Bilik Perjumpaan

Renungan Mingguan

11 April 2020

Kembali ke "Galilea Kehidupan"

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua dalam keadaan baik. Dalam suasana hening pada Sabtu sepi ini, marilah kita mempersiapkan diri utk merayakan kebangkitan Tuhan dengan merasa-rasakan apa yang dituturkan oleh keempat Injil (Mat. 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12; dan Yoh 20:1-10).

Meskipun cara bertutur mereka berbeda-beda, namun semuanya menyampaikan pesan yang sama. Pesan mereka memuat dua hal pokok, yang melandasi munculnya kepercayaan bahwa Yesus telah (di)bangkit(kan) dari kematian, yaitu (1) makam yang kosong, dan (2) keyakinan para murid (perempuan dan laki-laki) yang sangat dekat dengan Yesus bahwa Ia  sudah tidak berada di antara orang-orang mati.

Dengan latar dua pokok tersebut, Injil yang akan kita dengarkan dalam Misa nanti malam (Mat 28:10) menekankan tiga hal.

Pertama, Yesus kini sungguh hidup (ay. 6).

Kedua, para murid yang kini tercerai-berai dan bersembunyi dalam suasana ketakutan diundang utk berkumpul kembali di Galilea utk mengawali hidup secara baru (ay. 7 dan 10).

Ketiga, melalui para murid perempuan, para murid laki-laki yang terpisah-pisah dapat dikumpulkan kembali. Para murid perempuan menjadi penghubung dan menunjukkan jalan kepada para murid laki-laki utk bertemu dengan Yesus yang telah bangkit (ay. 8 dan 10).

Mengapa para murid perlu  "berkumpul kembali di Galilea?" Galilea adalah tempat para murid dikumpulkan oleh Yesus utk meninggalkan "cara hidup lama" dan memulai "cara hidup baru."

"Cara hidup lama" ditandai dengan keyakinan bahwa Allah adalah Allah yang jauh, tidak peduli terhadap pergulatan hidup manusia, dan suka menghukum orang-orang berdosa. Keyakinan akan Allah seperti itu juga mendorong orang utk hanya memperhatikan kepentingan dan  keselamatannya sendiri dan membangun hidup bermasyarakat dengan sekat-sekat berdasarkan status sosial. Akibatnya,  orang jelata ditempatkan pada tataran paling bawah dan diyakini tidak mendapatkan keselamatan dari Allah.

"Cara hidup baru" yang dibangun oleh Yesus dimulai dengan mengumpulkan para murid-Nya adalah cara hidup yang berkebalikan dengan "cara hidup lama" yang sudah dipaparkan di atas. Para murid diundang utk mengalami bahwa Allah begitu dekat dengan manusia, peduli terhadap penderitaan dan pergumulan hidup manusia, dan sangat mencintai orang-orang berdosa agar mereka memperbaiki diri dan selamat. Iman kepada Allah semacam ini memiliki konsekuensi dalam hidup bersama. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya utk membangun hidup bersama yang dilandasi oleh kepedulian  dan solidaritas, rasa hormat terhadap martabat sesama, melibatkan semua dalam menentukan hidup bersama (kesetaraan), dan tidak membuat sekat-sekat berdasarkan status sosial. Cara hidup baru yang belum benar-benar kokoh ini, menjadi berantakan dengan peristiwa penangkapan Yesus, penyiksaan dan  pembunuhan yang dilakukan terhadap-Nya.

Peristiwa kebangkitan Yesus ingin mengatakan bahwa Allah yang Ia imani adalah Allah yang memiliki daya utk menghancurkan kekuatan-kekuatan yang merusak dan bahkan menghancurkan (mematikan) kehidudupan.  Dan Allah yang sama, melalui Yesus yang sudah dibangkitkannya dari kematian, juga  membebaskan kita dari ketakutan-ketakutan yang dikarenakan oleh  kegagalan-kegagalan di masa lampau maupun beratnya tantangan kehidupan yang kita hadapi. Seperti halnya para murid duhulu, sekarang kita juga diundang utk kembali ke "Galilea batin" atau "Yerusalem rohani" kita, yakni "tempat berkumpul" dengan diri sendiri dan orang dengan orang lain agar kita dapat ditemui oleh Yesus guna membangun hidup yang baru.

