Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

6 December 2020

Menyiapkan Kedatangan Mesias

Para Ibu, Bapak, Saudari dan Saudaraku semua yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat serta merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu, agar kita memperoleh kesegaran untuk melanjutkan peziarahan hidup kita selama sepekan mendatang.

Hari ini kita merayakan hari Minggu kedua Masa Adven kalender liturgi tahun B. Injil yang kita dengarkan dalam Misa hari ini diambil dari Injil Markus 1:1-8, yang begitu kaya dengan makna.

Dalam ayat 1 ada tiga istilah yang perlu dijelaskan untuk menangkap kekayaan pesan Injil hari ini.  Pertama, kata “Injil” memiliki makna ganda. Makna biasa dari kata “Injil” adalah berita yang melegakan atau berita yang menggembirakan. Dengan memberikan arti ini, Markus ingin mengatakan bagaimana Yesus membuat pikiran dan hati orang serasa terlepas dari bergai macam beban kehidupan yang berat. Hal itu dilakukan oleh Yesus dengan menyembuhkan orang sakit, mengusir kekuatan kejahatan, memperkenalkan siapa Allah itu (sebagai Allah yang peduli terhadap pergulatan hidup manusia dan sangat dekat dengan orang-orang miskin dan berdoa), dan memilih para murid sehingga begitu banyak orang mengikuti-Nya.  Kata “Injil” juga dimengerti sebagai kabar baik tentang Yesus. Bagi para pengikut Yesus waktu itu, Yesus yang tadinya disalibkan, wafat, dan dimakamkan, kini sudah bangkit dari kematian-Nya dan akan datang lagi dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman. Kabar baik inilah yang membuat mereka dapat menghidupi kepercayaan mereka dan mewartakannya kepada orang lain yang ingin bergabung dengan mereka. Kedua, Yesus ditampilkan dengan gelar Kristus, artinya Yang Diurapi, Mesias. Dengan gelar ini Yesus ditampilkan sebagai tokoh yang resmi diangkat oleh Allah sendiri untuk mengerjakan urusan-Nya di dunia ini. Ketiga, Yesus juga ditampilkan dengan gelar “Anak Allah,” artinya orang yang sangat dekat dengan Allah sendiri sehingga mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah dan patuh melaksanakannya.  Dengan kata lain, yang ingin disampaikan dalam kalimat pertama Injil hari ini adalah Berita Baik mengenai Yesus (Injil dalam dua makna), sebagai orang yang sangat dekat dengan Allah (Anak Allah), yang secara resmi ditunjukkan oleh Allah untuk membawa seluruh umat manusia kembali kepada-Nya (Kristus).

Bagaimana Yesus dari Nasaret, anak Yusuf dan Maria, bisa sehebat itu? Markus menjelaskannya dengan menampilkan seorang tokoh yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat pada zamannya, yakni Yohanes Pembabtis (ay. 2-8). Pertama-tama Yohanes dikenal sebagai seorang suci sehingga begitu banyak orang datang kepadanya untuk minta nasihat dan minta dibaptis sebagai ungkapan pertobatan dan siap menerima pengampunan dosa (ay. 4-5). Kedua, ia juga tampil sebagai seorang nabi (ay. 6). Ketiga, ia diutus oleh Allah sendiri untuk “mendahului” dan “mempersiapkan jalan” bagi Yesus (ay 2b, yang merupakan perpaduan Kel. 23:20 dan Mal. 3:1). Keempat, sebagai utusan Allah Yohanes berseru-seru di padang gurun agar semua yang mendengar suaranya menyiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya (ay. 3, dengan mengutip Yes. 40:3). Tokoh yang sangat terkenal ini ternyata malah memberitakan kedatangan orang yang lebih berkuasa daripada dirinya (ay. 7).

Ungkapan “membungkuk dan melepas tali sepatu” (ay. 7b) tidak hanya menunjukkan rasa hormat kepada orang yang sepatunya dilepaskan, tetapi juga memiliki arti yuridis seperti dilukiskan dalam kitab Rut (4:1-17), khususnya ay. 7. Dalam tradisi Yahudi saat itu, tanah milik seseorang hanya boleh dibeli oleh kerabat terdekatnya. Namun dalam kisah ini dikatakan bahwa kerabat terdekat Naomi dan menantunya, Rut, ternyata melepaskan hak tersebut sehingga tanah itu dapat dibeli oleh orang lain, yakni Boas. Orang itu melepaskan haknya dengan “menanggalkan kasutnya” (ay. 8).

