Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

23 December 2025

MERAYAKAN KELAHIRAN SANG PENYELAMAT

MERAYAKAN KELAHIRAN SANG PENYELAMAT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan sahabat, serta para anggota komunitas dalam keadaan baik. Selamat menyiapkan diri untuk merayakan kelahiran Sang Penyelamat. Marilah kita renungkan peristiwa ini agar bermakna bagi kehidupan kita dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang diberi catatan].

Renungan ini cukup panjang karena menyangkut tiga bacaan Injil dalam tiga kali Misa Kudus: (1) Misa malam Natal 24 Desember malam, catatan ketiga s/d kesepuluh; (2) Misa Fajar Desember 2025 pagi, catatan kesebelas s/d ketiga belas; dan (3) Misa siang Desember 2025, catatan keempat belas s/d kesembilan belas.

Pertama, dalam tradisi Gereja Katolik ritus Latin, hari Natal dirayakan dengan tiga Misa Kudus, yakni Misa Malam Natal 24 Desember, kemudian Misa Fajar 25 Desember pagi, dan akhirnya Misa Siang 25 Desember.

Kedua, ketiga perayaan itu melambangkan tiga sisi kenyataan lahirnya Sang Penyelamat Dunia. Pertama, kelahiran-Nya sudah terjadi sejak awal, yakni dalam kehendak Bapa di surga untuk mengangkat martabat kemanusiaan supaya bisa dekat dengan-Nya (Misa siang 25 Desember). Kenyataan kedua terjadi ketika Yesus lahir dari kandungan Maria (Misa malam Natal 24 Desember). Kenyataan ketiga, kelahiran Kristus secara rohani di dalam kehidupan orang beriman (Misa Fajar 25 Desember pagi).

Ketiga, bacaan Injil dalam ketiga Misa Natal tersebut (catatan pertama) sejajar dengan tiga kenyataan tadi (catatan kedua). Dalam Misa malam hari dibacakan Luk 2:1-14 yang menceritakan Maria melahirkan di Betlehem. Dalam Misa fajar diperdengarkan Luk 2:15-20 yang mengabarkan lahirnya Kristus di dalam kehidupan orang beriman yang pertama, yakni para gembala. Akhirnya, dalam Injil Misa siang hari, Yoh 1:1-18, ditegaskan bahwa Yesus, sang Sabda, ini sudah ada sejak semula.

Keempat, Injil Misa Malam Natal (Luk 2:1-14) mengisahkan Yusuf dan Maria mematuhi maklumat umum Kaisar Augustus yang mewajibkan orang mencatatkan diri di kampung halaman leluhur (ay. 1-3). Penginjil Lukas menggunakan “sensus penduduk” yang diadakan oleh Kaisar Agustus sebagai konteks kisah kedatangan Yusuf dan Maria ke Betlehem. Ini cara penginjil Lukas untuk mengatakan bahwa Tuhan bahkan memakai pihak bukan-Yahudi untuk menjelaskan bagaimana Yesus tetap lahir di Yudea, tempat asal kaum Daud, dan bukan di Nazaret.

Kelima, seperti banyak orang asli Yudea yang lain, Yusuf dan Maria termasuk kaum yang “terpencar-pencar” hidup dalam diaspora di daerah bukan asal mereka. Ironisnya, yang betul-betul masih bisa memberi identitas “orang Yudea” kepada mereka kini bukan lagi ibadat tahunan di Yerusalem, melainkan cacah jiwa (sensus penduduk) yang digariskan penguasa Romawi.

Keenam, penginjil Lukas mengatakan bahwa Yusuf pergi dari Nazaret ke Yudea “agar didaftar bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung” (ay. 4-5). Dengan cara ini mereka nanti akan resmi tercatat sebagai suami-istri di Yudea. Oleh karena itu, Yesus juga secara resmi bakal tercatat sebagai keturunan Daud, baik bagi orang Yahudi maupun bagi administrasi Romawi. Dengan menyampaikan kisah seperti ini penginjil Lukas juga ingin mengatakan bahwa kedatangan Juru Selamat bukanlah melulu bagi orang Yahudi, melainkan bagi semua orang di wilayah kekaisaran Romawi, bahkan bagi semua orang di jagat ini.

Ketujuh, Maria melahirkan anak laki-laki, anaknya yang sulung (ay. 7a). Penyebutan “anak sulung” terutama dimaksud untuk menggarisbawahi makna yuridis, bukan biologis. Anak sulung memiliki hak yang khas yang tidak ada pada saudara-saudaranya. Dalam hal ini, hak sebagai keturunan Daud dengan semua keleluasaannya. Oleh karena itu, Ia juga dapat mengikutsertakan siapa saja untuk masuk dalam keluarga besarnya.

Kedelapan, bayi yang baru lahir itu dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (ay. 7b). Dengan catatan itu, penginjil Lukas tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka tidak dimaui atau ditolak di mana-mana, melainkan karena semua tempat penginapan sudah penuh para pengunjung yang mau mendaftarkan diri menurut maklumat Kaisar Agustus.

Kesembilan, Yusuf dan Maria akhirnya menemukan tempat umum yang biasa dipakai tempat istirahat rombongan karavan bersama hewan angkutan mereka. Tempat-tempat seperti ini memiliki beberapa kelengkapan dasar, misalnya tempat untuk beristirahat, tempat untuk mandi, tempat untuk masak, dan palungan tempat menaruh makanan bagi kuda atau hewan tunggangan lainnya. Ini cara penginjil Lukas mengatakan bahwa kelahiran Yesus terjadi di tempat yang bisa terjangkau umum, tempat bertemu banyak orang, sehingga para gembala dapat dengan cepat mendapatinya.

