21 May 2020
Mempersaksikan Yesus yang Sudah Bangkit dan Mulia di Surga
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda bersama keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik serta tetap memilih sehat dan bahagia.
Hari ini Gereja mengajak kita semua utk merayakan Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga (Mat. 28:16-20). Melalui perayaan ini, kita "menyembah" Yesus bersama para murid (Mat 28:17), dan bersama para murid perempuan mengalami serta menemui Yesus yang sdh bangkit (Mat 28:9).
"Menyembah" artinya mengakui kebesaran, kuasa, dan kemuliaan yang telah diterima oleh Yesus dari Bapa-Nya (Mat 28:18). Kepekaan dan kesediaan kita utk "menyembah" akan memberikan hidup yang baru kepada kita, yakni hidup yang dialami oleh Yesus setelah kebangkitan-Nya.
Dengan naik ke surga, Yesus memasuki kemuliaan-Nya, sekaligus kehadiran-Nya di bumi menjadi kurang nampak. Namun, kita yang mau "menyembah"-Nya akan dimampukan utk melihat-Nya dan bahkan membuat kehadiran-Nya dapat dilihat oleh banyak orang lain. Kita, dan siapa saja, dengan mau "menyembah-Nya" akan dijadikan tempat bagi kehadiran Yesus yang telah bangkit, dan bahkan dapat menampakkan kuasa-Nya di bumi. Dengan kata lain, kita diutus untuk membuat kebangkitan Yesus dapat dimengerti oleh siapa saja.
Perutusan utk membantu semua orang agar dapat mengerti makna kebangkitan Yesus, dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, menjadikan (baca: memperlakukan) semua bangsa sebagai murid Yesus (Mat 28: 19). Artinya, semua murid (yang sdh lama mengenal Yesus) dan yang baru (dari semua bangsa) bersama-sama "menyembah" Yesus.
Kedua, dengan membaptis (Mat 28:19). Artinya, membuat orang dapat semakin berbagi kehidupan dengan Yesus yang telah bangkit dan yang telah menerima kemuliaan Allah, serta mereka "sembah."
Ketiga, mengajari mereka melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Yesus (Mat. 28:20). Yang diajarkan oleh Yesus melalui cara hidup-Nya adalah sebuah cara hidup dalam bermasyarakat yang (1) bebas dari sekat-sekat berdasarkan status sosial, (2) dilandasi oleh kepedulian terhadap satu sama lain seperti terhadap saudara kandung yang lahir dari rahim Allah, dan (3) memiliki kepedulian khusus terhadap warga masyarakat yang miskin dan tersingkir karena dari kekuatan mereka sendiri mereka tidak mampu utk mendapatkan sarana-sarana guna mencukupi kebutuhan dasar hidup mereka serta membangun hidup yang layak dan bermartabat.
Sekarang kita hidup dalam tenggang waktu antara kenaikan Yesus ke surga dan kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman. Apa yang perlu kita lakukan agar kita semakin mengenali dan mengakui kehadiran-Nya (baca: "menyembah-Nya)? Apa yang perlu kita lakukan--khususnya pada masa sangat sulit dan sangat tidak menentu akibat wabah virus corona ini--agar banyak orang dapat mengalami bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati dan naik ke surga, sungguh memberikan hidup yang baru bagi mereka, sehingga mereka tidak kehilangan semangat dan harapan, melainkan tetap peduli terhadap hidup mereka sendiri dan hidup orang lain?
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
17 May 2020
Mengasihi agar Memahami Perintah-Nya
Para Ibu dan Bapak yang baik. Selamat siang dan selamat menikmati Hari Minggu. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman, dan sahabat, dalam keadaan baik, tetap sehat, dan memilih bahagia.
Injil yang dibacakan dalam Minggu Paskah VI yang dirayakan secara online pada hari ini (Yoh. 14:15-21) merupakan bagian kedua dari "pesan terakhir" Yesus kepada para murid-Nya sebelum kematian-Nya.
Gagasan pokok dari Injil hari ini adalah "mengasihi Aku (Yesus)" (ay. 15). Kata "mengasihi" yang dipakai dalam ayat ini perlu dipahami dalam latar kehidupan umat dalam Perjanjian Lama. Umat (Israel) dipilih, dikasihi, dilindungi, dan dipedulikan oleh Allah; sekaligus mereka juga diharapkan selalu setia kepada Allah dan memberikan tempat kepada Allah dalam hidup mereka. Dengan latar pemahaman ini, ayat 15 bukan dimaksudkan agar para murid membuktikan kasih mereka kepada Yesus dengan melakukan perintah-Nya. Kalimat itu justru ingin menandaskan bahwa dengan mengasihi Yesus, kita akan semakin memahami perintah-perintah-Nya.
Mengasihi Yesus berarti membiarkan diri utk dijaga, dilindungi, dan dipedulikan oleh Yesus. Dari pengalaman ini, kita akan terdorong utk mengakui kebesaran-Nya dan memberikan tempat kepada-Nya dalam hidup kita.
Yang dimaksud dengan "perintah-Ku" (ay. 15 dan 21) adalah kekuatan-kekuatan yang muncul dari relasi personal kita dengan Yesus dan yang mendorong kita untuk bertindak. Bertindak dengan menuruti perintah Yesus berarti bertindak dengan dijawai oleh kehadiran Yesus dalam diri kita, sehingga segala perilaku dan tindakan kita akan dilihat dan dialami oleh orang banyak sebagai menghadirkan kembali tindakan-tindakan Yesus sendiri. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian akan kehadiran Yesus.
Penginjil Yohanes melihat bahwa para murid Yesus akan memasuki "dunia"--yakni tempat kediaman manusia-- yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan (ay. 17). Agar para murid tidak hancur, mereka tidak dibiarkan sendirian seperti yatim piatu (ay. 18). Yesus meminta Bapa utk mengutus Penolong guna menyertai para murid (ay. 16). Rm. Gianto, S.J. menjelaskan bahwa Penolong (Yunani: parakletos) adalah "dia yang selalu siap dipanggil utk membantu, memberi uluran tangan di saat-saat gelap, menuntun (ketika kita berada) di jalan yang licin." Penolong akan menunjukkan jalan ke pegangan yang sesungguhnya, yang dapat dipercaya, yang bukan tipuan dan mencelakakan (yakni Yesus sendiri). Karenanya, Penolong disebut sebagai Roh Kebenaran (ay. 17).
Kehadiran Penolong dapat kita rasakan dalam batin kita, dalam kepekaan hati nurani, sehingga kita mampu membedakan yang benar dari yang salah, dan memilih yang benar untuk kita lakukan.
Dengan menerima Sang Penolong, kita diutus untuk memasuki dan berdialog dengan dunia, tempat tinggal manusia dan bahkan manusia itu sendiri, agar mereka dapat mengenali kembali kehadiran Allah dalam hidup mereka.
Dalam suasana pandemi covid-19 yang berkepanjangan ini, banyak orang (khususnya mereka yang tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka untuk makan dan minum) mulai merasakan kehadiran Allah menjadi jauh dan tidak dapat dirasakan lagi. Akibatnya, tidak sedikit yang mulai putus asa. Dalam situasi seperti ini, apakah perintah Yesus "Kamu harus memberi mereka makan" (Mrk. 6:37) bergema kembali dalam batin kita? Tindakan lain apa lagi yang perlu kita buat, agar kita semua dan sesama kita dapat "hidup berdamai" dengan covid-19 dan tetap selamat? Tindakan-tindakan konkret apa yang perlu kita lakukan agar kehadiran Allah dalam Yesus dapat dirasakan kembali oleh orang-orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita saat ini?
Teririring salam, Rm. Madya, S.J.