Dengan latar belakang di atas, dengan perkataannya tadi (ay. 7b) Yohanes Pembabtis mengakui bahwa ia tidak layak melakukan tindakan sehingga Yesus melepaskan hak-Nya untuk memberikan baptisan dalam Roh Kudus dan mendekatkan kembali seluruh umat manusia kepada Allah.  Yang dapat dilakukan oleh Yohanes Pembatis hanyalah membaptis dengan air (ay. 8a), yakni menyadarkan banyak orang akan kedatangan Yang Ilahi dan pentingnya mendekatkan diri kepada-Nya.  Namun untuk mendatangkan Allah kepada manusia dan membawa manusia mendekat kepada Allah merupakan tugas Dia yang akan membaptis dengan dengan Roh Kudus (ay. 8b). Dengan ucapannya itu, Yohanes Pembaptis membantu para pendengarnya untuk mengalihkan perhatian mereka pada dirinya kepada Dia yang ia wartakan, yakni Yesus, Mesias, Anak Allah.

Ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Kutipan dari Yes. 40:3 dalam Mrk. 1:3 akan menjadi semakin jelas artinya bila disimak dalam konteksnya dalam tulisan Yesaya sendiri (Yes. 40:1-2) yang kita temukan dalam bacaan pertama: “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu…..dst.” Dengan seruan itu, ingin dikatakan kepada umat Israel (yang berada dalam pembuangan di Babilonia) untuk tidak berkecil hati, untuk meninggalkan semua pengalaman terburuk mereka di masa lampau, dan melihat ke masa depan dengan meninggalkan perbudakan di Babilonia serta kembali ke negeri sendiri, melewati padang gurun dengan tuntunan Allah sendiri, seperti dahulu dialami oleh nenek moyang mereka ketika mereka meninggalkan perbudakan di tanah Mesir, melewati padang gurun, dan memasuki tanah terjanji dengan bimbingan Allah sendiri.

Seruan Yesaya yang diperdengarkan kembali oleh Yohanes Pembaptis kepada umat Israel, juga disampaikan kepada kita sekarang. Kita diundang untuk melepaskan segala beban kehidupan yang menimpa hidup kita di masa lalu dan yang selama ini kita pikul dan gendhong, dan ditemani oleh Yesus mendekatkan diri kepada Allah yang akan meringankan dan memperbarui hidup kita. Semoga undangan ini mendapatkan gemanya dalam hati kita dan kita tanggapi dengan ketulusan hati.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

29 November 2020

Menjadi Teman dalam "Empat Waktu" Kehidupan

Para Ibu, Bapak, dan Saudari serta Saudaraku yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga dan teman serta sahabat berada dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Hari ini kita memasuki Tahun Kalender Liturgi Baru, Tahun B, dengan merayakan Hari Minggu Adven I.

Masa Adven merupakan kesempatan bagi kita untuk memahami arti perayaan kelahiran Yesus Sang Penyelamat pada hari Natal, yang kita rayakan setiap tahun.  Bacaan-bacaan dari Kitab Suci selama Masa Adven memberikan kesaksian bahwa Ia yang lahir dalam kesederhaan sama dengan Dia yang akan datang dalam kemuliaan pada akhir zaman untuk mengadili semua bangsa.

Bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa Hari Minggu Adven I Tahun B hari ini (Mrk. 13:33-37) mengajarkan kepada kita untuk memiliki kewaspadaan agar kita tidak kehilangan arah menuju masa depan (= akhir zaman) itu. Dalam Injil ini sebenarnya termuat dua buah perumpamaan tentang kewaspadaan, yang disampaikan oleh Yesus. Yang pertama terdapat dalam ay. 34, yang memberikan perhatian pada kesetiaan. Yang kedua terdapat dalam ay. 35, yang menonjolkan kewaspadaan.

Untuk memahami pesan Injil hari ini, kita perlu memperhatikan dua catatan berikut. Pertama, para pembaca Injil Markus zaman dahulu memahami bahwa tuan rumah yang pulang pada malam hari (ay. 35) tidak sama dengan orang yang pergi jauh dan mempercayakan harta miliknya kepada para hambanya (ay. 34). Tuan rumah yang disebut dalam ay. 35 hanya pergi ke sebuah perjamuan nikah, yang biasanya memang diadakan pada malam hari, seperti diceritakan dalam Luk. 12:36. Ia akan pulang malam itu juga, meskipun tidak diketahui jam berapa persisnya. Sebaliknya, orang yang bepergian jauh seperti dikisahkan dalam ay. 34, tidak biasa kembali dengan tiba-tiba pada malam hari.

Kedua, perumpamaan yang terkandung dalam Injil hari ini dikembangkan oleh Matius dan Lukas. Perumpaan pertama (ay. 34) dikembangkan oleh Matius dalam perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30) dan oleh Lukas dalam perumpamaan tentang mina (Luk. 19:11-27). Perumpamaan yang kedua (ay. 25) diolah oleh Lukas 12:36-38. Lukas menempatkannya dalam rangkaian pengajaran khusus yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Sementara itu, yang dilakukan oleh Matius 24:43b hanya merupakan saduran ringkas dari perumpaan kedua tadi (ay. 25) dengan mengalihkan peran para hamba yang mesti berjaga-jaga kepada sikap seorang tuan rumah yang menjaga rumahnya terhadap pencuri yang tidak diketahui kapan datangnya.

