18 March 2020
Penyembah Allah yang benar
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan tidak dilumpuhkan oleh kepanikan dan ketakutan terhadap virus corona.
Sekali lagi, saya baru bisa menyapa Anda pada penghujung hari karena seharian saya menemani Hari Studi Komunitas Katekis dan Pelayan Pastoral di Pusat Pastoral Yogyakarta.
Di tengah-tengah merajalelanya penggunaan medsos (media sosial), sehingga banyak orang lebih nyaman melakukan LDC (Long Distance Communication) dan bahkan LDR (Long Distance Relationship) dari pada melakukan perjumpaan personal, bacaan Injil hari Minggu Ketiga Masa Prapaskah (Yoh 4:5-42) memberikan pencerahan mengenai makna perjumpaan personal.
Pertama, perjumpaan personal dengan Yesus dapat mengubah sikap hidup. Setelah berjumpa dengan Yesus, hilanglah rasa curiga perempuan Samaria terhadap Yesus sebagai orang Yahudi (ay. 9). Dengan hilangnya rasa curiga itu, ia mampu memperhatikan dan melihat Yesus sebagai nabi (ay. 19) bahkan Mesias (ay. 25-26) yang menjadi "air hidup" (ay. 10) dan "mata air di dalam dirinya" (ay. 14), yang akan membawanya kepada kehidupan kekal (ay. 14). Demikian pula orang-orang Samaria yang tinggal di kota Sikhar, setelah mereka bertemu dengan Yesus berubah sikap dari hanya sekedar ingin tahu (ay. 30) menjadi sangat ramah dan tulus serta meminta Yesus--dan para murid-Nya--utk tinggal di kota mereka (ay. 40). Padahal, orang Yahudi dan orang Samaria saling bermusuhan (ay. 9).
Kedua, Allah--melalui Yesus--selalu ingin menjumpai umat-Nya, khususnya ketika umat-Nya sedang mengalami keadaan hidup yang berantakan, tidak ideal (ay. 16-18). Keadaan hidup kita "yang tidak ideal" tidak perlu menjadi halangan utk menjumpai Tuhan dan menerima "air yang menghidupkan" dari-Nya.
Ketiga, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan, Sang Air Hidup, memampukan perempuan Samaria dan kita semua, utk menceritakan pengalaman itu kepada orang lain dan mengundamg mereka utk berjumpa sendiri dengan Tuhan agar mereka mengalami kebahagiaan seperti yang ia, kita, alami (ay. 28-29).
Keempat, perjumpaan dengan Yesus juga membantu perempuan Samaria (dan kita semua) utk memahami bagaimana menyembah Allah secara benar. Menyembah Allah yang benar, bukan pertama-tama ditentukan oleh tempat tertentu ("gunung ini" atau "Yerusalem") (ay. 20-21), melainkan "menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran" (ay. 23-24). Artinya, menghayati hidup kita dengan membiarkan diri dituntun oleh Roh-Nya, sehingga kita mampu memahami kehendak Allah dan melaksanakannya.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
8 March 2020
Beriman dengan sadar dan penuh perhitungan yang masak
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Ijinkan saya masih menyapa Anda semua sebelum hari berganti. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan segar setelah menikmati hari Tuhan bersama keluarga, teman, sahabat, dan bahkan sendirian.
Bacaan Injil yang digunakan dalam Misa pada Hari Minggu kedua Masa Prapaska hari ini (Mat 17:1-9) mengajak kita utk beriman sacara sadar dan penuh perhitungan yang masak.
Injil hari ini mulai dengan frasa "Enam hari kemudian" (ay. 1). Maksudnya, enam hari setelah Yesus mengatakan kpd para murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21). Itu semua terjadi sebagai konsekuensi dari pilihan hidup-Nya, yang selalu melaksanakan kehendak Allah agar keselamatan Allah dapat dialami oleh semua orang, khususnya oleh mereka yang selama ini disingkirkan oleh komunitas agama dan masyarakat (para pendosa, penderita berbagai macam penyakit, orang-orang miskin, dan kaum perempuan kelas bawah).
Setelah mengatakan itu semua, Ia juga mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya, kita perlu menyangkal diri dan memanggul salib kita (Mat 6:24-26).
Pertanyaannya, tidak rugikah mengurbankan semua utk mengikuti Yesus, yang hidup-Nya akan berakhir dengan hina di palang kayu salib?
Beriman secara dewasa tidak seperti yang sering dikatakan oleh banyak orang, "pasrah bagaikan menerjunkan diri dalam kegelapan, apapun yang akan terjadi." Beriman secara dewasa perlu dilakukan dengan pilihan sadar setelah mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang. Oleh karenanya, kita mesti tahu siapa Yesus yang akan kita ikuti dengan "mengurbankan segala sesuatu" itu. Beriman seperti inilah yang ingin diperkenalkan oleh Matius melalui injilnya yang kita dengarkan pada hari ini.
Matius memperkenalkan Yesus sebagai pribadi yang sangat dekat dengan Allah ("Inilah Anak yang Kukasihi" - ay. 5). Yesus juga diberi kuasa utk bertindak atas Nama Allah ("kepada-Nya aku berkenan" - ay. 5). Karena kedekatannya dengan Allah itulah maka wajah-Nya berpendar, bercahaya (ay. 2), seperti halnya yang dulu terjadi pada Musa setelah ia bertemu dengan Allah di gunung Sinai dan turun membawa loh perintah Tuhan (Kel 34:29 dst.). Melalui cerita ini, Matius memperkenalkan Yesus sebagai Musa baru yang membawakan Sabda Allah di dalam diri-Nya, dalam kehidupan-Nya. Oleh karenanya, Ia pantas kita dengarkan ("dengarkanlah Dia" - ay. 5).
Cara Yesus membawakan Sabda Allah, membawakan "kehadiran yang Ilahi" adalah dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang-orang sezaman-Nya, sehingga tidak menakutkan; yakni dengan melayani kebutuhan orang-orang yang datang kepada-Nya, mencerahkan budi mereka, menyembuhkan, merangkul yang dibuang dan disingkirkan oleh masyarakat dan komunitas agama, dan bersimpati pada orang yang lemah dan yang menanggung beban kehidupan yang begitu berat. Dengan cara seperti ini pulalah kita dipanggil utk menampakkan iman kita akan Yesus di tengah kehidupan dan masyarakat kita.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
1 March 2020
Ketaatan menghasilkan kehidupan dan keselamatan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan dapat menikmati kasih Allah bersama keluarga, teman, sahabat, bahkan dalam kesendirian.
Bacaan-bacaan yang kita dengarkan dalam Misa pada Hari Minggu Pekan Pertama Masa Prapaskah berbicara ttg Allah Sang Pemberi Kehidupan (Kej 2:7) dan kesetiaan yang dituntut dari manusia utk menaati perintah-Nya agar kehidupan yang telah diterima dari Allah itu dapat dirawat (Kej 2:16). Namun manusia (Adam n Hawa) gagal melaksanakan perintah Allah itu (Kej 3:6). Dosa mereka adalah ketidaktaatan terhadap perintah Allah, bukan kesombongan. Akibatnya, meraka mengalami bahwa diri mereka rapuh dan menjauh dari Allah (= "mereka tahu bahwa mereka telanjang", Kej 3:7). Namun mereka tidak mati, karena Allah tetap mengasihi mereka.
Injil (Mat 4:1-11) menampilkan Yesus sebagai "Anak Allah"; artinya pribadi yang sangat dekat dengan Allah dan membiarkan diri dituntun dan dilindungi oleh Roh-Nya (ay. 1: "dibawa oleh Roh). Akibatnya, Yesus mampu mentaati perintah Allah kendati godaan-godaan yang Ia hadapi memiliki kekuatan yang dahsyat.
Godaan pertama datang dari "si pencoba" (ay. 3). Godaan itu mengajak Yesus utk mengurus sendiri semua keperluan hidup-Nya dan tidak memberikan ruang kepada Allah (= mengubah batu menjadi roti). Yesus tetap memilih "penyertaan Roh" daripada menuruti kemauan-Nya sendiri utk mengatasi rasa lapar (ay. 4).
Godaan kedua semakin berat, yakni memaksa Allah utk membuat mukjijat (ay. 5-6). Tapi Yesus tidak meladeni godaan itu. Sebaliknya, Ia membiarkan Roh Allah membantu-Nya utk memahami isi Kitab Suci (Mzm 91:11-12) secara jernih, dan tidak mengikuti tafsir si Iblis.
