2 May 2023
Cinta Gembala kepada DombaNya
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat malam. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat serta mencecap kembali semua rahmat yang telah dianugerahkan oleh Allah selama sepekan ini.
Besok kita akan merayakan hari Minggu Paskah 1V tahun A. Injil yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi (Yoh 10:1-10) mengandung dua perumpamaan yang saling terjalin erat. Pertama, Yesus mengumpamakan diri sebagai pintu bagi kawanan domba. Kedua, Ia mengibaratkan diri sebagai gembala bagi kawanan domba.
Apa maknanya bagi kita zaman sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, gambaran pintu memiliki arti ganda. Pertama, pintu dipakai untuk menutup jalan masuk bagi orang yang tidak berwenang mengambil begitu saja hak milik orang lain (ay. 1). Hanya gembala yang bakal dibukakan pintu karena kawanan itu adalah miliknya (ay. 2). Selain itu, pintu yang dibuka adalah jalan keluar ke padang rumput tempat kawanan dipimpin oleh yang empunya (ay. 4), bukan oleh orang sewaan (ay. 5). Pemilik kawanan ini membawa kawanan itu ke tempat mereka bisa menikmati kesejahteraan.
Kedua, pintu juga dapat dimengerti sebagai pintu gerbang kota tempat orang berkumpul untuk memperoleh keadilan dan perlindungan dalam berperkara.
Kedua, dengan menggambarkan diri-Nya sebagai pintu yang tadinya belum ada (ay. 9), Yesus hendak mengajarkan bahwa kini telah mulai zaman baru. Dia yang datang ke dunia itulah yang menjadi pintu. Ia akan melindungi kawanan dari perampok dan membawa mereka ke padang rumput, ke tempat sejahtera. Ia juga memberikan keadilan bagai mereka yang menantikannya.
Ketiga, bagi orang zaman dulu, tiap pemimpin, entah itu raja atau Tuhan sendiri, bisa digambarkan sebagai gembala. Dalam petikan Injil Yoh 10:1-10 dimunculkan gambaran seorang pemimpin yang baik, yang datang membawakan keadilan kepada umat yang berkumpul menantikan dan mengharap-harapkannya. Ini semua dimungkinkan dengan perumpaan tentang “pintu” dan “gembala” yang datang lewat pintu itu.
Keempat, gembala memanggil kawanan satu persatu (ay. 3). Maksudnya, masing-masing domba dikenal oleh gembala yang empunya kawanan. Kawanan itu tidak diperlakukan secara anonim. Mereka tidak dianggap sebagai barang, melainkan sebagai pribadi. Dengan kata lain, antara gembala dengan kawanan terjalin hubungan/relasi saling mengenal yang memberi rasa aman dan rasa percaya.
Kelima, dalam ay. 3 disebutkan bahwa domba-domba itu mengikuti sang gembala. Mengikuti berarti meniti jalan yang dibuka oleh gembala yang berjalan di muka menuju ke padang rumput yang memberikan kesejahteraan.
Keenam, menurut tradisi Gereja Katolik, Paus menyebut diri “servus servorum” (Latin: arti harfiahnya ‘abdinya para abdi’). Maksudnya, Paus adalah “abdi agung”, pembantu utama Yesus sang Gembala sendiri. Sebagai “abdi agung” Yesus, Paus mengikuti Yesus, Sang Gembala, dan membantu umat agar mereka dapat mengarahkan diri kepada Yesus, sang Gembala.
Ketujuh, demikian pula kalau Uskup atau imam menyebut diri sebagai “gembala umat”, mereka itu bukan pemilik umat, sebab pemilik umat adalah Yesus sendiri. Sebutan sebagai “gembala” justru mengandung makna tanggung jawab untuk membantu umat agar mereka dapat mengarahkan diri kepada Yesus, sang Gembala.
