15 November 2025
MEMILIKI IMAN YANG HIDUP
MEMILIKI IMAN YANG HIDUP
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak
beristirahat dan merasakan kembali semua berkat Allah yang telah dicurahkan
kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-33 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 21:5-19) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berbicara tentang penegasan Yesus bahwa Bait Allah yang sangat indah dan dikagumi oleh banyak orang itu akan dihancurkan (ay. 5-6), meskipun Ia tidak mengatakan kapan hal itu akan terjadi. Sebaliknya, Ia justru meminta orang-orang tersebut agar waspada terhadap orang yang mengatakan saatnya sudah tiba dengan memakai nama Yesus (ayat 8-9). Juga diajarkan supaya mereka mencari pegangan yang kokoh, tidak cemas bila melihat terjadinya berbagai macam kekacauan (ay. 10-11), dan tidak perlu takut bila mereka dituduh bahkan dipenjarakan (ay. 12-14; 16-17) karena Ia sendiri yang akan memberi hikmat (ay. 15). Mereka yang dapat bertahan menghadapi itu semua akan selamat (ay. 18-19).
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, pesan Injil ini hanya dapat kita pahami kalau kita mengenal alam pikiran tentang akhir zaman yang hidup kala itu. Sejak lebih dari tiga abad sebelum zaman Yesus, keadaan di negeri orang Yahudi semakin kacau sebagai akibat ketegangan dalam masyarakat Yahudi sendiri. Situasi itu diperparah oleh datangnya kekuatan luar, mula-mula dari Yunani dan kemudian dari Roma.
Kedua, kehadiran “kekuatan luar” ini menimbulkan perlawanan keras dari beberapa golongan orang
Yahudi, yang mengakibatkan munculnya tekanan pada mereka yang tidak berniat
mengadakan perlawanan lewat kekerasan tetapi mencari jalan lain. Orang-orang
ini malah sering dimusuhi baik oleh sesama orang Yahudi yang mau melawan
pengaruh Yunani maupun penguasa asing yang menyama-ratakan semua orang Yahudi. Akibatnya,
permusuhan timbul di antara pihak-pihak yang tadinya hidup berdampingan dengan
damai. Masyarakat rasa-rasanya mengarah ke kehancurannya sendiri.
Ketiga, banyak di antara mereka mengungsi ke padang gurun dan tinggal di pelbagai “pertapaan”. Itulah asalmula pelbagai kelompok pertapa, seperti kaum Esseni, para rahib Qumran, dan tokoh-tokoh seperti Yohanes Pembaptis dan murid-murid mereka. Yesus dan murid-murid-Nya juga ada di dalam keadaan seperti itu tetapi mereka tetap berada di lapangan bersama orang-orang yang tetap mau bertahan, tidak mengungsi ke padang gurun.
Keempat, dalam keadaan seperti itu
berkembanglah anggapan bahwa Yang Mahakuasa telah menentukan akhir dari dunia
yang makin tak menentu itu. Kapan hal itu akan terjadi, menjadi pertanyaan
besar. Kekacauan yang dialami tadi juga mulai dipahami sebagai tanda-tanda
bakal segera datangnya akhir zaman tadi.
Kelima, bersamaan dengan itu, berkembang kepercayaan akan tibanya seorang tokoh besar yang bakal memimpin orang keluar melewati zaman edan tadi. Dia akan membangun kembali kehidupan yang morat-marit itu. Mereka yang bertahan dalam zaman susah itu akan diselamatkan dan akan memasuki hidup baru.
Keenam, ketegangan tadi berlangsung terus pada zaman Romawi. Penguasa Romawi menjalankan penumpasan keras terhadap tiap pergerakan yang mereka anggap mau melepaskan diri dari kuasa mereka. Pada tahun 63 seb. Masehi tentara Romawi, yang dipimpin Pompei, mengurung Yerusalem dan membawahkan negeri orang Yahudi pada pengaturan administrasi Romawi. Keadaan ini dirasakan orang sebagai tanda-tanda makin dekatnya akhir zaman.
Ketujuh, penghancuran kota Yerusalem bersama dengan Bait Allah pada tahun 70 oleh Titus membuat orang makin melihat bahwa akhir zaman itu sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Bagi mereka yang memandang semua ini dengan alam pikiran mengenai datangnya akhir zaman tadi, kedua lembaga keagamaan (kota Yerusalem dan Bait Allah) tadi memang sudah lapuk dari dalam, tinggal tunggu runtuhnya. Penghancuran oleh pasukan Romawi itu memudahkan runtuhnya kedua lembaga tersebut, bukan menjadi penyebabnya.
Kedelapan, petikan Injil hari ini ditulis penginjil Lukas setelah Bait Allah betul-betul sudah diruntuhkan pada tahun 70. Murid-murid Yesus ingat bahwa Yesus dulu pernah mengatakan bahwa hal itu akan terjadi.
Kesembilan, bagi penguasa Roma, menghancurkan Bait Allah berarti menghilang-kan lambang yang menyatukan perasaan religius orang Yahudi yang menjadi ancaman bagi kuasa Romawi. Namun, bagi orang-orang seperti Yesus dan murid-murid-Nya, kehancuran Bait Allah ini tak terelakkan karena lembaga ini telah terlalu jauh menyalahi perannya sendiri.