Godaan ketiga, semakin dahsyat. Yesus akan memperoleh semua kekuasaan dan kemegahan seluruh dunia asalkan Yesus mau menyembah si Setan (ay. 8-9). Si Setan menggoda Yesus utk "memberikan sedikit tempat" baginya, di samping Allah yang selama ini memenuhi seluruh hidup Yesus. Sekali lagi, di bawah penyertaan Roh Allah, Yesus mampu menolak godaan itu dan menempatkan Allah sebagai pusat hidup-Nya yang patut Ia sembah (ay. 11). Karena daya Roh yang menyertai Yesus, Iblis kehabisan akal dan tersingkir dari kehidupan Yesus. Yesus dimampukan oleh Roh Allah utk mentaati kehendak dan perintah Allah, sehingga melalui ketaatan-Nya itu, Ia mendatangkan kesemalatan bagi seluruh umat manusia (Rom 5:19b).
Semoga kita mau meneladan Yesus, membiarkan diri dituntun oleh Roh Allah agar kita dapat mentaati kehendak dan pwrintah-Nya sehingga hidup kita dapat menjadi saluran kehidupan Allah bagi banyak orang.
Teriring salam,
Rm. Madya, S.J.
26 February 2020
Menghargai dan Melindungi Kehidupan
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan disegarkan setelah menikmati kasih Allah sepanjang hari ini. Ijinkan saya menyapa Anda pada penghujung hari Minggu ini.
Bacaan Injil yang kita dengarkan pada hari Minggu Biasa ke-7 ini (Mat 5:38-48) merupakan kelanjutan dari bacaan Injil Minggu yang lalu. Karenanya, semua pesan dalam Injil hari ini juga perlu kita pahami dalam konteks Yesus yang ingin mengajak pendengar-Nya utk memahami "semangat" yang ada di balik semua ajaran-Nya (yang mengacu pada ajaran Taurat) itu. Ada lima hal yang dapat kita petik sebagai sumber perjalanan hidup kita selama sepekan mendatang.
Pertama, ayat 38 yang berbicara ttg "mata ganti mata, gigi ganti gigi." Sabda ini perlu dipahami dalam latar kitab Keluaran 21:22-25 (silakan membacanya). Perintah itu BUKAN ingin menekankan pentingnya melakukan balas dendam, malainkan pentingnya menghargai dan melindungi kehidupan.
Kedua, melalui ay. 29 Yesus ingin mengajarkan betapa jahatnya melakukan penghinaan dan kekerasan. Karenanya, para murid Yesus dilarang melakukan hal itu.
Ketiga, dalam ay. 40-42 diajarkan tentang pentingnya mengembangkan kepekaan terhadap kebutuhan sesama dan melakukan sesuatu utk membantu sesama yang membutuhkan.
Keempat, ay. 43-47 mengajarkan kepada kita bahwa kasih itu tidak boleh dibatasi dalam kelompok (seagama) sendiri. Kasih perlu menembus batas-batas sosial dalam masyarakat.
Kelima, "menjadi sempurna seperti Allah di surga" (ay. 48). Dengan perkataan ini Yesus mengundang para pendengar-Nya utk berani mendekatkan diri pada Allah Bapa, yang (ingin selalu) dekat dengan manusia, yang selalu mengusahakan yang terbaik bagi kehidupan manusia (yang mau menerimanya).
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
Menggenapi Hukum Taurat
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan sedang menikmati hari Minggu utk mencecap kebaikan Tuhan.
Bacaan Injil (Mat 5:17-37) yang kita dengarkan dalam Missa Minggu Biasa ke-6 hari ini nadanya kedengaran keras. Namun kalau kita renungkan secara mendalam, tidaklah demikian. Pesan Injil hari ini dapat kita pahami dengan baik kalau kita memahami bagaimana Taurat dimaknai dan dihidupi oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus.
Bagi orang Yahudi, Taurat adalah semua pengajaran, hukum, dan peraturan yang terdapat dalam lima kitab pertama dalam Alkitab. Taurat mengandung 613 hukum, yang terdiri dari 365 larangan dan 248 keharusan. Hal ini sebenarnya tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan Kitab Hukum Kanonik dalam Gereja Katolik yang terdiri dari 1752 kanon.
Bagi orang Yahudi, hidup saleh berarti melakukan semua keharusan, dan menjauhi semua larangan. Dengan cara itu mereka mendapatkan kesalehan (= menjadi orang saleh). Itulah yang dilakukan oleh para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Yesus mengajak para murid-Nya utk menghayati hidup keagamaan mereka melebihi cara kaum Farisi dan para ahli Taurat menghayatinya (ay. 20). Caranya, bukan dengan "meniadakan hukum Taurat" melainkan dengan "menggenapinya" (ay. 17b). Apa artinya?