Perumpamaan pertama (Mrk. 13:34) seperti dikembangkan oleh Matius (Mat. 25:14-30) menekankan bahwa tanggungjawab yang dimiliki oleh para hamba sebanding dengan kepercayaan (tugas) yang diberikan oleh tuan mereka. Tanggungjawab mereka diwujudkan dalam kesetiaan untuk mengelola harta yang dipercayakan kepada mereka. Kesetiaan diwujudkan bukan dengan niat atau perasaan belaka, melainkan dengan usaha dan perbuatan nyata. Mereka yang setia, adalah para hamba yang berhasil mengembangkan harta kekayaan yang dipercayakan kepada mereka “dua kali lihat”; artinya, sebanding dengan kepercayan yang mereka terima dari tuan mereka. Akibatnya, mereka tidak lagi diperlakukan sebagai  budak, melainkan sebagai orang merdeka yang boleh tinggal dalam keluarga tuannya dan ikut menikmati kekayaan keluarga. Tenggang waktu menunggu pulangnya sang majikan merupakan peluang untuk membangun masa depan. Masa depan dibangun dengan keberanian mengambil risiko untuk mengembangkan semua hal yang telah dipercayakan (oleh Tuhan) kepada kita; sekaligus, membantu orang-orang lain yang tidak memiliki kepercayaan diri, agar mereka pun dimampukan untuk melakukan hal yang sama.

Perumpamaan kedua (Mrk. 13:35) dikembangkan oleh Lukas (12:36-38). Dalam tafsiran Lukas, nasihat untuk berjaga-jaga dalam Mrk. 13:35 ditampilkan sebagai “warta gembira.” Dalam Luk. 12:37 dikatakan bahwa para hamba yang didapati berjaga ketika tuannya pulang, mereka disebut “bahagia.” Mengapa? Karena tuan itu akan mempersilakan para hamba itu duduk, dan ia sendiri akan melayani mereka: membagi oleh-oleh dan “berkah” yang ia bawa dari pesta perkawinan tadi. Tuan ini tidak hanya memberi perhatian kepada para hambanya (dengan membawakan oleh-oleh), melainkan juga melayani mereka. Mana ada majikan yang melayani! Dengan cara bertutur seperti itu, Lukas ingin mengatakan bahwa para hamba itu sekarang dijadikan anggota keluarga sendiri. Inilah “warta gembira!” “Warta gembira” ini tidak hanya ditujukan kepada para murid Yesus kala itu, melainkan juga dialamatkan kepada kita semua sekarang, bahkan kepada semua orang (Mrk. 13:37).

Sangat menarik untuk kita amati bahwa Markus menyebutkan empat “waktu ronda”: menjelang malam, tengah malam, larut malam, dan pagi-pagi buta (ay. 35b). Hal ini ada kaitan yang sangat erat dengan saat-saat terakhir kehidupan Yesus yang oleh Markus dikenang dengan “empat waktu”: (1) setelah hari malam Ia mengadakan perjamuan terakhir (Mrk. 14:17); (2) menjelang tengah malam Ia ditangkap di taman Getsemani dan langsung disidangkan di Mahkamah Agama (Mrk. 14:53); (3) sebelum ayam berkokok kedua kalinya, Petrus sebagai orang kepercayaan Yesus justru menyangkal-Nya sampai tiga kali (Mrk. 14:72); dan (4) pagi-pagi benar Yesus dibawa ke hadapan Pilatus untuk diadili dan akhirnya dihukum mati di kayu salib (Mrk. 15:1).

Dalam konteks “empat waktu” ini, “berjaga-jaga dengan waspada” berarti “menemani” Yesus pada saat-saat hidup-Nya yang paling sulit: ketika ia berpisah dengan para murid-Nya (orang-orang yang paling dekat dengan diri-Nya), ditolak oleh para tua-tua (pemimpin agama dan masyarakat), disangkal dan dikhianati oleh orang yang paling dekat, dan dihukum mati kendati Ia tidak melakukan sebuah kesalahan pun.