Kesepuluh, pada zaman Yesus Bait Allah tampil bukan lagi sebagai tempat orang memperoleh kebaikan Allah, tetapi malah menghalang-halangi datangnya kebaikan Allah itu. Hal ini nampak, antara lain, dari kisah sepuluh orang kusta yang telah disembuhkan oleh Yesus (Luk 17:11-19). Mereka tidak mungkin dinyatakan sembuh oleh imam di Bait Allah. Dalam perumpamaan tentang orang yang hampir mati dirampok di perjalanan, ada imam dan seorang Lewi lewat dan melihat orang tadi tanpa memberi pertolongan (Luk 10:25-37). Mereka itu termasuk lembaga Bait Allah! Karena itu, keberadaan Bait Allah itu tidak lagi berarti. Akan hancur.
Kesebelas, namun, seperti disampaikan Injil Yohanes sehubungan dengan peristiwa pembersihan Bait Allah, Bait Allah yang hancur itu akan dibangun kembali oleh Yesus dalam tiga hari (Yoh 2:19). Bangunan yang baru itu (yakni Yesus yang sudah bangkit dari kematian-Nya) akan menjalankan peran dari Yang Terurapi (= Mesias) yang sesungguhnya; yang tidak menyekap Allah dan memagari ruang gerak-Nya, tetapi bisa menghadirkan-Nya di tengah-tengah manusia.
Merenungkan Injil ini mengingatkan kita bahwa Kemesiasan, yang dihidupi oleh Yesus, bukan soal kedudukan melainkan apa yang nyata-nyata dijalankan-Nya. Batu ujinya adalah apakah kehadiran-Nya membuat orang sungguh dapat mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya sehingga makin merasa lega dan merdeka. Semoga kita semakin berani merapat kepada-Nya.
Selain itu, Injil ini juga mengajak kita untuk
tabah dan bertahan dalam menghadapi berbagai macam kesulitan. Tabah bukan
berarti nekat atau asal berani menderita, malainkan betindak bijaksana, sebab
Yesus sendiri akan menyertai kita dan memberikan “kata-kata hikmat” kepada kita
(ay. 15).
Inilah iman yang hidup, yang akan memberikan
hidup kepada kita.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
1 November 2025
HIDUP KEKAL DAN KEBANGKITAN PADA AKHIR ZAMAN
HIDUP KEKAL DAN KEBANGKITAN PADA AKHIR ZAMAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik (tidak
terkena “flue jenis baru” dan banjir). Selamat menikmati akhir pekan untuk
sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah
dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Setelah hari ini (1 November) kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus [semua orang yang sudah mulia di surga], besok (2 November) kita akan memperingati Arwah Semua Orang Beriman [semua orang yang sudah meninggal dan masih menantikan saat mereka disatukan dalam kemuliaan para Kudus]. Injil (Yoh 6:37-40) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi merupakan jawaban Yesus terhadap permintaan orang-orang Yahudi agar Ia memberi mereka roti yang memberi kehidupan kepada dunia (Yoh 6:34).
Apa maknanya bagi kita yang sedang memperingati
arwah semua orang beriman ini? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, Injil yang kita renungkan (Yoh 6:37-40) disampaikan sebagai kelanjutan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang (Yoh 6:1-14). Orang-orang itu sedemikian bergairah dan bermaksud menjadikan Yesus sebagai raja. Karenanya, Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6:15).
Kedua, pada malam harinya, dalam perjalanan di perahu ke Kapernaum, murid-murid mengalami prahara dan pada saat gawat ini mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Mereka yang ketakutan karena prahara itu ditenangkan hatinya oleh Yesus. Selanjutnya Yesus menyertai perjalanan mereka dengan perahu sampai ke tujuan dengan selamat (Yoh 6:16-21).
Ketiga, keesokan harinya orang banyak menyusul Yesus ke Kapernaum (Yoh 6:22-24). Di situ Yesus mengajar mereka agar mengharapkan roti kehidupan yang dibawakan Anak Manusia (Yesus - Yoh 6:27). Mendengar ajaran itu, orang-orang minta agar mendapat roti yang memberi hidup kepada dunia ini (Yoh 6:34).
Keempat, jawaban Yesus terhadap permintaan mereka terdapat dalam petikan Yoh 6:37-40, yang kita renungkan ini. Intinya, mereka diajak untuk mengenal siapa Yesus itu sesungguhnya dan apa yang dibawakan-Nya.
Kelima, Yesus adalah utusan Allah yang paling dapat dipercaya dalam memperkenalkan Allah kepada semua orang dan mewartakan kehendak-Nya (ay. 37-39).
Keenam, yang dibawakan oleh Yesus adalah kehendak Allah, Bapa-Nya; yakni, agar semua orang yang mempercayai Allah, yang tampak dalam diri Yesus, nanti akan mendapat hidup kekal (ay. 40a), yakni, hidup bersama Allah. Selain itu, Allah sendiri menghendaki agar Yesus membangkitkan mereka nanti pada akhir zaman (ay. 40b).
