26 October 2020
Kasih kepada Allah dan kepada Sesama sebagai Dasar dan Inti Hidup Beragama
Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudaraku yang baik, selamat siang.g Semoga Anda semua berserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat serta bahagia. Selamat menikmati hari Minggu untuk beristirahat dan mencecap kembali semua kebaikan Allah yang telah Ia anugerahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.
Hari ini kita merayakan Hari Minggu ke-30 Tahun A dalam kalender liturgi. Injil yang dibacakan pada hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang ingin mengetahui kedalaman dan keluasan pengetahuan agama Yesus. Ahli Taurat tadi ingin tahu apakah Yesus memiliki kemampuan menimbang-nimbang bobot aturan Taurat (yang berjumlah 613; jumlah ini sebenarnya tidak terlalu banyak, sebab Kitab Hukum Kanonik yang dimiliki Gereja Katolik jumlahnya ada 1752), dan bukan sekedar kutip sana-sini.
Kaum terpelajar Yahudi menyadari bahwa tidak semua aturan tadi sama bobotnya. Di lain kesempatan Yesus sendiri juga mengungkapkan kesadaran ini ketika “kewajiban menguduskan hari Sabat” Ia “bawahkan” kepada kewajiban kerkurban dan melaksanakan belaskasihan (Mat. 12:1-14). Inti dari pertanyaan ahli Taurat tadi adalah: mana prinsip yang dipakai untuk memahami bahwa perintah yang satu lebih penting daripada perintah yang lain.
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Yesus dengan mengutarakan dua perintah yang disebutnya sebagai “tempat bergantung semua hukum Taurat dan kitab para Nabi” (ay. 40). [Kitab para Nabi menurut orang Yahudi mencakup kitab-kitab sejarah dari Kitab Hakim-Hakim s/d Kitab Raja-Raja, dan nabi-nabi Yesaya, Yeremia, Yeheskiel, serta 12 nabi lainnya].
Perintah pertama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (ay. 37, diambil dari Ul. 6:5), termasuk ayat-ayat suci yang harus didoakan dua kali sehari (pagi dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh. Perintah ini oleh Yesus disebut sebagai perintah atau hukum yang terutama dan yang pertama (ay. 38). Mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap “hati”/”akal budi”) yang keluar dari keyakinan (= segenap “jiwa”) dan tekad utuh (= segenap “kekuatan”). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tetapi dengan pengertian.
Perintah kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti [mengasihi] dirimu sendiri” (ay. 39 diambil dari Im. 19:18) oleh Yesus disertakan sebagai perintah utama yang kedua. “Sesama manusia” adalah orang lain yang memiliki pengalaman mirip dengan pengalaman kita. Pada dasarnya, kita ini mengalami pahit getirnya kehidupan seperti yang dialami oleh orang lain. Karenya, ketika kita sedang beruntung jangan sampai melupakan sesama yang sedang mengalami kesulitan.
Yesus mampu memberi jawaban seperti itu karena seluruh hidup-Nya dihayati untuk mengasihi Allah dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan serta tekad yang matang. Semuanya itu terungkap dalam kesediaan-Nya ikut merasakan yang dialami oleh orang lain, dan mengulurkan tangan untuk meringankan beban hidup mereka. Yesus percaya bahwa orang lain itu sama dengan diri-Nya sendiri; yakni, dikasihi oleh Allah, dan karenanya dapat mengasihi Allah dan sesamanya.
Pengalaman seperti inilah—menurut Yesus—merupakan dasar dan inti hidup beragama. Dengan kata lain, inti hidup beragama adalah menomorsatukan Allah dan sesama, bukan peraturan-peraturan agama itu sendiri, yang seringkali justru dapat menjauhkan kita dari sesama dan Allah sendiri.
Teriring dalam dan doa, Rm. Madya, S.J.
9 October 2020
Merawat Hidup seturut Kehendak-Nya
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat berada dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu sambil mencecap kembali kasih Allah yang telah dicurahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.
Hari ini, melalui bacaan Injil yang kita dengarkan dalam Misa pada Hari Minggu ke-27 Tahun A (Mat. 21:33-43) kita diundang utk memurnikan hidup kita dari unsur-unsur yang menjauhkannya dari kehadiran Allah sendiri.
