Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

28 February 2021

Beriman kepada Yesus: Apa Buahnya?

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga tetap memilih sehat dan bahagia, agar virus corona tidak mencelakai diri Anda sendiri serta orang-orang yang Anda cintai, dan mereka yang berada dalam tanggungjawab Anda.

Hari ini kita merayakan hari Minggu Prapaskah II Tahun B dalam kalender liturgi. Injil yang kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi hari ini (Mrk. 9:2-10) berkisah tentang Yesus yang “berubah muka” dan “disaksikan” oleh tiga murid terdekatnya, Petrus, Yakobus dan Yohanes. Apa makna dari kisah ini bagi kehidupan kita sekarang? Mari kita renungkan bersama dengan memperhatikan catatan-catatan berikut ini.

Pertama, ungkapan “enam hari kemudian” (ay. 2) bukanlah hitungan hari melainkan waktu yang cukup untuk mengendapkan dan memahami apa yang telah mereka dengar tentang siapa Yesus dan apa yang akan terjadi dengan diri-Nya (Mrk. 8:31-32).

Kedua, “gunung yang tinggi” (ay. 2). Dalam Alkitab “gunung yang tinggi” adalah tempat orang dapat bertemu dengan Allah dalam kebesaran-Nya. Dalam tradisi Ibrani, ada dua tokoh penting yang bertemu dengan Allah di tempat yang tinggi, kemudian diberti tugas sangat penting oleh Allah. Mereka adalah Musa dan Elia. Musa menerima loh batu, yaitu Taurat, dari Allah dan dia diutus untuk memberikannya kepada umat Israel sebagai pegangan hidup mereka (Kel. 24:12-18). Elia mendapatkan tugas untuk menunjukkan kewibawaan Allah kepada Raja Israel (1Raj. 19:8-18). Dengan latar ini, pembaca kisah dalam Injil ini diajak untuk menyadari bahwa Yesus juga bertemu dengan Allah dan akan mendapatkan tugas khusus (bdk. Mrk. 8:31-32).

Ketiga, “Yesus berubah rupa” (ay. 2). Dengan latar bekat yang didiberikan oleh Imam Harun kapada Umat Israel (Bil. 6:24-26) dan Kitab Pengkhotbah yang menyatakan bahwa hikmat kebijaksanaan membuat wajah seseorang bisa bersinar, peristiwa yang dialami oleh Yesus itu ingin mengungkapkan bahwa Yesus adalah sosok yang dipenuhi kasih karunia Allah dan penuh dengan hikmat kebijaksanaan. Dalam budaya Ibrani, wajah yang bersinar merupakan lawan dari wajah yang penuh dengan ungkapan kemarahan, kekerasan, kelaliman, dan menakutkan. Dengan kata lain, Yesus adalah pribadi yang penuh keramahan, kelembutan, kebaikan, dan belas kasih.

Keempat, kehadiran Elia dan Musa yang berbicara dengan Yesus (ay. 4). Pengkisahan ini ingin mengatakan bahwa Yesus itu adalah seorang tokoh besar yang akrab dengan Allah, seperti Elia dan Musa. Yesus sedang menuju ke Yerusalem untuk menggenapi tujuan perjalanan-Nya (bdk. Luk. 9:31), yakni membawa keluar umat manusia dari kungkungan keberdosaan mereka menuju ke kehidupan yang baru. Kedua tokoh itu sekarang menyertai perjalanan Yesus tersebut.

Kelima, para murid dilarang menceritakan pengalaman tersebut sampai Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (ay. 9). Artinya, mereka diminta mengendapkan, mengintegrasikan pengalaman tersebut dengan kehidupan mereka yang nyata. Dengan cara itu, diharapkan mereka akan semakin mengenal siapa Yesus itu sebanarnya. Ia adalah pribadi yang mendapatkan kasih karunia begitu penuh dari Allah sehingga kematian tidak dapat menguasai diri-Nya. Sebaliknya, melalui kematian-Nya Ia justru mendapatkan kehidupan bagi seluruh umat manusia; Ia bangkit dari antar orang mati.