Ketujuh, yang dimaksud dengan “yang percaya kepada-Nya” (ay. 40a) adalah menerima Yesus dan merasa mantap, tidak ragu-ragu lagi. Rasa mantap ini mestinya muncul dari pengalaman bahwa Yesus sendiri juga sudah menerima kita apa adanya. Ia tidak akan membuang orang yang datang kepada-Nya (ay. 37b).
Kedelapan, setiap orang pasti bertanya: Apakah nanti sesudah meninggal semuanya akan habis begitu saja? Apakah hidupku di dunia ini ada kelanjutannya? Bila ada, siapa yang mengurus? Bagaimana “masa depan” orang-orang yang kita cintai dan sudah meninggalkan kita, yang kita peringati ini?
Kesembilan, jawaban terhadap semua pertanyan (catatan kedelapan) tersebut terdapat pada ay. 40; yaitu Allah menghendaki dua hal: (1) supaya setiap orang yang melihat Yesus dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan (2) Yesus akan membangkitkannya pada akhir zaman.
Kesepuluh, tentang melihat Yesus, percaya kepada-Nya, dan memperoleh hidup kekal sudah dijelaskan pada catatan keenam dan ketujuh. Apa yang dimaksud dengan “Yesus akan membangkitkan orang pada akhir zaman”? Maksudnya, Allah Bapa mengutus Yesus agar mengajak orang ikut serta di dalam hidup kekal yang sudah diperoleh-Nya sendiri berkat kebangkitan-Nya. Orang-orang beriman yang kita peringati, niscaya berbagi kehidupan kekal dengan Yesus dan Allah sendiri. Itulah kehendak Allah.
Kesebelas, apakah jalan yang perlu kita tempuh agar kita sampai ke kehidupan kekal? Injil Matius tentang Penghakiman Terakhir (Mat 25:31-46, yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi untuk merayakan Perayaan Para Kudus hari ini) dapat memberi inspirasi kepada kita. Melalui kisah ini diajarkan bagaimana orang perlu tahu bahwa yang dikerjakan bagi sesama nanti dijadikan ukuran masuk surga atau masuk neraka. Ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri (ay. 35-36 dan 40). Tindakan ini akan mengantar mereka kepada keselamatan kekal (ay. 34b).
Kedua belas, warta petikan Matius mengenai Penghakiman Terakhir (Mat 25:31-46) sebaiknya dibaca bersama dengan warta tentang Tuhan yang mengajak orang ikut makmur dan ikut dalam kegembiraan pesta pernikahan (Mat 22:1-14; dan 25:1-13). Dengan demikian, Penghakiman Terakhir juga memiliki “wajah manusiawi.”
Memperingati orang-orang yang sudah mendahului kita, berarti merayakan kebesaran Allah yang bermaksud baik; Allah yang menghendaki agar semua orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal bersama-Nya.
Peringatan ini sekaligus mengimbau agar orang
menyadari bahwa pengalaman sehari-hari dapat membawa orang makin peka melihat
kapan, di mana, dan dalam wujud apa akhir zaman itu muncul; dan oleh karenanya,
dapat mengambil sikap yang cocok. “Sikap yang cocok” adalah melakukan kebaikan
kepada sesama—khususnya mereka yang paling dilupakan—sebagai wujud melakukan
kebaikan kepada Allah sendiri.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
26 October 2025
AGAR DOA KITA TIDAK MANDUL
AGAR DOA KITA TIDAK MANDUL
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita merayakan hari Minggu Biasa ke-30 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 18:9-14) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok menyampaikan sebuah perumpamaan tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang datang ke Bait Allah untuk berdoa.
Apa makna perumpamaan ini bagi kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka
Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, baik orang Farisi maupun pemungut cukai itu “pergi ke Bait Allah untuk berdoa” (ay. 10a). Mereka menghadap Yang Mahakuasa dan membuka diri kepada-Nya, bercerita kepada-Nya, dan menyampaikan beban batin kepada-Nya.
Kedua, dari ungkapan tadi (ay. 10a) dapat kita mengerti bahwa Allah yang Mahakusa, Allah yang diam di tempat tinggi itu, ternyata dapat didatangi, dapat didekati. Allah ada di sana (Bait Allah) dan siap mendengarkan. Yang menjadi tanggungjawab orang yang datang kepada-Nya adalah “bagaimana membuat” apa yang dibawa kepada-Nya itu sepadan dengan perhatian-Nya?
Ketiga, dari gerak-geriknya orang Farisi itu memasuki Bait Allah dengan kepercayaan diri yang tebal dan penuh perhitungan. Ia “bediri dan berdoa dalam hatinya” (ay. 11a); maksudnya, ia berhenti di jalan masuk ke Bait Allah sambil merencanakan apa yang akan dikatakannya dalam doanya nanti. “Doa” yang tertulis dalam ay. 11b-12 itu belum diucapkan, baru direncanakan (baru merupakan “sketsa’).