Bagian pertama dari kisah yang disampaikan oleh Yesus (ay. 33-39) menggemakan kisah nabi Yesaya (5:1-7) dari bacaan pertama. Pemilik kebun anggur merasa sangat kecewa karena tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Kebun anggur adalah umat (milik) Allah sendiri. Dalam kisah Yesaya, Allah mengharapkan agar kehidupan umat-Nya menghasilkan buah-buah keadilan dan kebenaran, namun yang dihasilkan justru kelaliman dan keonaran (ay. 7). Dalam kisah Yesus, pemilik kebun anggur dikecewakan bukan oleh kebun anggur (= Umat-Nya) melainkan oleh para penggarap (= pemimpin umat). Mereka bukan hanya tidak menyerahkan hasil yang menjadi hak si empunya kebun anggur, melainkan justru ingin merebut kebun anggur itu sendiri untuk dijadikan milik mereka (ay. 38b-39). Perkaranya berkembang dari "tidak ada hasil yang memuaskan" (Yes. 5: 2b; 7b) menjadi "hak milik yang direbut dengan kekerasan" (Mat. 21: 38b; 39).
Dalam pemikiran (KS) Perjanjian Lama hak milik atas tanah yang sah tidak boleh diganggu gugat. Tanah tersebut tidak boleh diperjualbelikan dengan imbalan apapun, apalagi direbut. Kekerasan terhadap hak milik dipahami sebagai kejahatan yang melebihi batas apapun. Dengan latar balakang pemikiran inilah, kisah yang disampaikan oleh Yesus perlu kita pahami dengan dua cara.
Pertama, sebagai sebuah alegori, yakni kisah yang diterapkan pada orang atau keadaan tertentu. Dalam tafsiran aligori, kebun anggur mewakili umat; para penggarap mewakili para pemimpin umat (Perjanjian Lama); para hamba adalah para nabi; dan anak pemilik kebun adalah Yesus sendiri. Melalui kisah ini Yesus ingin menyampaikan kpd para pemimpin umat (imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi -- ay. 23) bahwa tanggungjawab mereka adalah memimpin umat agar dapat menghasilkan buah-buah kebaikan, dan bukan utk merampas mereka dari Allah sebagai pemilik umat. Mereka diingatkan oleh Yesus utk berubah, agar hukuman Allah tidak menimpa mereka. Namun mereka tidak menangkap pesan Yesus, karena pikiran mereka telah dibelenggu oleh konsekuensi politik di tanah Yudea, khususnya kelestarian Bait Allah. Mereka tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh umat, yakni, di dalam diri Yesus Allah hadir dan bekerja. Mereka merasa semakin terancam, sehingga mereka berusaha utk menangkap Dia (ay. 46).
Kedua, kisah dalam injil hari ini juga dapat dimengerti sebagai sebuah perumpamaan, sebuah kisah yang merupakan sebuah undangan untuk meninjau kembali pola berpikir dan bertindak para pendengarnya. Bila dipahami demikian, kita diundang untuk menyadari kembali bahwa hidup kita ini dianugerahkan kepada kita oleh Allah sebagai sebuah peluang; sebuah peluang agar kita membiarkan Allah dapat memasuki kehidupan kita utk berkarya di dalam dan melalui hidup kita. Kita boleh dan bahkan perlu membuat berbagai macam rencana bagi kehidupan kita, namun kita tidak boleh menutup diri terhadap kemungkinan lain yang bisa lebih baik daripada yang sdh kita rencanakan. Hidup kita perlu kita rawat dan kembangkan, namun tidak boleh kita atur secara ketat menurut agenda kita sendiri. Hidup kita dianugerahkan oleh Allah untuk kita "garap" agar menghasilkan buah-buah kebaikan, bukan untuk kita klaim sebagai milik kita sendiri.
Kecenderungan utk merebut kehidupan dari Tuhan guna kita jadikan milik kita sendiri memang kerap terjadi. Kita mendengar adanya banyak upaya untuk melakukan "ulah kebatinan" yang bertujuan menghimpun kekuatan-kekuatan luar biasa utk kemudian dimanipulasi demi kepentingan diri sendiri. Semoga hal ini tidak kita lakukan, sebab tindakan seper itu merupakan kejahatan yang luar biasa di hadapan Tuhan.
Teriring salam dan doa, Rm. Madya, S.J.
21 September 2020
Kemurahan hati Allah
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta keluarga, teman dan sahabat, dlm keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu sambil mencecap kembali kebaikan Allah yang dikaruniakan kepada kita selama sepekan yang lalu. Sekaligus kita tetap perlu mentaati protokol covid-19 dengan cermat, karena virus ini semakin agresif menyerang siapa saja yang terlena.
Perumpamaan dalam Injil yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi pada hari Minggu Biasa ke-25 Tahun A hari ini (Mat. 20:1-16) sering menjadi sandungan bagi rasa keadilan, baik pada zaman dahulu maupun sekarang. Agar kita dapat menangkap pesan Yesus bagi kehidupan kita, beberapa catatan berikut perlu diperhatikan.
Pertama, perumpamaan ini dipakai oleh Yesus utk menjelaskan tentang Kerajaan Surga dan cara hidup di dalamnya. Istilah Kerajaan Surga dipakai oleh Matius untuk menyatakan bahwa kehidupan kita di bumi ini dapat menjadi ruang yang luas bagi kehadiran Allah. Markus dan Lukas menggunakan istilah Kerajaan Allah utk menggarisbawahi siapa yang hadir dalam kehidupan kita, yakni Allah sendiri. Dengan kata lain, Injil hari ini ingin menyoroti diri kita, kehidupan kita, sebagai ruang kehadiran Allah.
Kedua, pamahaman Kerajaan Surga sabagai "ruang" dapat dimengerti dengan baik bila kita menengok kisah penciptaan pada hari kedua (Kej. 1:6-8). Dalam kisah tersebut, dikatakan bahwa Allah menciptakan "langit." Tugas langit adalah memisahkan air yang di atas dan air yang di bawah, sehingga tercipta ruang bagi ciptaan berikutnya yakni daratan, laut, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Kata "langit" memiliki padanan dengan kata dalam bahasa Ibrani (syamaim) dan Yunani (ouranos), yang berarti "surga." Berkat "surga" yang diciptakan oleh Allah, bumi beserta isinya, khususnya manusia, terlindung dari kekuatan-keliatan kegelapan dan kejahatan, yang dilambangkan dengan air yang mengelilingi ciptaan.
Ketiga, Yesus datang ke dunia utk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Ia juga menyerukan agar orang bertobat. Bertobat bukan hanya kapok dan berhenti melakukan perbuatan jahat, tetapi juga mengembangkan wawasan yang luas, tidak mengurung diri dalam pandangan sendiri yang sempit. Bertobat berarti membuka diri bagi kehadiran Allah dan kebutuhan serta kondisi hidup orang lain.
Keempat, dalam masyakat ketika Yesus hidup terdapat pandangan dan keyakinan bahwa semua tindakan yang dilakukan manusia di bumi ini cepat atau lambat akan mendapatkan balasan yang sepadan baik di bumi ataupun di akhirat nanti. Balasan tersebut akan menggunakan ukuran-ukuran yang dipakai di bumi ini. (Apakah pandangan seperti ini masih hidup dalam masyarakat kita, bahkan dlm hati kita?). Bila anggapan di atas benar, bagaimana nasib orang yang tidak dapat berbuat banyak? Apakah di surga nanti akan ada ruangan yang berbeda-beda yang diperuntukkan bagi manusia sesuai dengan jumlah perbuat an baik yang mereka lakukan di dunia?
Dengan perumpamaan dlm Injil hari ini, Yesus mengundang kita semua dan semua orang lain yang membaca perumpamaan ini utk menyadari bahwa Kerajaan Surga itu dibangun dan berkembang melalui kemurahan hati Allah, dan bukan berdasarkan prinsip ganjaran atau pahala bagi perbuatan yang dilakukan di bumi.
