2 August 2025
HARTA BAGI KEHIDUPAN
HARTA BAGI KEHIDUPAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali setelah 3 minggu saya tidak bisa hadir melalui renungan-renungan yang saya kirim. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, teman serta sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat dan menikmati kembali semua rahmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-18 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 12:13-21) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang orang yang datang kepada Yesus memohon bantuan untuk menyelesaikan perkara warisan.
Apa makna kisa ini bagi kehidupan kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil menyimak
Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, pada zaman itu dalam menyelesaikan perkara serius (seperti sengketa warisan), orang lazim pergi menghadap tokoh yang dituakan, guru, pemuka adat, atau tokoh yang wibawanya diterima umum. Yesus diakui sebagai “Guru” (ay. 13b), yang memiliki wibawa yang diterima umum. Orang-orang menghormati wibawa-Nya.
Kedua, di bawah pemerintahan Romawi, pada prinsipnya semua perkara diatur oleh hukum Romawi. Bahkan digariskan pula sampai mana dan bagaimana hukum adat dan agama Yahudi bisa diberlakukan. Keputusan dalam hukum adat bertambah kuat bila diberi pengesahan menurut hukum Romawi. Sering perkara jual beli atau pembagian milik menurut adat dibawa ke lembaga resmi Romawi untuk dicatat dan diresmikan.
Ketiga, barangkali demi alasan di atas (catatan kedua) Yesus tidak bersedia menjadi hakim bagi perkara warisan tersebut (ay.14). Soal sengketa warisan itu dapat diurus dengan pihak yang lebih berwenang, khususnya dalam urusan hukum. Dengan demikian, penyelesaiannya akan lebih terjamin.
Keempat, sudah menjadi kebiasaan pada zaman itu bahwa orang yang datang ke pada orang yang dihormati, seorang guru, tidak akan pulang dengan tangan hampa meskipun permintaannya tidak dikabulkan atau permasalahannya tidak mendapat penyelesaian. Begitu pula Yesus, yang disapa sebagai “Guru” itu, tidak menyuruh orang yang minta bantuan-Nya tadi pergi tanpa bekal. Yesus memberikan ajaran tentang sikap hidup yang jauh lebih berharga daripada penyelesaian urusan warisan.
Kelima, orang tersebut diberi nasihat agar berhati-hati dalam berurusan dengan harta, agar jangan serakah dan rakus (ay. 15), melainkan menjadi “kaya di hadapan Allah” (ay. 21b). Nasihat ini kemudian dijelaskan dengan perumpamaan orang kaya yang bodoh (ay. 16-21).
Keenam, dalam perumpamaan ini nampak betapa kosongnya kehidupan orang kaya tersebut. Ia tidak mempunyai teman bicara. Ia hanya berbicara dengan diri sendiri (ay. 17-19). Ia bahkan tidak minta keringanan kepada Allah yang berfirman kepadanya bahwa malam itu jiwanya akan diambil (ay. 20).
Ketujuh, orang itu tidak tahu bagaimana mengisi kesepian hidupnya. Ia justru makin mengisolasi dirinya dengan membangun lumbung yang makin luas dan yang akhirnya malah menguburkan dirinya hidup-hidup (ay. 18). Suara hatinya sedemikian tertimbun oleh kekayaannya sendiri. Ia bahkan tidak sempat menjadi kawan bagi dirinya sendiri.
Kedelapan, orang kaya seperti itu kerapkali juga memperlalukan orang-orang yang mengitari dirinya sebagai milik belaka. Meskipun mereka menemani pesta dan mengawani bercanda, tetapi mereka jarang berperan sebagai pribadi-pribadi. Hanya sebagai milik yang bisa disimpan di lumbung. Sikap seperti itulah seringkali merupakan awal mula perpecahan persahabatan dan kerontokan hidup keluarga.
Kesembilan, dalam kesadaran religius umum pada waktu itu harta adalah berkat (dari) Allah, yang mesti dikembangkan seperti talenta dan tidak dipendam atau dijauhi. Yang mempunyai harta, dapat makin menikmati-nya dengan mengajak orang banyak ikut menikmatinya juga.
Kesepuluh, kebodohan mulai pada kemalasan untuk mengamalkan kekayaan itu. Di situlah mulai terjadi ketamakan (Yunani: “pleonexia” – ay. 15); yakni, sikap penuh dengan diri sendiri dan tidak butuh berbuat apa-apa lagi kecuali memiliki, memiliki, dan memiliki entah harta, entah pangkat, entah keahlian.... Tetapi gaya hidup seperti itu nanti akan membuat orang yang bersangkutan tidak berarti apa-apa.