Keempat, meskipun baru merupakan sebuah “sketsa” namun sudah jelas arahnya. Orang Farisi itu bermaksud mengucapkan terima kasih kepada Yang Mahakuasa karena ia tidak bernasib sama dengan kaum pendosa. Ia merasa mendapat perlakuan istimewa dari-Nya sehingga tidak menjadi perampok, penjahat, pezina, dan orang yang tidak punya loyalitas, apalagi—boleh jadi sambil mengingat seorang pemungut cukai yang tadi dilihatnya—tidak seperti pemungut cukai yang mengkhianati bangsa sendiri dengan memeras bagi penguasa asing (ay. 11b).
Kelima, dalam doanya nanti ia juga bermaksud mengingatkan Tuhan bahwa ia berpuasa dua kali seminggu dan mengamalkan bagi-Nya sepersepuluh dari semua penghasilannya (ay. 12). Ia merasa telah memenuhi semua kewajibannya. Semua beres. Dan doa yang akan disampaikan nanti, begitu pikirnya, pasti akan menjadi doa yang meyakinkan Tuhan pula!
Keenam, sementara itu si pemungut cukai tadi “berdiri jauh-jauh” (ay. 13 a); artinya, ia juga berhenti di pintu bait Allah, namun berjauhan dari tempat orang Farisi tadi berdiri. Ia merasa tidak pantas berada dekat dengan orang saleh itu; apalagi mendekat kepada Tuhan sendiri. Ia “bahkan tidak berani menengadah ke langit” (memandang ke atas) [ay. 13b]. Gagasan menghadap Yang Mahakuasa membuat dirinya merasa gentar.
Ketujuh, meskipun merasa butuh menghadap Allah di Bait Allah, pemungut cukai itu tidak menemukan apa yang bisa disampaikannya nanti di sana. Ia tidak punya apa-apa kecuali perasaan sebagai pendosa. Karenanya, ia berulang kali memukul-mukul dadanya dan minta dikasihani (ay. 13c).
Kedelapan, menurut Yesus sang Guru, pemungut cukai tadi pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah (ay. 14a). Mengapa? Karena, dalam seruannya si pemungut cukai itu menyediakan diri sebagai penerima belas kasih-Nya. Pokok doanya adalah Allah sendiri. [Kita boleh mengingat doa yang diajarkan Yesus sendiri, Doa Bapa Kami (Luk 11:2b-4; Mat 6:9b-13). Dalam doa itu yang menjadi pokok/pusat adalah Allah Bapa, bukan orang yang mengucapkan doa itu].
Kesembilan, sebaliknya, orang Farisi tadi pulang ke rumah “tidak dibenarkan oleh Allah” (ay. 14b). Kemasan doa yang disiapkannya sarat dengan “aku..., aku..., aku....” (ay. 11b-12). Dirinya sendirilah yang menjadi pokok/pusat doanya (dalam Alkitab terbitan 2023, ay. 11a tetulis: “berdoa tentang dirinya”). Tuhan semakin tidak mendapat tempat. Doanya mandul karena terlalu penuh dengan dirinya sendiri.
Kesepuluh, penginjil Lukas memberi catatan ringkas yang sangat besar artinya pada awal petikan ini. Dikatakannya bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini “kepada beberapa orang yang menganggap diri benar dan merendahkan semua orang lain” (ay. 9). Kiranya di kalangan umat pengarang Injil (Lukas) waktu itu ada sekelompok orang yang yakin bahwa dengan menjalani serangkaian tindakan kesalehan, mereka boleh merasa aman dan dekat kepada Tuhan.
Kesebelas, lambat laut timbul anggapan di antara mereka bahwa orang-orang lain jauh dari perkenan Tuhan. Orang-orang itu dianggap patut dijauhi. Mereka semakin tidak diterima sebagai sesama. Pendapat ini menjadi cara mengadili orang lain, menjadi cara memojokkan orang yang tidak disukai; menjadi cara menjatuhkan hukuman sosial. Repotnya, kerap kali orang yang dicap demikian juga sudah pasrah menerimanya. Mereka merasa diri patut disingkiri.
Kedua belas, syukurlah di dalam umat itu masih ada orang-orang yang mampu dan berani memikirkan apakah praktik seperti ini boleh dibiarkan terus. Apa kehidupan itu harus seperti itu? Apa Yang Mahakuasa juga memperlakukan orang demikian? Mereka mencoba menerapkan bagaimana sikap Yesus Guru mereka dulu dalam menghadapi keadaan ini. Di situ terlihat ingatan akan Yesus dan ajaran-Nya menjadi Roh yang hidup dan mendewasakan suara hati mereka.
Ketiga belas, pada akhir perumpamaan itu Lukas masih menyertakan perkataan Yesus: “...siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan” (ay. 14). Ungkapan ini sudah pernah muncul dalam Luk 14:11. Di sana diterapkan kepada keinginan orang untuk mendapatkan kehormatan di mata orang (Luk 14:7). Dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai ini, kata-kata tadi diterapkan kepada orang yang mau meninggikan diri di hadapan Tuhan.