Semoga pengalaman berkumpul bersama keluarga, dengan teman, dengan sahabat, dan bahkan dengan diri sendiri secara intensif, antara lain karena wabah virus corona, akan merupakan "Galilea" bagi kita semua, agar kita dapat mulai lagi membangun "cara hidup baru" seperti telah diajarkan oleh Yesus sendiri.

Selamat Paskah, dan saling mendoakan. Salam, Rm. Madya, S.J

Lihat selengkapnya

11 April 2020

Melaksanakan Tugas (Perutusan) sampai tuntas

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat pagi. Semoga Anda semua dalam keadaan baik.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk merenungkan dan ikut merasakan kesengsaraan yang diderita oleh Yesus yang berakhir pada kematian-Nya di kayu salib. Malalui permenungan ini diharapkan kita akan dimampukan utk berjalan bersama-Nya agar mimpi Allah agar semua orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup berkelimpahan (Yoh 10:10b) akan menjadi kenyataan.

Injil yang akan dibacakan hari ini sangat panjang (Yoh 18:1-19:42). Anda dapat membaca dan merenungkannya, mengidentifikasikan diri dengan tokoh2 yang terlibat di dalamnya, serta memetik pelajaran darinya. Saya hanya akan mengajak Anda utk merenungkan tiga hal.

Pertama, kaitan antara Yoh 13:1: "Ia (Yesus) senantiasa mencintai murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mencintai mereka sampai pada kesudahannya", dengan yang dikatakan oleh Yesus kepada Allah, Bapa-Nya, sebelum Ia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir di kayu salib (Yoh 19: 30: "Sudah selesai"). Ungkapan "sudah selesai" dalam bahasa Indonesia tidak mencerminkan apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Dalam bahasa Latin: Consummatum est (doble "m"). Artinya, "Bapa, semua sdh saya selesaikan. Semua sdh saya laksanakan secara tuntas. Sekarang semua saya serahkan kepada-Mu." Ungkapan ini menjelaskan arti "mencintai sampai pada kesudannya, mencintai sampai tuntas."  Dengan latar inilah kematian Yesus di kayu salib merupakan perwujudan dari "mencintai para murid-Nya, yang masih ada di dunia,  sampai tuntas."  Dengan kematian Yesus di kayu salib, Ia selalu menemani para murid, dan kita semua, khususnya ketika kita mengalami kegelapan yang paling kelam dalam hidup kita. Kita tidak pernah ditinggalkan oleh Dia yang diutus oleh Allah utk membawa kita kembali kepada-Nya.

Kedua, perjamuan Paskah yang sesungguhnya tidak terjadi pada saat Perjamuan terakhir, tetapi pada saat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib kepada Allah (Yoh 19:30). Pada saat itu, kita juga diterima oleh Allah menjadi anak-anak-Nya.

Ketiga, ketika lambung Yesus ditikam dengan tombak keluarlah darah dan air (Yoh 19:34). Dalam tradisi kepercayaan Yahudi, darah adalah tempat bersemayamnya kehidupan, dan air adalah kekuatan yang menopang kehidupan. Dengan kisah itu ingin dikatakan bahwa dengan mengisi hidup-Nya sampai tuntas di kayu salib, Yesus menjadi sumber dan penopang  kehidupan kita.

Marilah kita mengucap syukur kepada Yesus yang telah mencintai kita sampai tuntas, dengan rela mati di kayu salib. Kita juga memohon rahmat-Nya agar kita dimampukan utk mengikuti jejak-Nya agar mimpi Allah menjadi nyata.

Teriring salam Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

9 April 2020

Menjadi Gereja yang sesungguhnya

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat pagi. Semoga Anda semua dalam keadaan baik. Untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kita akan merayakan Tri Hari Suci secara online. Kita tidak akan hadir bersama secara fisik dalam sebuah gedung gereja. Namun ini semua tidak mengurangi arti menjagi Gereja yang sesungguhnya. Mengapa? Injil Yohanes (13:1-17) yang akan dibacakan dalam Perayaan Kamis Putih nanti petang, memberikan jawabannya.

Untuk memahami pesan Injil Yohanes yang akan kita dengarkan hari ini, beberapa catatan perlu kita perhatikan.

Pertama, dalam Injil Sinoptik (Markus, Matius, dan Lukas) kedatangan Yesus ke Yerusalem (pada Minggu Palma) akan mengantar Yesus kepada penderitaan, kamatian, dan kebangkitan-Nya. Dalam Injil Yohanes, kesengsaraan, kematian, dan kebangkitan Yesus berawal pada Perjamuan Terakhir.