Injil Matius, dalam kisah tentang pengadilan pada akhir zaman ketika Yesus datang dalam kemuliaan-Nya untuk mengadili semua  bangsa (Mat. 25:31-46), mengidentikkan Yesus dengan saudara-Nya yang paling hina (ay. 35-36; 40). Karenanya, kita perlu bertanya: siapakah orang yang berada di sekitar kita, yang sekarang ini sedang mengalami “empat waktu” dalam hidup mereka dan perlu kita “temani”? Tindakan konkret apa yang perlu kita lakukan untuk “menemani” mereka?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


 


 


Lihat selengkapnya

22 November 2020

Menjadi Jalan Keselamatan

Para Ibu, Bapak dan Saudari serta Saudara sekalian yang baik, selamat petang. Semoga Anda semua berserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga tetap memilih sehat dan bahagia. Saya juga berharap Anda semua sudah sempat beristirahat dengan cukup sekaligus mensyukuri semua berkat Allah yang telah Ia limpahkan kepada kita semua selama pekan yang lalu. Mohon maaf saya baru dapat menemui Anda di penghujung hari ini. Sejak kemarin sore sampai pukul 14:00 tadi, saya bersama dengan tiga orang Yesuit yang hidup sekomunitas dengan saya, mendampingi para perserta “Trilogi Rekoleksi” gelombang kedua, dengan menggeluti pengalaman kehilangan, khususnya yang terjadi selama pandemi covid-19 ini. Rekoleksi diadakan di Kampoeng Media, Studi Audio Visual Puskat, Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta.

Hari ini Gereja mengajak kita semua untuk merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan Injil yang dibacakan dalam Missa hari ini diambil dari Matius 25:31-46. Kisah dalam Injil ini tidak terdapat dalam Injil Markus, Lukas, maupun Yohanes. Untuk memahami pesan Injil hari ini tiga catatan perlu kita perhatikan.

Pertama, istilah “semua bangsa” perlu dipahami dengan latar belakang Perjanjian Lama. Bangsa Yahudi disebut sebagai “bangsa terpilih,” “umat Allah.” “Semua bangsa” lain, bukan “bangsa terpilih;” mereka tidak termasuk “Umat Allah.” Setelah Yesus dibunuh dan dibangkitkan dari kematian, para pengikut Yesus disebut sebagai “Umat Allah yang baru.” Dalam konteks ini, “semua bangsa” berarti semua orang yang tidak menjadi pengikut Yesus Kristus.

Kedua, pesan Ijil ini tidak diperuntukkan bagi “semua bangsa” melainkan bagi semua orang Yahudi yang mengikuti Yesus dan bagi kita semua sebagai “Umat Allah yang baru.”

Ketiga, yang dimaksudkan dengan “Anak Manusia” adalah Yesus sendiri sebagai manusia yang mampu menempatkan diri di hadapan Allah sebagai Pencipta yang Ia sebut sebagai Bapa. Ia juga disebut sebagai “Raja” (ay. 34; 40). Yesus—sebagai Anak Manusia sekaligus Raja—inilah yang pada akhir zaman akan mengumpulkan “semua bangsa” untuk diadili.

Ada dua buah pertanyaan mendasar dari Injil hari ini: (1) apakah “semua bangsa” yang tidak termasuk anggota “Umat Allah” ini dapat memperoleh keselamatan?; dan (2) bila dapat, bagaimana cararanya?  Yesus mengajarkan bahwa mereka itu dapat memperoleh keselamatan. Keselamatan mereka bergantung pada perlakuan mereka terhadap “sang raja” ketika ia lapar, haus, tidak ada tumpangan, telanjang, sakit, dan dipenjara (ay. 35-36). Perlakuan terahadap Raja yang dalam keadaan seperti itu, terjadi ketika mereka (semua bangsa) “mengulurkan tangan” kepada “salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina” (ay. 40; 45). Yang dimaksudkan dengan “salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina” adalah anggota Umat Allah. Semua bangsa yang berada di luar bangsa tepilih (Umat Allah) dapat ikut menikmati keselamataan Allah, bila mereka menghargai anggota yang “paling kecil” dari Umat Allah.

Di lain pihak, semua pengikut Yesus Kristus sebagai Umat Allah mempunyai tanggung jawab untuk “menjadi jalan” bagi “semua bangsa” agar mereka dapat ikut memperoleh keselamatan Allah. Caranya, sebagai Umat Allah kita diminta oleh Yesus untuk hidup menurut kehendak Bapa, sehingga “orang-orang luar” dapat melihat adanya integritas dalam hidup kita. Akibatnya, mereka “menghargai” kita, memperlakukan kita dengan baik. “Hidup menurut kehendak Bapa,” dalam Injil Matius, berarti hidup menurut sabda bahagia (Mat. 5:3-12). Itu berarti bahwa kita perlu hidup dengan mengembangkan semangat miskin di hadapan Allah (tidak diperbudak oleh semua bentuk “kekayaan” – ay. 3); menanggapi segala sesuatu dengan kelembutan dan kerendahan hati (ay. 4-5); mendambakan kebenaran (ay. 6); melihat dan bertindak dengan kasih (ay. 7); menjaga agar hati bersih dari segala sesuatu yang dapat mencemari cinta (ay. 8); menabur perdamaian di sekitar diri kita (ay. 9); dan melaksanakan jalan Injil setiap hari kendati hal itu akan membawa kesulitan dalam hidup kita (ay. 10-11).