Kesebelas, melalui perumpamaan ini Yesus mengajak orang yang datang kepada-Nya dan semua orang yang hadir di situ (= “mereka” dalam ay. 16a) untuk menjadi “kaya di hadapan Allah” (ay. 21b). Mereka diajak agar tidak mengubur diri mereka dengan harta milik atau apa saja yang diperlakukan sebagai harta milik.
Kedua belas, bagi penginjil Lukas orang yang sudah benar-benar tampil sebagai pribadi yang sungguh “kaya di hadapan Allah” adalah Yesus. Keilahian yang Ia miliki, Ia pasrahkan kepada kemanusiaan (bdk. Fil. 2:6-7) dengan konsekuensi Ia harus menderita, bahkan mati di kayu salib (ay. 8). Berkat tindakan-Nya ini kemanusiaan memperoleh kembali kehidupan mereka dengan ikut menikmati kebangkitan-Nya.
Merenungkan Injil hari ini kita diundang untuk menjadi “pribadi yang kaya di hadapan Allah” dengan pandai-pandai mengelola harta sebagai bagian kehidupan dengan mengamalkannya kepada banyak orang yang sangat membutuhkan. Sejalan dengan itu, kita juga diundang untuk memperlakukan saudara, anak, istri, suami, anggota komunitas, kolega, teman dan sahabat, serta orang lain bukan sebagai “barang milik”. Dengan cara ini kita akan memecahkan isolasi diri. Tentu dengan segala konsekuensinya, termasuk kesediaan untuk ikut berbagi penderitaan, ikut menanggung kesusahan, dan ikut merasakan keprihatinan yang mereka alami.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
5 July 2025
KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS
KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat pagi. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak
beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah Ia limpahkan
kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-14 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk. 10:1-12; 17-20) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi bekisah tentang pengutusan 70 orang murid yang lain.
Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah
kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut (sambil
membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari).
Pertama, kisah pengutusan 70 murid hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Kisah ini didasarkan pada pengutusan para murid “Yang Duabelas” (berkebangsaan Yahudi), yang berisi pesan-pesan yang mirip, seperti terlihat dalam Luk. 9:1-6 dan 22:35-38.
Kedua, angka “70” memiliki arti simbolik, yaitu kelipatan terbesar (“10”) dari kelompok yang utuh (“7”). Maksudnya, “semua orang, siapa saja yang menjadi murid Yesus”. Jadi bukan hanya para murid “Yang Duabelas”, yang berasal dari kalangan Yahudi, melainkan juga mencakup orang-orang bukan Yahudi, yang menjadi murid Yesus.
Ketiga, angka “70” juga mengingatkan para pembaca akan 70 tetua yang ditetapkan Musa untuk membantunya memimpin umat (Bil. 11:16.17.24.25). Ada gagasan bahwa 70 murid itu diikutsertakan dalam menjalankan tugas Yesus seperti para tetua yang membantu Musa tadi. Dalam Injil yang kita renungkan ini, 70 tetua yang membantu Musa itu oleh Lukas diterapkan kepada siapa saja yang merasa menjadi murid Yesus.
Keempat, juga terpikir tokoh Elia yang diutus Tuhan ke Samaria, tetapi ditolak dan malah akan ditangkap. Karenanya, ia mengutuk pasukan raja dengan api dari langit (2 Raj. 1:10.12). Namun penginjil Lukas menggunakan kisah tentang Elia ini untuk mengajarkan bahwa Yesus tidak mengancamkan kutukan kepada orang-orang Samaria yang menolak-Nya (Luk 9:51-56).
Kelima, kaitan antara Yesus dengan Elia dan Musa sudah ada dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Luk 9:28-36). Di situ Musa dan Elia berbicara mengenai tujuan perjalanan Yesus, “exodos”-Nya, ke Yerusalem (Luk 9:31). Dalam Injil Lukas kedua tokoh ini bahkan mengiringi perjalanan Yesus ke Yerusalem.
Keenam, para murid yang diutus mengabarkan Yesus boleh juga merasa disertai Elia dan Musa yang menyatu dengan Yesus. Lebih daripada itu, dalam menunaikan perutusan mereka, Yang Maha Kuasa sendiri akan memperdengarkan diri-Nya seperti terjadi dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” (Luk 9:35).