"Meniadakan" bukan berarti membuang, tetapi menghayati hidup keagamaan semata-mata dengan mentaati peraturan yang tertulis. Sedangkan "menggenapi" berarti menghayati hidup keagamaan dengan menghayati semangat yang menjiwai peraturan yang tertulis, tanpa melanggar peraturan tertulis tersebut.
Contoh, Taurat mengajarkan bahwa orang yang membunuh (melanggar peraturan) harus dihukum (ay. 21). Yesus mengajarkan agar para murid-Nya hidup bersaudara dengan baik dan menghargai berbagai macam perbedaan; dan tidak berbuat sebaliknya dengan marah, mengkafirkan orang lain, serta menganggap orang lain bodoh/jahil (ay. 22).
Contoh lain, Taurat mengajarkan supaya orang tidak berzinah (secara fisik) (ay. 27). Sementara itu, Yesus mengajarkan agar para muridnya tidak "berzinah dalam hati"; artinya tidak mengembangkan pemikiran dan keinginan utk mempergunakan orang lain semata-mata utk memuaskan kebutuhan dirinya (ay. 28).
Dengan kata lain, kita semua, sebagai para murid Yesus zaman ini, diundang oleh Yesus utk menghayati hidup beragama lebih dari sekedar menjalankan kewajiban dan menghindari larangan. Yesus mengundang kita untuk menemukan kehadiran Yang Illahi bukan hanya dalam upacara-upacara keagamaan, melainkan juga dan terutama di tengah-tengah hidup bermasyarakat. Agar dengan cara ini kita bersama warga masyarakat yang lain dapat membangun hidup bersama yang dilandasi oleh rasa hormat, saling menghargai, dan saling membantu.
Salam, Rm. Madya, S.J.
25 February 2020
KIta ADALAH Garam dan Terang Dunia
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat malam. Sebelum hari berganti, ijinkan saya masih menyapa Anda semua. Semoga Anda dalam keadaan baik.
Dalam bacaan Injil yang dipakai dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa Ke-V pada hari ini (Mat 5:13-16), Yesus mengingatkan kita semua bahwa kita ADALAH garam dunia (ay 13a) dan terang dunia (ay 14a). Panggilan kita adalah menjaga agar hidup kita sebagai garam dunia tidak tawar (ay. 13b) dan sebagai terang dunia tidak redup atau mati (ay. 15).
Bagaimana hal itu dapat kita lakukan? Yesus hanya mengatakan bahwa kita perlu melakukan perbuatan baik supaya orang yang menyaksikan perbuatan baik kita itu akan memuliakan Allah Bapa yang ada di Surga (ay. 16).
Tentang perbuatan baik ini bacaan pertama (Yes 58:7-10) merincinya dengan jelas. Berbuat baik berarti: berbagi makanan dengan mereka yang tidak memiliki sesuatu utk dimakan; memberi tumpangan kepada mereka yang tidak punya tempat utk berteduh; memberi pakaian kpd mereka yang tidak memiliki suatu pun utk melindungi tubuhnya; tidak membuat orang lain memikul beban kehidupan; tidak menilai orang lain secara sewenang-wenang; tidak memfitnah; dan meringankan beban hidup orang yang selama ini ditindas.
Akhirnya, ada sebuah catatan. Kapan Allah kita muliakan? Bagaimana kemuliaan Allah itu terwujud? Pada abad ke-2, Santo Irenaeus mengatakan bahwa kemuliaan Allah itu terwujud bila umat manusia hidup dalam kelimpahan dalam seluruh aspek kehidupannya (bdk. Yoh 10:10b). Pada abad ke-20 ucapan Santo Irenaeus ini dimaknai secara baru oleh almarhum Uskup Oscar Romero dari El Salvador, yang ditembak mati ketika sedang mengangkat sakramen mahakudus yang baru saja ia konsekrasikan. Almarhum mengatakan bahwa Allah sungguh dimuliakan ketika orang-orang miskin dapat hidup dalam kelimpahan dalam seluruh aspek kehidupan mereka.
Inilah panggilan kita sebagai garam dan terang dunia. Saling mendoakan agar kita dimampukan oleh Roh Kudus utk mewujudkan panggilan ini
Salam, Rm. Madya, S.J.