Kita tidak diikutsertakan oleh Yesus dalam peristiwa yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Kita mengerti apa yang terjadi dengan Yesus berkat kesaksian tiga orang murid yang mengalaminya. Melalui kisah ini kita diundang untuk bertanya diri. Sebagai orang-orang yang mengklaim diri sebagai pengikut Yesus, sejauh mana kita mengenal Dia? Sejauh mana pengenalan kita akan Yesus itu kita integrasikan dalam seluruh pergulatan hidup kita? Buah-buah konkret apa yang mengalir darinya untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita, dan orang-orang di sekitar kita serta masyarakat kita?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

22 February 2021

Menerjemahkan Kerajaan Allah dalam Hidup Bermasyarakat

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam keadaan baik, juga Anda yang kebetulan berada di tempat yang terkena bencana alam (banjir dan tanah longsor). Saya mohon maaf baru dapat menemui Anda sekarang, karena tadi pagi s/d siang saya menemani para peserta Hari Studi Komunitas Katekis (yang sudah berlangsung selama 5 tahun).

Pada Hari Minggu Prapaskah I Tahun B dalam kalender liturgi hari ini, kita diajak untuk merenungkan kisah yang dituturkan oleh Markus dalam Injilnya (Mrk. 1:12-15). Secara sangat singkat dan padat diceritakan mengenai dua hal. Pertama, Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun. Kedua, Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kedua peristiwa ini akan mendasari semua kegiatan Yesus di tengah masyarakat. Apa yang dapat kita petik bagi kehidupan kita pada zaman ini? Marilah bersama-sama mencoba menemukannya dengan memperhatikan beberapa catatan di bawah ini.

Pertama, Markus dengan sengaja memadatkan kisah-kisah mengenai Yesus yang waktu itu masih dikenal oleh para pendengarnya. Dengan cara itu, membuat peristiwa yang bersangkutan menjadi semakin menonjol. Selain itu, para pembaca dan pendengar (juga sekarang ini) diajak untuk mengembangkan sendiri unsur-unsur yang melatarbelakangi peristiwa tersebut sesuai dengan pengetahuan dan perkembangan iman masing-masing.

Kedua, pusat dari cerita dalam Injil ini bukan percobaan yang dialami oleh Yesus, melainkan penyertaan Roh, terbangunnya kembali manusia secara utuh dalam Kerajaan Allah, dan sikap yang perlu dibangun untuk menerimanya.

Ketiga, Yesus dipimpin oleh Roh (ay. 12). Artinya, Ia membiarkan kehadiran Allah bekerja dalam diri-Nya seluas-luasnya.

Keempat, Yesus berada di antara binatang-binatang liar (ay. 13b). Ungkapan ini menyatakan bahwa di dalam diri Yesus terwujudlah manusia yang utuh seperti di Firdaus dulu (sehingga manusia dan binatang buas dapat hidup berdampingan lagi, bdk. Yes. 11:6-9).

Kelima, Kerajaan Allah (ay. 15b). Orang-orang yang hidup pada zaman Yesus percaya bahwa mereka dipilih menjadi Umat Alah berkat kebaikan-Nya, yang membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir dan membawanya ke tanah yang dijanjikan-Nya kepada leluhur mereka. Allah juga menjadikan mereka sebagai jalan bagi bangsa-bangsa lain untuk mengenal kebesaran Allah mereka. Mereka merasa aman karena dipimpin oleh kuasa Allah sendiri. Mereka merasa bangga karena dirajai oleh Allah sendiri. Itulah gagasan awal mengenai “Kerajaan Allah.”

Namun dalam perjalanan sejarah umat Israel ternyata terjadi pengalaman-pengalaman yang membuat kebesaran mereka runtuh dan tidak mendapati diri dirajai oleh Allah, melainkan justru diperintah oleh bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah mereka.

Keenam, seruan Yesus bahwa “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat” (ay. 15a) langsung sambung dengan pengalaman para pendengarnya. Kehadiran Allah yang diwartakan oleh Yesus akan segera datang. Allah akan segera datang untuk merajai hidup mereka kembali.