Injil yang kita renungkan ini mengajak kita untuk menerima Yesus sebagai “pintu” dan “gembala”, yang akan melindungi kita dari segala marabahaya, sekaligus akan membawa kita kepada kesejahteraan. Kita juga diundang untuk membantu orang lain agar mereka dapat berjumpa dengan Yesus dan mengikuti-Nya supaya dapat memperoleh hidup yang sejahtera (ay. 10b).
Teriring salam dan doa dari Telukbetung, Rm. Madya, S.J.
25 July 2021
Bingkisan Kasih
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, serta teman dan sahabat, dalam keadaan baik dan tetap memilih sehat serta bahagia dalam situasi pandemi virus corona yang belum kunjung reda.
Hari ini Gereja mengajak kita untuk merayakan Hari Para Lansia sedunia. Kita syukuri rahmat Allah melalui mereka, karena merekalah yang telah “merintis” sejarah hidup kita dan mengukir kebijaksanaan yang perlu kita kembangkan.
Bacaan Injil (Yoh. 6:1-15) yang kita dengarkan dalam
Perayaan Ekaristi pada Hari Minggu Biasa ke-17 Tahun B dalam kalender liturgi
hari ini berkisah tentang Yesus yang mampu memberi makan kepada 5000 orang
dengan membagi-bagikan lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Tekanan
diletakkan pada perhatian Yesus kepada orang-orang yang mendatangi-Nya, dan
bukan pada mukjizat itu sendiri. Apa makna kisah ini bagi kita sekarang?
Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama,
kisah memberi makan kepada 5000 orang dapat kita jumpai dalam semua Injil (Mrk.
6:30-44; Mat. 14:13-21; Luk. 9:10-17; dan Yoh. 6:1-15). Dalam kisah ini Yesus
menyuruh para murid-Nya untuk ikut bertanggungjawab memberi makan kepada orang
banyak itu. Yesus mengajak para murid-Nya melayani dan menyediakan makanan (ay.
5b) bagi orang-orang yang telah kena pesona para murid itu sendiri, setelah para
murid mengunjungi rumah mereka (lih. Mrk. 6:30-34 – bacaan hari Minggu yang
lalu dan ulasannya). Orang-orang itu tidak boleh ditinggalkan dan dibiarkan begitu
saja setelah mereka terpikat oleh pemberitaan mereka.
Kedua, uang 200 dinar tidak cukup untuk memberi makan kepada orang sebanyak itu (ay. 7). Satu dinar adalah upah satu hari kerja bagi pekerja biasa, dan hanya cukup untuk satu keluarga dengan lima orang anggota. Karenanya, 200 dinar (hasil kerja selama hampir 7 bulan!) hanya cukup untuk 1000 orang, bukan 5000 orang. Inilah cara berpikir dengan angka-angka semata. Hasilnya adalah kemustahilan, angkat tangan, dan menyerah.
Ketiga, Filipus adalah seorang tokoh penting dan terpandang dari Betsaida, kota pusat perdagangan ikan di tepi danau tempat peristiwa itu terjadi. Dialah yang diminta oleh Yesus untuk memikirkan kebutuhan 5000 orang itu. Namun ia hanya dapat mengalokasikan 200 dinar untuk mereka (ay. 7). Pada saat itu, Andreas—juga seorang murid dari Betsaida—tampil dengan pemecahan yang semakin tidak masuk akal: membawa lima roti jelai dan dua ekor ikan (ay. 8-9).
Keempat, siapa anak kecil yang menyerahkan lima roti jelai dan dua ekor ikan itu (ay. 9)? Lima roti jelai dan dua ekor ikan itu pasti bukan bekal untuk dirinya sendiri. Terlalu banyak! Kiranya, ia diutus oleh ibunya untuk menyampaikan bingkisan itu kepada Andreas dan Filipus yang pernah berkunjung ke rumah mereka (ketika para murid diutus oleh Yesus berdua-dua). Bungkusan makanan itu sekadar “tanda masih ingat” akan kunjungan mereka berdua yang tidak membawa bekal makanan; sekaligus merupakan ungkapan terima kasih.
Kelima, Yesus mengambil roti dan ikan itu, lalu mengucap syukur (terima kasih kepada Yang Mahakuasa), kemudian membagikannya kepada semua orang yang ada di situ (ay. 11). Itulah mukjizatnya! Hal yang tadi kelihatan mustahil, kini menjadi mungkin berkat ketulusan hati seorang anak yang memberikan roti dan ikan tersebut, dan berkat syukur Yesus kepada Bapa-Nya.
Keenam,
“di tempat itu banyak rumput” (ay. 10b). Oleh penginjil, orang-orang itu
ditampilkan sebagai domba-domba yang dibawa ke tempat yang banyak rumputnya
oleh Sang Gembala yang baik. Terasa ada suasana yang aman dan tentram di tempat
orang-orang itu berada bersama dengan tokoh yang mereka dengarkan dan ikuti ke
mana pun Ia pergi.
Ketujuh,
mukjizat yang dilakukan oleh Yesus ternyata baru membuat orang-orang—termasuk para
murid Yesus sendiri—mulai mengakui kebesaran Yesus menurut bayangan mereka sendiri
(“seorang nabi yang akan datang ke dunia” – ay. 14; dan “raja” – ay. 15). Kesadaran
batin mereka masih perlu maju selangkah agar dapat berkembang secara utuh guna
mengenal Yesus yang sesungguhnya, seperti yang dialami oleh seorang buta yang
disembuhkan oleh Yesus (lih. Yoh. 9: 35-38).
Ada banyak cara untuk memahami pesan Injil hari ini seperti terungkap dalam catatan-catatan di atas. Cara lain adalah membiarkan diri dibawa oleh penginjil masuk ke dalam Injilnya. Kita diperkenalkan pada sisi-sisi manusiawi orang-orang yang diceritakan dalam Injil ini. Boleh jadi kita akan merasa kelabakan seperti Filipus. Filipus memang sudah dapat memikirkan kebutuhan finansial, namun belum betul-betul menanggapi kebutuhan orang-orang yang dihadapinya.
Penginjil mengajak kita membaca kisahnya dengan humor dan melihat diri kita sendiri “berada di mana” (ketika kita menghadapi situasi serupa, juga dalam mengelola karya dan membangun keluarga kita).
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
18 July 2021
Mengendapkan Pengalaman
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga dan sanak-saudara berada dalam keadaan baik dan tetap memilih sehat serta bahagia di tengah situasi PPKM.
Hari ini kita merayakan hari Minggu Biasa ke-16 Tahun B dalam kalender liturgi. Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini (Mrk. 6:30-34) bercerita tentang situasi setelah para murid yang diutus untuk mempersiapkan kedatangan-Nya ke desa-desa (bacaan Minggu yang lalu, Mrk. 6:7-13) kembali berkumpul bersama Yesus dan melaporkan kepada-Nya semua yang telah mereka kerjakan dan ajarkan (ay. 30). Apa makna dari kisah ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan catatan-catatan berikut.
Pertama, kiranya para murid yang diutus oleh Yesus berhasil menunaikan tugas mereka dan diterima di mana-mana. Mereka bebas berbicara tentang Yesus yang akan mendatangi mereka. Yesus seperti apa yang mereka bicarakan? Dari Mrk. 8:27-30 (khususnya ay. 29), yang diberitakan oleh para utusan tadi adalah Yesus sebagai Mesias yang sejati, bukan Mesias politik. Penyampaian mengenai Yesus sebagai Mesias sejati, dilaksanakan dengan ajakan agar orang berpikiran luas (“bertobat”) dan menjadi manusia untuh (tidak dikuasai oleh “setan” dan “penyakit”) seperti dituturkan dalam Mrk. 6:12-13.
Kedua, akibat dari keberhasilan para murid Yesus, orang banyak berdatangan mengerumuni para murid (para rasul) yang sedang bekumpul kembali dengan Yesus. Mereka datang dan pergi menemui para rasul dan guru mereka (Yesus), sehingga “makan pun mereka tidak sempat” (ay. 31b); artinya, betapa besar antusiasme dan harapan mereka akan Yesus. Mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendekat pada-Nya.
Ketiga, dalam situasi seperti itu Yesus mengajak para murid pergi ke “tempat yang sunyi/terpencil” untuk beristirahat (ay. 31a). Dalam Kitab Suci, “tempat terpencil” (Yunani: erēmos) berarti padang gurun. Namun dalam peristiwa kali ini, “tempat terpencil” itu adalah perahu, tempat mereka berada hanya dengan guru mereka (ay. 32).
Keempat, Yesus mengajak para murid untuk menyepi ke “tempat terpencil” guna mengendapkan pengalaman keberhasilan mereka dalam mengusir setan dan menyembuhkan orang-orang sakit dengan kuasa yang mereka terima dari Yesus (ay. 13). Hal ini penting agar mereka tidak jatuh ke dalam tindakan pengusiran setan dan penumpangan tangan serta berbagai macam talk show, sehingga tidak melihat inti pelayanan mereka yang sebenarnya. Di tangan orang yang kepercayaannya tidak lurus dan tidak mendalam, kuasa seperti itu malah dapat disalahgunakan untuk menunjukkan kebesaran diri sendiri dan mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, bukan untuk menyiapkan kedatangan Sang Guru. Lebih parah lagi, yang memakainya secara asal-asalan malah bisa celaka (lih. Kis. 19:13-20).
Kelima, dalam keheningan di atas perahu di tengah danau yang tenang bersama Sang Guru, para murid mengalami kembali semua keberhasilan mereka dalam perutusan. Mereka juga bisa mengenang kembali ketika Yesus menjinakkan badai dan gelombang yang hampir menenggelamkan perahu mereka (Mrk. 4:35-41; khususnya ay. 39). Dalam suasana seperti itu mereka menyadari bahwa kuasa yang hebat itu telah dianugerahkan kepada mereka, dan mereka telah dapat menggunakannya untuk menolong orang lain.
Keenam, tentu perahu berhenti lama di tengah danau sehingga orang-orang itu mendahului kedatangan Yesus dan para murid-Nya (ay. 33b). Melihat mereka, Yesus tergerak hati-Nya oleh belaskasihan karena mereka seperti domba yang tidak bergembala. Kepada mereka Yesus mengajarkan “banyak hal” (ay. 34b). “Banyak hal” yang diajarkan kepada orang banyak itu adalah “Kerajaan Allah” (lih. Luk. 9:11). Dalam diri Yesus, orang banyak itu menemukan gembala yang membawa mereka ke dalam Kerajaan Allah.
Ketujuh, kumpulan orang banyak tidak bergerak bila tidak ada orang yang menggerakannya. Kendati tidak disebut dalam bacaan Injil kali ini, namun dapat dipastikan bahwa ada beberapa murid para rasul yang menggerakkan dan menyemangati orang banyak itu untuk berjalan ke tepi lain danau untuk mendahului Yesus dan para murid-Nya. Para penggerak inilah yang menghidupkan kelompok orang banyak itu. Mereka pula lah yang mendengarkan dan mencatat “banyak hal” yang diajarkan Yesus.
Dalam kisah Injil ini ada empat tokoh yang dapat kita teladani: Yesus, para rasul, orang banyak, dan para penggerak. Tampaknya tidak realistis bila kita ingin mengidentifikasikan diri kita dengan Yesus dan para rasul. Cukuplah kalau mereka itu kita amati, dengarkan, dan kenali agar kita dapat menimba banyak semangat dari mereka. Masih ada dua tokoh yang dapat kita teladani: orang banyak yang penuh antusiasme serta pengharapan terhadap Yesus, dan para penggerak yang memotivasi orang banyak untuk menemui Yesus dan para rasul, serta mendengarkan dan mencatat ajaran-Nya agar dapat diwartakan kepada orang lain. Dengan tokoh manakah kita akan mengidentifikasikan diri kita? Apa yang akan kita lakukan agar hal itu dapat terjadi?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
12 July 2021
Menyiapkan Kedatangan Yesus
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta sanak-saudara, serta teman dan sabahat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat dan mencecap kembali rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.
Hari ini kita merayakan hari Minggu Biasa ke-15 Tahun B dalam kalender Liturgi. Bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk. 6:7-13) berkisah tentang pengutusan dua belas murid untuk mempersiapkan kedatangan Yesus dengan mewartakan pertobatan, mengusir setan, dan menyembuhkan orang-orang sakit (ay. 12-13). Mereka diminta untuk tidak membawa kelengkapan, selain yang sangat dibutuhkan (ay. 8-9). Mereka juga diminta untuk tidak takut bila tidak diterima dengan baik (ay. 11). Mereka melaksanakan perutusan itu dengan gairah (ay. 12-13). Apa makna semuanya ini bagi kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, “dari desa ke desa” (ay. 6b). Yang dimaksud dengan “desa-desa” adalah pemukiman-pemukiman yang berada di luar tembok kota. Ke tempat itulah dua belas murid tersebut diutus berdua-dua (ay. 7) untuk mempersiapkan orang-orang di sana guna menerima kedatangan Yesus, agar peristiwa penolakan terhadap Yesus seperti yang terjadi di Nazaret tidak terulang lagi.
Kedua, “mengutus mereka berdua-dua” (ay. 7b). Ada kebiasaan di zaman Yesus bahwa berita bisa dipercaya bila dikuatkan oleh seorang saksi atau lebih.
Ketiga, siapa dua belas murid yang diutus oleh Yesus itu? Sejak tampil di muka umum Yesus memperoleh banyak pengikut (murid). Mereka berjalan bersama Yesus (Sang Guru) dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan pelbagai macam penyembuhan dan perbuatan kuasa-Nya, serta melihat reaksi orang banyak (Mrk. 3:20-6:6). Dari antara mereka itu Yesus memilih dua belas orang (Mrk. 3:13-19), yang disebut “rasul,” yakni utusan dengan tiga tugas: menyertai Yesus, memberitakan Injil, dan mengusir setan dengan kuasa yang diberikan oleh Yesus (Mrk. 3:14). Mereka inilah yang diutus oleh Yesus menemui orang-orang di “desa-desa” itu.
Keempat, yang perlu dilakukan untuk mempersiapkan kedatangan Yesus ke “desa-desa” itu ada tiga hal (ay. 12-13): (1) Mengajak mereka untuk “bertobat”; artinya, mengajak mereka untuk berpandangan luas dan memerdekakan batin mereka dari kungkungan ketidak-percayaan; (2) Membersihkan orang-orang dari kekuatan-kekuatan (setan) yang kemungkinan akan menolak kedatangan-Nya; dan (3) Mengurangi penderitaan mereka (dengan menyembuhkan penyakit yang mereka derita).
Kelima, larangan untuk membawa bekal (ay. 8-9) menunjukkan bahwa tugas itu tidak berlangsung lama, bahkan mereka tidak perlu menginap. Bila kedatangan mereka diterima, mereka pasti akan mendapatkan suguhan. Selain itu, mereka diminta untuk mengingat bahwa yang perlu mereka berikan kepada orang-orang itu bukanlah diri mereka dan kelengkapan yang mereka bawa, melainkan kuasa yang telah mereka terima dari Yesus untuk menjauhkan roh-roh jahat (ay. 7), yakni kekuatan yang merendahkan manusia dengan segala aspek kehidupannya. Yang perlu menjadi pusat perhatian mereka adalah penderitaan orang-orang yang mereka temui dan upaya untuk meringankannya.
Keenam, mereka diminta oleh Yesus untuk tinggal di tempat yang menerima mereka “sampai kamu berangkat dari tempat itu” (ay. 10). Maksudnya, tinggal seperlunya dan menjelaskan apa yang akan mereka terima bila Yesus sendiri datang. Bila mereka sudah paham, para utusan itu perlu segera pergi menemui Yesus dan berkabar mengenai orang-orang yang telah mereka temui.
Ketujuh, bila mereka tidak diterima, mereka diminta untuk segera pergi meninggalkan tempat itu dan “kebaskanlah debu dari kakimu sebagai peringatan” (ay. 11). Maksudnya, para utusan yang ditolak, tidak perlu melapor kepada Yesus. Anggap saja penolakan itu tidak pernah terjadi karena tidak ada bukti bahwa mereka pernah ke sana (debu sudah dikebaskan dari kaki mereka). Dengan demikian, masih ada kesempatan lain bagi tempat itu untuk menerima kedatangan Yesus.
Kedelapan, para pembaca pertama tulisan Markus ini—seperti halnya kita—tidak pernah melihat lagi dua belas orang murid utusan Yesus itu. Para pembaca itu, dan kita, dengan membaca kisah ini diminta untuk membayangkan sebagai orang-orang yang didatangi oleh dua belas murid Yesus itu; bukan sebagai orang-orang yang diutus oleh Yesus sendiri.
Kita memang orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus, namun kita masih memerlukan bantuan agar kita semakin mempercayai-Nya, bila Ia mendatangi kita. Masihkah kita memerlukan “pertobatan” agar kita memiliki wawasan luas dan mampu memberikan ruang gerak yang leluasa kepada Allah dalam hidup kita? Apakah kita masih mengalami tekanan “roh-roh jahat” yang sering menjauhkan kita dari Allah? Apakah berbagai macam penyakit (sekarang malah ada pandemi berkepanjangan) mengancam hidup kita? Apakah kita merasa memerlukan “bantuan dari atas” untuk melepaskan diri dari kekuatan-kekuatan yang tidak dapat kita atasi dengan kekuatan kita sendiri?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
12 July 2021
Memahami Ke-Mesiasan Yesus
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, dan teman serta sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk mencecap kembali rahmat dan kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu. Di tengah semakin menggilanya gempuran virus corona, semoga kita tetap berani memilih sehat dan bahagia.
Bacaan Injil yang kita dengarkan pada Hari Minggu ke-14 Tahun B ini (Mrk 6:1-6) berkisah tentang Yesus yang “tidak dapat mengadakan satu mukjijat pun” di Nazaret tempat asalnya sendiri (ay. 5a). Memang pengajaran-Nya sangat dikagumi (ay. 2a) dan berita tentang mukjijat-mukjijat yang diadakan-Nya di tempat lain menjadi bahan pembicaraan (ay. 2b), namun orang-orang Nazaret tidak dapat menerima bahwa Dia itu hanya salah seorang dari antara mereka (ay. 3). Apa makna kisah ini bagi kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.
Pertama, Yesus adalah “tukang kayu” (ay. 3a). “Tukang kayu” (Bahasa Ibrani: tektōn) memiliki arti “ahli teknik perkayuan” atau “arsitek bangunan kayu.” Dengan menggunakan “sebutan” itu, orang-orang Nazaret ingin mengatakan kepada Yesus bahwa Ia sudah memiliki hidup yang enak dengan kedudukan mapan. Mengapa malah berganti haluan dengan menjadi “guru keliling.” Mereka menginginkan agar Yesus menuruti keinginan mereka menjadi seorang Mesias politik.
Kedua, Mesias yang diharapkan oleh orang Nazaret (dan orang Yahudi) adalah seorang tokoh yang akan memulihkan kejayaan Israel zaman dahulu, dengan memukul dan menghalau kekuatan militer Rowawi dan kelompok-kelompok lain dari tanah Israel.
Ketiga,
namun Yesus tidak mau menuruti keinginan mereka, sebab kemesiasan-Nya datang
dari Allah melalui pencurahan dan pengurapan Roh Kudus (Luk. 4:16-22; khususnya
ay. 18-19). Kemesiasan yang Ia terima dari Allah untuk diwujudkan adalah
menghadirkan Allah dalam diri orang-orang yang masih terbelenggu oleh kegelapan
dan tidak dapat bergerak. Sebagai Mesias, Yesus bertugas untuk memulihkan
manusia yang sakit, yang tidak lagi memiliki daya hidup, yang
diombang-ambingkan oleh kekuatan-kekuatan kegelapan, dan kehilangan arah hidup,
menjadi manusia yang utuh seperti yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Inilah
mukjijat yang sesungguhnya.
Keempat,
karena Yesus tidak mau menuruti kehendak mereka, orang-orang Nazaret itu
menolak Dia (ay. 3b). Yesus menjadi “nabi [yang] dihormati di mana-mana kecuali
di tempat asalnya” (ay. 4). Mereka menolak ajakan Yesus untuk memahami bahwa
kekuatan dan kuasa-Nya yang sangat besar itu terletak pada kabar baik yang
diberitakan-Nya, yakni “Kerajaan Allah sudah datang” (Mrk. 4: 15).
Kelima, mukjijat muncul dari respon iman terhadap kehadiran Yesus (yang menghadirkan Allah sendiri). Mukjijat terjadi pada orang yang mempercayai-Nya secara tulus, percaya pada apa yang dikatakan dan dikerjakan-Nya. Bila kepercayaan seperti itu ada, akan terjadi mukjijat yang melampaui ukuran alam dan pikiran manusia. Justru kepercayaan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh orang-orang Nazaret, maka Yesus tidak dapat mengadakan mukjijat di sana (ay. 5a).
Keenam, orang-orang Nazaret kehilangan kesempatan untuk mengenal siapa sebenarnya Yesus itu karena mereka telah memenjarakan diri dengan dua hal. Pertama, mereka merasa sudah tahu siapa Yesus itu. Kedua, mereka bersikeras pada keyakinan mereka (dan memaksakan keyakinan itu) bahwa Yesus adalah Mesias yang harus membangun kejayaan umat Israel di mata orang lain.
Ketujuh, bagaimanapun kehadiran Yesus tidak sia-sia. Ia tetap menyediakan Diri-Nya bagi bangsa-bangsa di luar Israel. Kita termasuk yang mendapat “keuntungan” dari penolakan orang Israel terhadap kehadiran Yesus.
Yesus mengundang kita
untuk memiliki cakrawala dan pemahaman baru mengenai Allah, mengenai Yesus, dan
mengenai mukjijat. [Penglaman atau keyakinan] Apa saja yang sering membuat kita
gagal menanggapi undangan Yesus itu? Kita juga diundang oleh Yesus untuk “ikut
serta dalam mengerjakan mukjijat-Nya” agar orang-orang di sekitar kita menjadi
“manusia yang utuh” (lihat catatan no. 3). Siapa saja mereka itu? Tindakan
konkret apa yang perlu kita lakukan?
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
12 July 2021
Maria Mengunjungi Elisabeth
Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabeth (31 Mei)
Bacaan: Luk. 1:39-56
Para Ibu dan Bapak serta Saudara dan Saudari yang baik, selamat sore. Untuk “menutup” bulan Mei, ijinkan saya menghaturkan renungan sederhana berikut:
1. Kalau kita pergi ke semua gereja, khususnya di Jawa, hampir semua gereja mentahtakan patung Bunda Maria Model Eropa Abad Pertengahan gaya aristocrat. Bunda Maria ibarat seorang Ratu berpakaian sutra megah dan bermahkota berlian. Patung seperti ini menggambarkan Bunda Maria dari kalangan ningrat yang jauh dari kehidupan nyata dan dari kehidupan rakyat. Maria seperti ini jelas tidak cocok dengan Maria yang digambarkan dalam Injil, khususnya injil yang baru saja kita dengarkan hari ini; Maria yang hidup di kota kecil Nazareth.
2. Sejauh saya tahu hanya gereja Pakem yang mentahtakan patung Bunda Maria yang berbeda. Patung itu berada di atas sumur kitiran emas. Atas pesanan Rama Sidhunata, S.J., si pematung memahat patung Bunda Maria sebagai seorang “simbok di lereng gunung Merapi.” Bunda Maria sangat dekat dengan kehidupan penduduk setempat.
3. Patung Bunda Maria di atas sumur kitiran emas ini mendekati Bunda Maria yang dilukiskan dalam Injil. Tokoh Maria dalam Injil ini oleh seorang perempuan ahli Teologi dari Filipina (Virginia Fabela), dilukiskan sebagai:
“sosok wanita yang beriman dan cerdas, lembut dan penuh perhatian, tegas dan responsif, welas asih dan berani, mampu mengambil inisiatif, bersedia berkorban dan mengambil risiko untuk melaksanakan Sabda dan kehendak Allah. Maria adalah rasul yang sejati….dan lebih dari itu semua, ia adalah seorang perempuan.”
4. Sementara itu, seorang ahli Kitab Suci dari Amerika Serikat (Adeline Fehribach), melukiskan tokoh Maria sebagai:
“seorang perempuan yang memiliki kepekaan terhadap kebutuhan sesamanya dan bertindak atas dasar kepekaan tersebut. Ia tidak membiarkan Yesus, putranya, tidak peduli terhadap kebutuhan sesamanya hanya karena “saatnya belum tiba.” Dengan kata lain, Maria bunda Yesus adalah seorang perempuan yang memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, asertif, serta memiliki kepedulian sosial. Ia tidak pernah mengatakan “tidak” terhadap sesama yang sungguh membutuhkan uluran tangannya.”
5. Sejalan dengan dua gambaran inilah paus Fransiskus mengatakan bahwa Bunda Maria
“telah menghidupi Sabda bahagia Yesus lebih daripada yang lain. Ia adalah wanita yang bersukacita di hadapan Allah, yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, dan membiarkan dirinya ditembusi oleh pedang. Maria adalah orang kudus di antara para kudus, yang paling terberkati. Ia mengajar kita jalan menuju kekudusan dan menyertai kita. Ia tidak mau bila kita jatuh lalu tetap tinggal di tanah, dan kadang-kadang ia menggendong kita tanpa menghakimi kita. Maria, bunda kita, tidak membutuhkan banyak kata. Ia tidak membutuhkan kita untuk berusaha menceriterakan apa yang terjadi. Cukuplah selalu dan senantiasa membisikkan: “Salam Maria… .”
6. Bila bunda Maria kita lihat seperti tiga gambaran di atas, maka Bunda Maria merupakan sosok yang tidak sulit untuk kita teladani. Bunda Maria sangat dekat dengan kehidupan kita: sebagai seorang perempuan muda yang gelisah karena telah mengandung sebelum pernikahannya diresmikan dalam upacara publik, sebagai seorang janda yang harus bekerja keras untuk membesarkan Yesus setelah Yosef meninggal ketika Yesus masih remaja, melepaskan Yesus pergi untuk menjalani hidup-Nya sesuasi dengan panggilan hati-Nya, cemas karena Yesus semakin dimusuhi oleh para pemimpin Yahudi, hatinya remuk melihat penderitaan dan kematian Putranya, menemani para murid Yesus yang ketakutan karena dikejar-kejar oleh para pemimpin Yahudi dan Romawi karena dituduh menyebarkan kabar bohong tentang kebangkitan Yesus.
7. Bila Bunda Maria kita pahami seperti
di atas, devosi kita kepadanya tidak hanya berupa novena dan ziarah untuk minta
ini dan itu, melainkan merupakan upaya menumbuhkan hasrat untuk meneladani
hidupnya dalam hidup kita sehari-hari.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.