Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

28 September 2025

MENGASAH KEPEKAAN HATI TERHADAP SESAMA YANG MENDERITA

MENGASAH KEPEKAAN HATI TERHADAP SESAMA YANG MENDERITA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk beristirahat dan merasakan kembali segala kebaikan Allah yang sudah dicurahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-26 dalam kalender liturgi. Injil (Luk 16:19-31) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berisi tentang perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, perumpamaan ini perlu dipahami dalam konteks kehidupan Gereja Awal. Para anggota Gereja Awal adalah para pengikut Yesus generasi kedua. Kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan menengah; seperti para pengusaha, pedagang, sarjana, tabib, guru, seniman yang bekerja pada keluarga-keluarga bangsawan atau penguasa militer di kota-kota di wilayah kekuasaan Romawi. Perkembangan umat memang pertama-tama meluas ke lapis atas dalam masyarakat.

Kedua, di kalangan mereka itu tumbuh kesadaran bahwa warta mengenai Kerajaan Allah tidak hanya menjawab keinginan untuk selamat kelak di akhirat, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperhatikan orang-orang yang tidak seberuntung mereka, yakni kaum miskin yang hidup di luar kalangan mereka. Karena itu, komunitas Kristiani awal juga mulai meluas ke lapis bawah.

Ketiga, keadaan tersebut (catatan pertama dan kedua) tercermin dalam gambar ideal mengenai Jemaat Pertama dalam Kis 2:44-45 dan 4:34-35. Disebutkan bahwa ada anggota jemaat yang menjual kepunyaan mereka lalu mengumpulkan uangnya dan menyerahkan kepada para rasul untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin menurut kebutuhan mereka. Hal ini mereka lakukan untuk memungkinkan para anggota yang kurang beruntung untuk ikut menikmati keberuntungan.

Keempat, kehidupan komunitas Kristiani awal semakin didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak lagi mengikuti batas-batas kelompok sosial (termasuk batas-batas keluarga), bahkan mengatasi perasaan permusuhan turun-temurun.

Kelima, dalam perumpamaan dari Injil yang kita renungkan kali ini, orang kaya ditampilkan sebagai orang yang hidup tanpa kekurangan suatu apapun (ay. 19). Di mata orang banyak ia dilimpahi berkat Allah. Lazarus adalah kebalikannya (ay. 20-21). Ia duduk meminta-minta di gerbang rumah orang kaya itu. Lazarus seolah-olah sudah kehilangan martabat sebagai manusia. Ia akan merasa beruntung bila mendapat sisa-sisa makanan. Ia tidak termasuk kelompok orang yang beruntung menikmati kebahagiaan seperti orang kaya dan rekan-rekannya.

Keenam, diceritakan dalam perumpamaan itu, baik Lazarus maupun orang kaya itu kemudian meninggal dunia, dan keadaan mereka berbeda. Lazarus terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan bersama dengan nenek moyangnya. Orang kaya itu sebaliknya mendapati diri tersiksa di dunia orang mati (ay. 22-23).

Ketujuh, dalam penderitaannya orang kaya itu berseru meminta Abraham agar menyuruh Lazarus memberinya setetes air saja yang dari ujung jarinya untuk mengurangi dahaganya (ay. 24). Semasa hidupnya si kaya itu tidak punya perhatian samasekali kepada Lazarus. Kini ia meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolong dia. Baginya, Lazarus hanya pantas menjadi pesuruh.

Kedelapan, ketika masih hidup dan berkedudukan tinggi, orang kaya itu tidak butuh apa-apa. Ia tidak peduli ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu gerbang rumahnya. Sebetulnya ia dapat berbuat baik kepada Lazarus. Sedikit kebaikan saja takkan mengurangi miliknya. Malah ia akan beruntung karena kebaikannya akan mendapat ganjaran nanti. Boleh jadi, ia juga tidak percaya bahwa ada kelanjutan hidup di akhirat.

Kesembilan, ia juga masih berani sekali lagi meminta kepada Abraham agar menyuruh Lazarus untuk memperingatkan kelima saudaranya supaya mereka tidak bernasib sama dengannya (ay. 27-28). Permintaannya ini bukan menunjukkan bahwa ia masih memiliki rasa kemanusiaan, paling tidak bagi saudara-saudaranya, melainkan hanya mau memperbudak Lazarus lewat Abraham. Kelima saudaranya hanya dipakai sebagai alasan agar Lazarus masih menjalankan apa yang diinginkannya.

Kesepuluh, Abraham mengatakan bahwa kelima saudara itu mestinya dapat menemukan bimbingan dari Musa dan para nabi, maksudnya dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci (ay. 29). Tetapi orang kaya tadi bersikeras. Saudara-saudaranya, katanya, takkan diyakinkan dengan cara ini. Mereka baru akan percaya bila didatangi dan diperingatkan oleh orang yang kembali dari dunia orang mati (ay. 30). Jelas ia mau memaksakan agendanya sendiri kepada Abraham dan kepada Lazarus. Ia tidak percaya pada Kitab Suci dan wahyu ilahi.

Kesebelas, lebih buruk lagi, ia beranggapan bahwa saudara-saudaranya juga tidak percaya seperti dia. Ia tidak memberi peluang bagi perubahan yang bisa terjadi pada orang-orang seperti dia. Sampai mati pun si orang kaya itu tidak peka akan keadaannya sendiri.

Kedua belas, apa yang tidak beres dalam kehidupan orang kaya tadi? Ia tidak mampu lagi berkomunikasi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Ia tidak membiarkan dirinya sendiri atau orang lain seperti dia belajar mendengarkan Tuhan. Ketumpulan batin orang kaya tadi telah mengikis nurani kemanusiaannya sendiri. Ia tidak bisa merasakan belas kasihan terhadap Lazarus yang tiap hari duduk kelaparan di dekat pintu gerbang rumahnya. Ketumpulan batin itu akhirnya mengurungnya di neraka.

Merenungkan perumpamaan ini mengundang kita untuk mengingat kembali hal yang pernah dikatakan oleh mendiang Paus Fransiskus hanya 8 bulan setelah beliau diangkat menjadi Paus. Dalam Seruan Apostolik Evangellii Gaudium (EG), beliau menulis: “Setiap orang Kristiani dan setiap komunitas [keluarga] dipanggil sebagai sarana Allah untuk membebaskan dan memajukan kaum miskin, dan untuk memampukan mereka menjadi bagian masyarakat sepenuhnya. Hal ini menuntut agar kita siap dan penuh perhatian mendengarkan jeritan kaum miskin dan membantu mereka” (EG 187).

Semoga undangan Injil dan seruan mendiang Paus Fransiskus bergema dalam hati kita dan menggerakkan kita untuk mencari cara yang paling cocok sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

20 September 2025

BELAJAR BERSAHABAT DENGAN MAMON

BELAJAR BERSAHABAT DENGAN MAMON

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sekaligus mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-25 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 16:1-13) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian: (1) perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (ay. 1-8a); (2) amatan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ay. 8b-9); (3) pepatah mengenai barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ay. 10-12); dan (4) penegasan bahwa tidak mungkin mengabdi dua tuan (ay. 13).

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut ini [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, “tidak dapat mengabdi kepada dua tuan” (ay. 13) merupakan sebuah peringatan agar para murid Yesus tidak berhati mendua, sebab tidak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon (= uang, harta, kedudukan, semua yang serba duniawi). Maksudnya memang sangat jelas, namun dalam kenyataannya tidaklah semudah seperti yang diidealkan. Bagaimana peringatan ini dapat dilaksanakan?

Kedua, perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (ay. 1-8a) kiranya dapat menjawab pertanyaan di atas. Bendahara tersebut tidak melakukan transaksi dengan para pelanggan, melainkan dengan pedagang lain. Yang sebetulnya hanya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, dan yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul (ay, 6-7). Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Ketiga, malang baginya. Perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu, pemilik meminta pertanggungjawaban. Ia tidak langsung dipecat, melainkan diminta untuk memberi pertanggungjawaban (ay. 1b-2).