Kelima, orang-orang yang bekerja hanya satu jam itu mendapatkan upah karena mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, selama "waktu yang penuh", tidak separo-separo. Bagi orang yang mulai bekerja pagi, "waktu yang penuh" adalah 1 hari; sementara orang yang mulai bekerja pada pukul 5 sore, "waktu yang penuh" hanya 1 jam, tidak bisa lebih.
Bila dilihat dengan cara ini, keadilan tidak boleh hanya kita pahami dari sudut pandang kita sendiri. Keadilan juga perlu mempertimbangkan kondisi orang lain (mereka yang datang pada pukul 5 sore).
Perumpamaan ini ingin mengatakan bahwa Kerajaan Surga ditawarkan oleh Allah kepada semua orang dalam kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Semua orang diberi kesempatan yang sama baiknya.
Ada yang langsung menemukan tawaran itu. Ada pula yang harus menunggu sangat lama dan baru melihat tawaran itu. Bahkan ada yang baru menemukan tawaran itu pada "detik-detik terakhir." Mereka ini tidak ditinggalkan. Inilah keadilan yang diberlakukan dalam Kerajaan Surga.
Bila dipahami dengan cara ini, kita akan lebih mudah memahami "sikap murah hati" pemilik kebun anggur tadi. Kita juga tidak perlu merasa iri dan merasa berhak utk menuntut lebih. Bahkan kita malah perlu bertanya: bagaimana kalau justru kita sendiri yang datang paling akhir?
Tugas kita adalah membantu orang-orang agar mereka tidak harus menunggu terlalu lama utk menemukan kemurahan hati Allah dalam situasi hidup mereka yang konkret. Siapa mereka itu? Apa yang perlu kita lakukan?
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
13 September 2020
Mengampuni dengan tulus
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang dan selamat menikmati hari Minggu utk beristirahat sambil merasakan kembali semua kebaikan Allah yang sudah kita alami selama sepekan yang lalu. Semoga Anda sekeluarga berserta teman dan sahabat dalam keadaan baik, dan tetap memilih sehat dan bahagia di tengah-tengah pandemi covid-19 yang belum kunjung reda.
Injil yang kita dengarkan dalam Misa Minggu Biasa ke-24 Tahun A (Mat. 18:21-35) berbicara tentang sikap mengampuni secara ikhlas sebagai sikap hidup para murid dan para pengikut Kristus. Untuk memahaminya perlu kita lihat latar belakangnya.
Dalam masyarakat Yahudi ketika Yesus hidup, sikap balas dendam masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaan Petrus (ay. 21) mencerminkan upaya utk membatasi kebiasaan balas dendam tadi. Orang diberi kelonggaran utk berbuat kesalahan sampai "tujuh kali" (sampai penuh), setelah bersalah tujuh kali dianggap kelewat batas dan tidak perlu diampuni.
Namun Yesus mengatakan bahwa itu semua tidak cukup. Kita harus bersedia mengampuni "tujuh puluh kali tujuh kali," (ay. 22). artinya, tanpa batas, selalu mengampuni. Yesus ingin mengatakan bahwa sikap mengampuni harus menjadi sikap hidup.
Namun pusat perhatian Injil bukan hanya sikap mengampuni dengan tulus, melainkan terutama menekankan bahwa pelaksanaan sikap mengampuni dan sikap belas kasih memungkinkan Kerajaan Allah dapat menjadi pengalaman nyata di muka bumi ini. Untuk menjelaskan hal ini Yesus memberikan sebuah perumpamaan (ay. 23-35).
Bagian pertama dari perumpamaan (ay. 23-27) memperlihatkan "kebesaran" seorang raja dengan menunjukkan pengampunan dan belas kasih kepada hambanya yang berhutang 10.000 talenta. 1 talenta = 10.000 dinar; 1 dinar adalah upah satu hari dari seorang buruh harian. Jadi 10.000 talenta adalah upah selama 100.000.000 hari kerja. Sangat besar!
