6 July 2020
Beriman dengan Menghormati Hak Asasi dan Penuh Rasa Syukur
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga Anda semua bersama keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik. Saya baru dapat menyapa Anda semua di penghujung hari ini karena ada beberapa hal yang perlu didahulukan pada pagi dan siang tadi.
Injil yang dibacakan dalam Misa online pada Hari Minggu Biasa ke-14 (Mat. 11:25-30) ditampilkan oleh Matius utk menjawab pertanyaan para pendengar ttg Yesus setelah mereka menyaksikan semua yang dilakukan-Nya.
Dalam Mat. 11:2-6 disampaikan pertanyaan banyak orang, bahkan Yohanes Pemandi sendiri: apakah Yesus itu benar-benar yang dinanti-nantikan oleh banyak orang (ay. 3). Dalam Mat. 11:7-19 disampaikan sikap sepi (tidak peduli) yang dimiliki olh banyak orang terhadap Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus, bahkan mereka menganggap bahwa yang disampaikan oleh Yesus itu hal yang bukan-bukan. Kemudian Matius menceritakan sikap banyak orang di banyak tempat (Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum) yang tidak mau percaya kepada-Nya walaupun sudah menyaksikan semua mukjizat yang Ia lakukan (Mat. 11:20-23).
Menanggapi semuanya itu, apa kata Yesus tentang diri-Nya di hadapan Allah dan bagi orang-orang yang menerima-Nya? Inilah yang disampaikan dalam Injil yang kita dengarkan hari ini.
Dalam ay. 25 dapat kita simpulkan bahwa Yesus benar-benar mengenal Allah yang mengutus diri-Nya, dan yang Ia wartakan melalui perkataan dan semua perbuatan-Nya. Melalui semua yang Ia lakukan--mengusir setan dan roh jahat, menyembuhkan orang sakit, mengajar, mengutus para murid utk melakukan hal2 yang Ia lakukan--adalah utk membantu para pendengar-Nya memahami bahwa Allah yang mengutus-Nya dan yang Ia wartakan adalah Allah yang peduli terhadap berbagai macam persoalan hidup dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Allah seperti itu adalah Allah yang begitu dekat dengan manusia, sehingga Ia sebut sebagai Bapa.
Utk dapat mengenal dan menerima Allah seperti itu tidak cukup hanya mengandalkan pada kebijaksanaan dan kepandaian (ay. 25). Yang dimaksud oleh Yesus mengenai orang-orang bijak dan pandai adalah orang-orang yang dengan cermat dan saleh mentaati perintah-perintah Taurat yang berjumlah 613. Tapi yang sering terjadi adalah mentaati peraturan-peraturan itu sering dimutlakkan sehingga menjadi beban, dan tidak menjadi ungkapan iman yang hidup dan mendatangkan kebahagiaan sejati. Dengan cara seperti itu agama justru menjadi beban (ay. 28) dan bukan jalan mengenal dan menerima kehadiran Allah serta menerima sesama seperti adanya.
Berkebalikan dengan sikap sekedar taat pada peraturan, Yesus mengundang para pendengar-Nya utk memiliki dua sikap. Pertama, "menjadi orang kecil" (ay. 25) artinya menjadi orang yang bersedia melangkah melampaui "ambang batas" pelaksanaan peraturan-paraturan. Mereka perlu memiliki sikap mau hidup dengan menangkap semangat di balik peraturan-peraturan, yakni merawat dan melindungi kehidupan serta hak asasi setiap orang.
Kedua, bersedia memikul beban kehidupan (kuk) (ay. 29) sebagai ucapan syukur dan tanda terima kasih kepada Yesus, yang telah bersedia menjalankan tugas perutusan yang diberikan oleh Bapa-Nya, sehingga Ia rela memikul semua beban kehidupan kita sampai di kayu salib. Sikap syukur dan terima kasih seperti inilah yang akan membawa keselamatan.
Semoga kita dimampukan utk menanggapi undangan Yesus itu.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
30 June 2020
Hidup penuh Kedalaman
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Selamat menikmati kasih Allah yang tidak berkesudahan bersama keluarga, teman dan sahabat, atau seorang diri dalam keheningan.