Kedua, dalam Injil Sinoptik Perjamuan Tarakhir yang diadakan oleh Yesus merupakan perjamuan utk merayakan Paskah (pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir) . Dalam Injil Yohanes, Perjamuan Terakhir diadakan sebelum perayaan Paskah, karena Paskah baru terjadi pada saat Yesus digantung pada  kayu salib. Pada saat itulah, seluruh umat manusia dibebaskan dari perbudakan dosa.

Ketiga, peristiwa pembasuhan kaki HANYA terjadi dalam Injil Yohanes. Apa maknanya? Ada tiga hal penting yang dapat kita petik dari kisah Injil hari ini.

Pertama, dalam makan bersama itu Yesus ingin berbagi (siapa) diri-Nya kepada para murid yang begitu dicintainya. Yesus adalah "yang datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah" (ay. 3). Dengan "mebasuh kaki" para murid, Yesus memungkinkan mereka untuk "mendapat bagian dalam Aku" (ay. 9), artinya, para murid, dan kita semua, juga "datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah." Tugas Yesus adalah mengantar para murid utk mendapatkan pengalaman seperti itu (= mengasihi para murid, ay. 1). Dan tugas ini dilaksanakan sampai tuntas, tidak setengah-setengah (= sampai kesudahannya, ay. 1).

Kedua, dalam tradisi pesta Yahudi para tamu akan membasuh kaki mereka sebelum memasuki ruang pesta, untuk menyatakan bahwa mereka datang dalam keadaan bersih. Hanya tamu2 sangat penting dan sangat dihormati (guru, para penatua), kakinya dibasuh oleh para budak (hamba, pelayan).

Dalam perjamuan terakhir, semua dijungkirbalikkan oleh Yesus. Ia , sebagai Tuhan dan Guru, justru membasuh kaki para murid-Nya. Dan hal itu dilakukan ketika mereka sedang makan, dan bukan sebelumnya.  Tindakan Yesus itu ingin mengatakan kpd para murid-Nya bahwa bagi Yesus mereka merupakan pribadi-pribadi yang sungguh sangat berharga, sangat dihormati, dan dicintai. Karenanya, Yesus rela melalukan pembasuhan kaki tersebut.  

Ketiga, tindakan Yesus itu dilakukannya sebagai "teladan" (ay. 15). Karenanya, mereka "wajib saling membasuh kaki" mereka (ay. 15). Artinya, sejak malam itu para murid diminta utk memperlakukan satu sama lain sebagai pribadi-pribadi yang sangat berharga sehingga perlu dihormati dan dilayani. Dengan kata lain, sejak malam itu lahirlah sekumpulan orang yang hidup dengan berbekal sikap Yesus, yang menganggap sesama sebagai pribadi yang sangat berharga sehingga pantas utk dihormati dan dilayani. Cara hidup seperti inilah yang disebut sebagai Gereja dalam arti dan wujudnya yang sesungguhnya dan paling rohani.

Hidup menggereja yang berpusat pada Perayaan Ekaristi baru benar-benar utuh bila dijalani dengan semangat hidup seperti diteladankan oleh Yesus dalam perjamuan terakhir itu. Hanya dengan cara itu kita, sebagai Gereja, akan memiliki integritas dan tetap relevan bagi masyarakat kita.

Semoga Perayaan Kamis Putih yang akan kita rayakan membantu kita meneladani sikap dan tindakan Yesus.

Teriring salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

5 April 2020

Setia Menanggung Konsekuensi Perutusan

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda dan keluarga, serta teman dan sahabat dalam keadaan baik. Untuk pertama kalinya dalam hidup kita di Indonesia, baru kali ini kita memulai Pekan Suci tidak bersama dengan orang-orang terdekat maupun anggota Gereja lainnya. Namun demikian, saya tetap berharap bahwa situasi ini tidak menjadi penghalang bagi Allah utk mendatangi kita dan menyertai pergulatan hidup kita.

Hari ini kita memulai Pekan Suci dengan merayakan Minggu Palem, untuk mengenang Yesus, yang dengan tegar memasuki Yerusalem guna menyongsong konsekuensi dari pilihan-pilihan dalam hidup-Nya utk mewujudkan tugas perutusan dari Allah, yakni mewujudkan datangnya Kerajaan Allah (= keselamatan manusia dalam seluruh aspek hidupnya). Setelah peristiwa pembangkitan Lazarus dari kematiannya,  yang kita renungkan Minggu lalu (Yoh 11:1-44), Yesus semakin tahu bahwa pilihan-pilihan dalam hidup-Nya guna mewujudkan tugas perutusan yang Ia terima dari Allah, akan berujung pada kematian (Yoh 11: 49-50; 57). Di Yerusalem Ia akan ditolak, disiksa, dan dibunuh oleh para pemimpbin bangsa Yahudi serta rakyat banyak (dengan memperalat Yudas dan memanipulasi Pilatus).

Dalam Perayaan Liturgi hari ini ditampilkan dua bacaan Injil (Mat 21: 1-11 - ttg Yesus memasuki Yerusalem; dan Mat 26: 14-27:66 - ttg Kisah Sengsara Yesus).

Dituturkan bahwa Yesus yang memasuki Yerusalem itu adalah seorang raja yang lemah lembut (ay 5), artinya, Ia adalah orang yang memiliki kuasa dan wibawa, sekaligus memiliki kepekaan terhadap kerapuhan umat manusia. Kedua sikap itu menyatu dalam diri-Nya. Hal ini dilukiskan oleh Matius dengan gambaran Yesus mengendarai keledai betina DAN anaknya sekaligus; suatu hal yang sangat sulit dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kearifan: kemampuan mengintegrasikan kekuasaan dengan kelemahlembutan (ay 7).

Kisah Sengsara (Mat 26: 14-27:66)  terdiri dari dua bagian. Bagian pertama (Mat 26:14-27:10) berawal dan berakhir dengan tindakan Yudas; Yudas menjual Yesus seharga 30 perak kpd Imam-Imam kepala (26:14-16) dan Yudas mengembalikan uang 30 perak kepada imam-imam kepala lalu menggantung diri (27:3-10).

Apa kesalahan Yudas? Ia orang naif. Ia ingin mendapatkan relasi dengan kaum penguasa dengan memanfaatkan situasi. Sebenarnya ia tidak ingin mencelakakan Yesus. Ia punya persepsi keliru mengenai Yesus. Ia mengira bahwa Yesus akan membuat mukjijat ketika diserahkan kpd para pemimpin org Yahudi.  Sebenarnya kematian Yesus tetap akan terjadi juga kalau Yudas tidak berkhianat. Dengan tindakannya itu ia mendahului rencana Tuhan. Dan ketika ia tahu bahwa Yesus tdk membuat mukjijat seperti yang ia harapkan, ia tidak menyesal (seperti Petrus dan para murid lain), tetapi malah semakin menutup diri. Ia  membuat kesalahan kedua, mendahului rencana Tuhan, dengan bunuh diri. Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sdg direncanakan dan dilaksanakan oleh Allah. Dengan cara itu ia menemui kematian.

Bagian kedua kisah sengsara berawal dengan tindakan Pilatus menahan Yesus dan melepaskan Barabas karena desakan imam-imam kepala (27:11-26), dan berakhir dengan tindakan Pilatus (atas permintaan imam-imam kepala juga) mengirim para penjaga ke kubur agar jenasah Yesus tidak dicuri oleh para murid muridnya (27:65-66). Pilatus begitu bodoh dan konyol. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh para penguasa Yahudi.

Pada hari-hari terakhir dalam hidup-Nya, di Yerusalem, kehidupan Yesus dijungkirbalikkan oleh Yudas dan Pilatus. Namun mereka itu sebenarnya hanya orang-orang yang diperalat menjadi "tangan kotor" oleh para imam kepala, orang Farisi, dan tetua-tetua Yahudi. Mereka inilah sebenarnya yang membiarkan dirinya sebagai  perwujudan kekuatan-kekuatan kejahatan yang ingin membatasi dan menggagalkan gerak Yesus sebagai utusan ilahi yang memasuki Yerusalem utk menyelesaikan tugas perutusan-Nya.

Menghadapi itu semua Yesus tetap setia pada jalan yang telah dipilih-Nya sampai akhir (27:50). Kematian-Nya membuahkan kehidupan baru (27:51-53). Bahkan orang-orang yang sering dinamakan "kafir" pun mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah (27:54).

Kisah Yesus memasuki Yerusalem mengundang kita utk berjalan bersama Dia (dengan mengisi secara  setia dan penuh tanggung jawab jalan hidup yang sudah kita pilih), agar impian Allah supaya semua orang mendapatkan hidup yang penuh kelimpahan (Yoh 10:10b) menjadi kenyataan.

Saling mendoakan.

Salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

29 March 2020

Kasih memberikan kehidupan

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat sore. Semoga Anda semua dalam suasana hati yang tetap penuh harapan kendati situasi hidup yang kita hadapi serba tidak menentu akibat adanya pandemi virus corona, cavid-19.

Dalam situasi seperti itu Injil Yoh 11:1-44) yang kita dengarkan dalam Misa online pada hari Minggu Prapaskah ke-V hari ini, menyajikan pergulatan iman para tokoh yang terlibat dalam kisah pembangkitan Lazarus dari kematiannya. Pergulatan iman mereka kiranya dapat memberikan inspirasi bagi kita.

Pertama, kisah pembangkitan Lazarus dari kematiannya perlu ditempatkan dalam konteks keputusan Yesus utk "kembali lagi ke  Yudea" (ay. 7). "Kembali ke Yudea" memiliki dua makna. Pertama, Yesus  menyongsong peristwa yang akan menimpa diri-Nya di Yerusalem sebagai konsekuensi dari pelaksanaan tugas perutusan yang diterima dari Bapa-Nya; yakni ditolak, ditangkap, dibunuh dengan keji di kayu salib, DAN  dibangkitkan oleh Allah. Kedua, utk menjadi terang agar orang tidak berjalan dalam kegelapan (ay 9).

Kedua, antara Yesus dan Lazarus serta kedua adiknya, Maria dan Marta, terdapat relasi kasih (ay. 3 dan 5). Yesus mengasihi mereka. Dari pihak yang dikasihi muncul sikap rela menerima janji Yesus (ay. 21 dan 27; ay. 32) sementara dari pihak Yesus, muncul tanggungjawab mengenai orang-orang yang Ia kasihi di hadapan yang Mahakuasa, Bapa-Nya (ay. 41-43).

Ketiga, oleh Marta (ay. 27)--yang ditegaskan oleh Maria dengan "tersungkur di depan kaki-Nya" (ay. 32), Yesus diberi tiga julukan: Mesias; Anak Allah; dan Dia yang akan datang ke dalam dunia. Artinya, Yesus adalah orang yang diberi kuasa ilahi, sangat dekat dengan Allah sendiri, dan akan selalu hadir di antara manusia dengan segala suka duka pergulatan hidupnya.

Keempat, bila kita mau percaya kita akan melihat kemuliaan Allah (ay. 40). Artinya, bila kita mau memasrahkan hal-hal yang tidak dapat kita tangani sendiri (setelah berbagai macam ikhtiar kita lakukan) kepada yang diberi kuasa ilahi, kebesaran ilahi--entah apapun bentuknya--akan kita alami.

Kelima, "Lazarus, marilah keluar!" (ay. 43). Lazarus artinya Allah menolong. Seruan Yesus tersebut mempunyai dua arah. Arah pertama ditujukan kepada orang yang sudah mati (Lazarus) agar ia keluar dari tempat orang mati. Arah kedua ditujukan kepada Allah yang dapat menolong agar Ia tidak tinggal diam. Relasi "kasih" antara Yesus dan Lazarus (lihat poin kedua di atas) membuat seruan Yesus itu menjadi kenyataan; Allah bertindak menghidupkan Lazarus sehingga ia dapat keluar dari dunia kematian (ay. 44).

Semoga kita dianugerahi keberanian utk meneladan Maria, Martha, Lazarus, dan Yesus sendiri dalam menghadapi masa-masa yang sulit dalam kehidupan kita.

Saling mendoakan.

Salam, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya

28 March 2020

Beriman dengan mata terbuka

Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat pagi. Semoga Anda semua dalam keadaan baik dan tetap menjaga kesehatan di tengah-tengah wabah virus corona.

Wabah yang menimpa seluruh dunia ini mengundang kita utk menyadari bahwa beriman tidak hanya berurusan dengan soal-soal doa dan upacara keagamaan, melainkan juga, dan terutama, soal keselamatan seluruh umat manusia.

Untuk menunjukkan rasa solidaritas dengan keprihatinan dan keselamatan seluruh bangsa Indonesia, kita semua ikut ambil bagian dalam upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi penyebaran virus corona. Salah satunya adalah tidak melakukan perayaan Ekaristi bersama di gereja, melainkan merayakannya secara online dan menerima komuni (Tubuh Kristus) secara rohani pada hari ini (22 Maret 2020). Semoga pengalaman ini tidak membatasi kita utk mengalami kehadiran Allah yang selalu ingin menjumpai kita. Kehadiran Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, dan oleh upacara keagamaan tertentu.

Namun ada dua pengalaman yang dapat menghalangi kita utk merasakan kehadiran Allah yang ingin menjumpai kita.

Pertama, pengalaman "pahit" yang bertubi-tubi menimpa diri kita sehingga kita merasa tidak kuat lagi utk menanggungnya. Hal ini diperburuk oleh sikap tetangga dan saudara seiman yang tidak mengulurkan tangan utk membantu kita, melainkan malah mencemooh dan menyalahkan kita. Pengalaman seperti ini dapat saja membuat kita beranggapan bahwa Tuhan itu tuli krn tidak mau mendengarkan doa-doa kita; dan Tuhan itu buta karena tidak mau melihat penderitaan kita dan meringankannya. Lebih, buruk lagi ada yang berkesimpulan bahwa penderitaan itu merupakan hukuman yang diberikan oleh Allah karena dosa yang telah kita buat maupun dosa yang dilakukan oleh keluarga kita (Yoh 9: 2).

Kedua, sikap soksuci karena merasa menguasai peraturan-peraturan keagamaan dan tekun melaksanakannya dengan sangat teliti. Orang-orang semacam ini cenderung mudah menilai orang lain sebagai orang yang tidak pantas dikasihi oleh Allah (ay. 16a; 34a). Orang-orang soksuci seperti itu bahkah tega mengucilkan mereka dan mengusir mereka dari rumah Allah. Itulah yang mereka lakukan terhadap Yesus (Yoh 8:59) dan orang buta yang telah disembuhkan oleh Yesus (Yoh 9:34b).

Tindakan Yesus yang dituturkan dalam Injil Yohanes, yang kita dengarkan dalam Misa Online hari ini (Yoh 9:1-41) ingin mengoreksi dua buah kesalahan mendasar dalam praktik hidup beriman.

Kesalahan pertama, anggapan bahwa segala bentuk penderitaan dan kesulitan dalam hidup kita adalah hukuman yang diberikan oleh Allah akibat dosa kita (ay. 2-3).

Kesalahan kedua, anggapan bahwa kasih dan penyelamatan Allah hanya bisa diperoleh dengan mentaati peraturan agama secara teliti (ay. 16a).

Selain mengoreksi dua macam kesalahan tersebut, tindakan Yesus menyembuhkan orang buta tadi juga ingin memberikan arti yang sebenarnya tentang hari sabat. Sabat bukan berarti "tidak boleh melakukan sesuatu di luar yang digariskan dalam peraturan" (ay. 7 dan 14). Sabat, menurut Yesus, berarti mengerjakan pekerjaan Allah yang mengutus diri-Nya (ay. 4) supaya semua yang telah diciptakan-Nya berada "dalam keadaan sangat baik" (Kej 1: 31). Orang buta tadi tidak dalam keadaan sangat baik. Karenanya, Yesus menyembuhkan dia supaya ia menjadi sempurna (= "menurut gambar Allah," Kej 1:27).

Injil hari ini mengajak kita utk melakukan tiga hal. Pertama, menemukan kehadiran Allah juga di luar rumah ibadat dan segala peraturan keagamaan.

Kedua, kita diundang utk menemukan kehadiran Allah dalam keremukan hidup manusia, termasuk keremukan hidup kita sendiri, dan membiarkan Allah menyembuhkannya.

Ketiga, kita juga diundang utk berbuat seperti Yesus; mau bekerjasama dengan Allah menyembuhkan hidup orang lain yang penuh luka dan keremukan, agar mereka dapat mengalami hari sabat yang sesungguhnya,  keselamatan Allah yang membuat hidup mereka menjadi "sangat baik."

Dengan melakukan itu semua kita akan semakin memahami bahwa hidup beriman bukan sekedar menjalankan urusan doa, upacara keagamaan, dan mentaati perturan keagamaan, melaikan juga dan teruma mewujudkan kesejahteraan menyeluruh bagi seluruh umat manusia.

Saling mendoakan, Rm. Madya, S.J.

Lihat selengkapnya