Keempat belas, orang yang mencari kebesaran diri di mata orang banyak dan di hadirat Tuhan akan mengalami kekecewaan. Tuhan tidak terkesan oleh omongan mengenai persembahan persepuluhan, mengenai puasa dua kali seminggu, dan mengenai semua kesalehan, apalagi oleh kecongkakan batin yang merendahkan orang lain.
Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk berani meninjau kembali gambaran tentang diri sendiri dan tentang sesama, yang mewarnai hubungan kita dengan Tuhan dan, khususnya, menentukan cara kita berdoa.
Tuhan tidak terkesan
dengan omongan kita tentang semua kesalehan yang telah kita lakukan, apalagi
kalau hal itu membuat kita merendahkan orang lain.
Selain itu kita juga
masih perlu terus belajar berdoa dengan tepat, dan membantu orang lain untuk
melakukan hal yang sama, agar doa kita tidak mandul. Menyesali segala kesalahan
dan dosa yang pernah kita lakukan, memang penting. Namun tidak kalah pentingnya
adalah berusaha memperbaikinya, berusaha tidak mengulanginya lagi. Usaha ini
akan berhasil bila kita membiarkan diri dituntun oleh belas kasih Allah.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
26 October 2025
BERDOA DENGAN IMAN
BERDOA DENGAN IMAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-29 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 18:1-8) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi perumpamaan tentang hakim yang tidak adil untuk menjelaskan arti perlunya “selalu” berdoa dan “tanpa jemu-jemu” (ay. 1b).
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan
bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab
untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].
Pertama, perumpamaan ini berbicara mengenai seorang hakim yang “tidak takut akan Allah” dan “tidak menghormati siapapun” (ay. 2), tetapi yang akhirnya bersedia memenuhi permohonan seorang janda agar perkara janda itu dibela olehnya (ay. 5b). Hal itu dilakukannya agar ia tidak lagi terganggu (ay. 5b) oleh permintaan yang terus-menerus dari pihak janda tadi (ay. 3).
Kedua, Yesus meminta para murid untuk memikirkan (ay. 6 – “Perhatikanlah...!”) hal yang dikatakan hakim yang tidak adil tadi (ay. 5). Kemudian ditegaskan bahwa bila hakim seperti itu saja akhirnya mau mendengarkan permohonan yang terus-menerus disampaikan kepadanya, apalagi Allah (ay. 7).
Ketiga, kemudian Yesus menandaskan bahwa Allah yang mahamurah itu tentu akan membela orang-orang yang mendekat kepada-Nya (dalam bahasa Kitab Suci, “orang-orang pilihan-Nya” – ay. 7a). Allah juga tidak akan membiarkan orang menunggu-nunggu, melainkan akan segera bertindak (ay. 7b-8a). Perumpamaan ini juga dimaksudkan untuk menggambarkan kemurahan hati Allah.
Keempat, pada akhir petikan ini Yesus menambahkan: “Tetapi, ketika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (ay. 8b). Pertanyaan Yesus itu erat kaitannya dengan peristiwa kedatangan Kerajaan Allah yang dibicarakan dalam Luk 17:20-37, yang mendahului petikan ini. Ditandaskan di situ bahwa Kerajaan Allah datang “tanpa tanda-tanda lahiriah”, maksudnya tanpa tanda-tanda yang menggetarkan dan menakutkan.
Kelima, Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah manusia (Luk 17:21) dan terjadi dalam kehadiran Yesus yang membawakan warta datangnya Kerajaan Allah tersebut di tengah-tengah umat manusia.
Keenam, menerima warta ini (catatan kelima) berarti percaya dan mengimani bahwa Kerajaan Allah menjadi ruang hidup yang baru. Ruang hidup inilah yang membuat orang-orang yang berlindung kepada Allah boleh merasa aman. Mereka itu menjadi orang-orang pilihan-Nya. Allah tidak mengulur-ulur waktu bila mereka berseru minta pertolongan. Mustahil Allah mendiamkan mereka yang siang-malam berseru kepada-Nya.
Ketujuh, perumpamaan tentang hakim yang tidak adil ini sebaiknya juga didalami dengan cara yang mirip dengan yang dipakai dalam memahami kata-kata Yesus dalam Luk 17:6 yang menanggapi permintaan para murid agar iman mereka ditambah. Dengan jawaban itu, Yesus sebenarnya bermaksud mengajak para murid menyadari bahwa iman bukan semata-mata kekuatan batin yang menakjubkan melainkan kesediaan menjalankan kehendak Bapa dengan penuh pengabdian seperti dilakukan-Nya sendiri. Gagasan ini jelas dari pengajaran mengenai sikap seorang hamba dalam Luk 17:7-10. [Lihat renungan pada hari Minggu Biasa ke-27 tahun C, pada 5 Oktober 2025].
Kedelapan, begitu pula perumpamaan dalam Luk 18:1-8 sebaiknya dilihat bukan sebagai ajaran mengenai perlunya berdoa tanpa jemu-jemunya melainkan sebagai ajakan bagi para murid agar melandaskan doa mereka pada iman yang sesungguhnya, yakni kesiagaan serta pengabdian kepada kehendak Bapa.