Ketujuh, para murid diibaratkan seperti anak domba yang datang ke tengah-tengah serigala (Luk. 10:3). Bayang-bayang tentang kota Yerusalem yang memusuhi Yesus memang mengancam. Namun domba juga tidak pernah ditinggalkan sendirian di tengah-tengah serigala. Ada gembala yang siap melindungi.
Kedepalan, itulah sebabnya, mereka dinasihati tidak perlu membawa kelengkapan pribadi, uang, bekal, alas kaki, jangan menyalami orang di jalan, maksudnya, tak usah mengharapkan diantar (Luk. 10:4). Itu semua tak perlu. Sudah ada yang menyertai, yakni Musa, Elia, dan Allah sendiri.
Kesembilan, dalam masyarakat Yahudi kesaksian yang diberikan dua orang lebih berbobot, maka para murid diutus berdua- dua (Luk. 10:1b). Begitulah pengutusan dalam Gereja Perdana, seperti terjadi pada Barnabas dan Saulus (Kis. 13:2); Judas dan Silas (Kis. 15:27); Barnabas dan Markus (Kis. 15:39); Paulus dan Silas (Kis. 15:40); Timoteus dan Silas (Kis. 17:14); Timoteus dan Erastus (Kis. 19:22).
Kesepuluh, murid-murid diminta menyampaikan “damai sejahtera” bagi rumah yang mereka datangi (Luk. 10:5). “Menyampaikan damai sejahtera” adalah ungkapan yang diangkat dari tatacara mengirim surat dan menyampaikan pesan lewat seorang utusan. Lazimnya surat mulai dengan rumusan “damai sejahtera” dari pengirim bagi penerima, demikian pula para murid perlu bertindak.
Kesebelas, warta datangnya Dia yang dinanti-nantikan itu baru menjadi resmi bila dilisankan, diperdengarkan, dipersaksikan oleh utusan di hadapan yang dituju. Oleh karena itu, peran utusan pembawa berita amat penting. Menurut tatacara, setelah berita diterima, utusan akan dijamu (Luk. 10:8).
Kedua belas, bagaimana bila pesan tidak digubris (Luk. 10:10) dan bahkan utusan dipermalukan? Murid disuruh mengebaskan debu yang menempel pada kaki mereka (Luk. 10:11a). Maksudnya, kota itu masih diberi kesempatan lain dan tidak langsung dicoret. Jadi salam yang kembali itu (Luk. 10:6b) nanti bisa disampaikan kembali. Sekarang orang-orang hanya diingatkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan biar mereka berpikir (Luk. 10:11b).
Ketiga belas, orang zaman dulu memandang kehidupan ini pada dasarnya terancam kekuatan-kekuatan gelap yang siap menerkam. Menerima Kerajaan Allah membuat orang terlindung dari pengaruh jahat tadi. Menolaknya sama saja dengan tidak mencari perlindungan terhadap kekuatan-kekuatan jahat tersebut.
Keempat belas, Kerajaan Allah yang sudah dekat itu disampaikan oleh para murid dalam ujud penyembuhan, dalam rupa tindakan membebaskan orang dari pengaruh yang jahat (Luk. 10:9). Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa semua ini terjadi karena nama mereka terdaftar di surga (Luk. 10:20). Sebagai warga Kerajaan Allah mereka unggul terhadap kekuatan-kekuatan gelap.
Dengan merenungkan Injil ini kita diajak untuk menyadari bahwa sebagai murid-murid Yesus, sekarang kita juga diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Artinya, kita diminta untuk menjauhkan pengaruh-pengaruh jahat dalam pelbagai bentuknya yang terus mengancam kehidupan; antara lain, ketidak pedulian (terhadap orang-orang lemah dan rentan, khususnya terhadap masyarakat adat), budaya membuang (barang serta manusia cacat dan lemah), pengrusakan terhadap bumi dan segala isinya secara membabi buta, kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, praktik korupsi skala sangat besar yang masih terus berlangsung, peredaran narkoba dan perdagangan manusia yang dilindungi oleh para penegak hukum, dsb.
Semoga kita dimampukan untuk melakukan
perutusan ini.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
Catatan: Berhubung mulai nanti sore (5 Juli) s/d 1 Agustus siang, saya akan berada di luar Seminari untuk memberi retret (dua gelombang), melakukan retret pribadi bersama komunitas Yesuit, serta menghadiri acara pertemuan Yesuit dan tahbisan imam, maka pada 12, 19, dan 26 Juli, saya tidak akan dapat menulis renungan mingguan.
21 June 2025
TIDAK BOLEH ADA ORANG YANG DISINGKIRKAN
TIDAK BOLEH ADA ORANG YANG
DISINGKIRKAN
Para Ibu dan Bapak
serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga,
sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati
akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menikmati kembali rahmat Allah yang
telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Injil (Luk 9:11b-17) berkisah tentang Yesus memberi makan kepada 5 ribu orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
Apa makna kisah ini bagi
kita sekarang? Marilah kira renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa
catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat dalam Alkitab
yang diberi catatan].
Pertama, peristiwa ini juga dikisahkan dalam kedua Injil Sinoptik lainnya (Mat 14.13-21; Mrk 6.30-44). Injil Yohanes juga merekamnya (Yoh 6:1-14) dan meletakkannya dalam hubungan dengan pewartaan Yesus sebagai sumber kehidupan sejati.
Kedua, ada beberapa kekhususan dalam Injil Lukas tentang kisah ini, yang patut didalami. Pertama, penginjil Lukas menghubungkan peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang itu dengan pengutusan kedua belas murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit (Luk 9:2) dengan berbekal “tenaga/daya” dan “kuasa” yang diberikan Yesus untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit (Luk 9:1).
Ketiga, hanya bekal “tenaga/daya” dan “kuasa” yang diberikan Yesus untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit (ay. 1) inilah yang membuat pemberitaan dan tindakan mereka berhasil. Jadi bukan ketrampilan dan penampilan mereka sendiri.
Keempat, kaitan erat antara “memberi makan” dan “memberitakan Kerajaan Allah” terlihat dalam Luk 9:11b. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Yesus membicarakan Kerajaan Allah bagi orang banyak sambil menyembuhkan mereka yang butuh disembuhkan. Itu pulalah dua tugas bagi dua belas orang murid-Nya dalam Luk 9:2.
Kelima, disebutkan bahwa murid-murid tadi baru kembali keliling dan menceritakan kepada Yesus bagaimana mereka telah menjalankan pengutusan tadi (Luk 9:10). Para murid tentunya menginginkan sedikit istirahat, menikmati keberhasilan itu bersama Guru mereka, dan mengadakan pesta ala kadarnya.
Keenam, Yesus tanggap terhadap keinginan para murid-Nya. Yesus membawa mereka ke Betsaida untuk menyendiri (Luk 9:10b), bukan hanya untuk beristirahat dan berpesta, tetapi juga untuk bersama-sama mendalami pengalaman pengutusan tadi.
Ketujuh, tetapi orang banyak yang sudah mendengar, melihat, dan mengalami yang dilakukan para murid Yesus tadi tetap mengikuti mereka (Luk 9:11a). Mereka mau mendekat ke sumber “tenaga” dan “kuasa” yang telah menyingkirkan kekuatan-kekuatan jahat dan penyakit, yang telah mereka alami (Luk 9:6), yakni Yesus, Guru para murid tadi.
Kedelapan, orang banyak yang telah mendengarkan pewartaan tentang Kerajaan Allah dan mengalami disembuhkan oleh para murid Yesus, mengalami dan memahami Kerajaan Allah bukan sebagai “serangkaian ajaran” melainkan sebagai kehadiran Yang Mahakuasa yang memberi harapan, ketenangan, keberanian, keuletan, kesembuhan, dan apa saja yang membuat mereka hidup terus. Itulah sebabnya mereka terus mengikuti para murid dan Yesus sendiri.
Kesembilan, para murid merasakan kehadiran orang banyak itu sebagai hal yang mengganggu mereka. Maka mereka minta kepada Yesus agar orang banyak itu disuruh pergi untuk mencari penginapan dan makanan (Luk 9:12b).
Kesepuluh, namun Yesus justru mengatakan kepada para murid: “Kalian harus memberi mereka makan!” (Luk 9:13). Maksud Yesus adalah untuk mengikutsertakan orang-orang itu dalam “pesta” para murid guna merayakan keberhasilan perutusan mereka agar pestanya semakin meriah. Tentu saja Yesus juga tahu bahwa tidak begitu sukar bagi murid-murid yang punya relasi di Betsaida itu untuk mengadakan perhelatan bersama orang banyak.
Kesebelas, kota Betsaida adalah kota di pinggir danau di Galilea yang menjadi pusat bisnis perikanan. Sebagian besar para murid Yesus berasal dari kota ini. Di kota itu mereka masih memiliki relasi yang akan senang ikut merayakan sukses mereka dalam cara hidup mereka yang baru ini. Perhelatan mudah diatur.
Kedua belas, secara teoretis memang mudah, namun di situ ada 5000 orang laki-laki! Sementara mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan (Luk 9:13b). Memang kalau mau, bisa juga diusahakan belanja makanan tambahan (Luk 9:13c), dan kalau perlu dapat menghubungi kenalan namun waktunyan sangat mepet. Ini segi-segi manusiawi yang disampaikan dalam Injil.
Ketiga belas, jelas ukuran-ukuran praktis tidak memungkinkan mengajak pesta orang banyak. Namun justru saat itu terjadi hal yang menakjubkan yang melampaui ukuran-ukuran praktis, yang melebihi kemampuan biasa. Semua orang akhirnya ikut kebagian makan, semua orang dapat ikut berpesta, bahkan tersisa dua belas bakul (Luk 9:17). Lima ribu lelaki, tak terhitung perempuan dan anak-anak, yang ikut meramaikan. Mereka ikut bergembira merayakan suksesnya misi Kerajaan Allah dan penyembuhan!
Keempat belas, apa yang terjadi? Diceritakan bahwa Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti, memberikan kepada murid-murid supaya dibagikan kepada orang banyak (Luk 9:16).
Kelima belas, penginjil Lukas menampilkan kembali kejadian ini pada saat kedua murid yang letih lesu di Emaus itu menjamu Yesus (yang telah bangkit dari kematian-Nya) di pondok mereka. Saat itu juga terbuka mata mereka (Luk 24:30-31). Ini kekhasan kedua dalam Injil Lukas berkaitan dengan peristiwa memberi makan kepada orang orang banyak.
Keenam belas, penginjil Lukas menunjukkan hubungan peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang itu dengan kenyataan Kerajaan Allah dan kesembuhan utuh dalam diri Yesus yang bangkit yang kini dikabarkan kepada orang banyak.
Ketujuh belas, orang banyak makan sampai kenyang (Luk 9:17). Dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan yang belum termakan itu menandakan kegembiraan dan kepuasan masih cukup ada bagi siapa saja yang akan dijumpai keduabelas murid nanti, termasuk kita.
Injil yang kita renungkan dalam Perayaan Tubuh dan Darah Kristus ini mengajak kita untuk memaknai perayaan Ekaristi sebagai kenyataan yang diwartakan Injil hari ini. Dengan merayakan Ekaristi kita ikut serta merayakan keberhasilan Yesus Kristus dalam membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Dalam perayaan Ekaristi, mestinya, tidak boleh ada orang yang disingkirkan. Semuanya perlu mendapatkan kepenuhan hidup. Perayaan Ekaristi seperti ini perlu mewarnai seluruh langkah hidup keseharian kita.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
14 June 2025
ALLAH YANG KITA IMANI ADALAH ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
ALLAH YANG KITA IMANI ADALAH ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Para Ibu dan Bapak, serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat
sejenak dan menikmati kembali rahmat Allah yang boleh kita alami selama
sepekan.
Besok kita akan merayakan pusat dan inti iman kita, Allah Tritunggal yang Mahakudus. Injil (Yoh 16:12-15) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berasal dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan perkataan dan doa Yesus bagi para murid seusai perjamuan malam terakhir sebelum Ia pergi bersama mereka ke taman Getsemani.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil
memperhatikan teks dalam Alkitab yang diberi catatan].
Pertama, setelah Yesus berangkat ke taman Getsemani bersama para murid-Nya (Yoh 14: 31b), penginjil Yohanes masih menambahkan bab 15-17, yang memuat pokok-pokok yang terpenting dalam Injil Yohanes.
Kedua, meskipun para murid belum dapat menanggung semua yang hendak disampaikan Yesus (Yoh 16:12), seperti dikatakan dalam ayat-ayat selanjutnya, Roh Kebenaran akan datang membimbing para murid ke dalam kebenaran (Yoh 16:13a).
Ketiga, Roh Kebenaran adalah daya ilahi – juga sering disebut Roh Kudus (Yoh 14:26; 20:22)– yang akan membuat para murid mengerti siapakah Yesus yang telah mereka ikuti itu. Roh ini membuat orang menemukan Yesus sebagai Tuhan Yang Mahakuasa yang hadir di tengah-tengah manusia. Yesus adalah ujud nyata bagaimana Yang Mahakuasa memperhatikan manusia.
Keempat, Roh Kebenaran bersama Yesus dan Bapa-Nya adalah daya-daya ilahi yang berpadu membawa manusia agar mengalami Tuhan Yang Mahakuasa dengan cara yang pribadi (dapat kita alami secara pribadi).
Kelima, misteri Allah Tritunggal Mahakudus dapat dipahami sebagai kesatuan antara “Pengasal” daya-daya ilahi, “Penyampai”-nya, serta “Penerus”-nya.
Keenam, “Pengasal” daya-daya itu dapat muncul dalam tiap “pengalaman religius” pada umumnya. Yang dimaksud dengan “pengalaman religius” adalah kepekaan yang ada dalam diri manusia untuk mencerap kehadiran Yang Ilahi. Namun Yang Ilahi di sini akan tetap sulit dipahami walaupun orang tidak akan meragukannya. Istilah Teologi menyebut-Nya sebagai “deus absconditus”, Tuhan yang tersembunyi.
Ketujuh, “Tuhan yang tersembunyi” ini dialami oleh Yesus sebagai Bapa. Hanya dialami “oleh Yesus”, dan bukan “oleh orang banyak”, bukan “oleh kita” atau pun “oleh para murid” sekalipun. Inilah kekhasan Injil Yohanes.
Kedelapan, Yesus menegaskan bahwa tidak ada orang yang pernah melihat Bapa. Hanya sang Putra sajalah yang melihat-Nya (Yoh 6:46). Maka siapa saja yang melihat Putra akan melihat Bapa sendiri (Yoh 14:9b). Dan dalam pewartaan Injili, yang dimaksud dengan Putra adalah Yesus yang lahir di Nazaret, menyembuhkan banyak orang, mengajar mereka mengenai Bapa-Nya, menderita, wafat dan bangkit dari kematian.
Kesembilan, melalui dan dalam diri Yesus (lihat catatan kedelapan), Yang Ilahi (=Bapa) tidak lagi melulu dialami sebagai yang tersembunyi (“Deus absconditus”) melainkan tampil sebagai “Deus revelatus”, Allah yang
yang telah terwahyukan dalam seluruh kehidupan Yesus tadi.
Kesepuluh, dalam pengertian di atas, Yesus menyampaikan kehadiran daya-daya ilahi kepada manusia. Ia membuat orang dapat mengalami daya-daya ilahi itu secara nyata ketika orang disembuhkan, pengaruh roh jahat disingkirkan, kuasa dosa dilepaskan, orang diampuni dosanya, dan penderitaan yang merendahkan kemanusiaan membuat orang sadar akan martabat manusia yang sesungguhnya. Injil menggambarkan-Nya sebagai Sabda Tuhan sendiri (Yoh 1:1).
Kesebelas, setelah Yesus tidak lagi berada di tengah-tengah manusia, datanglah penerus daya-daya ilahi, yakni Roh Kebenaran (=Roh Kudus). Roh inilah yang terus mempersaksikan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kemanusiaan. Roh inilah yang membuat kehadiran Yang Ilahi dapat dialami dalam macam-macam ujudnya di dunia kehidupan manusia: dalam perbuatan adil, dalam rekonsiliasi, dalam perbuatan baik, dalam kepedulian terhadap sesama, dll.
Merenungkan Injil ini dalam Perayaan Allah Tritunggal yang Mahakudus mengundang kita untuk semakin setia mengikuti Yesus, agar dengan terang dan bimbingan Roh Kudus, kita semakin mengenal Allah sebagai Bapa yang begitu dekat dengan manusia serta sangat peduli terhadap dan memperhatikan hidup manusia.
Selain itu, kita juga diundang untuk membuat
iman semacam ini tetap relevan bagi dan menyapa orang-orang zaman ini. Hal itu
dapat kita lakukan dengan mengembangkan secara bersamaan baik kesucian
devosional (doa, perayaan liturgi dan sakramen, ziarah, dan berbagai macam
devosi) maupun kesucian sosial (advokasi terhadap orang-orang yang
terpinggirkan: kaum perempuan, anak-anak miskin, masyarakat adat, kaum
pengungsi, kaum difabel, mereka yang kehilangan pekerjaan dan masih menganggur,
lansia yang tidak dirawat oleh anak-anaknya, dll.).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
14 June 2025
MEMBANGUN GEREJA UNTUK SEMUA ORANG
MEMBANGUN GEREJA UNTUK SEMUA ORANG
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang
baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman
dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk
beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan yang telah kita terima dari
Allah selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Pentakosta. Renungan kita kali ini akan dipusatkan pada bacaan pertama (Kis 2:1-11), yang berbicara tentang suara seperti angin taufan dari langit memasuki ruangan tempat para murid berkumpul, muncul lidah-lidah api menghinggapi mereka, dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa.