Ajaran Yesus ini begitu manusiawi. Sekaligus betapa luhurnya Yesus Kristus sebagai Anak Manusia yang mengajarkan itu semua. Ajaran-Nya ini bercorak universal. Karenanya, pantaslah bila Yesus Kristus disebut sebagai Raja Semesta Alam.

Semoga semangat Sabda Bahagia tercermin dalam hidup kita, agar semua orang yang tidak menjadi murid Yesus akan ikut menikmati keselamatan Allah dengan menghargai dan memperlakukan kita dengan baik, karena mereka melihat integritas dalam hidup kita.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

15 November 2020

Allah Mempercayai Umat-Nya


Para Ibu dan Bapak serta saudari dan saudara yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan semua anggota keluarga dan teman serta sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda semua juga tetap memilih sehat serta  bahagia, karena hidup adalah sebuah pilihan.  Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat serta mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah dianugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Pada Hari Minggu Biasa ke-33 Tahun A dalam kalender Liturgi ini, Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini berbicara tentang kepercayan Allah yang begitu besar kepada umat-Nya (Mat. 25:14-30). Oleh Yesus Allah digambarkan sebagai seorang tuan yang pergi ke luar negri dan mempercayakan hartanya kepada para hambanya untuk dikelola (ay. 14). Satu telenta nilainya sama dengan 10.000 dinar. Satu dinar adalah upah sehari kerja pekerja harian. Satu talenta sama dengan upah 10.000 hari (27,29 tahun) kerja seorang pekerja harian. Jumlah harta yang sangat besar.

Juga dikatakan bahwa masing-masing diberi kepercayaan “menurut kesanggup-annya” (ay. 15). Tuan itu mengenal para hambanya satu per satu dengan sangat baik. Karenanya, ia merasa aman menitipkan hari kekayaannya kepada orang-orang dekat yang ia kenal dengan baik. Ia percaya bahwa mereka akan menjaga dan menjalankan uangnya dengan baik. Ia berharap akan memetik keuntungan baik di luar negri maupun di negrinya sendiri.

Dua hamba yang pertama (yang menerima 5 dan 2 talenta) sejak awal menyadari dan tahu bahwa tuannya sungguh mempercayai mereka. Kesadaran inilah yang membuat mereka berdua berani mengambil risiko mengembangkan harta yang dipercayakan kepada mereka: “…..tuan percayakan kepadaku” (ay. 20; 22). Usaha mereka membuat hati tuan mereka sangat berkenan, sehingga mereka akan mendapat tanggung jawab atas perkara-perkara yang besar karena telah bertanggung jawab dalam perkara-perkara yang kecil (ay. 21a; 23a). Selain itu, mereka juga diajak untuk masuk ke dalam kebahagiaan tuan mereka (ay. 21b; 23b). Maksudnya, mereka akan menjadi anggota rumah tangga tuannya yang merdeka, bukan budak lagi, dan berbagi kekayaan dengan tuannya. Usaha mereka telah membuat mereka menjadi orang merdeka, yang tetap boleh tinggal di rumah tuan mereka dan berbagi kekayaan tuan mereka. Inilah pahala terbesar yang dapat diharapkan oleh seorang hamba (budak).

Sebaliknya, hamba yang menerima 1 talenta menjadi ketakutan (ay. 25) karena mengetahui bahwa tuannya memiliki tuntutan yang sangat tinggi (ay. 24 dan 26). Rasa takut ini membuat dia tidak dapat menerima bahwa tuannya mengetahui  kemampuannya dan memberi kepercayaan kepadanya. Akibatnya, ia kurang punya inisiatip, malas, ragu-ragu, dan tidak berbuat apa-apa. Ia tidak menghasil-kan apa-apa. Ada ironi yang sangat tajam. Di satu pihak, tuan itu sangat mengenal para hambanya dan memberi kepercayaan kepada mereka; di lain pihak, tidak semua hambanya mengenal sang majikan sebaik majikan itu mengenal mereka.

Karena sikap dan perbuatannya, hamba yang menerima 1 talenta itu disebut sebagai hamba yang malas dan jahat (ay. 26). Ia disebut “malas” karena tidak punya inisiatip, malas, ragu-ragu, dan tidak berbuat apa-apa. Ia disebut “jahat” karena dengan keputusannya untuk tidak melakukan apa-apa, ia tidak memberi kemungkinan kepada tuannya untuk berubah. Dengan tindakannya itu, ia menutup pintu bagi tuannya sehingga tuannya tidak dapat menjadi orang lain sebagaimana ia kenal selama ini. Hal ini sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh dua hamba lainnya. Berkat keberanian dan kesetiaan mereka mengembangkan harta tuannya, tuannya bisa berubah menjadi orang yang murah hati dan bahkan mau membebaskan status bawahannya sebagai budak menjadi anggota keluarga, dan mengajak mereka ikut menikmati kekayaannya yang berlimpah.

Penjelasan di atas dapat dimengerti dengan baik, bila kita memahami pandangan para pemimpin Yahudi (dan yang kemudian juga menjadi keyakinan rakyat) mengenai Allah, yang menjadi pendengar perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus saat itu. Pada waktu itu Tuhan Allah diyakini dan dialami sebagai yang menuntut dan akan murka serta menghukum bila umat-Nya tidak mentaati hukum-hukum-Nya. Dengan pandangan seperti itu, Tuhan Allah tidak diberi ruang untuk tampil dengan wajah kebapaan dan keibuan-Nya yang penuh dengan kebaikan dan kemurahan hati. Menghadapi sikap umat seperti ini, Tuhan tetap berani mengambil risiko dengan memberi kesempatan kepada umat-Nya yang dikenal sebagai orang yang tidak dapat diharapkan berbuat banyak, agar mereka berkembang dan berubah.

Kita tahu akhir cerita dari hamba yang menerima 1 talenta tadi. Ia tidak lagi mendapat kepercayaan dari tuannya, tidak menerima apa-apa, dan bahkan tidak lagi diakui sebagai hambanya dan dikeluarkan dari rumahnya. Ia sekarang menjadi mangsa kegelapan dan apa saja yang menakutkan serta membahayakan hidupnya.

Namun ceritanya tidak berhenti di sini. Apa yang dituturkan dalam Injil baru merupakan separo cerita. Yang separo lagi masih harus ditulis dalam kehidupan kita. Kita yang menjadi pendengar dari Injil ini, ditantang untuk menyelesaikan separo jalan cerita tadi. Bayangkan bahwa kita merupakan orang yang menerima kepercayaan untuk mengembangkan 5 atau 2 talenta tadi. Namun kita juga mengenal banyak orang, entah dalam Gereja maupun masyarakat, yang hanya menerima 1 talenta. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan diri, kurang berani untuk berinisiatip, takut gagal, lelah untuk bangkit dari kejatuhan mereka, takut menyalahi gagasan mereka sendiri, dan terkurung dalam pagar keputusasaan. Mereka ini perlu dibesarkan hatinya, dibimbing, didukung, dan diberanikan untuk mengambil risiko sekali lagi. Apakah kita juga merasa tertantang untuk berani mengambil risiko seperti tuan hamba-bamba tadi, sehingga ketika Yesus datang pada akhir zaman, Ia tidak akan menemukan orang yang seperti hamba yang mendapat satu talenta?

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

8 November 2020

Hidup secara Bijaksana


Para Ibu, Bapak, dan Saudara-Saudari yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, teman, serta sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat dan bahagia. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat sekaligus mencecap kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Biasa ke-32 Tahun A dalam kalender liturgi. Bacaan Injil yang digunakan dalam Misa hari ini diambil dari Mat. 25-1-11, yang berbicara tentang “Hal Kerajaan Surga” (ay. 1a), yaitu keadaan pada akhir zaman. Keadaan pada akhir zaman ini pasti akan datang, namun kapan persisnya tidak ada seorang pun, termasuk Anak Manusia (Yesus), yang mengetahuinya. Karenanya, diajarkan kepada kita semua untuk tetap waspada, senantiasa “berjaga-jaga” (ay. 13) seperti dituturkan dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis yang “pergi menyongsong mempelai laki-laki” (ay. 1b).

Sebelum zaman Yesus, dalam masyarakat Yahudi ada kebiasaan bagi seorang gadis yang memasuki usia dewasa ikut merayakan pesta perkawinan salah satu dari antara para teman laki-laki mereka dengan menjadi pengiring. Dengan cara itu, mereka akan menemukan laki-laki yang akan menjadi suami mereka. Merupakan sebuah musibah besar bila seorang gadis yang telah memasuki usia dewasa tidak dapat ikut atau tidak boleh ikut meramaikan pesta perkawinan seperti itu, entah karena tidak punya pakaian, atau berparas buruk, atau tidak dimaui oleh si pengantin. Bila hal itu terjadi, akan sulit baginya untuk menemukan calon suami. Bahkan ada kemungkinan ia tidak pernah akan menemukan calon suami, sehingga hidup akan sendirian untuk seluruh sisa hidupnya. Bila hal itu terjadi, ia akan dimasukkan dalam kelompok “janda” yang hidupnya dirawat dan dikasihani oleh jemaat. Namun demikian, kerap kali mereka juga dijadikan bahan pembicaraan, dicibir, dan dijauhi. Sebuah kehidupan yang sama sekali tidak menyenangkan.

Dalam latar seperti inilah perumpaan tentang sepuluh gadis tadi disampaikan oleh Yesus. Ada lima orang gadis yang mengalami nasib yang mengenaskan—tidak dapat ikut dalam pesta—karena kebodohan mereka sendiri. Mereka teledor tidak membawa cukup bekal sehingga kehilangan kesempatan berharga; bukan hanya tidak dapat mengiringi pengantin laki-laki menjemput pengantin perempuannya, melainkan juga dianggap sebagai orang yang tidak dikenal oleh si pengantin laki-laki.

Sikap lima gadis bijaksana (ay. 4) yang tidak mau memberikan minyaknya kepada lima gadis yang bodoh (ay. 9) tidak perlu ditafsirkan sebagai sikap egois dan pelit. Minyak yang dimaksud adalah “minyak yang menjadi bagian hidup dari orang yang membawanya; minyak yang menghidupkan orang dari dalam dan tidak dapat dibagi dengan orang lain.” Sikap bijaksana atau bodoh akan dinilai dengan “mendengarkan perkataan-Ku dan melaksanakannya” (Mat. 7:24). Orang yang tidak mau mendengarkan dan melaksanakan Sabda Tuhan, namun selalu berseru “Tuhan, Tuhan” akan mendapatkan jawaban “Aku tidak mengenalmu” (Mat. 7:21-23). Seruan yang sia-sia dan jawaban yang sama diperdengarkan kepada lima gadis “bodoh” dan lamban, yang datang menyusul ketika pintu sudah ditutup (Mat. 25:11-12).

Kebodohan kelima gadis tadi adalah sikap kurang mau memberi ruang kepada Sabda Ilahi dalam kehidupan mereka. Sabda Allah belum menjadi bagian dari hidup mereka. Inilah kecerobohan bertindak yang membuat mereka tidak dapat ikut dalam kegembiraan yang mereka harapkan. Sebaliknya, lima gadis yang bijaksana adalah orang yang membiasakan diri untuk mendengarkan Sabda Ilahi dan membiarkan Sabda itu menjadi penuntun hidupnya. Orang seperti ini memiliki ketenangan dan keyakinan bahwa keselamatan yang ditunggu pasti datang. Kapan waktunya, terserah kepada Yang Kuasa. Yang ia lakukan hanyalah mencoba memahami kehendak-Nya dan melaksanakan dalam hidupnya.

Kita hidup di tengah membanjirnya informasi melalui berbagai macam media massa, khususnya media sosial. Akankah semua informasi itu menenggelamkan diri kita, sehingga kita tidak mampu lagi mendengarkan Sabda Ilahi? Ataukah kita masih berani menyisihkan waktu untuk hening sehingga di tengah hiruk-pikuk membanjirnya informasi, kita masih dapat mendengar dan mendengarkan Sabda Allah untuk menjadi pemandu bagi langkah-langkah hidup kita? Kita juga sadar bahwa di tengah Gereja dan masyarakat tidak sedikit anggota yang besikap “bodoh dan lamban.” Menjadi tanggung jawab kita semua untuk membantu mereka agar mereka “menjadi bijaksana” sehingga Sabda Allah menjadi bagian hidup mereka dan pemandu setiap langkah kehidupan mereka. Bila hal itu kita lakukan, kita akan bersama-sama mengalami “akhir zaman” sebagai peristiwa dan pengalaman yang sungguh membahagiakan.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.


Lihat selengkapnya

1 November 2020

Menghayati Kesucian dengan Cara Baru

Para Ibu dan Bapak serta saudara dan saudariku yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua bersama dengan keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik serta tetap memilih sehat dan  bahagia. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat dan menikmat kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita terima selama pekan yang lalu.


Pada perayaan Semua Orang Kudus ini, kalender liturgi menyajikan Injil Mat. 5:1-12a, yang juga sering disebut Sabda Bahagia, sebagai bacaan dalam perayaan Ekaristi. Petikan ini menjadi pembuka dari kumpulan pengajaran Yesus yang terdapat dalam Mat. 5-7. Dalam Injil Matius, terdapat lima rangkaian pengajaran Yesus: (1) Khotbah di Bukit (Mat. 5-7); (2) pedoman hidup bagi para pewarta Kerajaan Surga (Mat. 10); (3) penjelasan mengenai Kerajaan Surga (Mat. 13); (4) pengajaran bagi para murid dalam hidup bersama (Mar. 18); dan (5) uraian di bukit Zaitun tentang kedatangan Kerajaan Surga pada akhir zaman (Mat. 23-25). Lima kelompok pengajaran Yesus ini terkait satu sama lain. Secara singkat, kumpulan yang pertama (Mat 5-7) sebaiknya dilihat dalam hubungannya dengan warta pokok, yakni Kerajaan Surga (Mat 13) dan kenyataannya yang penuh nanti pada akhir zaman (Mat 23-25). Dengan demikian para murid akan siap menghayati pedoman hidup secara orang-perorangan (Mat 10) maupun dalam kebersamaan (Mat 18).