Sikap raja pengampun ini ingin mengajarkan bahwa semakin seseorang memiliki kedudukan semakin tinggi dan semakin beruntung, ia diharapkan semakin dapat memahami keadaan orang lain yang sedang bernasib malang, dan rela mengulurkan tangan untuk meringankan beban hidup mereka. Di kalangan komunitas para murid Yesus perlu terdapat kesadaran bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, dan sekaya apa pun orang itu, ia tetap perlu menjadi sesama bagi orang lain. Sebaliknya, semalang apa pun dan seterpuruk apa pun keadaan seseorang, ia tetap dapat mengharapkan bantuan dari saudaranya yang lebih beruntung. Semangat dan sikap seperti inilah yang akan membuat Kerajaan Allah menjadi kenyataan di dunia kita sekarang ini juga. Secara singkat, bagian pertama perumpamaan menunjukkan bahwa Kerajaan Surga dapat dibangun atas dasar kesediaan mereka yang berkelebihan utk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.
Bagian kedua (ay. 28-30) memunculkan gambaran yang kontras. Hamba yang sudah dibebaskan hutangnya tadi tidak mau menghapuskan hutang rekan sekerjanya, yang hanya sebesar 100 dinar (ay. 28); hanya seperseratus ribu dari hutangnya sendiri. Ia yang telah mengalami pengampunan dan belas kasih dari tuannya, ternyata tidak mau menunjukkan sikap yang sama terhadap rekan sekerjanya. Bahkan ia malah berlaku kejam (ay. 30). Kesalahan dari hamba ini adalah ia menolak menjadi saudara bagi rekan sekerjanya. Dan lebih dari itu, ia juga menolak menjadi saudara bagi tuannya sendiri.
Ay. 31 menunjukkan peran dari rekan-rekan sekerja lain sebagai suara hati yang masih peka terhadap rasa keadilan, peka terhadap kewajiban moral. Kepekaan tersebut melahirkan keberanian untuk bersuara mengungkapkan ketidakberesan.
Sekedar catatan. Mengampuni tidak hanya bersedia menerima kesalahan orang lain dan "melupakannya." Lebih dari itu, mengampuni juga mengandung kesediaan utk memberikan peluang baru kpd orang yang bersalah dan bersedia membantunya agar ia dapat memperbaiki hidupnya.
Secara singkat, pengampunan dan belas kasih Allah baru menjadi efektif bila kita juga bersedia membangun sikap mengampuni dan berbelas kasih sebagai sikap hidup kita sehari-hari. Dalam pelaksanaan kedua sikap itu Kerajaan Allah menjadi semakin hadir di tengah masyarakat kita mulai sekarang ini juga.
Dalam masa pademi covid-19 ini, siapa yang perlu mendapatkan pengampunan dan belas kasih kita? Tindakan konkret apa yang akan kita lakukan utk mewujudkan kedua sikap itu?
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
6 September 2020
Membangun Jemaat yang Dewasa
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat petang. Semoga Anda beserta keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Semoga Anda juga dapat menikmati hari ini untuk beristirahat dan mensyukuri kebaikan Allah yang Ia limpahkan kepada kita selama pekan yang lalu. Mohon maaf saya baru dapat menemui Anda semua di penghujung hari ini, karena dari pagi sampai sore saya bertemu beberapa pemuka umat di sebuah Stasi untuk membicarakan masa depan sebuah lembaga pendidikan Katolik yang memberikan pendidikan dini.
Hari ini kita merayakan Hari Kitab Suci Nasional dan Hari Minggu biasa XXIII Tahun A.
Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini (Mat. 18:15-20) merupakan bagian dari kumpulan nasihat Yesus utk membangun jemaat (Mat. 18:1-35) sehingga menjadi semakin dewasa karena para anggotanya saling menopang dan saling memperhatikan.
Pertama-tama ditonjolkan pentingnya sikap tidak mementingkan diri sendiri seperti yang dimiliki oleh seorang anak kecil (ay. 1-5). Kedua, para anggota yang tidak peduli terhadap sikap ini akan mendapatkan hukuman besar (ay. 6-11). Ketiga, para anggota yang kehilangan arah seperti domba yang hilang hendaknya ditolong agar dapat bersatu kembali dengan umat (ay. 12-14). Keempat, bila ada yang bersalah perlu ditegur dengan penuh perhatian (ay. 15-20). Kelima, perlu dipupuk sikap mau mengampuni yang ikhlas (ay. 21-35).
Kelima sikap di atas lahir dari sikap peduli terhadap saudara dalam satu kumpulan umat pengikut Yesus. Salah satu wujud dari kepedulian ini adalah kesediaan utk menyadarkan saudara seumat yang melakukan kesalahan. Cara menegur saudara yang melakukan kesalahan menunjukkan adanya sikap keterbukaan terhadap satu sama lain.
Cara menegur saudara seumat ada tiga langkah. Langkah pertama, mengajak bicara di bawah empat mata (ay. 15). Bila urusan selesai di situ, sudah cukup dan rasa saling percaya sudah terbangun.
Tetapi bila saudara yang bersalah tidak menggubris, perlu ditempuh langkah kedua, yakni mendatangkan saksi (ay. 16). Dengan cara ini, orang yang bersalah tadi diharapkan dapat menyadari bahwa kesalahannya tidak dapat dibenarkan bukan hanya berdasarkan pendapat satu orang saja.
Bila ia tetap tidak bersedia mendengarkanperlu ditempuh langkah ketiga, yakni persoalannya dibawa kepada jemaat, yang dapat memutuskan apakah cara hidupnya sebenarnya sudah tidak cocok dengan cara hidup jemaat. Bila ia tidak mendengarkan jemaat dan tidak mau memperbaiki diri, ia perlu diperlakukan sebagai "orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai"; artinya, tidak lagi menjadi anggota jemaat.
Dengan menempuh tiga langkah ini orang yang bersalah tetap diperlakukan sebagai orang dewasa, sekaligus ia perlu berani bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Dengan cara ini, sikap saling percaya dan saling menopang dalam jemaat dapat dikembangkan.
Yang dimaksud dengan kata "kamu" dalam ay. 18 adalah anggota jemaat yang hidupnya senantiasa mengikuti (teladan) Yesus Kristus. Karenanya, mereka ini dapat memberi tuntunan kepada orang lain.
Petikan Injil ini ditutup dengan pernyataan bahwa bila dua orang atau lebih memohon kepada Bapa, permohonan mereka pasti dikabulkan (ay. 19-20). Untuk memahami hal ini dengan baik, perlu diingat gagasan yang melatarinya; yakni, bila pendapat satu orang mengenai apa yang baik bagi kehidupan umat diterima oleh orang lain sebagai pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, niscaya pendapat tetsebut akan sejalan dengan kehendak Yesus. Karenanya, permohonan yang didasarkan pada keyakinan ini pasti dikabulkan oleh Bapa. Dengan cara ini ingin digarisbawahi dimensi horizontal (dimensi "umat dengan aku") dari iman kita. Iman Kristiani seutuhnya memang merupakan anugerah Allah namun pertumbuhannya sangat bergantung pada kesediaan kita utk mengembangkannya bersama-sama dalam komunitas, dalam jemaat.
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.
30 August 2020
Mendengarkan Dia
Para Ibu dan Bapak yang baik, selamat siang. Semoga Anda semua beserta dengan keluarga, teman dan sahabat dalam keadaan baik. Selamat menikmati hari Minggu dengan beristirahat dan merasakan kembali kebaikan Allah yang boleh kita alami selama sepekan yang lalu.
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Biasa ke-22 Tahun A. Injil yang kita dengarkan hari ini (Mat. 16:21-27) merupakan kelanjutan dari Injil yang kita dengarkan minggu yang lalu (Mat. 16:13-20).
Dalam Mat. 16:17 dikatakan bahwa yang menyatakan kepada Petrus bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup" bukanlah manusia, melainkan Allah Bapa yang ada di surga. Dengan cara ini Matius ingin mengatakan kepada para pembaca Injilnya bahwa Kemesiasan Yesus tidak berasal dari kesan hebat yang dimiliki oleh orang banyak terhadap diri-Nya, tetapi dari Allah sendiri yang berkenan kepada-Nya. Perkenan Allah terhadap Yesus ini terungkap dalam peristiwa pembabtisan Yesus (Mat. 3:17; Mrk. 1:11; dan Luk. 3:22), dan ditegaskan kembali dalam penampakan kemuliaan Yesus di gunung Tabor (Mat. 17:5; Mrk. 9:7; dan Luk 9:35). Dalam kedua peristiwa itu juga terdengar suara dari langit (suara Allah) yang mengundang orang utk "mendengarkan Dia" (Yesus).
Dengan "mendengarkan Dia" kita akan tahu siapa yang mengutus Yesus menjadi Mesias; yakni Allah yang oleh Yesus disebut Bapa. Orang yang mau "mendengarkan Dia" dengan sungguh-sunguh juga akan dapat memahami peristiwa yang akan terjadi pada diri Yesus di Yerusalem, yakni ditolak oleh para pemimpin agama, menanggung banyak penderitaan, dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga (ay. 21). Semuanya ini akan terjadi sebagai akibat dari keteguhan dan kesetiaan-Nya dalam mewujudkan tugas perutusan-Nya, yakni mewujudkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Kerajaan Allah mulai terwujud ketika dalam masyakarat orang tidak lagi mengkotak-mengkotakkan diri berdasarkan status sosial, malainkan hidup dengan saling menghargai, saling menumbuhkan, saling mencintai dan solider sebagai saudara kandung (yang dilahirkan dari rahim Allah).
Kemesiasan Yesus tidak menyangkal penderitaan dan kematian yang keji. Yesus justru menerima dan menghayatinya sebagai jalan menuju kebesaran dan kemuliaan-Nya. Inilah pokok (iman) yang paling dalam dan sekaligus yang paling sulit utk diterima oleh para murid Yesus dan oleh banyak orang. Satu-satunya cara utk dapat memahami dan menerimanya adalah "mendengarkan Dia." Inilah bentuk nyata dari beriman kepada-Nya.
Tindakan Petrus yang spontan bermaksud mencegah agar Yesus tidak melaksanakan kemesiasan-Nya tadi, melainkan melaksanakan kemesiasan yang ia pikirkan dan dimaui oleh orang banyak, yaitu membebaskan Israel dari penindasan kekaisaran Romawi dengan kekuatan militer.
Tindakan Petrus itu oleh Yesus dirasakan seperti godaan Iblis ketika Ia berada di padang gurun (Mat. 4:10). Karenanya, Ia menghadik Petrus (ay. 23) seperti halnya dulu Ia menghadik Iblis di padang gurun. Teks aslinya bukan "Enyahlah Iblis" melainkan "Pergi ke belakang-Ku, Iblis." Ungkapan "pergi ke belakang-Ku" merupakan perintah agar Petrus "tahu tempat yang sebenarnya"; yakni, di belakang Yesus sebagai pengikut-Nya, dan bukan di depan utk mengarahkan Yesus guna melaksanakan kemesiasan seperti yang dikehendakinya. Teguran Yesus kpd Petrus tadi juga menyiratkan peringatan agar semua pemimpin umat tidak berusaha merebut kedudukan-Nya sebagai satu-satunya pemimpin umat yang sesungguhnya.
Teguran kepada Petrus diikuti dengan serangkaian tuntutan keras bagi semua orang yang ingin mengikuti Yesus (ay. 24-25). "Menyangkal diri" berarti meninggalkan semua praanggapan atau pemikiran dan keyakinan kita sendiri mengenai Yesus, dan menerima Yesus seperti yang Ia sendiri katakan tentang diri-Nya. "Penyangkalan diri" seperti ini merupakan bentuk "memikul salibnya" yaitu berbagi salib dengan Yesus dan mengikuti-Nya.
Ayat 26, "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?" merupakan sebuah pernyataan retorik. Dengan pernyataan itu Yesus ingin mengatakan bahwa seluruh dunia tidak sepadan bila dibandingkan dengan kehidupan sejati yang akan diperoleh oleh seseorang yang memilih utk mengikuti Yesus dan berjalan bersama Dia utk mewujudkan kemesiasan-Nya.
Pertanyaan utk kita refleksikan. Di tengah masyarakat di mana banyak orang "menggunakan agama dan Allahnya" utk meraih apa yang mereka inginkan, beranikah kita utk tetap menjadikan Yesus sebagai model hidup dan nilai-nilai yang kita pilih?
Teriring salam, Rm. Madya, S.J.