Bertambahnya usia, tidak dengan sendirinya membuat seseorang menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana.
Kedewasaan dan kebijaksanaan dalam hidup hanya akan diperoleh bila kita berjuang terus-menerus utk memiliki kedalaman rohani dan intelektual.
Kedalaman rohani diperoleh bila kita berani membiarkan diri utk terus-menerus dibentuk dan dicintai oleh Allah, sehingga pola berpikir dan berindak kita sungguh mengalir dari pengalaman cinta dan kerahiman Allah. Akibatnya, seperti dikatakan dalam Injil yang dibacakan dalam Misa online hari ini (Mat. 10:37-42), hidup kita dapat menampakkan kehadiran Yesus dan Allah yang Ia perkenalkan, yakni Allah yang peduli terhadap kehidupan manusia (Mat. 10:40).
Kedalaman intelektual adalah kemampuan yang kita miliki utk memahami realitas kehidupan dalam segala kompleksitasnya, dan mampu mengambil sikap yang tepat untuk menanggapinya, sehingga apapun yang kita lakukan akan menjadi berkat bagi orang yang terkena oleh tindakan kita (Mat. 10:42). Kedalaman itelektual akan kita peroleh bila kita bersedia utk bersahabat dengan keheningan guna merefleksikan pengalaman hidup kita dan hidup orang lain guna belajar dari pengalaman itu. Kedalaman intelektual juga akan kita peroleh bila kita mau keluar dari zona nyaman hidup kita utk menjumpai dan memeluk realitas kehidupan yang tidak jarang diwarnai oleh berbagai macam bentuk kemiskinan, keremukan, dan ketidakadilan.
Ini semua akan terjadi bila kita mau dengan rendah hati meminta bantuan banyak orang dan Allah sendiri. Semoga kita dianugerahi rahmat utk melakukannya.
Teriring salam,
Rm. Madya, S.J.
30 June 2020
Bertindak bijaksana, tulus, dan takwa
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Saya baru dapat menyapa Anda sekarang karena tadi pagi saya mengikuti webinar utk memperingati 450 tahun lahirnya Sto. Aloysius Gonzaga, S.J., pelindung Orang Muda Katolik.
Saya harap Anda semua bersama keluarga, teman dan sahabat, dalam keadaan baik; dan tetap memilih hidup sehat dan bahagia.
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Biasa ke-12 Tahun A (menurut Kalender Liturgi). Bacaan Injil yang dipakai dalam Misa Online pada hari ini adalah Mat. 10:26-33. Untuk memahami pesan Injil hari ini, kita perlu menempatkannya dalam seluruh bab 10, yang berbicara ttg (1) pemilihan 12 rasul (ay. 1-4), (2) pengutusan mereka (ay. 5-15), dan (3) konsekuensi dari pengutusan itu (16-25).
Para rasul diutus utk mewartakan bahwa "Kerajaan Surga sudah dekat" (ay. 7). Tandanya: orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan, orang kusta ditahirkan, setan-setan diusir (ay. 8).
Pewartaan seperti itu tidak selalu akan diterima; tetapi tidak jarang akan ditolak. Bahkan, mereka akan mengalami seperti yang telah dialami olh Yesus sendiri (ay. 24-25), yakni diadili oleh para penguasa agama dan pemimpin masyarakat (ay. 18), dibenci (ay. 22) dan dibunuh (ay. 21).
Dalam menghadapi semuanya itu mereka perlu mengambil dua sikap: (1) bijaksana (cerdik seperti ular - ay. 16), artinya dapat menilai situasi dan bertindak secara tepat (ay. 23); dan (2) memiliki integritas (tulus seperti merpati - ay. 16), artinya mengenalkan siapa Yesus, apa yang ia katakan dan lakukan (ay. 27).