Kesepuluh, kelahiran Yesus yang diceritakan sebagai kejadian sederhana seperti di atas itu nanti diungkapkan para malaikat kepada para gembala. Para gembala amat beruntung bisa menyaksikan perkara ilahi dan perkara duniawi dalam wujud yang sama. Dia yang Maha Tinggi kini menyatakan diri dalam wujud yang paling biasa bagi semua orang. Bala tentara surga, dan para malaikat menyuarakan pujian kepada Allah (ay. 8-14).

Kesebelas, dalam Misa Fajar, yang diberitakan malaikat Tuhan kepada para gembala; yakni bayi yang baru saja lahir ini adalah “Juruselamat, Mesias, Tuhan” (ay. 10-12) kini mereka teruskan kepada orang-orang yang ada di sekitar palungan (ay. 17). Boleh kita bayangkan, di tempat umum di sekitar palungan itu ada banyak orang lain yang juga menginap di situ. Mereka sedang menolong keluarga baru ini.

Kedua belas, mendengar kata-kata para gembala mengenai warta malaikat tadi, semua orang ini menjadi terheran-heran (ay. 18). Bagi mereka bayi yang dilahirkan ibu muda ini biasa saja, tetapi apa yang dikatakan oleh para gembala ini menjelaskan hal yang luar biasa yang sedang terjadi kini! Para gembala itulah orang-orang yang pertama-tama memberi arti rohani bagi peristiwa kelahiran tadi.

Ketiga belas, disebutkan dalam ay. 15 “... gembala-gembala itu berkata satu kepada yang lain, ‘Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat ....’” Kepada siapa kata-kata itu ditujukan? Yang pertama tentu kepada para gembala itu satu sama lain. Yang kedua kepada siapa saja yang membaca atau mendengarkannya, kita semua; mereka – kita semua diajak oleh gembala-gembala tadi bersama pergi dengan mereka ke Betlehem menyaksikan kebesaran ilahi dalam wujud bayi, yang membuat orang mulai bersimpati kepada Tuhan.

Keempat belas, dalam Misa siang dibacakan Pembukaan Injil Yohanes (Yoh 1:1-18) yang sarat dengan makna. Dikatakan bahwa “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan Allah” (Yoh 1:1-2). Untuk memahami dua kalimat ini, kita perlu mengingat Kisah Penciptaan menurut tradisi dalam kitab Kejadian (Kej 1:1-2:4a).

Kelima belas, dalam Kisah Penciptaan tersebut dikisahkan bahwa pada awalnya Tuhan menjadikan terang dengan memfirmankannya. Firman-Nya (yakni “Jadilah terang!”) menjadi kenyataan, yakni terang (Kej 1:3). Dan begitu selanjutnya hingga ciptaan yang paling akhir, yakni umat manusia, yang diberkati dan diberi wewenang mengatur jagat ini sebagai wakil Tuhan Pencipta sendiri.

Keenam belas, dikatakan dalam Yoh 1:1: “Dan Firman itu adalah Allah.” Dengan ungkapan ini hendak dikatakan bahwa keilahian (Allah) yang kerap terasa jauh dan menggentarkan itu kini mulai dekat dan dapat didengarkan, membiarkan Diri dimengerti, dikaji, serta dipikir-pikirkan;  dan dengan demikian ikut di dalam kehidupan manusia. Itulah yang dimaksud oleh Yohanes. Oleh karena itu, juga tidak mengherankan bila dalam Yoh 1:3 ditegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi ini dijadikan oleh Firman (Allah) tersebut. Tidak ada yang tidak berhubungan dengan-Nya.

Ketujuh belas, dalam Yoh 1:4 ditegaskan bahwa Dia (Sang Firman) itu adalah kehidupan dan kehidupan itu terang bagi manusia. Bandingkan dengan terang yang difirmankan Pencipta pada awal Penciptaan: terang itu ciptaan pertama yang mendasari semua yang ada (Kej 1:3). 

Kedelapan belas, dikatakan bahwa “terang” itu datang ke “dunia”, berada di “dunia” yang “dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (Yoh 1:9-10). Bagi penginjil Yohanes kata “dunia” mengacu pada tempat beradanya kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran ilahi (Yoh 1:5). Ke tempat seperti inilah terang ilahi tadi bersinar dan terangnya tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan kegelapan.

 

Kesembilan belas, penginjil Yohanes menghubungkan peristiwa kelahiran Yesus sebagai kedatangan terang ilahi ke dunia ini. Dengan latar Kisah Penciptaan menjadi jelas bahwa kelahiran Yesus itu ditampilkan oleh penginjil Yohanes sebagai tindakan yang pertama dalam karya penciptaan Tuhan. Penciptaan ini dimaksud untuk menghadirkan Tuhan Pen­cipta. Bukan sebagai Tuhan yang kehadiran-Nya harus diterjemahkan terutama dalam wujud hukum-hukum agama, seperti hukum Taurat, melainkan sebagai Bapa yang menjadi asal-usul kehidupan manusia, yang menyapa manusia dengan Firman yang membawakan kehidupan.

 

Merayakan Natal mengajak kita untuk menyadari kembali bahwa iman akan kelahiran Yesus Kristus di dunia ini adalah mempercayai Allah yang masih meneruskan penciptaan jagat beserta isinya untuk menyempurnakan bagian-bagian yang dirusak oleh manusia. Firman-Nya kuat. Terangnya tak terkalahkan meskipun banyak yang menghalangi.

  

Merayakan Natal juga mengajak kita untuk bersama para gembala mencari bayi Yesus di “Betlehem”; di tempat yang kita semua tahu, tempat yang dapat dicapai dengan mudah, bukan di negeri antah-berantah.

  

“Betlehem” bisa bermacam-macam wujud dan macamnya; misalnya, orang yang kita cintai dan mencintai kita, kehidupan orang-orang yang kita layani, orang-orang yang membutuhkan kedamaian dan uluran tangan kita, atau juga diri kita sendiri yang diajak ikut menghadirkan-Nya, bahkan alam yang dirusak oleh manusia sehingga menimbulkan bencana. Di situlah Tuhan hadir menantikan orang, kita semua, datang menyatakan simpati kepada-Nya.