12 May 2020
Melakukan Hal-Hal yang Lebih Besar
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Karena ada beberapa hal penting dan mendesak yang perlu saya lakukan tadi pagi, saya baru dapat menyapa Anda sekarang.
Kisah dalam Injil yang dibacakan dalam Misa Minggu Paskah V secara online hari ini (Yoh. 14:1-14) merupakan bagian dari serangkaian peristiwa yang terjadi pada malam terakhir hidup-Nya, sebelum Yesus ditangkap, disiksa, dan dibunuh dengan sangat kejam.
Para murid merasa sangat cemas dan takut setelah mendengar bahwa Yesus akan segera meninggalkan mereka dan para murid tidak mungkin mendatangi tempat ke mana Yesus pergi (Yoh. 13:33).
Pengalaman ditinggalkan di luar dan tidak ada yang mengurusi, merupakan pengalaman yang paling mengerikan utk orang zaman itu. Dalam keadaan seperti itu, orang merasa seperti berada "di luar pintu gerbang kota" sehingga mudah dimangsa oleh penyamun atau binatang liar (ingat Injil Minggu yang lalu). Dengan latar inilah Injil Yohanes berbicara tentang tempat yang paling aman, yakni kediaman (rumah) Bapa sendiri. Di tempat itu Allah berkuasa, dan tidak ada lagi kekuatan yang dapat mengganggu siapa pun yang dekat dengan-Nya. Di tempat itu semua akan mengalami ketentraman, mendapat perlindungan, dan tidak merasa ditinggalkan. Ke tempat itulah Yesus akan pergi utk menyiapkan tempat bagi para murid-Nya serta bagi siapa saja yang mau, dan Ia akan menjemput mereka kelak. (Yoh. 14:2).
Untuk sampai ke "tempat (Rumah Bapa) itu" kita semua perlu melewati sebuah jalan. Injil hari ini menunjukkan bahwa "jalan" itu adalah Yesus sendiri, yang sekaligus juga merupakan "kebenaran", dan "hidup" (ay. 6). Yesus adalah "jalan" (menuju Bapa) karena melalui cara hidup-Nya Ia memperkenalkan (mewahyukan) Allah sebagai Bapa; yakni Allah yang peduli terhadap pergulatan hidup manusia dan sangat dekat dengan para pendosa agar dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada mereka. Yesus adalah "kebenaran", artinya, melalui sikap dan cara hidup-Nya, kehadiran Allah sebagai Bapa dapat dialami oleh semua orang yang berjumpa dengan-Nya serta mempercayai-Nya. Yesus juga diperkenalkan sebagai "hidup," maksudnya, melalui cara hidup-Nya Yesus berbagi kehidupan Allah yang mahakuasa sendiri kepada semua orang yang menjumpai-Nya dan mempercayai-Nya.
Dalam ayat 12 dikatakan bahwa siapa pun yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Ia lalukan, bahkan "pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar." Yang dimaksud BUKAN membuat mukjijat-mukjijat, melakukan penyembuhan berbagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter, atau membuat tanda-tanda yang mengakibatkan orang kagum dan takluk kepadanya. Yang dimaksud dengan "pekerjaan lebih besar" adalah cara hidup pribadi maupun hidup bersama sebagai komunitas beriman, yang dapat mempersaksikan iman kepercayaannya kepada Bapa yang hadir dalam diri Yesus (ay. 9-11).
Secara konkret "melakukan pekerjaan lebih besar" itu dicontohkan oleh Jemaat Kristiani Perdana seperti dikisahkan dalam Bacaan Pertama (Kis. 6:1-7). Dalam kisah itu ada dua macam pelayanan yang sejak awal dilakukan oleh Gereja; yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Kedua pelayanan tersebut adalah "pelayanan sosial" untuk menghadirkan kemurahan hati Allah yang mahakuasa dan sangat peduli terhadap manusia (ay. 1b dan 2b), dan sekaligus "doa dan pelayanan Firman" (ay. 4b) guna membantu orang agar dapat mempercayai Allah yang sangat dekat dan peduli kepada manusia, yang diperkenalkan oleh Yesus sebagai Bapa.
Sekedar catatan. Paus Fransiskus menandaskan bahwa "pelayanan sosial" tidak cukup hanya dilakukan dengan tindakan-tindakan amal-karitatif (Laudato Si' 128), melainkan dengan mewujudkan solidaritas. Yang dimaksudkan dengan solidaritas adalah: memfasilitasi dan memastikan bahwa setiap orang/anggota masyarakat dapat memperoleh (1) makanan yang bermartabat (sehat dan bergizi), (2) layanan pendidikan yang baik, (3) layanan kesehatan yang memadai, dan (4) pekerjaan dengan upah yang adil (Evangelii Gaudium 192).
Merefleksikan ini semua, menjadi pengikut dan murid Yesus, sungguh sangat menarik dan menggairahkan bukan hanya selama pandemi covid-19 ini melainkan juga sepanjang masa.
Salam, Rm. Madya.
3 May 2020
Memilih Sehat dan Bahagia
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, sahabat, dan teman dalam keadaan baik. Meskipun kita belum bisa melakukan aktivitas di luar rumah secara leluasa, semoga kita tetap berani memilih hidup sehat dan bahagia.
Pilihan ini bukannya tanpa alasan. Pilihan tersebut dilandasi oleh iman kita akan Yesus Kristus yang telah dibangkitkan oleh Allah dari kematian-Nya. Injil yang dibacakan dalam Misa Hari Minggu IV Paskah (Yoh. 10: 1-10) memperkenalkan Yesus yang kita imani sebagai pintu dan sekaligus gembala.
Untuk memahami makna perumpaan ini, kita perlu mengerti arti pintu pada zaman itu. Pintu mengacu pada dua arti. Pertama, pintu sebagai jalan keluar masuk yang resmi. Kedua, pintu mengacu pada pintu gerbang kota tempat orang berkumpul membicarakan persoalan-persoalan penting karena di situ para tetua kota berkumpul (Ul. 21:19; 25:7; Am. 31:23); semacam tempat digelarnya pengadilan (Mzm. 69:13; 127:5; Ayb. 31:21; Am. 5:10); atau tempat orang mengadakan kontrak dan perjanjian dengan saksi yang sah (Kej. 23:10; Rut 4:1). Di pintu gerbang kota itulah orang berharap memperoleh perlindungan dan keadilan.
Dengan menggambarkan Yesus sebagai pintu, ingin dikatakan dua hal. Pertama, sebelum Yesus datang ke dunia, umat manusia ibarat kawanan domba yang berada di padang terbuka tanpa pelindung apa-apa, sehingga mudah menjadi mangsa para pencuri dan pembunuh. Kedua, dengan kedatangan Yesus, sebagai pintu, ancaman para pencuri dan pembunuh itu sdh berakhir, karena umat manusia sdh memiliki pelindung, yakni Yesus sendiri.
Yesus juga digambarkan sebagai gembala. Pada zaman itu, pemimpin, raja, dan bahkan Allah sering digambarkan sebagai gembala (bdk. Yes 34) yang melindungi dan menjamin kesejahteraan hidup orang-orang yang dipimpinnya.
Dengan memakai gambaran gembala dan sekaligus pintu, ingin dikatakan bahwa Yesus adalah pemimpin baik yang datang membawa keadilan, perlindungan, dan kesejahteraan bahi umat yang menantikan-Nya (ay. 10b).
Pada masa yang sulit akibat pandemi covid-19 ini, kita diharapkan tetap optimis karena tahu bahwa Yesus yang kita imani selalu melindungi kita dan akan membawa kita ke dalam kehidupan yang lebih baik. Ia memperhatikan kita secara personal. Optimisme iman ini, kita tunjukkan dengan melakukan berbagai macam tindakan yang bermakna bagi diri sendiri dan sesama; misalnya, membangun relasi dengan anggota keluarga menjadi lebih dalam dan personal; lebih memperhatikan kebutuhan karyawan; menyiapkan dan menyampaikan bahan kuliah online secara bermutu, kreatif, dan inovatif; berbagi dari kekurangan kita dengan tetangga yang kehilangan pekerjaan agar mereka dapat sekedar makan; menggerakkan anggota masyarakat utk membantu menyediakan peralatan medis yang dibutuhkan oleh para dokter, perawat, dan tenaga medis yang merawat para pasien yang terpapar virus corona; membuat atau mencarikan masker bagi mereka yang membutuhkannya, namun tidak dapat membelinya, dst;...dan jangan lupa: merawat kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Saya yakin Anda telah melakukan ini semua. Mari kita lanjutkan hal itu sampai pamdemi covid-19 ini berakhir, agar kehadiran Kristus, sang gembala dan pintu, dapat semakin kita rasakan dan juga semakin dirasakan oleh semakin banyak orang.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
26 April 2020
Mengoreksi Pemahaman dan Gambaran yang Keliru tentang Yesus dan Allah
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda berserta keluarga, para sahabat, dan para teman dalam keadaan baik. Semoga Anda semua tetap merasakan kehadiran Allah dalam hidup Anda meskipun sudah hampir sebulan mengikuti Perayaan Ekaristi online.
Barangkali kita, saya dan Anda, pernah memiliki pengalaman yang sangat mengecewakan dan bahkan menyakitkan. Hal itu disebabkan oleh gambaran dan pemikiran kita tentang Allah dan Yesus Kristus yang tidak sesuai dengan apa yang kita alami. Kita mengira bahwa Allah yang mahakuasa itu akan mencegah hal-hal yang buruk terjadi pada diri kita. E, tahunya orang yang paling dekat dengan kita malah kena CA (kangker). Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa pemikiran dan gambaran kita tentang Allah dan Yesus Kristus ternyata tidak selalu cocok dengan pengalaman yang terjadi dalam hidup kita. Kalau hal seperti itu terjadi, tidak jarang iman kita kepada Allah mulai goyah.
Kita tidak sendirian. Para murid Yesus juga pernah mengalami hal yang serupa seperti dituturkan dalam Injil yang dibacakan dalam Hari Minggu Paska Ketiga hari ini (Luk 24: 13-35). Mari kita ikuti perjalanan kedua murid itu, agar iman kita dimurnikan dan diteguhkan. Ada enam hal perlu kita perhatikan, agar kita dapat memetik manfaat dari kisah Injil ini.
Pertama, kampung Emaus (ay. 13). Kerapkali kampung ini disamakan dengan Emaus dalam 1Mak 3:40-57; 4:3; 9:50, sebuah tempat di mana Yudas Makabe berhasil mengalahkan kekuasaan asing pada tahun 166 sebelum Masehi. Kejadian ini semakin menyuburkan harapan akan Mesias yang akan membangun kembali kejayaan Israel di masa lampau melalui kekuatan politik. Harapan seperti ini juga kuat pada masa Yesus hidup dan melakukan pelayanan-Nya. Bahkan semakin banyak orang Israel termasuk para murid-Nya yang menganggap bahwa Yesus adalah Mesias politik semacam itu. Namun Emaus tempat Yudas Makabe letaknya sekitar 30 km sebelah barat laut Yerusalem, sementara Emaus dalam kisah injil hari ini hanya 7 km dari Yerusalem. Dengan cara bertutur seperti ini, Lukas tidak ingin berbicara mengenai tempat geografis. Dengan menggunakan nama Emaus, Lukas ingin memunculkan asosiasi antara tempat mulai bertumbuh suburnya gagasan tentang Mesias Politik dan kenyataan bahwa tumpuan harapan (akan Mesias Politik) itu sudah musnah karena orang itu (Yesus yang dianggap sebagai Mesias Politik) sdh dihukum mati di kayu salib (ay. 19-21). Dengan cara berkisah seperti ini, diharapkan para pembaca kisah ini (kita semua) memahami bahwa "perjalanan ke Emaus" adalah sebuah perjalanan batin utk menyadari pelbagai distorsi/kekeliruan dalam benak kita masing-masing tentang Yesus Kristus dan tentang Allah. Sebuah distorsi/kekeliruan yang sering membuat kita menjadi kecewa dan putus asa.
Kedua, hanya satu dari kedua murid yang disebutkan namanya: Kleopas (ay. 18). Ini cara Lukas utk mengikutsertakan kita (sebagai murid yang tidak disebut namanya) utk terlibat dalam kisah ini. Lukas mempertemukan kita dengan sang musafir. Kita diajak utk menceritakan pemikiran, gambaran, dan pengalaman kita tentang Yesus Kristus dan tentang Allah kepada Yesus sendiri. Ia mendengarkan dan menemani perjalanan hidup kita, termasuk berbagai macam kekecewaan batin yang berasal dari gambaran kita yang keliru ttg Yesus dan Allah.
Ketiga, ungkapan "Hai kamu orang yang bodoh...dst." (ay. 25) merupakan cara berdiskusi di kalangan para cendikia zaman itu. Ungkapan seperti itu merupakan undangan utk memikirkan kembali pokok pembicaraan yang diyakini, guna menemukan penjelasan yang lebih lengkap dan memuaskan sehingga diperoleh pemahaman baru. Dalam kisah ini, para murid diajak utk mengkaji ulang pemahaman mereka ttg Mesias Politik, sehingga mereka sampai pada kesadaran bahwa pemahaman seperti itu keliru, krn Mesias yang sesungguhnya memang harus menderita dan mati seperti telah dikatakan-Nya sendiri sampai tiga kali (bdk. Luk. 9:22; 9:43b-45; dan 18:31-34); dan hal ini sesuai dengan yang telah dinubuatkan dalam "kitab-kitab Musa sampai segala kitab nabi-nabi" (ay. 27).
Keempat, "hati kita berkobar-kobar" (ay. 32). Yang biasa "berkobar-kobar" adalah api utk menerangi kegelapan dan memiliki daya utk memurnikan logam campuran. Dengan ungkapan itu ingin dikatakan bahwa "hati" (artinya: pikiran) para murid, dan kita semua, yang tadinya gelap menjadi terang menyala-nyala, yang tadinya bercammpur baur kini dimurnikan. Hal itu terjadi setelah mereka, kita semua, melakukan perjalanan batin ditemani oleh Yesus yang telah bangkit.
Kelima, para murid mengenali Yesus "ketika Ia memecah-mecah roti" (ay. 30-31). Pada saat itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa "orang itu" sama dengan "dia" (Yesus) yang dalam Perjamuan Malam Terakhir mengatakan bahwa tidak akan makan dan minum lagi sampai Kerajaan Allah datang dengan sepenuhnya (Luk 22:16, 18). Mereka berdua mengalami bahwa Yang Ilahi bisa benar-benar hadir di tengah-tengah manusia. Artinya, mereka yang percaya bahwa Yesus telah bangkit juga akan mempercayai kehadiran-Nya di tengah-tengah kehidupan mereka. Kehadiran-Nya di tengah-tengah kehidupan itulah yang memberikan harapan baru dan wajah baru bagi kemanusiaan.
Keenam, ketika kedua murid menyadari siapa orang yang mereka undang memasuki rumah mereka di Emaus (baca: kehidupan mereka), Yesus lenyap dari tengah-tengah mereka (ay. 31). Kehadiran-Nya tidak dapat mereka kukuhi bagi kepentingan mereka sendiri. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit, bukanlah pengalaman yang menggumpal ke dalam sehingga bisa kita nikmati bagi diri sendiri. Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit merupakan sumber kekuatan yang mendorong kita utk menceritakannya kepada banyak orang melalui tindakan konkret, sehingga kehadiran Allah semakin nampak dan dapat dirasakan orang banyak serta semakin memberikan harapan kepada mereka.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
19 April 2020
Memaknai Kebangkitan Yesus
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Selamat merayakan hari Minggu Kerahiman Ilahi. Semoga Anda beserta keluarga, teman, dan sahabat dalam keadaan baik.
Pada hari Minggu Paskah II, yang pada 30 April 2000 oleh Paus Yohanes Paulus II dinyatakan sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi, kita diajak utk merenungkan arti kebangkitan melalui Injil Yohanes 20: 19-31.
Dalam Injil Yohanes, kebangkitan diwartakan utk menjelaskan mengapa Yesus yang mati di kayu salib dan baru saja dimakamkan itu, ternyata tidak lagi ditemukan di makam, bagaimana para murid tidak lagi merasa kehilangan Dia, bahkan merasakan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka.
Ada enam hal yang bisa kita petik dari kisah dalam Injil hari ini utk kehidupan kita.
Pertama, pembicaraan tentang luka (ay. 20, 25, dan 27) dimaksudkan utk menegaskan bahwa Yesus yang menampakkan diri itu sama dengan Yesus yang dibunuh di kayu salib. Yang datang di tengah-tengah mereka bukan bayang-bayang atau sekedar ingatan mereka.
Kedua, Yesus memberi salam damai dan menghembusi mereka dengan Roh (ay. 21-22; 26). Dengan tindakan-Nya itu, Yesus berbagi kedidupan baru-Nya kepada para murid dan mengubah ketakutan menjadi kedamaian, dan keterkungkungan menjadi penuh daya hidup dalam diri mereka.
Ketiga, seruan Tomas: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (ay. 28), menyatakan saat ketika mata batin Tomas terbuka, sehingga ketika ia melihat Yesus yang telah bangkit, ia mengenali kehadiran Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi, yang mengutus Yesus ke dunia ini (bdk. Yoh 8:19; 14:7, 9-11).
Keempat, undangan Yesus kepada Tomas utk mencucukkan jarinya ke dalam luka di tangan-Nya dan tangan ke dalam lambung-Nya (ay 27), menyatakan bahwa Yesus yang telah bangkit itu begitu menghormati kemerdekaan Tomas, dan kita semua. Yesus yang telah bangkit mempercayakan diri kepada Tomas dan kita semua agar kehadiran-Nya dikenali dalam hidup Tomas dan dalam hidup kita. Kita yang harus memutuskan utk mengenali atau tidak mengenali kehadiran-Nya dalam hidup kita.
Kelima, kata "melihat" memiliki arti khusus dalam Injil Yohanes (ay. 25, 27; bdk. Kisah orang buta sejak lahir yang disembuhkan olh Yesus - Yoh 9: 1-41). Melihat dapat berkembang menjadi pengenalan batin dan membuat orang menerima kebenaran serts menjadi percaya. Utk sampai pada proses dan tahapan ini, orang memang perlu bantuan dari "yang dipercaya" (Yesus sendiri) atau kesaksian dari orang lain yang sudah memiliki kepercayaan kepada Yesus.
Keenam, setelah menerima kekuatan Roh-Nya para murid diutus utk mewujudkan iman kepercayaan mereka, yakni membantu orang lain utk menerima kehadiran Yesus, Sang Pembawa kehidupan Allah di tengah-tengah mereka. Hal ini diungkapkan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami pada zaman itu, yakni "mengampuni dosa" atau "menyatakan dosa tetap ada" (ay. 23). Yang dimaksud dengan DOSA alah tindakan menolak Dia (Yesus) yang hadir di tengah-tengah manusia dan membawakan kehadiran Allah di tengah-tengah manusia.
Secara singkat, merayakan kebangkitan Yesus pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, berarti menjadi makhluk yang mau mengalami dan mengenali kehadiran Allah Yang Mahakuasa sebagai Allah yang penuh kerahiman dan berbagi kerahiman ini kepada sesama, khususnya mereka yang hidupnya tertindih oleh beban berat.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.