Kalau itu semua dilakukan, mereka tidak perlu "takut" kepada para penolak, penganiaya, dan pembunuh (ay. 26; 28a). Rm. Prof. Dr. Gianto, S.J. menyarankan agar kata "takut" di sini dipahami sebagai "was-was" (dari bahasa Arab), yang berarti "bisikan setan yang bikin bingung, membuat hilang kepercayaan." Sebaliknya, mereka diminta utk "takut kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka" (ay. 28b). Kata "takut" di sini berarti "takwa" (Arab: taqwa), artinya "takut kepada kekuatan Yang Ilahi dengan sikap menghormat, dan mengharapkan kekuatan dari-Nya."
Para rasul diminta utk "mengakui Yesus di depan manusia agar Yesus juga akan mengakui mereka di depan Bapa-Nya di sorga" (ay. 32). Artinya, mereka diminta menerima Yesus (dengan semua yang diwartakan-Nya) tanpa waswas, tidak membiarkan diri dipengaruhi olh bisikan-bisikan jahat mengenai diri-Nya, melainkan menjalankan perutusan (mewartakan bhw Kerajaan Surga sdh dekat) dengan sikap takwa kepada Dia yang mengutus Yesus, yakni Bapa-Nya.
Dalam menghayati iman kita di tengah masyarakat, kita juga diminta oleh Yesus agar kehadiran kita dapat menjadi tanda bahwa "Kerajaan Allah sudah dekat." Bekal yang diberikan oleh Yesus kepada para rasul juga perlu menjadi bekal kita, yakni kebijaksanaan, ketulusan (integritas), dan sikap takwa kepada Allah.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
15 June 2020
Hideup seperti Dia
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu sambil menyadari pemberian diri Allah yang tanpa henti melalui pemberian hidup Yesus, pemberian tubuh dan darah-Nya.
Dalam Misa online utk merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, Injil yang dipilih adalah Yoh. 6:51-53, yang merupakan bagian integral dari Yoh. 6:25-59. Injil Yoh. 6:25-59 berbicara tentang Yesus sebagai roti kehidupan.
Yesus bersabda: "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman" (ay. 54). Kata "daging" dalam Injil Yohanes dipakai utk melukiskan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, namun tidak memiliki sisi-sisi jahat. Karenanya, bila dalam Yoh. 1:14 dikatakan bahwa "Sang Sabda (Firman) sudah menjadi manusia (daging), dan tinggal di antara kita," itu berarti bahwa Allah telah mendatangi dunia manusia dalam wujud manusia biasa, bahkan rapuh. Injil Sinoptik dan Paulus menggunakan kata "tubuh" untuk menjelaskan hal yang sama.
Kata "darah" digunakan utk menyebut tempat nyawa atau kehidupan berada. Dengan menyerahkan nyawa (hidup)-Nya (Yoh. 15:13), bagi banyak orang Yesus juga memberikan hidup-Nya sendiri kepada mereka.
Kehidupan dan pelayanan Yesus berakhir di kayu salib. Wafat-Nya menjadi kurban bagi keselamatan banyak orang. "Daging" (manusia rapuh) yang bergantung di kayu salib, dan "darah" (kehidupan) yang mengucur dari tubuh-Nya menjadi jalan keselamatan. "Makan daging"-Nya dan "minum darah"-Nya (ay. 54) berarti "datang kepada-Nya" (ay. 35), yakni berani mengambil keputusan utk menempuh jalan kehidupan yang telah ditempuh oleh Yesus sendiri. Istilah lain dari "makan tubuh-Ku dan minum darah-Ku" adalah "percaya" (ay. 35, 36, 40).
Dengan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita merayakan Yesus, yang--melalui hidup dan pelayanan-Nya yang berakhir di kayu salib--memberikan seluruh hidup-Nya utk menyelematkan kita dan seluruh ciptaan Allah. Perayaan ini sekaligus mengundang kita utk menerima tubuh dan darah-Nya, artinya menjalani kehidupan kita seperti telah dilakukan oleh Yesus sendiri.
Dengan ditundanya penerimaan Komuni Pertama, karena adanya pandemi covid-19, dapat kita maknai sebagai saat utk menyiapkan diri lebih lama agar semua anak yang akan menerima "komuni" (pemberian diri Yesus secara sakramental = dalam wujud roti dan anggur) serta orangtua mereka, akan lebih siap mengisi hidup mereka seperti telah diteladankan oleh Yesus sendiri.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
7 June 2020
Beriman kepada Allah Tritunggal
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang dan selamat merayakan kasih serta kerahiman Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Semoga Anda semua beserta teman, sahabat, dan keluarga dalam keadaan baik serta selalu memilih utk hidup sehat dan bahagia.
Saya dipermandikan pada 22 Desember 1966, setelah mengikuti "pelajaran agama" selama satu setengah tahun dan lulus ujian yang diberikan oleh pastor paroki saya. Bahan yang paling sulit yang diberikan ketika mengikuti "pelajaran agama" adalah Allah Tritunggal Mahakudus. Untung saya tidak ditanya mengenai hal ini ketika ujian sebelum baptis.
Almarhum Bapak dan Simbok saya tidak seberuntung saya. Dua minggu kemudian ketika mereka diuji oleh pastor yang sama, mereka diminta utk mengucapkan doa Bapa Kami, Salam Maria, Syahadat Singkat dan Syahadat Panjang. Semuanya dapat dilakukan dengan sangat baik. Bahkan Simbok bertanya apakah mereka berdua perlu mendoakan Litani Bunda Maria. Pastor mengatakan tidak perlu, tetapi meminta Simbok utk menjelaskan siapa Allah Tritunggal Mahakudus itu. Setelah diam sejenak, dengan spontanitas yang dimiliki oleh seorang petani yang tidak pernah menikmati pendidikan formal, almahum menjawab: "O allah Rama, mbok sampai mati, kalau saya diminta untuk menjawab pertanyaan itu, saya tidak pernah akan bisa. Tetapi satu hal saya jamin. Kalau Rama memperbolehkan kami dibaptis, hidup kami akan berubah dan menjadi lebih baik, sebab kami sungguh percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus." Mendengar jawaban almarhum Simbok, pastor Belanda yang masih muda dan sangat pandai itu terdiam sejenak, tidak bisa mengatakan apa-apa. Beberapa saat kemudian beliau berkata: "mBok, matur nuwun. Sekarang pulang dan beli pakaian baru. Besok pada 19 Januari 1967 datang ke gereja lagi. Simbok dan Bapak akan saya baptis dan sekaligus perkawinan kalian berdua akan saya teguhkan." Dan benar. Setelah dibaptis, terjadi perubahan sangat besar dalam hidup kedua orangtua saya berkat kepercayaan mereka kepada Allah Tritunggal Mahakudus.
Injil yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi Online utk memperingati Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus pada hari ini (Yoh. 3:16-18) menjelaskan dengan sangat singkat dan padat arti beriman kepada Allah Tritunggal. Intinya, Allah Tritunggal begitu mencintai dunia sehingga Ia mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkannya.
Rm. Gianto, SJ menjelaskan bahwa dahulu (ketika Injil ditulis), manusia memahami dunia sebagai sebuah drama yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Dalam drama tersebut ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai "pengasal" tindakan penyelamatan, Putra sebagai "pelaksana"-nya, dan Roh Kudus berperan utk "melanjutkan"-nya. Ketiga pelaku ini menjalankan peran yang berbeda-beda, namun dengan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia berserta segala isinya.
Pelaku dalam lakon drama tersebut disebut "proposon" (Yunani), atau "persona" (Latin), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai "pribadi." Arti harfiah dari istilah Yunani dan Latin tersebut adalah gambar wajah atau topeng yang dikenakan oleh pemain drama sehingga para penonton langsung menangkap peran apa yang dijalankan oleh pemain tersebut. Gambaran seperti inilah yang dipakai utk menjelaskan karya penyelamatan Allah dalam Injil Yohanes yang kita dengarkan hari ini. Jalan pikirannya adalah, karya penyelamatan itu berasal dari Bapa, dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, serta dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. Dengan kata lain, iman akan Allah Tritunggal ditempatkan dalam hubungannya dengan karya keselamatan Allah.
Apakah "keselamatan" sama dengan "kehidupan kekal" (ay. 15 dan 16), atau sama dengan "Kerajaan Allah" (ay. 3 dan 5)? Bagi orang-orang yang hidup pada zaman Yesus, istilah "kehidupan kekal" memang langsung dipahami sebagai "isi" dari keselamatan. Agama dan iman dapat membawa orang memasuki hidup kekal, artinya membuat orang menemukan diri sebagai makhluk yang berada di hadapan Yang Illahi.
Istilah "Kerajaan Allah" hanya dikenal oleh para murid Yohanes Pembaptis dan para Murid Yesus. Yesus mengajak para murid-Nya dan para pendengar-Nya utk melangkah lebih jauh. Tidak berhenti pada mendapatkan keselamatan dengan memperoleh kehidupan kekal, melainkan memperoleh "kesempurnaan" dengan memasuki Kerajaan Allah. Caranya, lahir kembali dari air dan Roh (ay. 5). Artinya, mengikuti Yesus dan menyerahkan diri utk dibimbing oleh Roh (Kudus). Dengan memasuki Kerajaan Allah, kita belajar mengenali Allah Pencipta sebagai "Bapa," sebagai yang Allah yang sangat dekat dengan manusia, sebagai Allah yang menghendaki hal-hal yang terbaik bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan yang mengajarkan ini semua adalah Putra-Nya sendiri, Yesus Kristus, melalui cara hidup dan pelayanan yang Ia lakukan. Percaya bahwa Allah yang Mahakuasa dapat didekati, dan berada di dekat-Nya berarti ikut serta dalam (masuk ke dalam) Kerajaan-Nya.
Allah yang diperkenalkan oleh Yesus adalah Allah yang penuh kerahiman (ay. 16 dan 17; lih. Kel. 34:6). Para pengikut Yesus, kita semua, dipanggil utk memasuki Kerajaan Allah dan menerima kerahiman Allah, sehingga dapat berjalan terbebas dari kekuatan-kekuatan kegelapan yang mengekang dan mengancam hidup kita. Kekuatan-kekuatan yang mengekang dan mengancam itu tidak hanya berasal dari alam gaib, melainkan juga dari realitas hidup yang sangat nyata, yakni ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, pengangguran, perdagangan manusia, pengrusakan alam ciptaan, dan perkosaan terhadap hak-hak azasi manusia. Orang yang beriman kepada Allah Tritunggal dipanggil utk melakukan perubahan hidup, yakni membalikkan semua keadaan itu. Itulah arti dari hidup merdeka dalam Kerajaan Allah.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
24 May 2020
Merenda Cerita yang Memberi Hidup
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik.
Hari ini sungguh istimewa bagi kita semua. Selain merayakan Hari Minggu Paskah VII Tahun A, kita juga merayakan Hari Raya Id'ul Fitri bersama dengan saudara dan saudari kita, yang beragama Islam. Pada hari ini Paus Fransiskus juga mengajak kita utk merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54 dengan tema "Hidup Menjadi Cerita: Menjahit Kembali yang Putus dan Terbelah."
Injil yang dibacakan dalam Misa online pada hari ini berisi doa Yesus pada malam terakhir sebelum kematian-Nya (Yoh. 17:1-11).
Rm. Gianto, S.J. mengatakan bahwa doa Yesus yang tercantum dalam Injil hari ini memiliki kemiripan dengan Doa Bapa Kami, yang kita kenal yang diambil dari Injil Lukas (11:2-4) dan Matius (6:9-13).
Permohonan Yesus agar Bapa "memuliakan" dirinya supaya Ia dapat "memuliakan" Bapa-Nya (ay. 1-2), mengingatkan kita pada kata-kata "Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah (harfiahnya: dikuduskanlah) Nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu (Luk. 11:2; Mat. 6:9).
Dalam ay. 4-5 Yesus mempersembahkan semua yang telah dilakukan-Nya sebagai pemenuhan dari tugas yang telah diberikan oleh Bapa kapada-Nya. Hal ini senada dengan ungkapan "jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga" (Luk. 11:2; Mat. 6:10).