 

Selamat merayakan Natal 2025 dan menyongsong Tahun Baru 2026.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.



Catatan:

Berhubung saya akan berada di luar Seminari mulai 24 Desember 2025 s/d 9 Januari 2026 untuk membantu di paroki merayakan Natal dilanjutkan dengan berlibur, maka saya tidak akan dapat mengirimkan renungan untuk 28 Desember 2025 (Hari Raya Keluarga Kudus) dan 4 Januari 2026 (Pesta Penampakan Tuhan). Mohon dimaklumi.





 

 

Lihat selengkapnya

21 December 2025

ALLAH SUNGGUH HADIR DAN MENEMANI KITA

ALLAH SUNGGUH HADIR DAN MENEMANI KITA

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, teman dan sahabat, serta anggota komunitas dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan.

Besok Minggu kita akan merayakan hari Minggu Adven ke-4 (terakhir) tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 1:18-24) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi menyampaikan tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf, yang di dalam silsilah sebelum bacaan ini, disebut sebagai “suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, penginjil Matius mengatakan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus ketika “bertunangan dengan Yusuf” (=sebelum hidup sebagai suami-istri  -- ay. 18). Dalam adat-istiadat Yahudi, sejak usia remaja seorang gadis dipertunangkan dengan calon suaminya jauh-jauh sebelum pernikahan, yang baru akan dilaksanakan ketika kedua-duanya sudah siap membangun rumah tangga yang mandiri. Ikatan ini dapat dibatalkan karena berbagai macam alasan. Salah satunya adalah bila calon istri didapati mengandung sebelum pernikahan dilangsungkan.

Kedua, bila hal itu terjadi (seperti pada diri Maria), menurut hukum, bakal suami wajib membatalkan ikatan pertunangan tadi. Dengan pembatalan tersebut, pihak perempuan akan merdeka dan dapat diperistri orang lain secara sah. Kerap terjadi, perempuan yang bersangkutan tidak dimaui siapapun dan akan mendapat aib.

Ketiga, Yusuf tidak hendak menyusahkan Maria, tetapi tetap mau menaati hukum tadi. Maka ia bermaksud membatalkan pertunangannya dengan Maria secara “diam-diam” (ay. 19); artinya, pembatalan tersebut dilakukan di hadapan dua orang saksi tetapi tanpa mengumumkannya. Dengan demikian, pembatalan itu akan sah menurut hukum tetapi tidak mendatangkan aib bagi Maria.

Keempat, namun sebelum niatan ini terlaksana, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Dalam sebuah mimpi malaikat Tuhan datang dan mengatakan kepada Yusuf agar jangan takut mengambil Maria sebagai istrinya karena anak yang dikandung Maria itu berasal dari Roh Kudus (ay. 20). Jadi, kandungan itu bukan dari manusia, sehingga Yusuf tidak usah merasa terikat pada kewajiban mengikuti hukum adat.

Kelima, selanjutnya diberitahukan bahwa anak tadi hendaknya diberi nama Yesus, artinya “Tuhan itu keselamatan” (ay. 21). Yusuf pun menjalankan yang diperintahkan kepadanya oleh sang malaikat (ay. 24).

Keenam, bagi umat Matius dan umat Kristiani awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian lumrah. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. Matius memberikan penjelasan kejadian yang tidak biasa ini lewat kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf tadi.

Ketujuh, dalam ay. 22 ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat tadi menggenapkan nubuat nabi Yesaya (Yes 7:14), yang menyebutkan bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya “Tuhan menyertai kita”.

Kedelapan, teks Ibrani dalam Yes 7:14 memakai kata “seorang anak dara/perempuan muda”; yang maknanya adalah anak perempuan yang sudah dewasa, tetapi belum menikah. Dalam teks Yunani yang dipakai Matius, kata itu diterjemahkan dengan sebuah kata yang artinya “perawan”. Hal ini dilakukan karena Matius menulis Injilnya bagi mereka yang percaya bahwa Maria itu perawan yang mengandung dari Roh Kudus.

Kesembilan, karenanya, kutipan dari Yes 7:14 dalam Mat 1:22-23 itu sebaiknya lebih dipahami bahwa yang ditekankan adalah kelahiran sang “Imanuel”, yang artinya “Allah menyertai kita.” Sejak kelahiran Yesus, Sang Imanuel, Allah tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Sejak saat itu Allah menyertai manusia sepanjang zaman (lih. Mat 28:20).

Kesepuluh, kisah kelahiran Yesus, yang bukan kejadian biasa, ini diceritakan juga oleh Lukas (Luk 1:26-38), tetapi dengan penekanan yang berbeda. Bila Matius mencerminkan ingatan dari kalangan Yusuf mengenai kelahiran Yesus, Lukas menceritakan kelahiran Yesus dari sudut pandang Maria.

Kesebelas, namun intinya sama: anak itu dikandung dari Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35), Maria dan Yusuf bertunangan (Mat 1:18, Luk 1:27), perintah agar anak yang lahir nanti dinamai Yesus (Mat 1:21: kepada Yusuf; Luk 1:31: kepada Maria), kelahiran Yesus di Betlehem (Mat 2:5, Luk 2:4 & 6), dan Yesus besar di Nazaret (Mat 2:23, Luk 2:51-52).

Kedua belas, melalui kisah dalam injil ini Matius menampilkan perasaan Yusuf, pergulatan rohaninya, dan rasa hormatnya yang besar terhadap Yang Ilahi yang mendatanginya. Juga ditonjolkan perhatian Yusuf terhadap Maria dan Yesus. Ia betul-betul menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai bapa keluarga ini.

Ketiga belas, pembaca dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut Yesus dari generasi pertama menangkap maksud penekanan pada Yusuf tadi. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus.

Keempat belas, juga menjadi jelas bahwa karya “Tuhan menyelamatkan umat-Nya” (ay. 21b) itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, daya luar alam itu, baru betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi. Inilah kiranya keyakinan iman orang-orang yang terungkap dalam kisah Matius dalam Injil ini.

Kelima belas, sebetulnya kisah kelahiran dan masa kecil Yesus tidaklah mutlak perlu untuk menjelaskan karya, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus nanti. Injil yang paling awal, yakni Injil Markus, tidak memuat kisah kelahiran seperti itu. Begitu pula dalam Injil Yohanes tidak didapati kisah yang mirip. Mengapa demikian?

Keenam belas, Injil Markus disiapkan sebagai pegangan ringkas bagi mereka yang baru mulai tertarik untuk mengenal siapa Yesus itu. Setelah tahap awal ini dilalui, apa yang terjadi? Orang tentu butuh pendalaman. Kepada mereka inilah Injil Matius dan Lukas ditulis. Orang yang sudah mulai kenal Yesus dan hidup menurut warta-Nya (“setelah mendengar injil Markus”), tentu ingin mengenal asal usul Yesus. Karena itulah Matius dan Lukas menuliskan tradisi mengenai kelahiran-Nya.

Ketujuh belas, orang-orang yang maju lebih jauh dalam kehidupan rohani mereka, tidak butuh bertanya-tanya mengenai asal-usul badaniah dan peristiwa-peristiwa di seputar kelahiran dan masa kecil Yesus. Kepada mereka itulah Injil Yohanes berbicara. Ditekankan hubungan dengan Bapa. Diungkapkan pula keinginan Yesus untuk berbagi “sangkan paran” (asal usul dan tujuan) hidup-Nya, serta berbagi kehidupan rohani yang sejati dengan orang-orang yang dikasihi-Nya dan setia kepada-Nya.

Kedelapan belas, baik penginjil Lukas maupun Matius menekankan hadirnya daya ilahi (“Maria mengandung dari Roh Kudus”) dan penerimaan utuh dari pihak Maria dan Yusuf. Yang dilakukan Yusuf diungkapkan Matius dalam Injil yang kita renungkan ini. Menerima karya ilahi dalam ujud yang amat mengguncang tadi menjadi ungkapan iman yang paling nyata. Yusuf adalah orang yang dapat menerima kehadiran ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormati-Nya. Bahkan ia memelihara-Nya dengan penuh perhatian.

Kesembilan belas, Yusuf memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Ilahi, yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Dengan kata lain, Yusuf adalah pribadi yang dapat dipercaya, karena ia juga bisa mempercayai yang dikehendaki oleh Allah.

Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius berarti merayakan kebesaran hati seorang manusia (Yusuf), yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya; sehingga Allah dapat hadir dan menemani perjalanan hidup kita. Semuanya ini ia lakukan dengan tidak banyak “omon-omon.”

Semoga kita dapat meneladani sikap hati dan tindakannya.

Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

14 December 2025

MENEMUKAN TANDA-TANDA KEDATANGAN YESUS

MENEMUKAN TANDA-TANDA KEDATANGAN YESUS

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat, dan menyadari kembali semua rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Adven ke-3 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 11:2-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi bebicara tentang (1) Yohanes Pembaptis yang mengutus murid-muridnya kepada Yesus untuk memastikan apakah Ia itu betul Dia yang diwartakan bakal datang (ay. 2-3), (2) jawaban Yesus kepada mereka (ay. 4-6), dan (3) Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes Pembaptis (ay. 7-11a).

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, beberapa waktu sebelumnya, Yohanes Pembaptis ditangkap oleh Herodes Antipas (Mat 4:12) karena dua alasan. Pertama, alasan politik. Warta kenabian dan seruan pertobatan Yohanes Pembaptis membuat guncangan dalam masyarakat dan dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan Herodes di hadapan penguasa Romawi. Kedua, Yohanes Pembaptis pernah mengecam keras perkawinan Herodes dengan Herodias, yang waktu itu masih bersuamikan saudara tiri Herodes sendiri (Mat 14:4). Tindakan Herodes ini terlarang seperti tertera dalam kitab Imamat (Im 18:6).

Kedua, di dalam penjara Yohanes Pembaptis masih bisa menerima kunjungan murid-muridnya. Dari merekalah Yohanes Pembaptis mendengar tentang Yesus yang mulai dikenal dalam masyarakat (Mat 11:2).

Ketiga, dalam Mat 3:11 dikisahkan bahwa Yohanes Pembaptis memaklumkan kedatangan Dia yang lebih berkuasa daripadanya dan yang akan membaptis dengan Roh dan api sehingga orang dapat memasuki Kerajaan Surga setelah menerima baptisan tobat yang diserukan-Nya. Tetapi belum jelas baginya siapa orangnya.

Keempat, ketika Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis minta ikut dibaptis (Mat 3:13), Yohanes Pembaptis tentunya menduga bahwa Dia inilah orangnya (Mat 3:14). Apalagi dalam pembaptisan Yesus itu, Yohanes Pembaptis memperoleh pengalaman rohani, yakni terdengarnya suara dari langit yang menyatakan bahwa Yesus itu anak Allah yang terkasih dan mendapat perkenan ilahi (Mat 3:17.). Tetapi sungguh Diakah orang yang dinanti-nantikan?

Kelima, pertanyaan Yohanes Pembaptis apakah Yesus itu betul-betul Dia yang bakal datang, atau masih akan ada orang lain (Mat 11:3b), menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis ingin mendengar berita yang tepercaya. Ia juga mau mengajar murid-muridnya agar berani mengenal siapa tokoh Yesus itu sesungguhnya dengan menemui-Nya sendiri (Mat 11:3a).

Keenam, keragu-raguan Yohanes Pembaptis tidak perlu ditafsirkan sebagai kekurangpercayaan. Dibutuhkan berita lebih lanjut yang bakal memastikan bahwa Dia itulah orangnya. Iman yang hidup tetap butuh informasi yang aktual.

Ketujuh, usaha mengerti mana tanda-tanda yang bisa membuat orang percaya termasuk tindakan beriman. Seperti semua tindakan manusia, percaya dan beriman itu bisa dan perlu dipertanggungjawabkan.

Kedelapan, kebutuhan mempertanggungjawabkan (kepercayaan dan iman) terasa mendesak, karena pada waktu itu warta yang dibawakan Yohanes Pembaptis dan pengajaran yang diberikan Yesus sering dipertanyakan dan bahkan ditolak.

Kesembilan, dalam Mat 11:16-19, yang menjadi konteks Injil yang kita renungkan ini, disebutkan ada orang-orang yang menganggap Yohanes Pembaptis kerasukan setan karena menjalankan laku tapa keras (ay. 18), bahkan ada yang tidak menggubris Yesus walaupun hidup-Nya tidak seperti pertapa. Bahkan, kebaikan-Nya kepada para pemungut pajak dan pendosa dijadikan bahan cibiran (ay. 19). Memang sepanjang Mat 11-12 digambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima warta Yohanes Pembaptis dan kehadiran Yesus sendiri.

Kesepuluh, Yesus meminta agar murid-murid Yohanes Pembaptis melaporkan kepada guru mereka apa yang mereka lihat dan dengar tentang diri-Nya (Mat 11:4), yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin dibawakan berita gembira (Mat 11:5). Peristiwa-peristiwa ini memenuhi warta nabi Yesaya (Yes 35:5-6 dan Yes 61:1).

Kesebelas, dengan permintaan-Nya itu Yesus mengundang para murid Yohanes Pembaptis—dan kita semua—untuk menyimak kembali pewahyuan ilahi yang sudah sering didengar dan mencoba melihat kenyataannya sekarang. Penyembuhan dan kabar gembira kepada orang-orang yang sengsara tadi membuat kedatangan Yesus semakin dapat dipertanggungjawabkan, semakin “accountable”.

Kedua belas, pada akhir jawaban-Nya, Yesus menyebut berbahagia orang “yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat 11:6). Ungkapan aslinya adalah “yang tidak tersandung karena Aku”. Orang yang bisa menerima warta Yesus tanpa merasa tersinggung dan menyambutnya dengan merdeka boleh merasa bahagia. Kebahagiaan tercapai dengan mencari tahu bagaimana dan dengan cara apa kedatangan Yesus menjadi semakin bermakna dan semakin bisa dinikmati.

Ketiga belas, setelah murid-murid Yohanes Pembaptis pergi, Yesus mulai berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Dikatakannya bahwa orang-orang datang kepada tokoh itu karena ia tidak seperti “buluh digoyang angin” (Mat 11:7). Maksudnya, mereka datang untuk berguru kepada orang yang wataknya kuat, kepada orang yang berprinsip, berkepribadian.

Keempat belas, ditambahkan bahwa mereka tentunya datang ke tempat sepi tidak untuk menemui orang yang “berpakaian halus” (Mat 11:8), melainkan untuk mendengarkan seorang nabi yang menyampaikan sabda Tuhan dengan penuh integritas (Mat 11:9). Dan nabi itulah Yohanes Pembaptis.

Kelima belas, yang dimaksud dengan “yang terkecil dalam Kerajaan Surga” namun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis Pembaptis (Mat 11:11b) adalah Yesus. Ungkapan “terkecil” dikenakan kepada orang yang ditugasi melayani orang lain. Dalam Mat 20:28 Yesus menerapkan gagasan melayani tadi kepada diri-Nya sendiri. Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani; maksudnya, untuk membuat Yang Ilahi mendekat kepada manusia. Itulah kebesaran-Nya.

Merenungkan Injil ini pada hari Minggu Adven ke-3, kita dapat memetik dua buah “pelajaran”. Pertama, kita diundang untuk menengarai dan menemukan tanda-tanda kehadiran Yesus di tengah-tengah kehidupan dan masyarakat kita; yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin serta mederita dibawakan berita gembira.

Kedua, apakah kita bisa mengharapkan diri kita juga akan dibicarakan oleh Yesus dengan para penghuni surga, seperti dulu ketika Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis kepada orang banyak?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

6 December 2025

PERTOBATAN YANG BERBUAH

PERTOBATAN YANG BERBUAH

 

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Adven II tahun A dalam kalender liturgi dalam suasana sedih dan prihatin karena puluhan ribu saudara kita terkena musibah bencana Allah, dan banyak dari antara mereka yang meninggal dunia.

Seraya mendoakan mereka dan mengupayakan bantuan sekemampuan kita, kita akan merenungkan Injil (Mat 3:1-12) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi. Dalam Injil ini ditampilkan Yohanes Pembaptis yang mewartakan datangnya Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan yang harus menghasilkan buah.

Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, Yohanes Pembaptis ditampilkan oleh penginjil Matius sebagai suara yang berseru di padang gurun agar disiapkan jalan yang rata bagi Tuhan yang akan datang (ay. 3; lihat Yes 40:3). Tuhan, yang sedang dinanti-nantikan itu akan datang dan memimpin kembali orang-orang ke dalam Kerajaan Surga lewat jalan yang rata tadi.

Kedua, dengan pewartaan nabi Yesaya itu (Yes 40:3, yang dikutip dalam Mat 3:3) Yohanes Pembaptis adalah tokoh yang datang dengan wibawa “dari atas.” Karenanya, Yohanes akrab dengan kekuatan-kekuatan surgawi, sehingga banyak orang datang kepadanya minta dibaptis sebagai tanda pertobatan dan agar disertai oleh kekuatan-kekuatan surgawi tadi untuk menemukan kembali jalan yang lurus (Mat 3:5-6).

Ketiga, karena keakrabannya dengan kekuatan-kekuatan surgawi terebut, Yohanes Pembaptis dapat menggemakan seruan Yang Mahakuasa sendiri kepada kekuatan-kekuatan surgawi tadi agar menyiapkan jalan dan meluruskannya bagi kedatangan Tuhan (Mat 3:3b).

Keempat, Yohanes Pembaptis mewartakan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 3:2b). “Kerajaan Surga” mengacu pada wibawa Allah sebagai “Raja”, termasuk juga orang-orang yang mengakui kuasa-Nya. “Kerajaan Surga” ini datangnya bukan dari dunia kita ini, sehingga tidak masuk dalam sistem dunia ini. Kendati demikian, kedatangan-Nya akan berpengaruh pada cara orang yang percaya akan kedatangan-Nya menata dunia ini.

Kelima, orang yang menerima kedatangan Kerajaan Surga, akan menata dunia ini bukan berdasarkan status sosial para anggota masyarakat, melainkan dengan nilai-nilai Injil, yakni kasih, pengampunan, kerelaaan saling berbagi, saling tolong-menolong, keadilan, solidaritas, dan kesetaraan antarpara anggota keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Keenam, hal itu (catatan kelima) dapat dilakukan setelah orang menerima “baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11c) yang diberikan oleh Yesus [= “Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku” (Mat 3:11b)], bukan hanya “baptisan dengan air” yang diberikan oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:11a).

Ketujuh, “baptisan dengan air” yang diberikan oleh Yohanes Pembaptis membersihkan yang menempel di luar dan melepaskan beban-beban rohani sebagai tanda pertobatan. “Baptisan dengan Roh Kudus dan dengan api” yang diberikan Yesus membuat orang dapat melangkah ringan, seperti dibawa Roh Kudus, dan membersihkannya sampai sedalam-dalamnya, seperti api memurnikan barang campuran.

Kedelapan, Yesus yang “membaptis dengan Roh dan dengan api” juga akan memisahkan orang yang berisi Roh dari orang yang kosong, seperti orang menampi gandum dan memisahkannya dari sekam; gandum akan disimpan dalam lumbung, sekam akan dibakar (Mat 3:12). Hal ini senada dengan seruan Yohanes Pembaptis bila pertobatan tidak menghasilkan buah, maka ibarat pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dimusnahkan dalam api (Mat 3:10 – lihat catatan kesepuluh di bawah).

Kesembilan, Yohanes Pembaptis memandang Yesus “lebih berkuasa” daripada dirinya, sehingga ia merasa tidak layak untuk “melepaskan kasut-Nya” (Mat 3:11b). Bagi orang Yahudi, ungkapan “melepaskan kasut” adalah sebuah kiasan yang berasal dari praktik hukum adat. Artinya, bertindak sebagai orang “yang diberi kuasa” bila orang yang berwenang terhalang. Dengan menggunakan ungkapan itu, Yohanes Pembaptis hendak mengatakan bahwa dirinya tidak layak menerima kuasa mewakili Yesus!

Kesepuluh, ucapan yang keras dari Yohanes Pembaptis dalam ayat 8 s/d 10, ingin mengatakan bahwa pertobatan saja belum cukup. Pertobatan yang sejati perlu menghasilkan buah-buah kebaikan. Ibaratnya, seperti sebatang pohon yang perlu bertumbuh, berbunga, mekar dan berbuah. Bila sebatang pohon tidak berbuah, pohon itu hanya akan dikapak sampai ke akar-akarnya dan dimusnahkan (ay. 10). Demikian pula hidup kita!

Kesebelas, Yohanes Pembaptis mengingatkan bahwa status sebagai keturunan Abraham bukan jaminan untuk memperoleh keselamatan. Yang perlu diusahakan, seperti ditegaskan oleh Yohanes Pembaptis, adalah “hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (ay. 8). Hal senada dikatakan oleh Gereja dalam Konsili Vatikan II: “Akan tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah [=bertumbuh, berkembang] dalam cinta kasih” (Lumen Gentium 14).

Merenungkan Injil ini mengajak kita untuk bertanya diri: langkah kongkret apa yang perlu kita lakukan sehingga pertobatan sejati (dalam level personal, komunal dalam keluarga atau komunitas, serta karya/lembaga) sungguh menghasilkan buah-buah nyata demi terwujudnya Kerajaan Surga (catatan kelima) dalam hidup dan masyarakat kita?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 

Lihat selengkapnya

6 December 2025

MENEMUKAN DAN MEWUJUDKAN “KEMANUSIAAN BARU”

MENEMUKAN DAN MEWUJUDKAN “KEMANUSIAAN BARU”

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudara dan Saudari yang baik selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua anugerah Allah yang telah dicurahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Adven pertama tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 24:37-44) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi mengajak kita semua agar berjaga-jaga menunggu kedatangan “Anak Manusia” pada akhir zaman.

Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, dalam tahun liturgi A ini perhatian akan dipusatkan pada Injil Matius. Injil Matius menyoroti Yesus sebagai pribadi yang membawakan Kerajaan Surga lewat tindakan dan ajaran-Nya. Siapa saja yang menerima-Nya akan menjadi bagian dari “Israel baru”, yakni bangsa terpilih yang baru, kemanusiaan baru. Mereka inilah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kedua, Kerajaan Surga yang diwartakan oleh Yesus sudah ada tetapi tidak diketahui kapan terwujud secara utuh. Tidak ada yang tahu kapan hal itu akan terjadi (Mat 24:36). Artinya, Kerajaan Surga tidak mengikuti mekanisme hukum alam dan kaidah-kaidah perkembangan masyarakat walaupun berinteraksi dengannya dalam cara-cara yang tidak bakal sepenuhnya dapat dijelaskan.

Ketiga, Matius menggambarkan Yesus sebagai “Anak Manusia” yang datang di atas awan-awan di langit dengan kuasa dan kemuliaan yang besar (Mat 24:30). Ungkapan “Anak Manusia” menggemakan Dan 7:13, yakni Anak Manusia yang datang menghadap Yang Mahakuasa untuk memperoleh anugerah atas seluruh alam semesta.

Keempat, “Anak Manusia” ini baru tampil setelah kekuatan-kekuatan jahat yang mengungkung alam semesta dihancurkan oleh kuasa Allah (Dan 7:11b-12). Dengan demikian, zaman yang dikuasai kekuatan edan itu digantikan dengan zaman Anak Manusia.

Kelima, sosok “Anak Manusia” dalam Kitab Daniel menggam-barkan “kemanusiaan baru” yang sepenuhnya ada di hadirat ilahi dan bebas dari pengaruh yang jahat. Dalam Injil Matius, “kemanusiaan baru” itu ditampilkan sebagai kenyataan Kerajaan Surga.

Keenam, “kemanusiaan baru” ini oleh Matius digambarkan dengan istilah “bahtera” yang dibangun oleh Nuh (Mat 24:38). “Bahtera” adalah kawasan khusus yang terlindung dari kekuatan-kekuatan penghancur yang akan segera datang.

Ketujuh, “kemanusian baru” juga dapat dimengerti dengan memperhatikan bacaan pertama (Yes 2:1-5), yang menyampaikan nubuat mengenai datangnya zaman damai. “Kemanusiaan baru” (= zaman damai) akan terjadi ketika orang menemui Tuhan untuk mendengarkan ajaran tentang jalan-Nya serta bersedia berjalan di atasnya (Yes 2:3).

Kedelapan, Tuhan yang mereka temui adalah “hakim” atas para bangsa (Yes 2:4). Dalam dunia Perjanjian Lama, “hakim” bukan sekadar pemimpin proses pengadilan, tetapi juga pemimpin masyarakat yang berwewenang mendamaikan pertikaian yang dibawakan ke hadapannya dengan wibawa dan kebijaksanaannya. Kiasan ini dikenakan kepada Tuhan yang berdiam di Bukit Sion.

Kesembilan, orang-orang yang sudah siap untuk berperang, ketika mengalami “pendamaian” dari Allah, mengubah perlengkapan yang tadinya bakal dipakai untuk saling menghancurkan (pedang dan tombak) menjadi peralatan untuk mengelola bahan yang menunjang kehidupan: bajak untuk menggarap tanah, dan pisau pemangkas untuk menuai buah! Mereka juga berhenti melakukan latihan perang (Yes 2:4). Ini semua mereka lakukan karena mereka memperoleh pengajaran dari Allah mengenai nilai kehidupan.

Kesepuluh, untuk sementara Kerajaan Surga memang belum kelihatan sepenuhnya, masih terselubung, walau jelas sudah mulai ada. Akan tiba saatnya kewibawaan ilahi menampakkan kuasa-Nya seutuhnya. Karenanya, orang diimbau agar peduli, hormat, dan berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan-Nya yang tak terduga-duga (Mat 24:42 & 44). Bagaimana hal ini dilakukan?

Kesebelas, untuk dapat melihat kehadiran Kerajaan Surga yang masih terselubung itu, kita perlu mengasah kepekaan dalam mengamati peristiwa hidup sehari-hari yang melangsungkan kehidupan manusia: makan dan minum, kawin dan mengawinkan (Mat 24:38a), bekerja di ladang (Mat 24:40a) dan memutar batu  giling (Mat 24:41a).

Kedua belasa, dalam kegiatan sehari-hari yang nampak serba biasa itu, ada “sesuatu yang tidak biasa”, yakni (1) Nuh membangun Bahtera dan masuk ke dalamnya (Mat 24:38b), (2) “yang satu dibawa dan yang lain ditinggalkan” (Mat 24:40b dan 421b). Dalam “sesuatu yang tidak biasa” itulah Allah hadir dan menyapa kita untuk menawarkan keselamatan-Nya (=Kerajaan Surga).

Mengawali masa Adven ini kita diundang untuk berusaha menyadari bahwa Yang Mahakuasa itu sungguh hadir sebagai “Bapa” (Mat 24:36b); hadir dalam kerahiman dan belas kasih-Nya walau tidak selalu kelihatan jelas.

Masa Adven juga merupakan masa untuk berupaya memahami “kemanusiaan baru” yang diperkenalkan Yesus, serta mengupayakan agar hidup kita dan masyarakat kita terarah ke sana.

Hal ini dapat kita lakukan dengan jeli mengamati adanya “hal-hal yang tidak biasa” dalam peristiwa hidup sehari-hari yang nampaknya serba biasa. [Mis.: Mengapa di Sumatra Utara yang mestinya musim kemarau, justru terjadi hujan sangat lebat tanpa henti selama dua hari sehingga terjadi banjir bandang yang memporakporandakan hidup puluhan ribu orang di Sibolga, Medan, dan Aceh?]. “Hal-hal yang tidak biasa” itu merupakan  “tempat” Allah hadir menyapa kita dan menawarkan kasih-keselamatan-Nya.

Semoga kita dimampukan oleh Allah untuk melakukannya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

22 November 2025

YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

 

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan mengakhiri Tahun C kalender liturgi dengan merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Allam. Injil (Luk 23:35-43) berkisah tentang Yesus yang bergantung di salib diolok-olok oleh tiga macam orang, yakni para pemimpin bangsa Yahudi (ay. 35b), para serdadu (ay. 36-37), dan bahkan oleh salah seorang penjahat yang ikut disalibkan bersama Dia (ay. 39).

Mengapa kisah penyaliban Yesus dipilih untuk merayakan Dia sebagai Raja Semesta Alam? Raja macam apakah Dia itu? Apa maknanya bagi hidup kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, inti dari olok-olok dan cemooh yang dilakukan oleh tiga macam orang ini adalah tantangan kepada Yesus untuk membuktikan klaim-Nya bahwa Dia itu adalah Mesias, Kristus, dan Raja, dengan cara turun dari salib dan menyalamatkan diri-Nya.

Kedua, inti olok-olok dari tiga jenis orang itu adalah mereka tidak mau percaya bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan, melepaskan manusia dari marabahaya sehingga bisa terus hidup sampai akhir perjalanan hidup  mereka.

Ketiga, dengan kata lain, mereka menyangkal semua upaya penyelamatan yang dilakukan Yesus sepanjang hidup-Nya, yakni memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, mengajar tentang Allah sebagai Bapa-Nya dan Bapa kita, memberi makan kepada yang kelaparan, mengundang orang-orang yang dibuang dan disingkirkan oleh masyarakat menjadi pengikut-Nya, dan memilih murid-murid untuk meneruskan karya-Nya.

Keempat, Yesus tidak mau menanggapi tantangan (godaan) mereka itu. Ia tetap pada jalan yang telah diambilnya, seperti yang pernah Ia lakukan terhadap godaan Iblis di padang gurun setelah selesai berpuasa selama 40 hari (Luk 4:1-13).

Kelima, dari mana Yesus memperoleh kekuatan untuk bertahan? Menurut penginjil Lukas, karena Yesus sadar bahwa tujuan perjalanan hidup-Nya adalah mencarikan keselamatan bagi orang lain, bukan bagi diri-Nya sendiri. Yesus tahu bahwa begitu banyak orang yang telah mengikuti-Nya sehingga tidak fair bila ditinggalkan begitu saja. Bila Ia turun dari salib, siapa yang akan menanggung orang yang disalibkan di samping-Nya, yang sedemikian mempercayakan diri kepada-Nya itu?

Keenam, sebagai Gembala yang baik Ia tidak meninggalkan satu domba pun berada di jalan kehancuran; Ia tidak melupakan satu mata uang yang terselip pun; dan Ia tidak menolak anak yang kembali setidakpantas apapun anak itu (Luk 15:1-32). Sebagai Gembala yang baik Yesus menyerahkan hidup-Nya bagi keselamatan mereka (Yoh 10:11).

Ketujuh, harapan, kecemasan, dan penderitaan manusia, itulah yang membuat Yesus maju terus dan tidak menyerah. Jalan terus sampai akhir, itulah mahkota menjadi sesama bagi manusia. Yesus adalah Raja yang tidak membiarkan orang sendirian di tengah bahaya. Yesus adalah Raja yang mengerti kelemahan manusia, yang peduli akan keadaan manusia.

Kedelapan, ketika Yesus baru saja lahir orang-orang bijak tahu bahwa seorang raja Yahudi baru saja lahir dan mereka mau menyatakan hormat kepada-Nya (Mat 2:1-2 dan 11). Kehadiran bayi Yesus merupakan kebahagiaan bagi orang yang bijak. Namun kehadiran-Nya langsung menjadi ancaman bagi orang yang lalim, yakni Herodes (Mat 2:16). Kini di Golgota, di kayu salib, Yesus dikitari kelaliman yang sampai tiga kali menguaknya. Dan orang banyak melihat semua itu (Luk 23:35a), tetapi mereka belum siap mengambil sikap.

Kesembilan, satu-satunya tokoh yang berbicara, baik dengan pencemooh (Luk 23:40 & 41) maupun dengan Yesus (Luk 23:42), adalah penjahat yang telah sadar tadi. Orang itu sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Karena itu, ia juga bisa melihat dan mengakui siapa sebenarnya Yesus itu. Sementara para pencemooh lainnya belum dapat berdamai dengan diri mereka sendiri, maka mereka juga tidak dapat melihat siapa Yesus itu sebenarnya.

Kesepuluh, penjahat yang sudah sadar tadi meminta Yesus agar diingat ketika Yesus sudah masuk ke dalam kerajaan-Nya (Luk 23:42). Jawaban Yesus, pada hari itu juga ia akan berada bersama Dia di “dalam Firdaus” (Luk 23:43). Artinya, ia akan berada dalam situasi ketika manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:26-27).

Kesebelas, di atas kepala Yesus ada tulisan “Inilah Raja Orang Yahudi” (Luk 23:39), yang oleh Pilatus disuruh dipasang di situ (Yoh 19:19). Tulisan itu menandai siapa yang disalib di situ, yakni Raja orang Yahudi; dan itulah alasannya Yesus disalibkan. Pilatus tetap berpegang pada putusannya itu (Yoh 19:22) ketika imam-imam kepala Yahudi mendesak agar rumusan tulisan itu diubah menjadi “Ia mengatakan: Akulah Raja orang Yahudi” (Yoh 19:21). Dengan ketegasannya itu Pilatus ingin mengatakan bahwa ia mempunyai wewenang untuk mensahkan hukuman mati bagi Raja orang Yahudi.

Merenungkan Injil ini, paling sedikit ada dua inspirasi yang dapat kita petik bagi kehidupan kita sebagai murid Yesus.

Pertama, penderitaan tidak hanya menyakitkan tetapi juga dapat menebalkan integritas siapa saja yang berani menjadi sesama bagi orang lain yang menderita (bdk. “Orang Samaria yang baik hati” dalam Luk 10:25-37).

Kedua, sejahat-jahatnya orang, kalau ia sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, ia akan menemukan kebenaran, yakni kasih Allah yang menyelamatkan.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya