27 January 2025
MEMBIARKAN TUHAN BERTINDAK SESUAI RECANA-NYA
MEMBIARKAN TUHAN BERTINDAK SESUAI DENGAN RENCANA-NYA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali segala kebaikan Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama satu pekan.
Besok kita akan merayakan Hari Minggu II tahun C dalam kalender liturgi. Injil (Yoh 2:1-11) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang pesta perkawinan di Kana. Ketika anggur habis, atas permintaan Maria (ay. 3), Yesus membantunya (ay. 7-8) sehingga kegembiraan pesta dapat terus berlangsung.
Apa makna peristiwa ini bagi kehidupan kita
sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan
berikut.
Pertama, pada awal kisah dikatakan bahwa ada perkawinan di Kana dan ibu Yesus ada di situ (ay. 1). Baru setelah itu dikatakan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga (ay. 2). Dapat diduga bahwa Maria mengajak Yesus dan Yesus mengajak murid-murid-Nya. Hal seperti ini dilakukan orang di mana-mana.
Kedua, suasana gembira menandai pesta pernikahan di Kana. Banyak tamu datang dan ikut merasakan suasana itu. Tak heran jika persediaan anggur cepat menipis bahkan habis (ay. 3). Dalam tradisi Yahudi, dalam pesta selalu dihidangkan anggur. Habisnya anggur bisa merusak suasana kebahagiaan pesta.
Ketiga, mengatahui hal ini, Maria tidak tinggal diam. Ia segera menghu-bungi Yesus dan menceritakan keadaan tersebut (ay. 3). Tentu ia dapat minta bantuan di tempat lain, namun ia percaya bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu.
Keempat, selain meminta bantuan kepada Yesus Maria juga meminta kepada para pelayan untuk melakukan apa saja yang dikatakan oleh Yesus (ay. 5). Dengan tindakannya ini, Maria mengantar Yesus, Sang Penghadir kedatangan Allah, kepada orang banyak, serta mempertemukan orang banyak dengan Allah sendiri.
Kelima, menanggapi permintaan ibu-Nya Yesus mengatakan bahwa “saat”-Nya belum tiba (ay. 4). Artinya, Yesus mempunyai perhitungan sendiri tentang apa yang perlu dibuat-Nya. Ia tidak perlu didesak-desak untuk melakukannya.
Keenam, Maria menangkap pernyataan Yesus itu. Maria tidak mendesak Yesus untuk melakukannya, namun ia juga tidak tinggal diam. Ia mempersiapkan jalan Tuhan dengan menyuruh orang (para pelayan) melakukan apa yang nanti dikatakan Yesus (ay. 5). Inilah cara menantikan “saat” Tuhan bertindak dalam perhitungan-Nya sendiri.
Ketujuh, dalam akhir kisah dikatakan bahwa yang dilakukan oleh Yesus adalah “tanda” pertama yang dilakukan-Nya (ay. 11a). Yang dimaksud oleh penginjil Yohanes dengan “tanda” bukanlah mukjizat pengubahan air menjadi anggur, melainkan kemeriahan pesta yang berlangsung terus dan kehadiran Yesus di situ yang memungkinkan kegembiraan pesta itu tidak terhenti. Kehadiran-Nya yang membuat orang merasa tak kurang satu apa itulah yang menjadi “tanda yang pertama” yang dilakukan Yesus bagi orang banyak.
Kedelapan, menyaksikan hal itu (=kehadiran Yesus yang membuat kegembiraan pesta dapat berlangsung terus) para murid-Nya “percaya kepada-Nya” (ay. 11b). Murid-murid-Nya percaya bukan karena peristiwa menakjubkan, yakni air menjadi anggur. Para murid percaya bahwa Yesus itu patut diikuti, bahwa Yesus itu memperhatikan orang yang sedang dalam kesulitan, dan bahwa Yesus itu membuat orang makin mengenali kebaikan Tuhan.
Kesembilan, (semua) kisah mukjizat yang dilakukan Yesus sebenarnya dimaksudkan sebagai “tanda” agar kehadiran Yang Allah di tengah-tengah manusia terlihat dan dapat dirasakan oleh orang banyak. Kehadiran Allah inilah yang membuka mata orang buta, yang membuat orang tuli mendengar, yang membuat orang gagu bicara, yang membuat orang lumpuh bisa berjalan kembali, dan yang membuat orang berdosa merasakan pengampunan.
Merenungkan Injil ini ada dua hal yang dapat kita petik sebagai pembelajaran. Pertama, kita diundang untuk percaya bahwa kehadiran Yesus itu pasti memberi sesuatu, yang dapat memberikan kegembiraan dan kebahagiaan. Yang penting, kita tidak memaksakan kemauan dan keinginan kita kepada-Nya, melainkan membiarkan Dia bertindak menurut perhitungan-Nya sendiri. Tugas kita adalah berikhtiar agar Tuhan dapat melakukan rencana-Nya dalam hidup kita sesuai dengan perhitungan-Nya.
Kedua, ketika pemimpin formal (=pemimpin
pesta) tidak melakukan yang menjadi tanggungjawabnya (agar kegembiraan pesta
dapat terus berlangsung), pemimpin non-formal (Maria) mengambil oper
tanggungjawab tersebut (agar kegembiraan pesta dapat berlanjut tanpa henti).
Hal seperti ini perlu kita lakukan dalam kehidupan bersama.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
27 January 2025
PEMBAPTISAN YESUS - PEMBAPTISAN KITA
PEMBAPTISAN
YESUS – PEMBAPTISAN KITA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta sabahat dan teman dalam keadaan baik. Selamat berjumpa kembali dalam tahun yang baru ini. Semoga semua harapan dan rencana kita pada 2025 ini sesuai dengan rencana Allah.
Besok kita akan merayakan Pembaptisan Tuhan. Bacaan Injil (Luk 3:15-16; 21-22) berkisah tentang Yesus yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.
Apa makna peristiwa ini bagi kehidupan kita,
orang-orang yang sudah menerima pembaptisan? Marilah kita renungkan bersama
dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, makna peristiwa pembaptisan Yesus akan semakin nampak jelas bila dibaca dengan latar kehidupan umat Perjanjian Lama, khususnya yang tercermin dalam bacaan pertama (Yes 40:1-5; 9-11) dan kehidupan komunitas Kristiani awal, yang tercermin dalam bacaan kedua (Tit 2:11-14; 3:4-7).
Kedua, umat Israel (dalam Perjanjian Lama) yang mengalami pembuangan di negeri Babilonia tidak dapat membanggakan diri sebagai umat pilihan Allah. Mereka tidak bisa merasakan sebagai bangsa yang jaya. Sebaliknya, pengalaman sebagai bangsa yang dibuang, membuat mereka menyadari betapa terpuruknya negeri mereka. Sekaligus pengalaman itu juga memurnikan iman kepecayaan mereka. Perlahan-lahan muncul kesadaran bahwa Tuhan yang dulu memerdekakan mereka dari perbudakan di Mesir, kini juga akan memimpin mereka keluar dari kesesakan batin di Babilonia.
Ketiga, dengan latar pengalaman pembuangan itu (catatan kedua) Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama (Yes 40:1-5; 9-11), mengajak orang agar mengambil haluan baru (terjemahan dalam ay.1: “hiburkanalah umat-Ku”, dalam bahasa Ibrani berbunyi: “Ubahlah cara berpikir umat-Ku”.) Orang pasti mampu melakukannya (melakukan perubahan) karena kekuatan-kekuatan ilahi sendiri menyertai mereka.
Keempat, kisah tentang pembaptisan Yesus
petama kali disampaikan dalam Injil Markus (Mrk 1:9-11) yang memuat tiga hal
berikut: (1) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan (ay. 9), (2) sewaktu keluar
dari air Ia melihat langit terbelah dan Roh turun kepada-Nya seperti burung
merpati (ay. 10), maksudnya kekuatan surga yang dahsyat tampil dalam ujud yang
lembut, dan (3) saat itu juga ada suara dari langit mengatakan: “Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah
Aku berkenan.” (ay. 11). Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu
kepada umat manusia. Dalam diri Yesus hadir kekuatan-kekuatan surgawi.
Kelima, penginjil Lukas (Luk 3:21-22) ikut menceritakan kembali ketiga hal yang disampaikan penginjil Markus, sekaligus juga menambahkan bahwa Yesus dibaptis setelah semua orang lain menerima baptisan (ay. 21). Dengan cara ini, Lukas ingin menanggapi persoalan di kalangan umatnya yang bertanya-tanya apakah Yesus sama seperti orang-orang yang datang minta dibaptis. Sekaligus Lukas menyampaikan bahwa baptisan yang diterima oleh Yesus itu berbeda dengan baptisan yang diterima oleh orang-orang yang mendahului-Nya. Kedatangan Roh dan terdengarnya sabda ilahi (ay. 22) membuat peristiwa ini berbeda.
Keenam, faktor pembeda lainnya adalah Yesus “sedang berdoa” ketika langit terbuka (Luk 3:21); artinya, ketika Ia membiarkan kekuatan-kekuatan ilahi datang merasuki kehidupan-Nya. Penginjil Lukas mengartikan kata “melihat” dalam Injil Matius (Mat 3:16) dengan kata “berdoa.” Terbukanya langit, turunnya Roh, dan terdengarnya suara dari langit semuanya ditaruh dalam rangka “berdoa” tadi. Bagi Lukas “berdoa” menjadi indra rohani yang memungkinkan orang mencerap atau “melihat” hal-hal yang tidak kasat mata yang datang dari dunia ilahi.
Ketujuh, bagi generasi umat Kristiani berikutnya, pertanyaan apakah baptisan Yesus sama dengan baptisan orang lain, sudah tidak relevan lagi. Bagi mereka, baptisan Yesus dipahami sebagai ungkapan rasa sepenanggungan dengan orang-orang yang hati nuraninya tersentuh oleh ajakan Yohanes Pembaptis. Lebih tajam lagi, melalui pembaptisan Yesus orang mulai paham bahwa kini Tuhan sendiri datang menyertai umat-Nya dengan kekuatan-kekuatan-Nya, seperti diserukan dalam Yes 40:1-5.
Kedelapan, bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan-kekuatan ilahi bersama Sang Putra terkasih untuk menyertai perjalanan umat yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi. Inilah yang dimaksud oleh penginjil Matius dengan “agar kehendak Allah digenapkan” (Mat 3:15). Yesus ini adalah orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran ilahi sendiri sehingga menurut kata-kata Markus, Ia [mampu] “melihat” langit terbuka dan Roh Allah turun.
Kesembilan, Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air (Luk 3:16a), sedangkan yang akan datang nanti (Yesus) akan membaptis dengan Roh dan api (Luk 3:16b). Air membersihkan, tetapi air hanya membersihkan bagian luar; bukan mengubah seluruhnya. Api memurnikan baik luar maupun dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan untuk menolong kita mengerti dan membicarakan hal-hal yang dengan cara lain sulit dipahami, apalagi dikomunikasikan. Baptisan dengan Roh artinya baptisan yang memberi kekuatan untuk menempuh hidup baru yang diniatkan oleh orang yang dibaptis.
Kesepuluh, pada zaman Yesus baptisan yang dikenal adalah baptisan Yohanes Pembaptis. Baptisan yang diumumkan Yohanes ini sebetulnya bukan barang baru lagi pada waktu itu. Para petapa di Qumran sudah menjalankannya. Juga kelompok-kelompok orang saleh waktu itu menyatakan niat pembaruan hidup mereka dengan baptisan. Nanti bila Yesus membaptis, Ia tentunya juga membaptis orang seperti Yohanes (lihat Yoh 3:22-23). Dan sewaktu masih ada bersama Yesus, murid-murid-Nya pun membaptis (lihat Yoh 4:2), tentunya menurut baptisan Yohanes juga.
Kesebelas, baru setelah peristiwa kebangkitan, baptisan di kalangan pengikut Yesus menjadi lebih khas. Ini tercermin dalam ajakan agar murid-murid membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19). Dalam tradisi Kisah Para Rasul, baptisan dijalankan dalam nama Yesus (Kis 8:16; 10:48; 19:5), dalam arti orang menggabungkan diri dengan pengikut-pengikut Yesus. Karena Yesus tidak lagi ada bersama mereka secara fisik, maka baptisan ini disebut baptisan dalam Roh-Nya, yakni Roh Kudus (Kis 1:5; 11:16) yang membawakan hidup baru.
Kedua belas, Paulus menjelaskan bahwa orang menjadi pengikut Kristus dengan dibaptis, karena tindakan ini melambangkan keikutsertaan di dalam penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dalam surat kepada Titus (bacaan kedua: Tit 2:11-14; 3:4-7, khususnya 3:5) Paulus menegaskan bahwa dibaptis berarti lahir kembali, mendapat pembaharuan hidup dalam Kristus, yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Merenungkan bacaan-bacaan dalam Perayaan Ekaristi hari ini, kita diundang untuk mengingat kembali pembaptisan kita. Melalui pembatisan yang kita terima, kita dijadikan murid-murid Yesus dan anggota penuh Gereja-Nya. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa melalui sakramen baptis dan sakramen penguatan “oleh Tuhan sendiri [kita] ditetapkan untuk merasul” (LG 33 dan AA 3). Menurut Konsili Vatikan II, tujuan dari kerasulan kita adalah supaya Kerajaan Allah hadir di tengah-tengah masyarakat, dan keselamatan bagi segenap bangsa manusia diwujudkan (GS 45).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
17 July 2023
MENCARIKAN TANAH YANG SUBUR
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah Anda bekerja keras selama sepekan. Saya harap Anda juga dapat menyisihkan sedikit waktu untuk merasakan kembali semua anugerah Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan.
Besok (16 Juli 2023) kita akan merayakan hari Minggu ke-XV tahun A dalam kalender liturgi. Dalam Injil yang akan kita dengarkan dalam Perayaaan Ekaristi, Yesus memberikan pengajaran kepada orang banyak dengan menggunakan perumpamaan tentang seorang penabur (Mat 13:1-9). Makna perumpamaan ini kemudian dijelaskan kepada para murid-Nya (Mat 13:18-23). Apa warta perumpamaan itu? Dan apa maksud penjelasan yang secara khusus ditujukan kepada para murid? Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, cara bercocok tanam pada zaman itu tidak selalu sama dengan yang dikenal sekarang. Pada zaman Yesus biasanya biji disemai sebelum tanah digarap; bukan sebaliknya. Jadi tanahnya memang belum dibajak atau dicangkul atau dialiri air. Baru kemudian tanah yang sudah ada bijinya itu akan digemburkan.
Kedua, biji yang disebut jatuh di pinggir jalanan itu (ay. 4) bukan karena penaburnya menyemai secara acak atau tanpa rencana. Rekannya atau dia sendiri nanti akan menggemburkan tanah di pinggir jalanan yang baru saja ditaburinya tadi. Tetapi apa lacur, sebelum tanah sempat digarap, benih yang ditabur di situ keburu dimakan burung.
Ketiga, tanah yang berbatu-batu (ay. 5) adalah tanah yang keras, berkapur dan kersang. Penabur tidaklah kebetulan menabur di tanah berbatu-batu. Di situ sengaja ditaburkan benih. Lahan itu nanti akan dibajak, dicangkul, digemburkan sebisanya.
Keempat, semak duri (ay. 7) bisa tumbuh di tanah kersang dan berbatu-batu sekalipun. Meski tanah yang akan digarap itu dibersihkan dari onak duri, sebentar lagi tentu akan tumbuh kembali. Dan benih yang disemai di tanah yang beronak itu tidak bakal tumbuh baik. Akan terhimpit.
Kelima, apa arti tanah yang baik (ay. 8)? Dari semula tentu tanah ini sudah baik. Benih yang ditabur di situ nanti akan tumbuh baik, tentunya setelah tanah digemburkan. Bagaimanapun juga perlu penggarapan agar benih bertumbuh baik dan berbuah melimpah.
Keenam, yang hendak diajarkan Yesus adalah perihal tanah yang bakal digarap dan sudah ditaburi itu. Perumpamaan ini diceritakan untuk menggugah kebijaksanaan batin. Bila melihat benih yang jatuh di tanah yang begini atau yang begitu, bagaimana reaksi kita?
Ketujuh, pendengar diajak melihat bahwa pada dasarnya ada dua macam tanah. Ada tanah subur yang dapat memberi hasil dan ada tanah yang akan tetap mandul. Dalam konteks Injil Matius, tanah yang mandul adalah orang-orang yang tidak bersedia menerima Yesus dan pewartaan-Nya, yakni kaum Farisi.
Kedelapan, mereka yang menjalankan kehendak Bapa-Nya (Mat 12:50) menjadi tanah subur yang memberi hasil. Arti “menjalankan kehendak” adalah menuruti, mendengarkan. Jelas, yang dimaksudkan dengan mendengarkan Bapa berarti menerima yang disampaikan oleh-Nya kepada manusia, yakni Yesus sendiri.
Kesembilan, perumpamaan itu diakhiri dengan seruan “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (ay. 9). Dalam alam pikiran orang Semit (termasuk orang Yahudi), telinga adalah jalan untuk memperoleh pengertian dan kebijaksanaan. Karena itu, mendengar pertama-tama berarti mengerti dan bertindak sesuai dengan kesadaran ini.
Kesepuluh, ayat 9 tersebut (catatan kesembilan) mengajak orang menyadari bahwa memang ada tanah yang subur dan ada tanah yang tidak menghasilkan apapun. Apa yang bisa diperbuat? Tentunya tindakan yang paling cocok bila melihat ada benih jatuh ke tanah yang tidak bakal menghasilkan adalah memindah benih itu ke tanah yang subur supaya bisa tumbuh dan berbuah. Pembaca juga dihimbau agar mengenali tanah yang baik supaya bisa menolong dengan sungguh-sungguh. Ini makna perumpamaan (ay. 1-8) tersebut.
Kesebelas, dalam ay. 18-23 perumpamaan tadi diterapkan pada kehidupan iman para pengikut Yesus, baik dahulu maupun sekarang, dengan menekankan unsur-unsur berikut:
Pertama, orang dihimbau agar menjadi tanah yang subur yang memungkinkan benih tumbuh dan berbuah berlipat ganda. Juga diajarkan bagaimana menjaga agar sabda yang telah ditaburkan tidak hilang atau terhimpit.
Kedua, siapa saja yang mau menjadi murid Yesus perlu berani mengusahakan agar semakin banyak benih menemukan tanah yang baik dan tidak membiarkannya tinggal di tanah kersang atau lahan yang beronak duri dan berkeras kepala mengharapkan tanah seperti itu akan bisa membaik.
Ketiga, tanah kersang dijelaskan sebagai penganiayaan dan intimidasi yang sering dialami kaum beriman (ay. 21). Sebagai murid-murid Yesus, kita perlu secara proaktif mencegah terjadinya keadaan seperti itu. Bila toh terjadi, keadaan sulit tidak selalu perlu dihadapi secara frontal. Ada kalanya lebih baik menghindarinya.
Beriman tidak identik dengan menjadi pahlawan atau martir. Kita dihimbau agar menemukan kebijaksanaan dalam beriman. Dengan demikian kita akan pandai-pandai menghadapi “kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan” yang menghimpit benih sabda (ay. 22).
Penjelasan Yesus atas perumpamaan tersebut berakhir dengan pernyataan bahwa tanah yang baik adalah orang yang “mendengar sabda dan mengerti” dan karena itu dapat berbuah berlipat ganda (ay. 23).
Bagi mereka yang mengusahakan diri menjadi murid dan pengikut Yesus, ikhtiar yang sesuai kiranya terletak dalam usaha membuat tanah (hidup mereka) yang telah ditaburi benih betul-betul menjadi lahan subur. Bila perlu mencari tanah yang lebih baik.
“Mengerti” juga berarti mengusahakan agar tokoh yang mereka ikuti, yakni Yesus sebagai benih yang tersemai dalam diri mereka, semakin menjadi bagian dalam kehidupan mereka.
Teriring salam dan doa dari Rumah Retret Panti Semedi, Klaten, Rm. Madya, S.J.
9 July 2023
YESUS DIHADAPAN ALLAH DAN YESUS BAGI KITA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda bersama keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati malam Minggu. Semoga Anda sempat beristirahat setelah bekerja keras selama sepekan. Saya harap Anda juga masih bisa menyisihkan waktu sejenak untuk merasakan kembali semua kebaikan Allah yang telah dilimpahkannya selama sepekan yang lalu.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Biasa XIV tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 11:25-30) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi besok memuat pernyataan Yesus mengenai siapa diri-Nya di hadapan Allah (ay. 25-27), dan siapa Dia bagi orang-orang yang bersedia menerima-Nya (27-30). Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, banyak orang ingin tahu mengenai siapa tokoh Yesus yang katanya mengerjakan hal-hal yang hebat. Apakah Dia itu benar-benar tokoh yang dinantikan orang banyak (Mat 11:2-6)? Bila Dia memang tokoh yang diharapkan, mengapa ada yang berani menganggap sepi warta-Nya mengenai kedatangan Kerajaan Surga dan malah mengira bahwa Ia berbicara yang bukan-bukan (Mat 11:7-19)? Bahkan di beberapa tempat, seperti Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, orang-orang tidak percaya kepada-Nya meskipun Ia telah mengerjakan hal-hal yang ajaib (Mat 11:20-23). Apa yang dipikirkan Yesus sendiri tentang semua ini?
Kedua, dari pernyataan Yesus dalam Mat 11:25 dapat disimpulkan betapa Ia sungguh mengenal Dia yang diwartakan-Nya kepada orang banyak dengan pelbagai tindakan-Nya, yakni menyembuhkan orang sakit, mengeluarkan roh jahat, mengajar, dan mengutus para murid. Semua kegiatan itu dilakukan-Nya agar orang semakin mengenal kehadiran Allah di dunia, khususnya agar orang dapat melihat bahwa Allah yang diwartakan-Nya adalah Allah yang peduli, bahkan Allah tersebut bisa dipanggil dan diseru sebagai Bapa.
Ketiga, semua yang dikerjakan Yesus itu demi Allah yang mengutus-Nya. Yesus tidak ragu-ragu mengakui hal ini. Dalam saat-saat yang kurang menyenangkan, seperti ketika dimusuhi, dan ditolak, Yesus justru menimba kekuatan dari kesadaran batin-Nya itu.
Keempat, dalam Luk 10:21 Yesus penuh kegembiraan dalam Roh ketika mendengar hasil kerja ke-70 murid-Nya. Mereka berhasil membuat kekuatan-kekuatan jahat takluk ketika mendengar mereka mewartakan nama Yesus. Bagi Yesus, jelas Bapa-Nya sendiri bertindak. Ia merasakan kesatuan diri-Nya dengan Dia yang mengutus-Nya. Karena itulah upaya-Nya berhasil, dan mereka yang ikut serta memperoleh keberhasilan pula.
Kelima, keberhasilan tidak boleh diukur semata-mata dari besarnya penerimaan orang. Yesus menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan-Nya itu bergantung pada kesanggupan-Nya serta kesanggupan para murid mewartakan kebaikan Allah. Perkara diterima atau malah dicurigai, hal itu bukan hal yang pokok. Para pendengar masih tetap memiliki kemerdekaan untuk menerima atau menolak-Nya.
Keenam, siapa yang dimaksud dengan “orang bijak dan orang pandai” serta “orang kecil” dalam Mat 11:25? Pada zaman Yesus “orang bijak dan orang pandai” adalah orang-orang yang memahami Kitab Suci dan Tradisi keagamaan dengan baik. Tetapi mereka lama kelamaan membatasi ruang gerak Allah sendiri; Allah harus berbuat begini atau begitu menurut kemauan mereka. Mereka sulit menerima bahwa Yang Mahakuasa dapat memakai cara-cara yang tidak biasa.
Ketujuh, dengan mengutus Yesus Allah memakai cara yang tidak lumrah. Yang Mahakuasa memusatkan diri pada manusia Yesus itu. Yesus adalah satu-satunya yang mendapat perkenan untuk menampilkan wajah-Nya kepada umat manusia. Karena itu, Yesus dapat memanggil-Nya Bapa dan dapat mengajak kita berani ikut memanggil-Nya demikian. Jelas hanya Putra sajalah yang mengenal Bapa. Dan hanya orang-orang yang diajak dan mau menerima Putra dapat mengenali Bapa seperti Yesus sendiri. Itulah yang diungkapkan dalam Mat 11:26-27.
Kedelapan, untuk menerima kenyataan iman ini (catatan 7), jalan orang bijak dan jalan orang pandai saja tidak dapat menjamin. Untuk dapat menerima kenyataan iman tersebut, mereka perlu menjadi “orang kecil,” menjadi orang yang mau menerima tanpa pamrih; yang mau menerima bahwa yang menjadi jaminan dari keyakinannya adalah Allah sendiri. Jadi, orang kecil tidak identik dengan orang miskin.
Kesembilan, yang dimaksud dengan “yang letih lesu dan berbeban berat” adalah kaum “cerdik dan pandai” yang dengan cermat dan saleh mengikuti perintah-perintah Taurat yang jumlahnya sampai 613. Perintah dan larangan ini bisa menjadi beban yang memberatkan dan tidak menjamin kebahagiaan yang sejati dan belum tentu bisa menjadi ungkapan iman yang hidup. Mereka menjadikan agama sebagai beban (berat), bukan jalan yang memerdekakan batin agar dapat menerima kehadiran ilahi dan menerima sesama seperti apa adanya.
Kesepuluh, mereka itu, dan kita semua, diundang untuk ikut mengangkat beban yang dipanggul Yesus, ikut memikul yang dipikulnya (Mat 11:29-30). Menerima ajakan seperti ini akan “memberi kelegaan” (Mat 11:28b). Mengapa? Kita akan ikut memanggul beban bukan pertama-tama untuk ikut berkorban, ikut menderita, dst., melainkan sebagai tanda terima kasih bahwa Dia sudah mau menjalankan tugas yang diberikan Bapa-Nya. Kita sudah menikmati hasil jerih payah-Nya. Dan ungkapan terima kasih inilah yang mendasari keselamatan kita; itulah yang “memberikan kelegaan.”
Kita hidup di tengah masyarakat yang menganut berbagai macam agama dan kepercayaan. Masing-masing menawarkan keselamatan. Bagaimana kita tetap bisa menerima Yesus sebagai satu-satunya utusan Allah untuk memperkenalkan Dia dan mewujudkan karya keselamatan-Nya di dunia ini? Semoga Injil yang kita renungkan ini dapat membantu kita untuk menerima Yesus tanpa ragu.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
3 July 2023
MENGIKUTI YESUS
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk mengakhiri liburan panjang. Semoga Anda masih bisa menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah Ia limpahkan selama sepekan ini.
Minggu, 2 Juli 2023 kita akan merayakan hari Minggu ke-13 tahun A dalam kalender liturgi. Injil (Mat 10:37-42) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (ay. 37-39) bernada keras. Selanjutnya, dalam ay. 40-42 berbicara mengenai imbalan bagi mereka yang mau mengikuti Yesus dan melakukan kebaikan sekecil apa pun (kepada para murid-Nya).
Apa maknanya bagi kita? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, beberapa ayat sebelum petikan Injil yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi besok, menyatakan bahwa Yesus datang membawa pedang (Mat 10:34). Apa yang dikatakan Yesus dapat dimengerti bila kita melihat apa yang terjadi dalam masyarakat Yahudi kala itu. Dalam masyarakat Yahudi waktu itu ada harapan akan datangnya seorang Mesias yang membawa damai, kemakmuran, kejayaan dan kebesaran bagi umat Israel. Dengan pernyataan-Nya itu, Yesus ingin mengoreksi pandangan mereka.
Kedua, selain itu, menjelang keruntuhan Yerusalem ada nabi-nabi palsu yang menentramkan hati rakyat dengan mengatakan bahwa akan datang damai yang akan membuat situasi politik yang kalang kabut waktu itu akan berubah dan menjadi baik-baik saja. Nabi Yeremia menelanjangi mereka, dan mengajak rakyat untuk melihat kenyataan bobrok yang terjadi dalam masyarakat mereka (Yer 23:9-40, khususnya ay. 17). Akibatnya, ia dimusuhi oleh para nabi palsu itu dan oleh rakyat sendiri.
Ketiga, melalui pernyataan-Nya (Mat 10:34), Yesus ingin mengajak orang-orang Yahudi kala itu, dan para murid-Nya, untuk melihat kenyataan yang ada dalam masyarakat dan agama mereka yang sudah membusuk. Ibarat pedang yang bisa memilah-milah, demikian pula kehadiran Yesus. Kehadiran Yesus memang memotong yang busuk dari yang masih dapat diselamatkan. Kehadiran Yesus juga bisa memisahkan orang dari sanak keluarga yang terdekat (Mat 10:35-35). Tindakan Yesus ini seperti tindakan nabi Yeremia, maka Yesus pun dibenci oleh banyak orang.
Catatan pertama s/d ketiga inilah yang menjadi konteks petikan Injil ini (Mat 10:37-42).
Keempat, ketiga ayat pertama (Mat 10:37-39) yang memuat tuntutan yang sangat tinggi, ditujukan kepada para rasul, yakni mereka yang dipilih oleh Yesus untuk menjalankan perutusan-Nya. Namun, semangat dan isinya diperuntukkan bagi semua orang yang akan menjadi murid-Nya. Hal ini terungkap dengan sangat jelas dalam Mat 16:24-26, yang berbicara tentang memikul salib dan membiarkan diri kehilangan nyawa demi Yesus.
Kelima, apa yang disampaikan Yesus dalam Mat 16:24-26 baru diberikan setelah Yesus menyatakan untuk pertama kalinya tentang penderitaan-Nya (Mat 16:21). Hal itu terjadi setelah Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (Mat 16:16). Dengan cara ini, Matius ingin menyampaikan kepada para pembacanya bahwa semakin orang mengenal Yesus, diharapkan mereka juga semakin bersedia untuk mengutamakan Yesus dalam hidup mereka.
Keenam, seluruh hidup Yesus dibaktikan kepada kehendak Allah yang mengutus-Nya. Seluruh hidup Yesus dapat menghadirkan Yang Illahi, karena Ia menyediakan diri untuk itu dengan melakukan “pengosongan diri” (Yunani: kenosis) – Fil 2:5-11. “Mengosongkan diri” berarti meluangkan diri atau menyediakan diri agar dapat dipenuhi oleh keilahian. Karenanya, Yesus dapat menunjukkan/memperlihatkan (gambar) Allah yang tidak kelihatan.
Ketujuh, tindakan “pengosongan diri” hanya dapat dilakukan oleh Yesus, karena hanya Dialah yang dipilih oleh Allah untuk melakukan hal itu. Yang diminta dari kita bukannya meniru Dia, melainkan menyadari mengenai apa yang terjadi pada Yesus dan apa yang dilakukan-Nya.
Kedelapan, bila kita ingin meniru Yesus, jelas tidak akan berhasil. Bila kita memaksa untuk melakukannya, paling-paling kita hanya akan sampai pada salib yang menyakitkan. Lebih buruk lagi, kita malah akan memaksakan salib tiruan, dan bukan salibnya Yesus. Karenanya, cara yang terbaik adalah mengikuti Yesus sendiri. Kita tidak perlu mencari-cari salib. Salib sudah ditemukan oleh Yesus, kita tinggal ikut memanggulnya; ikut meringankan salib Yesus. Itulah yang menjadi bagian kita, para murid-Nya.
Kesembilan, memikul salib Yesus berarti menjadi teman seperjalanan Yesus. Itulah maksudnya ketika Yesus berkata: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38). “Memikul salib” tidak dapat dipisahkan dari “mengikuti Aku.” Bila dipisahkan, beban yang kita pikul tidak akan membawa kita kepada keselamatan, melainkan sebuah penderitaan yang tanpa ujung pangkal.
Kesepuluh, dalam Mat 10:39 ditandaskan bahwa mereka yang berusaha menyelamatkan dirinya (“nyawanya”) akan kehilangan dirinya (“nyawanya”); sebaliknya, mereka yang menemukan dirinya dalam Yesus (=“kehilangan nyawanya karena Aku”) akan mendapatkan keselamatan (=“menyelamatkan nyawanya”). Inilah salah satu pokok spiritualitas Kristiani. Hidup kita sebagai orang Kristiani, baru ada artinya bila hidup kita dapat menampakkan Yesus yang dengan salib-Nya telah menampakkan kehadiran Allah yang mengutus-Nya.
Panggilan menjadi murid Yesus adalah sebuah upaya untuk memerdekakan batin, membebaskan berbagai macam ikatan yang menyulitkan kita untuk memperkenalkan Yesus sebagai utusan Allah. Injil hari ini mengajak kita untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi, dan membiarkan diri kita menjadi tempat kehadiran-Nya. Bila hal ini kita lakukan, kita akan mendapatkan ganjaran seperti terungkap dalam Mat 10:40-42.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
25 June 2023
MENJADI MURID YESUS YANG BIJAK DAN TAKWA
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat petang. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat setelah Anda bekerja keras selama sepekan. Semoga Anda juga dapat menyisihkan sedikit waktu untuk mencecap kembali semua kebaikan Allah yang dilimpahkannya selama sepekan yang lalu.
Besok kita akan merayakan hari Minggu ke-12 tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mat 10:26-33) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi memuat nasihat Yesus kepada para murid-Nya agar mereka tidak takut melainkan teguh dalam memberikan kesaksian tentang Diri-Nya di hadapan umum.
Apa maknanya bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, para rasul dipilih Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya dan, dalam pandangan generasi selanjutnya, mereka menjadi para pemimpin dalam komunitas para pengikut Yesus. Apa konsekuensi penugasan ini bagi kehidupan mereka?
Kedua, dengan menerima perutusan tersebut, para rasul menjadi senasib dengan guru mereka, yakni ditolak, dimusuhi, diadili dan menghadapi risiko dibunuh pula (Mat 10:24-25). Senasib dengan guru mereka itu merupakan pahala dan konsekuensi menjadi utusan-Nya. Tetapi mereka tidak ditinggalkan sendirian; mereka akan dilindungi oleh Bapa (Mat 10:29-31).
Ketiga, dengan mengatakan bahwa mereka tidak ditinggalkan sendirian, Yesus tidak mengajarkan bahwa akan ada kekuatan ilahi, roh dari langit yang menjadi bodyguard, pengawal pribadi yang siap menolong bila mereka terancam. Yesus juga tidak mengajarkan agar para murid melihat diri menjadi orang yang bisa membuat para pengejek kualat dan kena hukuman dari atas. Pemahaman seperti itu adalah cara-cara kaum preman rohani, dan bukan yang diharapkan dari rasul-rasul Yesus.
Para rasul justru diminta berani memakai sumber kemanusiaan mereka dalam menjalankan tugas luhur mereka; yakni cerdik/bijaksana (=dapat menilai keadaan) dan tetap tulus (=menjaga integritas diri mereka) [lihat Mat 10:16]. Bila mereka dianiaya di satu kota, mereka perlu lari ke kota lain (Mat 10:23), dan jangan mati-matian bertahan di situ agar tidak mati konyol.
Keempat, bagian Injil yang sedang kita renungkan terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (Mat 10:26-31) memuat ungkapan “Jangan takut!” sampai empat kali (ay. 26, 28a, 28b, dan 31). Bagian kedua (Mat 10:32-33) berbicara mengenai keberanian bersaksi dan baru dapat didalami atas dasar bagian yang pertama.
Kelima, tugas yang dimaksud ialah menjelaskan kepada orang banyak siapa Yesus itu. Tugas ini bisa menakutkan orang yang ditugasi. Juga bisa bikin waswas dalam diri sendiri, sebab mereka perlu mempertanggungjawabkan kepercayaan akan Yesus kepada orang-orang sebangsanya yang tidak mempercayai Yesus.
Keenam, “waswas” adalah rasa takut yang disebabkan oleh mereka yang tidak bermaksud baik. “Waswas” adalah kekhawatiran yang menggoda terus-menerus dan bisa melemahkan. “Waswas” asalnya dari kata Arab, yang berarti bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan. Kata “takut” dalam ay. 28a menyangkut rasa waswas seperti ini.
Ketujuh, sebaliknya para rasul diminta untuk “takut” kepada Allah yang “berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh” (ay. 28b). Kata “takut” di sini berarti “takwa” (Bahasa Arab: taqwa), artinya takut kepada kekuatan ilahi dengan sikap menghormat, dan mengharapkan kekuatan darinya.
Kedelapan, para rasul juga diminta agar tidak lagi “waswas” karena mereka itu jauh lebih bernilai daripada burung pipit yang walaupun harganya cuma sepeser toh tidak dibiarkan jatuh ke bumi tanpa kemauan Bapa di surga (ay. 29). Kalau makhluk yang seremeh itu saja diperhatikan oleh Allah, apalagi para rasul; mereka pasti dilindungi oleh Allah (ay. 31).
Kesembilan, dalam ay. 32 ditegaskan bahwa barangsiapa “mengakui Yesus” di depan manusia, maka Yesus pun akan mengakuinya di depan Bapanya. Mengakui Yesus berarti menerima warta Yesus tanpa membiarkan diri diusik rasa “waswas” dan terpengaruh bisikan-bisikan jahat mengenai dirinya, melainkan menjalankan perutusan dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus sendiri, yakni Bapa-Nya
Kesepuluh, sebaliknya barangsiapa “menyangkal Yesus” di depan manusia, Yesus juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Nya (ay. 33). “Menyangkal” berarti membiarkan diri terus menerus hidup dalam perasaan tidak menentu, “waswas” akan kebenaran warta Yesus, dan dengan demikian menyangkal juga yang mengutus-Nya. Orang seperti ini sudah berpihak pada pembisik rasa “waswas” tadi dan tidak “takwa” kepada Bapa.
Dalam nasihat-nasihat agar para rasul “jangan takut”, para rasul diajar oleh Yesus untuk mengamati rasa takut mana yang melemahkan (“waswas”), dan rasa takut mana yang menguatkan ("takwa"). Yesus juga mengajarkan bahwa dalam mengahadapi berbagai macam kesulitan, Bapa tidak pernah melupakan mereka. Dan bila kesulitan itu sampai mengancam kehidupan mereka, mereka perlu bertindak dengan cerdik (bijaksana). Pewartaan tentang Yesus hanya akan efektif bila dilakukan dengan tulus (penuh integritas).
Tidak semua dari kita diberi tanggung jawab seperti para rasul dulu. Namun sebagai murid-murid Yesus kita diberi bekal yang sama, yakni kecerdikan (kebijaksanaan) dan ketulusan (integritas) agar kita dapat bersaksi tentang iman kita kepada-Nya. Bekal tersebut baru berguna bila kita gunakan secara tepat.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.