Apa makna ini semua bagi kita? Marilah kita
renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil melihat
teks dalam Alkitab yang dikomentari].
Pertama, di kalangan umat Yahudi Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan-perayaan lain (Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13).
Kedua, dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa.
Ketiga, di kalangan umat Kristen, peringatan “hari ke-50” ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Dengan kata lain, perayaan 7 minggu setelah panen gandum dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.
Keempat, ungkapan “terdengar suara seperti angin taufan dari langit” (ay. 2) dan “muncul lidah-lidah api menghinggapi mereka” (ay. 3) digunakan oleh Lukas untuk melukiskan pengalamn batin para murid Yesus; yakni saat itu murid-murid Yesus mengalami adanya kekuatan yang membuat hati mereka berkobar-kobar.
Kelima, pengalaman seperti itu sudah disinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, “hati kita berkobar-kobar” (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan “hati”) mereka tidak lagi ciut memudar, melainkan hidup menyala-nyala. Dan sekarang (dalam peristiwa Pentakosta) pengalaman dua murid itu dialami oleh semua murid yang lain.
Keenam, dikatakan bahwa para murid “mulai berbicara dalam pelbagai bahasa” (ay. 4). Maksudnya, para murid memakai bahasa biasa yang mengungkapkan pemahaman batin mereka, yang terolah matang sehingga dapat disampaikan kepada banyak orang dan dapat mereka pahami dengan mudah.
Ketujuh, dengan kata lain, Lukas tidak berpikir tentang para murid yang tiba-tiba menjadi kaum “poliglot” yang lancar berbicara sekian bahasa sampai tak terhitung jari. Lukas juga tidak bermaksud untuk membicarakan tentang “berbicara dalam bahasa-bahasa baru” (Mrk 16:17) atau “berbicara dalam bahasa lidah” (1Kor 14).
Kedelapan, di kalangan kaum intelektual waktu itu terdapat keyakinan bahwa kehidupan ini terus-menerus terancam kekuatan jahat yang siap menerkam. Maka banyak yang berusaha menjinakkannya dengan pelbagai cara. Ilmu mengenali kekuatan-kekuatan tak terlihat itu berkembang di kalangan kaum terpelajar. Umat Kristen pertama kebanyakan berasal dari kalangan agak atas dengan warisan rohani seperti itu.
Kesembilan, yang mereka lakukan sangat berbeda dengan dunia “perdukunan” yang berkembang dalam masyarakat kita. Bagi umat Kristen perdana, dunia dhemit, jimat, aji-aji, susuk, tenung, dan ilmu “namèngi” santet tidak amat diminati.
Kesepuluh, yang mereka cari adalah kepandaian untuk dapat hidup terus dalam keadaan itu. Kekuatan-kekuatan jahat itu datang dan pergi. Yang penting adalah mengenali kehadirannya dan bagaimana menghadapinya.
Kesebelas, peristiwa Pentakosta menegaskan bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam nama-Nya kini hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Kekuatan itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang memberi kebijaksanaan, membuat budi menjadi jernih, dan menuntun orang di jalan yang benar; juga memberi kepekaan untuk mengenal dunia yang tidak terlihat.
Kedua belas, Roh yang sama kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya, di tengah-tengah kita. Dengan kehadiran-Nya kita tidak perlu merasa tak berdaya atau merasa takut di hadapan kekuatan-kekuatan gelap yang datang dan pergi begitu saja.
Ketiga belas, kehadiran Roh Kudus di tengah kita juga membuka dunia baru, yang akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Lukas dalam kisah mengenai peristiwa Pentekosta ini.
Keempat belas, orang-orang yang mengalami kehadiran Roh Kudus ini juga diajak untuk peduli kepada orang-orang di sekitar, dibuatnya mengerti penderitaan orang, juga orang-orang dari kalangan lain, kalangan sederhana. Dan mereka mau melakukannya karena sudah merasa bebas dan dapat berbuat banyak berkat daya Roh Kudus. Dengan kata lain, Gereja Perdana adalah Gereja kaum yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Mereka tidak melulu sibuk dengan urusan-urusan mereka sendiri (Kis 2:41-47). Inilah dunia baru itu.