Ketujuh, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (ay. 15b). Yesus mengajak para pendengarnya untuk memiliki keterbukaan guna melihat hal yang lebih luas daripada yang terjadi sekarang. Mereka diundang untuk bersedia memikirkan adanya hal-hal yang lebih besar dan lebih jauh daripada apa yang sedang terjadi sekarang. Inilah arti “bertobat.” Dengan kesediaan untuk memiliki wawasan yang luas seperti itu, mereka sungguh “percya kepada Injil;” artinya, mempercayai bahwa ada sesuatu yang membuat hidup mereka menjadi lega, bisa terbebas dari kegelisahan akan masa depan yang tidak menentu.

Apa yang dapat kita petik dari kisah dalam Injil hari ini?

Pertama, dalam hidup kita juga akan kita alami berbagai macam godaan yang dapat membuat kita menjauh dari Allah. Semakin besar godaan, juga semakin besar daya perlawanan yang tersedia bagi kita. Kita diberi pilihan: (1) mengandalkan diri pada kekuatan kita sendiri dan pasti kalah, atau (2) mengandalkan diri pada kekuatan Illahi (Roh) yang akan memungkinkan kita menang.

Kedua, menerima pewartaan tentang datangnya Kerajaan Allah berarti membiarkan diri dipenuhi oleh kehadiran Allah sekaligus membangun  kesediaan untuk memberikan wujud nyata dari kehadiran Allah tersebut dalam masyarakat tempat kita tinggal. Dengan kata lain, “menerjemahkan” Kerajaan Allah dalam tindakan-tindakan konkret untuk mengembangkan wahana-wahana kehidupan dalam masyarakat menjadi semakin layak bagi setiap anggota masyarakat; yakni, keamanan dan kenyamanan di lingkungan kerja; infrastruktur yang menopang kebutuhan dasar anggota masyarakat; layanan pendidikan yang membantu peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk dapat ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan umum; layanan kesehatan yang menghargai martabat hidup pasien; sistem penggajian yang adil; perundang-undangan yang menghargai semua orang, khususnya para single mothers; relasi antara pemilik kerja dan karyawan yang dilandasi oleh rasa hormat; dst. Apa yang perlu dan dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.  


Lihat selengkapnya

17 February 2021

Jangan Sampai Ada yang Terasingkan

Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, sanak-saudara, serta teman dan sahabat tetap dalam keadaan baik dan terus memilih sehat dan bahagia di tengah pandemi virus corona, yang masih terus merajalela. Selamat merayakan hari Minggu sekaligus Hari Kasih Sayang. Semoga hidup kita senantiasa dipenuhi dan digerakkan oleh kasih Allah yang tanpa syarat.


Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari Minggu ke-6 Masa Biasa Tahun B ini (Mrk. 1:40-45) berkisah tentang seorang kusta yang minta disembuhkan oleh Yesus (ay. 40) dan  bagaimana peristiwa itu diwartakan ke mana-mana (ay. 45a). Apa makna peristiwa ini bagi kita zaman ini? Marilah kita renungkan bersama-sama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, penyakit kusta yang diderita oleh orang itu bukanlah penyakit kusta yang dikenal oleh dunia kedokteran sekarang; yakni penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae, melainkan semacam penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur yang membuat kulit melepuh merah. Penyakit kulit semacam ini sangat menyeramkan. Orang yang memiliki penyakit seperti ini dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus dijauhi oleh banyak orang, dan bahkan tidak diperbolehkan ikut dalam ibadat karena dinilai tidak cukup bersih untuk memasuki tempat suci. Dengan kata lain, orang-orang seperti itu dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat dan dari kehidupan agama.


Kedua, menurut hukum adat dan agama Yahudi zaman dahulu, orang yang sudah sembuh dari penyakit tersebut baru akan diterima kembali ke dalam kehidupan masyarakat dan boleh mengikuti perayaan suci keagamaan bila ia sudah dinyakan sembuh oleh seorang imam. Hanya imamlah yang berhak menyatakan  bahwa seseorang itu “najis” (kotor karena kusta) atau “tahir” (bersih, sembuh dari kusta) (Im. 14:2-32).

Ketiga, tujuan dari hukum tersebut adalah untuk melindungi kebersihan korban; namun praktiknya ternyata justru memperberat si penderita penyakit. Menjelang zaman Perjanjian Baru semua upacara keagamaan yang penting (termasuk menyatakan bahwa seseorang sudah sembuh dari kusta) hanya dilakukan di Bait Allah di Yerusalem pada saat-saat tertentu. Akibatnya, orang yang menderita kusta meskipun sudah sembuh akan sangat sulit mendapatkan “pernyataan sudah bersih kembali” sehingga ia akan semakin terkucil dari kehidupan masyarakat dan agama.

Keempat, dalam latar seperti itu satu-satunya harapan bagi orang yang menderita kusta tersebut adalah Yesus. Maka ia datang kepada Yesus, berlutut di hadapan-Nya, dan mengatakan bahwa “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (ay. 40). Yang diminta oleh orang tersebut mencakup dua hal. Pertama, kesembuhan dari kusta. Kedua, dinyatakan bahwa ia sudah tahir agar dapat kembali menjadi bagian dari masyarakat dan kehidupan beragama.

Kelima, dikatakan bahwa Yesus “tergerak hati-Nya” (ay. 41). Yang dimaksud adalah “ikut merasakan” (Yunani: splagkhnistheis). Namun dalam ayat yang sama dalam naskah kuno juga digunakan kata lain, yaitu “orgistheis”, artinya marah, kesal, berang.

Keenam, mengapa Yesus marah, kesal, dan berang? Ada dua alasan. Pertama, dalam Mrk. 1:39 dikatakan bahwa Yesus telah pergi ke seluruh Galilea untuk mewartakan Injil dan mengusir setan-setan (tentu saja termasuk menyembuhkan berbagai macam penyakit – ay. 34). Sudah barangtentu Ia berharap bahwa kekuasaan setan dan penyakit akan semakin hilang. Tapi nyatanya masih ada orang kusta yang datang kepadanya dan meminta agar ditahirkan. Kedua, dan ini lebih penting, para imam (yang mewakili lembaga agama) yang berhak untuk menyatakan bahwa orang kusta sudah sembuh dan dapat diterima kembali dalam masyarakat, justru enggan melakukannya. Akibatnya, banyak penderita kusta yang tetap tersingkir dari kehidupan bermasyarakat dan beragama meskipun mereka itu sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Berdasarkan catatan-catatan di atas kita dapat melakukan refleksi pada dua tataran: level pribadi dan level kelembagaan.

Pada level pribadi, siapa orang-orang yang dengan sengaja saya singkirkan dari kehidupan saya, dari kehidupan bermasyarakat, dan dari kehidupan beragama? Apa alasannya? Apakah alasan itu masuk akal? Apakah alasan itu sesuai dengan ajaran Yesus? Apa yang kiranya masih dapat saya lakukan agar orang-orang itu dapat saya bantu untuk kembali dan dilibatkan dalam hidup bersama dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam komunitas beragama?

Pada level kelembagaan, adakah keyakinan, peraturan, dan praktik tertentu yang membuat orang tertentu (penderita HIV/AIDS, orang yang terpapar covid-19, single mothers, anak-anak yang lahir di luar perkawinan, orang yang ditinggalkan oleh pasangan hidupnya, LGBT, pecandu narkoba, dll.) kita singkirkan dari kehidupan masyarakat dan komunitas agama? [Contoh praktik yang menyingkirkan orang-orang tertentu dari komunitas beragama adalah pengumuman sebelum menyambut Komuni: “Yang boleh menerima komuni hanyalah ….. dan tidak dalam keadaan dosa berat.” Padahal dalam perjamuan Tuhan tidak ada orang yang boleh dikucilkan. Lagipula, bagaimana kita tahu bahwa seseorang masih berada dalam dosa berat?]. Apa yang perlu kita buat agar lembaga agama dan masyarakat tempat kita hidup dapat melibatkan semua anggotanya, sehinga mereka mengalami diri dihargai dan dimanusiakan sehingga merasakan kehadiran Allah yang menyelamatkan?

Semoga cara perpikir dan bertindak kita (baik dalam level personal maupun kelembagaan) semakin dapat menjadi saluran berkat keselamatan Allah, dan bukan sebaliknya.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

7 February 2021

Mewartakan Kerajaan Allah dengan Hidup seperti Kristus


Para Ibu dan Bapak serta Saudara dan Saudari yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam kedaan baik serta tetap memilih sehat dan bahagia dalam menghadapi pandemi covid-19 yang tidak kunjung pergi.

Hari ini kita merayakan hari Minggu ke-5 Tahun B dalam kalender Liturgi. Injil yang dibacakan dalam Misa (Mrk. 1:29-39) menempatkan kegiatan Yesus dalam irama kehidupan yang mengikuti irama alam, khususnya matahari. Dalam masyarakat zaman Yesus kegiatan mencari nafkah (siang) selesai pada saat matahari terbenam (sore). Di kalangan orang Yahudi yang saleh, waktu petang dan malam digunakan untuk mendalami Taurat, membaca pengalaman kehidupan melalui teks-teks sakral. Pada hari Sabat kegiatan mendalami Taurat dilakukan sepanjang hari. Marilah kita mencoba memetik pelajaran bagi kehidupan kita dari peristiwa ini dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, Markus menempatkan kegiatan Yesus pada hari Sabat. Pagi hari Ia mulai mengajar di sinagoga untuk menerangkan (isi) Taurat; dan terang Taurat yang Ia sampaikan itu menyingkirkan roh jahat yang merasuki orang yang waktu itu berada di sinagoga (Mrk. 1:21-28). Kekuatan terang Taurat itu juga dapat menyembuhkan ibu mertua Petrus (ay. 31) dan menyembuhkan banyak orang dengan berbagai macam penyakit serta mengusir banyak setan (ay. 34). Dengan cara ini, Markus ingin mengatakan bahwa penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus bukanlah pelanggaran terhadap hari Sabat melainkan justru untuk membuat hari Sabat menjadi semakin luhur.

Kedua, dikatakan bahwa ketika menyembuhkan Ibu mertua Petrus, Yesus memegang tangannya dan membangunkan dia (ay. 31a). Istilah “membangunkan” bukan berarti mengangkat tubuh perempuan itu. Istilah ini dipakai dalam arti menyembuhkan. Yang menarik adalah setelah sembuh, perempuan itu lalu “melayani mereka” (= menyiapkan makan malam bagi Yesus dan para murid-Nya, karena memang sudah waktunya makan malam). Dalam Kitab Suci, otentisitas kesembuhan ditunjukkan dengan kesediaan untuk “melayani” orang lain. Hal ini perlu diperhatikan, sebab zaman ini banyak orang tergila-gila dengan mukjizat penyembuhan. Namun, setelah disembuhkan apakah mereka juga bersedia “melayani” orang lain?

Ketiga, Markus juga menceritakan bahwa Yesus “tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia” (ay. 34b). Hal itu dilakukan oleh Yesus karena setan-setan tersebut tidak menggunakan pengetahuan mereka tentang Yesus untuk meluruskan hidup orang, melainkan untuk mengacaukan dan bahkan menyesatkan mereka. Akibatnya, Yesus hanya akan dipandang sebagai tukang penyembuh dari penyakit dan kerasukan, sebagai guru bijaksana, dan sebagai orang yang mempesona. Ia menjadi pusat perhatian dan Injil yang dibawakannya akan dikaburkan oleh ketenaran diri-Nya. Setan-setan ingin memisahkan Yesus dari warta yang dibawakan-Nya. Bila ini terjadi, Yesus akan takabur dan membiarkan diri dipandang sebagai orang besar dan lupa bahwa tugas-Nya adalah mewartakan Kerajaan Allah apa pun konsekuensinya.

Keempat, Yesus juga tahu betul betapa besar godaan yang menyertai semua tindakan baik-Nya. Ia sadar bahwa Ia tidak akan dapat melanjutkan perutusan yang diterima oleh Bapa-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah tanpa penyertaan-Nya. Itulah sebabnya Ia menjauh dari orang banyak, mencari tempat yang sunyi dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah (ay. 35), yang sejak pembaptisan-Nya selalu menyertai-Nya. Yesus mencari keheningan agar semakin mampu melihat kehadiran Allah dalam hidup-Nya, dalam setiap tindakan yang Ia lakukan. Kehadiran Allah inilah yang membuat-Nya tahan dalam melakukan tugas perutusan-Nya. Kehadiran Allah ini pulalah yang membuat Dia ditakuti oleh roh-roh jahat, dan bahkan dapat mengusir mereka. Kehadiran Allah inilah yang Ia teruskan kepada orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya.

Kelima, pencarian keheningan dilakukan oleh Yesus dengan menyendiri untuk berdoa pada “pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap” (ay. 35). Selama berdoa Yesus melihat matahari mulai menyingsing, pelan-pelan mengusir kegelapan. Dengan cara bertutur seperti ini, Markus ingin mengajak para pembacanya untuk memahami bagaimana Yesus melihat gerak-gerik alam dan menyadari bagaimana Allah, seperti matahari yang mulai bersinar mengusir kegelapan, memberikan kekuatan kepada-Nya secara pelan-pelan namun pasti.

Akhirnya, Markus juga menuturkan bahwa ketika orang banyak mencari Dia, Ia justru mengajak para murid untuk pergi ke tempat-tempat lain untuk mewartakan Injil (ay. 38-39). Seperti matahari yang memancarkan sinarnya ke mana-mana, demikian pula Yesus merasa perlu untuk pergi ke tempat-tempat lain membawakan Kabar Gembira Penyelamatan Allah, dan mengusir setan serta menyembuhkan banyak penyakit sebagai wujud kehadiran Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya.

Salah satu kelemahan yang kita hadapi sekarang sebagai para pengikut Kristus adalah mengajarkan tentang Yesus tanpa menerima-Nya dengan tulus hati dan sepenuh hati ke dalam hidup kita. Ada bahaya bahwa saya, dan mungkin Anda, bertindak seperti setan-setan itu, yakni mengajarkan pelbagai kebenaran tentang Yesus namun tidak berusaha hidup seperti Dia; padahal pewartaan mengenai Yesus dan Kerajaan Allah hanya akan efektif bila kita sendiri berusaha hidup seperti Yesus, seperti ditandaskan oleh Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) ketika mereka bersidang di Lembang, Bandung, pada 1990.

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

31 January 2021

Agar Kerajaan Allah sungguh Datang


Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Maaf saya baru dapat menjumpai Anda sekarang. Tadi pagi acara saya penuh. Semoga Anda semua beserta keluarga dan teman serta sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat dan bahagia, khususnya karena covid-19 belum jelas kapan perginya.

Hari ini kita merayakan hari Minggu biasa ke-4 tahun B dalam kalender liturgi. Bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk. 1:21-28) berkisah tentang bagaimana Yesus memulai kegiataan-Nya di Kapernaum setelah Ia memilih para murid pertamanya. Ia mengajar di sebuah tempat ibadat. Orang-orang yang mendengarkannya merasa takjub. Yesus juga mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan. Apa makna semuanya ini? Mari kita lihat bersama beberapa catatan berikut ini.

Pertama, latar peristiwa dalam kisah Injil hari ini. Orang-orang datang ke rumah ibadat untuk menjalankan ibadat Sabat dan mendengarkan bacaan dari Kitab Taurat dan Para Nabi serta penjelasannya. Setelah itu, mereka juga masih membicarakan mengenai banyak hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari mereka. Dalam situasi seperti inilah Yesus datang dan mengajar.

Kedua, dikatakan bahwa Yesus mengajar (ay. 21), bahkan ajaran-Nya dialami oleh para pendengarnya sebagai “Ajaran baru!” (ay. 27). Apa isi ajaran Yesus? Yang diajarkan oleh Yesus adalah bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (ay. 15); dan salah satu wujud nyata dari datangnya Kerajaan Allah adalah mulai tersingkirnya kekuasaan jahat. Kerajaan Allah datang ketika orang mengalami bahwa segala aspek hidupnya (fisik, psikologis, sosial, spiritual, kultural, dan politik) pelan-pelan mengalami keutuhan atau kepenuhan (Yoh. 1:10b). Kerajaan Allah sudah datang ketika kehidupan dalam masyarakat tidak terkotak-kotak berdasarkan status sosial dan kesalehan keagamaan, melainkan ketika hidup bersama sungguh dilandasi oleh solidaritas, rasa hormat terhadap keragaman, dan kesetaraan yang dilandasi oleh kasih.

Ketiga, dalam kisah ini Markus ingin menunjukkan hubungan antara “kegiatan mengajar Yesus” (ay. 21) dengan “pengusiran roh jahat” (ay. 25). Markus ingin menekankan bahwa kehadiran Yesus di tengah masyarakat adalah untuk mewartakan hadirnya Kerajaan Allah. Pengusiran roh jahat dan penyembuhan secara ajaib adalah perwujudan dari kehadiran Kerajaan Allah tersebut, dan bukan sebaliknya. Banyak orang zaman Yesus dan zaman sekarang lebih tertarik pada pengusiran roh jahat dan penyembuahan secara ajaib, sehingga luput menangkap kehadiran Kerajaan Allah itu sendiri.

Keempat, roh jahat adalah roh yang memisahkan diri dari Allah dan melawan-Nya. Roh jahat adalah kekuatan-kekuatan yang mengacaukan tatatan, membuat orang menjadi bingung dan kehilangan pegangan sehingga hidupnya tanpa arah.

Kelima, tidak mengherankan kalau roh jahat tidak tahan berada di dekat kehadiran Yesus yang membawakan kehadiran (Kerajaan) Allah sendiri. Reaksinya terhadap Yesus ada tiga macam. Pertama, mengumpat karena Yesus dirasa sebagai mencampuri urusannya: “Apa urusanmu dengan kami, hai Yesus orang Nasaret? (ay. 24a). Kedua, ia merasa terancam oleh kehadiran Yesus, sehingga berteriak: “Engkau datang untuk membinasakan kami?” (ay. 24b). Ketiga, ia bahkan menggertak Yesus supaya Yesus merasa “groggy,” dengan mengatakan bahwa ia mengenal Dia: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah” (ay. 24c).

Keenam, gelar “Yang Kudus” (ay. 24c) dalam kesadaran orang-orang zaman Yesus hanya dikenakan pada Allah sendiri (lihat Yes. 40:25 dan 57:15). Dengan mengatakan bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah” setan ingin membuat Yesus menjadi takabur, merasa sebagai Allah sendiri. Karenanya, Yesus menyuruh roh jahat tersebut diam dan keluar dari orang yang kerasukan tadi (ay. 25). Yesus tidak membinasakan roh jahat tadi, sebab yang dapat menghancurkan roh jahat hanyalah Allah sendiri. Yesus hanya mengusir roh jahat tersebut, sekaligus memberi kesempatan kepadanya untuk kembali kepada Allah, menjadi roh baik.

Pertanyaan untuk kita refleksikan. Apa yang sudah kita lakukan dan perlu kita lakukan agar Kerajaan Allah sungguh semakin hadir (lihat catatan nomor dua di atas) dalam hidup kita, dalam hidup orang-orang yang menjadi tanggungjawab kita, dan dalam masyarakat di sekitar kita?

Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


 


 


 


 


 


 


Lihat selengkapnya

24 January 2021

Menjadi Penjala Manusia


Para Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik serta tetap memilih sehat dan bahagia di tengah pandemi virus corona yang semakin dekat dengan kita semua. Selamat menikmati hari Minggu guna mengenang dan mencecap kembali semua berkat Allah yang kita terima selama pekan ini.

Pada hari Minggu Biasa ke-3 Tahun B dalam kalender liturgi ini kita diajak untuk memaknai awal karya Yesus mewartakan Injil, menyerukan pertobatan, dan memanggil sebagian dari para murid-Nya (Mrk. 1:14-20). Untuk dapat memetik buah rohani dari kisah ini, marilah kita lihat beberapa catatan berikut.

Pertama, injil Markus memperkenalkan Yesus sebagai seorang pribadi yang memiliki integritas yang sudah teruji. Yesus adalah seorang manusia yang betul-betul dekat dengan Allah sehingga kekuatan kejahatan tidak dapat mengalahkan-Nya (ay. 12-13). Pribadi seperti inilah yang tampil dalam masyarakat dan memberitakan Injil (Kabar Gembira) (ay. 14).

Kedua, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Istilah “Kerajaan Allah” adalah zaman baru ketika Allah hadir di dalam kehidupan umat-Nya. Yesus adalah orang yang membiarkan seluruh hidup-Nya sepenuhnya dijadikan tempat kehadiran Allah. Dalam diri Yesus “Allah meraja.” Yesus adalah wujud nyata dari Kerajaan Allah yang sudah dekat (ay. 15a).

Ketiga, Galilea (bagian utara tanah Israel) memiliki tanah yang lebih subur dan perekonomian yang lebih baik daripada Yudea (tanah Israel bagian selatan). Penduduk Galilea terbiasa bergaul dengan berbagai macam bangsa yang memiliki budaya berbeda; karenanya, mereka memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan independen.

Keempat, di Galilea juga sudah berkembang sektor perekonomian berbasis ikan dari danau. Pasar-pasar ikan di tepi danau bertumbuh dan akhirnya menjadi tempat hunian dan kota-kota yang ramai seperti Kapernaum, Magdala, Betsaida, dan Genesaret. Nantinya Yesus akan mondar-mandir di antara kota-kota tersebut dengan ikut perahu para nelayan untuk mewartakan Kabar Gembira. Di tempat seperti inilah Yesus memulai karya-Nya (ay. 14 dan 16).

Kelima, nelayan dalam injil adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang maju dalam bisnis ikan. Salah satu usahawan yang maju adalah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Simon dan Andreas juga merupakan pebisnis ikan yang sukses. Mereka bukan orang-orang miskin seperti sering kita pikirkan sampai sekarang. Yesus memilih para nelayan ini sebagai “murid pertamanya” karena mereka memiliki jaringan yang luas sehingga pewartaan Kabar Gembira juga dapat menjalar dengan cepat.

Keenam, dikatakan dalam Injil ini bahwa Yesus memilih para murid untuk dijadikan rekan kerja (ay. 16-20). Mereka ini melihat kehadiran dan kenyataan “Kerajaan Allah” dalam diri Yesus yang memanggil mereka. Mereka tidak ingin kehilangan Dia. Karenanya, mereka segera mengikuti Dia dan berpindah haluan hidup serta gaya hidup. Mereka “bertobat dan percaya kepada Injil” (ay. 15b).

Ketujuh, oleh Yesus mereka akan dijadikan “penjala manusia” (ay. 17b = Mat. 4:19). “Menjala manusia” tidak sama dengan mencari pengikut sebanyak-banyaknya, melainkan “membawa orang kepada kehidupan.” Tanggung jawab para murid Yesus bukanlah “menangkapi” orang untuk menganut agama kita, melainkan mendukung, menuntun, merawat, dan menguatkan orang agar mereka dapat hidup terus secara pantas dan berkualitas dalam segala aspek kehidupan mereka (fisik, psikologis, sosial, ekonomi, spiritual, kutural, dan politik).

Sebagai orang Katolik yang mengklaim diri sebagai pengikut Kristus, apa yang sudah dan akan kita lakukan agar orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita benar-benar memiliki hidup yang pantas dan berkualitas? Apa yang sudah dan perlu kita lakukan agar masyarakat tempat kita berada dan merupakan bagiannya sungguh memiliki hidup yang sejahtera, bermartabat, beradab, dan beriman? Jejaring apa yang kita gunakan untuk melakukannya?


 Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.


 


 


Lihat selengkapnya