Dalam ay. 6-11 Yesus memperkenalkan Allah sebagai Bapa, yang berfirman kepada kita lewat Yesus sendiri. Yang dilakukan oleh Yesus itu adalah membawa rezeki hari demi hari yang membuat kita dapat tetap hidup; karena sumber kehidupan kita bukan hanya makanan saja tetapi juga firman Allah. Hal ini sangat erat berkaitan dengan permohonan "berilah kami rejeki pada hari ini" (Luk. 11:3; Mat. 6:11).
Akhirnya, dalam ay. 15 (yang tidak dibacakan pada hari ini) Yesus meminta supaya "Engkau (Bapa) melindungi mereka (para murid) dari yang jahat." Hal ini senada dengan "Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat" (Luk. 11:4; Mat. 6:13).
Dengan doa yang diucapkan pada malam terakhir dalam hidup-Nya ini, Yesus mengungkapkan sikap batin dan sikap hidup-Nya di hadapan Allah, yang sudah lama ia ajarkan kepada para murid-Nya.
Dalam konteks ini, kita akan mendalami perhomohonan Yesus agar Bapa berkenan "mempermuliakan" diri-Nya (ay. 1), agar Ia dapat "mempermuliakan Engkau (Bapa) di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku utk melakukannya" (ay. 4). Yang dimohon oleh Yesus adalah agar Bapa berkenan menyertai diri-Nya pada saat-saat terakhir hidup-Nya. Ia memohon agar tidak dibiarkan sendirian ketika Ia diperlakukan dengan sangat buruk dan sangat keji, dipersalahkan, dan bahkan sampai dihukum mati. Ia memohon agar Bapa menyertai diri-Nya agar dapat menerima semuanya itu dengan setia sampai akhir. Permohonan itu disampaikan oleh Yesus, karena Ia kuatir dan takut kalau Bapa-Nya tidak bisa menerima perlakuan buruk yang dialami oleh Putra tekasih-Nya, Bapa-Nya bisa saja dengan tiba-tiba memutuskan utk mengirrim para malaikat-Nya utk membebaskan putra-Nya dari penderitaan itu (seperti diyakini oleh sekelompok orang dari agama lain). Permohonan itu disampaikan oleh Yesus agar Bapa-Nya membiarkan semuanya itu terjadi sampai tuntas, sampai "sudah terlaksana" di kayu salib (Yoh. 19:3).
Dengan permohonan itu Yesus ingin menunjukkan bahwa Yang Mahakuasa mau mendekati dunia yang masih dikuasai oleh kegelapan (sehingga menolak kedatangan-Nya), utk membawawanya kembali ke jalan yang benar menuju terang yang memberi hidup, dengan pengorbanan apa pun.
Dalam kata-kata Bapa Suci, yang dilakukan oleh Yesus itu adalah merajut sebuah "cerita yang membangun, bukan menghancurkan" dengan "melawan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari karena didorong oleh sebuah kekuatan yang membuat berani, yaitu kekuatan cinta kasih." Yang dilalukan oleh Yesus adalah merenda sebuah cerita utk "menggenapi kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang sama juga merupakan kisah cinta manusia kepada Allah," demikian ucap Paus Fransiskus.
Bapa Suci juga mengatakan bahwa "Kita tidak terlahir lengkap, tetapi kita harus 'ditenun' dan 'disulam' terus-menerus. Kita telah diberi kehidupan sebagai sebuah undangan utk terus menenun 'keajaiban yang luar biasa' dalam diri kita."
Bersama dengan saudara dan saudari kita yang merayakan Hari Raya Id'ul Fritri pada hari ini, dan bersama dengan semua umat-Nya (apapun agama mereka), marilah kita merajut hidup kita sebagai sebuah cerita yang membangun dan membawa kehidupan serta menyelamatkan dengan, seperti dikatakan oleh Bapa Suci, menaruh cinta, belas kasih dan kerahiman, serta kepedulian dan solidaritas dalam setiap tindakan kita setiap hari sampai akhir hayat kita.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.