Dalam Mat 5:1-12a didapati delapan Sabda Bahagia yang ditujukan kepada semua orang (ay. 3-10), serta satu Sabda Bahagia yang khusus diucapkan bagi para murid (ay. 11), dan dilanjutkan dengan seruan agar mereka tetap bersuka cita dalam harapan (ay. 12a).
Tiga Sabda Bahagia yang pertama (Mat 5:3-5) menegaskan bahwa orang dapat disebut bahagia karena tumpuan harapan dalam hidupnya ialah Tuhan sendiri. Mereka ini adalah orang yang hidup dalam kebersahajaan (“miskin di hadapan Allah”, ay. 3); orang yang hanya akan dapat terhibur oleh kesadaran bahwa Tuhan tetap berada di dekatnya kendati ia mengalami kesulitan (“berduka cita,” ay. 4); dan tidak berpihak pada kekerasan (“lembah lembut,” ay. 5).
Dua Sabda Bahagia berikutnya (Mat. 5: 6 dan 8) menyebut keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan sebagai hal yang membahagiakan; yakni “lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6) dan mampu berpikir secara jernih, berbudi wening (“suci hatinya,” ay. 8). Orang yang memiliki dua sikap ini tidak akan mudah dipengaruhi dan dibelokkan oleh keinginan-keinginan yang dapat menjauhkan dirinya dari Tuhan.
Dua Sabda Bahagia yang lain (Mat 5: 7 dan 9) menegaskan bahwa upaya menghadirkan Tuhan kepada sesama menjadi kegiatan yang mendatangkan kebahagiaan. Kedua upaya tersebut adalah berbelas kasih (“murah hati,” ay. 7) dan membawa damai (ay. 9). Usaha menghadirkan kebaikan Tuhan bagi sesama muncul dari kesadaran akan perlunya saling mendukung dan sikap pendamai dalam hidup bersama.


Semua orang yang menghayati semua sikap yang telah diuraikan di atas, hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan mengalami banyak kesulitan: dimusuhi (“dianiaya karena kebenaran,” ay. 10), dimusuhi dan dianiaya karena menjadi murid Yesus (ay. 11). Bila semua ini terjadi, orang tidak boleh putus asa, namun tetap perlu berharap akan uluran tangan yang datang dari Tuhan sendiri (“bergembiralah karena upahmu besar di surga,” ay. 12a).


Sabda Bahagia dalam Injil ini menggambarkan apa yang nyata-nyata dialami dan terjadi di antara orang-orang yang hidup mengikuti Yesus. Paus Fransiskus, dalam Surat Imbauan Apostolis, Gaudete et Exultate (GeE) yang diterbitkan dua tahun yang lalu, menyebut Sabda Bahagia sebagai “kartu identitas umat Kristiani” dan menghayati Sabda bahagia merupakan wujud tataran kedua kesucian (GeE. 70). Tataran pertama kesucian dicapai ketika kita melaksanakan tanggung jawab hidup kita sehari-hari dengan penuh tanggung jawab dan semangat cinta (GeE 14).


Sabda Bahagia juga perlu dibaca dan dipahami dengan menengok ke depan, yakni ke pengajaran Yesus mengenai Penghakiman Terakhir dalam Mat 25:31-46. Dalam ayat 35-36 ditegaskan bahwa berbuat baik kepada sesama, khususnya mereka yang miskin dan menderita, berarti berbuat baik kepada Tuhan sendiri.  Yesus mengajarkan supaya orang bisa mengerti bahwa yang dikerjakannya bagi sesama akan dijadikan batu uji masuk surga. Paus Fransiskus melihat kemampuan kita melihat kehadiran Allah dalam diri orang-orang miskin dan menderita, dan bertindak untuk meringankan beban hidup mereka serta meningkatkan kualitas hidup mereka, seperti dilukiskan dalam Mat. 25:31-46, sebagi puncak kesucian (GeE 96).


Semoga perayaan Semua Orang Kudus ini mengingatkan kita bahwa kesucian/kekudusan tidak cukup hanya kita nyatakan dalam kesalehan-kesalehn devosional, melainkan perlu kita wujudkan dalam penghayatan Sabda Bahagia dengan cakrawala pandang Pengadilan Terakhir.


Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya