjadi karena kita dibimbing oleh Roh Kudus.
Teriring salam dan doa,
Rm. Madya, S.J.