Merayakan Hari Raya Pentakosta mengingatkan kita agar kita tidak terbelenggu oleh slogan yang sudah sangat lama digaungkan dan dihidupi di Indonesia; yakni “Gereja adalah kita”: dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Menjadi Gereja berarti dari Roh Kudus, oleh kita dan Roh Kudus, dan untuk kesejahteraan banyak orang, khususnya mereka yang selama ini hidupnya jauh dari sejahtera (bdk. Gaudium et Spes 45; Evangelii Gaudium 182 dan 192).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
1 June 2025
HIDUP DALAM KESATUAN
HIDUP DALAM KESATUAN
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat, dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan menikmati kembali semua rahmat-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu Paskah ke-7 tahun C dalam kalender liturgi, sekaligus merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59. Injil (Yoh 17:20-26) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi doa Yesus agar para murid-Nya hidup dalam kesatuan.
Apa maknanya bagi kehidupan kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil melihat dalam Alkitab ayat-ayat yang diberi catatan].
Pertama, doa ini diucapkan oleh Yesus dalam perjamuan terakhir bersama para murid-Nya, ketika Yudas Iskariot yang dirasuki oleh Iblis sudah meninggalkan mereka. Dengan demikian, Yesus dan para murid-Nya berada dalam situasi yang bebas dari kuasa kejahatan.
Kedua, Yesus yang memikirkan para pengikut-Nya sampai saat-saat terakhir itu kini mendoakan murid-murid dan orang-orang yang bakal mempercayai pewartaab para murid mengenai diri-Nya (ay. 20). Dengan demikian, Yesus juga berdoa bagi kita di hadapan Yang Mahakuasa yang disapanya sebagai Bapa. Yesus yakin bahwa permohonan-Nya terkabul karena Ia amat dekat dengan Bapa-Nya.
Ketiga, dengan doa-Nya itu Yesus tidak ingin kalau para murid serta semua pengikut-Nya nanti mengalami perpecahan. Ia ingin menunjukkan mengapa bersatu (hidup dalam kesatuan) itu ada nilainya sendiri. Maksudnya, supaya dengan hidup dalam kesatuan itu para murid dan kita semua dapat ikut menyadari dan mengalami kesatuan antara Yesus dengan Bapa-Nya.
Keempat, Yesus berdoa agar para murid dan kita bersatu seperti Ia bersatu dengan Bapa-Nya (ay. 21a). Kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya menjadi “paradigma”, menjadi contoh atau model bagi kesatuan dalam umat manusia. Kesatuan antara Yesus dengan Bapa-Nya adalah pola hidup yang dibangun dengan relasi kasih (Yoh 15:9-10) yang saling memberi(kan diri) [Yoh 17:10].
Kelima, kesatuan yang begitu dekat antara Yesus dengan Bapa-Nya (ay. 21a) hanya dapat kita pahami bila kita bisa mengalami kesatuan di antara kita (ay. 21a); yakni membangun pola relasi yang dilandasi oleh semangat saling mengenal (termasuk pergulatan hidupnya), saling meringankan beban kehidupan, dengan saling berbagi apa yang kita miliki.
Keenam, maksud dari doa Yesus dalam ay. 24 adalah menyatakan kepada para pembaca Injil ini untuk menyadari bahwa sejak awal Allah (Bapa) itu ada bagi siapa saja. Tidak ada yang bisa berada dan hidup tanpa kehadiran-Nya. Betapa besarnya perhatian-Nya kepada kita, kepada alam ciptaan. Ia memandangi semuanya. Kita ini menjadi bagian dari Dia (Yesus) yang dikasihi-Nya, bagian dari Yesus yang sekarang mendoakan kita.
Ketujuh, apa kaitan antara “hidup dalam kesatuan” seperti diwartakan dalam Injil yang kita renungkan ini dengan Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia? Hidup dalam kesatuan yang dimaksudkan oleh Yesus hanya mungkin dibangun bila ada komunikasi yang membuat orang mau saling mengenal, saling meringankan beban kehidupan, dan saling berbagi apa yang mereka miliki. Karenanya, medsos dan segala pirantinya mesti dijadikan sarana untuk membangun sikap hidup seperti ini.
Merenungkan Injil ini dalam Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia mengundang kita untuk bersedia menjadi teman seperjalanan bagi satu sama lain, sehingga memunculkan harapan khususnya bila kita sedang mengalami begitu banyak kesulitan.
Kita juga diundang untuk belajar berkomunikasi dengan hati yang mampu melahirkan komitmen, empati, dan kepedulian terhadap satu sama lain; sebuah komunikasi yang membantu kita untuk mengenal dan menghormati martabat satu sama lain sebagai manusia; sebuah komunikasi yang memampukan kita untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama dan tempat tinggal Allah untuk menjumpai dan mencintai umat-Nya.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.