Kesembilan, hakim yang tidak adil ini ditampilkan sebagai orang yang wataknya tidak lurus tetapi dalam keadaan tertentu dapat menjalankan hal yang pada dirinya sendiri patut dipuji; yakni, membela si janda untuk memperoleh keadilan. Perumpamaan tentang hakim yang tidak adil ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengerti kemurahan Allah.
Kesepuluh, Yesus sang Guru itu berani memakai bahan dari kehidupan yang penuh liku-liku dan yang sering kelabu itu untuk menarik garis yang lurus dan terang. Tokoh-tokoh kompleks itu ada dalam kehidupan nyata. Kebijaksanaan seorang Guru seperti Yesus itu terletak dalam kemampuannya melihat sisi yang membawa orang dapat maju ke depan, bukan yang membuat orang menyerah dan putus harapan.
Perumpamaan yang kita renungkan ini—juga perumpamaan-perumpaan lain yang diberikan oleh Yesus—mengajak kita untuk berdoa dengan iman; artinya, belajar menarik hikmat dari kenyataan hidup sehari-hari. Sekaligus diajarkan agar kita tidak membiasakan diri berpikir dalam arah-arah yang sudah mapan belaka.
Selain itu, iman yang diharapkan ada di muka
bumi ketika Anak Manusia (=Yesus) datang (ay. 8b) adalah iman yang proaktif.
Artinya, iman yang dalam menghadapi permasalahan konkret, dapat membuat orang
tidak menyerah kalah melainkan secara kreatif dan penuh harapan mencari jalan
keluar yang mengarah kepada perbaikan nyata.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
11 October 2025
BERIMAN: MENEROBOS BATAS-BATAS YANG MENGUNGKUNG KEHIDUPAN
BERIMAN: MENEROBOS
BATAS-BATAS YANG MENGUNGKUNG KEHIDUPAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmat akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-28 tahun C dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Luk 17:11-19) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang penyembuhan sepuluh orang kusta yang dilakukan oleh Yesus dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem.
Apa maknanya bagi
kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan
beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang
diberi catatan].
Pertama, sebelum kedatangan Yesus hukum adat dan agama di Israel menggariskan bahwa orang kusta yang sembuh baru akan diterima kembali ke dalam masyarakat setelah dinyatakan sembuh dalam upacara yang hanya boleh dilakukan para imam. Hukum ini masih dapat dilihat dalam Kitab Imamat (Im 14:1-32).
Kedua, dalam kitab Imamat tersebut diberikan pegangan untuk memeriksa apakah orang sungguh berpenyakit kusta atau tidak, apakah orang itu telah sembuh dari kusta atau belum. Hanya imam-lah yang berhak menyatakan bahwa seorang “najis” (kotor karena kusta) atau “tahir” (bersih, sembuh dari kusta) [Im 14:2-3].
Ketiga, tujuan utamanya adalah menjamin agar kurban dan upacara kurban hanya dilakukan dan diikuti oleh mereka yang tidak najis, yang bersih. Akibatnya, mereka yang tidak bersih, termasuk mereka yang menderita kusta, tersingkir dari kehidupan, karena ketika itu kehidupan di Israel memang berporos pada praktik dan upacara agama. Tentunya semua ini pada awalnya berkaitan dengan upaya pencegahan penularan penyakit tersebut.
Keempat, menjelang zaman Yesus, penegasan sudah tahir atau masih kotor hanya dilakukan imam di Bait Allah di Yerusalem walaupun tidak ada larangan melakukannya di tempat lain. Akan tetapi, dalam praktiknya para imam tidak lagi menjalankannya di luar Bait Allah karena semua upacara makin dipusatkan di situ.
Kelima, tetapi untuk memasuki Bait Allah orang harus bersih. Padahal bersih tidaknya mereka itu perlu ditegaskan terlebih dahulu oleh imam-imam, yang kini melakukan upacara yang diterakan dalam Im 14 tadi hanya di dalam Bait Allah. Akibatnya, orang kusta atau yang disangka menderita kusta benar-benar terkucil dan tidak memiliki tempat mengadu lagi (ay. 12b). Dengan latar belakang seperti ini Yesus memang menjadi harapan satu-satunya bagi sepuluh penderita kusta tadi (ay. 13).
Keenam, Yesus tidak segera menyembuhkan kesepuluh orang yang kena kusta tadi, melainkan menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada imam-imam (ay. 14a). Dengan menyuruh kesepuluh orang kusta tadi menghadap imam, Yesus menghormati hukum agama yang dikeramatkan dalam kitab Imamat bab 14 tadi.
Ketujuh, Yesus tentu saja menyadari praktik pada zaman itu, sehingga tidak mudah—bahkan mustahil—bagi orang kusta tadi untuk menghadap imam-imam di Bait Allah. Perintah Yesus kepada sepuluh penderita kusta untuk menghadap imam (ay. 14a), sekaligus merupakan imbauan kepada para imam agar mereka mau keluar dari rambu-rambu tambahan yang menyesakkan (yaitu hanya melakukan ritual Im 14 di Bait Allah) agar tujuan hukum yang sebenarnya dapat tercapai (Im 14:3).
Kedelapan, para penderita kusta itu tahu bahwa sulit atau bahkan tidak ada kemungkinan menghadap imam. Justru karena itulah mereka berseru kepada Yesus (ay. 13), tokoh yang menjadi harapan banyak orang ini! Namun Yesus juga hanya menyuruh mereka mencari jalan yang sudah tertutup (ay. 14a). Maka mereka pergi dengan perasaan hampa.
Kesembilan, justru ketika mereka menjauh dari Yesus dalam keadaan hampa tadi mereka mendapati diri mereka dibersihkan. Mereka sembuh dari penyakit kusta. Penginjil Lukas tidak menceritakan apakah mereka berusaha mendapatkan pengakuan resmi dari imam-imam bahwa mereka telah sembuh. Lukas hanya mengisahkan bahwa salah satu dari kesepuluh orang yang sembuh tadi kembali menghadap Yesus “sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya” (ay. 15-16).
Kesepuluh, Lukas menambahkan bahwa “Orang itu orang Samaria” (ay. 16b), yang oleh Yesus disebut “orang asing” (ay. 18), bukan orang Yahudi, bukan dari kaum-Nya sendiri. Itulah satu-satunya dari kesepuluh orang yang telah sembuh, yang tidak kehilangan harapan yang sesungguhnya. Ia juga satu-satunya orang yang berhasil menembus keputusasaan dan mampu memuliakan Allah.
Kesebelas, bagaimana dengan sembilan (orang Yahudi) penderita kusta yang lain? Mereka sembuh dan bersih, namun tidak berupaya mendapatkan pengakuan dari imam-imam bahwa betul bersih. Di mata orang, mereka masih “kotor” dan tak bisa mendapatkan pentahiran resmi. Mereka tetap pahit. Sudah terima nasib saja.
Kedua belas, bagi orang Samaria, yang tidak mungkin menemui para imam karena ia kena kusta dan bukan orang Yahudi, sehingga diharamkan mendekat ke Bait Allah, Yesus menjadi pengganti dari para imam dan Bait Allah. Baginya Yesus adalah pribadi yang menghadirkan belas kasih Allah. Karenanya, ia kembali dan mengucap terimakasih kepada-Nya dengan bersujud di hadapan-Nya sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (ay. 15-16).
Ketiga belas, penyembuhan sepuluh orang kusta ini terjadi ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem (ay. 11); ke tempat Ia nanti menderita, ditolak, wafat disalibkan, dan bangkit dari kematian-Nya. Bagi orang Samaria yang disembuhkan dari penyakitnya tadi, Yesus adalah Bait Allah yang baru (Yoh 2:21), tempat Allah dapat dijumpai dan kerahiman-Nya dapat dialami.
Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk berani menjumpai Yesus, agar kita dimampukan untuk menerobos batas-batas yang mengungkung kehidupan—batas-batas yang sering dibuat oleh kepicikan praktik-praktik agama—agar kita dapat mengalami belaskasihan Tuhan kepada manusia yang menderita dan mewartakannya kepada banyak orang melalui cara hidup dan tanggungjawab yang kita emban. Inilah cara beriman yang menyelamatkan (ay. 19).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
9 October 2025
BELAJAR BERIMAN AGAR DAPAT MENJADI PELAYAN IMAN
BELAJAR BERIMAN AGAR DAPAT MENJADI PELAYAN IMAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat minikmati akhir pekan untuk beristirahat sejenak dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-27 tahun C dalam kalender ligurgi. Injil (Luk 17:5-10) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 5-6) menyebutkan permintaan para murid agar iman mereka ditambah serta reaksi Yesus terhadap permintaan tersebut. Bagian kedua (ay. 7-10) berisi ajaran Yesus agar murid-murid bersikap sebagai hamba yang tidak mengenal istirahat dalam melaksanakan tanggungjawab mereka dan tidak memikirkan jasa sendiri.
Apa hubungan antarkeduanya dan apa maknanya bagi
kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa
catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi
catatan].
Pertama, untuk mengerti hubungan di antara kedua bagian tadi serta maksud seluruh petikan yang kita renungkan, perlulah kita melihat konteksnya, yaitu beberapa nasihat dalam Luk 17:1-4 yang mendahului petikan ini.
Kedua, dalam ayat 1a ditampilkan perkataan Yesus bahwa mustahil tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa. Namun, Yesus bersikap tegas dan sangat keras terhadap orang yang menyebabkan sesama, terutama yang lemah, jatuh ke dalam dosa (ay. 1b-2).
Ketiga, selanjutnya dalam ayat 3-4 Yesus memberikan nasihat agar para murid menegur orang yang bersalah dan berbuat dosa. Bila orang itu menyesal, sekalipun ia melakukannya berkali-kali, hendaknya ia dimaafkan sepenuhnya.
Keempat, untuk dapat menerima semua ajaran ini dan melaksanakannya, para murid merasa butuh memiliki pegangan yang kuat, paling tidak untuk menaklukkan diri. Untuk itu mereka meminta tambahan iman seperti terungkap dalam ayat 5 yang menjadi awal petikan yang kita renungkan ini.
Kelima, jawaban Yesus dalam ayat 6 terasa tidak langsung menanggapi permintaan itu. Ia malah memberi perbandingan. Dikatakannya, jika iman mereka besarnya hanya seperti biji sesawi saja—jadi amat kecil—niscaya mereka sudah akan mampu mengerjakan hal-hal yang luar biasa seperti menyuruh pohon ara tercabut dan pindah ke dasar lautan.
Keenam, pembicaraan antara para murid dengan Yesus sebaiknya dimengerti dalam rangka pembicaraan antara guru dan murid pada zaman itu. Dalam menanggapi masalah yang diajukan murid, seorang guru akan memberi pencerahan tentang masalahnya terlebih dahulu sebelum memberi jawaban.
Ketujuh, dengan jawaban yang diberikan-Nya (ay. 6) Yesus mengajak murid-murid makin menyadari bahwa iman terutama bukan kesaktian yang bisa dipakai menjalankan hal-hal yang spektakuler. Iman juga jangan dilihat semata-mata sebagai kekuatan batin untuk menundukkan diri sendiri, sehingga mudah mengampuni orang lain dan tidak membuat orang lain berbuat dosa. Lalu apa yang dimaksudkan dengan iman oleh Yesus?
Kedelapan, beriman bagi Yesus hanya dapat kita mengerti bila kita melihat seluruh perjalanan hidup-Nya, dari awal sampai akhir. Seperti dituturkan dalam Injil Lukas, Yesus sendiri menemukan iman-Nya dengan tetap berada pada perjalanan hidup-Nya hingga sampai ke tujuan perjalanan itu.
Kesembilan, ada dua peristiwa kunci untuk memahami makna perjalanan hidup-Nya. Pertama, penampakan di gunung (Luk 9:28-36). Di situ Musa dan Elia berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanan”-Nya (Yunani: “exodos”; Luk 9:31) yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Kedua, ketika Ia bergulat dengan diri-Nya sendiri di Getsemani (Luk 22:39-46) Ia meminta agar Ia tak usah terus hingga ke akhir perjalanan dan melewati penderitaan ditolak orang-orang yang didatangi-Nya, dihukum, dan mati disalib (ay. 42a). Namun terlebih dahulu Ia mengatakan, asalkan semua itu merupakan kehendak Bapa-Nya, bukan kehendak-Nya sendiri (ay. 42b).
Kesepuluh, kedua peristiwa itu membantu kita memahami makna iman dalam kehidupan Yesus. Bagi Yesus beriman berarti menuruti kehendak Bapa-Nya sampai akhir, dan menaruh kehendak Bapa di atas segala sesuatu. Dengan cara itu Ia memperoleh kekuatan untuk berjalan terus sampai akhir. Pada saat Ia menghembuskan nafas terakhir, Ia berseru menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya (Luk 23:46). Inilah kenyataan orang beriman yang sejati.
Kesebelas, dalam bagian kedua petikan Injil ini (Luk 17:7-10) Yesus memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya agar hidup sebagai hamba yang selalu siap menjalankan tugas yang diberikan tuannya (ay. 7-9). Ia tidak perlu mengharapkan ucapan terima kasih; sebaliknya ia harus merasa dirinya tak pantas. Semua yang dilakukannya hanya demi tugas yang diberikan kepadanya (ay.10).
Kedua belas, nasihat ini (catatan kesebelas) telah Yesus lakukan sendiri dengan menjalani hidup yang sepenuhnya meng-iya-kan yang dikehendaki Bapa-Nya. Ia seperti seorang hamba yang siap menjalankan perintah tuan-Nya, dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih karena telah menjalankan tugas-Nya.
Ketiga belas, dengan jawaban yang diberikan kepada pada murid (ay. 6 – catatan ketujuh) dan nasihat di atas (catatan kesebelas), Yesus mengajak para murid-Nya berpikir mengenai apa itu pelayanan iman dan pelayanan pastoral. Yesus mengajak para murid-Nya untuk menyadari bahwa yang penting bukanlah berusaha memperoleh sukses dengan kekuatan yang ada pada diri mereka, melainkan menjadi pelayan yang membaktikan diri sepenuhnya kepada tugas mereka. Ajakan Yesus ini merupakan ajakan untuk tetap hidup dalam dunia nyata dan bukan dunia idam-idaman yang spektakuler.
Merenungkan Injil ini mengundang kita untuk memahami bahwa pelayanan iman dan pelayanan pastoral adalah pelayanan yang memperhatikan kenyataan-kenyataan yang dialami umat dan warga masyarakat setempat. Menjalankan tugas pelayanan juga berarti menemukan secara kreatif jalan-jalan baru yang makin dapat membuat pelayanan makin hidup dan makin peka menanggapi tanda-tanda yang datang dari Allah. Kepekaan inilah kekuatan iman yang sebenarnya. Kekuatan iman seperti ini jugalah yang membuat orang tetap berada pada jalan yang sama dengan jalan yang telah ditempuh oleh Yesus, yang berujung pada kematian dan kebangkitan-Nya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.