Keempat, permintaan untuk melakukan pertanggungjawaban itu merupakan titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan palsu, yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkan dirinya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Kelima, transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, perlu dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Tindakan tersebut merupakan kemauan serta kecekatan bendahara tersebut untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji (ay. 8).

Keenam, “tuan itu” (Yunani: ho kyrios – ay. 8a), bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa merujuk pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud adalah tuannya sang bendahara, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Bila yang dimaksud adalah Yesus, maka ayat 8b, yakni “Sebab anak-anak dunia ini...” dapat membantu untuk memahami mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur.

Ketujuh, apa maksud nasihat Yesus agar orang “membuat persahabatan dengan Mamon yang tidak jujur” agar dapat “diterima dalam kemah abadi”? Maksudnya, harta kekayaan (hasil korupsi maupun keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja – ay. 1) untuk sementara memang dapat menjadi sandaran hidup (= “mengikat persahabatan”). Namun, suatu ketika pasti akan terbongkar (tuduhan pada ayat 2). Oleh karena itu, orang perlu berusaha memegang yang bisa memberi rasa aman sejati (= “diterima dalam kemah abadi”)!

Kedelapan, bagaimana caranya agar orang dapat memperoleh rasa aman yang sejati (= “diterima dalam kemah abadi”)? Para pembaca Injil saat itu langsung akan teringat pada Mazmur 15, yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemah-Nya; yakni, orang yang kelakuannya tidak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras, dan tidak mau disuap untuk melawan orang yang tidak bersalah.

Injil yang kita renungkan ini mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Kita juga diajak untuk memiliki kejelian dalam melihat mana yang sungguh menjamin bagi terjadinya keselamatan tersebut. Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Semoga Roh Allah membantu kita untuk dapat memahaminya serta memampukan kita untuk melaksanakannya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

20 September 2025

ALLAH BEGITU MENCINTAI DUNIA

ALLAH BEGITU MENCINTAI DUNIA

Para Ibu dan Bapak, serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat sambil merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Dalam Injil (Yoh 3:13-17) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi dibicarakan tentang bagaimana orang dapat sampai ke hidup kekal.

Apa maknanya bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kira renungkan bersma dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [dengan membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, konteks petikan Injil yang kita renungkan ini adalah percakapan Nikodemus dengan Yesus. Nikodemus, “seorang Farisi dan pemimpin Yahudi” (Yoh 3:1), adalah orang yang berpengalaman dan bijaksana. Dari pengajaran dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa melalui Yesus, Allah Yang Maha Kuasa kini sedang mendatangi umat-Nya. Semua ini diutarakannya kepada Yesus sambil mengharapkan pencerahan lebih jauh (Yoh 3:2b).

Kedua, Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam (Yoh 3:2a). “Malam” adalah saat hadirnya kegelapan dan kuasanya terasa mencengkam. Dengan menggunakan ungkapan ini, Yohanes ingin mengajak para pembaca untuk mengingat kembali bahwa Yesus yang didatangi oleh Nikodemus itu adalah Terang yang ia wartakan pada awal injilnya (Yoh 1:4-9).

Ketiga, maksud dari berbagai macam mukjizat yang dilakukan Yesus, yang tentunya disertai Allah itu, adalah untuk menghadirkan kenyataan apa itu Kerajaan Allah! Bagaimana orang dapat memasukinya? Jawabannya adalah “dilahirkan kembali” (Yoh 3:3).

Keempat, jawaban Yesus itu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut: Bagaimana orang “setua” dia, setua kita, dapat lahir kembali (Yoh 3:4a)? “Tua” maksudnya, “orang yang sudah jauh melangkah di jalan lain.” Orang seperti ini dapatkah mendapatkan hidup baru? Sepadankah pengorbanan yang harus dibuat (=meninggalkan jalan lain yang telah ditempuhnya) dengan hidup baru yang akan diperoleh? Itulah maksud pertanyaan Nikodemus dalam Yoh 3:9.

Kelima, jawaban Yesus terhadap pertanyaan itu berupa kesaksian mengenai Diri-Nya (Yoh 3:13); yakni, Ia datang dari atas sana. Karena itulah Ia dapat membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Yesus adalah orang yang sudah mengalami apa itu lahir kembali dari atas sana, dan yang kini hidup dalam roh. Untuk mengalami bagaimana lahir dalam roh, jalannya adalah berbagi hidup dengan Yesus yang sungguh sudah ada dalam keadaan itu.

Keenam, Yoh 3:14 merujuk kepada sebuah pengalaman umat Perjanjian Lama di padang gurun. Dalam berjalan mendekat ke Tanah Terjanji dulu, umat Israel mengalami macam-macam bahaya. Salah satu yang paling mengerikan adalah “ular-ular tedung” yang mematikan itu (Bil 21:4-9). Orang yang dipagut oleh ular ini tidak ada kemungkinan selamat (ay. 6). Dalam kisah itu, malapetaka tersebut digambarkan sebagai akibat kurangnya kepercayaan mereka sendiri terhadap Allah (ay. 4b-5).

Ketujuh, mereka memang akhirnya meminta agar Musa memohonkan belas kasihan Yang Maha Kuasa (ay. 7a). Begitulah, Musa diperintahkan Allah membuat ular dari tembaga dan memancangnya pada sebuah tiang. Yang dipagut ular akan tetap hidup bila memandangi ular tembaga tadi (ay. 8-9).

Kedelapan, memandangi ular tembaga itu menjadi ungkapan kepercayaan pada Sabda Allah yang menjadi harapan satu-satunya untuk dapat terus hidup menempuh perjalanan di padang gurun sampai ke Tanah Terjanji.

Kesembilan, bagi pembaca Injil Yohanes, Tanah Terjanji kini adalah Kerajaan Allah yang dibawakan Yesus ke dunia kepada semua orang, bukan hanya kepada umat Perjanjian Lama. Untuk mencapainya, jalan satu-satunya adalah tetap mengarahkan pandangan kepada salib, menaruh kepercayaan dan harapan kepada Yesus yang disalib, yang diangkat seperti ular tembaga tadi. Mengapa?

Kesepuluh, jawabannya terdapat dalam Yoh 3:16: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dalam ayat ini diwartakan begitu besar perhatian Allah, yang membuat jagat ini dapat terus berlangsung.

Kesebelas, Allah yang memiliki perhatian yang begitu besar terhadap dunia tersebut, diperkenalkan oleh orang yang paling dekat dengan-Nya; orang yang telah menyelami dan hidup dari Dia. Inilah arti kata “anak” yang diterapkan kepada Yesus oleh Injil Yohanes. Pemakaian kata “tunggal” di situ dimaksud untuk memperjelas bahwa tiada yang lebih dekat dengan Allah seperti itu (catatan kesepuluh) daripada Yesus sendiri.

Kedua belas, kasih Allah yang begitu besar kepada dunia (Yoh 3:16a) diwujudkan dengan “telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16b). Ayat ini mengacu pada peristiwa penyaliban Yesus di Golgota, yang merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah dan ungkapan kepercayaan utuh kepada-Nya.

Ketiga belas, penyerahan Diri sepenuhnya kepada Allah itu membuka jalan kehidupan kekal. Itulah ungkapan lain dari peristiwa kebangkitan. Inilah yang dibagikan Yesus kepada orang-orang yang mau mempercayai arti penyerahan diri-Nya kepada Allah tadi. Dan baru dengan demikian orang dapat ikut mengalami apa itu dikasihi Allah sehingga memperoleh kehidupan kekal (Yoh 3:16c).

Keempat belas, yang diutarakan di atas adalah pengalaman iman dari para pengikut Yesus yang pertama, yang kemudian dituliskan dalam bentuk Injil oleh Yohanes. Kita boleh bertanya, bila benar Allah sungguh telah memberi perhatian khusus kepada dunia agar dunia selamat, bagaimana bisa dijelaskan masih adanya begitu banyak hal yang tidak beres, dan rasanya malah kekacauan semakin menjadi-jadi. Benarkah Kerajaan Allah sudah datang?

Menjawab pertanyaan itu, Injil Yohanes memberi sebuah kesaksian, yakni bahwa Allah tidak menghendaki kebinasaan. Yang dimaui-Nya adalah kehidupan kekal bagi semua orang, bagi dunia. Yang perlu dilakukan manusia adalah berani menerima kebaikan-Nya dan mempercayai-Nya. Hal ini dilakukan dengan upaya untuk tidak ikut menambah “kerusakan” yang terjadi, melainkan ikut mencegah perluasannya dengan melakukan langkah-langkah kebaikan sekecil apapun guna merawat kehidupan.

 

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

6 September 2025

MEMASUKI KERAJAAN ALLAH DENGAN MENGIKUTI YESUS

MEMASUKI KERAJAAN ALLAH DENGAN MENGIKUTI YESUS

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Pada hari Minggu kita akan merayakan hari Minggu Biasa ke-23 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 14:25-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memuat ajaran Yesus tentang syarat-syarat menjadi murid-Nya agar orang dapat memasuki perayaan pesta dalam Kerajaan Allah.

Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk menyimak ayat-ayat yang dikomentari].

Pertama, pada awal kisah ini (ay. 25) disebutkan bahwa banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Yang dimaksudkan dengan “perjalanan-Nya” adalah perjalanan Yesus ke Yerusalem, ke tempat Ia akan ditolak dan dibunuh dengan disalibkan, tetapi dibangkitkan oleh Allah setelah wafat-Nya.

Kedua, dengan mengawali kisah seperti itu, Lukas ingin mengajak para pembaca bertanya: Apakah orang-orang itu—dan para para pembaca sendiri, kita semua—akan berani mengikuti-Nya terus sampai ke akhir perjalanan-Nya?

Ketiga, menurut para ahli tafsir, kata-kata Yesus dalam ayat 25-33 ini disampaikan oleh Lukas guna menjelaskan maksud perumpamaan tentang seorang tuan rumah yang mengadakan perjamuan dalam Luk 14:15-24.

Keempat, dalam perumpaan tersebut (Luk 14:15-24) dikatakan bahwa semua yang menyanggupkan diri untuk datang ikut perjamuan, kini berdalih dengan macam-macam alasan untuk tidak datang (ay. 18-20). Saking kesalnya, tuan rumah itu kemudian menyuruh hamba-hambanya mengumpulkan orang miskin, orang cacat, orang buta dan orang lumpuh agar datang memenuhi rumahnya (ay. 21c).

Kelima, dalam sejarah tafsir, acap kali “para undangan yang tidak jadi datang” tadi dikenakan kepada orang Yahudi, “umat terpilih zaman dulu”. Bagian mereka dalam perjamuan itu kini diberikan kepada “umat baru”. Namun hal yang sama bisa berlaku pula bagi siapa saja yang memperoleh ajakan menjadi “umat baru” tetapi kemudian mangkir.

Keenam, apakah status sebagai “orang miskin, penyandang cacat, buta, lumpuh”, status sebagai “umat baru” merupakan jaminan menikmati kelimpahan tuan rumah tadi? Dengan kata lain, mendapat tiket gratis masuk kedalam Kerajaan Allah?

Ketujuh, persoalan ini (catatan keenam) menjadi masalah hangat dalam kehidupan Gereja sejak awal. Luk 14:25-33 (yang sedang kita renungkan) memuat salah satu pemecahan. Ditegaskan bahwa agar benar-benar dapat memasuki Kerajaan Allah orang perlu menjadi murid Yesus. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi.

Kedelapan, syarat pertama (ay. 26) orang perlu “membenci” orangtua, keluarga, sanak, dan bahkan nyawa sendiri. Hal ini kedengarannya sangat keras. Dalam gaya bicara orang Semit, yang dipakai dalam kumpulan kata-kata Yesus, ungkapan “membenci” biasa didigunakan untuk menggambarkan “sikap tidak memihak”.

Kesembilan, yang dimaksudkan dalam syarat pertama adalah, dalam mengikuti jalan menuju Kerajaan Allah orang diingatkan agar tidak menjadikannya sebagai perkara “mengurus nyawa sendiri” (mengurus keselamatan sendiri), dan membawahkannya pada kelembagaan sosial yang tumbuh dari ikatan-ikatan keluarga.

Kesepuluh, syarat kedua adalah “mengangkat salib” dan “mengikuti Yesus” (ay. 27). Artinya, mengikuti jejak langkah Yesus meniti jalan yang sama; yakni, memahami nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Yesus (= mengutamakan kehendak Allah, kesetaraan, persaudaraan, kasih, keadilan, kepedulian terhadap sesama, khususnya yang sangat membutuhkan, rela berkurban) dan menjadikannya sebagai nilai-nilai hidup kita.

Kesebelas, “mengangkat salib” dan “mengikuti Yesus” tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Dengan cara ini, kita tidak hanya akan ikut mengalami penderitaan Yesus, tetapi juga mengalami kemuliaan-Nya.

Keduabelas, syarat ketiga adalah melepaskan harta milik (ay. 33). Syarat ini ada kaitannya dengan salah satu kekhususan Kerajaan Allah dalam perspektif Lukas; yakni, perhatian kepada orang yang miskin. Kerajaan Allah dapat diwujudkan ketika orang yang memiliki kelebihan rela menggunakan kekayaannya dengan membantu mereka yang kurang mempunyai. Untuk itu perlu ada sikap merdeka terhadap harta.

Ketigabelas, syarat ketiga disampaikan sesudah Yesus menyampaikan perumpaan tentang pentingnya membuat anggaran yang cukup sebelum mulai membangun (ay. 28-30) dan memperhitungkan kekuatan sendiri masak-masak sebelum mulai berperang (ay. 31-32). Kedua perumpamaan itu mengajarkan agar orang yang ingin menjadi murid Yesus perlu belajar mempertanggungjawabkan rencana yang penting dengan cara yang matang.

Merenungkan Injil ini mengajak kita untuk bertanya diri dengan sungguh-sungguh. Benarkah kita ingin mengikuti Yesus, menjadi murid-murid-Nya? Mengikuti Yesus tidak hanya berhenti pada memahami ajaran-ajaran Gereja dan rumus-rumus hukum Kanonik, serta kasalehan ibadat belaka.

Menjadi murid Yesus adalah sebuah gaya hidup yang membentuk “umat”, membentuk masyarakat yang memberi ruang hidup bagi siapa saja yang hidup di dalamnya.

Mengikuti Yesus berarti mau belajar untuk semakin memperhatikan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan cukup untuk maju. Mereka itu juga berhak mendapat bagian dalam kelimpahan yang dipunyai oleh para murid Yesus.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 

 

 



Lihat selengkapnya

25 August 2025

PERLU MELEWATI PINTU SEMPIT

PERLU MELEWATI PINTU YANG SEMPIT

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Selamat berjumpa kembali. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-21 tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Luk 13:22-30) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus yang sedang meneruskan perjalanannya ke Yerusalem, mengajar dari kota ke kota dan wilayah di sekitarnya. Salah seorang pengikut-Nya menanyakan apakah hanya sedikit orang yang akan diselamatkan. Yesus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pengajaran. Ia menggunakan kiasan “pintu sempit” dan “pintu tertutup”.

Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil membuka Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, kota Yerusalem yang menjadi tujuan akhir perjalanan Yesus dalam perikopa yang kita renungkan ini, dieja sebagai “Hierosolyma” (bhs. Yunani – kota suci) seperti dalam Luk 19:28. Dengan ejaan ini, ingin ditekankan kota Yerusalem yang menerima kehadiran Yesus. Sebaliknya, bila dieja sebagai “Ierousaleem” seperti dalam Luk 9:51, ingin ditekankan Yerusalem sebagai kota yang menolak kedatangan Yesus.

Kedua, dalam konteks perjalanan Yesus ke arah Yerusalem-Hierosolyma (kota yang menerima kehadiran-Nya) itulah Lukas mengolah lebih lanjut ajaran Yesus mengenai bagaimana orang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (=memperoleh keselamatan).

Ketiga, kata-kata Yesus dalam perikopa ini, ditampilkan oleh penginjil Lukas kepada orang-orang yang sudah bersimpati terhadap ajaran-Nya. Bagi orang-orang yang sudah bersedia menerima Yesus, dapatlah diungkapkan beberapa ajaran yang bakal terasa agak keras.

Keempat, orang-orang tersebut sudah bersama Yesus, tetapi janganlah mereka kemudian merasa terlalu yakin bakal selamat dan menjadi alpa. Mereka diingatkan bahwa perjalanan (ke Yerusalem) ini belum selesai; dan agar orang dapat sampai ke sana, mereka perlu memperhatikan beberapa hal.

Kelima, bagian Injil (perikopa) yang kita renungkan kali ini sebetulnya mengolah pertanyaan kepada Yesus apakah sedikit saja yang bakal selamat (ay. 23). Yesus tidak memberi jawaban yang sudah jadi. Ia mengajarkan bagaimana mencapai keselamatan itu, dengan menggunakan kiasan “pintu sempit” (ay. 24) dan “pintu tertutup” (ay. 25).

Keenam, kiasan “pintu” digunakan untuk menggambarkan perihal memasuki Kerajaan Allah (=mencapai keselamatan). Kedua-duanya menggambarkan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah tidak mudah. Perlu ada upaya khusus. Orang harus dapat melewati pintu yang sempit dan jangan datang terlambat sehingga mendapati pintu sudah tertutup.

Ketujuh, kata-kata Yesus mengenai sulitnya memasuki pintu yang sempit, sebetulnya menyampaikan ajakan agar orang berani mengecilkan diri dalam upaya memasuki Kerajaan Allah. Orang yang membesar-besarkan diri akan sulit memasuki pintu Kerajaan Allah.

Kedelapan, Kerajaan Allah mengajarkan agar orang tahu diri di hadapan Allah yang Mahabesar. Orang yang mengecilkan diri akan mampu mengalami betapa besarnya Allah. Dengan demikian Yang Ilahi itu betul-betul menjadi bagian kehidupannya.

Kesembilan, upaya mengecilkan diri ini bukan barang asing dalam tradisi iman Katolik. Berbagai macam aliran ajaran spiritualitas melatihkannya. Namanya macam-macam: askese, laku tapa, latihan kerendahan hati, mengosongkan diri, melepaskan kekayaan (=segala sesuatu yang menjadi jaminan rasa aman), dan seterusnya. Tujuannya sama, yakni membuat diri kecil di hadapan Allah yang Mahabesar.

Kesepuluh, pintu yang sudah ditutup dalam ayat 25 disampaikan sebagai ajaran agar orang tetap berjaga-jaga. Jangan sampai orang terlalu merasa sudah aman (=yakin sudah diselamatkan) dan berlaku seenaknya atau malah bermain-main menikmati “kebebasan” di luar dengan melakukan kejahatan (ay. 27b). Orang yang demikian tidak akan dikenal oleh Allah dan tidak diperkenankan masuk ke dalam Kerajaaan-Nya (ay. 25b dan ay. 27).

Merenungkan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa dengan dibaptis tidak berarti kita telah menjadi Katolik. Dengan memeluk agama dan melakukan segala peraturannya, tidak memberi jaminan bahwa kita akan selamat. Keselamatan akan kita alami bila kita benar-benar memberi tempat kepada Allah dalam hidup kita. Kedekatan kita dengan Allah ini akan tercermin dalam upaya kita untuk membuat hidup kita sungguh bermakna dan berdampak bagi kesejahteraan sesama, keluarga, komunitas, tempat kerja, dan masyarakat di mana kita tinggal.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

10 August 2025

MENGHADIRKAN SURGA NYATA BAGI SEMUA

MENGHADIRKAN SURGA NYATA BAGI SEMUA

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan guna beristirahat sejenak dan merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya kepada kita selama sepekan.

Besok kita akan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Perayaan ini biasanya dirayakan pada 15 Agustus. Injil (Luk 1:39-56) yang akan kita dengarkan dalam perayaan Ekaristi besok terdiri dari tiga bagian; yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45), Kidung Pujian “Magnifikat” (ay. 46-55), dan ay. 56 sebagai penutup kisah.

Apa makna semuanya ini bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut [sambil memegang Alkitab untuk melihat ayat-ayat yang diberi catatan].

Pertama, ada empat ajaran iman Gereja (dogma) tentang Maria: (1) Maria tetap Perawan (Konsili Konstantinopel II, pada tahun 553), (2) Maria Theotokos (Maria Bunda Allah -- Konsili Efesus, pada tahun 431), yakni Maria mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, (3) Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Paus Pius IX pada 1854), dan (4) Maria diangkat ke surga jiwa dan badan (Paus Pius XII pada tahun 1950). Dogma nomor 4 ini yang akan kita rayakan besok.

Kedua, injil Lukas 1:39-45 mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung sekaligus merepotkan. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis (bdk. Luk 1:24-25). Maria sendiri harus melewati hari-hari tidak mudah memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya yang mengandung kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi. Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus (bdk. Luk 1:31-35).

Ketiga, baik Elisabeth maupun Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri mereka. Roh Kuduslah yang memampukan Elisabeth melihat Maria sebagai ibu Tuhan yang mengunjungi dirinya (ay. Luk 1:41b-43). Roh Kudus itu pulalah yang memampukan Maria mengatakan “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” Luk 1:38), serta mengidungkan “Kidung Pujian” (Magnifikat” – Luk 1:46-55).

Keempat, kidung “Magnifikat” mulai dengan pujian bagi Tuhan yang turun ke bumi untuk menyelamatkan umat-Nya. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna (Luk 1:46-47).

Kelima, dalam ay. 48 diungkapkan pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang lain. Diwartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, karena orang kecil dan sederhana biasanya ingat akan Tuhan; dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari surga dulu setelah manusia diusir dari sana (lih. Kej 3:23-24).

Keenam, Luk 1:49-55 merupakan pembacaan kembali riwayat terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan besar Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan pihak-pihak yang menindas mereka.

Ketujuh, sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, dan aib sebagai hukuman dari Allah bagi suatu kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan.

Kedelapan, dalam Kidung Magnifikat pendapat seperti ini (catatan ketujuh) tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepada-Nya, yang meminta pertolongan dari-Nya.

Kesembilan, bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung.

Kesepuluh, sebaliknya, bila orang yang beruntung membiarkan kekayaan, kedudukan, dan kepintarannya hanya dinikmati untuk dirinya sendiri dan membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju, yang disampaikan dalam ay. 52-53 akan menimpa mereka; yakni, kaum congkak hati akan diceraiberaikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa.

Kesebelas, kidung Magnifikat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan dan keberuntungan, bukan untuk menikmati keberuntungan itu bagi dirinya sendiri, melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung. Kepercayaan akan kebesaran Tuhan dapat membuat manusia semakin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Yang dibuat oleh Maria dan Yesus dalam perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11) merupakan salah satu contohnya.

Merayakan Bunda Maria yang diangkat ke surga hanya seminggu sebelum kita merayakan Hari Kemerdekaan bangsa dan negara kita yang ke-80, mengundang kita untuk bertanya: Apa yang perlu dan bisa kita lakukan agar “perbuatan-perbuatan besar Allah” (Luk 1:49) dapat dialami juga oleh ratusan juta rakyat Indonesia yang hidupnya masih jauh dari beruntung, sehingga surga juga menjadi pengalaman nyata bagi mereka? Semoga Tuhan berkenan menunjukkan jalan-Nya dan kita bersedia merengkuhnya.

 

Catatan:

Berhubung saya akan berada dalam perjalanan pada 14 s/d 20 Agustus 2025, maka saya tidak akan dapat mengirimkan renungan pada 16 Agustus 2025.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

 

 

 

 

Lihat selengkapnya